ARES [BL]

ARES [BL]
ARES 3



Rakha membawakan dua porsi siomay, satunya super pedas untuknya dan satunya lagi original untuk istri tercintanya yang tidak bisa makan pedas. Ia melihat istrinya itu nampak kesusahan karena kedua tangannya yang sibuk menggendong si kecil.


Seulas senyum tipis pun terukir di bibirnya. Ia merasa benar-benar menjatuhkan pilihan yang tepat untuk menjadikan Ami sebagai istrinya sehidup dan semati. Interaksi Ami dan putri kecilnya Dara begitu hangat dan keibuan sekali. Lelaki mana yang tidak terharu dan bertambah cinta dan sayangnya ketika melihat istrinya sendiri begitu menyayangi anaknya sepenuh hati, jiwa, dan raganya?


“Biar mas yang gendong sayang, kamu makan dulu.” ucap Rakha menawarkan diri.


”Hati-hati loh mas keseleo nanti.“ sahutnya posesif kalau-kalau Rakha salah posisi ketika menggendong si kecil. Lihatlah kedua alis Ami yang mengkerut itu, lucu dan sangat menggemaskan.


Ami memandangi seporsi siomay yang di bungkus steropom dan dilapisi daun di dalamnya. Terlihat menggugah selera dan membuatya menelan ludah beberapa kali karena ngiler. Ah, jangan-jangan siomaynya nggak bersih lagi, pikir Ami.


Ami menyipitkan matanya, ia ragu untuk benar-benar mencicipi siomay yang ada di hadapannya. ”Hahahaha,” tawa Rakha pun pecah dan membuat Ami mencebikkan bibirnya kesal. Gemas melihat tingkah Ami yang tak kunjung mencicipi siomay yang ia beli, Rakha pun mengambil sesendok dan menyuapinya paksa.


”Hm!“ mata Ami melotot ketika sesuap siomay dipaksa masuk ke dalam mulutnya. Ami mengerjapkan matanya kaget. Ia menelan siomaynya bulat-bulat. Seketika matanya berbinar ketika ia merasa siomay yang dimakannya begitu lezat.


”Apa mas bilang kamu bakalan suka, kan? Wkwk,” ucap Rakha sambil tertawa renyah. Keduanya pun makan bergantian. Kini giliran Rakha yang menghabiskan siomaynya yang masih utuh karena sedari tadi ia harus menggendong si kecil Dara.


Senyuman penuh keramah-tamahan tidak lepas dari bibirnya untuk menyambut pelanggan setianya. Tanpa ia sadari seseorang berdiri di sampingnya dengan kedua tangan bersedekap di dada, pun tatapannya yang menyipit tajam tidak suka.


“Makasih mas ganteng,” ucap seorang wanita sedikit genit setelah menerima pesanannya. Tiba-tiba Adhitama memegang pergelangan tangan Ares yang masih sibuk meracik siomaynya. ”Ikut gue.” pintanya paksa dan semakin memperkuat cengkramannya.


”Lepasin,” ucap Ares mulai sedikit emosi atas sikap Adhitama yang berlebihan. Adhitama mengerutkan alisnya dengan sorot mata tajam penuh dengan kobaran api kemarahan. ”Ikut gue ato lo bakalan tau akibatnya.” ancam Adhitama yang terdengar tidak main-main.


”Gue masih ada pelanggan. Lu liat, kan? Tangan gue cuma dua, mending lu tunggu disana aja.” ucap Ares menunjuk bangku taman yang tidak jauh dari sini.


”Gak pake lama.” ucap Adhitama penuh penekanan di setiap katanya. Adhitama pun melepaskan cengkramannya kemudian duduk di salah satu bangku taman sambil menunggu Ares selesai melayani para pembeli.


Setelah dirasanya para pembeli mulai lengang, ia pun menghampiri Adhitama dengan posisi berdiri dan bibir yang sengaja dimanyun-manyunkan. ”Lu ngapain kesini? Nggak ada kerjaan?” ucap Ares sarkas.


Adhitama yang tadinya asyik memainkan ponselnya pun menoleh ke arah sumber suara. “Kacung gue gak bales chat ama telpon gue. Jadi, gimana bisa gue diem coba?”


”Heh,”


”Lu musti inget gue bisa aja nunjukin foto-foto kita ama bonyok lo. Jadi, lu harus nurut ama gue apapun itu alesannya.”


“Gue sibuk ngurusin pelanggan gue. Lu tau sendiri kan kalo gue itu siapa? Penjual siomay keliling!”


Di ujung kalimatnya sengaja Ares meninggikan intonasinya ketika berbicara. Adhitama yang mendengar Ares seperti membentaknya itu pun naik pitam. ”Lu musti gue hukum.” ucap Adhitama dengan sorot mata tajam yang menusuk lalu menarik tangan Ares paksa.


Dari kejauhan Rakha melihat aksi saling tarik menarik keduanya yang menjadi pusat perhatian beberapa orang. Kasar sekali, pikir Rakha melihat aksi Adhitama yang menarik pergelangan tangan Ares dengan kasar.


”Cih.” Rakha berdecih kemudian berdiri berniat melerai aksi keduanya.


”Mau kemana mas?” tanya Ami.


”Tunggu.” jawab Rakha.


Sorot mata Ami mengikuti kemana arah Rakha berjalan, rupanya ia menghampiri dua cowok remaja yang nampaknya tengah adu mulut. ”Ngapain sih.” gumam Ami sebal karena Rakha yang sok ikut campur dab ingin menengahi masalah orang lain.


”Lepasin.” ucap Rakha dingin.


”Siapa lo?” tanya Adhitama berlagak sangar.


”Gue kakaknya.”


”Cih! Lo kakaknya? Ares nggak punya kakak! Dia anak tunggal! Ngerti!?”


”Mulai dari sekarang saya kakaknya.”


Ares membelalakkan matanya tidak percaya setelah mendengar perkataan dari orang yang tidak dikenalnya barusan. ”Heh,” Adhitama mendengus dan berlagak sok sekali. Siapa pun mungkin akan merasa sebal melihatnya.


”Lu nggak tau gue siapa dan gue bisa ancurin idup lo juga brengsek.” umpatnya kesal mengancam Rakha. Rakha yang diancam seperti itu pun tersenyum miring kemudian menertawainya. ”Gue nggak takut.” ucap Rakha mantap sambil menatap Adhitama tidak kalah tajam.


”Kamu nggak papa dek?” tanya Rakha sedikit khawatir.


”Iya kak nggak papa, makasih ya kak.” jawab Ares merasa tidak enak.


”Dia sering gituin kamu?“


”Hah?”


”Maksud kakak dia sering kasar ke kamu gitu?”


Kedua mata Rakha seolah menuntut jawaban dari Ares dengan amat sangat. Kenapa? Tentu karena dirinya yang tidak suka kekerasan. Ares diam saja tidak berkata apa pun dan itu cukup menjawab semua keingintahuan Rakha.


”Kamu musti jauh-jauh dari orang kek dia tuh dek.“ ucap Rakha sedikit emosi. Seharusnya Areslah yang emosi disini, namun Rakha yang datang bak pahlawan itu pun rupanya tidak kalah emosi. ”Hp kamu dek sini.” pinta Rakha dan Ares pun mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.


Rakha mengerutkan alisnya ketika melihat merk ponsel milik Ares yang tergolong canggih dan mahal. Bahkan, miliknya pun kalah yang cuma standaran xiaomi. Tiba-tiba Ares bersuara dan menjawab semua keheranannya.


”Itu dikasih sama temen kak.” ucap Ares merasa tidak enak. Ia tidak ingin Rakha berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya yang cuma tukang siomay keliling tapi memiliki ponsel mahal samsung galaxy s10.


”Temen kamu yang tadi?” tanya Rakha memastikan. Ares pun mengangguk. Ternyata benar dugaannya karena kalau dilihat-lihat dari gayanya yang pongah itu jelas sekali, kalau anak yang tadi itu adalah orang kaya, mungkin sama kayanya dengan istrinya, Ami.


Rakha pun mengetikkan nomor ponselnya disana. ”Telepon kakak kalo ada apa-apa.” ucap Rakha seraya mengembalikan ponsel Ares. Sekali lagi Ares hanya mampu berterima kasih dan tidak tau harus membalas kebaikan Rakha dengan cara apa.


”Aku Rakha Sadeli Nataprawira, panggil Rakha aja.”


”Aku Ares Casugraha, panggil Ares aja.”


Keduanya pun saling berkenalan dan berjabat tangan. Tidak lupa baik Rakha maupun Ares sama-sama menampilkan senyum terbaiknya. Tanpa keduanya sadari tersirat perasaan kagum di hati masing-masing.


“Ngapain sih mas ikut campur masalah orang aja.” protes Ami memberengut tidak suka. Ia pun berdiri sambil menggendong Dara. ”Ayok pulang mas.” ucapnya lagi segera berjalan menuju mobil di parkiran.


Rakha menghela nafas kemudian merapikan tikar yang tadi digelar, pun tas-tas untuk kebutuhan Dara ketika sedang berada di luar. Ia pun segera duduk di kursi kemudi dengan kondisi Ami yang diam seribu bahasa.


”Kenapa sih yang hm? Cerita dong sama mas.” ucap Rakha sambil melajukan mobilnya pelan.


“Aku nggak suka ya mas kalo mas tuh ikut campur urusan orang lain. Ya biarin aja lah mau mereka kek gimana juga bukan urusan kita.” sahut Ami yang sama sekali tidak memiliki simpati ataupun empati.


Seegois ini pandangan Ami terhadap orang-orang di sekitarnya. Besar di keluarga yang kaya raya pun tidak menjamin pemikiran seseorang yang dewasa dan tentunya mudah berempati kepada orang lain.


Lalu, apa alasan Rakha mau menikahi Ami yang jelas-jelas berperilaku kurang dewasa dan sedikit kekanak-kanakan? Jawabannya adalah karena Rakha menyayangi dan mencintai Ami dengan tulus. Baginya mencintai seseorang bukan hanya pada kelebihannya saja melainkan kekurangannya juga.


Meskipun begitu Ami adalah seorang wanita yang sangat keibuan sekali dan menyukai anak kecil. Terlihat dari interaksinya dengan Dara yang selalu saja membuatnya iri. Ami berbeda dengan wanita lain, kadang ia memang terlihat sangat menyebalkan, namun ada sisi dimana ia sangatlah penurut kalau dinasihati.


”Yang?” seru Rakha.


”Fokus nyetir aja dulu mas.” ucap Ami tidak menoleh sama sekali.


Di rumah, Ami masih mendiamkannya tanpa sebab. Ini hanyalah perkara kecil karena dirinya yang ingin mencoba melerai perkelahian dua anak muda. Tapi, kenapa Ami bisa sesensitif ini? Tidak biasanya Ami seperti ini.


Ami lebih dulu masuk ke dalam rumah, sedangkan Rakha membawa barang-barang keperluan Dara di belakang. Ia pun berjalan menuju kamarnya dan mendapati Ami yang duduk di samping ranjang sambil menina bobokan Dara yang tengah tertidur pulas.


Rakha letakkan tas-tas kecil itu di atas meja dekat pintu. Ia pun menghampiri istrinya lalu duduk di sampingnya. ”Sayang,” seru Rakha lemah lembut. Sekesal dan semarah apapun Ami kepada dirinya ataupu sebaliknya, satu hal yang tidak bisa ia lakukan adalah berkata-kata kasar.


”Maafin mas ya sayang,” ucap Rakha sambil mengelus surai rambut istrinya yang wangi sekali hingga menyentuh indra penciumannya.


”Mas tau nggak? Aku tuh khawatir tau! Gimana kalo mereka bawa senjata tajam trus nusuk mas? Ayok gimana coba hm?”


Rakha pun menghembuskan nafasnya. ”Kita ngomong di luar aja sayang, inget kita nggak boleh marahan di depan anak.” ucap Rakha kemudian beranjak dari sana menuju ruang tamu diikuti oleh Ami di belakang.