![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Libur-libur begini benar-benar membuat Ares dilanda bosan yang teramat sangat. Sangat tidak mungkin sekali jikalau dirinya meminta Rakha untuk segera pulang dan menemani jalan-jalan kemana saja. Rakha juga harus mencari nafkah untuk keluarga. “Ke rumah inak sama amak aja deh, sekalian bantu-bantu jagain toko,“ batin Ares.
ARES:
“Mas, aku ke rumah inak mau bantu-bantu.“
Sebelum pergi kemana pun Ares pasti mengabari Rakha. Di meja kerja Rakha melirik ke samping melihat hp nya yang bergetar. Rakha tersenyum saat ia melihat chat whatsapp dari Ares yang berkata ingin pergi ke rumah Badrun dan Camilla. Rakha belum bisa membalas chat Ares lantaran masih banyak hal yang harus ia kerjakan di kantor.
Sebelum ke rumah orang tua sendiri. Ares menyeberang jalan, membeli beberapa cemilan dimakan bersama nanti. “Pire ajine bang?“ tanya Ares saat ia menanyakan harga Lupis kuah gula merah. “Lime ribu, Diq,“ sahut si penjual. “Lime bang.“ ucap Ares lagi memesan lima biji lupis putih—juga tiga porsi Kelas Batih. Hm, makanan sedap yang satu ini sudah sangat jarang sekali dijumpai. Cuma segelintir orang saja yang menjual. Terbuat dari biji buncis tua yang dicampur dengan daun singkong muda—serta dimasak dengan rempah-rempah khusus. Uh, sedap sekali, batin Ares.
Jujur saja Ares sudah tidak sabar lagi ingin segera sampai ke rumah. Coba kalian tebak kenapa? Karna Ares ingin segera memakan semua makanan yang ia beli hari ini. Hm, kalau dipikir-pikir, semenjak menikah dengan Rakha, Area jadi sering jajan. Hihihi, batin Ares. “Ares? Brembe kabarde?“ seru seseorang. Kedua alis Ares berkerut. Bagaimana bisa anak muda di hadapannya ini mengetahui nama Ares? Siapa dia? [brembe kabarde - apa kabar].
“Nunas, side sai?“ tanya Ares heran. “Ares, brembe side ngeraos lupaq aku? Aku Aziz,“ sahut Aziz. Oh tuhan, bukankah ini Aziz teman Ares sewaktu SMP? Duh, kok gue bisa lupa sih?, batin Ares. “Nunas, gue lupa hehe,“ ucap Ares merasa tidak enak hati, lantaran ia bisa selupa itu dengan teman sendiri satu angkatan. “Ndeq kembe-kembe, Res.“ sahut Aziz. [nunas - maaf/side sai - kamu siapa/brembe side ngeraos lupaq - bagaimana bisa kamu lupa/ndeq kembe-kembe - nggak papa].
“Lu sekarang tinggal dimana?“ tanya Aziz.
“Tuh, di kompleks situ,“ sahut Ares menunjuk ke salah satu gang menuju kompleks perumahan yang ditinggali oleh Ares dan Rakha. “Ngomong-ngomong lu kok baru nongol sih?“
“Gue udah balik dari bulan lalu. Nomor hp temen-temen juga ada beberapa doang. Jadi, gue kagak bisa ngabarin.“
“Sekolah lu gimana?“
“Masih disana, ini lagi pertukaran pelajar aja wkwk,“
“Enak ya jadi orang pinter,“
“Kan lu juara kelas juga?“
“Boro-boro, juara 2 doang gue, mana bisa ampe ikutan lomba cerdas cermat tingkat nasional? Cuman lu doang, kan?“
Oh tuhan, Ares Ares, batin Aziz geleng-geleng kepala. Teman Aziz yang satu ini memang tidak ada duanya perihal berbicara sarkas. “Emang belum hoki aja, Res. Hahahahaha,“ sahut Aziz tertawa lepas. Entah kenapa suara tawa Aziz itu terdengar seperti mengejek Ares. Hingga membuat Ares terlihat sedikit kesal.
Baru sampai di halaman rumah, Bayan dan Icha langsung memeluk lutut Ares. “Eh? Bayan lagi flu ya?“ tanya Ares saat ia berjongkok menyamakan posisinya dengan kedua adiknya. Ia melihat hidung Bayan sedikit basah—juga Bayan yang beberapa kali menarik nafas dalam-dalam, menahan air ingus supaya tidak keluar.
“Matur tampiasih gih,“ ucap si pembeli. [matur tampiasih gih/terima kasih ya].
“Geh, pade-pade,“ sahut Camilla. [geh pade-pade/ya sama-sama].
“Inak,“ seru Ares mencium tangan Camilla setelah Camilla melayani pembeli. Bisa dibilang usaha kecil-kecilan membudidayakan berbagai jenis tanaman ini cukup membuahkan hasil. Camilla pernah berkata bahwa dalam satu hari bisa laku 3-5 pot. Dan itu lebih dari cukup untuk uang jajan Bayan dan Icha—sisanya ditabung untuk membayar kontrakan serta listrik dan air.
Mendengar hal itu bertambahlah rasa cinta di hati ini untuk Rakha. Rakha benar-benar suami idaman. “Ini kamu bawa makanan banyak banget, Ares?“ seru Camilla terheran-heran sembari mengambil bungkusan plastik yang ditenteng oleh Ares. “Hehe nggak papa, Inak. Ini tadi Ares beli Lupis sama Kelaq Batih.“ sahut Ares. “Beneran Kelaq Batih Res?“ seru Camilla terlihat senang. Sungguh sudah lama sekali Camilla tidak memakan makanan berkuah yang satu ini. “Beneran inak. Tadi Ares kaget juga sih tiba-tiba ada yang jual. Langsung deh Ares beli tiga bungkus hehe,“ ucap Ares.
Begini saja sudah cukup membuat hati ini senang—apa lagi keluarga. Sederhana namun terasa sekali nikmatnya kebersamaan bersama keluarga. Lihatlah Bayan dan Icha makan Kelaq Batih dengan lahap. Kalau sampai belepotan seperti itu, sudah pasti rasanya lezat sekali. “Suapin kakak dong, diq,“ seru Ares. Dan ya, Bayan menyuapi Ares pelan-pelan. Kedua mata Ares berbinar. Ini sungguh lezat sekali, batin Ares.
“Mau makan nggak, Res? Tadi inak masak Ayam Rarang. Nanti sekalian bawain buat Rakha ya. Biar kamu nggak usah masak nanti.“ ucap Camilla sehabis dari dapur. “Kamu sama Rakha gimana, Res?“ tanya Camilla penasaran. “Gimana apanya inak?“ Ares malah balik bertanya. “Kan kamu udah nikah? Gimana gitu~“ ucap Camilla. “Errrr..“ gumam Ares menggaruk lehernya yang sama sekali tidak gatal. “Sering Ares ambekin sih inak hehehe,“ ucap Ares tertawa garing.
“Dasar! Eh, jangan sering-sering diambekin lah kasian udah capek-capek kerja cari nafkah. Kamu ini gimana sih, Res? Jangan gitu lah sama suami sendiri.“
“Ya.. Kadang suka kesel aja gitu inak. Padahal udah Ares kasih tau a b c tetep aja nggak ngerti trus malah lupa deh. Sebel banget inak~“
“Kamunya yang lebih sabaran lagi dong? Jangan Rakha mulu yang ngalah.“
Ares pun diam sambil menganggukkan kepala pelan. Benar kata orang, bahwa sifat asli seseorang akan terlihat jelas setelah menikah. Itulah yang sedang Ares alami saat ini. Meski begitu tidak sedikit pun rasa cinta dan sayang ini berkurang. Malah semakin bertambah setiap harinya. Seulas senyum tipis pun terukir di bibir Ares.
Kalian tau apa ketakutan terbesar Ami disini? Dia lah Darren. Si penguasa di atas para penguasa. Berurusan dengan Darren sama saja dengan mencari mati. Tidak ada jalan keluar selain hanya bisa menuruti apa yang Darren katakan dan perintahkan. Keluarga ini pun bahkan tunduk dengan dirinya. Heh, salah sedikit saja mungkin posisi Ami akan berbahaya.
Saat ini Ami dan Darren berada di ruang kerja. Darren secara khusus meminta Ami untuk berbicara empat mata dengan dirinya. Si ular ini memang harus dimusnahkan dari keluarga ini, batin Darren. “Boleh saya minta penjelasan kamu Ami?“ seru Darren. “Penjelasan apa?“ sahut Ami bertanya. “Soal kamu yang mau bunuh Deon.“ ucap Darren.
“Hah?“ seru Ami terkejut. Ami membeku seketika. Darren tau darimana?, batin Ami. Oh tuhan, mengapa berita ini bisa sampai ke telinga Darren? “Uhm i-itu.. Errr...“ gumam Ami kikuk. Sungguh lidah Ami terasa kelu. Kalau Darren sudah berbicara seperti ini, sudah pasti tidak akan ada hal baik yang akan terjadi. “Jawab saya Ami.“ ucap Darren penuh penekanan. Kilatan mata Darren mulai tajam setajam pisau. Nyali Ami semakin menciut dibuatnya. Darren pun berdiri lalu mendekati Ami.
Jujur saja Ami gemetar saat Darren mendekati kursi roda yang ia duduki. Nafas Ami serasa tercekat. “Ukh,“ pekik Ami saat Darren mencengkeram dagu Ami dengan kuat. “Ka-kamu mau ap-apain saya, Darren?“ seru Ami mulai ketakutan. “Kalau saya mau, saya bisa bunuh anak kamu ini, Ami. Tapi, sayangnya bukan pembunuh kek kamu,“ ucap Darren tajam.
“Heh,“ Darren mendengus lalu melepaskan cengkeramannya dengan kasar. “Ceraikan Irfan setelah 2-3 bulan kalian menikah.“ ucap Darren kembali duduk di sofa. “Apa?“ gumam Ami tidak percaya. Bagaimana bisa Darren berkata seperti itu? Me-menceraikan Irfan setelah 2-3 bulan pernikahan? Itu sama sekali tidak masuk akal, batin Ami. Ami langsung memegang perutnya yang sudah mulai membesar. Ami menggelengkan kepala pelan. Nggak nggak nggak bisa, batin Ami. Ami tidak mungkin membesarkan anaknya sendiri tanpa sosok seorang ayah.
“Heh,“ Ami mendengus. Ia pun langsung keluar dari ruangan itu tanpa sepatah kata pun. Sudah cukup. Ami tidak ingin lagi mendengar ocehan-ocehan Darren yang tidak jelas itu. Sial!, batin Ami. Ami pun mencoba menenangkan diri di pekarangan rumah sambil memandangi betapa luas dan hijaunya tanah disini. Tiba-tiba Ami teringat akan Rakha. Ami pun iseng membuka sosial media instagram. Ami ingin melihat-lihat feed di instagram Rakha. Hm, mungkinkah ini bisa dikatakan sebagai rasa rindu?
Bibir Ami bergetar. Mas Rakha menikah?, batin Ami saat ia melihat beberapa foto prewedding dan wedding Ares dan Rakha. Lihatlah bagaimana seorang anak lelaki yang disebut istri itu. Dia bahkan mengenakan veil seperti wanita, meskipun dia mengenakan stelah jas lengkap. Tatapan memuja dan penuh cinta itu, yang dulu pernah menatap Ami seperti itu. Hah, Ami menghela nafas.
Tanpa ia sadari hp nya terjatuh. Hari ini ia benar-benar dihantam oleh dua bom sekaligus. Sesaat Ami merasa hidupnya begitu berantakan. Dan semua penderitaan yang ia alami seolah tidak berujung. Sakit hati itu sudah pasti. Tiba-tiba Ami merasa perutnya agak keram. “Umh,“ Ami meringis kesakitan hingga ia pun terjatuh dari kursi roda dan tidak sadarkan diri.
“Hari ini masak apa sayang ku?????“ seru Rakha manja sambil memeluk Ares dengan erat dari belakang. Padahal Rakha baru pulang kerja dan belum ganti pakaian sama sekali, batin Ares. “Aku nggak masak mas,“ sahut Ares. “Hah?“ gumam Rakha melepaskan pelukannya. Ares pun memutar badan hingga kini keduanya saling berhadap-hadapan. “Trus mas makan apa???“ tanya Rakha.
“Tadi aku bawa Ayam Rarang dari rumah inak. Kata inak bawa aja buat kita makan malem nanti.“ ucap Ares. “Hmmm istri mas tercintaaaaaaa,“ seru Rakha terlihat menggelikan sekali. “Udah sana, mandi cepetan. Bau keringat itu mas,“ ucap Ares sarkasme. Sebelum Rakha benar-benar ke kamar mandi, ia pun usil mencium pipi kiri kanan dan kening Ares secepat kilat, sampai-sampai Ares saja tidak mampu mengelak. Lalu, Rakha pun langsung melesat ke kamar mandi begitu saja.
“Mas Rakha!!!!“ teriak Ares sebal. Sejurus kemudian Ares pun tersenyum sambil memegangi kedua pipinya yang terasa panas. Uh, meskipun sudah menikah, tetap saja berdekatan dengan Rakha itu membuat Ares senam jantung. Meja makan sudah siap dan tertata rapi. Saatnya menyiapkan pakaian Rakha untuk Rakha kenakan setelah mandi nanti. Bisa dibilang untuk masalah menyiapkan pakaian baik sebelum berangkat kerja atau setelah mandi di sore hari itu adalah urusan Ares. Ares melarang Rakha melakukan itu sendiri, karna Ares tau, kalau Rakha yang mengambil pakaiannya sendiri di lemari, maka lemari itu sekejap berubah menjadi kapal pecah.
Kaos dan celana pendek di atas lutut berwarna biru malam menjadi pilihan Ares untuk Rakha. Ares menunggu Rakha selesai mandi dan duduk di pinggiran ranjang sambil berselancar di sosial media instagram. “Hm?“ seru Ares sedikit terkejut. Ares begitu terkejut melihat pengikut di instagramnya meningkat. Dulu sekitar 1400an saja. Tapi, sekarang sudah lebih dari 4000 pengikut.
“Sayang?“ seru Rakha keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggul. “Iya mas? Udah selese? Sini aku bantu kepingin rambutnya,“ ucap Ares. Lalu, meletakkan hp nya di atas nakas. Saat Ares sibuk membantu Rakha mengeringkan rambut dengan pengering rambut. Tiba-tiba mata Ares tidak sengaja ia arahkan ke perut Rakha. “Mas gemukan, ya?“ seru Ares saat ia melihat perut Rakha sedikit membuncit dari biasanya.
“Hah? Nggak, biasa-biasa aja tuh. Emang mas gemukan, ya??“ sahut Rakha sekaligus bertanya. “Itu loh perut mas rada buncitan dikit.“ ucap Ares. “Gimana nggak buncit sayang??? Kan mas mompa kamu terus???Hehehehe,“ goda Rakha. “Ih apaan sih mas,“ ucap Ares protes sambil memukul pundak Rakha pelan. “Loh? Bener, kan? Kamu aja ampe nangis gitu??“ seru Rakha memutar badan dan melihat Ares tengah meletakkan pengering rambut di lemari.
“Jangan bahas itu napa mas? Rese banget deh.“
“Malem ini maen lagi yuk?“
“Udah cepetan ganti baju sana. Aku tungguin kamu di meja makan.“
Ares pun keluar kamar meninggalkan Rakha sendiri. Daripada berlama-lama disini dan telinga Ares malah dikotori dengan sejuta kalimat mesum dari bibir Rakha. Ares mengambilkan nasi ke masing-masing piring. “Mas? Ini sisanya banyak banget loh? Kita nggak bakalan abis juga keknya ini. Aku kasih sebagian ke tetangga yah?“ ucap Ares. Rakha pun duduk. “Kasihin aja nggak papa. Daripada basi ntar, kan?“ sahut Rakha.
“Nanti dulu makannya. Nih,“ ucap Ares memberikan sepiring Ayam Rarang ke Rakha. “Mas aja yah yang nganterin? Hehe,“ ucap Ares mengedipkan mata beberapa kali dan menunjukkan ekspresi memelas. “Aduuuuhhh tolong mukanya dikondisikan dong sayang~ Ya ampuuunnn.“ ucap Rakha mencibir.
“Udah cepetan sana aku udah lapeeeerrrr,“
“Iya iya. Awas! Jangan makan duluan!“
“Hm,“
Setelah mengantar sepiring ayam ke tetangga, Ares dan Rakha pun mulai makan bersama. “Siapin baju-baju mas di koper nanti ya sayang,“ seru Rakha. “Baju?“ gumam Ares heran. “Emang mas mau kemana? Ampe minta disiapin di koper segala?“ tanya Ares. “Besok mas dinas keluar kota beberapa hari,“ sahut Rakha. Ares langsung cemberut—juga mendadak tidak nafsu makan setelah mendengar Rakha yang ingin pergi dinas esok hari.
“Sayang?“ seru Rakha saat Ares terdiam dalam waktu yang cukup lama. Hm, pasti ngambek lagi, batin Rakha. Lebih baik selesaikan dulu makannya, baru Rakha bicarakan baik-baik dengan Ares nanti. “Sini mas bantuin,“ ucap Rakha berinisiatif ingin membantu Ares mencuci piring. “Nggak usah.“ sahut Ares ketus.
Hah, Rakha menghela nafas. Ia pun kembali duduk di meja makan menunggu Ares selesai mencuci piring. Sambil ia mencari informasi di sosial media, tentang bagaimana cara meredakan amarah seorang istri. Hm, kira-kira tipsnya kek gimana, ya?, batin Rakha.
“Pertama, tanyakan kepada istri apa salahmu. Kedua, tunggu amukannya reda dan minta maaf lah. Ketiga, tersenyumlah dan jangan membalas marah..“ batin Rakha sambil membaca sebuah artikel. Ares pun langsung duduk di ruang tengah sambil menyalakan TV. “Ares!“ seru Rakha saat ia tersadar, kalau Ares baru saja lewat di sampingnya.
Jangan sampai kemarahan Ares tidak mereda malam ini, karna bisa-bisa Rakha tidak akan mendapat jatah. Huh, kalau istri sudah ngambek itu ribet juga, ya?, batin Rakha. “Sayang?“ seru Rakha dengan suara lemah lembut sembari berjongkok di hadapan Ares. Rakha pegang kedua tangan itu sambil menatapnya dengan senyum manis yang terukir indah di bibir. Rakha kecup kedua tangan itu dan ia usap penuh cinta. Ini adalah tangan yang akan Rakha genggam sampai akhir hayat nanti. Tangan yang selalu rela dan bersusah patah untuk mengurus rumah dan juga suami. Tidak peduli seberapa lelahnya Ares tiap pulang sekolah dan jualan keliling, ia tetap sabar, dan mengurus rumah tangga dengan baik.
“Mas minta maaf sayang,“ ucap Rakha. “Mas dinas nggak lama kok sayang. Cuma dua hari aja. Hm? Sayangnya mas mana? Sini mas mau liat,“ ucap Rakha lagi. Uh, bagaimana suara lembut Rakha itu mampu membuat dada Ares berdebar-debar begini? Rakha paling bisa soal bujuk-membujuk Ares kala ia sedang marah.
“Tapi.. Aku nggak mau di tinggal mas..“ ucap Ares lirih dan manja. “Nanti kan kamu bisa nginep di rumah ibu dulu? Ada Bayan sama Icha nanti nemenin kamu. Hm? Jangan nangis dong sayang,“ ucap Rakha mengelus pipi Ares dengan lembut. Kedua mata Ares sedikit berkaca-kaca. Ares pun langsung memeluk Rakha. “Nanti bawain oleh-oleh nya yang banyak ya mas,“ ucap Ares membuat Rakha ingin tertawa saat itu juga. Namun, Rakha urungkan karna ia tidak ingin Ares semakin merajuk.
Kalian dengar, kan? Ujung-ujungnya Ares akan meminta dibelikan sesuatu berupa makanan apapun itu. Ini dinas pertama Rakha setelah menikah dengan Ares. Karna biasanya tiap kali Ares merajuk, ia akan menitipkan banyak pesanan dan meminta Rakha membelikannya sepulang kerja. Ares benar-benar unik, bukan? Rakha menahan tawa. Dibilang sedih karna melihat kedua mata Ares berkaca-kaca memang benar. Tapi, di sisi lain Ares juga terlihat lucu. Uh, istriku tersayang Ares, muach muach, batin Rakha. “Iya~ Nanti mas beliin,“ sahut Rakha sambil mengusap punggung Ares.
.
.
.
Cie ada yang ngejiplak novel gue di part terakhir??? anda terciduk! plis ya jangan suka nyuri karya orang lain~ Lu punya hati nurani nggak sih? Gue udah capek ngetik 15rb huruf yg setara 2700 kata pernah chapter, lu bayangin jari gue secapek apa ngetik sebanyak itu? Dan lu seenak jidat gitu aja ngambil karya gue dan ngubah namanya trus lu post di novel punya lu? Eh ente jangan kebiasaan nyuri ya~ Kalo lu mau 5-10% dari novel gue buat dimasukin ke novel lu itu sama persis, izin dulu woy! Gue gak gigit juga susah amat. Gue tunggu permintaan maaf lu ya.
Kalo gue kagak ridho, apa yg lu lakuin ke gue bakalan berbalik ke diri lu sendiri mau? Lu yg udah dah nyuri karya gue lagi baca kan? Gue tunggu permintaan maaf lu. Kebiasaan deh kagak kreatif banget. Mau naikin viewers tp jalannya kagak bener.