![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Ia masih tertunduk dalam diam sambil bersender di dapur. Ia memikirkan apa yang baru saja terjadi. Daripada ia semakin pusing lebih baik ia pulang saja ke rumah secepatnya. Ini sudah hampir jam 10 malam.
Belum lagi ia harus mengerjakan tugas sekolah yang kian menumpuk karena mendekati ulangan akhir semester. ”Saya pulang kak, assalamu'alaikum.” ucap Ares. Seberapapun kesalnya kini Ares pada keadaan, tetaplah ia harus menjujung tinggi sopan santun dan tata krama. Tidak pergi begitu saja, melainkan mengucapkan salam terlebih dahulu.
Di dalam kamar Rakha duduk termenung di pinggiran ranjang. Ia tidak menyahut sama sekali ketika Ares mengucapkan salam. Pikiran Rakha kacau. Mungkinkah ini efek dari rasa lelahnya setelah seharian bekerja atau bagaimana? Atau ini hanyalah bentuk pelampiasannya saja karena terlalu merindukan Amin dan Bella?
Dua hati yang kini telah tumbuh benih-benih cinta tanpa mereka sadari itu pun mulai bimbang. Kemana kah rasa bimbang ini akan membawa keduanya? Kebahagian? Luka? Derita? Entahlah, kita lihat saja nanti.
Hari ini adalah hari dimana semua nilai, ranking, dan naik kelas atau tidaknya ditentukan. Sedari tadi Ares gemetaran. Ia gugup. Masih mampu kah ia mempertahankan juara kelas? Semoga saja, batin Ares.
”Maaf, kakak telat,” ucap Rakha tersenyum, lalu duduk di samping Ares. Ares diam tanpa memberikan ekspresi berarti. Hubungan Ares dan Rakha memang sedikit merenggang. Baik Ares ataupun Rakha sama-sama saling menghindar satu sama lain.
Semenjak kejadian waktu itu, tiap kali Ares datang untuk bersih-bersih, Rakha selalu saja tidak ada di rumah. Dia selalu beralasan kalau dia sendiri masih banyak pekerjaan di kantor. Siapa yang masih bekerja di jam-jam seperti itu? Sudah jelas kalau itu hanyalah bualan belaka.
Kedatangan Rakha kemari lantaran ia harus menggantikan Badrun dan Camilla untuk menghadiri acara kenaikan kelas sekaligus pengambilan rapor Ares. Ini dikarenakan saat ini Badrun dan Camilla sedang pulang kampung bersama Bayan dan Icha. Katanya nenek sedang sakit. Begitulah yang Ares dengar dari kedua orang tuanya.
Rakha tetaplah Rakha yang selalu baik hati dan bersahaja. Jangan lupakan sikap lemah lembutnya yang mungkin akan membuat siapa saja meleleh. Rakha tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Ares. Ares baru menyadari bahwa Rakha begitu suka sekali mengusap pucuk kepalanya. Memangnya di kepala Ares ada apa?
”Maafin kakak.. Kakak salah..” ucap Rakha menatap Ares dengan tatapan lembut dan penuh kasih sayang. Rakha selalu saja tersenyum ketika berbicara dengan Ares. Mengapa kata-kata maaf dari Rakha terdengar begitu tulus sehingga membuat Ares terenyuh.
”Lain kali kakak bakalan lebih jaga sikap, kakak janji,” ucap Rakha tersenyum penuh arti. Bagi Rakha, Ares itu sudah seperti keluarga. Disini Rakha sendiri. Sedangkan orang tua Rakha nan jauh disana. Rakha tidak ingin kehilangan seorang adik seperti Ares hanya karena keegoisannya sendiri. Jangan sampai itu terjadi. Ingatlah bahwa penyesalan itu selalu datang di akhir.
”Saya juga minta maaf kak,” ucap Ares. Ares dan Rakha pun saling tersenyum satu sama lain. Tanpa mereka sadari ini adalah awal dari perjalanan cinta keduanya. Semoga kebahagiaan selalu berpihak pada keduanya.
Acara pun dimulai dengan meriah. Ares sangat berterima kasih kepada Rakha, karena ia sudah sudi untuk hadir disini. Bahkan, Rakha harus bercuti sehari demi Ares. Selama Rakha bisa membantu apapun pasti akan ia lakukan. Bagi Rakha ini tidak masalah.
Setelah acara selesai, di halaman sekolah, Ares refleks langsung memeluk Rakha. Ares sangat senang dan kegirangan. Ares teramat sangat bersyukur karena ia bisa meraih juara umum untuk pertama kalinya. Mata Ares berkaca-kaca. Rakha juga bangga memiliki adik seperti Ares yang begitu sangat berprestasi.
”Mau hadiah apa?” tanya Rakha ingin memberikan penghargaan khusus untuk Ares. ”Kakak dateng aja saya udah seneng banget.” ucap Ares. Rakha memang sebaik itu. Lagian Ares juga tidak membutuhkan apapun saat ini. Menjadi juara umum sekolah saja cukup menjadi hadiah terbesar bagi Ares.
”Kabarin mama papa juga jangan lupa~” ucap Rakha mengingatkan. Sikap Rakha benar-benar mencerminkan sebagai seorang kakak yang baik. Begitu perhatian dan sangat suka sekali menasihati. Wajar saja karena Rakha ingin Ares menjadi seorang remaja yang baik. Begini rupanya rasa memiliki seorang kakak yang penyayang. Ugh, Ares menggerutu dalam hati.
”Kak.. Foto-foto dulu yuk!” ajak Ares. Rakha ikut saja. Ini hari kenaikan kelas Ares. Rakha ingin melakukan apa saja yang sang adik inginkan. ”Kak.. Foto disitu yuk?” seru Ares mengajak Rakha berfoto bersama di sebuah background perpustakaan yang sengaja di letakkan persis di depan pintu gerbang, untuk anak-anak yang naik kelas nantinya.
Di pose foto terakhir, Ares mengecup pipi Rakha sambil memejamkan mata. ”Kita impas.” seru Ares menatap Rakha. Tinggi Ares dan Rakha tidak jauh berbeda. Jadi, mudah saja bagi Ares mengecup pipi Rakha selama beberapa detik.
Rakha terkejut. Ia pun menoleh ke samping, menatap Ares. ”Wajar kan kalo adek cium pipi kakaknya?” ucap Ares. Dalam hati ini terakhir kalinya Ares mencium Rakha. Ares tidak ingin jatuh terlalu dalam. Rakha pun tersenyum lalu mengangguk pelan sambil mengusap pucuk kepala Ares.
Sebelum pulang ke rumah, Rakha mengajak Ares makan-makan dulu. Ares diam dan ia juga menghindari bertatapan langsung dengan Rakha. Kenapa?, batin Rakha. Rakha merasa ada sesuatu yang aneh dan tidak biasa pada diri Ares. Ini hari kenaikan kelas dan tentunya adalah hari yang juga sangat membahagiakan. Tapi, kenapa Ares terlihat murung dan tidak bersemangat?
”Diabisin Ares,” seru Rakha.
”Hmm,” sahut Ares dengan deheman saja sambil menganggukkan kepala pelan. Ia tidak menatap Rakha sama sekali.
Ares turun dari motor ketika ia dan Rakha sudah sampai di depan rumah. Ares lelah. Ia ingin mengakhiri semua drama adik kakak yang terjadi antara dirinya dan Rakha. ”Kak..” seru Ares. Kali ini Ares menatap Rakha lamat-lamat. ”Saya mau berhenti kerja di rumah kakak. Saya juga minta, kakak berhenti buat anter jemput saya sekolah.”
Deg, hati Rakha mencelos setelah mendengar perkataan Ares barusan. Mengapa Ares berkata demikian? ”Kenapa?” tanya Rakha. Ares diam sejenak. ”Saya capek kak,” ucap Ares. ”Kakak pulang aja, saya mau istirahat. Makasih udah nganter ampe rumah.” ucap Ares. Rakha meraih pergelangan tangan Ares ketika Ares hendak berbalik.
Oh tuhan, sudut mata Ares memerah. ”Kenapa?” kali ini Rakha sedikit memberikan tekanan pada kata-kata nya. Kedua alis Rakha mengkerut meminta Ares memberikan penjelasan. ”Kakak tau kamu nggak secapek itu buat berhenti kerja di rumah kakak, Ares.”
”Lepasin kak,”
”Nggak, kakak nggak bakalan lepasin sebelum kamu kasih tau kakak alesannya.”
”Kakak mau tau alesannya?”
”Hmm..”
”Karena saya suka sama kakak,”
Rakha pun melepaskan pergelangan tangan Ares. Ares menyukai Rakha? Rakha sungguh tidak percaya akan hal ini. Bagaimana ini bisa terjadi? Ingat, Ares dan Rakha itu lelaki. ”Udah tau, kan? Sekarang?” seru Ares. ”Jadi, plis kak jangan deketin saya lagi. Saya nggak mau jatuh terlalu dalam. Kakak pulang aja. Saya mau istirahat.”
Ares masuk ke dalam. Rakha terlalu bingung untuk mencerna semua ini. Sehingga tidak ada sama sekali niatan dalam hatinya untuk mencegah Ares masuk ke dalam. ”Ares..” gumam Rakha. ”Maafin kakak dek,” gumam Rakha lagi. Sungguh Rakha tidak menyangka kalau semua apa yang ia lakukan untuk membalas budi pada Ares, berakhir dengan Ares jatuh cinta padanya. Ini sungguh tidak masuk akal.
Hari demi hari pun berlalu. Sebelum berangkat kerja Rakha pun duduk di pinggiran ranjang dekat nakas. Ia melemparkan pandangannya ke seluruh sudut kamarnya. Ah, banyak sekali foto-foto dirinya bersama Ami. Lalu, ia ambil bingkai foto yang ada di nakas. ”Maafin mas Ami,” gumam Rakha.
Sampai saat ini Rakha belum mengetahui kabar Ami ataupun Bella. Yudi juga melarang Rakha untuk mengunjungi rumahnya sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Setelah berpikir cukup keras dan lama, Rakha dengan berat hati harus mengemas semua foto-foto dirinya bersama Ami. Rindu tak terbalas itu lebih menyakitkan dari apapun.
Di kantor ia menyapa dan disapa pada siapa saja yang lewat berselisihan. Ah, Rakha ingat kalau dirinya ingin menanyakan sesuatu pada seseorang. ”Mba,” seru Rakha menyapa teman kerjanya yang kebetulan bersebelahan dengan dirinya.
”Hm?” sahut Padma dengan mata masih fokus pada laptop. Ia tidak menoleh sama sekali.
”Ada yang mau aku omongin mba,”
”Serius?”
”Iya serius,”
Padma memutar kursinya hingga ia pun kini berhadapan dengan Rakha. ”Mau ngomong apaan?” seru Padma. Dari tatapan Rakha sepertinya Rakha benar-benar sedang serius ingin berbicaranya. Memangnya Rakha ingin membicarakan apa ya?
”Uhm.. Kalo misalnya ada orang yang suka sama kita gimana mba? Tapi, kitanya nggak ada perasaan apa-apa gitu.”
”Hmm..” Padma pun mengambil kitkat rasa matcha di laci. ”Lu dulu suka sama si matcha ini nggak?”
”Nggak,”
”Tapi, sekarang suka, kan?”
Rakha mengangguk. ”Kenapa? Ya karena lu udah nyobain rasanya. Kalo lu nggak nyobain mana tau ini kitkat enak ato nggak.”
”Maksud mba?” Rakha masih belum mampu mencerna perumpamaan yang diberikan oleh Padma barusan. Padma gemas sekali. Bagaimana bisa Rakha si kesayangan atasan ini bisa sebodoh ini dalam memahami sebuah perumpamaan dan peribahasa?
Sabar Padma sabar. ”Maksud mba.. Kalo lu nggak nyoba jalanin hubungan sama orang yang suka ama lu mana lu tau, kan? Bisa jadi jodoh. Selama orangnya baik kenapa nggak? Beda cerita kalo dia cewek nakal yang suka dugem,”
”Lu musti inget juga Kha.. Kadang kita tuh suka ngelewatin hal-hal penting demi sesuatu yang sebenernya nggak pasti dan bikin kita ngambang.. Ternyata yang kita lewatin itu yang terbaik buat kita. Mba udah pernah ngalamin. Lu jangan ampe nyesel dah.”
”Masalahnya.. Dia.. Bukan cewek,”
”Bukan cewek? Maksudnya?”
”Co-cowok mba,”
”Oh~”
”Kok mba nggak kaget?”
”Harus gitu?”
”Ng-nggak sih,”
Rakha menggaruk lehernya yang tidak gatal. Saat ini ia mengesampingkan rasa malunya untuk bercerita sekaligus bertukar pikiran dengan Padma. Maklum karena Padma lebih tua dari Rakha. Jadi, Rakha menganggap Padma pasti bisa memberi saran dan masukkan terbaik.
”Keluarga mba juga ada kok Kha cowok sama cowok gitu. Punya anak malah.”
”Hah?”
”Adopsi~”
”Oh~”
Padma pun kembali dalam mode serius. Ia tau sahabatnya yang satu ini tengah kebingungan untuk membelokkan hatinya kemana. Padma sudah seperti rumah kedua untuk Rakha. Tempat berkeluh kesah. Beruntung suami Padma tidak pencemburu. Bahkan Rakha pernah diundang oleh suami Padma beberapa kali ke rumahnya. Katanya dia sudah menganggap Rakha adik.
”Trus perasaan lu sama dia gimana? Gak suka ato gak tau apa gimana?”
”Uhm..” Rakha bingung. Betul juga apa yang dikatakan oleh Padma baruan. Mengenai perasaannya yang sesungguhnya, apakah sebenarnya dirinya tidak suka sama sekali atau hanya tidak tau saja?
”Gini deh Kha.. Lu coba inget-inget.. Tiap lu deket ama dia pernah nggak deg-degan ato gimana gitu? Ok deg-degan ato nggak itu relatif. Tapi, maksud mba ada nggak yang dimana lu bener-bener deketin dia tanpa ada maksud apa-apa? Pure aja gitu.”
Rakha mengingat-ingat kembali. Pernahkah ia seperti itu? Dari mengantar jemput sekolah, mengusap pucuk kepala, sampai mengecup bibir. Tidakkah semua itu ia lakukan bukan hanya sekedar sebagai rasa balas budi belaka? Kalau pun ingin balas budi, tentu Rakha tidak perlu sampai harus mencium Ares, kan? Sampai-sampai ia serasa terhipnotis dengan tatapan Ares yang bak magnet itu.
Padma tersenyum lebar lalu menepuk pundak Rakha. Padma tau jawaban yang sesungguhnya tanpa Rakha bicara sekalipun. ”Semangat!” ucap Padma.