![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Kedua tangan Durahman masih dirantai. Ia masih berada di apartemen Zero beberapa hari ini. Sesuai perintah Darren. Durahman harus diamankan sampai batas yang tidak bisa ditentukan. Zero juga tidak ingin seegois itu. Zero juga menyelidiki seluk-beluk keluarga Durahman. Durahman memiliki orang tua lengkap, dan juga seorang adik perempuan. Dari hasil penyelidikan Zero, ibu Durahman memang harus rutin berobat di rumah sakit, karna sakit yang ia derita. Mungkin ini adalah salah satu alasan Durahman menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, sampai-sampai dia rela mencelakakan orang lain. Huh, Zero menghela nafas berat.
“Lu tenang aja~ Gue udah kirimin bonyok lu duit buat berobat,“ ucap Zero dengan tatapan sendu. Dalam hati Zero iri kepada Durahman. Dia masih memiliki orang tua lengkap. Sedangkan Zero? Zero tidak tau dimana orang tuanya berada sekarang, karna Zero dibesarkan di panti asuhan. Kata pengurus panti, saat itu Zero sudah ada di depan pintu yayasan begitu saja—juga sama sekali tidak ada surat-surat tertentu dalam bentuk apapun mengenai dirinya.
Zero pun meminum air putih beberapa teguk. Lalu, ia pun menghampiri Durahman. Ia lepas rantai di tangan kanan Durahman. “Maaf, gue nggak bisa lepasin lu sekarang,“ ucap Zero memberikan Durahman sepiring nasi dan lauk pauk. Durahman malah melemparkan piring itu ke sembarang arah. Sungguh Durahman tidak sudi makan makanan dari si brengsek Zero. Percikan beling itu mengenai pipi Zero dan melukai pipinya sedikit.
Durahman menatap Zero dengan tatapan benci dan sangar. Bahkan, Durahman meludah di wajah Zero. Tapi, entah mengapa Zero tidak bisa marah. Ia pun bangkit dan kembali ke dapur mengambil sepiring nasi beserta lauk pauk. “Gue sama kek lu, Du. Sama-sama jalanin perintah dari atasan. Nggak peduli bener ato nggak. Tapi, Du, seenggaknya kalo lu gue lepasin nanti, lu gemukan dikit. Kalo lu kurus lu bakalan bikin bonyok lu tambah khawatir.“ ucap Zero menatap Durahman penuh arti.
Kata-kata Zero juga ada benarnya, batin Durahman. “Gue nggak bakalan marah lu mau kek gimana aja jahatin gue. Mau lu ludahin gue ato gimana pun terserah lu. Tapi, plis, lu makan ya?“ ucap Zero. Durahman diam tidak bergeming sama sekali. “Lu makan aja sendiri. Gue nggak mau makan.“ ucap Durahman ketus. Ia juga menghindari tatapan mata Zero. Cih! Nggak sudi banget gue, batin Durahman. Zero pun menghela nafas. Sepertinya Zero harus menggunakan cara lain yang lebih ampuh.
Zero memutar wajah Durahman supaya keduanya bisa saling bertatapan. Zero pun langsung mengulum bibir Durahman dan mentransfer sesuap nasi itu dari mulutnya sendiri ke mulut Durahman. Durahman membelalakkan mata kaget. Ia kontan mendorong badan Zero. “Lu ngapain bangsat!“ seru Durahman marah. “Nyuapin lu makan. Abisnya lu bandel sih nggak mau makan.“ sahut Zero. “Gue bisa makan sendiri!“ ucap Durahman lagi. Zero pun terkekeh.
Seluruh keluarga besar sibuk mempersiapkan pernikahan Ami dan Irfan. Perut Ami kian hari kian membesar. Sudah seharusnya Irfan menikahi Ami secepat mungkin. Namun, masalahnya kini adalah, keluarga Ami sedang bermasalah. Hubungan Yudi dan Zada semakin memburuk. Sebagai seorang suami yang baik Yudi juga tidak ingin membiarkan masalah ini terus berlarut-larut. Setiap hari Yudi mengunjungi Zada dan mencoba berbicara baik-baik. Namun, kalian tau bagaimana tanggapan Zada? Dia mengusir Yudi dari rumah seperti mengusir seekor binatang. Zada mendorong tubuh Yudi dan kadang Yudi jatuh tersungkur ke lantai. Sungguh miris memang.
“Zada.. Tolong buka pintunya sayang.. Zada.. Zada..“ ucap Yudi berteriak dari luar. Huh, Yudi menghela nafas untuk ke sekian kalinya. Jujur saja ia tidak tau lagi harus berbuat apa. Pernikahan Ami tinggal menghitung hari. Sebelum itu Yudi ingin menyelesaikan semua masalah yang ada. Jangan sampai tiba di hari H masalah ini belum jua selesai. Sebaiknya aku pulang dulu, batin Yudi.
Ini adalah hari kedua tanpa Rakha. Uh, rasanya amat sangat membosankan sehari saja tanpa didampingi oleh suami. Di rumah Ares uring-uringan. Ia rebahan disana-sini. Duduk disana-sini mencoba mencari posisi ternyaman untuk bersantai. Tapi, nihil, bosan bosan dan bosan, itu saja yang Ares rasa saat ini. Jujur jari-jemari Ares gatal sekali ingin mengirimi Rakha pesan beruntut. Tapi, Ares takut, kalau-kalau Rakha sedang sibuk.
ARES:
“Mas,“
“Mas,“
“Sayang,“
“Sayang,“
“Suami ku~“
“Suami ku~“
Biarkan sajalah. Ares tidak peduli lagi. Ia pun mengirimi Rakha sms tanpa henti dan membuat hp Rakha di seberang sana terus saja bergetar di dalam saku celana. Saat ini Rakha sedang sibuk berdiskusi dengan rekan kerjanya. Tapi, ia masih bisa menyempatkan diri untuk memeriksa hp nya sendiri. Rakha melirik ke bawah sana. Ia mengeluarkan hp diam-diam melihat siapa gerangan orang yang mengiriminya sms tanpa henti itu. “Ares?“ batin Rakha tersenyum samar. Total ada lebih dari 180 sms yang Ares kirim. Dan isinya cuma “Mas, sayang, suamiku,“. Haha, dalam hati Rakha tertawa melihat tingkah manja Ares, sang istri.
Rakha pun semakin semangat bekerja setelah mendapat sms cinta itu. Tapi, Rakha juga tidak enak hati, karna ia tidak bisa langsung membalas sms dari Ares. Rakha masih banyak pekerjaan disini. Rakha tau pasti Ares sedang marah besar sampai-sampai rasanya ingin membanting hp sendiri. Tapi, tenang saja sayang, tunggu istirahat makan siang dulu, mas pasti vc kamu, batin Rakha.
“Cuma diread doang!?“ seru Ares mendengus kesal. Ugh, dasar suami nyebelin, batin Ares. Ia pun memukul-mukulkan hp sendiri ke sofa. “Oh samsung galaxy s10 ku tercinta~ Jangan mati jangan mati cup cup maafin papi sayang~“ ucap Ares menghembuskan nafas lega saat hp SAMSUNG GALAXY S10 miliknya masih mampu menyala dan bersosial media dengan lancar.
Daripada bingung dan semakin kesal saja, Ares pun memilih untuk memasak makan siang di dapur. Siang ini Ares berencana untuk membuat Bebalung Iga Sapi. Saat Ares hendak mengiris bawang, tiba-tiba hp Ares berdering. Itu panggilan video call dari Rakha. “Nggak ngambek kan sayang???“ seru Rakha mengulum senyum. Ares terlihat cemberut sambil meletakkan hp di dekat teko. “Nggak tau,“ sahut Ares sedikit ketus. Ares terlihat sibuk. Rakha penasaran kira-kira Ares sedang apa ya itu?, batin Rakha.
“Itu kamu lagi ngapain sayang?“
“Lagi masak,“
“Masak apa emang?“
“Bebalung~“
“Bebalung? Kenapa nggak nungguin mas pulang dulu baru masak Bebalung?“
“Ngapain tungguin mas sih? Kan aku mau makan sekarang,“
“Jangan pura-pura nggak tau deh, Res,“
“Paan sih nggak ngerti,“
“Bebalung itu tau nggak? Itu bisa buat nambah stamina cowok loh? Kalo mas makan Bebalung bikinan kamu, kan ntar biar mas bisa tahan lama ngegoyangnya, Res? Hehe,“
“Mas~“ seru Ares sebal. Bisa-bisanya Rakha berbicara mesum seperti itu di depan umum. Kedua alis Ares saling bertautan. Sedangkan Rakha malah tertawa lepas. “Nggak malu apa? Ngomong kek gitu? Nanti ada yang denger gimana,“ ucap Ares sambil menghidupkan kompor untuk merebus iga sapi langsung dengan bumbu racikan ala Ares. “Nggak ada~ Lagi pada istirahat mereka,“ ucap Rakha membela diri.
Hari yang dinanti-nantikan pun tiba. Hari ini Rakha pulang!, batin Ares. Tadi di sms kata Rakha 10 menit lagi dia sampai rumah. Uh, sungguh hati ini sudahh tidak sabar untuk memeluk suami tercinta, batin Ares. Di depan jalan sana terlihat seorang pria turun dari taksi. Itu Rakha! Ares pun langsung berjalan menuju pagar. Ares membantu Rakha membawa kardus besar itu ke dalam. Kata Rakha isinya oleh-oleh semua. “Pia coklatnya ada?“ tanya Ares memastikan. “Ada kok ada~ Tenang aja~“ sahut Rakha sambil menutup pagar.
“Nanti anterin tetangga sebelah juga ya, Res,“ seru Rakha duduk di sofa. Ares? Jangan ditanya. Dia duduk lesehan di lantai sambil membuka isi kardus tersebut. “Makanan makanan hore makanan nyemil tiap malem,“ ucap Ares senang sekali. “Oh iya mas,“ seru Ares teringat akan sesuatu. “Kenapa?“ tanya Rakha. “Tadi ada tukang pos nganterin undangan..“ ucap Ares. Kedua alis Rakha berkerut. Lalu, ia pun bertanya, “Undangan apa?“.
“U-undangan nikahan mas..“
“Nikahan siapa?“
“Errr.. Itu..“ seru Ares ragu-ragu. Huft, semoga Rakha tidak marah dan ia akan baik-baik saja setelah mendengarkan jawaban dari Ares. “Undangan nikahannya Mba A-Ami mas,“ sahut Ares. Kontan air muka Rakha langsung berubah. Sungguh Ares tidak mampu membaca ekspresi Rakha sama sekali. Mungkinkah Rakha saat ini sedang bersedih?—ataukah bahagia? Entahlah.. Ares juga tidak mengerti.
“Mas, aku ke dapur dulu bikinin kamu minum,“ seru Ares. Lihat, bahkan, Rakha diam saja tidak menyahut sama sekali. Entah mengapa dada Ares terasa sesak. Mungkinkah Rakha masih mencintai Ami? Bukankah hal ini sangat didasarkan? Kalau kembali menilik ke belakang dan betapa singkat perjumpaan Ares dan Rakha. Tentu saja Rakha masih mencintai Ami di hatinya.
Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Rakha pun langsung menuju ruang tengah. Disana Ares sedang membungkus oleh-oleh di kantong plastik untuk dibagikan kepada tetangga-tetangga sebelah rumah. “Kamu masak apa sayang sore ini?“ tanya Rakha. “Nggak masak,“ sahut Ares dingin. “Ehem,“ Rakha sengaja berdehem. Mungkin suasana hati Ares sedang tidak baik, sehingga ia bersikap sedingin itu kepada Rakha. “Mau makan di luar nggak?“ tanya Rakha lagi. “Aku mau keluar dulu mas. Nganterin bingkisan buat tetangga.“ ucap Ares mengalihkan topik pembicaraan. Ares pun keluar dan membagikan bingkisan itu kepada tetangganya. Sedangkan Rakha duduk termenung di sofa. “Kamu kenapa sih sayang..“ gimana Rakha bertanya-tanya.
“Ares,“ seru Rakha. Ares masih berada di ambang pintu melepaskan alas kaki. “Hm,“ sahut Ares dengan deheman saja. “Duduk disini dulu, mas mau ngobrol sama kamu,“ ucap Rakha. Ares pun duduk di samping Rakha. Bukannya menatap Rakha saat ingin diajak bicara, Ares malah menghindarinya dan bermain gadget. Rakha jadi gemas. “Taruh dulu hpnya, Ares.“ ucap Rakha terdengar tegas dan penuh penekanan. Ares pun mau tidak mau meletakkan hpnya di atas meja.
Ares diam saja. Ia sama sekali tidak ingin menoleh pada Rakha. Sedangkan Rakha menatap Ares lamat-lamat. “Kamu ada masalah ato uneg-uneg sama mas apa gimana?“ tanya Rakha. Uh, dada Ares semakin sesak saja. “Jawab mas, Ares. Kamu kalo diem kek gini.. Gimana mas bisa tau kesalahan mas sendiri coba? Mas bukan paranormal, Res, yang bisa baca isi hati orang. Tolong lah kalo ada masalah, bicarain sama mas baik-baik, bukan diem aja.“ ucap Rakha panjang lebar. Rakha terlihat agak marah, meskipun dari nada bicaranya, jelas sekali Rakha mencoba menahan diri.
“Nggak..“ gumam Ares dengan suara agak sedikit serak. Ares terdengar seperti ingin menangis. Tenggorokan Ares serasa tercekat. “Sayang..“ seru Rakha. Ia pun meraih pipi Ares sehingga ia pun mampu memandang wajah Ares sepenuhnya. Ares menangis?, batin Rakha saat melihat kedua mata Ares yang nampak berkaca-kaca dan memerah. “Sayang? Ka-kamu kenapa? Kamu kenapa nangis, hm? Cerita sama mas sayang,“ cerca Rakha khawatir. Ares tidak biasanya menangis seperti ini. Pasti ada yang sedang ia pikirkan sehingga hal itu sedikit banyak menyakiti perasaannya.
“Ehem a-aku cuma lagi ehem mikir mas..“ sahut Ares menahan sesenggukan dalam dada. “Lagi mikir apa?“ tanya Rakha lemah lembut sambil mengusap pipi Ares sayang. “Aku mi-mikir ka-kalo mas mam-masih cinta sama Mba Ami..“ ucap Ares sesenggukan. “Jadi.. Kamu diemin mas dari tadi gara-gara kamu mikir kek gitu, Res?“ tanya Rakha. Ares diam tidak menjawab, yang artinya memang benar begitu. Oh tuhan, bagaimana bisa Ares berpikiran seperti itu? Mana mungkin Rakha masih mencintai Ami? Sementara saat ini sudah ada Ares di hidupnya? Ares Ares, batin Rakha.
“Sayang~ Coba sini liat mata mas..“ seru Rakha. Ares pun menelan ludah. Bahkan, bulir-bulir air mata itu mulai berjatuhan sedikit. Memang tidak terlalu deras. Tapi, mampu menggambarkan seberapa besar Ares terluka akan pemikirannya itu. “Liat mata mas sayang~“ ucap Rakha lemah lembut sambil tersenyum tipis. Ares pun menatap kedua mata Rakha. Tatapan teduh itu.. Uh, Ares sungguh tidak tahan melihatnya. Cup. Rakha kecup bibir Ares sekilas.
“Ares.. Dengerin mas..“ seru Rakha. “Di hati mas cuman ada kamu sayang.. Ami cuman masa lalu mas.. Mantan istri mas.. Mas nggak mungkin masih sayang sama Ami, Ares.. Percaya sama mas. Mas, cuman mau ngabisin masa tua mas sama kamu sayang. Tolong jangan pernah berpikiran kek gitu lagi ya? Mas beneran nggak kuat liat kamu nangis, Ares.“ ucap Rakha panjang lebar. Tangis Ares pun pecah. Kontan Ares pun langsung memeluk Rakha dengan erat. Rakha kecup pucuk kepala Ares sambil mengelus punggung bidangnya. “Maafin aku mas.. Aku salah..“ ucap Ares meminta maaf. Rakha pun kembali mengecup pucuk kepala Ares sayang. “Iya sayang nya mas~“ sahut Rakha.
Darren mengenakan jubah muslim berwarna maroon serta peci hitam. Malam ini adalah pengajian 7 bulanan Ami di kediaman Hartono. Darren berdiri di pintu masuk rumah ini untuk menyambut tamu yang hadir di rumah ini. Baik itu tetangga sebelah atau rekan bisnis. Darren menyambut mereka dengan ramah tamah. Bahkan, ada ibu-ibu yang sengaja mencubit lengan Darren gemas. Haha, Darren tertawa saja.
“Mas Bule kenapa nyasar kesini??? Hehe,“ ucap si ibu. “Biasa bu mau cari jodoh haha,“ sahut Darren bercanda. Orang-orang yang berada di ambang pintu itu pun tertawa karna lelucon yang Darren buat. Selesai menyambut tamu undangan untuk masuk ke dalam, Darren pun duduk di barisan bapak-bapak kompleks. Disana Darren juga ikut membaca ayat-ayat suci al qur'an bersama bapak-bapak yang lain. Darren memang seorang mualaf. Tapi, bisa dibilang dia juga sudah cukup fasih membacanya. Benar-benar suami idaman.
Selesai acara pengajian, Irfan membantu Ami duduk di kursi roda. “Makasih Fan,“ ucap Ami berterima kasih. Sungguh berada di tengah-tengah keluarga Hartono membuat Ami merasa dicintai. Terlebih ketika Irfan selalu saja memberikan perhatian lebih kepada Ami. Sampai dia rela harus pulang kerja setiap jam 2 siang demi menjaga Ami di rumah. Sejenak Ami mampu melupakan masalah pelik yang saat ini tengah menimpa kedua orang tuanya. Merasakan kebahagian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hm, semoga ini adalah pernikahan terakhir Ami. Yah, semoga saja, batin Ami.
Disini ramai sekali, karna seluruh keluarga Irfan lengkap berkumpul. Ami tidak henti-hentinya tertawa mendengar lelucon mereka. Sedangkan Darren sedari tadi sibuk menelepon seseorang. Kalau didengarkan dengan seksama itu tidak jauh-jauh dari masalah bisnis. Darren dikirimi foto terbaru Jayden bersama Bella oleh ibu Darren. Lucu sekali. Sampai-sampai Darren senyum-senyum sendiri.
“Kenapa Darren?“ tanya Diomira. “Ini ma.. Mama di Amerika ngirimin foto Jayden sama Bella.. Lucu banget ma..“ sahut Darren. Ia pun langsung mengirimkan foto itu kepada Rakha. “Kamu kenapa nggak bawa Jayden kesini sih, Darren? Mama kangen banget tau,“ ucap Diomira. “Irfan mau nikah kan ma? Otomatis Darren lama disini. Kalo bawa Jayden nggak bisa, soalnya dia juga musti sekolah TK disana. Trus sekalian biar nemenin Bella juga.“ ucap Darren.
Saat tengah malam dan semua orang telah tertidur, Darren diminta ke ruang kerja Budi untuk bicara empat mata. Ini adalah saat yang tepat untuk membahas perihal pernikahan Ami dan Irfan. “Tolong kasih tau papa informasi yang kamu dapet Darren,“ ucap Budi. Darren pun menjelaskan panjang lebar tentang semua informasi yang dia dapat. Sampai niatan Ami yang ingin mencelakai Deon pun, Darren beritahukan.
“Sampai segitunya? Kamu serius kan, Darren?“ seru Budi tidak percaya. Kedua alis Budi menukik tajam. Ia geram. “Serius pa. Kebetulan Edgar ngirim mata-mata buat ngawasin Deon. Trus ya gitu ternyata ada yang nargetin Deon, dan itu perintah Ami, pa.“ ucap Darren. Budi tidak tau lagi bagaimana harus bersikap saat berhadapan dengan Ami. Ingin Budi mendepak Ami langsung dari keluarga ini. Tapi, sebagai keluarga yang bermartabat, tentu Budi tidak bisa bertindak sembarangan apalagi sampai melakukan hal-hal rendah seperti itu.
“Papa tenang aja. Aku udah negosiasi sama Ami. Dia nggak bisa berkutik, pa. Aku minta Ami cerein Irfan setelah 2-3 bulan nikah.“ ucap Darren. Bagi Budi ini terdengar sangat kejam meminta seorang perempuan yang telah menikah harus menceraikan suami sendiri setelah beberapa bulan menikah. Tapi, di sisi lain ini juga demi nama baik Hartono. Darren melakukan hal itu pasti memang sudah dipikirkan matang-matang. Karna Budi tau Darren bukan tipe orang yang melakukan sesuatu tanpa perhitungan terlebih dahulu.
Keanu menutup mata Barra dengan sehelai kain. Keanu ingin memberikan Barra kejutan. Ia pun membimbing Barra masuk ke dalam sebuah ruangan. “Kea? Udah belom? Mata gue sakit nih,“ ucap Barra protes. “Sabar~“ sahut Keanu. Keanu pun menekan tombol saklar listrik sehingga ruangan ini pun terang benderang. “Tadaaaaaa,“ seru Keanu tersenyum sumringah setelah ia membuka ikatan kain di mata Barra.
“Ini rumah siapa Kea?“ tanya Barra heran. Hm, ini lebih terlihat seperti sebuah apartemen, batin Barra. “Ini apartemen sayang~“ sahut Keanu. Benar, kan? Itu apartemen? “Trus kita ngapain kesini? Jangan bilang kalo lu jadi broker nih? Lu mau nawarin gue apartemen gitu? Bener, kan?“ cetus Barra asal-asalan. “Barra sayang~ Ini tuh apartemen kita. Gue beli nih apartemen tau nggak? Ya, masih nyicil sih separo lagi baru lunas~ Hehe,“ sahut Keanu tersenyum garing sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
“Serius? Beneran?“ tanya Barra memastikan. “Beneran,“ sahut Keanu mantap. Barra pun langsung tersenyum lebar. Ia bahkan langsung berhambur di pelukan Keanu dan mengecup pipi Keanu. “Lu masih bocil. Lu belum bisa nikahin gue.“ ucap Barra. “Siapa bilang? Kalo lu mau nikah besok pun gue bisa, Bar. Cuman nikah doang kok. Kerjaan? Gue udah punya, buktinya gue ampe bisa beli nih apartemen. Gue kurang apa lagi coba?“ ucap Keanu percaya diri. Barra bersedih kesal. Namun, sejurus kemudian ia pun tersenyum bahagia sambil mencubit pinggul Keanu.
.
.
.
Mohon maaf ada kesalahan teknis. Jadi, sebenernya almarhumah istri Darren, Eisha, itu ade Diomira, emaknye Irfan. Cuman karna gue terlanjur jadiin si Budi sama Diomira ini ortunye, ya udah kita puter lagi jadi anak tertua. || Gue sih kalo di posisi Ares bakalan ngelakuin hal yang sama wkwk 😂 sad banget dah pas Keanu bilang cicilan belom lunas :V