![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Edgar mendapat laporan dari seseorang yang merupakan orang kepercayaannya, bahwa Deon diikuti oleh seorang pria tidak dikenal. Edgar geram. Ia pun langsung memerintahkan orang tersebut untuk siap-siap menjaga Deon. Jangan sampai terjadi sesuatu kepada Deon. Entah kenapa perasaan Edgar mendadak tidak enak.
Saat ini Edgar berada di Amerika, dan untuk mengawasi Deon, sudah pasti Edgar tidak bisa mengawasinya secara langsung sehingga ia pun harus menyewa dua orang mata-mata sekaligus dan bertugas secara bergantian selama per 12 jam. Itu artinya Deon dijaga ketat selama 24 jam. “Ed, kamu masuk ke ruangan saya,“ ucap Darren. Edgar pun masuk ke dalam.
“Kasih semua informasi yang kamu punya. Jangan ada yang dilewatin sedikit pun. Saya nggak suka kalo kamu nutup-nutupin sesuatu dari saya Ed.“ ucap Darren dingin. Hah, Edgar memang tidak bisa menyimpan semua ini sendiri. Darren itu instingnya sangat kuat. Terkadang Edgar saja dibuat tidak bisa berkutik.
“Saya tertarik dengan seorang pria, tuan.“ ucap Edgar. Kedua alis Darren langsung berkerut. Edgar tertarik dengan seorang pria? Tapi, siapa? Darren masing menunggu penjelasan lebih dari Edgar. “Dia Deon, tuan.“ sahut Edgar. “Dan setelah saya selidiki.. Ternyata Deon itu anak tiri Yudi, ayah Ami. Yudi menikah lagi tanpa sepengetahuan istri pertama—juga Ami, tuan.“ ucap Edgar menjelaskan panjang lebar.
“Trus?“ seru Darren. Sungguh ini adalah sebuah fakta yang amat sangat mencengangkan. “Dilihat dari kepribadian Ami, entah kenapa perasaan saya mendadak tidak enak, tuan. Jadi, saya sengaja kirim dua orang mata-mata buat ngawasin Deon.“ ucap Edgar lagi. Benar, apa yang Edgar katakan barusan mengenai Ami memang benar, batin Darren.
“Ed,“ seru Darren. “Iya tuan?“ sahut Edgar. “Tolong kamu informasikan lagi ke saya kalo udah dapat kabar baru.“ ucap Darren. “Baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu.“ ucap Edgar segera keluar dari ruangan Darren. “Ami..“ gumam Darren sambil menghela nafas berat.
EDGAR:
“Tanggal 22 saya ke Indonesia.“
Isi sms dari Edgar baru saja masuk. Layar hp Deon pun menyala. Lalu, Deon buka isi sms tersebut. “Edgar?“ gumam Deon. Uh, apa gue jemput di bandara ato gimana ya?, batin Deon. Sudahlah Deon masih belum ingin memikirkannya. Deon masih sibuk dan banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.
“Mas,“ seru Ares. Ia baru saja pulang dari reuni alumni murid-murid semasa SMP di Gubug Makan Mang Engking. Ini sudah hampir jam 7 malam. “Udah makan?“ tanya Ares sembako melepas sepatu dan kaos kaki. Lalu, ia letakkan di rak sandal. Disana Rakha duduk di lantai keramik sambil berkutat dengan laptop. Mungkin itu sisa-sisa dari pekerjaan Rakha di kantor—atau untuk keperluan besok hari. Hm, entahlah, batin Ares.
“Udah,“ sahut Rakha tanpa menoleh. Setelah kurang lebih 2-3 jam makan-makan dan jalan-jalan, Ares memang agak kelelahan, namun ia tidak pantas langsung duduk untuk beristirahat barang sebentar. Ares ke dapur untuk mencuci pakaian kotor sekaligus membersihkan diri. “Ini orang udah dikasih tau berkali-kali nggak ngerti apa gimana sih?“ gumam Ares kesal sambil berkacak pinggang, saat ia melihat baju dan dalam dicampur jadi satu. Ini sudah pasti ulah Rakha. Tapi, bukankah Ares sudah memperingatkan untuk memisahkannya di dua tempat berbeda. Bahkan, Ares jelas-jelas sudah meletakkan dua wadah itu di dekat mesin cuci.
“Mas!“ seru Ares sedikit ketus.
“Hm?“ sahut Rakha dengan deheman saja.
“Baju ama daleman kenapa malah kamu campur?“
“Hah? Apaan?“
“Itu baju kamu sama daleman kenapa malah dicampur, sih????“
“Ya nggak papa, emang sengaja mas campur gitu. Kenapa emang?“
Hah, Ares menghela nafas. Emosi Ares sudah berada di taraf maksimum. Sebentar lagi gunung akan meletus. Oh tidak, lihat, Rakha masih saja berkutat dengan laptop. Bahkan, tanpa menoleh ke Ares sedikit pun. “Bisa nggak? Itu laptopnya dimatiin dulu?“ seru Ares mulai emosi. Rakha pun menoleh. Uh, ada apa dengan Ares?
“Nggak bisa sayang~ Nanti datanya ilang,“ sahut Rakha. Rakha benar-benar belum menyadari kalau saat ini emosi Ares akan meletus-letus. Ares mendengus. “Aku musti ngasih tau kamu berapa kali sih mas? Apa perlu aku tulis gede-gede di dinding supaya kamu nggak lupa buat naro baju sama daleman itu dipisah? Hah?“
Oh tuhan, Ares terlihat marah sekali, kenapa dia? Kenapa Ares marah-marah hanya karna masalah sepele? “Duduk dulu sayang~ Kalo lagi marah-marah jangan sambil bediri. Omongin baik-baik.“ ucap Rakha lemah lembut.
“Dari kemaren mas, dari kemaren! Kamu lupa apa gimana sih? Kamu tau nggak? Daleman kamu itu bekas itu kamu masa kamu campur ama baju sih? Jorok tau!“
“Ya tinggal kamu aja yang misahin gimana sih? Jangan dibikin ribet lah sayang~“
“Nggak usah panggil sayang-sayang. Lain kali kalo kamu lupa kek gini lagi aku nggak bakalan mau masak buat kamu mas.“
“Ares, mas bilang duduk dulu,“ seru Rakha. Ya, Rakha salah, tapi tidakkah Ares berpikir untuk duduk sebentar saja dan berbicara baik-baik? Bukan malah berdiri marah-marah sambil berkacak pinggang seperti itu? Ayolah Ares, Rakha juga manusia, mungkin dia benar-benar lupa. Ares diam tidak bergeming. Hah, Rakha pun menghela nafas berat.
“Trus kamu maunya kayak gimana? Hm?“
“Terserah. Aku nggak tau.“ sahut Ares ketus. Ia malah berjalan menuju dapur meninggalkan Rakha sendiri. Rakha? Ia pun beranjak dari lantai, berdiri, lalu menyusul Ares ke dapur. “Mas minta maaf, mas janji nggak bakalan lupa lagi,“ ucap Rakha mencoba membujuk Ares yang sedang memasukkan pakaian ke mesin cuci. Ares diam. Dia tidak menyahut sama sekali.
“Ares? Mas lagi ngomong. Kamu jangan diemin mas gini dong?“
“Terserah.“
“Terserah?“ seru Rakha. Lama-lama Rakha juga ikut kesal dibuatnya. “Ya udah terserah kamu aja. Mas nggak mau tau lagi. Yang penting mas udah minta maaf.“ ucap Rakha dingin dan ketus. Lalu, ia pun mengambil laptop di atas meja ruang tamu dan langsung masuk ke dalam kamar. Terdengar suara pintu dibanting. Ares sampai terkejut mendengar suara pintu yang dibanting itu. “Seharusnya aku yang marah, paan coba,“ gumam Ares geleng-geleng kepala dengan kedua alis berkerut.
Setelah beres-beres dan menggantungi pakaian di dapur dengan gantungan. Ares pun ingin berganti pakaian di kamar. Saat ia membuka pintu, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Rakha yang telah tertidur pulas. Suara dengkuran halus Rakha saja sampai terdengar di telinga Ares. Ares pandangi Rakha lamat-lamat dari ambang pintu.
“Apa gue udah keterlaluan, ya?“ batin Ares. Ares ganti baju sebentar lalu ia pun berbaring di samping Rakha. Ya, Rakha memunggungi Ares. Ares usap surai rambut sang suami penuh cinta dan kasih sayang. “Mas?“ seru Ares lemah lembut. Ares yakin Rakha pasti mendengar seruan Ares. Ares pun memeluk Rakha dari belakang sambil mendusel-duselkan wajahnya di punggung Rakha.
“Maafin aku mas.. Maafin aku udah ketus sama kamu..“ ucap Ares merasa bersalah. Rakha pun membuka mata. Ia diam dan mencoba melihat apa tindakan Ares selanjutnya untuk membujuk dirinya. “Mas,“ seru Ares mengecup pipi Rakha. Rakha pun memutar badannya sehingga kina ia dan alis saling bertatapan satu sama lain.
“Jangan ulangin lagi. Mas beneran nggak suka Ares, kalo kamu marah-marah sambil bediri.“ ucap Rakha. Cara Rakha bicara dan menatap Ares, membuat Ares merasa sangat bersalah. Uh, gue udah keterlaluan banget, batin Ares. Sampai Ares pun menitikkan air mata. Ares terisak. Sungguh Ares juga paling tidak bisa melihat Rakha mendiami dirinya seperti tadi.
“Mas jangan diemin aku lagi yah,“ ucap Ares lirih dengan suara sedikit serak karna sesenggukan. Oh tuhan, air mata Ares itu amat sangat berharga. Rakha tidak boleh membiarkan air mata terus menerus jatuh karna dirinya. “Maafin mas juga sayang~ Tadi mas udah banting pintu. Hm?“ ucap Rakha sambil mengusap pipi Ares yang basah. Rakha telentang, sedangkan Ares tengkurap.
“Hm,“ sahut Ares dengan deheman saja karna ia masih sesenggukan. “Udah, jangan nangis lagi,“ ucap Rakha memberi beberapa kecupan di kening, pipi, hidung, bibir, dan dagu. Ares pun memeluk Rakha dan merebahkan kepalanya di dada Rakha. Lalu, ia pun memejamkan mata dan tertidur dalam posisi seperti ini. Rakha kecup pucuk kepala Ares sambil mengusap surai rambutnya yang halus itu. Terjadi pertengkaran di rumah tangga itu sangat wajar sekali. Bukan rumah tangga namanya kalau dari awal sampai akhir mulus bak jalan tol.
“Hari ini kamu rencananya mau kemana sayang?“ tanya Rakha memberikan dasinya kepada Ares. Ya, Ares meminta Rakha untuk membiarkan dirinya saja lah yang memasangkan dasi untuk Rakha. “Di rumah aja. Kenapa emangnya?“ sahut Ares sekaligus bertanya. “Nggak, cuman nanya aja.“
“Hah,“ Ares pun menghela nafas. “Kan kamu nggak ngasih aku izin buat jualan? Jadi, ya, di rumah aja. Mau kemana lagi emangnya?“ ucap Ares. Rakha pun mengulum senyum. Ares itu benar-benar penurut sekali. “Muach,“ Rakha kecup kening sang istri. Ya, pertemuan Ares dengan Pak Budi beberapa waktu lalu adalah hari terakhir Ares berjualan sampai Rakha menemukan tempat sewa ruko yang murah dan strategis.
Sebagai seorang suami, mana tega Rakha membiarkan Ares berpanas-panasan berkeliling jualan di kota? Hah, lebih baik berhenti sebentar, menunggu kalau-kalau ada ruko murah untuk disewa. Itu lebih baik daripada Ares harus capek-capek berkeliling. Toh, Rakha masih sanggup menafkahi Ares dan sekeluarga.
“Tag name nya mas mana?“ seru Ares saat ia melihat saku kiri di dada sebelah kanan tidak ada tag name menggantung disana. “Ya ampun, Dek? Mas lupa hehe,“ sahut Rakha tersenyum garing sambil mengedipkan mata beberapa kali. “Ya udah, tunggu dulu, biar aku ambilin ke kamar bentar.“ ucap Ares.
Setelah mengambil tag name milik Rakha di kamar dan memasangkannya di saku kiri. Ares pun mengantar Rakha sampai halaman rumah. Ia cium tangan dan bibir Rakha. “Kabarin kalo udah nyampe kantor ya mas,“ ucap Ares. “Iya sayang, cup.“ sahut Rakha mengecup kening Ares. “Mas berangkat dulu, assalamu'alaikum,“ ucap Rakha. “Wa'alaikumussalam,“ sahut Ares.
Seorang pria berpakaian serba hitam tengah mengintai seseorang. Sebut saja namanya Zero. Tentu ini buka nama asli, melainkan nama samaran. Di depan sana ia melihat seorang pria juga berpakaian seperti dirinya. Hm, mencurigakan, batin Zero. Zero mencoba menajamkan penglihatannya. Dari jarak yang sejauh ini Zero mampu menerka-nerka benda berbentuk persegi panjang kecil itu, yang dia selipkan di belakang celana yang dia kenakan.
Zero terus memantau keadaan di depan sebuah kantor bank. Saat seorang pria bernama Deon itu keluar dari kantor dan berjalan kaki entah kemana. Pria di depan Zero itu terlihat mengikuti Deon dari belakang. Kedua mata Zero langsung membola sempurna saat ia melihat pria itu mengeluarkan belati dari kantung celana belakang.
Zero pun berlari dengan cepat. Saat jarak antara orang itu dan Deon sekitar 2 meter. Barulah Zero membekukkan pria itu dan menyeretnya ke suatu tempat yang lebih sunyi. “Siapa lu, hah?!“ seru Zero menatap pria ini dengan tatapan membunuh. Zero berhasil mengikat tangan pria ini hingga dia pun tidak bisa berkutik.
Zero buka masker dan topi yang dikenakan oleh pria itu. Lalu, ia jepret pria itu dengan hp miliknya sendiri dan ia kirimkan kepada Edgar. Saat Edgar menunggu Darren di luar ruang rapat. Ia mendapat sms bergambar dari Zero. Disana tertulis, “Ini pelakunya Mr. Dia kemungkinan mau bunuh Deon. Di tangan kanan dia ada belati. Tenang, saya sudah ringkus.“ begitulah isi dari pesan yang Zero kirimkan.
Hah, firasat Edgar benar. Pasti sesuatu akan terjadi kepada Deon. Tapi, syukurlah jikalau Deon baik-baik saja. Ah, iya, Edgar ingat akan pesan Darren. Bahwa, dirinya harus melaporkan hal sekecil apapun kepada Darren. Kita tunggu saja Darren sampai selesai rapat, batin Edgar.
“Bangsat! Lepasin gue!“ ucap pria yang belum diketahui namanya itu. Zero pun dengan sengaja menggeledah kantung baju dan celana pria itu. Barangkali pria itu memiliki dompet berisi KTP miliknya sendiri. Dapat!, batin Zero tersenyum miring. “Durahman?“ seru Zero setelah ia mengetahui identitas pria tersebut.
Di dalam mobil Durahman berontak. Tapi, sayang, semua pintu di mobil ini sudah dikunci otomatis. Durahman tidak akan bisa lari kemana-mana. Tiba di aparteman. Zero mendorong Durahman sampai tersungkur. Ia melepaskan sarung tangan hitam yang dikenakannya sejak tadi.
Zero pun jongkok dan mencengkeram dagu Durahman. “Lu dibayar berapa emang ampe mau bunuh orang, hah?“ ucap Zero sarkasme. Durahman malah meludah. “Bukan urusan lu.“ sahut Durahman ketus. Hp Durahman berdering. Zero ambil hp itu dari saku jaket Durahman. “Gimana? Berhasil?“ tanya seorang wanita dari seberang sana saat Zero mengangkat telepon tersebut. “Maaf, Nyonya Ami, anak buah anda gagal membunuh Deon. Cih! Dasar rubah ekor sembilan.“ sahut Zero.
Ami melihat sekeliling. Ia mencoba memeriksa ada orang atau tidak di taman pekarangan rumah ini. Hah, aman, batin Ami menghembuskan nafas lega. “Kamu siapa?“ tanya Ami sinis. “Hm, saya ya? Tapi, gimana ya Nyonya Ami? Saya nggak mau kasih tau saya siapa nih. Intinya Durahman udah saya tangkep dan saya kurung di suatu tempat.“
“Dengar Nyonya Ami, kalau sampai anda ketahuan masih berniat mau membunuh Deon dan orang-orang di sekitarnya. Siap-siap saya akan serahkan semua bukti ini ke kantor polisi.“ ucap Zero sambil memandangi Durahman yang terlihat sangat marah dan emosi.
Kontan tubuh Ami pun membeku. Sial! Siapa yang sudah berani melakukan konspirasi di belakang Ami? Sampai-sampai orang seperti Durahman tertangkap basah. Kalau semua rahasia ini bocor, Ami takut pernikahan dirinya dan Irfan akan batal. Lalu, bagaimana nasib jabang bayi yang ada di perutnya nanti? “Mau kamu apa?“ tanya Ami mulai mengajak negosiasi. “Diam dan jangan berulah.“ ucap Zero langsung mematikan sambungan telepon tersebut. Lalu, ia lempar hp Durahman ke dinding hingga pecah berkeping-keping. “Piaraan baru? Lumayan hehe,“ batin Zero tertawa jahat.
Barra terlihat fokus mengerjakan soal-soal ujian nasional hari pertama. Dibilang juara kelas juga bukan. Dibilang bodoh juga bukan. Jadi, Barra itu ada di tengah-tengah. “Ini soal mau ngajak berantem kali, ya? batin Barra menggerutu kesal saat hampir sepuluh soal ia tidak mampu menjawab. Saking buntunya pikiran Barra untuk menyelesaikan soal-soal tersebut, ia pun menjawab asal-asalan pada akhirnya.
Di depan gerbang sana terlihat seorang anak lelaki berdiri di atas motor gede. Dia berambut gondrong dengan tato yang memenuhi lengan dan leher. “Ngapain lu kesini?“ seru Barra ketus. Meskipun Barra dan Keanu telah memutuskan untuk menjalin hubungan asmara tanpa ada acara tembak-menembak, Barra tetap saja seketus dan sedingin itu kepada Keanu.
“Pake helmnya,“ ucap Keanu tidak ingin berbasa-basi. Barra memutar bola mata malas. Hah, dasar Keanu sialan, batin Barra. “Lu tega banget Bar ngatain gue kek gitu di hati lu sendiri, gue kurang apa coba?“ ucap Keanu membuat Barra tertohok. “Lu?!“ seru Barra sebal. “Udah cepetan naik,“ ucap Keanu. Barra pun naik ke atas motor sambil misuh-misuh. Barra Barra, batin Keanu geleng-geleng kepala.
Lagi-lagi Keanu membawa Barra entah kemana. Si batu ini mau ajakin gue kemana lagi coba? Ckckck, batin Barra. “Jangan ngambek-ngambek gitu ah Barr. Jelek tau.“ ucap Keanu saat ia dan Barra turun dari motor. Barra tidak peduli. Hm, dimana ini?, batin Barra. Ini pertama kalinya Barra kesini. “La Chill Bar,“ ucap Keanu seolah menjawab semua pertanyaan di benak Barra.
Bersantai-santai hingga senja tiba di pinggiran pantai. Sungguh menakjubkan, bukan? La Chill Bar, menghadirkan bean bagian berwarna warni serta payung besar di atasnya. Sungguh destinasi wisata Kota Mataram yang patut dikunjungi baik oleh warga setempat atau pelancong dari kota lain.
“Sayang? Ngapain disitu? Sini, duduk sebelah gue,“ ucap Keanu. Kedua pipi Barra mendadak panas saat Keanu memanggil dirinya dengan sebutan sayang. “Cepetan sini~“ seru Keanu lagi. “Duh,“ Barra mengaduh saat kakinya agak terendam di pasir. Namun, Keanu dengan sigap memegang pergelangan tangan Barra.
“Kea,“ seru Barra melihat kiri dan kanan. Keanu malah asyik foto sana-sini. “Hm?“ sahut Keanu tanpa menoleh. “Kok lu pada diliatin ama orang-orang sih Kea?“ ucap Barra. “Biarin aja lah Bar~ Mata mata mereka juga,“ sahut Keanu terdengar tidak mau tau dan tidak peduli.
“Kea~ Gue lagi ngomong! Lu udah ngajakin gue kesini masa lu cuekin gue gitu aja sih?“ ucap Barra protes. Keanu pun menoleh ke samping. Benar saja. Wajah Barra sudah secemberut itu. Pasti Barra sebel banget sama gue, batin Keanu terkekeh. Keanu pun menggenggam tangan Barra dangan memasukkan jari-jemarinya di sela-sela jari-jemari tangan Barra.
“Ngambek gara-gara gue cuekin ya sayang?? Hm??“ goda Keanu mendekatkan wajahnya ke Barra. Barra jadi salah tingkah. “Paan sih Kea. Lu resein banget.“ ucap Barra mengalihkan pandangannya ke objek lain. Satu tangan Keanu ia lingkarkan di pinggul Barra, dan satunya lagi menggenggam tangan itu penuh cinta.
“Kamu makin ganteng kalo ngambek,“ ucap Keanu dengan suara super lembut tepat di telinga Barra. Uh, deru nafas Keanu saja terdengar jelas. “Boong ah Kea. Lu mah ngegombal mulu.“ sahut Barra protes. Barra pun mulai menyalakan hp. Barangkali ada sesuatu hal yang lucu yang bisa ia lihat di aplikasi tiktok dan youtube.
“Kan gombalnya ke lu aja sayang?“
“Kea~ Diliatin orang~“
“Biarin~ Nggak peduli~ Gue mau meluk lu kek gini.“
Barra diam saja sambil mencari-cari film yang asyik untuk ditonton. Sangat tidak seru sekali pabila ia dan Keanu cuma diam-diaman saja tanpa menonton apapun. “Cari series thailand dong yang? Kan lagi rame genre yang sesama gitu?“ ucap Keanu. Dibilang pecandu sih tidak, terkadang Keanu juga sering menonton film-film luar negeri untuk mengusir rasa bosan. “Nonton ini aja gimana? Ini yang maen si Saint,“ ucap Barra. “Hm boleh boleh,“ sahut Keanu. Barra dan Keanu pun menonton bersama. Keanu mengecup pipi Barra sekilas. Beruntung Barra tidak protes sama sekali hehehe, batin Keanu.
.
.
.
Jangan lupa baca LION HEART [BL] juga ya!