ARES [BL]

ARES [BL]
ARES 37



Bathtub ini terlihat begitu indah meskipun tak sebesar yang ada di hotel-hotel mewah. Seulas senyum tipis terukir dari bibir Ares saat ia telah selesai menyiapkan air di bathtub dengan mencampurkan sabun serta aroma terapi. Hah, aromanya benar-benar sangat menenangkan—juga meningkatkan gairah mungkin?


Rakha dekap tubuh itu dari belakang dengan mata terpejam sambil ia hirup dalam-dalam aroma tubuh Ares dari ceruk leher. “Mas,“ seru Ares. Rakha tidak mengenakan apapun. Sehingga benda panjang itu terasa mengganjal di permukaan labu Ares. Ares pun membalikkan badan lalu mengalungkan tangannya di leher Rakha.


Temaram lampu kamar mandi serta musik klasik itu semakin menambah suasana romantis. Ares dan Rakha saling berpandangan diiringi senyuman tipis penuh kebahagiaan terukir di bibir tipis itu. Ares pun menempelkan bibirnya di bibir Rakha. Sungguh Ares candu untuk ingin selalu mengecup bibir itu mesra.


Ciuman itu pun perlahan-lahan terlepas diiringi belaian tangan Rakha yang lembut di rambut serta kedua pipi Ares. Sentuhan Rakha membuat sesuatu dalam diri Ares naik ke atas. Ya, Ares sedikit bergairah, padahal tadi malam ia sudah digempur habis-habisan oleh Rakha.


“Love you sayang,“ ucap Rakha lalu meraih pinggul Ares dan mengecup bibir Ares dengan liar. “Hmmmppphh,“ gumam Ares saat ciuman keduanya semakin panas dan menuntut. Satu tangan Rakha ia letakkan di bawah sana meremas dia labu nan empuk itu dengan kuat. Lidah Rakha pun beralih ke kedua telinga Ares. Ia gigit serta ia jilatin dengan manja.


“Hahhh mahhss,“ gumam Ares dengan mata terpejam. Tubuh Ares menggelinjang sedikit sambil kedua tangan meremas kedua pundak Rakha. Rakha kembali menyambar bibir Ares seperti orang kelaparan. Ares dan Rakha pun perlahan-lahan masuk ke dalam bathtub tanpa melepas ciuman itu sama sekali. Ares memegang wajah Rakha dengan nafas ngos-ngosan. Keduanya pun sama-sama tersenyum.


“Kita makan di luar aja gimana sayang? Mas bosen makan di rumah mulu, sekali-sekali mau juga jalan-jalan pacaran kek orang,“ ucap Rakha sambil mengusap shampoo di kepala Ares. “Hm,“ sahut Ares mengiyakan seraya tersenyum manis. Untung saja tadi Rakha bisa menahan diri. Rakha tau Ares pasti ingin lebih. Namun, Rakha tidak ingin egois dan malah menyakiti Ares. Tunggu sisa-sisa tadi malam membaik dulu. Benar, kan? Cinta itu bukan hanya perkara berhubungan badan.


Setelah bersiap-siap ingin berkencan di luar. Ares mendadak cemberut. Bagaimana bisa Rakha terlihat sangat tempat dengan penampilan seperti ini?, mengenakan baju motif belang hitam putih dan celana jeans kebiru-biruan—juga tatanan rambut mangkuk yang membuat Rakha terlihat lebih fresh bukan cupu.


“Kenapa sayang? Kok cemberut?“ tanya Rakha. Ares diam dan melemparkan pandangan ke objek lain. Ares malu untuk berkata jujur bahwa dirinya saat ini tengah cemburu, karna telah memikirkan yang tidak-tidak. Rakha hampiri sang pujaan hati. Rakha letakkan tangannya di pundak Ares. Lalu, ia kecup mesra kening Ares. Kedua alis Ares langsung berkerut.


“Cemburu? Mas lagi nggak pegang hp loh sayang? Masih cemburu juga?“ ucap Rakha terkekeh. Ares ini terkadang lucu juga, ya? Lihatlah bagaimana semburat merah itu menghiasi kedua pipi Ares. Rakha dekap tubuh itu dengan dekapan terhangat. “Nanti kalo banyak cewek yang liatin kamu gimana mas? Kan rese, kesel,“ ucap Ares memeluk Rakha dengan erat. Bahkan, wajahnya saja ia benamkan di dada Rakha karna malu.


Sampai detik ini Rakha mengenal Ares lebih dalam dan jauh, ia menangkap dua hal, Ares itu melankolis dan posesif. Tapi, percayalah bagaimana pun sifat pasangan, saat ketulusan cinta itu memiliki kedudukan lebih tinggi, kurang dan lebih pasti akan diterima dengan senang hati. Penuh cinta dan kasih sayang. Bukan begitu?


“Mas mas mas aku aja yang nyetir yah hehehehe,“ seru Ares langsung memegang setir motor. Oh tuhan, lucu sekali dia ini, Ares Ares, batin Rakha. Hm, bagaimana menurut kalian kalau orang seperti Ares yang malah memboncengi Rakha? Lucu sekali, bukan? Uh, Rakha pun melingkarkan tangannya di pinggul Ares seperti pasangan pada umumnya.


Rakha mengulum senyum karna ini terlihat lucu sekali. Hahahaha, Rakha tertawa dalam hati. Sesampainya di sebuah rumah makan lesehan. Ares pun memarkirkan motor di tempat khusus parkir. Rakha membantu membetulkan rambut Ares yang sedikit berantakan karna memakai helm.


Setelah mendapat tempat duduk tepat di pinggir dekat jendela. Ares dan Rakha pun bercakap-cakap sambil menunggu pesanan datang. Jujur saja mata Ares hampir tidak berkedip sama sekali saat memandangi Rakha. Oh tuhan, mengapa calon suami ku semakin hari malah semakin bertambah tampan?, batin Ares.


“Bro, widih makan disini juga lu?“ sapa seorang pria. Itu rekan kerja Rakha di kantor. “Haha iya bang,“ sahut Rakha. “Makan sama siapa nih? Adek ku Kha? Lu kan nggak punya adek?“ tanya pria itu, sebut saja namanya Dedeng. Dedeng pun ikut bergabung dengan anak istrinya di meja Rakha. “Calon istri bang hehe,“ sahut Rakha.


Ares tersipu malu saat Rakha dengan lancarnya berkata bahwa Ares adalah calon istrinya. Dalam hati Ares bangga, Rakha tidak malu untuk mengakui hal itu. Dedeng terlihat terkejut sekali. Diam-diam Rakha ternyata belok, ya?, batin Dedeng. “Maaf ya bang hehe keliatan aneh banget pasti, ya?“ ucap Rakha lagi. Barangkali kata-kata Rakha tadi membuat Dedeng merasa kurang nyaman duduk bersama disini.


“Haha elu mah Kha Kha kek yang gue gimana aja. Asalkan lu bertanggung jawab aja Kha~ Cewek ato cowok kalo statusnya udah bini ya lu bener-bener harus giat kerja Kha. Nggak masalah gue mah.“ ucap Dedeng panjang lebar.


Suasana kekeluargaan seperti ini amat sangat dirindukan. Ares tidak seposesif itu meskipun ia sendiri adalah orang yang posesif. Ya, tidak apa-apa kalau seandainya saat makan di luar seperti ini tiba-tiba ada kerabat atau sanak keluarga yang juga ikut bergabung. Bukankah menjaga silaturrahmi itu baik?


Keanu datang malam-malam ke rumah Barra. Ini sudah pukul 8 malam. Ya, untuk apa kira-kira Keanu kesana malam-malam begini? “Masuk Kea,“ seru Ibu Barra. Keanu pun masuk ke dalam. Disana juga ada Bahkan tengah asyik menonton TV. Namanya juga orang tua, pasti tidak jauh-jauh dari chanel TV yang menyajikan berbagai macam jenis berita, mulai dari bisnis sampai tindak kriminal.


“Tumben malam-malam kamu kesini? Pasti mau cari Barra? Ya, kan? Ngaku,“ ucap Bahran menohok. Keanu pun tersenyum penuh arti. Dari senyuman Keanu saja, Bahran tau pasti niat Keanu kemari itu benar ingin mencari Barra. “Dia ada di kamar Kea. Eh? Tapi, tunggu dulu, kamu kok bawa-bawa bantal segala sih Kea?“ seru Bahran saat matanya tidak sengaja menangkap sesuatu di tangan kiri Keanu. Itu bantal tidur.


“Hehe, Keanu mau nginep disini om,“


“Bantal disini banyak Kea kalo kamu mau nginep. Ngapain coba bawa-bawa dari rumah segala?“


“Errr.. Itu.. Ini bantal legendaris om. Bantal tidur Keanu dari jaman masih balita hehe. Kalo nggak ada bantal ini bawaannya nggak bisa tidur om.“


“Hadeuh Keanu Keanu, ada-ada aja kamu ini. Udah ah sana susul si Barra gih. Gangguin om sama tante aja kamu.“


“Eh? Kok ngusir om?“


“Kapan om ngusir? Om cuma nyuruh kamu ke kamar Barra. Udah sana. Sana sana.“


Dari sini Keanu menjadi tau darimana sifat barbar yang dimiliki oleh Barra berasal. Hm, ayahnya saja seperti ini, bagaimana anaknya? Lebih dari itu pasti. TOK TOK TOK. Keanu mengetuk pintu kamar Barra. Kedua mata Barra langsung membola seketika saat ia melihat siapa yang ada di depan pintunya. Keanu menahan pintu itu kuat-kuat, saat Barra ingin menutupnya kembali.


“Lu?!“ seru Barra. Keanu pun langsung masuk ke dalam tanpa dipersilahkan oleh Barra sama sekali. Keanu bahkan mengunci pintu kamar itu rapat-rapat, dan mengambil kunci kamar itu, lalu ia simpan di saku celana. “Heh,“ Barra mendengus kesal. “Lu lagi nonton apaan?“ tanya Keanu penasaran. Shit! Jangan sampai Keanu tau, batin Barra mulai panik.


Barra cepat-cepat menutup laptopnya. Hah, semoga Keanu tidak melihat film terlarang yang Barra tonton barusan dan mempertontonkan adegan tidak senonoh. Heh, Keanu menampakkan smirknya. Jangan Barra kira kalau Keanu tidak tau apa-apa. Suara lenguhan di film itu cukup jelas untuk Keanu mengetahui apa yang sedang Barra tonton.


“Oh, jadi lagi nonton film biru nih ceritanya????“ seru Keanu dengan sebelah alis terangkat. “Hah, ng-nggak kok. Siapa juga yang nonton film begituan? Lu salah liat kali?“ sahut Barra membantah. Sorot mata Keanu kian menyipit tajam. Langkah kaki Keanu juga kian mendekat. “Mau praktekin langsung nggak?“ seru Keanu mengunci tubuh Barra hingga membuat Barra tidak bisa berkutik dan tersandar di meja belajar.


Kedua mata Barra melotot tajam. Hah, apa-apaan Keanu ini? Dasar brengsek, umpat Barra dalam hati. “Mau coba?“ tanya Keanu. “Bangsat lu Kea—aahhh,“ ucapan Barra pun terhenti saat Keanu meremas benda terlarang milik Barra. Sial! Kenapa gue bisa ngeluarin suara itu?, batin Barra menggerutu.


Dua tiga empat menit sudah Keanu bertahan memanjakan benda panjang yang sudah keras dan menegang sempurna itu. “Ummpph!“ gumam Barra mendongakkan kepala tidak kuasa menahan sensasi ini. “Kamu.. Sensitif juga ya sayang???“ ucap Keanu seduktif tepat di telinga Barra. “Kea u-udah Kea plihhhss,“ pinta Barra memohon. Jujur Barra tidak bisa berontak. Ya, Barra sensitif sekali, belum apa-apa tubuhnya pun sudah kian melemas, dan membuat dirinya susah untuk berontak pada si iblis ini. Hah, awas aja lu Kea, gue bales nanti, batin Barra.


“Gue nggak suka lu ngumpat di dalem hati Bar. Gue itu pacar lu dan lu pacar gue. Ngerti? Lu cuma boleh ucapin kata-kata sayang ke gue—ato kalo nggak lu bakal..“ ucap Keanu semakin menggencarkan aksinya. “Brengsek! Gue bilang stop! Stohhpp ah ah ah ah aaaahhhh aaahhhh hmppphh huuhh huuuh ugh,“ Barra melenguh dengan keras saat ia menyemburkan cairan putih itu empat sampai enam kali.


Nafas Barra masih tidak beraturan. Tanpa perasaan jijik sama sekali, Keanu pun menjilati cairan putih Barra yang mengenai tangannya. “Gue udah bilang, lu nggak punya pilihan lain selain nerima gue Bar,“ ucap Keanu. Oh tuhan, kalau saja Keanu tidak mampu menahan diri, mungkin ia sudah melahap Barra saat ini jua. Lihatlah wajah Barra yang sudah memerah seperti udang rebus itu, sungguh amat sangat menggoda.


Suasana di rumah Irfan kembali ramai. Ya, malam ini dua keluarga mengadakan pertemuan mengenai acara pernikahan Ami dan Irfan. Setelah Yudi berkali-kali tidak hadir di acara keluarga, khusus malam ini ia pun menampakkan diri, meskipun raut muka Yudi bisa dibilang kurang bersahabat.


Sebelum acara dimulai, Budi meminta Edgar untuk menyuruh Darren segera ke ruang kerja Budi. Budi ingin diskusi mengenai masalah Irfan dengan Darren terlebih dahulu. “Darren masuk pa,“ seru Darren dari luar lalu masuk ke dalam. Ia lihat Budi berdiri lalu mempersilahkan Darren duduk di sofa hitam itu.


“Maafin papa emosi kemaren Darren,“ ucap Budi meminta maaf. “Nggak papa pa.“ sahut Darren. Pembicaraan ini pun semakin serius. Darren bersumpah kalau Budi masih keras kepala, Darren akan lepas tangan saja. Berbicara tapi tidak didengar? Heh, membuang-buang tenaga dan waktu saja.


“Irfan mau menikah sebentar lagi Darren..“ Budi mulai membuka percakapan. “Bagaimana pandangan kamu? Maaf, kalo papa nanya pertanyaan yang sama,“ ucap Budi. Darren diam sebentar. Harus berkata seperti apa lagi? Darren sudah cukup jelas kemarin. Lalu, kurang jelas apa lagi? Sehingga Budi harus mempertanyakan pertanyaan yang sama lagi?


“Tolong Darren, mata papa nggak setajam mata kamu, papa terbatas. Papa mau denger semua saran kamu ke Irfan. Papa nggak mau salah bertindak Darren.“ ucap Budi. Darren itu dingin dan terkadang sekali berkata-kata akan menusuk hati dan jiwa. Tapi, ketahuilah, tidak ada satu pun dari apa yang diucapkan oleh Darren itu sia-sia.


“Papa terima pernikahan ini. Tapi, jangan lupa, kita juga harus awasi Ami. Dia nggak sebaik yang kita liat pa.“


“Menurut kamu papa harus batalin pernikahan Irfan?“


“Jangan pa. Biarin aja Irfan nikah sama Ami. Darren mau Irfan belajar menata hidup dia sendiri. Kita cuma perlu berdiri di belakang layar aja pa.“


Ya, lebih baik begini saja. Irfan itu sudah dewasa, dan membiarkan Irfan menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa ada rasa menghakimi adalah jalan terbaik. Biarkan Irfan belajar dari kegagalan dan menata perlahan kehidupan rumah tangganya nanti bersama Ami. Kita lihat saja, sampai mana Irfan mampu bertahan.


Darren duduk bersama keluarga yang lain. Edgar? Jangan tanya, dia cuma berdiri di pojokan memantau jalannya acara ini. Darren melihat bagaimana Irfan memperlakukan Ami dengan penuh kasih sayang. Hah, jelas-jelas itu bukan cinta, rasa kasihan mungkin—atau rasa bersalah? Entahlah mana yang benar, yang jelas Irfan seperti peliharaan saja, yang tunduk kepada tuannya. Cih!


Yudi diam saja. Ia membiarkan Zada saja yang berbicara. Yudi, tentu menentang pernikahan ini, sama seperti Darren. Menurut Yudi pernikahan Ami ini tidak harus terjadi. Namun, mengingat bayi yang dikandung oleh Ami, mau tidak mau Yudi harus menerimanya dengan berat hati.


“Rakha, gimana keadaan kamu sekarang, nak?“ batin Yudi. Sudah lama sekali Yudi tidak menemui Rakha. Ah, sebaiknya Yudi harus meluangkan waktu sedikit untuk bertemu dengan Rakha. Setidaknya bertukar kabar sebentar tidak akan membuat jalinan silaturrahmi ini terputus begitu saja.


Bella, Puteri Ami dan Rakha menangis, mungkin dia ingin menyusui? Seorang pengasuh bayi pun mencoba memberikan Bella ke Ami untuk disusui. Tapi, bagaimana reaksi Ami? Dia malah jijik dan tidak ingin menyentuh Bella sama sekali. Jujur saja melihat Bella seperti mengingatkan Ami pada Rakha. Hah, Ami jijik melihat Bella, karna Rakha adalah seorang penyuka sesama jenis sekarang.


“Maaf, mungkin Ami lagi kurang sehat.“ ucap Zada meminta maaf atas nama Ami. “Nak, udah lama loh kamu nggak gendong Bella? Kok kamu nggak mau nyentuh dia sama sekali, sih? Malu tau, cepetan,“ ucap Zada berbisik. Ami tidak bisa. Perasaan jijik pada Rakha—juga berimbas pada puteri kecilnya.


Darren tersenyum miring. Drama apa lagi ini?, batin Darren. Sampai-sampai Ami sebagai ibu dari Bella tidak mau menyusui anak sendiri? Lihatlah anak itu kini sudah lumayan besar. Mungkin usianya sudah 10 bulanan. “Edgar,“ seru Darren. “Tolong kamu cari seorang ibu menyusui secepatnya. Pastiin ibu itu sehat, nggak ada riwayat penyakit apapun.“ ucap Darren. “Baik tuan,“ sahut Edgar pamit undur diri.


Semua mata tertuju pada Darren. Hah, tentu ini menjadi kesempatan bagi Darren merendahkan Ami di depan banyak orang. Cih!, cibir Ami dalam hati. Mentang-mentang Darren adalah yang paling ditakuti, dia sok kuasa sekali disini. Tapi, mau bagaimana lagi? Ami sama sekali tidak ingin menyentuh Bella barang sebentar.


“Nama kamu siapa, nak?“ tanya Darren tersenyum. Darren menyukai anak kecil. Darren tipikal orang yang tidak akan segan-segan memberikan kasih sayang yang sama seperti yang ia berikan kepada Jayden. Bagi Darren, Jayden itu sama dengan yang lainnya. Hanya saja status yang membedakan mereka, Jayden anak kandung, sedangkan yang lainnya bukan.


“Bella tuan,“ sahut si pengasuh. Bella masih menangis. Darren pun menggendong Bella dengan penuh kasih sayang. “Cup cup cup cup,“ ucap Darren berusaha menenangkan Bella. Beberapa saat kemudian Bella pun berhenti menangis. “Jadi, selama ini Bella minum susu formula atau asi?“ tanya Darren. Si pengasuh itu pun diam. Si pengasuh bingung harus menjawab apa. Jujur ia takut dimarahi oleh Zada.


Melihat si pengasuh seperti ketakutan, Darren pun berkata, “Jangan takut, kalo kamu dipecat karna orang itu, saya siap kasih kamu kerjaan mba.“ ucap Darren dengan kedua alis mulai menukik tajam. Oh tuhan, Darren ini siapa?, batin Zada. Dia memiliki aura kepemimpinan yang sangat kuat. Bahkan, semua orang yang ada disini tutup mulut.


“Susu formula tuan,“ sahut si pengasuh menundukkan kepala. Darren pun semakin berang dibuatnya. Shit! Ibu macam apa Ami ini, hah? Darren melemparkan tatapannya yang setajam elang itu kepada Ami. “Kalian semua dengerin saya baik-baik,“ ucap Darren. Hah, mau apa lagi si Darren brengsek ini?, batin Ami.


“Kamu, Ami, nggak berhak mengasuh Bella ampe kapanpun. Saya Darren, akan serahkan hak asuh anak ini ke Rakha. Camkan itu.“ ucap Darren. Semua mata pun memicing tajam. Budi dan Diomira terkejut atas kata-kata Darren. Di sisi lain Darren benar. Tapi, di sisi lain mungkin Ami memiliki alasan khusus mengapa ia tidak mau menyentuh anaknya sendiri.


“Maaf pa ma, Mas Rakha, Mas Rakha itu penyuka sesama jenis ma. Dan aku..liat Bella itu kek seolah-olah aku liat Mas Rakha ma. A-aku nggak bisa..“ ucap Ami. Yudi dan Zada serta semua orang yang ada disini pun terkejut. “Kamu bicara apa, Ami? Rakha nggak mungkin kek gitu,“ seru Yudi. “Aku liat dengan mata kepala aku sendiri pa. Dia jalan-jalan di mall sama pacarnya. Dia.. Dia cowok juga pa.“ sahut Ami.


Irfan mencoba menenangkan Ami. “Tenang Ami,“ ucap Irfan. “Om Darren, tolong jangan provokasi Ami lagi. Dia lagi hamil om.“ ucap Irfan menegur Darren. Hah, berani sekali Irfan berkata seperti itu kepada Darren yang notabene lebih tua darinya? Buka mata kamu Irfan, Ami itu tidak sebaik yang kamu kira, jangan buta sebagaimana kamu dulu buta kepada Astrid, batin Darren.


“Hah,“ Darren menghela nafas. Perang Dunia ketiga mungkin akan terjadi sebentar lagi, batin Budi dan Diomira bersamaan. Budi dan Diomira saling bertatapan. Budi meminta Diomira untuk tenang dan diam. Percayakan semuanya kepada Darren. Darren tidak pernah salah bertindak, karna dia orang yang selalu berhati-hati, itulah yang Budi tau selama ini.


“Irfan, silahkan kalian menikah, om nggak larang dan nggak akan akan ganggu. Tapi, satu hal Irfan, kalo ada apa-apa jangan pernah minta tolong sama om. Om tutup semua jalan itu Irfan. Dan satu hal lagi, Bella harus tinggal sama saya, saya akan bawa Bella ke Amerika.“ ucap Darren tidak bisa diganggu gugat.