ARES [BL]

ARES [BL]
ARES 23



Hampir setiap hari Yudi dan Zada bertengkar. Zada berkali-kali meminta Yudi untuk bisa menerima dan menyambut Irfan dengan baik di keluarga ini. Namun, Yudi menolak mentah-mentah. Bagi Yudi sampai kapanpun Rakha tetaplah menantunya yang terbaik.


Rakha memang bukanlah orang kaya raya. Tapi, dia mampu menghormati seorang wanita. Irfan? Cih! Mendengar namanya saha Yudi jijik sekali. Gara-gara Irfan, masa depan rumah tangga Ami dan Rakha harus hancur. Belum lagi Bella yang nantinya dibesarkan tanpa orang tua lengkap. Bagaimana perasaan Bella ketika besar nanti saat mengetahui kedua orang tuanya telah bercerai?


”Bu, tolong jangan paksa bapak buat nerima Irfan di keluarga ini. Bapak cuma anggap Irfan sebagai seseorang yang bertanggung jawab atas apa yang sudah dia perbuat sama Ami. Nggak lebih.”


”Irfan itu baik, pak. Dia sudah mau bertanggung jawab aja itu sudah cukup mencerminkan kalo dia itu orang baik-baik.”


”Orang baik-baik? Kalo dia orang baik dia nggak bakalan manfaatin Ami dalam kesempitan, bu. Bapak tau, ibu nerima Irfan, karena Irfan itu anak pengusaha kaya raya. Jangan ibu kira bapak nggak tau.”


Di luar beberapa sahabat Ami datang. Mereka berniat ingin menjenguk Ami sekaligus meminta maaf. Ami memang tidak menyalahkan mereka ataupun menuntut permohonan maaf. Namun, perasaan bersalah itu tetap saja ada di hati mereka. Hidup dihantui oleh rasa bersalah, rasanya tidak ada sedikit pun ketenangan di dalamnya.


Di rumah ini pembantu-pembantu lama dipulangkan untuk sementara. Sedangkan untuk bersih-bersih, Yudi sengaja mencari pembantu baru tapi dibayar sistem harian dan dipanggil tiap kali perlu saja. Ini untuk menjaga hubungan baik keluarga besar. Yudi, sebagai kepala rumah keluarga, tidak ingin aib dan masalah keluarganya diketahui oleh orang lain. Termasuk para pembantu yang bekerja di rumah ini.


Satpam di depan meminta nona-nona ini untuk menunggu. Disana ada Belinda, Cheesy, dan Dewi. Mereka tidak lantas langsung dipersilahkan masuk. Mereka harap-harap cemas. ”Maaf, tuan, itu ada tamu untuk Nyonya Ami.” ucap si satpam. Yudi melihat ke arah pintu gerbang. Itu adalah teman-teman Ami saat berlibur di Bali kemarin. Untuk apa mereka kemari?, batin Yudi. Kedua alis Yudi saling bertautan.


Yudi pun menyusul ke depan pintu gerbang. Yudi menatap tiga wanita ini dengan tatapan sinis. Mereka bertiga sama-sama menelan ludah susah payah. ”Permisi om,” seru Belinda menyapa. ”Errr.. Kami mau ketemu Ami om,” ucap Cheesy ragu-ragu. Lebih tepatnya ia sedikit takut.


”Pergi kalian,” ucap Yudi mengusir. Mereka bertiga terkejut melihat reaksi Yudi, ayah Ami. Oh tuhan, semengerikan itu kah ayah Ami kalau sudah marah? Bagaimana ini? Cheesy menyenggol Dewi. Ia memberi kode supaya Dewi berbicara sepatah dua patah kata secepatnya. ”Saya mohon om, izinin kami ketemu sama Ami.” pinta Dewi memohon dengan amat sangat.


”Pergi,” ucap Yudi ketus. Apapun alasan mereka, Yudi tidak mau dengar. ”Satu hal lagi, bilang sama orang tua kalian, kalo saya secara resmi memutus kerja sama, dan menarik investasi saya kembali.” ucap Yudi. Mereka bertiga terkejut bukan main. Bagaimana ini? Jangan sampai pemutusan kerja sama ini menjadi perang dunia ketiga antara mereka dan keluarga.


”Om! Om! Dengerin kita om!” teriak Belinda. Ugh, kalau orang tua Belinda tau, bisa-bisa semua fasilitas yang selama ini ia dapatkan akan dicabut dan yang paling mengerikan lagi, mungkin Belinda akan dinikahkan dengan lelaki yang sama sekali tidak ia cintai.


Yudi masuk ke dalam begitu saja. Ia tidak ingin mendengarkan penjelasan mereka dalam bentuk apapun. Berteman dengan sesama anak kawanan bisnis juga tidak menjamin berakhir dengan baik dan membawa kebaikan pula. Hah, Yudi benar-benar mengutuk mereka sudah mendidik anak mereka sendiri seperti itu, yang kerjaannya cuma bisa menjerumuskan orang lain.


Irfan mendorong kursi roda untuk Ami. Irfan ingin Ami mengenal keluarganya sendiri sedikit demi sedikit. Sedari tadi Ami diam tanpa ekspresi. Dari sorot mata Ami, Irfan mampu melihat kemarahan yang amat besar. Irfan tau itu. Ia hanya berpura-pura tidak tau saja.


Di depan pintu ia disambut oleh kedua orang tuanya dan beberapa sanak keluarganya yang lain. Ami disambut sukacita oleh mereka. Namun, berbeda dengan Ami yang menunjukkan ekspresi tidak suka. Irfan menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ia memberi kode pada seluruh anggota keluarganya untuk bisa memaklumi sikap Ami. Ami butuh waktu. Itu pasti.


Suasana rumah ramai sekali. Mereka sengaja berkumpul disini, karena sebelumnya Irfan memberitahukan kalau Ami akan menginap disini beberapa hari. Setidaknya dengan kehadiran sanak keluarga Irfan, Ami tidak akan kesepian.


Seorang anak kecil lelaki bermata kebiru-biruan memegang tangan Ami sambil tersenyum lebar. ”Na-ma tan-te si-a-pa?” tanya anak lelaki itu terdengar tidak terlalu fasih berbahasa indonesia. Ami masih membuang muka. Ia tidak sudi menatap satu atau lebih anggota keluarga Irfan.


Anak kecil itu memberikan sebiji permen dan menutup tangan Ami menjadi posisi menggenggam. ”Don't be sad again mom, i'll be here for you.” ucap anak kecil itu. Ami langsung menoleh. Anak kecil itu pun langsung tersenyum lebar ketika kedua matanya bertemu dengan kedua mata Ami.


”Maaf ya nak Ami? Semua orang tua perempuan disini tuh dipanggil ibu semua sama dia. Tolong maklumin ya? Soalnya


ibunya baru aja meninggal dunia.” ucap Ibu Irfan.


Ah, begitu rupanya. Bagaimana bisa anak sekecil ini tersenyum begitu lebar, di saat ia sendiri baru saja kehilangan ibu tersayang di usia yang masih kecil? ”Nama kamu siapa?” tanya Ami mulai tertarik dengan anak kecil itu. Anak kecil itu diam sejenak mencerna kata-kata Ami. ”Jayden Scott! Tan-te bi-sa pang-gil a-ku Jay-den.” sahut Jayden.


Ami tersenyum samar melihat tingkah Jayden yang amat sangat menggemaskan. Ami tidak bisa membayangkan kalau ia sendiri berada di posisi Jayden dan kehilangan seorang ibu. Bahkan jika Ami bergelimpangan harta. Ia tidak akan mampu menghapus kesedihan itu. Tapi, anak sekecil Jayden masih bisa seceria itu? Apa kabar Ami yang sudah dewasa dan memiliki keluarga lengkap?


”Udah siap dek?” seru Rakha.


”Udah kak, ayok!” sahut Ares.


”Semangat banget?”


”Kan jemput inak sama amak? Trus Bayan sama Icha juga.”


Ares dan Rakha duduk di kursi mobil bagian belakang. Rakha secara khusus mencarter mobil untuk menjemput kedua orang tua dan adik Ares di terminal. Ini sebagai bentuk pendekatan Rakha pada keluarga Ares. ”Oh iya kak,” seru Ares. ”Hm?” sahut Rakha. ”Kasih atau sama inak amak nanti gimana?” tanya Ares.


”Mungkin satu atau dua hari ke depan, dek. Soalnya papa mama kamu juga baru pulang hari ini, kan? Kakak nggak mau buru-buru ngasih tau, soalnya kondisinya juga papa sama mama kamu lagi capek-capeknya.”


”Hmm~”


”Jangan marah ya???”


”Nggak.. Nggak marah kok.. Siapa juga yang marah?”


Ares fokus pada ponselnya sambil memasang earphone mendengarkan musik. Kalau Rakha lebih memilih tidur sebentar. Dari rumah ke terminal memakan waktu hampir satu jam. Pun Ares juga sedikit mengantuk. Ia pun merebahkan kepalanya di pundak Rakha.


Setelah turun dari mobil, Ares langsung muntah-muntah. Maklum Ares tidak terbiasa naik mobil. Rakha memijit tengkuk leher Ares. Ia oleskan minyak aroma terapi supaya rasa mual Ares berkurang. ”Coba kita ke warung dulu dek. Minum yang anget-anget supaya perut kamu enakan.”


Sambil menunggu kedatangan Badrun dan Camilla, Ares dan Rakha duduk di sebuah warung dan memesan dua gelas teh hangat. Ponsel Ares berdering. Dari Inak. ”Halo inak?” sahut Ares. ”Kamu dimana Ares?” tanya Camilla. ”Lagi di warung inak~ Sama Kak Rakha.” sahut Ares.


”Tunggu Res, inak sama amak kesitu.” sahut Camilla dari seberang sana. Saat ini Badrun, Camilla, Bayan, dan Icha baru saja turun dari bis. ”Yuk, pak.” seru Camilla. ”Tadi Ares bilang lagi dimana, bu?” tanya Badrun. ”Katanya lagi di warung, pak.” sahut Camilla sambil menggendong Icha. Untung saja Bayan bukan anak manja, sehingga ia tidak pernah protes minta digendong, tiap kali Camilla sibuk menggendong Icha.


Badrun dan Camilla membawa banyak bawaan. Rakha langsung membantu menurunkan karung yang digendong di punggung Badrun. ”Loh? Ares kenapa? Kok pucet?” tanya Badrun. ”Abis muntah-muntah, pak.” sahut Rakha. Saat ini rasanya Ares tidak nafsu sekali untuk berbicara sepatah dua patah kata. Perutnya mual sekali.


”Itu muka ganteng percuma Res kalo nggak tahan naik bis ato mobil,” ucap Camilla membuat Ares tertohok. Badrun, Camilla, dan Rakha pun menertawai Ares. Beginilah nasib anak tertua, harus siap dihina dan ditertawai, batin Ares.


”Minum dulu pak bu,” ucap Rakha. Badrun dan Camilla pun duduk beristirahat sebentar melepas penat. Ares kembali mengoleksi perut serta tengkuk lehernya dengan minyak aroma terapi. Hah, seger-seger, batin Ares. Perutnya memang sudah agak enakan. Tapi, ia yakin sepulangnya nanti ke rumah, pasti Ares muntah lagi.


”Bawa apa inak? Kok banyak banget?” tanya Ares melihat kedua orang tuanya membaww banyak bawaan. Perasaan pas sebelum berangkat beberapa waktu lalu, bawaan kedua orang tuanya sedikit sekali. Tapi, ini sampai dua karung besar dan satu karung kecil.


”Biasa Res.. Kakek kamu tuh suka nyuruh bawa sayur cabe beras segala macem, kan? Itu juga ada cemilan keripik kue uh masih banyak lagi.” ucap Camilla.


”Trus keadaan nenek gimana?” tanya Ares lagi.


”Alhamdulillaah Res udah mendingan.. Cuman susah makan aja..”


”Icha nya biar saya yang gendong aja, bu.” ucap Rakha melihat Camilla nampak kesusahan minum makan sambil menggendong Icha. Icha pun beralih gendongan dari Camilla ke Rakha. Icha mencubiti pipi Rakha gemas. Namanya saja cubitan anak kecil, sudah pasti tidak sakit sama sekali. ”Dek, kakaknya jangan di cubitin, sakit loh nanti.” tegur Camilla. ”Nggak papa, bu.” sahut Rakha.


”Kak kak kak kakak gendong!” pinta Bayan ingin digendong oleh Ares. ”Hap,” seru Ares. ”Berat banget kamu dek?” ucap Ares bercanda. Bayan langsung memberengut. Ares lupa kalau Bayan itu paling tidak suka dikatai berat, gemuk, dan gendut. Berbeda dengan Icha yang selalu saja memuji diri sendiri merasa imut tiap kali dikatai berat dan gemuk.


”Eh? Sama kakak kok gitu? Kakak turunin nih? Kakak nggak mau gendong Bayan lagi,” ucap Ares. Bayang langsung mendelik. Ia mengerucutkan bibir sebal. Cup. Bayan mencium pipi Ares meskipun masih dengan raut muka sebal. Ares terkekeh geli melihat tingkah Bayan. Beginilah kalau Bayan takut diancam. Pasti dia akan mencium pipi Ares.


”Mari pak bu, mobilnya ada disana.” ucap Rakha. Icha kembali digendong oleh Camilla, karena Rakha ingin membantu Badrun mengangkat satu karung besar menuju mobil. ”Ini mobil kamu Rakha?” tanya Camilla. ”Bukan bu, ini saya Carter aja, hehe.” sahut Rakha. ”Hus ibu mah,” tegur Badrun.


”Eh? Maaf ya nak Rakha.” ucap Camilla. ”Nggak papa, bu. Santai aja~” sahut Rakha sama sekali tidak apa-apa. Semoga suatu saat Rakha bisa membeli mobil, supaya bisa membawa seluruh keluarganya jalan-jalan berkeliling kota, batin Rakha.


Ares bersender dengan kepala sedikit mendongak. Ia menahan mual di perut. Rakha memijit pundak dan tengkuk leher Ares pelan. Rakha terlihat begitu perhatian pada Ares. Camilla menengok ke belakang sedikit. Melihat interaksi Ares dan Rakha, keduanya terlihat sangat dekat sekali. Ah, Camilla tidak ingin berspekulasi yang tidak-tidak dulu untuk saat ini. Bisa jadi memang itu hanyalah hubungan persahabatan belaka.


Badrun dan Rakha berbincang-bincang di ruang tamu sambil meminum segelas kopi. Ares? Jangan tanya. Saat ini ia terduduk sambil mendongakkan kepala menahan sisa-sisa jualnya tadi selama perjalanan. ”Dimakan nak Rakha,” ucap Badrun mempersilahkan Rakha untuk menikmati kue-kue dan cemilan keripik yang dibawa Badrun dan Camilla dari kampung.


”Telur asin bakarnya enak pak,” puji Rakha. Ia mengagumi salah satu makanan khas mataram yang satu ini, yaitu telur asin bakar. ”Bu, tolong bungkusin buat Rakha ya? Biar nanti dibawa pulang,” ucap Badrun. ”Iya pak,” sahut Camilla dari dapur.


”Masih mual dek perutnya?” tanya Rakha. ”Hmm dikit,” sahut Ares. ”Ares gimana dia nginep di rumah kamu nak Rakha? Nggak nakal kan ya? Wkwkwk,” ucap Badrun bercanda. ”Ih mana ada Ares nakal pak. Pekerja keras nih pekerja keras~” sahut Ares memuji diri sendiri. Badrun dan Rakha tertawa. ”Iya deh iya wkwkwk,” sahut Rakha masih tertawa. Ugh, menyebalkan sekali, batin Ares.


***


Siapa yang satu server sama Ares kalo naik bis/mobil malah muntah???? 😆😆😆