![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Ciuman itu pun semakin bertambah liar saat Rakha duduk di pinggir ranjang dan Ares yang duduk di atas pangkuan. Kepala Rakha masuk ke balik kaos yang Ares kenakan hingga Rakha pun bisa dengan leluasa mengecup, menggigit, dan memelintir dua biji kacang ini.
Ares pun turun dari pangkuan Rakha. Biarkan Ares yang bergerak kali ini. Ares pun melepaskan kaos yang ia kenakan. Lalu, ia pun berjongkok di hadapan Rakha, dan membuka resleting celana Rakha perlahan. Oh, ini sudah menegang sempurna? Bagaimana bisa milik Rakha sudah seterang ini bahkan tanpa disentuh sekalipun?
Ares pun langsung melahap milik Rakha itu seperti orang kesetanan. Ia kulum milik Rakha dalam-dalan. Ia ciumi seperti ia sedang makan permen saja. Rakha pun berdiri. Posisi seperti ini membuat Ares lebih mudah memanjakan adiknya yang sangat panjang itu. “Ahhhh lagiii sayang aah aah aah,“ Rakha melenguh sambil menjambak rambut Ares. Rakha gerakan pinggulnya maju mundur merojok jauh ke pangkal tenggorokan Ares. Hah, ini sungguh sangat nikmat sekali.
Rakha tampar pipi Ares beberapa kali dengan miliknya yang keras dan tegang itu. Lalu, Ares pun kembali mengulum milik Rakha itu dan sesekali ia juga mengulum dua biji telur yang bergelantungan dengan indah. Oh, ini sungguh nikmat sekali, “Uhmph,“ gumam Ares saat Rakha merojok dalam-dalam sampai pangkal tenggorokan dan membuat Ares sedikit susah bernafas. Ares otomatis mendorong pinggul Rakha dan menghirup oksigen sebanyak mungkin.
Ares dan Rakha kembali berciuman dengan badan yang berliuk-liuk seperti ular. Ares mengecupi leher dan pundak Rakha—pun Rakha begitu jua pada Ares. Hingga Rakha pun memutar badan Ares membuat Ares memunggungi Rakha. Ares menungging, sementara Rakha langsung menjilati lubang itu sambil kedua tangan meremas-remas labu Ares. Sesekali Rakha tampar labu itu hingga membuat Ares mengaduh.
Rakha buka labu itu lebar-lebar dan memperlihatkan lubang kenikmatan itu yang mulai berkedut. Rakha meludah di lubang itu supaya lubang itu menjadi lebih licin dan memudahkan Rakha untuk merojok lubang itu dengan lidahnya. Kemudian dengan jari-jemarinya.
“Uuhhh sssttt mahhssss,“ gumam Ares. Ini sungguh lebih perih dari biasanya, apa yang Rakha lakukan hingga membuat Ares merasa seperti itu? Tapi, sungguh rasa perih ini pun akan tergantikan dengan rasa nikmat yang tiada tara. Sudah empat jari Rakha yang masuk ke dalam sana. Oh tuhan, Ares melolong dengan keras. Kamar ini dipenuhi oleh suara kenikmatan yang terus-menerus keluar dari bibir Ares.
“Mahs maahhsss aah ah ah ah ah aaaahhh uuuuhhh uuuhhh eungh maahhhsss u-u-udaaaahhh iiiihh haaah ah haaah ah mppph.“ suara kenikmatan itu semakin membuat Rakha bersemangat merojok lubang itu. “Mas mas mas aku mau keluar maahhsss haah haah aaaaaahhhhhhh ah ah ah aaaahh uuummph ummph ugh.“ gumam Ares—pun akhirnya mengeluarkan cairan putih itu untuk pertama kalinya. Milik Ares masih sensitif. Namun, Rakha malah mengurutnya hingga membuat tubuh Ares menggelinjang dengan hebat. Baru saja Ares mengeluarkan cairan putih itu. Selang lima menit kemudian, ia pun kembali menyemburkan cairan putih itu empat sampai lima kali tembakan.
Masih dalam posisi menungging. Rakha mengarahkan miliknya untuk masuk ke dalam sana. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Ya, Rakha juga memasukkan benda berbentuk seperti tongkat milik pria yang terbuat dari bahan silikon itu ke dalam. Kedua mata Ares langsung melotot. Saat dua benda itu melesak masuk, lubang Ares terasa sangat panas seperti terbakar. Ini sungguh lebih sakit dari biasanya. “MAAAHHSSS AH AH AH AH AH,“ gumam Ares. Rakha mulai menggoyangkan pinggulnya pelan.
Tubuh Ares bergetar hebat. Rakha memang paling bisa memuaskan Ares sampai Ares lunglai tidak berdaya. “MAAAHHHSSS UUUHHH AH UUUUH UUUH UUUUH AH AH AH AH AH MAAHSS UKH MMPPPHH,“ gumam Ares. Sambil menggoyangkan pinggul, Rakha sambil mengulum bibir Ares. “STOOHHPHH MAAHSS SAKIT SAKIIHHHHT AAAHH HIKS HIKS HIKS HMMMPHHP,“ gumam Ares akhirnya menangis jua. Uh, Ares selalu saja menangis tiap kali lubang miliknya dirojok oleh Rakha berkali-kali. “AH AH AH AH AH AAAAAHHHH UUUUHH MAHHHSSS RAKHAAAAHHH HAH AAAHAHH TOLOOONGH U-UDAAH UD-AAAHHH EUUNGH EUNGGH,“ gumam Ares. Lagi dan lagi ia pun menyemburkan cairan putih itu lagi. Pun diikuti oleh Rakha yang juga mencapai puncak kenikmatan beberapa menit kemudian setelah Ares.
Di pelukan Rakha dan saat selimut itu telah menutupi tubuh keduanya pun, Ares masih saja menangis. Ia mengeluhkan sakit saat Rakha merojok lubang itu dengan kasar. Rakha kecup mata itu. Ya, isakan tangis cinta ini, Rakha menyukainya. “Cup cup nggak papa sayang,“ ucap Rakha menepuk-nepuk punggung Ares memberi semangat. Rakha kecup pucuk kepala Ares.
Hujan turun dengan sangat deras malam ini. Namun, dua mobil itu berjalan beriringan, seolah sedang adu kecepatan seperti orang yang sedang balapan di sirkuit. Evan berkali-kali membunyikan klakson mobil meminta Deon untuk segera berhenti. Shit! Evan pun menambah kecepatan mobilnya, lalu membelokkan mobilnya ke kanan sedikit untuk menutup jalan bagi Deon, supaya dia tidak bisa lewat dari arah manapun dan langsung berhenti begitu saja. Benar saja, Deon langsung mengerem mendadak, setelah mobil Evan menghalangi mobilnya dari depan.
Evan turun dari mobil meminta Deon untuk segera turun jua. Evan tidak peduli akan hujan deras yang mengguyur hingga membuat dirinya basah kuyup. Deon diam saja tidak bergeming. “Deon! Deon! Turun Deon!“ seru Evan mengetuk-ngetuk pintu kaca mobil Deon dengan keras. “Buka sayang! Deon! Deon! Plis buka Deon! Sayang! Aku mau bicara! Aku mau jelasin semuanya!“
Telinga dan hati sudah terasa begini panasnya. Mau menjelaskan apa lagi? Semuanya sudah jelas Evan. “DEON! CEPET KELUAR! AKU MAU BICARA!“ teriak Evan di luar sana. Hah, Deon semakin kesal saja dibuatnya, hingga akhirnya Deon pun turun dengan sudut mata yang mulai memerah.
“Mau bicara apa lagi, Van? Udah nggak ada yang bisa kita bicarain lagi. Semuanya udah jelas Van.“ ucap Deon. “Deon,“ seru Evan menggenggam satu tangan Deon. Evan menatap Deon penuh harap. “Maafin aku sayang.. Tolong jangan tinggalin aku.. Tolong kasih aku kesempatan lagi buat perbaiki semuanya..“ ucap Evan berharap Deon masih mau membuka hati untuknya barang sedikit.
Sungguh Evan amat sangat mencintai Deon. Deon itu berbeda dari laki-laki dan perempuan mana pun. Sungguh Evan tidak bisa membayangkan jika ia benar-benar harus berpisah dengan Deon. Ya, Evan memang khilaf, tapi, sungguh dalam hati Evan, cuma Deon saja yang bisa merajai hati ini. Mereka itu cuma pion-pion yang bergelantungan tanpa bisa menjadi lentera yang sesungguhnya. Ya, Evan berjanji akan menyingkirkan pion-pion itu dari hatinya. Sungguh.
“Kesempatan? Heh,“ Deon tersenyum kecut dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Udah dua kali Van.. Aku udah kasih kesempatan dua kali.. Aku udah coba bertahan ampe sekarang Van.. Dan aku udah berada di titik dimana aku nggak bisa lagi kasih kepercayaan ke kamu Van.. Plis lepasin tangan aku..“ ucap Deon. Evan menelan ludah dengan kasar. “Deon, plis sayang, aku janji bakalan perbaiki semuanya. Jangan sayang, aku, aku nggak siap kalo kita pisah. Aku nggak mau sayang.“ ucap Evan memohon dengan amat sangat.
Hah, mudah sekali bibir itu berucap janji yang terus saja diingkari? Persetan dengan kata cinta. Itu hanyalah sebuah dusta belaka. Sudah dua kali Evan mengkhianati Deon dengan cara seperti ini. Deon harus bagaimana lagi memangnya? Putus adalah jalan terbaik. Deon tidak ingin jatuh ke dalam jurang kebodohan itu semakin dalam. Hah, bodoh sekali aku selama ini, batin Deon.
BUGH! Seseorang memukul Evan dari samping hingga membuat Evan tersungkur ke aspal. Hah, brengsek sekali pria ini, batin pria itu. Deon mengerjap-ngerjapkan mata. Pandangannya lemburan karna hujan deras. Deon mencoba menajamkan penglihatannya. Dia, dia adalah pria yang mobilnya tidak sengaja Deon tabrak waktu itu.
Dada pria itu naik turun. Dia terlihat sangat emosi. Di bawah hujan deras yang turun pun, Deon masih mampu melihat kilatan tajam dari sorot mata elang pria itu. Evan pun bangkit. Siapa pria ini? Memukul dirinya seenaknya saja? “Pergi,“ ucap pria itu dingin. Hah, siapa dia menyuruh-nyuruh Evan untuk pergi? Evan tidak bergeming sambil memegangi pipinya yang terasa panas sehabis dipukul oleh pria itu, Edgar.
Edgar pun meraih pergelangan tangan Deon dan menariknya perlahan untuk membuat dirinya segera masuk ke dalam mobil yang Edgar kendarai. Evan pun meraih pergelangan tangan Deon jua. Ini persis seperti keduanya sedang melakukan aksi saling tarik menarik. “Lepasin atau saya akan bertindak lebih kasar lagi dari itu, Evan.“ ucap Edgar.
Siapa dia ini? Darimana orang dari antah berantah ini tau nama Evan?, batin Evan. Ya, mudah bagi Edgar untuk tau siapa Evan, dia tinggal menyuruh orang saja untuk mengetahui seluk beluk kehidupan Deon, bersamaan dengan itu dia juga menemukan fakta mengenai Evan. Cih! Pria brengsek seperti Evan benar-benar tidak pantas dimiliki oleh orang setulus Deon.
BUGH! Edgar memukul Evan sekali lagi hingga tangan Evan pun otomatis terlepas dari pergelangan tangan Deon. Edgar menarik tangan Deon menuju mobil Edgar sendiri. “Naik,“ ucap Edgar dingin. Deon pun menurut saja. Sepanjang perjalanan suasana hening tanpa ada sepatah kata pun keluar dari bibir keduanya.
Oh tuhan, mengapa Keanu bisa ada dimana-mana? Hah, bisakah sehari saja Keanu menghilang dari bumi ini dan membiarkan Barra merasakan ketenangan sebentar saja? Ingin Barra menonjok wajah tanpa dosa itu. Tapi, Barra urung lakukan, andai saja tidak ada ayah dan ibunya disini, mungkin Barra sudah melakukannya dari tadi. “Papa kenapa biarin makhluk astral ini masuk ke rumah kita pa?“ tanya Barra kesal.
“Keanu bilang kalian udah pacaran. Ya udah, papa suruh masuk aja. Kasian kan kalo pacar sendiri dibiarin di luar luntang lantung nggak jelas?“
Dalam hati Keanu meringis mendengar kata-mata Bahkan barusan. Luntang-lantung?, batin Keanu. Dasar Om Endra. “Trus papa percaya gitu aja?“ seru Barra mulai emosi. “Udah lah Barra urus pacar kamu sana,“
“Dia bukan pacar aku pa. Dia adik kelas aku pa. Papa tau sendiri, kan?“ ucap Barra protes. Benar, Keanu itu masih kelas 1 SMA, sedangkan Barra sudah kelas 3 SMA dan sebentar lagi lulus. “Mama kamu aja 3 tahun lebih tua dari papa anteng-anteng aja tuh? Ini kamu malah kek cacing kepanasan,“ ucap Bahran. “Hah?“ seru Barra dengan mulut setengah menganga.
“Lu balik sana gih. Kek nggak punya rumah aja.“ ucap Barra ketus. Keanu? Dia malah mengulum senyum saja. Kepala batu sekali Keanu ini? Huh, Barra mendengus. “Ini rumah gue juga Bar~“ ucap Keanu. “Kalian kalo mau geulud di kamar aja. Jangan disini. Mama papa om tante jadi keganggu. Mau santai nggak bisa gara gara kalian berdua tau nggak?“ ucap Bahkan sarkasme.
“Pa~“ protes Barra menatap Keanu dengan tatapan membunuh. “Udah sana, rese papa Bar dengerin ocehan kamu. Penting telinga.“ sahut Bahran. Oh tuhan, mengapa ayah Barra bisa semenyebalkan ini? Hm, anaknya saja sangat menyebalkan. Bukankah pepatah telah mengatakan kalau buah jatuh tidak jauh dari pohonnya?
Barra dan Keanu melakukan aksi dorong mendorong pintu. Barra mendorong dari dalam, sedangkan Keanu mendorong dari luar ingin masuk. Keanu tersenyum jahat hingga ia pun mengeluarkan semua jurus tenaga dalam dari dalam dirinya. Seketika Keanu pun berhasil mengalahkan Barra dan membuat Barra tersungkur ke lantai. Barra mengaduh sakit karna pantatnya menyentuh lantai dengan keras.
“Gue yakin itu pantat pasti butuh diobatin.“ ucap Keanu menyeringai. Barra mendorong tubuhnya mundur ke belakang perlahan. Seringaian Keanu mengerikan sekali. Oh tuhan, bahkan pintu kamar Barra sudah dikunci rapat-rapat oleh Keanu. Barra menelan ludah susah payah hingga ia pun tersandar tepat di nakas samping tempat tidur.
“Lu jangan aneh-aneh bangsat!“ ucap Barra mulai panik. Keanu pun jongkok di depan Barra. Tepat di wajah Barra, Keanu pun berkata, “Gue udah bilang, pantat lu harus diobatin, biar gue yang obatin.“ ucap Keanu membuat Barra semakin panik dengan mata melotot tajam. Ingin Barra bangkit. Tapi, sungguh, ini sakit sekali.
“Lu lu mau ngapain gue?“ seru Barra saat Keanu dengan mudahnya mengangkat tubuh Barra dan ia rebahkan di atas ranjang. Keanu memutar tubuh Barra sehingga kini Barra pun menjadi tengkurap. Keanu turunkan celana milik Barra sehingga terpampanglah dua labu yang terlihat sangat berisi itu. Hm, batin Keanu. Diapain ya?
“Woy woy lu ngapain, hah?!“ seru Barra. “Ngobatin ini lu,“ sahut Keanu. Keanu pun naik ke atas ranjang. Ia pegang dua labu itu dan membukanya agak lebar. Ya, Keanu penasaran bagaimana bentuk dan warna lubang Barra. Oh tuhan, ini sedikit berbulu dan juga berwarna merah muda seperti jambu. Uh, sungguh menggugah selera, batin Keanu.
Barra langsung membelalakkan mata kaget. Saat bibir Keanu menyentuh permukaan labunya. Oh tidak, lidah Keanu mulai menggila di dalam sana. “Lu?! Aahhhhhh ummmhhhh,“ gumam Barra. Sial, kenapa gue ngeluarin suara itu, sih?, batin Barra. Keanu malam menjilati lubang itu seperti menjilati permen rasa coklat saja. Entah mengapa lubang merah muda ini membuat Keanu ingin memanjakannya.
Barra otomatis meremas bantal saat sesuatu yang keras masuk ke dalam sana. “Gimana? Enak nggak?“ tanya Keanu menyeringai. Keanu memasukkan jari tengahnya ke dalam lubang itu. “Sakit bangsat! Aahhhhhhhh,“ umpat Barra diiringi suara lenguhan yang terdengar sangat menggairahkan.
“Gue bakal bikin lu neriakin nama gue dan bikin lu buat terus minta gue ngerojok lubang lu ini.“ ucap Keanu seduktif. Shit! Itu apa? Mengapa bagian itu terasa sangat nikmat sekali saat jari-jari Keanu merojok bagian itu? “Eummmhhh Keaahhhh aaahhhh ungh,“ gumam Barra. Dalam hati Barra mengumpat. Jujur Barra tidak bisa mengontrol dirinya dan malah memanggil nama Keanu begitu saja.
Saat Keanu menarik jarinya kembali. Barra merasa seperti ada sesuatu yang hilang. Barra belum puas. Uh, mengapa Barra ingin merasakan lebih? Ini sungguh amat sangat menyiksa. Berhasil, batin Keanu tersenyum miring. “Gue mau lu jadi milik gue seutuhnya Bar~“ ucap Keanu dengan suara sedikit basah. Uh, suara macam apa itu?, batin Barra.
Keanu memutar wajah Barra menghadap ke belakang sedikit. Keanu cium bibir itu. Barra sempat berontak beberapa kali. Namun, lagi-lagi Keanu berhasil mendominasi. “BRENGSEK!“ umpat Barra. “Gue nggak bakalan egois Bar. Gue bakalan puasin lu ampe lu teriakin nama gue kenceng-kenceng.“ ucap Keanu dengan wajah tanpa dosa.
Keanu meludah sedikit untuk membasahi miliknya sendiri supaya licin dan mudah memasuki lubang sempit itu dalam-dalam. “Shiiihhttttt akh bangsaahhtt aaaaaahhhhhh,“ gumam Barra meremas bantal kuat-kuat menahan perih. “Lu masukin ap-ah haahhhh, brengsek! Stoohhppp!“ gumam Barra. Keanu tidak mau tau. Ia pun mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur. Shit! Ini amat sangat nikmat lebih dari apa yang Keanu bayangkan.
Dalam hati Barra benar-benar mengutuk Keanu. “Keaaahhh ahh ah ah ah ah it-it-ituuh ah eungggghhhhhh eummmhhh,“ gumam Barra. Keanu telah berhasil menemukan titik ternikmat itu. Keanu pun sengaja menghentikan aksinya sebentar dengan miliknya yang masih bersarang di dalam sana. “Teriakin nama gueh lagi Bar.“ ucap Keanu mengecupi punggung Barra.
Sial! Barra semakin bergairah. “Keaaahhh lagiiiihhhh,“ ucap Barra lirih. Ini singgung memalukan sekali Barra berkata seperti itu kepada Keanu, si kepala batu. Bagaimana bisa Barra kehilangan harga diri dengan mudah begini? Tapi, mau bagaimana lagi, gairah ini amat sangat menyiksa diri.
Keanu mendorong pinggulnya kuat-kuat membuat tubuh Barra bergetar hebat. “KEAAAH KEAAAH AHHH KEAAHNUUUHH AAHH AHHHH AAAHH AH AH AH UUUUHH NGGHHH.“ gumam Barra lalu Keanu pun diam sebentar mengulum bibir itu mesra. “Mmhh mmhh uuuhhh aaahhh,“ gumam Barra. Ciuman itu pun terlepas saat Keanu kembali menggerakkan pinggulnya dengan cepat.
Keanu menciumi ceruk leher Barra dari belakang sambil mengurut milik Barra sampai benda panjang itu pun berkedut, pertanda akan segera menyemburkan cairan kenikmatan. Saat dirasa Barra ingin keluar, Keanu pun kembali menggoyangkan pinggulnya. Keanu ingin keluar bersama-sama. “Bareng sayang nghh,“ gumam Keanu. “KEAH KEAH KEAH AH AH AH HAH HAH AAAAAAHHHHHHH UUUUUUGGGHHH,“ Barra pun akhirnya menyemburkan cairan putih itu. Sangat kental dengan warna seputih susu. Kepala Barra pusing sekali. Ia pun lunglai tidak sadarkan diri. Hm, maksudnya setengah sadar saja.
“Lu sekarang milik gue Bar dan lu udah jadi tanggung jawab gue. Kalo lu hamil gue bakalan tanggung jawab kok. Hahahaha,“ ucap Keanu tertawa kemenangan sambil bercanda. Ingin Barra mengenyahkan makhluk astral ini ke ujung bumi. Namun, tubuh Barra masih sangat lemas sekali. Brengsek, Keanu sudah menodai Barra. Huh, Barra mendengus dalam hati. Lihat saja kalau Barra sudah sadar nanti, apa yang akan Barra lakukan. Tunggu saja Keanu sialan, batin Barra.