ARES [BL]

ARES [BL]
ARES 33



“Mas,“ seru Ares yang tengah duduk manis di meja dapur. “Hm?“ sahut Rakha sambil minum air putih tanpa mengenakan baju sama sekali. Rakha cuma mengenakan celana training panjang saja. “Aku masih boleh jualan, kan? Abis nikah nanti?“ tanya Ares. “Boleh,“ sahut Rakha. “Tapi..“ ucap Rakha sengaja menggantungkan kalimatnya lalu duduk berhadapan dengan Ares.


“Tapi? Kok tapi?“ tanya Ares dengan alis berkerut. “Mas mau kamu jualannya nggak usah keliling lagi. Tapi, jualan di ruko gitu.“ sahut Rakha.


“Tapi, sewa ruko kan mahal mas?“


“Ya emang segitu dek. Tapi, pendapatan kamu bakalan berkali-kali lipat lebih gede kalo di ruko. Kenapa? Karna kamu bisa jualan disitu dari pagi ampe malem. Beda kek kamu biasanya yang jualan dari sore ampe pas mau maghrib doang.“


“Gitu ya mas?“


“Iya~ Trus nanti mas mau kamu suruh orang lain aja kerja di ruko jagain jualan kamu. Nah, kamu abis dari sekolah langsung pulang aja.“


“Kok gitu sih?“


Rakha menghela nafas. “Dek, di mana-mana suami itu pengen pas dia pulang kerja ada istri di rumah. Disambut, dicium, dibikinin teh, ditemenin tidur. Kalo kamu mau ke ruko ya silahkan buat pantau jualan kamu disitu. Tapi, kalo kamu yang stay disitu mas nggak izinin.“


“Ih dasar,“


Rakha terkekeh. Ares pun meminum air putih yang diambilkan oleh Rakha tadi. Uh, lubang itu masih terasa sangat perih, Ares mengernyitkan alis menahan rasa perih itu. “Kenapa dek?“ tanya Rakha saat melihat perubahan raut muka Ares. “Mas.. Kamu ada salep nggak?“ tanya Ares sedikit malu-malu. “Buat apa?“ Rakha malah bertanya balik.


“Errr.. Itu.. Itu aku masih perih banget mas.. Hehe,“ sahut Ares mengalihkan pandangannya dari Rakha. Uh, Ares malu sekali kalau ia harus jujur seperti ini. “Pfft,“ Rakha menahan tawa. “Mas kecepetan goyangin pinggulnya ya, Res? Hahaha, mau lagi? Mas sih hayuk aja wkwkwk,“


Ares mendengus kesal. Huh, dasar Rakha, batin Ares. Wajah Ares memerah dan hal itu semakin membuat Rakha tertawa terbahak-bahak. Oh tuhan, mengapa ada manusia sejenis Rakha ini? Hm, tapi bagaimanapun Rakha, Ares tetaplah sayang dan cinta. Uh, wajah Ares semakin memerah. “Mas mau mandi dulu, baru beliin kamu salep bentar di depan sana,“ ucap Rakha.


Saat Noah berkonsentrasi membaca sekaligus menandatangani beberapa berkas. Tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah sms pun masuk. Ini pemberitahuan dari operator untuk tagihan dari kartu kredit tanpa batas limit yang Adithama miliki. Kedua alis Noah langsung berkerut saat ia melihat nominal yang dikeluarkan oleh Adithama mencapai ratusan juta rupiah.


Noah sampai geleng-geleng kepala. Ini bukan masalah hitung-hitungan atau apapun, karna Noah memang memberikan kartu itu khusus untuk Adithama. Namun, yang membuatnya heran ialah, apa yang Adithama beli sampai-sampai menghabiskan uang ratusan juta?


Tiba di rumah sore hari. Noah langsung berjalan menuju kamar menaiki anak tangga terlebih dahulu. Di atas kasur sudah ada Adithama asyik bermain game sambil tengkurap. Barbar sekali Adithama ini, batin Noah—pun ia lihat di samping Adithama ada beberapa paperbag besar. “Abis ngerampok?“ seru Noah.


“Hm,“ sahut Adithama tanpa menoleh. Begitulah kalau Adithama sudah asyik bermain game. Noah saja akan ia abaikan. “Beli apa aja sih kok ampe abis ratusan juta gitu? Perasaan nggak ada makanan disini?“ ucap Noah. Adithama mencebikkan bibir kesal. “Lu punya mata, kan? Tuh, gue beli itu tuh,“ sahut Adithama menunjuk belanjaan yang ia beli tadi dari sepatu sampai jaket dengan dagunya.


Hah, Noah menghela nafas. Pantas saja Adithama menghabiskan uang sampai ratusan juta, ternyata merk branded seperti swarovski filafx2, salvatore ferragamo, louis vuitton, dan lain-lain lah yang telah ia beli. “Bangun Ad, salim dulu sama kakak, kakaknya pulang malah dicuekin? Gimana sih kamu?“ ucap Noah protes.


“Iya iya,“ sahut Adithama malas-malasan. Adithama pun mencium tangan Noah, pipi, dan bibir. Ya, seperti itu terus sebelum dan sepulang dari kantor. “Kak..“ seru Adithama. “Hm?“ sahut Noah sambil menggulung kemejanya sampai ke sikut. “Kapan pulang ke indo lagi? Bosen disini.“ ucap Adithama terdengar sedih.


Noah tau Adithama itu tidak betah tinggal disini. Budaya dan lingkungan yang jauh berbeda dengan indonesia, tentu saja Adithama susah untuk beradaptasi. Adithama menatap Noah lamat-lamat seperti anak kecil yang memohon-mohon ingin dikabulkan permintaannya.


Noah peluk tubuh tinggi dan atletis itu. Selama disini Adithama memang sering berolahraga, dan juga nafsu makan Adithama meningkat, sehingga membuat tubuhnya yang sebelumnya kurus menjadi sedikit lebih berisi.


“Maafin kakak sayang~“ ucap Noah sambil mengecup pucuk kepala Adithama. Noah pandangi wajah itu dengan tatapan penuh cinta. “Dua bulan lagi kita pulang. Kan kamu dua bulan lagi lulus?“ ucap Noah. “Beneran???“ seru Adithama kegirangan. Adithama pun langsung menubruk tubuh Noah dengan mengalungkan tangannya di leher Noah. Adithama senang bukan main. Dua bulan lagi ia akan pulang ke indonesia.


Mencintai tanah air sendiri tidak salah, bukan? Adithama memang senakal dan sekaya itu. Tapi, dia masih mempunyai hati yang tulus dan bersih. Lihatlah bagaimana orang lain berlomba-lomba ingin menjadi orang sukses dan tinggal di luar negeri sampai tua nanti? Sedangkan Adithama? Ia malah tidak betah disini. Terlebih dengan iklim dan budaya. Untuk urusan makanan saja lidah Adithama kurang cocok dengan makanan orang sini. Noah sampai-sampai harus memperkerjakan seorang koki professional asal Indonesia asli di rumah, supaya Adithama bisa makan sesuai selera. Apapun akan Noah lakukan, meskipun memperkerjakan seorang koki di rumah itu mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Kalian tau? Noah harus membayar koki pribadi tersebut 360jt setiap bulannya. Sungguh biaya yang tidak sedikit, bukan?


Jam 10 malam di bulan Januari di London. Adithama berkali-kali mengusap dan meniup kedua telapak tangan. Kepulan asap tipis pun keluar dari setiap hembusan nafas. “Maaf lama Ad,“ seru Noah berlari kecil menghampiri Adithama. Di taman ini. Di tempat dimana Adithama memutuskan untuk hidup bersama Noah. Disinilah mereka berada.


Suasana taman yang tadinya gelap pun mendadak terang benderang. Indah sekali, batin Adithama. Hawa dingin di taman ini serasa sirna saat perhatian Adithama teralihkan akan keindahan di taman ini. “Happy birthday ma prince,“ ucap Noah lalu berjongkok menunjukkan sebuah kotak kecil berisi sepasang cincin pasangan.


“Hm?“ seru Adithama. Terharu itu sudah pasti. Bahkan, kini kedua mata Adithama berkaca-kaca. Adithama sudah senakal dan sengeyel ini tiap kali dinasihati. Tapi, Noah selalu sabar menghadapi sikap barbar Adithama. Noah, bagaimana dia bisa sesabar itu? Kalian tau pasti seberapa lelah Noah bekerja dan bertahan hidup demi Adithama. Menahan semua rasa sakit di masa lalu. Itu tidak mudah. Tapi, Noah berhasil menahannya. Tuhan pasti tau apa yang terbaik bagi hambanya, meski jalan yang harus dilalui amat sangat pahit dan penuh duri. Ya, kebahagiaan memang semahal itu untuk diraih.


“Adithama Pangestu,“ seru Noah. “Maukah kamu menerima saya, Noah Pangestu, untuk menjadi suami dan tempat kamu bersandar sampai akhir hayat nanti?“ ucap Noah. Oh tuhan, apa lagi ini? Bulir-bulir mutiara itu langsung berjatuhan, perlahan tapi pasti, Adithama tidak mampu membendung nya lebih lama lagi.


Ini terlampau romantis. Kapan Noah menyiapkan semua ini? Hah, Adithama sungguh tidak habis pikir. Tatapan cinta itu. Adithama sangat memujanya. “Hm,“ gumam Adithama sembari menganggukkan kepala pelan. Ia menerima dengan senang hati dan dengan hati bahagia penuh bunga. Tidak ada alasan bagi Adithama untuk menolak pria sebaik dan sesempurna Noah.


“Kenapa?“ tanya Noah saat ia melihat air muka Adithama yang mendadak berubah menjadi sebal. “Lagi bayangin mau nendangjn cewek-cewek yang deketin kamu, kak.“ ucap Adithama. Haha, Noah terkekeh geli melihat Adithama membayangkan yang tidak-tidak. “Berani emang kamu Ad? Dilaporin iya hahaha,“ ucap Noah tertawa.


“Iiiiiih beneraaaaan,“ sahut Adithama manja sambil memeluk Noah erat sekali. “Oh iya, tadi kamu shopping ada beliin buat kakak juga nggak?“ tanya Noah berharap ada satu di antara banyak barang yang Adithama beli adalah untuk dirinya. “Ha-hah?“ seru Adithama kikuk. Duh, gimana nih, batin Adithama. “Nggak ada???“ tanya Noah lagi. Adithama pun tersenyum garing sambil mengedipkan mata beberapa kali. “Kakak yang kerja kamu yang abisin. Malah nggak ada buat kakak sama sekali Ad? Ckckckck dasar,“ ucap Noah sambil memainkan rambut Adithama.


Beberapa hari yang lalu, sebelum kejadian dimana Barra mabuk dan berakhir dengan tidur di rumah Keanu, Keanu sempat berkunjung ke kantor ayah Barra. Hm, untuk apa ya Keanu kesana? “Mohon maaf, Om Endra nya ada?“ tanya Keanu pada si resepsionis perempuan itu. Si resepsionis sempat menatap aneh pada Keanu. “Si resepsionis ini kenapa liatin gue kek gitu?“ batin Keanu. Mungkinkah ini karna style Keanu yang terkesan badboy dan penuh tato dimana-mana?


Keanu paling benci kalau ia harus memperlihatkan identitas asli sebagai anak pengusaha kaya raya. Pamer, adalah tindakan paling anti yang Keanu lakukan, niat ataupun tidak. “Ini foto saya dan keluarga saya, paham?“ ucap Keanu menegaskan pada si resepsionis itu. Seorang pria dewasa pun menghampiri meja resepsionis. Pria itu pun langsung menegur si resepsionis. “Inget baik-baik. Mau dia pengemis sekalipun, jangan pernah kamu mandang rendah orang lain. Ngerti? Baru jadi resepsionis, gimana nanti kamu jadi orang sukses? Bisa nendang orang kali.“ ucap pria itu sinis.


Ya, pria itu adalah sekretaris pribadi, Om Endra. Hm, sebenarnya nama lengkap beliau adalah Bahran Bhalendra. Orang lain memanggil beliau Bhalendra. Tapi, bukan Keanu namanya kalau dirinya tidak antimainstream, Keanu memanggil beliau dengan sebutan Endra. Dialah ayah dari Barra Bhalendra.


“Tumben maen kesini Kea? Pasti ada maunya nih?“ cetus Evan, si sekretaris. “Ya ampun om curigaan mulu,“ sahut Keanu sambil berjalan menaiki lift bersama Evan. Bagaimana Evan tidak curiga? Bisa dibilang semua kawanan bisnis yang akrab dengan sang ayah akan Keanu anggap semuanya seperti orang tua sendiri. Terkadang Keanu tidak segan-segan meminta sesuatu kepada mereka. Seperti uang, makanan, sepeda, dan hal-hal lainnya. Aneh? Ya, itulah Keanu. Tapi, satu hal yang membuat mereka selalu bangga pada sosok Keanu, Keanu itu memiliki sopan santun yang sangat tinggi.


“Permisi assalamu'alaikum Om Endra~“ ucap Keanu. “Minta duit lagi katanya, pak.“ ucap Evan bercanda. “Duh om,“ sahut Keanu. Keanu pun duduk di sofa depan meja kerja Bahran—pun disusul oleh Bahran dan Evan. “Kenapa nih Kea? Tumben?“ tanya Bahran. Hm, bahkan, Bahran menanyakan hal yang sama seperti yang Evan tanyakan tadi.


“Soal Barra om..“ ucap Keanu.


“Barra? Dia kenapa Kea? Bikin ulah kah?“ cerca Bahran.


“Ng-nggak om,“ sahut Keanu sedikit gugup. Oh tuhan, kenapa Keanu bisa segugup ini?, batin Keanu. Biasanya Keanu bisa berbicara dengan lancar. Tapi, lidah Keanu terasa kelu dan sulit mengucapkan apapun. “Keanu..“ ucap Keanu. “Hm?“ sahut Bahran mengangkat sebelah alisnya.


“Keanu suka sama Barra, om.“ ucap Keanu pada akhirnya. Hah, akhirnya Keanu pun lega setelah mengatakan kalimat ini kepada Bahran. Bahran pun menatap melirik Evan sebentar. “Maksud kamu apa Kea?“ tanya Bahran mencoba memastikan. Ini masih terlihat abu-abu.


“Keanu suka sama Barra. Keanu mau Barra jadi pacar Keanu, om. Trus.. Keanu juga mau nikahin Barra kalo Keanu udah punya kerjaan nanti.“ ucap Keanu mantap. Keanu itu masih duduk di kelas 1 SMA. Sebentar lagi ia akan naik kelas 2, karna dia bulan lagi sudah akan ujian akhir semester.


“Keanu,“ seru Bahran. “Kamu tau, kan? Kamu tadi ngomong apa?“ tanya Bahran serius. “Tau om,“ sahut Keanu. “Kamu ngerti? Kalo apa yang kamu bilang tadi itu, itu berarti kamu bakalan punya tanggung jawab besar?“ tanya Bahran lagi. “Ngerti om,“ sahut Keanu mantap untuk kesekian kalinya.


“Om Evan juga punya pacar cowok. Mending kamu tanya-tanya om Evan aja. Curhat sama dia. Om nggak ngerti masalah ginian.“ ucap Bahran.


“Hah? Om Evan?“ seru Keanu lalu mengerling ke Evan. Evan pun mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum tipis. “Tapi kan om, Keanu dateng kesini niatnya mau minta restu?“ ucap Keanu merasa kurang puas dengan apa yang dikatakan oleh Bahran tadi. “Jadian aja belom mau minta restu? Aneh kamu Kea,“ ucap Bahran menohok.


“Mohon maaf, pak, saya permisi sebentar dulu mau angkat telepon.“ ucap Evan beranjak dari sofa dan menuju balkon di kantor ini. Ya, ruang kerja Bahran memang didesain khusus sehingga terlihat seperti rumah biasa, yang juga memiliki balkon di luarnya.


“Tuh liat Kea, ditelepon sama pacarnya dia. Tiap hari diteleponin gitu tanya udah makan ato belum. Kalo udah jadian kek Evan, baru minta restu Keanu~“


“Emang om bakalan restuin?“


“Nggak tau, om juga nggak bisa mastiin. Kita liat sikonnya aja deh.“


“Waaah kok om tega sih sama Keanu?“


“Kan om bilang liat sikon dulu?“


Bahran berkata seperti itu untuk kebaikan Keanu sendiri. Bahran tidak Keanu dalam pengharapan yang terlalu besar, seandainya Barra menolak Keanu mentah-mentah. Barra itu termasuk orang yang teguh pendirian. Sekali tidak sampai akhir pun juga tidak. Kecuali tuhan berkata lain, mungkin jalan Keanu untuk mendapatkan hati Barra akan lebih dipermudah.


Hari minggu setelah Ares puas berkeliling kota membawa kedua adik kecilnya jalan-jalan. Ares langsung ke rumah Rakha. Ya, Rakha memberikan satu kunci cadangan rumahnya kepada Ares. Hm, hari ini Ares ingin memberi kejutan kepada Rakha. Ya, Ares memasak dua menu makanan, yaitu ayam taliwang dan plecing kangkung, makanan khas orang mataram.


“Assalamu'alaikum,“ ucap Rakha setelah masuk ke dalam rumah. “Mas?“ seru Ares menghampiri Rakha di ambang pintu. Ares pun mencium tangan Rakha. “Wa'alaikumussalam,“ sahut Ares. “Oh, jadi mentang-mentang mau nikah, persiapan mau jadi istri nih? Masnya disambut? Dicium tangan? Hehehe,“ goda Rakha.


“Ih apaan coba, kan biasanya emang gitu.“ ucap Ares kembali duduk di depan TV—diikuti oleh Rakha yang juga duduk di samping Ares. “Capek mas? Mau aku bikinin es teh ato es sirup?“ tanya Ares. “Dicium aja Ares he he he,“ goda Rakha. Ares pun mengerucutkan bibirnya. “Jangan gombal mulu napa mas???“ ucap Ares protes.


“Kan gombalnya sama kamu doang, dek?“ ucap Rakha. Rakha pun merebahkan kepalanya di atas paha Ares. Rakha peluk pinggul Ares dan membenamkan wajahnya di perut Ares. “Mas~“ seru Ares geli saat Rakha mendusel-duselkan kepalanya disana. “Cium,“ pinta Rakha manja seperti anak kecil. Ares pun menghela nafas lalu mengecup bibir Rakha. “Lagi,“ pinta Rakha ingin dicium lagi. Kali ini ciuman Ares dan Rakha lebih lama. Memang tidak lidah beradu di dalam sana. Namun, ciuman itu terasa manis dan penuh arti.