ARES [BL]

ARES [BL]
ARES 51



Suara decitan burung-burung—pun ombak yang saling bertabrakan dengan pinggiran pantai—membuat suasana pagi itu terasa amat sangat penuh arti. Bermalas-malasan di ranjang? Uh, semua pasangan pasti akan seperti ini. Benar, kan? Kalian pasti juga seperti itu, kan? “Eungh,“ Ares menggeliat. Sinar mentari masuk melalui celah-celah jendela. Ugh, Ares meringis, pinggulnya nyeri. Ini pasti gara-gara aktivitas ia dan Rakha tadi malam. Haruskah aku memarah-marahi Mas Rakha; saat dia bangun nanti?, batin Ares.


Rakha semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan deru nafas Rakha juga sangat terasa di permukaan kulit leher. Uh, tubuh Ares mendadak panas. Cuma deru nafas saja—sudah mampu membuat Ares bergairah di pagi hari? Uh, malu-maluin aja deh, batin Ares. “Met pagi sayang,“ gumam Rakha dengan suara serak—masih dengan mata terpejam. “Copot dulu dong mas,“ seru Ares saat ia merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana. Tentu saja karna Rakha masih membenamkan miliknya di dalam sana dari tadi malam.


Sejurus kemudian, Rakha pun menarik miliknya keluar hingga berbunyi sedikit. “Masih tegang, Res,“ goda Rakha. “Bukan urusan aku mas~ Mas keluarin aja sendiri di kamar mandi, aku capek,“ ucap Ares. Rakha pun merubah posisi tidurnya menjadi telentang. Dia masih lelah setelah beradu berjam-jam di atas ranjang tadi malam. Sprai kasur saja sampai meninggalkan noda bekas semburan ****** ***** itu. Bisa kalian bayangkan seberapa panasnya aktivitas ranjang Ares dan Rakha tadi malam?


Ares pun bangkit dari ranjang. Setelah memakai handuk piyama; ia pun membuka pintu kamar ini lebar-lebar; dan terpampanglah pemandangan nan indah dipandang mata. Ini seperti surga dunia, batin Ares. Hm, udara di sini sangat sejuk. Ares memejamkan mata sambil menghirup udara dalam-dalam—di pinggir kolam renang. Bagus juga sih liburan dua hari satu malam bersama suami tercinta. Terlebih besok Ares juga sudah mulai UAS.


Sayup-sayup Ares mendengar derap langkah kaki seseorang. “Mas?“ seru Ares hendak memutar badan. Tubuh Ares sedikit oleng. Lalu, dengan sigap Rakha pun meraih pergelangan tangan Ares. Namun, sia-sia saja, karna saat ini keduanya sama-sama tercebur ke dalam kolam renang. Entah mengapa basah-basahan bersama seperti ini, membuat Ares semakin deg-degan dan salah tingkah. Uh, wajah Ares mulai terasa panas.


“Uhm, ma-ma-mas, ka-kamu mau ngapain?“ gumam Ares gugup, saat Rakha semakin mendekat, dan menghimpit tubuhnya. Rakha pun tersenyum dan berkata, “Mas udah dapetin ruko buat kamu jualan nanti sayang,“. Hm? Rakha sudah menemukan ruko yang diinginkan oleh Ares? “Dan selamat ulang tahun ya, sayang? Love you,“ ucap Rakha tulus dari dalam hati sembari mengecup kening Ares lama sekali. Ares terharu. Kedua matanya juga mulai berkaca-kaca. Ah, benar, hari ini ulang tahun aku, batin Ares.


Ares terus saja menatap kedua mata Rakha lamat-lamat—yang di mana tangan Rakha juga bermain-main di rambut Ares. “Makasih sayang makasih,“ ucap Ares berterima kasih sembari memeluk Rakha dengan erat. “Jangan diteken, Res. Ngilu,“ seru Rakha. Kontan Ares pun langsung mundur. Uh, aku beneran nggak sadar, ampe nggak sengaja neken punyanya Mas Rakha, batin Ares benar-benar tidak tau.


“Kita musti cepet-cepet mandi sayang. Soalnya hari ini kita bakalan pergi kondangan,“ ucap Rakha. Benar, hari ini Ami dan Irfan menikah. “Mas.. Kamu nggak papa?“ tanya Ares cemas. Sejurus kemudian; Rakha pun tersenyum penuh arti; sebuah senyuman yang sangat jelas menggambarkan—betapa ia sangat bahagia tanpa terbebani oleh apapun. “Mas nggak papa sayang,“ sahut Rakha. Ares dan Rakha pun tertawa bersama penuh cinta. Kebahagian ini, Rakha berjanji dalam hati, akan selalu mengukirnya di setiap jalan kehidupan rumah tangganya—melewati duri-duri itu bersama-sama.


Ares dan Rakha mengenakan outfit yang sama, mulai dari: baju batik motif burung emprit jingga, jam tangan silver, celana hitam, dan sepatu hitam. Di luar dugaan, ternyata juga ada beberapa rekan kerja Rakha—yang datang ke sini. Ares cuma mendengarkan saja, karna jujur Ares juga tidak ingin ikut campur dalam pembicaraan mereka. Kedua alis Ares berkerut. Ia melihat seorang pria di sebelah sana—yang di mana pria itu adalah orang yang hampir saja Ares tabrak kemarin.


Sepertinya dia juga orang-orang dari dunia bisnis, batin Ares. Ingin Ares menyapanya, namun Ares tidak ingin terlihat sok kenal. “Mas, aku jalan ke sana dulu, ya?“ ucap Ares menunjuk ke bagian hidangan prasmanan. Ares ingin minum dan makan sesuatu di sana. Hah, nggak ada satu pun yang Ares kenal di sini, rasanya seperti Ares sedang berada di dalam gua. “Iya sayang nggak papa. Nanti susul mas lagi, ya?“ sahut Rakha mengijinkan. Ares pun melangkahkan kaki ke sana.


Hidangan di sini banyak banget, ya?, batin Ares sampai bingung mau makan apa. “Sate dan tongseng,“ seru seorang pria—yang kemudian berlalu begitu saja setelah mengambil apa yang dia ingin makan. Ares pun menoleh. Namun, pria itu telah menjauh darinya. Hm, ya sudahlah, lebih baik makan kue aja, batin Ares. “Hm, sate pencok nya enak banget,“ gumam Ares memuji. Pantas saja hidangan di sini bermacam-macam—yang nikahan kan orang kaya raya?


Setelah puas makan; Ares dan Rakha pun berbincang berdua dengan mesra; tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memperhatikan mereka dari tadi. Tatapan tajam pria itu, entahlah apa maksudnya. Sesekali pria itu juga mengernyitkan alis heran, mempertanyakan mereka Ares dan Rakha terlihat begitu mesra? Sesuatu yang amat sangat tidak wajar, jikalau dua orang pria bisa semesra itu.


“Lu liat apaan?“ tanya temannya. “Tuh,“ sahutnya menunjuk ke arah Ares dan Rakha. “Ah, lu nggak tau? Mereka itu pasangan suami istri sejenis,“ ucap temannya. Ia pun langsung mendelik. Pasangan sejenis? Heh, emang bisa? “Pasti lu mikir ini tuh nggak masuk akal, kan?“ ucap temannya lagi. Tentu saja dia berpikir hal ini amat sangat tidak masuk akal—pun sangat menyalahi norma agama dan masyarakat.


Giliran Ares dan Rakha yang bersalaman dengan dua mempelai. Ami dan Irfan. Terlihat sedikit canggung memang. Tapi, mau bagaimana lagi? Yang dihadapi memang harus dihadapi. Ami memandangi Rakha dari ujung kaki sampai ujung rambut—pun Ares. “Murahan! Norak!“ batin Ami mengatai stelan batik—yang dikenakan oleh sepasang suami istri itu—yang di mana menurut Ami terlihat berharga murah, dan terkesan norak.


Zero pun melepas rantai di kedua pergelangan tangan Durahman. Kali ini ia membiarkan Durahman terlepas dari rantai yang telah membelenggunya selama berhari-hari. Zero pun menatap Durahman, dan berkata, “Nyokap lu udah gue kirim ke Jepang, buat jalanin pengobatan intensif di sana,“ ucap Zero. Durahman tertegun. Ke Jepang? Zero mengirim sang ibu ke sana? “Lu nggak usah ikut campur masalah keluarga gue—“ Kata-kata Durahman pun langsung dipotong oleh Zero. “Gue bilang lu masih sibuk kerja, dan semua biaya ditanggung ama lu,“ ucap Zero.


“Lu mending tobat, Du. Jangan ampe nyokap lu tau lu kerja apa. Kalo pun lu harus jadi mata-mata, lu pake jalur bersih aja, nggak usah ampe ngotorin tangan sendiri,“ ucap Zero menasihati. Orang tua mana yang sudi ketika anak sendiri bekerja dengan cara yang tidak baik? Bahkan sampai harus melukai orang lain? Di mana-mana mereka lebih akan merasa baik-baik saja saat anak-anaknya bekerja biasa. Gaji kecil tak apa—yang penting bersih dari dosa. Benar, kan?


Zero pun berdiri. “Lu bebas ngapain aja di sini, Du. Tapi, lu musti inget satu hal. Kalo lu coba-coba nerobos pintu ampe ngancurin knopnya, gue bakalan lebih dulu matahin tangan lu,“ ucap Zero mengancam. Durahman diam saja tidak bersuara sepatah kata pun. Ia melihat Zero melangkahkan kaki ke sofa sambil meminum minuman kalengan. Durahman tidak mempunyai uang sebesar itu untuk mengirim ibunya ke luar negeri. Zero? Siapa dia? Bahkan dia bukan siapa-siapa di keluarga Durahman. Tapi, mengapa dia dengan senang hati membantu pengobatan sang ibu? Jangan bilang kalau Zero akan menggunakan jalan ini untuk bernegosiasi dan menekan dirinya dalam hal apapun?, batin Durahman curiga.


Di dunia seperti ini mana ada orang lain melakukan sesuatu untuk orang lain tanpa mengharapkan timbal balik? Suatu saat dia pasti akan menuntut hal itu. “Stop,“ seru Zero. Ia tau Durahman melangkahkan kakinya diam-diam seperti maling. Dari suara dan arah kaki tersebut melangkah, Zero merasa, Durahman ingin menyerang dirinya. “Dendam ama gue nggak ada gunanya, Du. Lu salah sasaran.“ ucap Durahman sarkasme.


Kenapa dia bisa tau kalo gue mau nyerang dia? Padahal gue udah jalan setelah mungkin, batin Durahman heran. Zero pun berbalik. “Dengerin kata-kata gue, Du. Kalo lu selalu curigaan sama orang, lu nggak bakalan pernah bahagia, dan kebahagiaan juga nggak bakalan sudi nyamperin lu. Gue nolongin lu karna gue pengen aja. Gue nggak minta timbal balik apa-apa. Kalo lu masih nggak percaya juga, apa perlu gue panggil pengacara buat bikin surat hitam di atas putih?“ ucap Zero mantap.


Zero dibesarkan di panti asuhan. Bahkan dia tidak tau bagaimana wajah kedua orang tuanya. Itulah mengapa dia mudah iba kepada orang tua yang memang membutuhkan pertolongan, termasuk ibu Durahman. Cukup Zero saja yang merasakan sakit itu—yang di mana ia hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua. Jangan sampai orang-orang yang ada di sekitarnya juga merasakan hal yang sama.


“Lu harus berubah demi nyokap dan adek lu, Du.“ ucap Zero kemudian. Lalu, ia pun keluar dari apartemen mencari udara segar. Dia ingin menenangkan diri. Durahman pun termenung. Kata-kata Zero barusan masih terngiang dengan jelas. Kebahagiaan tidak akan datang kalau kita terus saja menyimpan perasaan curiga kepada orang lain. Heh, Durahman tersenyum pahit. Dia terlalu lama hidup dalam kewaspadaan. Dia takut entah itu karna takut disakiti—atau karna takut orang lain berkhianat kepada dirinya.


“Papa mau minta maaf. Maafin papa, ma. Papa mau kita baikan kek dulu lagi. Itu aja. Papa nggak mau keluarga kita pecah cuman gara-gara istri kedua papa. Papa janji bakalan adil, ma.“


“Adil papa bilang? Apanya yang adil, pa? Papa mau ngasih semua harta papa sama anak tiri papa itu, hah? Trus Ami gimana? Papa mau buang Ami gitu aja?“


“Papa nggak ada maksud buang Ami sama kamu Zada. Bagi papa kalian itu hidup papa. Papa musti jaga kalian baik-baik. Coba papa tanya, papa selama ini full di rumah mama, kan? Ke rumah Alena pun papa cuma tiap ada dinas aja, ma. Kapan papa nggak bersikap adil coba, ma?“


Semua kata-kata yang diucapkan oleh Yudi memang benar. Tapi, tetap saja hati Zada terasa perih, dan tidak terima. Mau seadil apapun, tetap saja kasih sayang Yudi terbagi. Dan Zada sama sekali tidak ingin itu terjadi. Jikalau pun dirinya harus hidup bersama Yudi terus menerus, bisa-bisa ia makan hati. Lebih baik ia hidup tanpa Yudi. Ia juga sudah lelah, dan ingin mengakhiri semua drama ini. “Kita cerai aja, pa,“ ucap Zada menahan tangis. Puas kamu Alena? Puas kamu udah hancurin kehidupan rumah tangga aku sama Mas Yudi? Ambil sana, silahkan ambil mas Yudi kamu itu, batin Zada marah.


“Ma..,“ gumam Yudi mencoba berbicara baik-baik lagi. Zada pun menangkis tangan Yudi, saat Yudi mencoba menggenggam tangan Zada. Bagaimana bisa aku berpisah begitu saja dengan Zada? Dia cinta pertama ku. Dia yang hidup bersama ku mulai dari nol. Dia yang selalu mendukungku saat susah maupun senang. Sungguh tidak kurang sedikit pun rasa cinta ini kepada Zada. Dia tetap ratu di hati ku, batin Yudi. “Tolong pa, jangan bujuk mama lagi, mama mau cerai sama papa, titik.“ ucap Zada, lalu meninggalkan Yudi pergi begitu saja. Dunia ini telah runtuh. Kerajaan hati ini juga telah runtuh berkeping-keping. Kini sang ratu telah meninggalkan singgasana di hati ini. Dia telah pergi membawa ribuan rasa sakit.


Darren tidak sengaja melihat Zada keluar dari lift sambil mengusap air mata. Mau ke mana dia?, batin Darren. Dasar ibu dan anak yang penuh drama, cibir Darren. Lalu, ia pun masuk ke dalam sebuah ruangan khusus untuk rapat. Di sini Darren ingin berbicara empat mata dengan Edgar. “Ed, duduk,“ seru Darren meminta Edgar untuk duduk. Edgar pun duduk di sebelah kiri Darren. “Kamu tau kan cabang kita ada di sini juga?“ tanya Darren. “Tau, tuan.“ sahut Darren dengan sorot mata yang ia arahkan ke meja. Tentu saja akan sangat tidak sopan, jikalau Edgar berbicara sambil menatap kedua mata tuannya secara langsung.


“Saya mau kamu handle bisnis kita di sini,“ ucap Darren kemudian. Barulah Edgar langsung menatap Darren tidak percaya beberapa saat. “Maaf, saya belum mengerti maksud tuan,“ ucap Edgar. Barangkali dia salah dengar—atau memang Darren sedang bercanda. Darren diam sebentar. Edgar ini adalah pengawal kesayangan di keluarga besar Scott. Dia sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Dia juga sangat setia menemani Darren ke mana-mana. Di sisi lain, Darren kembali berpikir, Edgar juga butuh menata kehidupan pribadinya, termasuk mencari pasangan hidup. Itulah yang Darren ketahui akhir-akhir ini.


“Kamu tinggal di sini, dan handle bisnis kita di sini,“ ucap Darren. Darren tidak ingin mengatakan alasan utama dia meminta Edgar untuk tinggal di sini. Darren tidak ingin membuat Edgar jadi tidak enak hati. Dengan alasan urusan bisnis yang diperintahkan langsung oleh Darren; Edgar pasti tidak akan bisa membantah. “Maaf, tuan, tapi saya merasa tidak pantas buat handle bisnis anda di sini. Saya bukan siapa-siapa, tuan.“ ucap Edgar rendah hati.


“Turuti apa kata saya atau kamu saya pecat detik ini juga, Edgar. Jangan coba-coba bantah kata-kata saya. Ini udah saya perhitungkan sejak lama. Kamu nggak usah khawatir,“ ancam Darren dingin. Darren terpaksa menekan Edgar dengan cara seperti ini—supaya dia tidak dapat menolak permintaan Darren. Edgar menunduk, lalu meminta maaf. “Saya janji akan melakukan yang terbaik, tuan. Saya jamin setiap bulannya profit perusahaan akan naik terus.“ ucap Edgar mantap. Inilah semangat Edgar yang Darren suka. “Sure,“ ucap Darren menepuk pundak Edgar. Lalu, meninggalkan ruangan ini terlebih dahulu.


Edgar diam. Dia mencoba mencerna kembali apa yang telah ia diskusikan bersama Darren tadi. Mulai dari sekarang, tanggung jawab Edgar akan menjadi lebih besar. Itu artinya juga Edgar bisa menemui Deon lebih sering lagi. Seulas senyum tipis pun terukir di bibir Edgar. Darren yang melihat akan hal itu di balik pintu pun—juga ikut tersenyum. Namun, sejurus kemudian senyuman di bibir Darren pun memudar, tatkala ia teringat akan Irfan. Bagaimana nasib Irfan setelah menikah dengan Ami nanti? Kalau Ami berani nyakitin Irfan secuil aja, aku nggak akan segan-segan ngasih perhitungan sama dia, batin Darren.


Hari kedua tinggal di rumah baru. Barra dan Keanu nampak bahagia. Dan usut punya usut; Barra ini ternyata senang sekali menata rambut; seperti saat ini misalnya; dia tengah mengeringkan rambut Keanu setelah mandi di sore hari. “Gue jamin lu pasti bakalan suka,“ ucap Barra yakin. Barra pun menata rambut Keanu dengan gaya dandy (baca: potongan rambut yang mengikuti garis kepala).


Setelah itu Barra pun mulai merias wajah Keanu. Sebelum dirias, wajah Keanu pun dibersihkan terlebih dahulu dengan toner, baru ia oleskan sunscreen di wajah dan leher untuk melindungi kulit dari sengatan sinar matahari. Sebelum mereka sama-sama disibukkan dengan aktivitas masing-masing pada esok hari, sore ini keduanya berniat jalan-jalan ke suatu tempat. “Bar, beneran musti dimake up nih gue?“ tanya Keanu. Jujur Keanu tidak terbiasa dimake up seperti ini. Kata Barra sih biar mirip oppa-oppa. Haha, Barra Barra, ada-ada aja lu mah, batin Keanu.


Setelah itu Barra olesi lagi dengan foundation. Ini berfungsi untuk membuat warna kulit lebih merata. “Liat aja ntar, lu pasti suka, dan nggak nyangka kalo ini muka beneran muka lu,“ sahut Barra. Setelah merata, lalu ia olesi concealer di berbagai titik—yang terdapat noda bekas jerawat atau komedo. Lalu, ia rapikan alis Keanu dengan pensil dan sisir alis—pun mengoleskan lip tint pink natural di bibir.


Barra terkejut akan hasil dari tangan ajaibnya. “Kenapa lu kek gitu? Jangan bilang gue jelek abis lu makeupin?“ cerca Keanu curiga akan ekspresi kaget nan aneh Barra. Barra pun menyipitkan mata sebal. “Lu cerminan coba. Liat sendiri muka lu jelek ato nggak,“ sahut Barra. Eh? Beneran gue nih? Dih, kek oppa-oppa beneran?, batin Keanu puas. Sejurus kemudian, ia pun berdiri, dan menarikan tarian lagu berjudul Love Shot—yang dinyanyikan oleh Kai.


Barra meringis. Bagaimana bisa Keanu menari sepandai itu? Dia benar-benar terlihat sangat seksi menarikan tarian itu. Ehem, Barra pun berdehem. “Lebay,“ Barra mencibir. Padahal dalam hati dia amat sangat memuji Keanu. Barra memilah-milah pakaian mana yang paling cocok untuk Keanu kenakan sore ini. Hm, celana jeans di atas lutut, jaket abu-abu tanpa hoodie, dan sepatu sneakers pure white, cocok banget nih!, batin Barra.


“Ke, cepetan lu ganti baju, nih udah gue pilihin,“ ucap Barra sembari memberikan stelan baju itu kepada Keanu. Keanu pun senyum-senyum. “Kenapa lu senyum-senyum?“ tanya Barra heran. “Gue serasa dilayanin sama istri tau~“ goda Keanu. “Istri apaan si ah, cepetan ganti sana!“ ucap Barra mencoba mengontrol dirinya supaya tidak keliatan salah tingkah. Cup. Keanu mengecup pipi Barra sekilas. Ia pun mengganti pakaian tepat di hadapan Barra. “Kamar mandi gede diapain, Ke? Malah ganti baju di hadapan gue,“ ucap Barra sebal. Barra tidak lantas menutup kedua matanya. Dia malah menyaksikan itu dengan mata yang terbuka lebar. “Hehehe,“ Keanu tersenyum lebar sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya dan membuat miliknya yang panjang itu bergerak ke kiri dan ke kanan. Huft, Barra pun menghela nafas sambil geleng-geleng kepala.


.


.


.


JANGAN LUPA LIKE FAVORIT DAN KOMENTAR!!!