ARES [BL]

ARES [BL]
ARES 36



Uh, benda panjang itu menghujam terlalu dalam. Diremasnya sprain kasur itu sampai tidak beraturan. Menahan semua perih sekaligus kenikmatan tiada tara ini. Nafasnya mulai naik turun tidak beraturan. Pusing itu sudah pasti. “Raaakkhaaahhhh,“ inilah saat yang membuat Rakha paling bahagia. Ares meneriaki namanya saat miliknya terus-menerus menggempur lubang itu.


Dalam hati Rakha bangga memiliki adik sepanjang ini. Warna boleh kehitam-hitaman. Tapi, dengan ukuran yang bisa dibilang sangat panjang ini pasti mampu memuaskan pasangan sampai ke langit ke tujuh. Lama sekali Rakha menggempur lubang itu tanpa henti dengan posisi Ares yang menungging dan kaki yang dibuka agak lebar.


Lubang itu berkedut saat Rakha menarik miliknya keluar. Lubang itu kemerah-merahan dan Rakha menyukai itu. Setelah itu ia benamkan wajahnya disana menjilati dalam-dalam lubang itu membuat tubuh Ares menggelinjang hebat. Tangan Ares pun tidak tinggal diam. Ia memanjakan miliknya sendiri sampai menegang sempurna.


Ares memutar kepala ke belakang. Ia dan Rakha berciuman sembari Rakha obrak-abrik lubang itu dengan tiga sampai empat jari tangannya. “Mahhssss sakiihht mahssss ssstttt,“ gumam Ares. Ciuman itu pun terlepas diiringi linangan air mata. Air mata cinta ini, Rakha tidak akan pernah lupa, air mata yang menetes saat penyatuan keduanya.


“MAAAHHHSSS UKH UKH KEUUUH AAAHHHH PERIHHH MAHHHSSS AHH UDAH UDAH UDAH UMPPHHH.“ Ares berteriak dengan suara lantang, saat Rakha memajumundurkan pingggulnya dengan tempo yang amat sangat cepat. Oh tuhan, lubang Ares terasa disayat-sayat. Ares menangis menahan rasa sakit dan perih ini.


Lemas, lelah, perih, sakit, dan nyeri, semuanya menjadi satu. Lengkap sudah apa yang Ares rasakan. Kini posisi Ares telentang. Jujur saja rasa sakitnya bukan main meskipun akhirnya akan terasa nikmat jua. “Sebut nama mas sayang Areehhhsss aaaahhhh,“ gumam Rakha semakin bersemangat menggoyangkan pinggulnya maju mundur.


Ares menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ya, sensasi ini, Ares tidak kuasa menahannya. Sprai putih itu pun tidak hanya berantakan sampai tidak berbentuk lagi. Juga meninggalkan banyak bekas cairan putih kenikmatan itu serta sedikit noda darah. Uh, tentu saja Ares sedikit berdarah, lubang itu sempit sekali, dan Rakha juga harus mendorong pinggulnya sekuat tenaga.


“AH AH AH AH AH RAKHHAAAAAHH AH AH AH UUUUHHH SSSTTT HMMPPHH AAAHHH,“ gumam Ares sesuai dengan irama pinggul Rakha yang maju mundur tiada henti meskipun keduanya telah beberapa kali mengeluarkan cairan putih itu. Hah, kuat sekali Rakha ini? Padahal sudah hampir tiga jam keduanya bergelut dalam cinta dan kasih, menyemburkan benih-benih kenikmatan itu di dalam sana.


“Teriak yang kenceng sayang~ Mas dorong kuat-kuat satuuhhh du-aah tig-ahhh,“ ucap Rakha. Benar saja Rakha mendorong pinggulnya kuat-kuat dan perih yang dirasa pun menjadi berkali-kali lipat. “AH AH AH MAAAHSSS UDAAAH STOOHP AH AH AH UH AAAH MAHHSS SAKIIIHTT HIKS AH EUNGH EUNGH EUNGH,“ air mata Ares berjatuhan dengan deras. Rakha kecup kedua mata Ares yang basah setelah keduanya berhasil mencapai puncak kenikmatan itu bersama-sama. Tubuh Ares lunglai. Sungguh Ares tidak mampu lagi untuk sekedar membuka mata barang sedikit saja. Hanya suara penuh cinta dari Rakha saja lah, yang mampu ia dengar.


“Mas sayang kamu Ares.. Jantung hatinya mas.. Tidur yang nyenyak sayang.. Cup,“ ucap Rakha. Rakha pandangi sebentar tubuh Ares yang penuh dengan bekas kemerahan hasil karyanya. Lalu, ia naikkan selimut sampai ke dada. Rakha peluk Ares dari belakang. Ini adalah kali kedua penyatuan antara Ares dan Rakha.


Sambil menidurkan putera dan puteri kecilnya, Badrun dan Camilla saling bercakap-cakap, mencurahkan perasaan masing-masing. “Dek,“ seru Badrun. “Hm?“ sahut Camilla. Tatapan cinta keduanya ketara sekali meskipun keduanya sudah tidak lagi muda. Tatapan cinta nan mesra. Siapapun akan iri melihat keduanya.


Badrun menggenggam tangan sang istri lalu menciumnya. Keterbatasan ekonomi tidak membuat cinta keduanya juga terbatas apa lagi memudar. Justru hal ini semakin menambah benih-benih cinta di dalam dada. Sungguh Badrun akan genggam tangan ini hingga maut memisahkan.


“Dek,“ seru Badrun lagi. “Kenapa mas??? Hm??? Manggil adek mulu dari tadi,“ sahut Camilla tersenyum tipis. “Mas lagi mikirin Ares,“ ucap Badrun pelan, takut kalau-kalau Bayan dan Icha terbangun. “Mikirin kenapa? Dia sama Rakha kok mas, nggak usah khawatir,“ ucap Camilla meyakinkan sang suami.


Badrun menyipitkan kedua matanya. Berdua dalam satu atap, tidak mungkin tidak terjadi apa-apa sama sekali, batin Badrun. “Tau kan dek kalo jaman sekarang orang pacaran kek gimana? Mas mikir pasti Ares sama Rakha lagi itu-ituan.“ ucap Badrun. “Mas,“ seru Camilla malah mencubit lengan sang suami. “Biarin aja lah nggak papa kali,“ ucap Camilla. “Kamu dukung mereka itu-ituan dek??“


“Mas, coba maa pikirin lagi baik-baik. Ares cowok ato cewek? Cowok, kan? Nah, mana ada Ares punya rahim. Mau dia dibobol puluhan kali sama Rakha juga bakalan aman sentosa, mas.“


“Hah? Tetep aja dek~“


“Tetep aja gimana??? Hm???“


Lebih baik Badrun tidur saja. Ini sudah malam. Badrun tidak ingin menambah masalah dengan Camilla. Jangan sampai Badrun berdebat lebih lama lagi, atau kalau tidak Camilla tidak akan memberikan jatahnya selama dua malam. Badrun mana tahan?


Mata itu perlahan terbuka. Hah, sungguh senang hati ini, melihat orang yang dicinta tepat di depan mata. Kerutan alis Rakha membuat Ares mengulum senyum. Sungguh perjalanan yang panjang untuk Ares dan Rakha sampai di titik ini. Cinta yang ada di dalam dada lebih besar dan tentu mengalahkan rasa sakit saat Rakha menghujamkan miliknya di lubang itu.


Surai rambut Rakha halus sekali. Sesekali kedua alisnya berkerut. Mungkin karna terusik akan sentuhan-sentuhan Ares di wajahnya? Entahlah, atau mungkin Rakha memimpikan sesuatu yang aneh? Entahlah, Ares tidak ingin tau, yang ingin ia tau hanyalah Rakha seorang.


“Good morning sayang,“ ucap Ares mengecup pipi Rakha sekilas. Ya, Ares ingin membangunkan Rakha dengan mesra. “Lagiiii,“ gumam Rakha dengan suara serak sembari tangannya ia lingkaran di pinggul Ares dan semakin mengeratkan rengkuhannya itu.


Rakha mendusel-duselkan wajahnya di dada Ares, lantaran Ares sudah hampir setengah duduk. “Bangun mas,“ ucap Ares lembut sambil mengusap surai rambut sang pujaan hati. “Hm~“ gumam Rakha menggeleng-gelengkan kepala. “Nggak mau~ Masih ngantuk,“ ucap Rakha manja.


“Hari ini aku mau libur deh mas,“


“Kenapa?“


“Susah jalan mas~ Perih banget tau,“


“Masa? Kan kemaren udah pernah sayang? Masih tetep sakit?“


“Ih rese, kan aku yang digituin mas, kamu mah enak.“


“Mas juga libur,“


“Hah?“


“Iya, mas udah izin dari kemaren pas mau pulang kerja,“


Ares pun menjewer telinga Rakha pelan. Ini adalah pelan bagi Ares. Namun, menyakitkan bagi Rakha. “A-ampun sayang ampun sayang,“ seru Rakha mendongakkan kepala. “Jadi, kamu udah rencanain ini semua mas???“ tanya Ares dan Rakha pun nyengir kuda saja.


“Ih, niat banget sih mas~“ sahut Ares semakin menjewer telinga Rakha. “Ampun ampun sayang udah udah maaf sayang~“ ucap Rakha meminta maaf. “Niat sih emang niat~“ ucap Rakha jujur. “Ya nggak papa juga kan sayang? Libur sehari buat quality time sama kamu seharian,“ ucap Rakha mendusel-duselkan kepalanya dengan manja.


“Bantuin aku bangun dong mas,“ pinta Ares. Ares dan Rakha pun bangun bersama. Rakha melingkarkan tangannya di pinggul Ares membantu Ares bersih-bersih rumah sampai memasak. Sesekali Rakha cium pucuk kepala Ares penuh cinta dan kasih sayang. “Cobain deh mas,“ ucap Ares menyuapi Rakha telur dadar daun bawang dan kornet. “Gimana? Enak nggak? Soalnya kemaren liat-liat resep di youtube, jadi coba-coba bikin,“ ucap Ares lagi.


“Enak kok,“ ucap Rakha lalu mengambil sendiri telur dadar itu dan memakannya lagi. Setelah selesai memasak, keduanya pun makan bersama. Ares beberapa kali menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan mencari posisi duduk yang tepat. Uhm, rasa perih itu jujur membuat Ares tidak terlalu nyaman untuk duduk. “Nanti mas bantu olesin salepnya, dek.“ ucap Rakha tersenyum misterius. “Hadeuh,“ Ares geleng-geleng kepala.


“Pagi banget kamu kesini, Kea? Om aja masih belum ngapa-ngapain ini hehehe,“ ucap Bahran terkekeh. “Jemput Barra, om. Mau otw ke sekolah bareng,“ sahut Keanu tersenyum. Barra keluar dari kamar menuju ruang tengah. Ia lihat disana sudah ada Keanu dan sang ayah saling berbincang-bincang. Hah, raut muka Barra berubah menjadi datar seketika. Untuk apa Keanu kemari?, batin Barra.


“Barra berangkat pa ma,“ ucap Barra mencium tangan ayah dan ibunya. Barra mengabaikan kehadiran Keanu. Barra anggap Keanu adalah makhluk tak kasat mata. Ogah sangat Barra menatap muka batu itu. Heh, membuang-buang waktu saja, batin Barra.


Keanu juga ikut berpamitan. Ia langsung menyusul Barra dan merebut kunci motor milik Barra dengan cepat. Senyuman itu, Barra muak sekali. “Lu mau apa sih, hah?“ seru Barra dengan kedua alis saling bertautan. “Masih pagi, jangan marah-marah dong? Nanti lu makin tua.“ ucap Keanu. Barra pun memutar bola mata malas.


Keanu tersenyum penuh arti lalu menarik pergelangan tangan Barra untuk naik ke motornya. “Kunci motor lu gue sita ampe batas waktu yang nggak bisa gue tentuin,“ ucap Keanu. Hah, Barra sedang tidak dalam mood ingin adu mulut di pagi hari. Sudahlah naik saja. Lagian malas juga meladeni si kepala batu ini, batin Barra.


Sepanjang perjalanan Barra kembali mengingat kejadian kemarin. Yang dimana ia dan Ares bertengkar hebat di depan banyak orang. Hah, Barra menghembuskan nafas berat. Ini memang salah Barra sudah terlalu emosional. Lihat? Tatapan benci Ares kemarin. Itu adalah tatapan yang Barra sama sekali tidak pernah lihat selama persahabatannya dengan Ares. Harus bagaimana Barra sekarang?


Keanu tersenyum miring. Barra pasti belum menyadari kalau Keanu mengendarai motornya ke jalur lain. Bukan ke sesekolah, melainkan ke salah satu tempat wisata populer di Mataram, yaitu Pura Batu Bolong. Hah, Keanu sudah membayangkan betapa indahnya pemandangan disana.


“Turun,“ seru Keanu sembari melepas helm dan membuat rambut panjangnya berkibaran indah. Kedua mata Barra membola. Ini dimana?, batin Barra. “Lu bawa gue kemana?“ tanya Barra sudah mulai emosi. “Pura Batu Bolong. Kita bolos sekolah hari ini,“ ucap Keanu seenaknya saja. Hah, Barra benar-benar tidak habis pikir kalau Keanu bisa sebar-bar itu.


Saat Keanu hendak berjalan ke depan sana. Barra dengan cepat memutar pundak Keanu dengan kasar. “Maksud lu apaan, hah?“ tanya Barra dengan mata melotot tajam tidak terima. “Kenapa lu seenaknya sama gue? Emang lu siapa, hah?!“ Barra mengeluarkan semua uneg-uneg dan kemarahannya.


Keanu menyipitkan mata. Ia pun mencengkeran pergelangan tangan Barra. “Gue jadi tau perasaan Ares gimana pas lu giniin dia.“ ucap Keanu sarkasme. Barra diam. Kali ini Keanu tidak akan membiarkan Barra bersikap barbar seperti kemarin. Marah-marah di depan umum itu sungguh bukanlah hal baik yang pantas dimiliki oleh seorang Barra.


Barra terdiam, maksud si kepala batu ini apa, hah? Belagu sekali dia?, batin Barra. Tatapan Keanu berubah sedikit mengerikan meskipun ia memiliki wajah yang cantik dan tampan secara bersamaan. “Masalah lu itu ini Bar. Lu ngerasa paling bener dan nggak pernah buka mata. Lu rusak kebahagiaan orang lain dan nggak pernah terima cara orang lain buat bahagia cuma karna itu nggak sesuai dengan apa yang lu pengen.“


Keanu menatap Barra tajam. Semoga Barra bisa mengerti. Jadi, disini siapa yang seharusnya mendapat predikat kepala batu? Barra atau Keanu? “Lu udah kehilangan Ares. Jangan ampe lu kehilangan gue lagi. Gue sama kek Ares. Nggak bakalan pernah kasih orang lain kesempatan kedua. Bullshit soal kesempatan kedua Bar.“


Dada Barra bergemuruh. Semua kata-kata Keanu tadi sungguh amat sangat menusuk hati dan tepat sasaran sekali. Jadi, Barra harus menerima Keanu sebagai seorang sahabat? Hah, keterlaluan sekali dia itu, batin Barra. Keanu berjalan ke tepi Pura melihat ombak tipis di lautan ini. Barra pun ikut berjalan ke sana. Sudahlah Barra tidak ingin berdebat. Itu membuat tenaganya terbuang percuma.


“Gue suka sama lu,“ ucap Keanu dengan suara beratnya itu. Keanu mengerlingkan mata ke samping. Ia menunggu bagaimana reaksi Barra. “Dan lu nggak punya pilihan lain selain nerima perasaan gue.“ ucap Keanu percaya diri. Satu dua tiga.. “LU KENAPA, HAH? SAKIT JIWA? HEH, SUKA SAMA GUE? TAPI, MAAF, GUE SUKA SAMA LU. GUE BENCI SAMA LU BANGSAT!!!“ ucap Barra berapi-api.


Keanu pun memutar badan ke belakang dan berjalan dengan cepat menghampiri Barra. Mulut itu pun Keanu kunci rapat-rapat dengan mulutnya sendiri. Biarkan saja banyak pasang mata memandang aneh pada keduanya. Barra berusaha berontak. Namun, Keanu malah semakin kuat mengulum bibir Barra dan meraih pinggulnya hingga membuat keduanya saling berhimpitan dekat sekali. Terbuat dari apa si batu ini? Kenapa dia bisa sekuat ini?, batin Barra. Beberapa saat kemudian Barra pun terlihat pasrah, meskipun jelas sekali ia masih marah, lihatlah bagaimana tangan itu meremas pundak Keanu dengan kuat.


Badan Edgar terjungkal ke depan sedikit saat ia merasa seperti ada mobil lain menabrak mobil yang ia tumpangi dari belakang. Edgar pun turun dari mobil dan melihat seorang pria berkemeja kantor lengkap dengan tag name di samping kiri berdiri dengan raut muka terkejut bukan main.


Pria itu pun menoleh pada Edgar. “Maaf Pak, saya janji saya bakalan ganti rugi. Tolong jangan laporin saya ke polisi, pak.“ ucap pria itu terlihat agak takut kalau-kalau Edgar melaporkan dia ke polisi. Edgar lihat tag name di samping kiri itu. “Deon Admaja,“ batin Edgar. Ah, pegawai bank dia rupanya?


“Nomor telepon,“ ucap Edgar dingin dengan tatapan datar. Deon sempat tertegun melihat pria di hadapannya ini memiliki badan yang sangat tinggi seperti tiang listrik. Kalau dilihat-lihat mungkin pria ini memiliki tinggi 190cm. Bandingkan saja dengan Deon yang cuma memiliki tinggi badan 165cm saja. “Cepat kasih tau saya nomor telepon kamu. Saya nggak punya banyak waktu. Cepat.“ ucap pria itu terdengar tegas dan penuh penekanan. Deon sampai-sampai tidak bisa berkutik.


“Ini,“ ucap Deon memberikan kartu nama miliknya pada pria yang belum ia ketahui namanya siapa itu. “Nanti saya hubungi,“ ucap Edgar lalu kembali masuk ke dalam mobil tanpa sepatah kata pun. Ia pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Bagaimana bisa pria itu pergi begitu saja setelah Deon tidak sengaja menabrak bagian belakang mobilnya?—juga bagaimana dia bisa setenang itu dan tidak marah-marah seperti yang orang lain lakukan biasanya?


Saat waktu makan siang tiba. Ia dan teman-teman satu kantor pun makan bersama di sebuah kafe terdekat. Namun, kedua mata Deon tidak sengaja melihat seorang pria dengan stelan jas lengkap, berjalan berdua dengan mesra dengan seorang wanita. Air muka Deon mendadak muram melihat pemandangan itu. Hah, Deon benar-benar menertawakan diri sendiri saat ini.


“Yon? Ayok masuk,“ seru salah seorang temannya. Deon sama sekaliterlihat tidak bersemangat saat menyantap menu makan siangnya. Deon lirik ponselnya yang ia letakkan di samping. Bahkan, layar ponselnya masih hitam. Itu artinya tidak ada chat ataupun panggilan yang masuk. Biasanya Deon akan menanyai Evan, sudah makan siang atau belum? Dan hal-hal kecil lainnya. Kali ini Deon sama sekali tidak ingin menghubungi Evan.


Ini sudah kedua kalinya Evan tertangkap basah oleh Deon jalan-jalan bersama wanita lain. “Yon, lu kenapa?“ tanya Fany. “Gue nggak papa kok, Fan.“ sahut Deon. “Muka lu pucet loh Yon? Lu sakit? Kalo lu sakit izin aja.“ ucap Fany lagi. “Serius Fan, gue nggak papa kok.“ sahut Deon mencoba tersenyum meskipun dipaksakan.


Dalam hati Deon benar-benar mengutuk Evan. Bagaimana bisa dia tega melakukan ini kepada Deon? Deon sudah berusaha ingin memperbaiki hubungan ini dan memberikan kesempatan kedua. Tapi, apa? Evan sama sekali tidak berubah. Hah, Deon merasa sudah terlalu bodoh. Termakan bujuk rayu dari buaya seperti Evan. Brengsek, batin Deon.


Evan memarkirkan mobil di pinggir jalan depan rumahnya sendiri. Evan terkejut melihat Deon berdiri di depan pagar rumahnya. “Sayang?“ seru Evan tersenyum lalu mengecup kening Deon. Deon sama sekali tidak senang diperlakukan seperti itu. “Kenapa kamu nggak ngabarin aku sih? Kalo kamu kesini? Hm?“ ucap Evan mengusap pipi Deon dengan lembut.


Deon menggertakkan gigi. Deon emosi dan marah. Plak! Deon pun menampar pipi Evan saking marahnya. “Kita putus Van, aku udah nggak tahan lagi,“ ucap Deon dengan mata sedikit berkaca-kaca. “Deon,“ seru Evan memegang pergelangan tangan Deon saat Deon ingin pergi. “Lepasin.“ pinta Deon. Kedua mata Deon sudah memerah.


Deon, kenapa dia bisa semarah ini?, batin Evan. Sungguh kilatan mata Deon melukiskan rasa kecewa yang amat besar. Kenapa lagi dia ini? “Tolong kasih tau aku, kenapa kamu minta putus, hm? Bukannya hubungan kita baik-baik aja? Lusa kemaren kita juga baru jalan-jalan bareng, kan?“ ucap Evan panjang lebar.


“Udah cukup Van. Aku udah nggak kuat lagi buat pertahanin kamu. Aku capek Van.“


“Bisa nggak sih kamu ngomong yang jelas? Aku nggak ngerti sayang,“


“Kamu selingkuh lagi, kan? Aku liat kamu jalan sama cewek tadi.“


Evan pun terdiam membeku. Perlahan ia lepaskan cengkeramannya itu dari pergelangan tangan Deon. Ya, Evan memang sedang dekat dengan seorang wanita meskipun hubungan mereka masih sebatas teman tapi mesra. “Heh,“ Deon mendengus. Ia pun pergi meninggalkan Evan yang masih terdiam di tempat. Ayolah Evan, jangan sampai karma menghampirimu. Sadarkah Evan sadar.


.


.


.


Berarti si Rakha niat banget ini 🤣🤣🤣