![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Drrt drrt drrt. Hp itu terus saja berdering tanpa henti. Beruntung hp itu dalam mode getar saja. Andaikan dia dalam mode tanpa getar, bisa-bisa membuat telinga seisi rumah menuli karnanya. Ia baru saja selesai mandi sambil mengusap kepalanya yang basah dengan handuk. Dari pintu kamar mandi, ia mampu melihat layar hp nya yang terus menyala. Lalu, ia pun duduk di tepi ranjang. “Hm? Nomor nggak dikenal?“ gumamnya heran. Jangan bilang kalau dia penipu—yang ingin mencari nasabah alias mangsa? Lebih parah lagi, kalau si penipu ini bisa menghipnotis orang lain lewat telepon.
Tunggu sebentar. Terdapat beberapa sms masuk dari nomor tidak dikenal itu. “Selamat pagi Mr. Ares? Mohon maaf, apabila kami telah mengganggu. Kami dari Second Lombok Tour ingin mengajak anda bergabung di agen travel kami sebagai tour guide sekaligus penerjemah bahasa asing. Mohon untuk ketersediaannya bergabung di kantor kami. Terima kasih,“ tulis pihak first lombok tour di sms itu. Seriusan? Ini nggak boongan kan, ya?, batin Ares. Uh, rasanya seperti Ares telah mendapatkan bongkahan emas saja. Satu per satu jalan menuju kesuksesan terbuka lebar.
Ares pun menelepon agen travel tersebut, untuk memastikannya sekali lagi, dan hari ini ia diminta untuk langsung datang ke kantor saja—yang berlokasi di Dasan Agung Baru, Kec. Selaparang, Mataram. Tentu saja Ares senang bukan main. Ia pun jingkrak-jingkrak sambil berkata 'yes' berkali-kali. “Go cari cuan buat kuliah!!!“ ucap Ares bersemangat. Karna ini adalah pertemuan pertama dengan kantor tersebut. Ares ingin memberi kesan yang baik pula. Ia pun mengenakan kemeja biru langit, dan celana kain hitam. Ia juga menyemprotkan cat rambut kontemporer berwarna dark brown.
“Bismillaah,“ gumam Ares membaca basmalah terlebih dahulu. Semoga urusannya dilancarkan aamiin. Ia pun mengendarai motor selama kurang lebih 11 menit dari Tanjung Karang. Tiba di kantor tour agent, ia disambut dengan ramah oleh staff di sana. “Permisi? Mohon maaf, saya Ares, tadi dapet sms dari Second Lombok Tour untuk dateng ke sini secara langsung,“ ucap Ares kepada salah satu staff sambil menunjukkan sms tersebut. “Silahkan ikuti saya, mas. Biar saya anterin ke ruangan direkturnya langsung,“ ucap staff itu—pun mengantarkan Ares ke ruang atasan mereka.
Ares pun duduk di kursi depan meja kerja, setelah ia dipersilahkan untuk duduk oleh pria bernama Handoko—yang tidak lain ialah direktur di kantor ini. “Jadi, begini.. Kebetulan saya iseng nemuin akun instagram kamu, sama artikel blog yang kamu tulis sendiri. Jujur saya tertarik sama apa yang kamu posting di sana; berkaitan dengan budaya Lombok. Maka dari itu, saya coba hubungi kamu, dan minta kamu dateng langsung ke sini, buat bahas masalah kerjaan,“ ucap Handoko panjang lebar. Jujur Ares sangat gugup.
“Maaf, sebelumnya, pak? Kira-kira saya kerja apa, ya? Di sini?“
“Tour guide,“
“Tour guide?“
“Pertama saya mau kamu kerja di kantor saya secara freelance, artinya bukan full-time satu minggu. Tapi, per minggu jadwal kamu saya batesin untuk tiga kali masuk aja. Kenapa? Karna kamu masih pelajar, dan saya nggak mau ngerusak konsentrasi belajar kamu di sekolah. Meskipun kamu bilang sanggup sekali pun, tapi kamu juga harus ngebagi waktu kamu buat belajar, buat diri sendiri, keluarga, dan pasangan tentunya,“
“Siap, pak. Saya mengerti,“
“Satu lagi Mr. Ares, saya mau kamu ikut kursus untuk memperdalam wawasan kamu tentang budaya Indonesia terutama budaya dari daerah kita sendiri, Lombok. Kamu juga bisa jadi pegawai tetap di sini, dengan syarat kamu harus tetep kerja di sini. Gini aja deh, kamu coba dulu kerja di sini satu ampe dua bulan. Baru kamu putusin mau netep di sini ato nggak,“
Ares pun menghembuskan nafas lega. Sesaat setelah ia keluar dari kantor tersebut. Uh, seneng banget asli seneng banget, batin Ares. Drrt drrt drrt. Hp Ares pun berdering, dan kali ini dari suami tercinta. “Halo mas?“ sapa Ares. “Kamu lagi di mana sayang? Kok kayak ada suara orang lagi ngobrol?“ tanya Rakha dari seberang sana. Ares tersenyum sumringah. “Ini aku lagi ada di kantor travel agent—“ ucap Ares. “Travel agent? Ngapain?“ tanya Rakha sambil mengerutkan alis. “Itu aku ditawarin kerja sistem freelance aja di sini, trus—“ belum sempat Ares menyelesaikan perkataannya, Rakha pun langsung memotongnya begitu saja. “Nanti kita bicarain lagi kalo mas udah di rumah. Mas mau lanjut kerja dulu,“ ucap Rakha dingin. Lalu, sambungan telepon pun terputus.
Dari nada bicara, Rakha terlihat seperti sedang marah. Sejak dulu, dia memang tidak pernah menyetujui Ares bekerja di luar. Kalian masih ingat, kan? Bahkan Rakha juga melarang Ares jualan keliling, dan meminta dirinya untuk menunggu sebentar, sampai Rakha menemukan ruko untuk disewa, dan berjualan di sana. Dia memang seposesif itu. Pengalaman pahit di masa lalu mungkin adalah salah satu faktor—yang membuat Rakha sebegitu tidak inginnya melihat Ares bekerja di luar rumah. Ares merasa ini akan menjadi sebuah tantangan besar di masa depan. Ia tau bagaimana perasaan Rakha. Tapi, di sisi lain ia juga ingin menggapai cita-cita.
Alena dan Edgar duduk dengan saling berhadap-hadapan di meja makan. Alena sengaja meminta Edgar untuk pulang ke rumah lebih awal. Tentu saja karna ada sepatah dua patah kata yang ingin Alena sampaikan kepada Edgar. Teh hangat itu lah yang memecah keheningan antara keduanya. Ya, Alena dan Edgar, mereka seperti air dan minyak, tidak mudah untuk bersatu. Terlalu sering berselisih pendapat jua. “Edgar, kamu tau? Saya udah nganggep kamu ancaman buat keluarga saya sendiri,“ ucap Alena sarkasme.
Heh, ancaman? Alena cuma terlalu banyak berpikir saja. Edgar pun menyesap teh buatan Alena itu dengan santai. Cuma seorang Alena saja. Edgar tidak akan begitu terpengaruh. “Tolong tinggalin Deon, Edgar,“ ucap Alena tegas. Alena memang tidak menentang hubungan s e j e n i s. Tapi, ia juga ingin menjaga martabat keluarga. Toh, hubungan Deon dan Edgar masih belum terlalu jauh hingga ke jenjang pernikahan. Edgar pun samar-samar tersenyum pahit. “Saya tau betul, kenapa Pak Yudi memilih anda untuk beliau jadikan istri kedua. Bahkan beliau rela keluarga beliau sendiri hancur berkeping-keping,“ ucap Edgar sembari menaruh gelas teh di atas meja.
Edgar pun menatap Alena penuh arti. “Karna beliau yakin, anda adalah orang yang berbudi pekerti luhur, cerdas, dan berpendidikan. Bu Alena, anda memang bukan perebut suami orang, karna Pak Yudi lah yang datang secara langsung. Tapi, tolong anda pikirin sekali lagi baik-baik, apa anda tega ngerusak kebahagian Deon demi martabat keluarga? Jangan lupa Ami dan Bu Zada juga udah hancur setelah tau fakta, Pak Yudi menikah lagi. Jadi, jangan hancurin Deon demi keegoisan anda sendiri, Bu Alena,“ ucap Edgar panjang lebar.
Edgar begitu mendominasi. Alena mengepalkan tangan di bawah sana. Alena hampir saja kehabisan kata-kata. Alena seolah lupa, bahwa Edgar juga adalah perwujudan dari Darren. Si mata biru yang mendominasi, dan si mata biru yang berani. “Kamu menang, Edgar,“ ucap Alena menohok. Edgar pun tersenyum tipis. “Maaf, di sini nggak ada siapa yang menang siapa yang kalah. Tapi, berdamai dengan keadaan itu lebih baik, Bu Alena,“ ucap Edgar. Tertampar oleh perkataan Edgar. Alena pun bangkit, dan meminta Edgar untuk segera menjemput Deon ke kantor.
Sekelompok wanita sosialita itu masuk ke dalam club. Lihat saja dari ujung kaki sampai ujung rambut. Semuanya bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Huh, orang biasa, kerja rodi pun tidak akan mampu seperti mereka. Sebagian besar di antara mereka juga sudah berumah tangga. Tapi, ketahuilah, meski begitu, mereka juga senang bermain dengan para b r o n d o n g yang haus akan rupiah. Sahri, sebagai owner club itu pun secara khusus melayani mereka secara langsung.
“Sahri? Tolong kamu suruh dia minum-minum bareng kita-kita di sini,“ pinta Elfiroh sembari menunjuk ke arah Keanu. Dia adalah ketua di geng sosialita nya. “Itu..,“ gumam Sahri ragu-ragu. Elfiroh pun menaikkan sebelah alisnya. Dia terlihat kesal. “Sahri? Kamu tau saya siapa, kan? Cepat kamu panggilin dia ato club kamu jadi taruhannya? Pilih mana?“ ucap Elfiroh mengancam. “Tunggu sebentar, bu,“ ucap Sahri. Gimana caranya gue bilang ini ke Keanu, ya?, batin Sahri. Sahri tidak punya pilihan lain. Ia pun menghampiri Keanu ke atas podium, dan membisikkan sesuatu di telinga.
“Serahin ke gue,“ ucap Keanu. Dia juga terlihat kesal. Cuih! Harta dia segimana, sih? Pake ngancem orang segala?, batin Keanu. “Selamat sore ibu-ibu cantik?“ seru Keanu mencoba tersenyum manis. Padahal itu senyuman terpaksa. Ibu-ibu sosialita itu menatap Keanu hampir tanpa berkedip sama sekali. “Kuliah di mana, dek?“ tanya Helena, si rambut pendek dengan dress silver se p a h a. “Baru kelas 2 SMP,“ sahut Keanu, lalu duduk di sebelah Elfiroh. Semua orang pun beroh ria. Elfiroh memberikan tatapan membunuh kepada teman-temannya itu, sebagai syarat untuk berhenti menggoda Keanu.
Elfiroh pun tertawa. “Duh, kamu masih bocah kali, Nu? Jangan sok jual mahal, deh. Tante bisa ngasih berapa aja yang kamu mau,“ ucap Elfiroh percaya diri sambil mengelus p a h a Keanu. Keanu pun langsung memegang pergelangan tangan itu dengan kuat, hingga membuat Elfiroh meringis. “Dengerin gue baik-baik bangsat. Harta kekayaan lu itu nggak sebanding sama harta gue. Lu tau? Gue anak Lingga Abraham. Bokap gue yang punya Grup Abraham. Ngerti?“ ucap Keanu dengan mata melotot tajam.
Helena pun tertawa. Dia tidak percaya jikalau Keanu adalah putera dari Lingga Abraham. “Hei bocil, kamu jangan ngada-ngada, deh. Hahaha apa? Papa kamu Lingga Abraham? Ngimpi kali, ah!“ ucap Helena remeh. “Oh? Nggak percaya?“ ucap Keanu kesal. Ia pun menunjukkan foto keluarga besar Abraham kepada ibu-ibu sosialita itu. Cuih! Ngimpi kali bakalan gue panggil tante?, batin Keanu. “Masih nggak percaya juga? Tunggu, biar gue aktifin video callnya,“ ucap Keanu. Saat ia merasa buaya-buaya berwujud wanita ini tidak percaya.
Baru kali ini gue manfaatin bokap sendiri. Hadeuh sabar sabar daripada pas pulang gue malah diamuk ama bini sabar, batin Keanu. Beberapa saat kemudian, video call yang menampakkan wajah Lingga pun aktif. “Keanu? Kamu ngapain nelpon papa sore-sore gini? Papa lagi sibuk. Hah? Itu siapa? Kamu ngapain sama ibu-ibu? Mau papa bilangin sama Barra?“ cerca Lingga. “Gini pa~“ ucap Keanu. Jujur ia tidak enak hati, harus meminta bantuan kepada sang ayah secara tidak langsung begini. “Percaya deh sama aku, aku udah tobat se-ra-tus per-sen. Tapi, ibu-ibu ini malah ngancem temen aku yang punya club, lho? Cuman gegara Sahri nolak permintaan mereka buat aku nemenin mereka. Tunggu, uhm kalo nggak salah nama suaminya si.. Liando iya Liando,“ ucap Keanu panjang lebar.
“Hm.. Liando?“ gumam Lingga berpikir keras. “Oh? Si pengusaha tas itu, ya? Haha ok ok,“ ucap Lingga. Lingga pun memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Keanu sampai kebingungan. Kenapa Lingga memutuskan sambungan telepon begitu saja? Tapi, di luar dugaan. Sepuluh menit kemudian. Seorang pria gagah dengan stelan jas lengkap datang kemari. Kedua alisnya menukik tajam. “Pulang sekarang,“ ucap pria itu ketus sambil menarik pergelangan tangan Elfiroh. “E-eh? Ma-mas Lian?“ gumam Elfiroh membeku. “Cepetan!“ ucap Liando marah. Elfiroh pun pulang bersama sang suami, setelah mengambil tas hermes hitamnya terlebih dahulu.
Di luar hujan deras. Entah mengapa perasaan Irfan jadi tidak enak. “Irfan? Kamu ngapain bediri di depan jendela? Sini minum teh bareng,“ seru Sarah. “Mas Darren belum pulang, ma,“ sahut Irfan cemas dan khawatir. “Bentar lagi pasti pulang kok, Fan~ Tunggu aja~ Sambil nunggu sambil minum teh,“ ucap Sarah lagi. Irfan gelisah. Suara petir bergemuruh. Hah, semoga Darren tidak apa-apa, batin Irfan sambil menyesap teh hangat. Tring tring tring. Suara bel rumah pun berbunyi. Irfan dengan sigap langsung berdiri, dan berjalan ke depan pintu. Lalu, ia pun cepat-cepat membuka pintu lebar-lebar.
“Mas Darren? Kamu kenapa, mas?“ ucap Irfan tertegun melihat pergelangan tangan Darren di perban. Kemeja Darren juga terdapat bercak darah. “Mas masuk dulu, sayang~ Baru kita ngobrol,“ sahut Darren. Irfan pun menutup pintu, lalu duduk dengan Darren bersebelahan di sofa. “Darren!“ seru Sarah tiba-tiba lemas; melihat kemeja Darren terdapat bercak darah—pun pergelangan tangan kirinya diperban. Irfan terus menatap Darren. Irfan refleks menggenggam bagian yang diperban itu, lalu meletakkannya di atas p a h a Irfan sendiri.
“Tadi pas aku nyebrang jalan, aku kepeleset, belum sempet aku bener-bener jalan, tiba-tiba ada motor vespa matic gitu kenceng banget trus nabrak aku,“ ucap Darren menjelaskan. “Kamu bikin mama khawatir tau,“ ucap Sarah tidak tega. “Darren, kamu ganti baju dulu biar nggak masuk angin. Irfan, tolong bantu Darren, ya?“ ucap Jim. “Iya, pa,“ sahut Irfan. Ia pun memapah Darren menuju lantai atas. Setelah melepas baju dan celana. Irfan memeriksa lutut Darren, apakah ada bagian lain yang terluka. Ia juga meletakkan telapak tangannya di dahulu Darren, barangkali Darren demam.
Darren tertegun melihat Irfan begitu mengkhawatirkan dirinya. “Kamu khawatir sama mas?“ tanya Darren lemah lembut. Ia juga menatap Irfan dengan tatapan teduh. “Ya iyalah aku khawatir. Kamu kan suami aku mas?“ sahut Irfan tanpa ia sadari. Darren mengulum senyum. “Suami?“ gumam Darren menaikkan sebelah alis. Eh? Barusan aku bilang suami?, batin Irfan seolah baru tersadar terhadap apa yang ia ucapkan barusan. Irfan pun jadi salah tingkah hingga membuat kedua pipinya merona. Lalu, ia pun duduk di samping Darren.
“Hm, mas seneng kamu perhatian sama mas, sayang,“ ucap Darren meletakkan kepalanya di pundak Irfan. Irfan gugup. Suasana jadi hening sesaat. “Ssst,“ Darren meringis dan langsung duduk dengan posisi tegak, saat ia merasakan nyeri pada tangan sebelah kiri. “Mas! Udah, kamu istirahat aja, jangan banyak gerak,“ ucap Irfan. Dia terlihat sangat cemas sampai-sampai mengerutkan dahi. Haha gemesin banget sih, kamu?, batin Darren. “Mau ke mana?“ tanya Darren posesif. “Mau ngambil makanan buat kamu dulu,“ sahut Irfan.
Seulas senyuman tipis pun terukir di bibir Darren. Sejauh ini, Irfan menjalankan tugas sebagai istri dengan baik. Darren juga baru tau, jikalau Irfan ternyata geli dengan kulit ayam. Itulah mengapa ia selalu makan ayam tanpa kulitnya. Darren pun membuka laptop sambil menunggu Irfan datang. Sreet. Tiba-tiba Jayden masuk ke dalam kamar lebih dulu menghampiri sang ayah. “Daddy! Are you okay?“ tanya Jayden sambil memegang tepian ranjang. “Daddy nggak papa sayang, muach,“ sahut Darren m e n g e c u p pucuk kepala Jayden.
Suasana hati Rakha tidak sedang baik-baik saja. Terlebih setelah mendengar Ares ingin bekerja di luar. Entah mengapa Rakha berat hati; mengizinkan Ares bekerja di luar. Bagaimana kalau dia digoda oleh pria dan wanita di luar sana? Bagaimana kalau mereka berdompet tebal? Dengan status sosial yang lebih tinggi daripada Rakha? Uh, semua pikiran negatif itu berputar-putar di kepala Rakha. “Eh? Mas? Udah pulang?“ seru Ares, lalu m e n c i u m tangan Rakha.
“Maaf, tadi aku lagi di dapur. Baru beres masak,“ ucap Ares. “Duduk dulu, nanti aja naro tas mas ke kamar,“ seru Rakha dingin. Ares pun duduk di sebelah Rakha. Sudah pasti dia akan membahas tentang curhatan Ares tadi siang. “Kalo mas nggak ngizinin kamu kerja gimana? Kamu nurut sama mas ato nggak?“ ucap Rakha sarkasme. Ares diam sebentar. Ini adalah keputusan yang sangat sulit. Huft, gimana caranya aku bisa milih? Di satu sisi aku pengen banget kerja di sana. Tapi, di sisi lain aku juga musti nurut sama suami, batin Ares bimbang.
“Mas,“ gumam Ares sembari memegang lengan Rakha. “Maaf, maafin aku, aku juga pengen banget kerja di sana mas. Tapi, nggak full-time kok. Cuma freelance seminggu tiga kali,“ ucap Ares mencoba membujuk Rakha. Rakha memejamkan mata sejenak. “Terserah,“ sahut Rakha pasrah. Ia pun berdiri; berjalan menuju kamar, dan meninggalkan Ares sendirian di ruang tengah. D a d a Ares perih melihat punggung Rakha mulai menjauh. Ares juga bimbang; tidak tau harus memilih yang mana. Pasti Mas Rakha kecewa banget sama aku, batin Ares.
Hubungan Ares dan Rakha kembali merenggang. Beberapa hari ini mereka jarang sekali berbicara; mencurahkan isi hati satu sama lain; mereka cuma akan berbicara tiap ada perlu saja. Ares berusaha untuk lebih bersabar lagi. Ares sadar, ia juga berhak untuk mengejar cita-cita. Biarkan waktu yang akan meluluhkan hati Rakha perlahan. “Mas, kalo gitu aku ke dalem dulu,“ ucap Ares, setelah ia m e n c i u m tangan Rakha. Ares berusaha tersenyum manis. “Hm,“ sahut Rakha dengan deheman saja. Lalu, Rakha pun mulai melajukan motornya kembali.
Dan mulai hari ini pula, ia bertekad untuk belajar lebih giat lagi, bahkan saat jam istirahat tiba pun, ia habiskan di perpustakaan untuk membaca buku-buku sejarah. Semua ini ia lakukan demi bisa bekerja dengan profesional. Ah, aku baru inget, aku belum bilang sama Mas Rakha, kalo aku juga bakalan ikut kursus, batin Ares. Ia baru saja teringat akan hal itu. Dalam hati ia berdo'a tanpa henti. Semoga Tuhan melembutkan hati Rakha, dan mengizinkannya bekerja di sana. “Res? Ngegym, yuk?“ seru Putra, lalu duduk di sebelah Ares. “Duh, sorry banget, keknya nggak bisa, deh?“ sahut Ares. “Ya ela, refreshing dulu napa? Mumet kepala lu belajar mulu,“ ucap Putra lagi. “Hm, iya deh. Bentar, gue rapiin buku-bukunya dulu,“ ucap Ares. Ia pun berdiri, lalu meletakkan buku-buku itu kembali pada tempatnya.
.
.
JANGAN LUPA MAMPIR DI W A T T P A F JUGA KEMUNGKINAN SERING UP DI SANA JUGA.
MAAF KALO CERITA ARES GARING JELEK KARNA CUMAN SEGINI IDE YG GUE PUNYA.