![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Suasana hati Ares sangat berbunga-bunga sekali hari ini. Rakha menyewa mobil dan keduanya melakukan perjalanan menuju Pantai Selong Belanak. Benar-benar butuh perjuangan untuk bisa sampai kesini, karna harus melewati jalanan yang terjal dan berliku. Ares berkali-kali meringis ketakutan sambil memegang tangan Rakha melihat medan yang begitu menguji nyali. Sedangkan Rakha? Dia tersenyum saja seolah tidak terjadi apa-apa. Ya, Ares akui, Rakha cukup lihai dalam menyetir. Tapi, tetap saja membuat Ares gemetar ketakutan.
Setelah kurang lebih 2 jam melakukan perjalanan dari pusat Kota Mataram, akhirnya Ares dan Rakha tiba di Pantai Selong Belanak. Ares berpikir kalau tiket masuk kesini sangatlah mahal. Tapi, sungguh tidak disangka-sangka, itu hanya dipungut 5000 rupiah saja per orang. Sebelum menjelajahi Pantai nan indah dengan air yang jernih membiru, Rakha menyewa dua kamar dulu untuk menginap satu malam disini. Satu kamar untuk Ares dan Rakha, dan satunya lagi untuk dua fotografer yang sudah Rakha sewa untuk prewedding keduanya.
Sebelum melakukan pemotretan, Ares dan Rakha berganti pakaian terlebih dahulu. Dan pada saat Ares melepas semua yang ia kenakan, tiba-tiba Rakha memeluk Ares dari belakang, dan menciumi pundaknya dengan penuh gairah. Rakha sedang bergairah?, batin Ares. “Mas?“ seru Ares. Rakha tidak menyahut sama sekali. Hah, kenapa rasa lelah ini malah membuat Rakha begitu bergairah? Melihat tubuh Ares yang atletis itu, Rakha benar-benar tidak tahan.
Tanpa pemanasan berarti, Rakha langsung memasukkan sang adik ke dalam lubang itu. “Ugh,“ gumam Ares sambil menggigit bibir bagian bawah. Dalam posisi berdiri seperti ini, Rakha memasukkan sang adik ke dalam sana? “Gini doang kok sayang, mas nggak bakalan gerak-gerakin, cuma mau punya mas di dalem kamu aja. Hmmm,“ ucap Rakha sambil menghirup aroma tubuh Ares dalam-dalam.
“Mmmhh aahhhh,“ gumam Ares. Meski begitu tetap saja membuat Ares mendesis antara menahan perih dan nikmat. Terlebih itu tanpa pelumas sama sekali. Bisa kalian bayangkan betapa perihnya saat milik Rakha memasuki Ares. Tanpa menggerakkan pinggul sama sekali. Begini saja sudah cukup. Hm, kenapa aroma tubuh Ares terasa begitu memabukkan?, batin Rakha. Ares memegang pergelangan Rakha menahan sensasi ini. Di dalam sana Ares merasa milik Rakha kian membesar. Itu artinya milik Rakha saat ini sedang keras dan menegang seperti tongkat saja. “Aaakkkkhhhhh,“ pekik Ares saat Rakha menarik miliknya tiba-tiba. Ah, tidak, itu berdarah sedikit, batin Rakha.
“Mas olesin salep dulu sayang~ Tunggu,“ ucap Rakha mencari-cari sesuatu di dalam tas. Ketemu! Rakha pun membersihkan lubang itu dari noda darah dengan kapas yang sudah dibasahi dengan antiseptik. “Uuuhhh aaahhhhh,“ gumam Ares. Rakha tersenyum penuh arti seolah ia memiliki siasat jahat. Ya, Rakha iseng memasukkan satu jaringan dan mengobrak-abrik lubang Ares tanpa pelumas sama sekali. Oh tuhan, ini sungguh perih sekali.
“Maahhss udah pe-per-iih mahsss hmmm ngghhh hiks,“ gumam Ares lirih sampai-sampai menitikkan air mata. Sudah, batin Rakha. Rakha tidak ingin membuat Ares kesakitan lebih dari ini. Tunggu kegiatan foto memotong selesai saja. Baru Rakha meminta Ares untuk memuaskan dirinya.
Suasana di Pantai Selong Belanak ini sangat ramai sekali. Disana ada banyak wisatawan asing yang sedang berselancar dengan sangat lihai. Ares berdecak kagum. Bagaimana bisa mereka menari-nari di atas ombak seperti itu? Ares pun memofo para peselancar itu dengan Rakha yang memeluknya dari belakang. Di pose inilah sang fotografer mengambil gambar. Mereka sungguh pasangan yang sangat romantis.
Sesi terakhir prewedding hari ini ialah menunggu matahari hampir terbenam. Ya, Ares dan Rakha ingin berfoto dengan latar belakang sunset. Sambil menunggu matahari terbenam, Ares dan Rakha ingin mengisi perut yang sudah mulai keroncongan di sebuah warung tradisional beratapkan ilalang. Suasana di pantai ini sungguh seperti Hawaii saja. Hm, pantas saja banyak orang yang menyebutnya Hawaii Lombok.
“Waaahhh,“ gumam Ares berdecak kagum saat melihat beberapa hidangan seperti Sate Beluyak, Sate Tanjung, dan Sate Rembiga tersaji di atas meja. Hah, semua ini sungguh amat sangat menggugah selera. “Enakan makan kamu Res kalo gini mah,“ goda Rakha menatap Ares dengan tatapan nakal. “Mas!“ seru Ares sebal. Dasar Mas Rakha, masa nggak tau tempat gitu sih ngomongnya?, batin Ares.
Rakha terkekeh. “Malem ini puasin mas sayang~“ goda Rakha membuat kedua pipi Ares merah sempurna. Ares mengerling kiri dan kanan. Ia takut kalau-kalau ada orang lain yang mendengar perkataan mesum Rakha. Uh, apa-apaan sih Mas Rakha ini?, batin Ares. “Mas! Udah ah! Aku laper mau makan!“ ucap Ares. Kali ini Ares benar-benar sebal. Lihatlah kedua alis Ares yang saling bertautan itu. Ares benar-benar terlihat sangat menggemaskan, batin Rakha.
Sebentar lagi Ares dan Rakha akan menikah. Di sore hari ini saat matahari hendak menyembunyikan diri dari sang pertiwi. Dia sejoli itu berputar-putar dengan mesra di pesisir pantai. Pasir putih nan lembut serta air jernih yang kebiru-biruan itu membuat keduanya betah untuk berlama-lama disini. Kini keduanya mengambil pose terakhir pada hari ini, yaitu dengan saling mengecup bibir masing-masing, yang dimana Ares mengalungkan tangannya di leher Rakha, dan Rakha yang melingkarkan tangannya di pinggul Ares. Setelah itu keduanya saling tersenyum lebar dan bahagia.
“Papa bener-bener udah kehilangan muka, ma.“ ucap Yudi. Bella sampai-sampai harus diasuh oleh orang lain. Dan itu adalah Darren, si keturunan bangsawan. Sebagai seorang kakek, Yudi, merasa dirinya bukanlah kakek yang baik, membiarkan cucu sendiri harus menderita tanpa kasih sayang seorang ibu. Bahkan, Zada hanya memberikan Bella susu formula. Hah, di usia seperti itu tentu asi adalah yang utama. Di sisi lain, Yudi juga sependapat dengan Darren, membiarkan Bella besar di tangan Zada sama saja dengan melahirkan Ami kembali pada diri Bella. Dan itu akan menjadi lebih buruk lagi.
Zada geram dan Zada malah menyalahkan Rakha. “Semua ini salah Rakha, pa.“ cetus Zada tidak terima. Heh, Yudi mendengus. Sekarang apa lagi? Untuk apa Zada menyalahkan Rakha yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya itu? “Berhenti nyalahin Rakha, ma. Dia sama sekali nggak salah.“ ucap Yudi. “Papa belain Rakha? Ya jelas, kalo mama di posisi Ami pun, mama pasti jijik pa sama Rakha.“ ucap Zada. Yudi mengepalkan tangan. “Cukup ma!“ kali ini suara Yudi meninggi. Zada tidak pantas menjelek-jelekkan Rakha seperti itu, batin Yudi.
Yudi bangkit dari kursi yang ia duduki. “Papa pamit mau ke rumah Rakha. Assalamu'alaikum.“ ucap Yudi. Lalu, ia pun segera pergi menuju rumah Rakha. Zada? Jangan ditanya bagaimana geramnya ia saat ini. “Menantu biadab itu. Bikin rumah tangga orang rusak aja.“ gumam Zada.
Tiba di rumah Rakha, Yudi pun langsung memencet bel rumah sembari mengucapkan salam. “Wa'alaikumussalam,“ sahut seseorang dari dalam. Yudi terkejut bukan main saat ia melihat siapa yang membukakan pintu untuk dirinya. “Ares?“ seru Yudi. Ares juga tidak kalah terkejut. Oh tuhan, bagaimana ini?, batin Ares. “Pak.. Pak Yudi?“ seru Ares.
Ares pun mempersilahkan Yudi masuk ke dalam. “Sayang? Siapa?“ seru Rakha berjalan keluar dari kamar. “Papa?“ gumam Rakha terkejut akan kedatangan Yudi kemari. Ares dan Rakha saling bertatapan beberapa saat hingga akhirnya Rakha dan Yudi pun duduk bersama di ruang tamu. Sedangkan Ares di dapur membuatkan teh hangat dan beberapa cemilan.
“Bisa kamu jelasin ke papa, nak?“ cetus Yudi. Yudi sama sekali tidak marah ataupun berniat ingin mencaci maki Rakha. Sama sekali tidak. Yudi hanya butuh penjelasan dari Rakha. “Uhm.. Iya pa.. Ares.. Dia calon istri Rakha,“ ucap Rakha to the poin. Hah, sungguh tidak disangka-sangka jikalau Rakha jatuh hati kepada Ares, putera tertua Camilla.
“Rakha.. Jangan takut, papa nggak bakalan marahin kamu kok,“ ucap Yudi tersenyum tipis. Ini memang sangat mengejutkan. Tapi, mau bagaimana lagi? Bukankah rasa cinta dan sayang tidak bisa dicegah? Entah itu kepada seorang perempuan ataupun lelaki. “Maafin Rakha, pa.“ ucap Rakha menundukkan kepala. “Seharusnya papa yang minta maaf, Rakha.“ ucap Yudi.
Rakha pun mengangkat kepalanya sedikit. Ia tatap wajah sang ayah mertua. Entah mengapa seperti tersimpan banyak kesedihan disana. “Maafin papa, karna nggak bisa didik Ami dengan baik, nak.“ ucap Yudi penuh sesal. Sungguh Yudi malu sekali. Sebagai orang tua ia merasa gagal mendidik anak sendiri. Mulai dari Ami yang hamil dengan pria lain sampai ia yang tidak mau menyusui Bella. Ini sungguh kejam. Bahkan, Yudi tidak tau lagi harus berbuat apa. Belum lagi Zada yang seolah membenarkan tindakan Ami dan dengan senang hati menerima pinangan Irfan, seolah-olah sosok Irfan lah yang diidam-idamkan dari dulu.
“Papa nggak salah. Ini semua udah takdir allah pa. Mungkin Ami sama Rakha emang udah ditakdirin berpisah. Jadi, Rakha mohon papa jangan ngerasa bersalah sama Rakha.“
“Tapi, nak.. Jujur papa nggak bisa berbuat apa-apa lagi ke Ami.. Kamu tau Mama Zada kek gimana.. Mau semarah apapun papa, dia nggak bakalan dengerin papa,“
“Pa.. Mungkin Irfan lebih bisa bahagiain Ami dan mama dibandingin Rakha.. Rakha nggak papa pa, Rakha udah bahagia sama Ares,“
Beberapa saat kemudian Ares pun datang dengan nampan berisi dua gelas teh hangat dan cemilan. Niat Ares ingin segera berlalu dari sana karna tidak ingin ikut campur akan urusan antara Rakha dan Yudi. “Mau kemana Ares? Duduk sini bareng sama om,“ seru Yudi. “Nggak papa duduk aja, Ares.“ timpal Rakha saat ia melihat Ares seperti ragu-ragu antara ingin duduk atau tidak. Ares pun duduk di sebelah Rakha.
Irfan langsung lari menuju dapur saat ia mendengar suara benda terjatuh. “Ami!“ seru Irfan terkejut bukan main. “Hah?“ gumam Ami. “Kamu nggak papa?“ tanya Irfan khawatir. Ami tidak sengaja menjatuhkan gelas kaca itu, karna ia terkejut setelah melihat foto yang dikirimkan oleh seseorang kepada dirinya.
Ami berusaha tersenyum meskipun terlihat dipaksakan. “A-aku nggak papa kok, Fan.“ sahut Ami menelan ludah sudah payah. Sorot mata Ami terlihat tidak fokus. Irfan yakin pasti sesuatu telah terjadi. “Kamu beneran nggak papa?“ tanya Irfan lagi. Ami pun memegang tangan Irfan. Ia mencoba meyakinkan Irfan kalau dirinya memang baik-baik saja. “Aku nggak papa, Fan. Kamu nggak perlu khawatir,“ sahut Ami.
“Fan, aku mau istirahat,“ ucap Ami dengan sorot mata yang sendu. Suara Ami terdengar sedikit bergetar meskipun tidak terlalu ketara. Irfan pun mengantar Ami ke kamar untuk istirahat. “Ami.. Kalo ada apa-apa panggil aku aja, ya? Aku nggak mau kamu kenapa-napa,“ ucap Irfan. Ami pun menganggukkan kepala pelan. Irfan usap pucuk kepala Ami lalu mengecupnya sekilas. “Kamu istirahat aja,“ ucap Irfan lalu ia pun meninggalkan Ami sendiri.
Tangan Ami bergetar. Ia lihat kembali layar hp nya dan melihat foto itu sampai-sampai ia zoom supaya terlihat jelas. Sungguh dada Ami terasa sesak melihat foto ini. Di foto ini Yudi, sang ayah, terlihat makan bersama dengan seorang perempuan paruh baya, dan seorang laki-laki. Mereka terlihat seperti keluarga bahaya. Makan bersama dan tertawa bersama.
Berbeda dengan saat Yudi makan bersama Ami dan Zada. Mereka memang tertawa tapi entah mengapa tidak sebahagia ini. Di foto ini Yudi terlihat seperti tanpa beban. Hah, tidak terasa bulir-bulir air mata ini mulai berjatuhan. Ami tidak kuasa menahan perih di dada. Sejenak ia takut jikalau sang ayah akan meninggalkan dirinya dan sang ibu. Lalu, hidup bahagia dengan keluarga baru. Tidak, jangan sampai itu terjadi. Ami harus menanyakan hal ini secara langsung dengan sang ayah nanti.
Jangan sampai Ami terlihat lemah. Ami harus kuat. Musuh selalu tertawa di atas yang lemah. Jangan biarkan hal itu terjadi. Ami harus menyelidiki siapa dia orang di foto ini. “Gue nggak bakal biarin kalian ngancurin keluarga gue sendiri,“ batin Ami sambil mengepalkan tangan.
“Barra,“ seru Dahlia dari luar kamar. “Keluar dulu sayang,“ seru Dahlia lagi. Hm, Barra ini pasti sedang asyik bermain game di dalam. Dia tidak akan keluar kamar dengan sekali panggil saja. Jadi, harus berkali-kali. “Kenapa ma?“ tanya Barra saat ia membukakan pintu. “Mama sama papa mau berangkat dulu,“ ucap Dahlia.
Kedua alis Barra berkerut. Barra keheranan. Memangnya ayah dan ibunya mau pergi kemana? Ini sudah maghrib dan mau malam hari. “Mama sama papa mau ke pesta nikahannya anak temen bisnis papa. Jauh banget Bar dari sini, kalo kemaleman mungkin nginep di hotel semaleman.“ ucap Dahlia. Deg, Barra mendadak merinding sampai-sampai ia menelan ludah susah payah.
Ya, Barra itu takut sendirian di rumah, apa lagi ditinggal sendirian pada malam hari. Oh tuhan, hantu macam apa yang akan mengganggu Barra saat sendirian? Berada di kamar sambil menyetel musik keras-keras pun tidak akan berhasil mengusir rasa takut. “Mama heran Bar, kamu ini udah gede mau lulus pula masih takut sendirian di rumah?“ ucap Dahlia sarkasme. “Ma.. Barra ikut yah??? Errr..“ ucap Barra. “Nggak bakalan mama izinin kamu ikut Bar. Jangan ngerepotin mama deh kalo kamu ngerengek minta cepet-cepet pulang.“ ucap Dahlia lagi membuat Barra tertohok.
“Ya udah mama suruh aja Bi Ijah nginep disini temenin aku,“ ucap Barra. Dahlia tidak habis pikir bagaimana bisa Barra berpikiran untuk meminta Bi Ijah menginap di rumah ini? Sementara Bi Ijah juga memiliki keluarga yang harus diurus? “Kamu kira-kira dong Bar kalo ngomong. Ya kali mama suruh Bi Ijah nemenin kamu disini.“ ucap Dahlia. “Udah ah mama mau berangkat. Lagian mama udah nyuruh Keanu disini nginep temenin kamu.“
“Hah? Kea-Keanu ma? Kok kok Keanu sih?“
“Trus siapa lagi? Bi Ijah? Jangan ngada-ngada deh, udah ah jangan ribet bikin mama telat aja kamu Bar.“
Dahlia pun berlalu pergi meninggalkan Barra sendiri di rumah. Keanu? Oh tuhan, kenapa harus Keanu? Si mesum itu pasti akan berulah, apa lagi ditinggal berdua di rumah sebesar ini? Kalau Barra ingat-ingat lagi, tatapan mata Keanu itu persis seperti pria-pria hidung belang di pinggir jalan, yang suka menggoda gadis-gadis cantik yang lewat. “Iyuh,“ gumam Barra merasa ngeri.
Di ambang pintu rumah Barra mondar-mandir tidak karuan. Jujur saja Barra gelisah. Jangan sampai Keanu benar-benar datang. Mudah-mudahan Keanu terpeleset di toilet, terus kakinya terkilir sampai harus di gips, jadi tidak perlu menginap disini, kan?, batin Barra. Oh Barra, sejak kapan kamu berdoa'a dengan do'a seburuk itu untuk orang lain? Uh, Barra jadi kesal.
Suara bel rumah dipencet pun terdengar. “Keanu?“ gumam Barra. Ia pun melihat keluar dari balik tirai jendela. Ia geser sedikit. Sial! Itu benar-benar Keanu!, batin Barra. Bahkan, di tangannya juga ada bantal guling keramat. Oh tidak, ini bencana besar, batin Barra.
“Lama banget? Padahal lu mondar-mandir disitu?“ seru Keanu saat Barra membukakan pintu untuk dirinya. Hah? Darimana Keanu bisa tau? Apakah Keanu memiliki indra keenam?, batin Barra. Keanu pun langsung menoyor jidat Barra. “Jangan mikir macem-macem. Suara kaki lu kedengeran ampe luar.“ ucap Keanu.
Keanu menatap Barra sebentar lalu langsung masuk ke dalam menuju kamar Barra tanpa Barra persilahkan sebelumnya. “Nggak sopan banget tuh anak? Rumah siapa coba?“ gumam Barra geleng-geleng kepala. Barra pun melihat-lihat jalanan di luar sana. Barra bergidik ngeri karna hari semakin gelap. Ia pun langsung menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.
“Loh? Tuh anak kok ngilang? Perasaan tadi ke kamar deh?“ gumam Barra saat ia masuk ke dalam kamar. Tapi, tidak mendapati Keanu sama sekali. “Kea?“ seru Barra memanggil-manggil Keanu. Sama sekali tidak ada sahutan. Oh tuhan, Keanu kemana? Sesaat Barra merasa takut kalau-kalau ada hantu lewat di belakang. Bahkan, Barra sampai harus memutar badan berkali-kali untuk memeriksa apakah ada sosok makhluk tak kasat mata atau tidak. “Kea? Lu lu dimana?“ seru Barra mulai ketakutan.
Terdengar suara percikan air di kamar mandi. Di film-film horor biasanya, kamar mandi menjadi salah satu tempat makhluk tak kasat mata itu berdiam diri. “Kea?“ seru Barra mendekati pintu kamar mandi pelan-pelan. Sama sekali tidak ada tanggapan dari Keanu. Ya ampun, Keanu menghilang kemana?, batin Barra. Tiba-tiba suara percikan air itu menghilang. Hantu?, batin Barra.
Sreeettt. Pintu kamar mandi pun terbuka menampakkan sosok Keanu yang baru saja selesai mandi dan mengenakan handuk sepinggul. “Ha-hantu!“ seru Barra saat ia seperti telah menabrak tubuh seseorang. “Gue bukan hantu,“ ucap Keanu datar. Keanu geleng-geleng kepala. “Kea-Keanu? Kok lu nggak bajuan?“ tanya Barra. “Lu nggak liat? Gue abis mandi,“ sahut Keanu.
Keanu pun membuka lemari pakaian Barra dan mengambil dalaman, celana pendek, serta kaos sesuka hati. Tanpa izin pula. “Lu?! Gue masih disini oon! Lu ngapain ganti baju di depan gue, hah!?“ seru Barra menutup mata dengan telapak tangannya. “Nggak usah gitu deh Bar. Lu udah puas liat punya gue malem itu. Gue udah bobol lu juga, kan? Cih! Gaya lu pake tutup mata segala? Tapi, lu malah minta nambah?“ ucap Keanu sarkasme sambil tersenyum remeh. Uh, menyebalkan sekali iblis yang satu ini?, batin Barra.
“Gue laper mo makan. Lu siapin gih sana.“ ucap Keanu memerintah. “Emang gue pikirin? Lu kalo mo makan makan aja sana. Nggak usah nyuruh-nyuruh gue siapin buat lu segala. Ogah gue. Kek nggak punya tangan aja.“ sahut Barra ketus. Ia pun rebahan di atas ranjang dengan posisi menunggungi Keanu sambil bermain game. “Oh? Jadi, lu mo biarin gue siapin makanan gue sendiri? Gitu?“ seru Keanu. Hehe, Keanu menyeringai.
Barra diam saja saat ia merasa seseorang naik ke atas ranjang. Peduli apa Barra? Cih! Tiba-tiba Keanu memeluk Barra dari belakang. “Jangan macem-macem.“ ucap Barra memperingatkan. “Lu tadi minta gue siapin makanan gue sendiri, kan? Heh,“ ucap Keanu. Keanu mempererat dekapannya. Ia kunci tubuh Barra dengan melingkarkan kakinya di atas tubuh Barra. Keanu jilati leher dan daun telinga Barra. Uh, ini sangat menggelikan, batin Barra. “Aaahhhh ummmhhh,“ gumam Barra tidak mampu menahan rasa ini.