![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
”Lu yakin kita bisa masuk ke ruang gym?” tanya Barra ragu. Disana termasuk tempat yang dijaga ketat oleh seorang penjaga yang juga merupakan siswa sekolah ini. Kabarnya siswa itu sangat galak.
”Liat aja~” sahut Ares percaya diri. Ia dan Barra pun menghampiri Keanu, si penjaga galak, segalak anjing liar. Ugh, Keanu malas sekali meladeni si Ares yang satu ini. Lagi? Siapa ini? Barra? Ah, yang dikeroyok Adithama beberapa waktu lalu ya?
”Paan?” cetus Keanu ketus.
"Santuy~” ucap Ares tersenyum penuh arti. ”Gue sama Barra mo masuk,”
”Gak bisa,”
”Gak bisa ya..” gumam Ares. Ia pun meraih ponselnya dari saku celana dan menunjukkan sebuah foto pada Keanu. Keanu langsung bangkit dengan mata membola setelah melihat foto tersebut. Darimana Ares mendapatkannya?
”Darimana lu dapet tuh foto?” tanya Keanu melotot-lotot. ”Ehm,” Ares berdehem. ”Gak darimana-mana~ Gue sendiri yang jepret,” ucap Ares. Itu adalah foto Keanu asli di luar penampilan culunnya di sekolah. Kalau di sekolah ia berpenampilan seperti seorang siswa sering dibully. Ugh, culun sekali. Lihatlah gigi kawat serta kacamata yang Keanu kenakan. Semua siswi mungkin berpikir 'jelek jijik'. Tapi, siapa sangka kalau semua itu hanyalah topeng belaka? Di luar Keanu persis seperti seorang artis dengan pakaian modis dan tanpa kawat gigi.
”Kalo gue sebarin keknya cewek-cewek bakal ngejer lu deh,” ucap Ares mengancam. Ares pun tersenyum penuh arti.
”Mau lu apaan?” Keanu tidak ingin berbasa-basi.
”Gue mo ngegym di dalem,”
Keanu menghela nafas pasrah. Kini kartu as berasa di tangan Ares. Bisa gawat kalau foto-foto dirinya itu sampai tersebar. Keanu sungguh tidak bisa membayangkan kalau dirinya dipuja-puji oleh banyak gadis. Bising, jijik, cih. Ia pun mengizinkan Ares dan Barra masuk ke dalam.
Lagi-lagi Keanu harus menahan diri untuk tidak marah. Ketenangannya kembali terusik oleh keberadaan makhluk berupa gadis-gadis berhamburan menuju ruang gym hanya untuk melihat duo Ares dan Barra. ”Sok kegantengan banget,” batin Keanu geleng-geleng kepala.
Ami berdiri di depan jendela kamar. Ia menatap selembar foto USG. Ya, Ami dinyatakan hamil. Kejadian di Bali beberapa waktu lalu ia lakukan di saat ia sendiri dalam masa subur. Itu artinya sudah dipastikan kalau janin di dalam kandungannya adalah anak Irfan.
”Ami.. Irfan di depan, nak,” seru Zada membuka pintu kamar Ami. Setelah kejadian hari itu. Irfan hampir setiap hari ke rumah Ami. Dia membawa apa saja yang dia bisa. Dari pakaian, skincare yang aman untuk bumil, tas, sepatu, pakaian bayi, dan lain-lain. Kali ini entah apa lagi yang ia bawa.
Hati Ami terasa berat hanya untuk menemui Irfan. Terkadang Ami memang mempermasalahkan latar belakang ekonomi Rakha. Namun, jauh dari dalam lubuk hati, Ami sangat sangat mencintai Rakha dengan tulus. Ami tidak kuasa menahan air mata. Ia sungguh merindukan Rakha berada di sisinya.
Menyesal? Sudah terlambat untuk menyesal. Ami tidak ingin menemui Irfan. Biarkan saja Irfan di bawah sana menunggu. Ami tidak sudi. ”Anak ini nggak boleh lahir,” batin Ami. Mata dan hatinya mulai menggelap. Ia kalap. Ia mencari-cari sesuatu di laci. Apa saja obat yang bisa membuat kandungannya keguguran.
”AMI!” seru Irfan. Irfan langsung memeluk Ami dengan erat. Jangan sampai Ami lepas kendali. Di lantai obat-obatan berhamburan. Beruntung Irfan datang tepat waktu sehingga Ami tidak sempat menelan obat-obatan itu.
”Gue gak mau lahirin anak lu Fan! Gue gak sudi!” bentak Ami dengan mata melotot tajam. Dada Ami terasa sesak sekali. Ia benci. Sungguh Ami sangat membenci Irfan. ”Lu udah ngancurin hidup gue Fan. Lu udah misahin gue sama Mas Rakha. Lu.. Lu udah..” Ami sesenggukan sambil memukul-mukul dada Irfan dengan keras.
Irfan diam. Kata maaf sudah tidak berlaku lagi disini. Apapun yang terjadi, Irfan bertekad untuk selalu berada di sisi Ami. Ia akan bertanggung jawab. Janin yang di kandung oleh Ami adalah darah dagingnya. Irfan juga tidak akan membiarkan Ami menyakiti calon anaknya nanti.
Tubuh Ami pun lunglai. Ia pingsan karena kelelahan menangis sambil sesenggukan. Irfan langsung menelepon seorang dokter langganan keluarganya untuk datang kemari. Irfan merebahkan Ami di ranjang. Sebelum Irfan keluar dari kamar Ami, ia mengecup kening serta tangan Ami sebentar.
Irfan keluar dari kamar Ami dan meminta seorang pembantu untuk merapikan kamar Ami yang berantakan. Di luar kamar, Yudi berdiri menatap Irfan tajam, hampir tidak berkedip sama sekali. Setuju tidak setuju, ini sudah terjadi. Yudi harus berlapang dada menerima kehadiran Irfan di keluarga ini.
”Kalian nikah setelah masa indah Ami selese. Dan kalian nikah lagi kalo calon cucu saya nanti udah lahir.” ucap Yudi dingin. Yudi masih belum sudi untuk menyebut dirinya 'bapak' atau 'papa' untuk Irfan. Berat hati ini menerima semua ini. Yudi masuk ke dalam menemani sang anak. Sedangkan Irfan berdiri termenung di depan pintu.
”Maaf,” gumam Irfan penuh sesal. Irfan tau kalau Yudi masih belum bisa menerima dirinya. Bagaimana pun ke depannya nanti, Irfan siap menanggung semuanya, entah itu cibiran, penolakan, semua akan Irfan terima.
”Maafin papa nak..” gumam Yudi mengecup kening sang anak. ”Maafin papa karena papa nggak bisa jagain kamu.. Papa salah.. Maafin papa sayang..” ucap Yudi tak kuasa menahan air mata ini. Ia pun menangis di samping puterinya. Yudi buru-buru mengusap sudut matanya ketika Zada dan seorang dokter masuk ke dalam.
Irfan, Yudi, dan Zada bersyukur kalau kondisi Ami baik-baik saja setelah diperiksa. Dokter hanya berpesan bahwa untuk tidak membuat Ami emosional. Itu artinya mereka harus ekstra untuk membuat Ami selalu dalam keadaan bahagia bagaimana pun caranya.
Di luar kamar, sang dokter menepuk pundak Irfan memberi semangat. Ia mengerti posisi sahabatnya, Irfan. ”Gue yakin lu bisa lewatin semua ini Fan,” ucap sang dokter tersenyum simpul. ”Thanks,” ucap Irfan berterima kasih.
”Miris banget idup gue,” gumam Ares. Saat ini Ares tengah berdiri di depan rumah Rakha. Ares bingung apakah ia harus masuk atau tidak. Duh, kok gue malah nerima tawaran dia ya?, batin Ares. Rakha itu terlalu baik. Susah sekali menolak tawaran dari orang yang terlalu baik seperti Rakha.
”Iya kak,” sahut Ares. Ares pun masuk ke dalam. Berantakan sekali, batin Ares. ”Nah, berantakan, kan? Kakak aja rada gimana gitu dek liatnya.. Hehe.. Maklum kakak pagi-pagi udah ngantor pulang sore, gak sempet beres-beres.”
”Kakak mau masak dulu.. Kamu beres-beres yang lain yah?” ucap Rakha. Ares pun mengangguk. ”Oh iya Res.. Gak usah sungkan masuk ke kamar kakak masuk aja..” teriak Rakha dari dapur.
Ares pun memulai aktivitas bersih-bersihnya. Pertama ia meletakkan pakaian kotor ke wadah khusus untuk pakaian kotor. Lalu, merapikan kasur serta membersihkan kasur dengan alat penyedot debu. Ares tertegun melihat seringkali figura bertengger manis di nakas. Foto Rakha bersama istri dan anaknya.
Kenapa dada Ares terasa sesak tanpa sebab. Rakha sudah bercerai hampir satu bulan lamanya. Tapi, mengapa ia masih menyimpan foto sang istri? Bukan menyimpan, melainkan memajang foto-foto sang istri di beberapa tempat.
Tidak ingin berlama-lama, Ares pun menyapu dan mengepel. Saat Ares mengepel lantai di ruang tengah. Tiba-tiba terdengar suara teriakan Rakha dari dapur. Ares lantas melepaskan gagang pengepel itu hingga terjatuh. ”Kak Rakha!” seru Ares. Ia melihat Rakha meringis. Satu jari Rakha terluka, karena tersayat pisau.
Ares khawatir bukan main. Ini di luar dugaan Rakha. Ares bisa sekhawatir itu juga pada Rakha? Ares langsung mengecup jari telunjuk Rakha yang berdarah sampai darahnya itu berhenti keluar. ”Biar saya aja yang masak kak. Kakak duduk aja disitu.” ucap Ares.
Ini mengingatkan Rakha pada Ami. Ya, Ami juga sekhawatir itu pada Rakha, ketika keduanya masih bersama. Rakha duduk di mini bar, di dapurnya sambil memandangi Ares. Rakha memejamkan mata sejenak. ”Itu Ares, Rakha, Ares.” batin Rakha merapalkan kalimat itu berulang-ulang dalam hati. Jangan sampai Rakha mengira Ares adalah Ami dan pada akhirnya ia kembali melakukan yang tidak-tidak pada Ares. Jangan sampai hal itu terulang kembali.
Beberapa menu masakan pun selesai dimasak. Ares dan Rakha makan bersama di meja makan. Sesekali Rakha curi-curi pandang. Masih terngiang sekali di ingatan Rakha akan raut muka khawatir Ares tadi. Sesaat hal itu membuat Rakha merasa ditemani oleh Ami. ”Kakak?” seru Ares.
”Hm?” sahut Rakha.
”Muka saya ada yang aneh yah kak?”
”Hm? Ng-nggak ada kok. Cuma..” ucap Rakha menyentuh sudut bibir Ares yang terdapat sedikit remah-remah makanan. Lalu, Rakha kecup jari jemarinya dan menelan remah-remah makanan itu. Ares terkejut atas aksi Rakha barusan. ”Ada yang nyangkut,” ucap Rakha lagi.
Ares dan Rakha saling bertatapan. Rakha tersenyum. Tiba-tiba jantung Ares berdegup kencang. Ini tidak bisa dibiarkan. Ares tidak bisa berlama-lama disini. Ini sungguh berbahaya untuk kesehatan jantungnya.
”Sakit?” seru Rakha.
”Hah? Nggak kok kak,”
”Tapi, kok muka kamu merah dek?”
”Hah? Ng-nggak kok kak.. Uhm.. Biasa gini mungkin kepanasan aja hehe. Saya mau cuci piringnya dulu ya kak?”
Di saat Ares sibuk mencuci piring dengan mengenakan sarung tangan karet, tiba-tiba Rakha berdiri di sebelah Ares, membantu Ares membilasi cucian piringnya. ”Biar saya aja kak,” ucap Ares. ”Nggak papa,” sahut Rakha.
”Dek..” gumam Rakha.
”Hm?” sahut Ares.
”Uhm.. Nggak ada..”
Selesai sudah pekerjaan Ares di rumah ini. ”Alhamdulillaah selese,” ucap Ares penuh rasa syukur. Ketika Ares hendak memutar badannya, entah bagaimana kaki Ares sedikit terlipat hendak terjatuh. Beruntung Rakha dengan sigap meraih pergelangan tangan Ares hingga membuat Ares dan Rakha saling berhimpitan. ”Hati-hati,” ucap Rakha.
Mata itu. Ugh, Ares seakan ditarik bak magnet saja oleh tatapan itu. Sebuah tatapan nan lembut. Oh tuhan, jangan engkau buat Ares terjebak dalam perasaan seperti ini. Kenapa mata Ares tidak bisa lepas dari tatapan itu. Rakha pun begitu. Ia juga sama sekali tidak melepaskan tatapan matanya dari Ares. Bahkan, Rakha semakin mempererat rengkuhan tangannya di pinggul Ares.
Saat Ares hendak melepaskan diri. Rakha semakin menahan Ares dengan kuat. Setan mana yang telah merasuki Rakha. Hingga akhirnya Rakha pun berani mengecup bibir Ares dengan lembut. Ingin Ares berontak. Tapi, mengapa ia merasa tidak berdaya? Bahkan kini ia mengikuti permainan Rakha.
Ares bersender di dapur. Ciuman itu semakin menuntut. Rakha tidak bisa mengendalikan diri. ”Saya bukan Ami kak..” seru Ares. Rakha pun menghentikan aksi gilanya. Ia menatap mata Ares lamat-lamat. ”Saya Ares, bukan Ami.” ucap Ares sekali lagi menegaskan bahwa dirinya bukanlah Ami seperti yang difantasikan oleh Rakha.
”Maaf,” ucap Rakha. Ia pun melepaskan diri dari Ares. ”Kamu bisa pulang,” ucap Rakha langsung melesat ke kamar setelah itu.