![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Di sebuah cafe bernama Delicio Bakery & Cafe—yang berlokasi di Cakranegara, Kota Mataram. Suasana di sini begitu menenangkan dan terasa sekali nuansa jaman dulu. Sebab ornamen cafe ini sebagian besar terbuat dari kayu. Benar. Sulit mencari cafe se aesthetic ini. Karna sebagian besar memang mengikuti gaya modern. Entah itu ala-ala Jepang, Korea, dan lain-lain. Tempat duduk berupa gazebo itu pun menjadi pilihan mereka untuk berkumpul sekaligus bersantai. Bertemu teman lama memang sesuatu sekali. Siapa lagi kalau bukan Adhitama, Ares, Barra, dan Keanu. Oh, jangan lupa, si pencemburu dan protektif Noah. Dia juga ada di sini.
Di sini terdapat beberapa menu andalan seperti: Es Coffee, Lombok Coffee, Beef Fried Noodle, Cumi Merica Pedas, dan masih banyak lagi. Hm, kalau favorit Ares sih udang. Coba kita liat, di sini untuk udang, ada menh apa aja?, batin Ares. Udang goreng mutiara salad sama udang masak telur asin doang?, gumam Ares. Ia merasa tidak yakin akan citarasa dari dua menu tersebut. Lalu, ia pun memutuskan untuk melihat-lihat menu lain. Setelah melihat-lihat daftar menu, pilihan Ares pun jatuh pada Cumi Merica Pedas dan Cumi Cah Jamur.
Semua list pesanan mereka mulai dari: Sirloin Steak, French Union Soup, hingga Daging Sapi Ala Hongkong pun diberikan kepada si pelayan. Sedari tadi Adhitama berwajah masam. Entah apa yang membuatnya jadi seperti itu. Bahkan dia tidak menghiraukan Noah—ataupun menoleh padanya barang sedikit pun. “Ad, btw hp yang lu kasih ke gue waktu itu masih bagus. Lu nggak ada niatan buat ngambil apa yang udah lu kasih, kan?“ ucap Ares. Ia menatap Adithama curiga. Adhitama pun tersenyum miring. Heh, nih orang nggak berubah juga, ya? Masih aja songong kek dulu, batin Ares.
“Gue nggak suka ngambil sampah yang udah gue kasih ke orang lain. Terutama lu,“ ucap Adhitama. “Ad,“ tegur Noah saat ia mendengar Adhitama berbicara kasar dan tidak sopan. Adhitama memutar bola mata malas. Cih! Orang tua kuper emang nggak ngerti apa-apa, batin Adhitama. “Jangankan hp yang lu pake itu. Gue bisa beli semua conter hp. Tau nggak? Mallnya sekalian,“ ucap Adhitama menyombongkan diri, meski hal ini cuma dalam konteks bercanda. Keanu menatap Adhitama tidak suka. Entah itu memang watak asli atau bagaimana. Intinya Keanu tidak suka. “Baru segitu aja bangga. Ortu gue punya perusahaan gede aja, gue masih nguli, daripada lu? Ngemis doang, nggak mandiri, beban keluarga,“ cetus Keanu sarkasme.
Sebelum emosi Adhitama pecah. Noah pun bersuara lebih dulu. “Perusahaan? Perusahaan apa?“ tanya Noah. “Abraham Indonesia,“ sahut Keanu. “Pak Lingga Abraham?“ ucap Noah memastikan. Keanu pun menganggukkan kepala mengiyakan. Sungguh tidak disangka-sangka, ternyata Keanu adalah putera dari Lingga Abraham. “Pak Lingga itu temen bisnis papanya kakak waktu dulu beliau masih hidup. Tapi, alhamdulillaah ampe sekarang pun kerja sama masih tetap terjalin dengan baik,“ ucap Noah. Keanu beroh ria. Jodoh nih bisa ketemu temen bisnis papa di mana-mana he he he, batin Keanu. Jangan lupa dengan kebiasaan Keanu—yang suka meminta uang itu hahaha. Kalian belum tau, kan?
“Serius deh gue pikir lu becanda, ngab. Kalo diliat dari muka mah, lu nggak ada tampang buat posisi di bawahnya Keanu. Asli nggak percaya gue,“ ucap Ares. Secara Barra itu memiliki badan atletis, badan tinggi, meski tidak setinggi Keanu. Berbeda dengan Keanu—yang tidak terlalu gemuk, dan terkesan kurus. Dia juga memiliki paras yang sangat imut seperti seorang perempuan. Tapi, gimana ceritanya Keanu yang di atas coba?, batin Ares penasaran. “Lu tanya lah sama orangnya langsung. Mana gue tau. Kan lu sohib?“ sahut Barra. “Sohib dari hongkong? Geulud sih iya,“ ucap Ares.
Lama-lama ketegangan di antara satu sama lain mulai memudar. Kebersamaan yang ada tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Begitu hangat. Dia yang katanya perfeksionis itu; ternyata sangat murah senyum dan suka bercanda. Lihatlah bagaimana cara Noah tersenyum, dan menampakkan gigi kelincinya di balik bibirnya yang agak tebal itu. Sangat manis, bukan? Noah juga berbagi cerita hidup. Ia bercerita, bahwa dulu ia diadopsi oleh Tomo, ayah Adhitama. Setiap anak yang tidak memiliki orang tua; pasti berpikir, wah enak ya? Tinggal sama orang tua angkat yang kaya raya? Tapi, semua itu jauh berbeda dari apa yang orang kebanyakan bayangkan.
“Kakak itu diadopsi pas kakak umur 10 tahunan. Waktu itu Ad masih balita dia. Setelah diadopsi, kakak langsung dimasukin ke sekolah terbaik. Dan kakak harus dituntut buat dapetin ranking satu. Kalo nggak dapet gimana? Papa bakalan pukul kakak pake rotan. Trus nggak dikasih ijin jalan-jalan keluar selama satu minggu,“ ucap Noah. Dulu papa gituin Kak Noah? Papa emang keras dalam mendidik. Tapi, jujur, gue sendiri nggak pernah digituin sama papa, batin Adhitama.
“Trus kakak gimana?“ tanya Ares penasaran. Noah terdiam sejenak. Tomo memang keras dan tegas. Tapi, soal kasih sayang dan tanggung jawab terhadap keluarga, dia tidak ada duanya. “Beliau selalu minta maaf tiap abis ngehukum kakak,“ sahut Noah tersenyum. Uh, sungguh berat hati ini tiap kali menceritakan kebaikan seorang Tomo. Semua orang sudah pasti memiliki sisi baik dan buruk. Benar. Tidak ada satu pun manusia yang sempurna. Adhitama mampu melihat secercah kesedihan di kedua mata Noah. Di sana juga terlihat jelas sebuah penyesalan mendalam. Adhitama pun tergerak hatinya menggenggam tangan kanan Noah di bawah sana. Semoga semua kesedihan di hati Noah segera sirna.
“Assalamu'alaikum,“ ucap Ares tersenyum sumringah sembari membuka pintu, lalu menutupnya kembali. Di sana ada Fadhli dan Sarmini. “Wa'alaikumussalam,“ sahut mereka serentak. Sarmini merapikan perlengkapan Rakha selama di rumah sakit. Benar. Hari ini Rakha sudah diperbolehkan pulang, dan akan berobat rawat jalan saja. “Bu? Kenapa nggak tunggu Ares aja? Kan Ares bisa bantu beresin barang Mas Rakha?’ tanya Ares. “Nggak papa~ Lagian ibu juga nggak sibuk-sibuk banget kok,“ sahut Sarmini.
Ares pun menghampiri Rakha, lalu meletakkan tangannya di dahi Rakha. Ares mencoba memeriksa suhu tubuh Rakha. Panas atau tidak. Huft, syukur alhamdulillaah Mas Rakha udah nggak ada demam lagi, batin Ares lega. Karna jujur saat suami sendiri sakit, diri ini juga serasa ikut sakit—pun tidur jadi tidak karuan. Setelah itu Ares juga memberikan jaket kepada Rakha untuk dipakai. “Tadi aku beli ayam geprek kesukaan kamu mas,“ ucap Ares. “Hm? Beneran?“ ucap Rakha tersenyum misterius, lalu menyentil si jagoan Ares dengan sengaja. “Mas!“ tegur Ares.
Saat ingin berjalan keluar dari rumah sakit. Ares dan Rakha saling bergandengan tangan dengan mesra. Lalu, mereka pun naik ke mobil grab—yang sudah dipesan sebelumnya oleh Ares. Rakha penasaran. Tadi Ares ngapain saja saat berkumpul bersama teman-teman. Rakha pun meminta Ares untuk bercerita. “Temen lama aku mas. Dia yang kasih aku hp yang aku pake sekarang. Dulu emang sempet ada masalah juga sama dia. Cuman aku tadi lumayan kaget, dia ternyata mau nikah sama kakak angkat dia,“ ucap Ares.
“Kakak angkat? Kok bisa?“ tanya Rakha kepo. “Kurang tau juga sih mas. Sebenernya nggak terlalu deket, karna emang orangnya itu rada-rada songong wkwkwk. Dia sempet pindah ke luar negeri juga kurleb setaun lah gitu, dan aku sama temen-temen ku beneran lost kontak sama dia tuh,“ sahut Ares panjang lebar. Rakha beroh ria sembari menganggukkan kepala pelan. Tiba di rumah. Ares pun langsung beres-beres. “Dek, nanti aja beres-beresnya,“ ucap Rakha. “Biar bersih rapi. Kamu tau sendiri kan mas? Kalo aku nggak suka berantakan? Apalagi kamu baru aja sembuh DBD. Harus lebih bersih lagi mas,“ sahut Ares dari belakang.
Pertama-tama; Ares menyapu rumah terlebih dahulu dan mengumpulkan sampah di plastik. Sarmini berniat ingin membantu Ares, namun Ares melarang. “Ibu duduk aja sama Mas Rakha, biar Ares yang bersih-bersih,“ ucap Ares. Setelah itu ia pun mengepel lantai dengan pel basah dan kering. Intinya seluruh ruangan di rumah ini harus wangi, batin Ares. Kalian ingat, kan? Kalau Ares itu super duper perfeksionis. Dia paling tidak tahan melihat sesuatu berantakan—atau ditaruh tidak pada tempatnya.
Sejurus kemudian; ia pun membawa tiga buah piring ke depan; beserta gelas dan ceret berisi air putih. “Makan siang dulu, bu, pak. Tadi Ares beli ayam geprek nya lumayan banyak,“ ucap Ares tersenyum. “Kamu nggak makan juga, Res?“ tanya Sarmini. “Nggak, bu. Soalnya tadi udah makan pas ngumpul sama temen-temen,“ sahut Ares, lalu kembali melanjutkan pekerjaan rumah. Ia mengelap meja-meja dan perabotan rumah dengan sangat teliti, sehingga tidak meninggalkan butiran debu sedikit pun.
Ares memeriksa isi kulkas. Di sana ada terong. Ia ingat jikalau sang suami sangat menyukai beberuq terong. “Mas, ini ada terong di kulkas. Mau aku bikinin beberuq terong nggak?“ tanya Ares. “Iya, bikinin ya sayang??“ sahut Rakha. Ares pun membuat beberuq terong kesukaan Rakha dan ayam goreng bumbu. Jadi, ayam mentahnya sengaja didiamkan di kulkas setelah dibumbui. Baru digoreng saat ingin makan nanti.
Satu minggu kemudian; Ami ditetapkan sebagai tersangka dan menerima hukuman 12 tahun penjara—pun hak asuh anak jatuh ke tangan Irfan. Selain itu Irfan juga menggugat cerai Ami. Yudi dan Zada juga demikian. Kini keluarga yang dulunya utuh itu pun terpecah belah. Di sana juga ada Astrid sebagai korban dan saksi. Ia merasa puas saat hadir di persidangan, dan mendengarkan keputusan hakim. Dinda dan Maman pun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Darren, karna telah bersedia membantu Astrid dan sekeluarga.
Irfan masih duduk membeku di tempat. Semua ini benar-benar seperti mimpi. Berapa kali sudah Irfan dikhianati oleh seorang perempuan—yang sejatinya begitulah ia cintai dan ia jaga? Astrid yang duduk di kursi roda itu pun melihat Irfan duduk termenung dengan tatapan kosong. Lalu, ia meminta sang ibu, Dinda, untuk membantu mendorong kursi roda menghampiri Irfan. “Irfan,“ seru Astrid. Tangan Astrid terulur untuk menggenggam tangan Irfan. Bukan karna Astrid masih menyimpan rasa, melainkan ia ingin memberikan dukungan dan simpati kepada Irfan.
Bercerai dan menerima kenyataan bahwa, Ami, wanita yang ia cintai telah berbuat kriminal di bawah kepercayaan yang ia berikan. Hal ini tentu tidak mudah bagi Irfan. “Maafin aku ya, Fan?“ ucap Astrid meminta maaf. Semua orang di ruang sidang terlihat mulai meninggalkan ruangan ini. Irfan pun menoleh. Bibir ini terasa sangat berat untuk mengatakan sepatah kata saja. Hati Irfan hancur. “Kamu pasti kuat. Karna Irfan yang aku kenal itu bukan orang yang lemah. Apalagi cuman gara-gara seorang wanita yang udah jelas-jelas ngehancurin hidup kamu, termasuk aku,“ ucap Astrid.
Astrid pun berpamitan ingin pulang, maksudnya kembali ke rumah sakit. Ia juga memberikan senyuman terbaiknya kepada Darren. Padahal ia dan kedua orang tuanya sama sekali tidak mengenal siapa itu Darren. Tapi, dia begitu murah hati ingin membantu masalahnya sendiri. “Irfan, kita pulang sekarang,“ ucap Darren. Lusa Darren akan kembali ke Amerika. Ia merasa berat hati haryd meninggalkan Irfan sendirian dalam keadaan seperti ini di sini tanpa dirinya—pun ia cemas kalau-kalau Irfan melakukan sesuatu hal yang tidak-tidak.
“Edgar, hari ini dan besok kamu boleh libur. Tapi, tolong kamu balik lagi pas lusa,“ ucap Darren. Edgar pun menundukkan kepala. “Baik tuan,“ sahut Edgar. Edgar melirik ke arah Ami—yang sedang dikawal oleh beberapa anggota kepolisian. Dia juga memakai baju tahanan. Sungguh tragis kisah hidup seorang Ami yang berakhir dengan mendekam di penjara selama belasan tahun. Zada malah jatuh pingsan. Tapi, entah itu Darren, Edgar, dan Irfan, tidak ada yang mau peduli sama sekali. Kecuali Alena dan Yudi.
Darren tidak lantas membawa Irfan langsung pulang ke rumah. Ia memesan satu kamar di Katamaran Hotel & Resort. Suasana di hotel itu juga cukup asri dan segar—pun ada swimming pool—yang langsung berhadapan dengan pantai. “Om, kenapa om malah bawa aku ke sini?“ tanya Irfan. “Bosen di rumah,“ sahut Darren singkat. Darren dan Irfan pun masuk ke dalam. Benar. Ini berhadapan langsung dengan pantai. Hah, Irfan menghela nafas. Semilir angin di pinggiran pantai ini—pun ombak di lautan. Sejenak Irfan merasakan sebuah ketenangan.
Deon dan Edgar tiba di Pantai Senggigi; melepas penat setelah satu minggu ini dihadapkan dengan berbagai masalah dalam keluarga. Edgar mengajak Deon berenang di pantai. Tapi, Deon malah menolak, dengan alasan ia paling malas kalau harus basah-basahan. Edgar pun melepas baju—yang menempel di badan, dan menyisakan celana pendek selutut. Deon melongo. Bagaimana bisa Edgar tidak memiliki rasa malu sedikit pun saat memamerkan tubuhnya itu?
Lihatlah tatapan nakal para wanita yang haus akan belaian dan kasih sayang. Deon kesal. “Edgar!“ seru Deon menghampiri Edgar. Deon hampir saja terjungkal, namun ia berhasil berpegangan pada Edgar, dan berakhir dengan memeluknya. “Kamu bilang kamu males basah-basahan?“ ucap Edgar menohok. Deon mendongakkan kepala. Ia tidak mungkin jujur kepada Edgar. Kalau ia sengaja menghampiri Edgar demi membungkam para wanita dengan tatapan nakal dan menggoda.
“Errrr aku uhm—hmph!“ ucap Deon langsung dicium oleh Edgar. Edgar menahan leher kiri dan kanan Deon dengan kedua tangannya. Sedangkan Deon meletakkan tangannya di pinggang Edgar, namun tidak terlalu erat. Tangan kanan Edgar pun menahan pinggul Deon hingga membuat tubuh keduanya saling menempel. “Eeumh,“ gumam Deon. Deon pun perlahan melingkarkan tangannya di leher Edgar, dan membuat tubuhnya sedikit terangkat. Sambil berciuman; Edgar sambil mengelus punggung Deon.
Edgar pun membisikkan sesuatu di telinga Deon sambil tersenyum miring. “Sekarang kamu nggak perlu khawatir lagi sama cewek-cewek di sana,“ ucap Edgar membuat Deon tertohok. Dari mana dia bisa tau?, batin Deon malu. “Ngh,“ gumam Deon saat Edgar tiba-tiba menggigit kupingnya. Sejurus kemudian Edgar pun menjauh sambil tertawa puas penuh kemenangan. Bisa-bisanya gue dikibulin sama nih orang? Sial!, batin Deon kesal.
Gurame dabu-dabu, nasi goreng balacan, dan pamelo salad menemani makan siang mereka hari ini. Edgar masih belum mengeluarkan sepatah kata pun sejak ia berjibaku dengan ipad tercinta. Ipad tercinta? Heh, Deon mendengus. Edgar pun menoleh dan mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa?“ tanya Edgar datar. “Nggak ada,“ sahut Deon malas sembari minum Pina Colada beberapa teguk, lalu menaruhnya kembali di atas meja.
“Kenapa kamu cium aku tadi? Pasti kamu ada motif tersembunyi, kan?“ tanya Deon curiga. Huft, Edgar pun menghela nafas sembari menatap Deon lurus, lalu ia taruh ipad miliknya itu di atas meja. “Aku harus bilang berapa kali sama kamu? Kalau urusan aku di Amerika udah selese, aku bakalan nikahin kamu,“ sahut Edgar. Deon masih belum puas dengan jawaban yang Edgar berikan. “Tapi, kita kenal nggak lama, lho? Trus kamu juga pernah nyatain perasaan kamu ke—“ ucap Deon langsung dipotong oleh Edgar. “Jangan bilang kamu masih ngarepin Evan?“ cetus Edgar tidak suka. Bahkan kedua alis Edgar menukik tajam.
“Evan? Aku sama sekali nggak ngarepin dia lagi kok,“
“Kalo kamu nggak ngarepin Evan lagi. Seenggaknya kamu nggak mempermasalahin kita yang kenal belum lama dong? Coba kamu pilih, mau kenal lama tapi di phpin ato kenal sebentar tapi pasti dinikahin?“
Deon terdiam setelah ditanya seperti itu oleh Edgar. “Kalo kamu ngarep aku bersikap romantis ke kamu. Kamu salah, karna aku bukan orang yang romantis, dan nggak akan pernah romantis. Tapi, satu hal yang aku bisa janjiin dan yakinin ke kamu, Deon. Kalo aku bisa ngasih hidup dan kesetiaan aku buat kamu. Ngerti?“ ucap Edgar. Deon menatap Edgar sebentar, lalu sengaja membuang muka.
Zero pulang ke apartemen. Bugh. Ia pun ambruk sesaat setelah ia masuk ke dalam. Ia terengah-engah. Surahman terkejut melihat Zero ambruk dengan kepala bersimbah darah. “Zero!“ seru Durahman panik. “Lu kenapa? Lu kenapa, hah?!“ ucap Durahman berteriak. “Telpon dokter,“ ucap Zero lemah. “Cepetan!“ ucap Zero lagi. Durahman pun menelepon seorang dokter langganan Zero, dan memintanya datang kemari.
Saat dokter itu datang; Zero pun langsung ditangani secepatnya. Di kepala Zero terdapat luka bekas sayatan pisau sepanjang 8cm. “Terima kasih banyak, dok,“ ucap Durahman kepada sang dokter. Dokter itu pun menghela nafas berat. “Saya nggak tau, kenapa kalian milih kerjaan beresiko kek gini, daripada kerja biasa di kantoran?“ ucap dokter itu menatap Durahman. Durahman diam tidak memberikan tanggapan apa-apa. “Jangan lupa rutin bersihin lukanya sama ganti perban,“ ucap dokter itu berpesan.
“Lu ceritain ke gue kenapa lu bisa kek gini?“ ucap Durahman meminta penjelasan. “Gue abis brantem sama preman,“ sahut Zero. Wajah Zero terlihat sangat pucat—pun diinfus diengan sebelah kiri. “Batal ke Jepang?“ tanya Durahman terlihat kecewa. “Jadi kok jadi,“ sahut Zero. “Penerbangan kita besok, kan? Lu beneran mau pergi dengan kondisi lu yang kek gini?“ ucap Durahman tidak habis pikir. “Kan ada lu yang jagain gue? Gimana, sih?“ sahut Zero. Durahman memanyunkan bibir. Sedangkan Zero menatap Durahman lamat-lamat. “Nama gue Eric Chandra,“ ucap Zero kemudian memberitahu nama asli. Durahman pun menoleh, dan menatap Zero. Eric?, batin Durahman. Zero pun tersenyum lebar. Entah mengapa ia merasa Durahman harus tau, meski hal ini sebenarnya bersifat sangat rahasia. Tapi, mau bagaimana lagi? Zero tidak bisa menahan diri. “Du, izinin gue buat kenal lu lebih dalem lagi,“ ucap Zero. Durahman diam. Ia tidak mengiyakan ataupun mengindahkan perkataan Zero barusan. Entahlah..
.
.
.
Up kembali lusa, karna besok up di SUGAR D [BL]. Gue jujur nggak dapet royalti dalam bentuk apapun, pendapatan dari tahun lalu ampe sekarang 800 perak. Buat beli gorengan aja kurang ngab. Jadi, jangan males like, ya! FAVORIT 480, VIEWERS PER HARI 200+, PERTANYAANNYA JEMPOL LU LU PADA KE MANA? AYOLAH JANGAN LUPA KASIH LIKE AMPE 100 LIKE PER CHAPTER.