![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Demi mengisi waktu luang di hari libur, ARES bekerja di sebuah toko kue. Sepulang dari toko nanti baru ia kembali berjualan keliling. Ia melayani pembeli dengan sangat baik, sampai-sampai ia selalu mendapat pujian dari si pemilik toko.
Ini membuat beberapa orang yang bekerja disana hinggap rasa iri di hati mereka. Memang Ares tidak menerima upah lebih dalam bentuk apapun. Hanya saja interaksi Ares dan si pemilik toko yang nampak dekat seperti seorang sahabatlah yang membuat mereka iri.
Seperti biasa Ares mau secara suka rela disuruh membantu apa saja, termasuk membuang sampah ke tempat pembuangan khusus. ”Lu pake pelet apa sih?” seru Riki sarkasme. Ares tidak mengerti maksud Riki. Pelet? Pelet apa?
”Gue nggak ngerti maksud lu Ki. Gue gak pake pelet apa-apa.”
”Jangan ngeles deh lu Res. Gue tau lu pasti pake pelet, kan? Kalo lu nggak make mana mungkin si bos perhatian banget ama lu?”
”Gue gak tau ya Ki si bos baik ke gue karena apa. Yang jelas gue kesini kerja bukan buat cari perhatian.”
Saat Ares hendak berlalu, Riki malah mencegat pundaknya. Riki menatap Ares tajam. ”Mending lu keluar dari sini Res,” terdengar nada ancaman dari Riki. Ares tersenyum miring. ”Lu bukan siapa-siapa gue dan lu nggak berhak buat ngusir gue dari sini. Minggir.” sahut Ares tidak kalah ketus dan mengenyahkan tangan Riki dari pundaknya dengan kasar.
Si pemilik toko roti itu pun berdiri di balik tembok samping tokonya sendiri. Baru kali ini ia melihat seorang pegawai roti di tokonya sendiri memiliki mental baja. Sudah banyak pegawai-pegawainya yang mengundurkan diri, karena tidak kuat akan tekanan yang diberikan oleh Riki. Kalau bukan amanah dari orang tua, mungkin si pemilik toko roti itu langsung memecat Riki begitu saja.
Setelah selesai salat ashar, Ares bersiap-siap hendak pulang. Ia berpamitan dengan si pemilik toko juga rekan-rekan kerjanya yang lain. Kali ini Ares tidak jalan kaki, melainkan ia mengayuh sepeda. Beruntung kedua orang tuanya masih di kampung, sehingga Ares bisa menggunakan sepeda ini kemana-mana.
Rakha menunggu kepulangan Ares di teras rumah Ares. Ia duduk di kursi panjang yang ada disana. Sudah satu jam lebih ia menunggu Ares. Dari kejauhan terlihat seorang remaja mengayuh sepeda kemari. Itu Ares, batin Rakha. Ia pun langsung berdiri.
Sudah hampir satu minggu keduanya tidak bertemu. Ares diam menatap Rakha yang saat ini juga tengah menatap dirinya. Oh tuhan, Ares rindu sekali. Tidak. Ares tidak boleh memiliki perasaan apapun pada Rakha. Ia harus membuang perasaannya itu jauh-jauh. Ah iya, untuk apa Rakha datang kemari? Ada urusan apa dia?
”Kak Rakha? Nyari siapa?” tanya Ares berbasa-basi. Sesungguhnya Ares tau kalau kedatangan Rakha kemari, tidak lain dah tidak bukan ialah karena ia ingin bertemu Ares.
”Ngomong di dalem bisa?” seru Rakha. Ah, benar juga. Sangat tidak etis sekali kalau berbicara mengenai hal-hal pribadi di luar seperti ini. Ares pun membuka pintu diikuti oleh Rakha di belakang. Hap, Rakha langsung memeluk Ares dari belakang.
”Kak-kak Rakha.. Kakak ngapain?” tanya Ares.
”Maafin kakak.. Ini semua salah kakak.. Maafin kakak karena kakak udah bikin kamu salah paham sama sikap kakak..”
Keduanya saling diam-diaman beberapa saat. Rakha belum jua melepaskan rengkuhannya pada Ares. Bahkan ia memeluk Ares semakin erat seolah-olah Ares bisa lepas kapan saja. ”Tolong kasih kakak kesempatan Ares,” ucap Rakha kemudian memecah keheningan di antara keduanya.
Kesempatan? Kesempatan apa yang Rakha maksud? ”Saya nggak ngerti maksud kakak apa,” ucap Ares. ”Cukup sekali aja bagi kakak kehilangan orang yang kakak sayang. Kakak nggak mau kehilangan buat kedua kalinya lagi, Ares.”
”Kasih kakak kesempatan buat kenal kamu, buat nyayangin kamu, buat cintain kamu, dan selalu ada buat kamu. Tolong izinin kakak dan kasih kakak kesempatan buat lakuin itu semua.”
”Kak..” seru Ares berbalik. Ares dapat melihat raut muka Rakha yang penuh harap. Benar kata Rakha. Cukup sekali saja kita kehilangan orang yang kita sayang. Bukan untuk kedua kalinya dan seterusnya. Ah, hati Ares bimbang. Mungkinkah Rakha hanya bergurau saja? Ataukah ini hanyalah obsesinya belaka?
”Maafin saya kak.. Saya nggak bi—” Rakha langsung mengecup bibir Ares sebelum Ares menyelesaikan perkataannya. Rakha tidak ingin dan tidak siap mendengar kata-kata penolakan dari Ares. Sehingga ia pun mengambil inisiatif untuk mengunci mulut Ares dengan bibirnya.
”Jangan nolak kakak Ares. Kakak tau kamu sayang sama kakak.” ucap Rakha lalu mencium Ares kembali. Ares kewalahan. Rakha menciuminya tanpa memberikan jeda untuk Ares bernafas. Jangan Ares jangan, batin Ares. Ares berusaha untuk tidak terjebak. Namun, lagi-lagi ia lemah akan sentuhan Rakha.
Rakha menggiring Ares menuju kamar. Rakha duduk dengan Ares berada di pangkuan. Rakha mengusap punggung Ares sensual. Ia telusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut Ares. Apa ini?, batin Ares. Ini pertama kalinya bagi Ares merasakan lidah seseorang menari-nari di dalam rongga mulutnya.
”Eunngh,” Oh tuhan, mengapa ini terasa sangat nikmat bagi Ares. Air liur Ares menetes. Ugh, sungguh menjijikkan, batin Ares. Rakha menghentikan aktivitasnya sebentar. Ia menatap Ares yang mukanya kini telah memerah semerah tomat. Nafas Ares memburu. Ia mencoba menghirup oksigen banyak-banyak.
”Tolong kasih kakak kesempatan dek,” pinta Rakha. Ia pun membenamkan wajahnya di dada Ares. Ia memeluk Ares dengan erat. Egoiskah Ares kalau dirinya menerima Rakha dalam hidupnya? Tidak. Bukan begitu. Bolehkah Ares egois sekali ini saja?
”Kak..” seru Ares. Rakha pun mendongak. Ares memegang kedua sisi wajah Rakha. Ia tatap kedua mata itu lamat-lamat. Ares pun mengecup bibir Rakha. Tidak ada pergerakan sama sekali. Cukup kecupan biasa saja. Lama sekali Ares mengecup bibir itu. Ia ingin meresapi perasaan yang kini mulai tumbuh semakin subur di dalam dada. Ares sudah bertindak benar, bukan?
Bibir Ares mulai turun ke leher Rakha. Ini adalah apa yang pernah ia lihat di film-film sebelumnya. Maklum Ares tidak mempunyai pengalaman langsung berciuman dengan seorang gadis. Ia kecup ceruk leher Rakha dengan lembut. Ares pun menarik wajahnya kembali. Kini ia dan Rakha saling bertatapan. Keduanya pun tersenyum.
”Cewek?” seru Ares terdengar posesif. Rakha malah tersenyum. ”Kok senyum? Kan aku nanya itu cewek ato bukan?” bukannya menjawab, Rakha malah menatap Ares sambil mengulum senyum. Ares terlihat lucu sekali ketika ia menunjukkan sikap posesifnya. Lihatlah kedua alis Ares yang mengkerut itu.
”Oh.. Sekarang udah pake aku kamu ya??” goda Rakha. ”Nggak pake saya kakak lagi?” seru Rakha membuat Ares salah tingkah. Ini sesuatu hal yang terjadi di luar kesadaran Ares. Ugh, mengapa Rakha peka sekali?
”Udah udah jangan cemberut. Tadi itu grup chat kantor kakak. Biasa lagi pada ribut bahas meeting buat besok.”
”Oh..” nada suara Ares terdengar masih belum percaya jua. ”Nih,” seru Rakha menunjukkan ponselnya yang berisi room chat grup di whatsapp. ”Kakak nggak sebrengsek itu juga kali dek.. Selingkuh ato main-main chit chat ama cewek-cewek..”
”Keluar sana, aku mau ganti baju dulu, gara-gara kakak, kan? Aku malah kesorean dagangnya. Sana ah sana sana.”
Rakha tersenyum sambil mengacak-acak pucuk kepala Ares. Ia pun keluar dari kamar Ares. Ares langsung mengunci pintu kamarnya. Ia menyentuh dadanya yang sedari tadi berpacu terus. Seperti ini rasanya jatuh cinta dan berada dekat dengan orang yang kita sayang?
Sebelum berganti pakaian, Ares bercermin sebentar. Ia melihat di lehernya terdapat beberapa bekas kemerahan. Untung tidak terlalu banyak, batin Ares. Seulas senyum tipis pun terukir di bibir Ares. ”Dek.. Kakak duluan ya? Nanti kamu abis keliling langsung ke rumah kakak aja nginep disana. Awas loh ya kalo nggak dateng.” seru Rakha dari luar.
”I-iya kak nggak papa,” sahut Ares dari dalam.
Saat Ares sibuk melayani pembeli di pinggir jalan. Tiba-tiba ada seorang lelaki menghampiri Ares dengan raut muka khawatir. ”Dek dek cepetan pergi dari sini. Ada orang tawuran!” ucap lelaki itu. Ares pun meminta maaf kepada satu pembelinya, karena Ares tidak selesai membungkuskan pesanannya. Lelaki itu membantu Ares mendorong gerobak untuk berpindah ke tempat yang lebih aman.
”Makasih ya kak,”
”Sama-sama dek,”
Sesaat Ares pun terdiam. Kedua alisnya saling bertautan. ”Adithama?” gumam Ares. Di antara pasukan tawuran yang lewat, disana juga terlihat sosok Adithama. Untuk apa Adithama ikut-ikutan tawuran? Semoga saja tidak ada terjadi apa-apa pada Adithama. ”Tuh anak nggak ada kapok-kapoknya deh,” gumam Ares.
”Lu nggak ada kapok-kapoknya ya?” seru Adithama sengit lalu meludah ke samping. Musuh sudah ada di depan mata. Satu langkah saja tim Adithama maju, ia akan menebas habis musuh-musuhnya. Adapun pertikaian antara dua kubu disebabkan pihak lawan menghina-hina Adithama dan kawan-kawan. Bahkan mereka menyebarkan gosip kalau Adithama tukang keroyok sampai menghamili anak orang.
Kalau memukuli orang lain Adithama membenarkan hal itu. Tapi, untuk menghamili anak orang lain, itu sama sekali tidak benar. ”Lu kasih tau dimana tuh cewek sekarang!” ucap Adithama berteriak. Ia tidak sudi nama baiknya tercemar. Dasar brengsek, batin Adithama.
Adithama bersumpah akan membuat hidup gadis yang sudah mengaku-ngaku dihamili olehnya itu menderita. Tidak akan Adithama biarkan gadis itu menyecap bahagia meskipun secuil. Bahagia di atas penderitaan orang lain? Heh, rasakan pembalasan Adithama nanti.
”Gue nggak bakalan ngasih tau lu bangs*t!!! Seraaaaaaaang!!!” seru Saiful. Dua kubu pun saling baku hantam. Beruntung tidak ada satu pun di antara mereka yang menggunakan senjata tajam. Masing-masing dari mereka hanya membawa balok kayu saja.
Suara siren polisi pun terdengar, membuat seluruh pelaku tawuran berlarian tunggang langgang. ”Mau kemana kamu?” seru seorang polisi ketika ia berhasil menangkap Adithama dan meraih kerah bajunya. ”Ikut saya,” ucap si polisi. ”LEPASIN B*NGSAT!!!” Adithama berontak.
Di ruang kerja di rumah Adithama, Noah menerima panggilan telepon dari sekretarisnya, kalau saat ini Adithama tengah ditahan di kantor polisi lantaran dia terlibat dalam tawuran antar pelajar. Noah memijit pelipisnya yang mulai berdenyut. Lagi-lagi Adithama berulah.
Belum lagi masalah kantor yang mulai menumpuk, kini ia harus dihadapkan lagi dengan masalah sang adik di kantor polisi. Kalau kalian mau tau, Noah itu adalah anak adopsi dari kedua orang tua Adithama. Ia di adopsi ketika masih berumur 10 tahun. Dikarenakan kedua orang tua Adithama mengalami kecelakaan maut sampai harus merenggut nyawa keduanya, seluruh tangguh jawab perusahaan pun dilimpahkan padanya.
Noah menghela nafas berat. Ia meraih mantel serta kunci mobil dan langsung melesat menuju kantor polisi. ”Ad..” seru Noah ketika ia sudah sampai di kantor polisi dan masuk ke dalam. Ia melihat Adithama tengah diinterogasi oleh polisi. Wajah Adithama babak belur.
”Ini kartu nama saya, pak.” ucap Noah memberikan kartu namanya pada salah satu petugas kepolisian. Si polisi sempat terkejut lantaran di kartu nama ini tertera nama seorang tokoh besar di dunia bisnis CEO Noah Pangestu.
”Saya mohon pak, bebasin mereka semua. Saya jamin ini terakhir kalinya mereka berbuat ulah.” ucap Noah. Disini terdapat tiga orang pelajar lagi selain Adithama. Noah tidak serta-merta hanya membebaskan Adithama seorang. Menolong itu jangan pilih-pilih, begitulah didikan dari almarhum sang ayah.
Si polisi itu pun memberi teguran keras. Beliau meminta tiga anak itu untuk berterima kasih pada Noah. Mereke bertiga menunduk. Noah itu bukan siapa-siapa mereka. Tapi, ia dengan sudinya mau membebaskan mereka bertiga. Bahkan orang tua mereka saja tidak ada yang mau datang kemari.
”Saya bakalan pantau kalian. Kalo kalian bikin ulah lagi saya nggak segan-segan jeblosin kalian ke penjara seumur hidup.” ancam Noah. Noah tidaklah sekejam itu. Ini hanya gertakan saja. Ia dan Adithama pun pulang dengan satu mobil. Noah mengirim pesan singkat pada sang sekretaris untuk mencari data lengkap tiga pelajar yang tadi bersama Adithama di kantor polisi. Entah mengapa Noah merasa memiliki tanggung jawab pada tiga anak itu. Ini bukan perkara dia ada rasa atau bagaimana. Ini murni adalah tanggung jawabnya sebagai seorang kakak. Noah iba.