ARES [BL]

ARES [BL]
ARES 7



Hubungan pertemanan antara Ares dan Adithama merenggang, sejak perseteruan keduanya waktu itu. Ares tidak peduli juga tidak ingin peduli. Namun, Ares tengah perang batin saat ini, antara harus mengembalikan ponsel pemberian Adithama atau tidak.


“Balikin aja deh.“ gumam Ares.


Ia masih menyimpan dengan baik kontak ponsel miliknya. Lebih tepatnya milik Adithama. Ia bungkus rapi ponsel tersebut seperti semula. Berharap hari ini bisa berjumpa dengan Adithama dan mengembalikan ponselnya.


Pada jam istirahat pertama. Ares berjalan-jalan menyusuri satu per satu ruangan di sekolah. Huh, kemana Adithama? Mengapa ia tidak terlihat sama sekali? Ini seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.


Ares tidak boleh menyerah. Ia mencoba berjalan lebih jauh. Huh, Ares seolah baru menyadari kalau sekolahnya begitu sangat besar. “Duh dimana sih lu Ad.“ gumam Ares celingak-celinguk. Barangkali ada penampakan Adithama, namun nihil.


Sayup-sayup terdengar suara teriakan seseorang mengaduh kesakitan. Ares mencoba mencari sumber suara. Ketika Ares telah mendapatkan sumber suara tersebut, ia membelalakkan mata terkejut. Ia melihat Adithama dan beberapa orang lainnya tengah mengeroyok seorang siswa sampai babak belur.


“A-am-pun ad..“ ucap siswa tersebut memohon dengan amat sangat. Bukannya memberi maaf, Adithama malah menarik rambut siswa tersebut ke belakang, hingga membuat siswa tersebut otomatis mendongak kesakitan.


Ares meneliti area sini. Cukup sepi dan jauh dari jangkauan kamera pengawas. Ah, mungkin itu tujuan Adithama membawa siswa itu kemari supaya tidak tertangkap kamera. Adithama berdiri. Ia mengutuk siswa itu dengan semua sumpah serapahnya.


“Ngapain lu kesini.“ seru Adithama tanpa menoleh. Dalam hati Ares mengacungi jempol untuk Adithama atas kepekaan yang ia miliki. Ares diam. Adithama pun beranjak dari tempat ia berdiri lalu menghampiri Ares.


“Gue.. Pengen balikin barang lo.“ Adithama menyipitkan mata. Barang? Barang apa yang Ares maksud? “Nih.“ ucap Ares. Adithama melirik pada paper bagian bening berisi kotak smartphone. Adithama menaikkan sebelah alisnya.


“Ini barang lo dan gue mo balikin sekarang.“


“Gue gak nerima barang yang udah gue kasihin ke orang lain.“


“Tapi, ini punya lo Ad. Gue nggak ngerasa butuh.“


“Terserah lo mo lo apain.. Mo lo bakar kek, buang kek, gue gak peduli. Minggir.“


“Ad!“ seru Ares ketika Adithama berlalu dan menabrak pundaknya. Pun diikuti oleh beberapa temannya yang lain. Mereka menatap Ares sinis.


Di belahan bumi lain, seorang pria yang merupakan seorang sekretaris alias tangan kanan sang CEO pun masuk ke dalam ruangannya. Pria itu memberikan ipad yang ia pegang pada si CEO. CEO itu pun langsung mengerutkan alis melihat foto-foto seorang siswa SMA tengah mengeroyok temannya sendiri.


“Hmmm.“ si CEO itu menghela nafas berat. Ulah anak ini sudah di luar batas.


“Kalau anda mau ke Indonesia, saya bisa bantu pindahkan sebagian kerjaan dari pusat kesana nanti, pak.“


Si CEO menatap sang sekretaris. Ia seolah meminta jawaban apakah kepulangannya ke Indonesia nanti adalah sebuah kesalahan atau bukan. “Saya yakin dia juga pasti rindu anda, pak. Bisa jadi perubahan sikap dia karena terlalu rindu sama bapak.“


“Bagaimana kalau dia semakin berulah, meskipun saya ada disana?“


“Dia cuma butuh waktu buat maafin bapak.“


Si sekretaris tersenyum simpul. Memindah tugaskan semua pekerjaan dari pusat ke Indonesia memang bukanlah hal sulit. Pekerjaan bukanlah masalah utama disini, melainkan pertemuan dirinya dengan anak tersebut setelah sekian tahun tidak berjumpa.


Ares memandangi langit. Ia lihat cuaca nampak semakin menghitam. Sebentar lagi pasti turun hujan, batin Ares. Bagaimana ini? Ares tidak membawa jaket ataupun jas hujan? Belum apa-apa hujan deras pun langsung mengguyur kota Mataram.


“Duh.. Mana jualannya masih ada separo lagi.“ Gumam Ares mengeluh. Ia pun mencari tempat berteduh. Beruntung terdapat sebuah pos kamling di pinggir jalan, sehingga Ares pun bisa berteduh dan melindungi gerobaknya supaya tidak basah.


Ares duduk memeluk kedua lututnya. Hembusan angin semakin kencang diiringi hujan yang semakin deras pula. Ares mulai kedinginan. Ibunya pasti khawatir. Ares tidak mampu memprediksi kapan hujan akan berhenti. Sepertinya masih lama sekali kalau dilihat dari curah hujan yang turun sore ini.


Seorang pria yang menaiki motor juga menhampiri pos kamling. Pria itu pun melepas helmnya. “Kak Rakha?“ seru Ares. Kenapa Rakha bisa ada disini? Ah iya, pastinya Rakha ingin berteduh jua seperti Ares.


“Ares?“ seru Rakha. Ia pun langsung duduk di samping Ares. “Udah lama disini?“ tanya Rakha.


“Belum kak.. Mungkin sekitar 15 menitan lah.“


“Gimana? Dagangan kamu udah abis?“


“Makanya itu kak.. Dagangan aku tinggal separo lagi.. Eh malah ujan.“


“Nggak papa.. Nanti ujannya reda kok.“


Ares tersenyum. Rakha melihat Ares nampak Kedinginan. “Coba dempet sama kakak Res.“ ucap Rakha. Ares pun menurutinya saja. Rupanya Rakha ingin berbagi jaket supaya Ares juga tidak kedinginan. Satu jaket Rakha dibuka lebar-lebar untuk menutupi tangan dan lutut untuk mengurangi rasa dingin.


“Makasih ya kak.“


“Sama-sama.“


Ares juga menoleh. Ia bingung mengapa Rakha menatapnya seperti itu. “Kak?“ seru Ares. Rakha tidak bergeming sama sekali. “Kak!“ seru Ares lagi sedikit lebih keras hingga kembali menyadarkan Rakha dari lamunannya.


“Eh? Uhm i-iya Ares?“


“Kakak kenapa? Kakak sakit?“


“Ng-nggak kok.“


Rakha memalingkan wajahnya dan kembali menatap lurus ke depan. Sedikit salah tingkah dengan wajah bersemu merah tanpa ia sadari.


“Alhamdulillaah..“ kedua mata Ares berbinar senang. Akhirnya hujan reda jua. “Makasih ya kak.“ ucap Ares berterima kasih karena Rakha telah ditebang berbagi jaket padanya. Rakha tersenyum. “Kalo gitu kakak duluan ya?“ ucap Rakha.


“Iya kak. Hati-hati ya kak.“ ucap Ares tersenyum. Pun Rakha membalas senyuman Ares.


Benih-benih cinta mulai tumbuh di relung hati terdalam Rakha. Jauh disana. Tanpa ia sadari. Senyuman penuh arti itu bukanlah hanya sekedar senyuman biasa. Sebuah senyuman yang nantinya akan menjadi sebuah kerinduan dan rasa ingin memiliki. Siapa tau? Hanya tuhan yang tau.


Setelah hujan mulai reda, Badrun, ayah Ares memutuskan untuk pulang. Ketika beliau hendak membuka pintu, beliau melihat sebuah amplop di lantai tepat di depan pintu. Beliau ambil amplop berwarna merah tersebut. Disana tertera kalau amplop merah itu ditujukan untuk ia dan istrinya. Kedua alis Badrun berkerut.


“Assalamu'alaikum.“ ucap Badrun masuk ke dalam rumah. Badrun duduk di kursi rotan sembari meletakkan amplop itu di atas meja. Camilla, sang istri, datang dengan membawakan segelas teh hangat. “Bayan sama Icha mana, bu?“


“Lagi tidur pak..“


“Jangan lupa bangunin ya bu.. Mau maghrib soalnya..“


“Iya pak..“


Camilla duduk di samping sang suami, menemani sang suami menikmati waktu sore di dalam rumah sambil bercengkrama. “Ini apa, pak?“ tanya Camilla ketika matanya melihat sebuah amplop berwarna merah. Camilla mengambil amplop tersebut, lalu membolak-balikannya.


“Nggak tau juga bu.. Tapi, itu tulisannya buat kita bu.“ sahut Badrun sambil meminum teh.


“Hmm dari siapa ya pak? Kok gak ada nama pengirimnya?“ Camilla heran.


“Buka aja bu.. Daripada penasaran.. Hehe..“


Camilla pun membuka amplop tersebut. Camilla membeku ketika ia melihat selembar foto dari amplop tersebut. Dadanya terasa sesak hingga tidak terasa matanya juga ikut berkaca-kaca.


“Kenapa, bu?“ tanya Badrun khawatir. Camilla memandangi sang suami dengan tatapan kecewa. Camilla tidak mampu berkata-kata. Badrun pun langsung mengambil foto tersebut dari tangan Camilla. “Ares?“ gumam Badrun.


Badrun dan Camilla pun saling berpandangan. Hati keduanya terluka setelah melihat foto Ares tengah berciuman dengan seorang lelaki. “Pak..“ seru Camilla. Kini air matanya pun mulai berjatuhan. Badrun mengelus permukaan tangan sang istri.


“Sabar bu.. Tunggu Ares dateng.. Baru kita tanya dia ya?“


Camilla menganggukkan kepala. Camilla sungguh tidak menyangka jikalau puteranya penyuka sesama jenis. Oh tuhan, apa dosa Badrun dan Camilla di masa lalu, sehingga membuat seorang Ares berbelok arah?


“Assalamu'alaikum..“ ucap Ares dari luar setelah memarkirkan gerobaknya di samping. Ia pun masuk ke dalam dan mendapati ayah dan ibunya tengah duduk di ruang tamu.


“Sini nak.. Duduk dulu..“ ucap Badrun. Ares pun duduk. Ia heran mengapa kedua mata sang ibu memerah. Tatapan sang ibu terlihat penuh harap. Ada apa ini? Ares mendadak gugup.


Badrun pun memberikan foto tersebut pada Ares. Seketika kedua mata Ares membola. Bagaimana bisa foto ini bisa sampai di tangan kedua orang tuanya? Ah, Jangan-jangan semua ini ulah Adithama? Raut muka Ares berubah puas. Ia tidak tau harus menjelaskan semua ini bagaimana.


“Ini kamu Ares?“ tanya Badrun memastikan. Tentu Badrun berharap itu bukanlah Ares, sang anak. Ares diam. Ia tidak mengiyakan juga tidak mengindahkan. Badrun dan Camilla saling berpandangan sebentar. Cukup diamnya Ares sebagai jawaban.


“Maafin Ares inak amak..“ ucap Ares penuh sesal. Ia pun menundukkan kepala malu bercampur marah. Ares siap dengan segala konsekuensi yang harus ia terima. Entah itu ia akan dimarahi, dipukuli, atau diusir.


Di luar dugaan Camilla justru memegang satu tangan Ares. Tatapan Camilla memang terlihat sangat perih dan terluka. Ares tau baik ibu atau ayahnya sangat sangat terluka. Camilla menatap Badrun sebentar lalu kembali mengalihkan pandangan matanya pada Ares.


“Ares.. Inak sama amak nggak masalah tentang kamu suka sama siapa.. Tapi, inak harap kamu bertanggung jawab sama keputusan kamu Ares.“


Ares diam. Ia tidak kuasa lagi menahan air matanya yang menggenang di pelupuk mata sejak tadi. “Ares..“ Badrun menyentuh pundak Ares.


“Inak sama amak pasti malu punya anak kayak Ares. Gimana kalo tetangga nanti pada tau? Inak sama amak pasti tambah malu lagi.“


Badrun dan Camilla pun tersenyum tipis. Ares sudah besar. Mereka percaya Ares mampu menentukan jalan hidupnya sendiri dan mempertanggung jawabkan semua keputusan dari setiap permasalahan dalam hidup.