![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Ponsel Irfan terus-menerus berdering membuat Irfan jengah. Irfan pun langsung menonaktifkan ponselnya dan melemparnya ke sembarang arah. Irfan bukan tidak tau siapa si penelepon itu. “Brengsek,“ batin Irfan emosi. Orang itu benar-benar sudah tidak tau malu.
Seseorang mendobrak pintu ruangan Irfan. Dan tampak lah seorang wanita dengan dress pure white pun masuk ke dalam dengan raut muka berang bukan main. “Siapa cewek itu, hah?“ cetus nya ketus. Kedua alis Irfan langsung berkerut saat gadis itu dengan tidak sopannya masuk ke ruangannya. Bahkan berbicara ketus seperti orang yang tidak dididik sama sekali.
“Bukan urusan kamu, Astrid.“ sahut Irfan. Irfan mencoba untuk menahan diri meskipun ia sudah cukup emosi. “Kamu jahat Irfan.“ ucap Astrid. “Heh,“ Irfan mendengus. “Jahat?“ seru Irfan lalu ia pun berdiri. “Coba bilang, aku jahatnya dimana?“ ucap Irfan sarkasme.
Astrid pun diam. Irfan langsung mencengkeram dagu Astrid. Astrid harus diberi pelajaran. “Kamu yang jahat Astrid. Dasar murahan.“ ucap Irfan dingin lalu melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Hingga Astrid pun mengaduh. “Kamu lebih milih dia, kan? Kenapa? Dia ninggalin kamu? Heh.“
“Aku yang ninggalin dia.“ sahut Astrid. Astrid sadar pria itu tidak cukup baik untuk dirinya. Hah, demi nafsu sesaat, Astrid rela meninggalkan pria sebaik Irfan. Biarkan harga diri ini turun sedikit. Astrid tidak rela jika ada wanita lain ada di hati Irfan. Astrid mau dia seorang sajalah yang ada di hati Irfan.
“Keluar.“ ucap Irfan dingin. “Nggak,“ sahut Astrid kekeh tidak ingin keluar. “KELUAR!!!“ kali ini Irfan melotot tajam. “Jangan sampe aku kasar kamu, Astrid.“ ucap Irfan mengancam. Hah, dasar murahan, kekeh juga si murahan ini?, batin Irfan. Irfan pun menarik pergelangan tangan Astrid dengan kasar dan mendorongnya keluar.
Irfan terkejut saat ia melihat kedatangan Ami dan Dzafina, yang dimana Dzafina membantu mendorong kursi roda Ami. Ami sempat terkejut saat dirinya melihat Irfan menarik tangan wanita itu dengan kasar. “Ami?“ seru Irfan. Oh tuhan, semoga Ami tidak berpikiran macam-macam. “Kenapa lagi dia dateng kesini, Fan?“ tanya Dzafina tidak suka.
“Oh? Jadi, cewek cacat ini calon istri kamu, Fan? Heh, hahahahaha, standar kamu rendah banget ya Fan sekarang?“ ucap Astrid. Plaaaaak. Irfan pun menampar Astrid dengan keras. Sungguh Irfan tidak rela siapapun menghina-hina Ami. “Kamu nggak pantes hina calon istri aku kek gitu, Astrid. Pergi. Kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi.“
“Satpam,“ Dzafina berteriak memanggil satpam. “Tolong keluarin cewek uler itu, pak.“ ucap Dzafina. Astrid pun diseret oleh satpam itu sampai-sampai semua sumpah serapah pun keluar dari bibir Astrid. Irfan sungguh tidak habis pikir. Sampai-sampai Irfan geleng-geleng kepala dan menghembuskan nafas berat.
Irfan mengecup pucuk kepala Ami sambil mengusap pipinya lembut, lalu berjongkok di hadapan Ami sambil memegang satu tangan Ami dan satunya lagi memegang sisi kursi roda yang Ami duduki. “Maafin aku udah bikin kamu kaget.“ ucap Irfan tulus dan lembah lembut. Ami diam saja tanpa berkata apa-apa. “Ami biar sama aku aja kak. Kakak pulang aja nggak papa. Aku mau bawa Ami ke rooftop.“ ucap Irfan.
“Hati-hati ya Fan? Telepon kakak kalo ada apa-apa.“
“Iya kak,“
“Ya udah.. Ami, kakak pamit dulu ya? Fan kakak pulang dulu, assalamu'alaikum.“
“Wa'alaikumussalam.“
Irfan dikenal ramah di kantor. Irfan tidak akan segan-segan menyapa siapapun yang berpapasan dengan dirinya. Bahkan, seorang satpam dan OB sekalipun. Menurut Irfan semua orang harus diperlakukan sama. Yang membedakan hanyalah amal ibadahnya saja. Dan itu bukan urusan Irfan melainkan urusan mereka dengan tuhan.
“Siapa Fan?“ seru seseorang. Dia adalah rekan bisnis sang ayah. “Calon istri Irfan om,“ sahut Irfan mantap sambil tersenyum. “Do'ain lancar ampe hari H ya om~ Hehe,“ ucap Irfan. “Pasti itu Fan.. Oh iya, om pergi dulu ya,“ ucap orang itu menepuk pundak Irfan. “Iya om,“ sahut Irfan. Ami dan Irfan pun masuk ke dalam lift.
Di atas rooftop, Irfan berhenti di dekat sebuah meja dan kursi. Irfan tidak bisa maju ke depan lebih jauh lagi lantaran cuaca masih panas. Irfan tidak ingin Ami kenapa-napa. Ami merasa tenggorokannya kering. Ami haus. Bagaimana Ami bisa memperoleh segelas air putih? Meminta tolong pada Irfan? Mau ditaruh dimana muka Ami nanti?
“Ami..“ seru Irfan. “Kalo bukan kamu dulu nyelametin aku, mungkin aku nggak bakalan ada disini sekarang.“ ucap Irfan saat ia mengingat-ingat kembali masa sekolah dulu. Irfan pernah menjadi korban bully teman-teman sebayanya. Irfan ingat bagaimana Ami dan dua teman perempuannya lagi menyelamatkan Irfan saat itu.
“Mungkin tuhan nolongin aku lewat kamu itu, karna tuhan maha tau, di masa depan aku bakalan dikasih amanah buat ngelindungin seseorang. Seseorang yang bakalan hidup sehidup semati sama aku. Juga seluruh keluarga aku.“ ucap Irfan.
Ami sudah tidak tahan lagi. “Ha-haus,“ cicit Ami pelan. “Hm?“ sahut Irfan tidak mendengar perkataan Ami barusan. Tedengar samar-samar. “Kenapa Ami?“ tanya Irfan berjongkok di hadapan Ami. “Haus,“ ucap Ami singkat. Ami langsung memalingkan wajahnya saat setelah dirinya berkata haus kepada Irfan.
Irfan pun terkekeh lalu berdiri. Ia menelepon seseorang. “Tolong bawain air mineral kesini sama cemilan buat ibu hamil, ya.“ ucap Irfan. “Tunggu bentar ya? Bentar lagi dateng, kok.“ ucap Irfan. Uh, Ami malu bukan main. Bisa-bisanya ia meminta tolong pada Irfan untuk urusan minuman saja? Hah, lain kali Ami harus membawa air kemana-mana. Jangan sampai hal ini terulang kembali.
“Bismillaah~ Semoga hari ini laris manis, aamiin.“ gumam Ares. Sesaat ia pun tersenyum melihat dagangannya tertata rapi. Setelah berpamitan dengan Camilla dan dua adiknya, Ares pun mulai mengayuh gerobak miliknya, berkeliling Kota Mataram. Kira-kira mangkal dimana ya?, batin Ares.
Bisa dibilang Ares mangkal di tempat yang berbeda setiap harinya. Hal ini bertujuan untuk menambah pelanggan-pelanggan baru. Sehingga orang lain yang belum tau menau akan kelezatan siomay yang Ares jual, mereka dengan senang hati membeli, dan saat mereka tau betapa lezatnya siomay Ares itu, mereka pun kembali membeli dagangan Ares. Strategi yang cukup baik, bukan?
Kali ini Ares mangkal di sekitaran Pantai Ampenan. Memang pantai ini tidak seeksotis pantai-pantai lain di Lombok. Namun, bisa dibilang disini sudah ramai sekali pengunjung, baik warga setempat, atau orang-orang dari luar kota, provinsi, hingga mancanegara.
Pembeli pertama kedua dan seterusnya pun mulai berdatangan. Setelah para pembeli mulai lengang. Mata Ares tidak sengaja menangkap sosok kakek tua renta tengah berjalan tertatih-tatih meminta sedekah. Ares pun tergugah hatinya untuk memberikan beberapa porsi siomaynya untuk kakek tersebut.
Kakek itu pun menerima dengan senang hati dan tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Ares. “Dimakan ya pak~ Maaf kalo siomay Ares kurang enak.“ ucap Ares. “Makasih nak makasih,“ ucap kakek itu dengan suara sedikit bergetar. Mungkin karna faktor usia.
Selepas menaruh gerobak di teras rumah. Ares segera membersihkan diri, lalu salat maghrib, dan bersiap-siap untuk ke rumah Rakha. Hm, Ares ingin memberi kejutan kepada Rakha kalau dirinya ingin menginap disana malam ini. “Duh, jangan ampe kebobolan ya, Res. Mentang-mentang udah ada Rakha maunya nempel mulu kayak prangko ckckckck.“ ucap Camilla menohok.
“Hehehe,“ Area malah nyengir kuda. Ia pun mencium tangan ayah dan ibunya. “Hati-hati Res di jalan. Jangan bayangin Rakha mulu, ntar ada kubangan air nggak liat, malah kejungkel kamu ntar.“ ucap Camilla memperingatkan. “Jaga diri Ares.“ ucap Badrun. Terdengar biasa-biasa saja namun berat juga, ya? Hm, batin Ares tidak bisa menjamin itu semua. Tunggu dulu, gue mikir apa sih?, batin Ares. Ia pun langsung menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat.
Ares memencet bel rumah Rakha beberapa kali. “Iya, sebentar,“ sahut Rakha dari dalam. “Siapa y—“ gumam Rakha, seketika ia pun membuka mata lebar-lebar saat dirinya melihat Ares berdiri tepat di depan pintu. Rakha menelan ludah susah payah. “Duh gawat.“ batin Rakha mulai berkeringat dingin.
“Mas?“ seru Ares. “Kok kamu nggak ngabarin mas sih, Res? Kalo kamu mau kesini?“ ucap Rakha. Rakha seperti menghalang-halangi Ares untuk masuk. Rakha takut kalau-kalau Ares marah besar setelah ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.
“Kan surprise? Gimana sih?“ sahut Ares. “Gak disuruh masuk nih? Capek loh berdiri mulu?“ seru Ares. Lagi-lagi Rakha menelan ludah susah payah. “Mati aku,“ batin Rakha sedikit ketakutan. “Ma-masuk Res,“ ucap Rakha mempersilahkan. Jangan sampai Ares marah, batin Rakha merapalkan kalimat itu berkali-kali.
Oh tuhan, apa-apaan ini?, batin Ares. Ares sampai-sampai memijit pelipisnya yang tidak sakit. “Mas ngapain aja sih di rumah?“ tanya Ares sambil berkacak pinggang. Rakha mulai merasakan aura-aura hitam di sekitar sini.
Bagaimana Ares tidak kesal? Baru beberapa langkah masuk ke dalam saja, Ares sudah disambut oleh pemandangan nan mencengangkan. Seluruh ruangan ini persis seperti kapal pecah. Kursi-kursi tergeser tidak beraturan. Sampah ada di sudut ruangan. Sepatu dan pakaian kerja berserakan dimana-mana. Pun jaket di gantung di dekat pintu.
“Kamu sih ng-nggak ngabarin mau kesini. Kan mas bisa beres-beres dulu?“ ucap Rakha berusaha untuk membela diri. Kalian tau kan Ares itu melankolis. Siap-siap dapat siraman rohani dari Ares malam ini. Hah, Ares pun menghela nafas. “Mas udah mandi?“ tanya Ares. “Belum hehe,“ sahut Rakha tersenyum lima jari. Ares geleng-geleng kepala. “Trus mas ngapain aja dari tadi, hah?“ tanya Ares mulai kesal. “Main game hehe,“ sahut Rakha.
“Mas mandi dulu biar aku beres-beres.“ ucap Ares. Rakha tau Ares mungkin saat ini sebal sekali kepada Rakha. Namun, Rakha harus bagaimana lagi memangnya? Huh, lebih baik Rakha mandi saja sesuai yang diperintahkan oleh si melankolis ini. Daripada perang Dunia ketiga terjadi, kan?
Rakha buru-buru mengeringkan rambut dengan pengering rambut. Hm, jujur saja Rakha baru membelinya kemarin. Hah, dasar, batin Rakha. “Kalo rambut masih basah pasti ada yang marah-marah lagi. Kecipratan ini lah itu lah.“ ucap Rakha sambil memonyong-monyongkan bibir.
Ares dan Rakha pun makan malam bersama. Kalau menunggu Ares lulus dulu, berarti satu setengah tahun lagi, ya?, batin Rakha. Ares pun tidak sengaja melihat Rakha yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. “Kenapa mas?“ tanya Ares sambil mengunyah makanan yang ia makan.
“Hm?“ sahut Rakha. “Nggak ada kok, dek. Hehe,“ ucap Rakha. Hm, pasti ada sesuatu, batin Ares. Bisa dilihat dari senyuman Rakha yang terlihat garing? Rakha ada masalah? Tanya aja lagi kali, ya? “Mas beneran nggak papa?“ tanya Ares lagi memastikan. Rakha diam sebentar sambil menatap Ares. Lalu, Rakha pun minum beberapa teguk air. “Nggak papa Ares~ Mas cuman lagi ada yang dipikirin aja,“ sahut Rakha.
“Coba cerita sama aku mas. Mungkin aku bisa bantu ato sekedar ngasih masukan gitu?“ ucap Ares. Lagi-lagi Rakha diam. Bagaimana cara Rakha mengatakan hal ini kepada Ares? Rakha takut Ares akan tersinggung atau lebih parahnya lagi Ares marah. Rakha tidak ingin Ares merasa tidak nyaman dengan sikapnya.
“Mas..“ seru Ares terdengar khawatir sambil satu tangannya menggenggam tangan Rakha. Ares memberi keyakinan disitu bahwa tidak apa-apa jika Rakha bercerita pada dirinya. “Mas nggak mau kamu marah ato nggak enak hati, Ares.“ ucap Rakha. Hah, Ares pun menghela nafas. Rakha ini benar-benar sangat ber hati-hati dan menjaga perasaan pasangannya sekali. Tapi, Ares tidak salah, kan? Jika Ares juga ingin Rakha berbagi keluh kesah kepada dirinya?
“Cerita aja mas, aku nggak papa,“ ucap Ares lagi berusaha meyakinkan. Pandangan Rakha mulai menurun. Ia pun meletakkan sendoknya di tempat semula. Lalu, menatap Ares kembali. “Maafin mas kalo mas egois Ares. Mas cuman lagi mikir gimana caranya supaya mas bisa nikahin kamu. Itu artinya mas harus nunggu satu setengah tahun lagi.“ ucap Rakha menjelaskan.
Ares diam beberapa saat. Oh, jadi ini yang menjadi beban pikiran Rakha sedari tadi? Secercah perasaan bersalah pun hinggap di dada Ares. Keinginan Rakha begitu besar dan tulus. Sedangkan Ares? Ares berdalih semua ini terlalu cepat. Lalu, apa masalahnya? Dan mau menunggu apa lagi? Toh menikah tidak mengganggu pendidikan juga, kan?
Hah, Ares mulai bimbang. Ia juga bingung harus menjawab apa. Rakha pun tersenyum. Ia tau kalau Ares mulai merasa terbebani dengan kata-katanya tadi. “Maafin mas sayang,“ ucap Rakha sambil mengusap tangan Ares. “Mas nggak salah.. Mas nggak harus minta maaf..“ ucap Ares. “Ini salah aku karna aku belum bisa menyanggupi keinginan mas yang mau nikahin aku.“ ucap Ares lagi. Oh tuhan, Rakha pasti sangat terluka sekali karna perkataan Ares tadi. Ares harus bagaimana?
Ares pun berdiri. Ia berjalan ke depan beberapa langkah menghampiri Rakha. Lalu, ia pun duduk di pangkuan Rakha. Rakha terkejut. “Mas,“ seru Ares sembari ia kalungkan tangannya di leher Rakha. “Tolong kasih aku waktu ya mas? Hm?“ tanya Ares. Ya, waktu untuk berpikir apakah Ares menerima ajakan Rakha yang ingin menikahi dirinya. Pernikahan itu bukan main-main. Ares harus siap lahir dan batin. Benar, kan?
“Iya sayang~ Mas ngerti kok,“ sahut Rakha tersenyum. Uh, Ares sungguh tidak tahan menatap mata Rakha yang terlihat sangat teduh dan menenangkan. Ares pun mengecup bibir Rakha mesra. Tanpa pergerakan sama sekali namun sungguh manis dirasa. Ares dan Rakha memejamkan mata saling merasakan perasaan masing-masing. Ares pun memperdalam ciuman itu. Mengecup dalam-dalan bibir atas dan bawah Rakha bergantian.
.
.
.
Dukung ARES supaya bisa masuk 100 besar cukup dengan 10 poin saja (bukan koin) per chapter 😍😍😍 jangan lupa like dan jadikan favorit 😘😘😘 kritik dan saran silahkan letakkan di kolom komentar ya 😉