ARES [BL]

ARES [BL]
ARES 5



Pepatah mengatakan bertemanlah dengan orang baik makan engkau juga akan menjadi orang baik. Namun, tidak banyak orang yang mampu sadar akan hal ini. Sebagian besar orang lebih memilih berteman dengan siapa saja tanpa memperhatikan baik dan buruk, yang penting bisa dugem atau mungkin shopping dan liburan bersama.


Di reuni satu angkatan Ami semasa SMA, mereka ribut membahas masalah liburan di akhir tahun. Ini seperti menjadi sebuah kegiatan rutin sebagian besar orang, bagi orang yang mampu dan berkecukupan. Ada pula yang membangga-banggakan suami, harta, pakaian, barang-barang branded, dan hal-hal lain yang Ami sendiri belum dapatkan selama hidup bersama Rakha.


Secercah perasaan iri pun muncul. Ami hanya mampu tersenyum kecut tatkala teman-temannya menanyai apa pekerjaan suaminya, mau ikut liburan atau tidak, dan sudah punya koleksi barang branded apa saja.


“Minta sama ortu lu lah Mi~ Jaman sekarang masih dengerin kata laki. Hidup kita bisa-bisa pada bulukan ya jeng hehehe.“ celetuk salah satu teman Ami. Ami diam. Teman-temannya memang terlihat bercanda. Namun, sungguh semua itu terdengar seperti sebuah ejekan secara halus.


“Ntar gue kabarin di wa ya~“ ucap Ami beralasan. Ia harus mendiskusikan hal ini dengan Rakha. Bagaimana pun ia memiliki hak untuk menikmati hidup. Ia tidak peduli bagaimana Rakha bisa memenuhi semua yang ia inginkan, asalkan di hadapan teman-temannya ia tidak lagi menjadi bahan ejekan, itu saja sudah cukup.


Di rumah Ami sengaja tidak memasak apa-apa. Ia ingin meminta haknya pada Rakha. Alasan Ami tidak memasak ialah kalau-kalau Rakha mengindahkan semua permintaannya maka inilah yang akan menjadi alasan terbesarnya.


“Assalamu'alaikum sayang.“ ucap Rakha memasuki rumah mungil nan asri keluarga kecilnya. Mau besar-besar pun, selain ia tidak mempunyai banyak biaya, siapa pula yang mau menempati? Toh cuma ada Ami, Rakha, dan Puteri kecilnya, Bella.


Rakha heran. Tidak ada sahutan sama sekali dari Ami. Ia melihat Ami tengah duduk di sofa dengan kedua tangan bersedekap di dada. Tidak biasanya Ami seperti ini, karena biasanya ia selalu antusias menyambut Rakha pulang kerja. Kemana Ami yang biasanya?


Rakha duduk di samping Ami. Menghadapi Ami harus ekstra sabar. Kalau tidak mungkin Ami akan protes dan mengatakan, “Kok kamu ngebentak aku sih mas? Kok kamu giniin aku sih mas? Kamu nggak sayang sama aku lagi ya?“ begitulah ocehan-ocehan Ami ketika Rakha mencoba untuk sedikit menekan dirinya.


Beginilah seorang gadis yang terlahir di keluarga yang kaya raya dan selalu memanjakannya sejak kecil. Teman-teman Rakha bahkan juga banyak yang was-was melihat kehidupan rumah tangga Rakha, dikarenakan sikap Ami yang terkadang masih sangat kekanak-kanakan. Rakha tau itu. Tapi, bukankah cinta itu siap menerima kekurangan pasangannya lahir batin?


“Salamnya dijawab dulu dong sayang~“ tegur Rakha pelan.


“Wa'alaikumussalam.“ sahut Ami sedikit ketus.


“Kamu kenapa Ami? Ada masalah?“ tanya Rakha.


“Aku mau liburan mas.“


“Liburan kemana?“


“Ke Bali.. Sama temen-temen.“


Rakha diam. Ia mengerti maksud dan arah pembicaraan Ami. Kalau sudah begini Ami pasti marah besar. Ke Bali? Untuk liburan kesana pasti memakan biaya yang tidak sedikit. Rakha sudah pasti tidak bisa memenuhi keinginan Ami yang itu.


“Kenapa mas? Nggak bisa?“ cerca Ami menohok. Ia seolah tau keterdiaman Rakha sejak tadi. Rakha pun bahkan dilanda kebingungan harus menjawab pertanyaan Ami bagaimana. Ia tidak ingin Ami bertindak aneh-aneh.


"Maafin mas dek..“ ucap Rakha lirih berharap Ami bisa mengerti. Nyatanya tidak. Ami langsung berdiri dengan raut muka berubah drastis. Inilah Ami ketika sedang emosi.


“Mas.. Aku cuma minta liburan ke Bali. Emang dari awal kita nikah ampe sekarang aku pernah gitu minta kek gini sama kamu? Nggak, kan? Aku ngalah nahan semua keinginan aku buat ngumpul liburan bareng sama temen-temen aku. Dan aku mau minta hak aku sekarang mas. Aku juga mau refreshing.“


Rakha menghela nafas sambil memejamkan mata beberapa detik. Ya tuhan, tolong lembutkanlah hati istri hamba, do'a Rakha dalam hati. “Dek.. Duduk dulu..“ pinta Rakha lemah lembut.


“Nggak.“ sahut Ami ketus.


“Kamu tau kan sayang? Gaji mas berapa? Gaji mas itu cukup-cukup buat kebutuhan kita satu bulan, trus cicilan motor sama rumah. Mas minta pengertian kamu sayang. Hm? Insyaa allah kalo mas ada rezeki.. Mas pasti bawa kamu liburan ke Bali.“


“Tapi kapan mas? Nunggu cicilan selese gitu? Udah basi mas. Kelamaan. Aku itu maunya sekarang. Ato gini aja, mas kan punya tabungan pribadi. Pake itu aja dulu.“


Lidah Rakha kelu. Lehernya tercekat. Harus dengan alasan apa lagi untuk Rakha bisa menjelaskan perihal tabungan pribadinya yang sudah habis ia pinjamkan kepada Ares? Kemarahan Ami pasti lebih besar lagi dari ini.


“Tabungan mas yang itu mas pinjemin ke temen. Adek dia sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Tapi, dia nggak punya biaya banyak."


“APA!?“


“Dek..“ Rakha berusaha membujuk Ami.


“Mas lebih milih minjemin uang mas sendiri ke temen daripada ngebahagiain aku? Mas kenapa sih hah?“ Ami tidak terima.


“Maafin mas dek..“ pikiran Rakha sudah buntu. Ia tidak tau lagi harus bagaimana.


“Dapet uang darimana dek?“


“Tinggal minta sama papa lah. Ampe aku pulang lagi kesini. Jangan berani-berani mas nengokin Bella.“


Ami langsung beranjak dari sana menuju kamar. Ia membawa Bella pergi. “Dek dek.. Dengerin mas dulu dek. Sayang..“ ucap Rakha berusaha mencegah kepergian Ami. Namun, Ami tetap kukuh pada pendiriannya. Ami pun masuk ke dalam mobil dan menyetir sendiri menuju rumah ayah dan ibunya.


“Ya allah..“ gumam Rakha gusar.


Ketika jam semua mata pelajaran selesai dan seluruh murid diperkenankan pulang, saat itu pula lah Adithama muncul di depan kelas Ares lalu melemparkan tas miliknya. “Bawa.“ ucap Adithama. Mau tidak mau Ares harus menuruti permintaan Adithama. Ares perlu menyusun siasat lebih gesit lagi supaya Adithama tidak terus-terusan menekan dirinya.


Ares mengikuti Adithama di belakang persis seperti seorang babu. Itulah cara Adithama memperlakukan Ares dengan merendahkannya. Banyak bibir-bibir yang berbisik menyayangkan ketampanan dan kegagahan Ares, yang ujung-ujungnya malah menjadi babunya Adithama. Brengsek sekali memang si Adithama ini.


Saat ini Ares tidak mempunyai kekuatan apa-apa untuk melawan Adithama. Ares hanya bisa mengiyakan semua perintahnya. Sungguh menyebalkan karena Adithama adalah tipe orang yang sangat pemaksa dan tidak mau mengerti situasi orang lain.


“Gue nggak bisa lama-lama. Gue musti dagang trus ke RS jagain adek gue.“ ucap Ares. Adithama tidak menanggapi perkataan Ares. Ia malah melempar helmnya pada Ares. Mengesalkan bukan?


Seperti biasa tidak ada percakapan berarti di antara keduanya bilamana dalam perjalanan menuju rumah. Adithama terhitung pendiam. Namun, sekali berbicara pasti akan ketus sekali dan tidak bisa tidak. Intinya apapun itu harus dituruti. Tidak peduli setuju atau tidak. Suka atau tidak.


Rumah Adithama besar sekali. Namun, tidak ada sesiapapun di dalam kecuali Adithama dan Ares. Menurut Ares ini lebih mengerikan dari kuburan. Kemana pembantu-pembantu rumah Adithama? Bukankah biasanya orang kaya memiliki banyak pembantu?


“Ikutin gue.“ ucap Adithama. Ares menurut saja. Ah, rupanya Adithama memintanya untuk mengikutinya ke kamar. “Duduk.“ ucap Adithama lagi. Ares duduk di dekat meja kecil. Mungkin ini tempat khusus Adithama belajar lesehan? Ah, Adithama tidak mungkin serajin itu.


“Kerjain pr pr gue.“ ucap Adithama. Ares menurut saja. Mengerjakan pr? Itu tidak masalah bagi Ares. Yang masalah ialah nilai yang didapat oleh Adithama nanti tidaklah murni karena merupakan hasil kerja keras orang lain.


“Nih." ucap Adithama memberikan lima lembar uang seratus ribuan.


“Paan?“


"Gue beli semua siomay lo. Jadi, lo nggak perlu dagang.“


“Gue gak mau terima.“


“Jangan nolak. Gue gak suka penolakan.“


“Jangan mentang-mentang lo kaya lo seenaknya ya.“


Adithama dan Ares saling tatap menatap dengan tajam. Jangan pikir Ares tidak berani menatap Adithama seperti itu. Tunggu Ares memiliki senjata ampuh untuk melawan Adithama, maka ia akan melumpuhkan Adithama saat itu juga.


“Siapa bilang? Gue borong siomay lo bukan buat dibuang.“


“Trus?“


“Ya ntar lo bungkusin trus lo bagiin sama orang-orang pinggiran. Ngerti?“


Ares diam. Bukan maksud dirinya berprasangka buruk pada Adithama. Hanya saja imej Adithama yang seperti itu seolah-olah tidak ada kebaikan sedikit pun pada dirinya. Bukankah Adithama sering bersikap kasar dan berkata ketus? Tidakkah hal itu cukup untuk menggambarkan bagaimana sosok Adithama yang sebenarnya?


Setelah selesai mengerjakan pr milik Adithama, Ares dan Adithama pun kembali bepergian menuju rumah Ares. “Ngapain lu ke rumah gue?“ tanya Ares sedikit ketus. Lama-lama tekanan darah tingginya bisa naik kalau ia terus-terusan berada di dekat Adithama.


Seperti biasa Adithama selalu diam ketika ditanyai oleh Ares. Ia memilih diam tidak bersuara. Entahlah apa maksud Adithama seperti itu. Mungkin dia sariawan? Ares juga tidak ingin peduli.


“Cepet lu bungkusin siomaynya. Gue tunggu disini.“ ucap Adithama dingin. Ares mendengus kesal. Ares pun turun dan menutup pintu mobil dengan kasar hingga suara decitannya terdengar sangat nyaring. Adithama tertegun melihat sikap Ares yang cukup berani. Ia tau sebenarnya Ares sama sekali tidak takut padanya. Ares hanya tidak memiliki sesuatu yang kuat untuk melawan Adithama. Itu saja.


Di tengah-tengah kesibukan Ares membungkusi satu per satu siomay miliknya. Seseorang mengetuk pintu rumahnya dan bersender di ambang pintu. “Cepetan. Lama banget.“ protes Adithama. Ares semakin kesal. “Lu liat. Gue musti bungkusin 50 porsi dan lu nyuruh gue cepetan? Kenapa lu nggak ikutan bantu gue bungkusin nih siomay? Bisanya ngoceh doang.“ protes Ares geleng-geleng kepala.


Adithama memutar bola mata malas. Ia pun akhirnya turun tangan jua. Ares tidak menyangka kalau Adithama sudi membantu dirinya membungkusi siomay-siomay yang ia jual. Ares pikir Adithama cenderung merasa risih dan jijik. Apalagi rumah Ares terlihat kecil dan sempit. Bisa jadi orang seperti Adithama merasa sesak berasa disini.