ARES [BL]

ARES [BL]
ARES 70



Satu minggu telah berlalu. Hubungan Darren dan Irfan terlihat sangat baik. Bertengkar? Hm, entahlah, sampai saat ini hampir tidak ada perselisihan pendapat sama sekali. Hari ini perdana; Irfan mengantar Darren sampai depan. Benar. Darren ingin berangkat kerja. Di sana juga ada Sarah tengah menggendong Bella. “Mas mau berangkat dulu. Jangan lupa temenin Jay salat, ya?“ ucap Darren berpesan, lalu tersenyum sembari mengusap pucuk kepala Irfan. “Ma, aku berangkat,“ ucap Darren. Sarah pun menganggukkan kepala sembari menggerakkan tangan Bella; d a d a h - d a d a h ke Darren.


Mobil itu pun telah melesat jauh. Seperti biasa. Irfan akan membantu Sarah bersih-bersih di rumah. “Irfan, mama yakin, di sana Eisha pasti bahagia banget liat kalian berdua bahagia,“ ucap Sarah sambil menyentuh pundak Irfan, dan tersenyum penuh arti. Cinta suci Eisha pun tertanam jua di hati Irfan yang paling dalam. Karna cinta di hati Irfan sama murni dan sucinya seperti cinta Eisha. Irfan dan Sarah berbagi tugas. Sarah telah meminta Irfan untuk tidak usah membantu. Tapi, Irfan kekeh ingin membantu. Irfan pun membersihkan area dalam rumah. Sedangkan Sarah membersihkan area teras belakang.


Irfan bosan di rumah terus menerus. Ia pun memutuskan untuk mengajak Jayden jalan-jalan keluar. Seantusias itu dia diajak jalan-jalan sampai jingkrak-jingkrak?, batin Irfan. Irfan pun berjongkok; menyamakan posisi dengan Jayden. “Jay, what do you want to eat?“ tanya Irfan. Jayden pun terlihat sedang berpikir sambil mengerucutkan bibir. Uh, gemesin banget, sih? Jadi, nggak sabar nungguin Defran bisa segede ini. Pasti seru jalan-jalan bareng, batin Irfan. “Icecream!“ sahut Jayden mantap sambil tersenyum lebar.


Irfan pun membawa Jayden ke Union Square. Di sana merupakan pusat perbelanjaan, hotel, dan distrik teater. Di luar dugaan. Jayden sangat aktif. Dia bahkan menarik-narik tangan Irfan untuk menuju ke tempat yang ingin ia tuju. “Jay? Hati-hati~ Banyak orang,“ ucap Irfan. Irfan masih ingat nasihat Darren tiap malam hari sebelum tidur. Dia berpesan untuk tidak mengucapkan kata 'jangan' kepada Jayden ataupun Bella. Gunakanlah kata-kata yang lebih baik dari itu.


Jayden menelan ludah; saat melihat es krim aneka rasa. Caramel adalah yang paling ia sukai. “Jay? Kamu mau rasa apa? Biar papa pesenin,“ ucap Irfan. Jayden pun mendongakkan kepala. “Tapi, temenin Jay makan, ya? Ya??“ ucap Jayden memelas. “Iya sayang~“ sahut Irfan tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Jayden. Drrt drrt drrt. Hp Irfan berdering. Dari Darren. “Halo mas?“ ucap Irfan. “Kamu lagi di mana? Kok rame banget?“ tanya Darren dari seberang sana. “Lagi di Union Square sama Jayden,“ sahut Irfan sembari menggenggam tangan Jayden.


“Tunggu mas di situ, mas ke sana bentar lagi,“ ucap Darren. Sambungan telepon pun terputus. Kalian mau tau sisi posesif Darren itu di bagian mana? Biar aku beritau. Dia itu selalu menelepon Irfan tiap satu jam sekali. Dia selalu menanyakan hal-hal sepele seperti: udah makan atau belum, udah tidur atau belum, udah makan apa aja, dan lain-lain. Entah kenapa Irfan merasa sangat bahagia. Saat Darren begitu perhatian kepada dirinya. Lima belas menit kemudian. Darren pun tiba di Union Square. “Irfan,“ seru Darren.


Dia mengarah kemari dengan setengah berlari. Dia masih mengenakan stelan jas tanpa jas luar, dan menyisakan kemeja beserta rompi saja. Darren yang seperti terlihat begitu sangat tampan. Setelah setengah hari bekerja pun. Dia masih terlihat sangat rapi. Darren pun menggendong Jayden dengan satu tangan kanannya, karna Jayden melingkarkan tangannya di leher Darren. Sehingga tangan kiri Darren pun bisa menggenggam tangan Irfan. Bertiga berkeliling seperti ini; Irfan merasa telah memiliki keluarga nan lengkap dan sempurna.


Ares masih ingat akan obrolan antara dirinya dan Rakha kemarin sore di teras rumah. Ares mencoba mencari-cari contoh makanan frozen food di internet. Lalu, ia juga mencoba melihat harga vacuum sealer. Hampir satu juta, ya?, batin Ares. Kalau untuk yang lebih murah sih ada. Tapi, sepertinya kualitasnya tidak terlalu bagus. Ares pun membayangkan dirinya berjualan frozen food di pinggir jalan. Terutama di tempat wisata di Mataram. Kalo dijual 15rb per pack, misal laku 10 pack aja total udah 150rb, dikali 20-30 total 450rb, batin Ares. Lumayan juga, ya?


Ares pun rebahan di lantai sambil streaming. Pulang sekolah langsung rebahan abis bersih-bersih mantep, batin Ares. Lama-lama Ares pun terlelap. Padahal hp masih dalam keadaan nyala. “Ares? Dek?“ seru Rakha. Kenapa nggak ada sautan sama sekali, ya?, batin Rakha. Beruntung pintu juga tidak dikunci. Setelah menaruh sepatu di rak sepatu, dan masuk ke dalam. Rakha terkejut. Ares tertidur di atas lantai dengan hp masih digenggam di tangan. Pertama-tama; Rakha ambil hp itu, lalu ia taruh di atas meja.


“Dek? Bangun, dek? Udah sore, jangan tidur sore nggak baik,“ tegur Rakha membangunkan Ares. Ares pun m e n g g e l i a t. Ia meregangkan badan. Kedua mata Ares juga agak memerah. “Eh? Mas? Udah pulang?“ gumam Ares dengan suara agak sedikit serak khas orang bangun tidur. “Jangan dibiasain tidur sore, ah,“ ucap Rakha. Ares pun duduk sambil mengucek-ucek mata. Ia pun melihat jam di hp. Udah jam setengah empat?, batin Ares.


“Dek, ini ada oleh-oleh dikasih Mba Tere,“ ucap Rakha menaruh paper bag itu di atas meja. “Kamu bikin beberuq terong nggak?“ tanya Rakha sambil melangkahkan kaki ke dalam kamar. “Nggak,“ sahut Ares ke dapur. Dia mulai merapikan meja makan untuk santap sore. Beberapa saat kemudian; Rakha pun datang menghampiri. “Kok nggak bikin beberuq terong?“ tanya Rakha, lalu duduk di kursi. “Nggak ada terongnya, males beli keluar,“ sahut Ares. Di meja makan saat ini cuma ada dua menu saja, yaitu: ayam goreng dan sayur ares. Persis seperti nama Ares sendiri, ya?


“Eh? Mas,“


“Hm?“


“Tadi aku coba googling harga vacuum sealer gitu, kan? Nah, lumayan mahal juga, ya?“


“Berapaan emang?“


“Sekitar satu jutaan,“


“Itu mah murah, dek,“


“Tapi, tetep aja buat aku mahal tau,“


“Dasar,“


Setelah santap sore; Ares dan Rakha memutuskan untuk jalan-jalan keluar. “Dek, bentar lagi kamu sweet seventeen, kan?“ ucap Rakha sembari memberikan helm kepada Ares. “Iya, trus kenapa?“ sahut Ares sekaligus bertanya. “Ya nggak kenapa-napa,“ sahut Rakha sambil mengulum senyum. “Mau ngasih hadiah gitu?“ ucap Ares, lalu duduk di atas motor. “Uang mas di kamu semua. Kamu kalo mau beli apa mah beli aja. Jadi, ngapain ngasih kamu hadiah? Haha,“ ucap Rakha. Ares pun mengerucutkan bibir.


Di jalan; Ares mencubit p i n g g u l Rakha beberapa kali, karna sebal. Rakha sengaja usil dengan mengerem mendadak, dan seterusnya seperti itu. Tiba di Taman Sangkareang, di Jl. Pejanggik, Mataram Barat. Ares langsung menghampiri pedagang kaki lima di pinggir jalan. “Cirengnya mang,“ ucap Ares. Sedangkan Rakha makan pentol rebus di penjual yang berbeda. Dulu, sebelum menikah dengan Rakha, Ares tidak bisa bebas jajan seperti ini. Dan untuk membelanjakan uang lima ribu rupiah saja, ia harus berpikir dua tiga kali. Tapi, semenjak menikah dengan Rakha, ia bebas ingin membeli apapun, karna memang Rakha memberikan semua uang gajinya kepada Ares untuk Ares atur sendiri. Ares pun tersenyum samar. Dua bulan lagi tepat satu tahun ia dan Rakha menikah. Hm, bikin apa ya, ntar?, batin Ares.


Edgar menjemput Deon ke kantor seperti biasa. Saat Deon masuk ke dalam mobil. Ia melihat raut muka Edgar—yang terlihat kesal. Edgar memang diam. Tapi, Deon tau, jikalau Edgar pasti memang sedang kesal. Entah karna apa. “Ed? Kamu nggak papa?“ tanya Deon. Dia peka juga, ya?, batin Edgar. “Hm? Lagi kesel aja sama urusan kantor sayang,“ sahut Edgar. “Makanya jadi orang jangan serius-serius banget napa?“ ucap Deon mencibir. “Hubungannya apa, De? Dari dulu emang aku kek gini kok,“ ucap Edgar membela diri. Deon tidak perduli. Ia pun menyalakan musik dari hp.


“Jadi, kamu nunggu papa sakit dulu apa gimana?“


“Nggak gitu juga~“


“Oh iya, De,“


Edgar pun diam sejenak. “Kamu mau jenguk kakak tiri kamu nggak?“ tanya Edgar. Deon pun menoleh. Ami, ya? Entah bagaimana keadaan dia saat ini. Dan akhirnya Edgar pun melajukan mobilnya menuju rutan. Deon gugup. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan Ami setelah hampir dua bulan lamanya sejak persidangan. “Ami Admaja? Silahkan keluar, ada orang yang mau jenguk anda,“ ucap si sipir itu. Siapa?, batin Ami penasaran.


Ami memakai baju tahanan. Dia terlihat lusuh—pun rambutnya diikat sembarang saja. Kedua mata Deon setengah membola. Ia terkejut melihat kondisi Ami yang sangat memprihatinkan itu. Tapi, kalau diingat-ingat lagi, apa yang telah ia perbuat dulu, rasanya cukup setimpal. “Ini ada makanan buat kamu. Maaf, saya nggak bisa sering-sering jenguk kamu di sini,“ ucap Edgar menyodorkan bungkusan plastik—yang berisi beberapa kotak makanan. Tentu saja Ami diam seribu bahasa.


“Terima kasih,“ ucap Ami dengan suara bergetar. Dia terharu. “Satu minggu lagi ulang tahun Bella. Kondisi Defran juga stabil,“ ucap Edgar sembari menunjukkan foto-foto Bella dan Defran. Ami pun melihat foto itu satu per satu. Di sana juga ada video Bella digendong oleh Jim dan Sarah. Tangis Ami pun pecah. Tanpa dirinya pun, mereka bisa sebahagia ini? Maafin bunda sayang, batin Ami. “Ami.. Selama kamu berkelakuan baik di sini, mungkin hakim bakalan kurangin masa tahanan kamu beberapa bulan,“ ucap Edgar; memberi Ami secercah harapan.


Ami pun menggelengkan kepala. “Cuma beberapa bulan aja, Ed,“ gumam Ami lirih. Ia pun tersenyum pahit. Ami juga tidak berani menatap kedua mata Deon secara langsung. “Kak,“ seru Deon kemudian. Ami pun menoleh. Saat Deon memanggilnya dengan sebutan kakak. Entah mengapa hal kecil seperti itu saja, mampu membuat Ami terenyuh.


“Aku janji bakalan sering-sering jengukin kakak ke sini,“ ucap Deon. Benar. Berdamai dengan diri sendiri dan keadaan lebih baik. Daripada terus menerus memenuhi isi hati dengan dendam. Ami pun menyentuh tangan Deon. “Maaf,“ ucap Ami meminta maaf, meskipun terlambat. Deon berusaha memberikan Ami kekuatan. Ami memang bersalah. Tapi, mendekam di penjara dua belas tahun, bukanlah perkara mudah. Belum lagi napi-napi lain yang mungkin saja memperlakukan Ami dengan buruk—atau sipir yang tidak jujur dan suka memalak para napi. Hah, Deon pun menghela nafas. Berharap semua cepat berlalu.


Setelah acara lamaran tadi malam, apakah mereka akan menempel seperti permen karet? Lalu, romantis-romantisan seperti film-film India? Hahaha jangan salah sangka dulu. Keanu harus berangkat sekolah. Sedangkan Barra berangkat kuliah. Benar. Mereka memiliki kesibukan masing-masing. “Ntar gue jemput, lu. Soalnya weekend gue libur,“ ucap Keanu. Kedua alis Barra berkerut. Jujur ia sangat senang mendengar hal itu. Tapi, rasa bahagia itu ia coba simpan baik-baik supaya tidak terlihat oleh Keanu sama sekali. Jangan ampe dia tau gue seneng pake banget, batin Barra jaim.


“Seriusan?“ ucap Barra ragu-ragu. “Seriusan, soalnya gue emang udah rencanain ini dari lama, sih. Kalo gue serius sama lu, ya gue musti kurangin jam terbang gue,“ sahut Keanu. Barra pun beroh ria. “Lu tenang aja, duit gue tetep banyak kok hahahaha,“ ucap Keanu bercanda sambil tertawa terbahak-bahak. “Lu kira gue mata duitan apa,“ sahut Barra sebal—pun naik ke atas motor Keanu. Keanu pun terkekeh.


“C i u m pipi gue dulu,“ ucap Keanu sesaat setelah Barra turun dari motor. Barra menatap Keanu dengan tatapan kesal. Bisa-bisanya Keanu minta gue c i u m dia di tempat umum, batin Barra. Sejurus kemudian; Barra pun m e n c i u m pipi Keanu sekilas, lalu masuk ke dalam. Didi langsung menghampiri Barra, dan mengalungkan tangannya di leher. “Bar, lu kok n y i u m pipi si DJ itu, sih?“ celetuk Didi. Jangankan Didi. Hampir semua orang yang lewat lalu lalang—juga pasti melihatnya.


Seperti halnya bangkai mau disimpan dengan cara apapun, akhirnya akan tercium jua. Tapi, Keanu ca-calon suami gue, sih. Bukan bangkai hehe, batin Barra. Tiba-tiba seorang pria berdiri di hadapan Barra dan Didi. Dia memandang Barra dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan kedua alis hampir saling bertautan. “Gue kira lu polos, Bar,“ ucap Timbul sarkasme. Timbul adalah teman Keanu juga. “Gue ama Keanu emang sahabatan. Tapi, dia nggak se terbuka itu sama gue ato sahabat-sahabat dia yang lain. Gue nggak nyangka lu bakalan nikah sama tuh anak, bocil?“ ucap Timbul lagi.


Barra bingung. Si timbul ini sedang memuji atau ingin mengajak berkelahi? Timbul pun menyentuh pundak Barra, dan menatapnya tajam. “Lu bebas mau ngapain aja, asal jangan malu-maluin kampus. Sebelum lu malu-maluin kampus, lu becermin dulu, kira-kira prestasi apa yang bisa lu kasih ke kampus,“ ucap Timbul dingin. Lalu, ia pun pergi begitu saja. Hah? Jangan malu-maluin kampus, tapi dia bilang sebelum gue malu-maluin kampus? Maksudnya apa, sih?, batin Barra heran sambil geleng-geleng kepala. “Itu Sen abis makan apa, sih? Judes gitu?“ ucap Didi. “Tau, deh,“ sahut Barra mengedikkan bahu.


Di club; Keanu bertos ria seperti biasa, lalu naik ke atas podium. Belum sempat ia menyentuh permainan DJ. Seorang perempuan menghampiri dirinya. “Satu juta satu c i u m a n,“ ucap perempuan itu sembari menyodorkan uang satu juta. “No,“ ucap Keanu menolak mentah-mentah. Heh, jangan jual mahal lu, Keanu, batinnya. Perempuan itu tidak menyerah, dia pun mencoba meraih leher Keanu, namun dengan sigap Keanu mencengkeram pergelangan tangannya.


Keanu menggertakan gigi, dan menatap perempuan itu dengan tatapan membunuh. “Jauhin tangan kotor lu dari gue. Gue nggak sudi,“ ucap Keanu dingin, lalu menepis tangan itu dengan kasar. Plak. Perempuan itu pun menampar pipi Keanu. “Lu pikir lu siapa, hah?“ ucapnya. Sebut saja dia Deti. Deti memandang Keanu remeh. “Jangan sok. Lu cuman DJ rendahan,“ hardik Deti. “Jangan nguji kesabaran gue. Gue nggak segan-segan sama cewek kek lu. Pergi lu dari sini,“ ucap Keanu. Deti tidak menyerah jua. “2,5 juta,“ ucap Deti. Keanu menghela nafas. “Lu liat? Gue udah tunangan,“ ucap Keanu sembari menunjukkan cincin di jari manisnya.


Jayden sedang bermain mobil-mobilan bersama sang adik, Bella. “Bayan,“ ia langsung terdiam saat ia tiba-tiba mengingat satu nama itu di kepalanya. Bayan?, batin Jayden mencoba mengingat siapa itu Bayan. Tapi, ia tidak bisa mengingatnya sama sekali. Daripada pusing. Ia pun memilih untuk kembali bermain. Sedangkan di tempat lain. Bayan terus memandangi batu permata merah itu di kamar sambil rebahan. Dia masih ingat dengan jelas. Siapa itu Jayden. Seorang anak kecil yang duduk sambil menangis. Lalu, saat itu Bayan pun memberikan arumanis miliknya kepada Jayden. “Hm, Jayden sekarang di mana, ya?“ gumam Bayan.


.


.


.


GUE JUGA BAKALAN UP DI W A T T P A D LINK ADA DI KOMENTAR