![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Hari ini adalah hari ketiga pernikahan Darren dan Irfan. Semua berjalan normal seperti biasa. Jujur Irfan tidak tau harus bersikap bagaimana kepada Darren. Istri? Irfan bingung harus memulainya dari mana. Haruskah ia membuat sarapan? Uhm, atau memberi kecupan saat berangkat kerja? Dih, kok jatohnya jadi lebay, sih?, batin Irfan. Irfan masih rebahan di atas ranjang sambil main gadget. Ia mengerling sedikit. Darren sedang bersiap-siap ingin berangkat ke kantor. Saat ini dia sedang memakai stelan jas sambil melihat pantulan dirinya di depan cermin.
Saat pada bagian Darren ingin memasang dasi. Tiba-tiba hati Irfan tergerak untuk menghampiri Darren, dan membantunya memasang dasi. “Biar aku bantu pasangin dasi buat kamu, mas,“ ucap Irfan. Darren pun menatap Irfan. Irfan tau; dia cuma berpura-pura tidak tau saja. Ini pertama kalinya dia membantu orang lain memasang dasi, dan itu adalah suami sendiri. Eh? Su-suami?, batin Irfan. Tanpa sadar ia menyebut Darren suami, meski cuma di dalam hati.
“Udah,“ gumam Irfan. Setelah itu; ingin melakukan apa; Irfan lagi-lagi jadi bingung. “Mas, kalo gitu aku mau mandi dulu,“ ucap Irfan terdengar gugup. Saat Irfan ingin melesat ke kamar mandi; kontan Darren pun meraih pergelangan tangan dan lehernya. Lalu, ia k e c u p bibir itu selama beberapa detik. Barulah ia lepas lagi. Irfan terkejut. Bahkan ia tidak sempat menghindar saking cepatnya pergerakan Darren. “Nggak usah buru-buru. Kamu nggak harus nganterin mas ke depan. Kamu mandi dulu baru bantu mama jaga Bella sama Jayden, ok?“ ucap Darren mengecup pucuk kepala Irfan.
Irfan menganggukkan kepala dengan patuh. “Kalo gitu mas berangkat dulu,“ ucap Darren tersenyum tipis. Darren sudah berangkat kerja. Jadi, aku ngapain lagi dong? Huft, andai aku balik ke Indonesia udah pasti aku bakalan sibuk ngantor, batin Irfan. “Papa!“ seru Jayden menyembulkan kepalanya di balik pintu. “Jay?“ gumam Irfan. Jayden pun menghampiri Irfan dengan sangat antusias. “Papa, aku mau cerita sesuatu,“ ucap Jayden membuat Irfan jadi penasaran. Irfan pun berjongkok, menyamakan posisinya dengan Jayden. Lalu, Jayden pun membisikkan sesuatu di telinga Irfan. “Sebenernya aku udah punya calon istri,“ ucap Jayden.
Eh? Calon istri? Dari mana Jayden belajar istilah calon istri? Uhm, mungkinkah dia cuma bergurau saja, karna pernah main raja dan ratu bersama teman-teman sebayanya?, batin Irfan. “Siapa? Orang mana?“ tanya Irfan. “Errr,“ gumam Jayden. Tiba-tiba dia menggaruk pipinya yang tidak gatal. “Lupa hehe,“ sahut Jayden sambil nyengir. Jangankan dia siapa dan orang mana—pun namanya saja dia sudah lupa. Tapi, yang mampu Jayden ingat cuma satu; huruf awal dari nama si calon istri, yaitu huruf B.
Irfan pun tersenyum lebar; melihat tingkah Jayden yang amat sangat menggemaskan. Suatu saat; Defran juga akan menjadi sosok anak yang cerdas dan tampan seperti Jayden. Hm, tinggal di rumah tanpa melakukan apa-apa memang membosankan, ya? Irfan pun memilih untuk duduk bersama Sarah di ruang keluarga. Bermain bersama Bella dan Jayden. “Irfan, biar mama kasih tau salah satu rahasia Darren,“ ucap Sarah misterius. “Uhm, apa ma?“ tanya Irfan.
“Darren tulus sama kamu Irfan,“ sahut Sarah. Irfan malah tertawa. “Itu sih bukan rahasia ma~ Dikira apa udah serius juga,“ ucap Irfan. “Hahaha tapi beneran lho ini? Jujur dari awal nih ya Fan, papa sama mama udah ngeh banget, makanya pas Darren bilang mau nikahin kamu, respon papa sama mama biasa-biasa aja,“ ucap Sarah. Orang tua memang lebih perasa, ya? Sampai-sampai mampu menyadari hal itu. Irfan saja menduga kalau dulu Darren cuma murni karna rasa kekeluargaan saja. Jadi, dia bener-bener tulus? Uh, kok aku malah geer, sih?, batin Irfan.
Edgar memang tinggal bersama dalam satu atap dengan Deon dan kedua orang tua Deon. Edgar berpikir, bahwa saat Alena meminta dirinya tinggal di sini, itu artinya Alena merestui dirinya dan Deon. Di luar dugaan, ternyata itu cuma cara Alena untuk mengawasi Edgar dan Deon. Huft, dapet restu dari camer susah juga, ya?, batin Edgar. Sejak berselisih pendapat waktu itu, Alena jadi agak dingin terhadap Edgar. Terkadang dia juga menatap Edgar dengan tatapan sinis.
Edgar? Jangan salah, dia tidak akan mudah terpengaruh, bahkan jika digertak oleh seorang mafia sekali pun. Biar nanti Edgar bertanya kepada Deon; apa saja yang Alena suka dan tidak sukai. “Om, apa om ada rencana jadiin Deon pimpinan di perusahaan om sendiri?“ tanya Edgar. Saat seluruh keluarga berkumpul di ruang keluarga. “Bukan rencana lagi, Ed. Tapi, emang papa maunya Deon yang urus. Cuman dianya nggak mau. Dia kekeh mau kerja di bank,“ sahut Yudi.
“Gimana kalo Deon resign aja dari tempat dia kerja sekarang? Jadi, nanti dia kerja sama saya di kantor saya sendiri, belajar gimana cara mengelola perusahaan dengan baik. Misal dia udah siap, baru deh langsung stay di kantornya om,“ ucap Edgar memberikan solusi. Yudi pun melemparkan pandangannya ke Deon. “Tuh, kamu liat aja si Deon,“ ucap Yudi. Edgar pun menoleh. Deon malah nyengir. “Nggak bisa, nggak mau, tanggung jawab terlalu gede, ntar aku nggak bisa tidur,“ sahut Deon.
Gila aja ngurus perusahaan segede itu. Bisa-bisa rambut aku keriting, kepala nyut-nyutan, tidur nggak nyenyak, batin Deon. “Siapa bilang? Kamu liat aku dong. Tetep bisa tidur, kan? Jangan overthinking lah, De. Papa kamu juga pengen berduaan sama mama kamu di rumah. Giliran kamu yang urus usaha keluarga,“ ucap Edgar. Tiba-tiba semburat merah pun muncul di kedua pipi Alena, saat mendengar kata-kata Edgar barusan.
“Bener kata Edgar, De. Papa juga mau liburan berdua sama mama kamu,“ timpal Yudi. Berhenti bekerja? Hm, gimana, ya? Padahal aku udah nyaman banget kerja di sana. Huft, batin Deon diiringi helaan nafas panjang. Beberapa saat kemudian; Edgar dan Deon berada di suatu tempat, yaitu hotel. Sebelumnya Edgar telah meminta izin kepada Alena, untuk jalan-jalan bersama Deon. “Kenapa malah ke hotel, sih? Kan kamu bilangnya jalan-jalan?“ ucap Deon protes. “Iya~ Emang jalan-jalan~ Tapi, jalan-jalannya ke sini sayang,“ sahut Edgar.
Deon sangat gugup saat ia memasuki ruangan hotel. Entah mengapa perasaan Deon jadi tidak enak. Jangan bilang kalau Edgar ingin melakukan sesuatu di sini? Deon menelan ludah. Ia mulai panas dingin. Setelah pintu tertutup; Edgar pun meraih pinggul Deon. “Maaf, De. Tapi, aku udah nggak tahan,“ ucap Edgar—pun langsung mencium b i b i r Deon. Pergerakan Edgar sangat liar dan cepat. Deon sampai kewalahan, dan hampir tidak bisa mengimbangi ciuman nan mematikan itu. “Ngghh ahhh aahhh mmph,“ gumam Deon.
Edgar bimbing tubuh Deon menuju ranjang berukuran kingsize itu. Edgar seperti binatang buas—yang sedang lapar. Dia sama sekali tidak memberikan kesempatan untuk Deon bergerak mengendalikan diri. Dia sangat mendominasi. Deon cuma bisa meremas sprai kasur dengan bibir bergetar; saat seluruh tubuh Deon mendapat sentuhan-sentuhan cinta dari Edgar. “Ed aahh ngghh Ed ahhh ugh sa-sakit ahh Ed sakit stop aarrghh,“ gumam Deon menitikkan air mata saat sebuah benda—yang gemuk dan keras memasuki lubang itu. Uh, rasanya panas seperti terbakar—pun bercampur rasa perih.
Edgar mencoba menenangkan Deon dengan m e n g u l u m bibirnya. Si jagoan juga tidak lupa Edgar urut dengan penuh cinta dan kasih sayang. Deon telah berlinang air mata menahan sakit. Hari ini adalah pertama kalinya ia dan Edgar saling mencurahkan perasaan cinta dalam d a d a. Perlahan tapi pasti, rasa sakit itu pun berubah menjadi kenikmatan tiada tara. “Ed Ed aaahhh ah ah ah ah ah ah ssstt aahhhh mmmhh ngh,“ gumam Deon saat Edgar terus saja menggerakkan pinggulnya hingga Deon pun menyemburkan cairan putih itu hingga empat kali tembakan. Tubuh mereka dibasahi oleh keringat. Edgar kecup kening Deon. Sungguh Edgar merasa amat sangat bahagia. Deon telah menjadi miliknya sepenuhnya.
Di meja tunggu depan ruang fitness. Keanu melamun. Dia sedang berpikir untuk rencana mengurangi job dj di club. Putus dengan Barra lebih menyakitkan dari tangannya yang patah. “Hm, misal gue nge-DJ tiga jam per hari dari senin-jumat, berarti total pendapatan gue per minggu sekitar 20jt. Satu bulan 80jt. Dikurangin cicilan apartemen 3jt. IPL 500rb, sinking fund 200rb, parkir 200rb, listrik 1jt, dan air 200rb. Jadi, total pengeluaran tiap bulan sekitar 5jt 100rb. Belum lagi makanan pokok per bulan ini itu sekitar 5jt. Berarti sisa 69jt 900rb dong? Hm masih aman masih aman,“ batin Keanu.
Keanu berjanji akan menjamin masa depan Barra saat menikah dan hidup bersama nanti. Uh, rasanya sangat tidak sabar menanti hari pertunangan—yang masih dalam hitungan hari. Keanu telah berpesan kepada Barra; untuk datang langsung ke club sehabis dari kampus. Jadi, biar bisa pulang barengan. Pun mengikis rasa cemburu di hati dan memantau Keanu. Kalau-kalau Keanu berbuat yang tidak-tidak. Karna rumah tangga bukan cuma perkara cinta saja. Tapi, bagaimana cara supaya rumah tangga itu sendiri bertahan, meski badai menerpa.
Jujur Barra tidak terlalu suka dengan suara bising di club. Tapi, mau bagaimana lagi? Ia harus mengawasi Keanu tanpa terkecuali. Jangan sampai Keanu mengulangi kesalahan yang sama. Uh, memandangi wajah Keanu dari kejauhan saja mampu membuat d a d a ini berdegup kencang. Terlebih saat Barra teringat akan acara pertunangan keduanya dalam waktu dekat ini. Serius deh gue bakalan nikah sama bocil kelas 2 SMA?, batin Barra tidak menyangka hal itu sama sekali. Pun masih jelas di ingatan Barra; bagaimana ia begitu tegas menolak hingga memusuhi Keanu dulu. Tapi sekarang? Ngeliat dia deket ama cewek lain aja gue udah panas, batin Barra.
“Bar? Sayang?“ seru Keanu menghampiri—pun memberi kecupan manis di pucuk kepala. Duh, meleleh gue, batin Barra. “Mau makan apa?“ tanya Keanu duduk di sebelah Barra sambil menyalakan rokok. “Pesenin gue onion ring dong, Ke,“ sahut Barra. Keanu tersenyum lebar sambil menghembuskan asap rokok dari mulut. Barra ini memang penggila onion ring. “Bli, onion ring 3 porsi, lasagna 1 porsi, beef stroganof 1 porsi, sama teh mint 2,“ ucap Keanu menyebutkan list pesanan.
“Banyak banget?“ ucap Barra. “Sekalian sama punya aku yang. Laper tau,“ sahut Keanu. “Hari ini kuliah lu gimana?“ tanya Keanu menunjukkan perhatiannya kepada Barra. “Nggak gimana-gimana. Biasa aja,“ sahut Barra. Keanu pun menatap Barra dengan mata menyipit, lalu menyentuh dagu Barra. “Temen cowok lu, nggak ada yang godain lu, kan?“ tanya Keanu dengan senyuman menggoda. “Paan si ah, rese banget,“ ucap Barra protes sembari menepis tangan Keanu dari dagunya. Keanu pun terkekeh geli.
Hampir jam enam sore. Barra dan Keanu pun bersiap-siap pulang ke rumah dengan motor. “Yang, di apartemen ada yang abis nggak? Biar sekalian beli di jalan,“ tanya Keanu. Barra tersenyum geli mendengar Keanu memanggil dirinya dengan sebutan yang. “Bisa nggak panggil nama gue aja? Nggak usah yang yangan gitu? Geli tau, Ke,“ ucap Barra protes. “Gini gini gue calon suami lu, Bar. Lulusan S1 belum tentu bisa ngasilin duit banyak kek gue,“ sahut Keanu. “Hah? Gue bahas masalah lu manggil gue yang, kenapa lu malah bahas duit?“ ucap Barra mencebikkan bibir kesal. “Haircare gue abis. Awas! Jangan ampe kelewatan,“ ucap Barra mengingatkan Keanu saat mengendarai; untuk singgah di toko kosmetik; membeli perlengkapan haircare.
Ares sedang memasak di dapur. Dia juga memakai celemek, supaya tidak terkena cipratan minyak saat memasak. “Sayang,“ seru Paha. “Hm?“ sahut Ares setelah mencicipi rasa dari kuah soto yang ia buat. “Dua minggu lagi ulang tahun Bella. Nah, Darren minta kita berdua ke Amerika. Kamu bisa libur kan, dek?“ ucap Rakha sekaligus bertanya. “Bisa~ Tapi ya nggak bisa lama-lama mas, soalnya kan aku sekolah juga? Ntar ketinggalan pelajaran lagi,“ sahut Ares sembari mengeluarkan ulekan dari laci bawah.
Sambil mengupas bawang; Ares sambil mengobrol dengan sang suami. Berbicara panjang lebar mengenai rencana liburan ke Amerika, meski bisa dibilang ini dalam rangka merayakan ulang tahun Bella yang pertama. Hm, gimana, ya? Anak Mas Rakha nanti? Pasti cantik banget, deh?, batin Ares tersenyum samar. “Itu kamu mau ngasih buat siapa?“ tanya Rakha. Saat Ares memasukkan kuah soto ke dalam rantang. “Buat inak sama amak. Trus ini buat tetangga juga,“ sahut Ares.
“Bentar ya, mas? Aku mau nganterin kuah soto ke tetangga sebelah dulu,“ ucap Ares. Setelah itu mereka pun bersiap-siap ingin ke rumah Badrun dan Camilla; mengantar serantang kuah soto. “Mas, kamu tunggu di sini aja, soalnya aku cuman mau ngasihin rantang nya doang,“ ucap Ares—pun masuk ke dalam setelah mengetuk pintu. “Inak, ini kuah soto masih panas-panas, nih. Tapi, maaf ya, inak? Ares nggak bisa lama-lama,“ ucap Ares. “Nggak papa~ Maklum udah punya suami biar bisa ehem ehem,“ goda Camilla. Ares pun tersipu malu. “Ih inak~ Nggak gitu tau~“ sahut Ares.
“Amak belum pulang?“
“Masih jam tujuh, ya belum pulang lah~ Amak kamu biasa pulang jam sembilanan ato jam sepuluhan. Tadi, inak nelepon, katanya lagi rame banget di warung,“
“Wa'alaikumussalam hati-hati,“
“Iya inak,“
Ares pun menghampiri Rakha, dan menggantung bungkusan plastik itu di gantungan motor. “Ini apa?“ tanya Rakha. “Serabi, inak bikin serabi ternyata, makanya dibungkusin buat kita berdua,“ sahut Ares. Di rumah; mereka makan bersama; tertawa sambil bertukar cerita. “Oh iya, mas. Uhm, aku boleh kerja nggak?“ tanya Ares. Rakha mengerutkan alis. Bekerja? Untuk apa Ares ingin bekerja? Terlihat jelas dari raut muka Rakha. Dia pasti tidak menyetujui hal itu.
“Kasih tau mas alesan kamu mau kerja itu apa,“ ucap Rakha dingin. Ih, serem juga, ya? Kalo Mas Rakha lagi marah kek gini? Tapi, marahnya tuh kek diem dipendem gitu?, batin Ares. “Errr sebenernya aku pengen banget kuliah jurusan pariwisata. Dan biaya per semester nya itu sekitar 8 ampe 12jt an,“ sahut Ares. “Trus?“ ucap Rakha meminta Ares menjelaskan lebih detail. “Uhm, aku pengen aja gitu mas, bayar kuliah dari hasil jeri payah aku sendiri, karna aku nggak mau nyusahin kamu,“ ucap Ares. Rakha pun menghela nafas berat.
“Trus gunanya kamu punya suami apa? Nggak deh gini aja, tugas suami yang sebenernya apa? Hm?“
“Errr,“
“Jadi kepala keluarga dan menafkahi keluarga, kan? 12jt per semester? Mas masih mampu sayang~ Kamu hitung lagi pengeluaran bulanan kita sama uang tabungan deh. Insyaa allah cukup kok,“
“Tapi, mas—“
“Ok, kamu boleh kerja apapun itu. Dengan syarat kamu harus lulus kuliah dulu baru kerja. Kalo kamu belum lulus kuliah, mending kamu fokus belajar yang giat, dan masalah biaya kuliah itu jadi tanggungan mas. Ngerti?“
Jujur rasanya Ares ingin menangis saja, karna tidak mendapat izin bekerja dari suami. Lihat? Rakha terlihat sangat marah, meski ia mencoba menahannya dengan amat sangat. “Iya, mas. Ngerti kok,“ sahut P
Ares berat hati. Kemudian ia pun melanjutkan menyantap kuan soto dengan nasi, bukan dengan ketupat atau lontong. “Kenapa? Mau protes?“ ucap Rakha sarkasme. “Nggak,“ sahut Ares sebal. Uh, ingin rasanya Ares berontak meminta keadilan supaya diberi izin kerja. Tapi, hal itu tidak akan mungkin ia lakukan. Ares pun mencebikkan bibir kesal, dan hal itu membuat Rakha mengulum senyum.
Pagi-pagi sekali Dinda mengayuh sepeda menuju rumah Ares. Dia membawa kue buatan sang ibu sebagai ucapan terima kasih, karna Ares sudah menolong dirinya waktu itu. “Permisi assalamu'alaikum,“ ucap Dinda. Sreet. Nampak lah seorang pria dewasa, yaitu Rakha—yang membukakan pintu. Eh? Kok bukan Ares, ya?, batin Dinda. “Wa'alaikumussalam maaf, nyari siapa ya, dek?“ tanya Rakha. “Uhm, ini om aku Dinda, temen sekolahnya Ares,“ sahut Dinda. “Bentar, om panggilin Aresnya dulu,“ ucap Rakha. “Silahkan masuk, dek,“ ucap Rakha lagi mempersilahkan masuk.
“Eh? Ng-nggak usah om, aku di sini aja nggak papa,“
“Ya udah kalo gitu tunggu bentar, ya?“
“Iya om,“
“Ares? Sayang? Ada yang nyariin kamu, nih?“ seru Rakha dari depan pintu. Rakha pun turun ke halaman rumah; memanaskan motor dengan menghidupkan mesinnya. Ares juga sudah bersiap-siap ingin berangkat sekolah. Ia terkejut; melihat Dinda duduk di teras. “Dinda?“ seru Ares. Dinda pun berdiri. “Maaf, ganggu ya, Res? Ini gue mo nganterin kue buatan nyokap gue buat lu,“ ucap Dinda sembari memberikan bungkusan plastik berisi kue di dalam wadah. “Ya ampun, Din. Nggak usah repot-repot,“ ucap Ares. Dinda pun tersenyum. “Nggak papa~ Gue sekalian lewat aja. Btw jangan lupa diabisin, ya? Gueo otw dulu,“ ucap Dinda. “Makasih banyak ya, Din?“ ucap Ares berterima kasih.
Dinda pun berpamitan ingin kembali melanjutkan perjalanan ke sekolah dengan sepeda. Dari kejauhan; ia melihat Ares dan Rakha begitu mesra. Jadi, mereka beneran pasangan yang udah nikah, ya?, batin Dinda. Uh, rasanya hati Dinda seperti disayat-sayat. Pun Ares dan Rakha mulai tancap gas. Setelah sebelumnya menaruh kue pemberian dari Dinda ke dalam terlebih dahulu. “Kamu pake parfum aku, mas?“ seru Ares saat dalam perjalanan. “Hehe iya mas pake,“ sahut Rakha.
“Beli napa, mas? Biar masing-masing aja make. Kamu mah, aku nggak suka tau kalo barang-barang aku dipake sama siapa aja, kamu juga nggak boleh,“ ucap Ares protes. “Ya ampun, minta dikit doang,“ sahut Rakha. “Tetep aja~ Nanti sekalian pulang ngantor kamu beli gitu,“ ucap Ares lagi. Dia terlihat sangat sebal kepada Rakha. Benar. Si perfeksionis Ares itu memang paling tidak suka; jika barangnya dipakai sedikit saja oleh orang lain, meskipun yang memakai adalah suami sendiri.
Turun dari motor; Ares pun mencium tangan Rakha. Seperti biasa; Rakha selalu saja menahan pergelangan tangan Ares. “Lepasin aku mau masuk, mas. Cepetan saja nanti kamu telat,“ ucap Ares. Rakha pun tersenyum misterius. “Berani cium bibir mas nggak?“ tanya Rakha sambil mengulum senyum. “Ih, apaan si, ah!“ sahut Ares sebal. Huft, bisa-bisanya Rakha meminta yang aneh-aneh di tempat umum. “Ayok~ Mas nggak mau berangkat kalo nggak kamu cium,“ pinta Rakha manja. Ares melihat ke kiri dan ke kanan, dan banyak orang yang berlalu-lalang. Cup. Ares mengecup bibir Rakha sekilas. “Udah, kan? Aku masuk dulu, ya?“ ucap Ares langsung melesat masuk ke dalam dengan wajah yang memerah.
.
.
.
JANGAN LUPA BACA JUGA SUGAR D [BL] UDAH UP CHAP 11-13!
UP KEMBALI KALO UDAH 50+ LIKES + GUE UDAH SELESE KETIK