![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Di meja tempat ia duduk di kelas. Ares melamun. Saat ini di kepalanya ada dua anak lelaki bersamaan jenis dengan karakter berbeda pula. Bahkan Ares sampai tidak sadar, kalau kini satu tangannya mencoret-coret buku tulisnya.
“WOY!“ seru Ellie. “Kesambet lu?“
“Hah?“ gumam Ares. Lamunannya pun buyar seketika.
Ellie menunjukkan raut muka sebal. Ia heran melihat Ares tidak seperti biasanya. Jangan-jangan Ares kerasukan? Begitulah pikir Ellie. “Lu liat dah buku lu sendiri.“ ucap Ellie. Ares pun melirik satu halaman buku catatannya yang penuh dengan coretan pulpen yang acak-acakan.
“Kok lu gak bilang-bilang sih El?“
“Lah nih anak.. Udah dikasih tau malah protes. Dasar gak tau terima kasih.“
“Bukannya gitu El~ Sensian amat.“
“Lu yang sensian bambang.“
“Gue Ares bukan bambang.“
Ellie lebih memilih memutar badan menghadap ke depan. Meladeni Ares sama saja menguji emosi dalam dada. Tampan, berotot, tinggi, dan putih. Tapi, minus untuk sifat cool dan kepekaan. Ugh, dasar Ares. Kalau tidak tega akan ketampanan yang Ares miliki, mungkin Ellie akan melempari buku miliknya tepat di muka Ares.
Ares ngeri melihat satu halaman bukunya yang kini terlihat acak-acakan. Satu halaman catatan yang ia tulis dengan sepenuh hati dan jiwa. Harus hancur dalam sekejap. “Dasar.“ batin Ares.
Ia tatap jam di dinding. Ini masih pukul sembilan pagi sebelum jam pelajaran kedua masuk. Seperti biasa ia menyempatkan diri ke mushola sekolah untuk menunaikan salat dhuha. Katanya salat dhuha itu mampu melapangkan rezeki. Ia berharap dengan salat dhuha dua rakaat mampu membuat dagangannya laris manis dan berkah. “Aamiin.“ batin Ares.
Pintu mushola memang selalu terbuka, dan tidak pernah ditutup sama sekali. Beberapa siswi yang lewat nampak terkagum-kagum melihat Ares salat mengenakan peci. Terlihat khusyuk sekali. Oh tuhan, idaman sekali Ares ini, batin siswa-siswi itu.
Selesai menunaikan salat dhuha, ia pun berdiri, merapikan sajadah dan memasukkan peci miliknya ke dalam saku celana. “Udah do'a apa aja nih Res?“ celetuk salah seorang guru. Sebut saja nama beliau Pak Ben. Ares tersenyum sambil merasuk sendalnya. Ia pun menghampiri sang guru.
“Banyak pak hehe.“ sahut Ares berjalan beriringan bersama Pak Ben, guru untuk mata pelajaran olahraga.
“Oh iya Res..“
“Iya pak?“
“Bapak sering loh beli siomay kamu hehe.“
“Masa pak? Tapi kok saya nggak pernah liat bapak beli ya?“
“Ya iyalah Res.. Wong yang beli istri bapak hehe.“
"Oh~“
“Kalo bapak yang beli nggak sempet Res.. Soalnya jam terbang bapak tinggi banget ngalahin tugu monas wkwkwkwk.“
Di sekolah ini Pak Ben memang dikenal mudah akrab dengan murid manapun. Sifat mudah bergaul nya ini lah yang membuat Pak Ben menjadi salah satu guru favorit. Baik di antara siswa ataupun siswi. Tidak heran jikalau Ares tidak sekaku itu ketika berbicara dengan sang guru, karena sosok Pak Ben yang suka bercanda membuat stigma tentang guru killer di antara para murid mulai terkikis. Beginilah sosok guru yang pantang menyerah ketika mengajarkan murid-muridnya. Meskipun tidak semua murid mau mengikuti apa yang diajarkannya.
“Kamu ini bisa kerja nggak sih?!“ hardik Zada memaki-maki salah satu pembantu di rumahnya. Camilla bergidik ngeri nan jauh di ujung sana. Majikannya yang satu ini memang terkenal baik. Namun, kalau sedikit saja pembantunya berbuat kesalahan, meskipun hanya secuil saja, maka kemarahan Zada akan meledak-ledak seperti bom atom.
Kalau Yudi tau mungkin saat ini Zada akan ditegur. Bisa dibilang kalau di rumah besar bak istana ini sering gonta-ganti pembantu. Alasannya tentu karena tidak tahan mendengar setiap omelan dari Zada yang sangat pedas dan terkadang menghina.
Camilla sudah kenyang atas omelan-omelan Zada padanya ketika ada debu sedikit saja di celah-celah vas bunga, meja, ataupun lemari. Namun, Camilla berusaha sabar. Ia tidak mungkin berhenti bekerja disini. Kalau ia berhenti bagaimana nasib keluarganya nanti? Camilla juga harus rutin mengirimkan uang untuk keluarga di kampung. Sungguh keras kehidupan Camilla. Pun ia bersyukur memiliki seorang putera dan suami yang begitu giat bekerja.
“Camilla sini kamu.“ seru Zada. Camilla segera menghampiri. “Kamu beresin itu pecahan belingnya. Bersihinnya yang bersih. Nanti saya malah keinjek lagi.“ ucap Zada ketus. Dalam hati Camilla menggerutu, menantu mana yang tahan memiliki mertua segalak Zada? Sunggu tegar hati Rakha.
“Baik nyonya.“ sahut Camilla menunduk. Zada pun menjauh. Camilla melirik seorang pembantu yang baru saja dimarahi habis-habisan. “Yang sabar ya mba..“ ucap Camilla menyemangati.
“Saya pengen berhenti aja mba..“ ucapnya sambil terisak pelan. “Jangan mba.. Kasian Gafar mba.. Dia masih butuh mba. Cuman disini kita bisa dibayar lebih tinggi mba. Saya yakin mba kuat.“ ucap Camilla. Camilla tentu sangat mengenal sosok Habiba. Ia seorang janda beranak satu. Yang Camilla dengar dari cerita Habiba, bahwa ia ditinggal suaminya merantau dan tidak ada kabar selama bertahun-tahun. Sungguh miris mendengar kisah Habiba yang berjuang sendiri demi sang anak.
Dunia ini terlalu keras. Hidup di perkotaan tidak semudah yang orang pikirkan. Malas sedikit saja mungkin akan membuat mereka yang hidup disini menahan lapar. Lihatlah bagaimana mereka rela menahan perihnya cacian dari majikannya sendiri kalau bukan demi rupiah untuk keluarga.
Bagaimana Ares bisa tau? Jelas saja karena mereka tidak berjalan sejajar. Adithama sangat pintar sekali mencari orang untuk memanfaatkan orang lain hanya dengan memberikannya beberapa lembar uang. Sungguh miris. Apa sebenarnya tujuan hidup Adithama?
Ares dan Adithama saling berpandangan. Tatapan Adithama terlihat tidak bersahabat. Ares tidak takut sama sekali melihat tatapan Adithama yang seperti itu. Tanpa sepatah kata pun keluar dari bibir, Adithama berlalu begitu saja. Lihatlah dua temannya yang di belakang itu. Terlihat sok sekali.
“WOY RES CEPETAN! BU GURUNYA UDAH MASUK!“ seru Ellie dari depan pintu kelas dengan helat beberapa kelas dari tempat Ares berdiri. Astaga apa yang Ares pikirkan? Ia pun segera berlari menuju kelas. Jangan sampai ini mencemarkan nama baik Ares sebagai siswa berprestasi, hanya karena ia telat masuk kelas.
Hari ini Ami dan teman-temannya akan jalan-jalan ke pantai kuta. Ugh, sungguh indah luar biasa pantai kuta ini. Laut membiru dan ombak yang menari-menari membuat pantai ini semakin dicintai. Pantas saja wisatawan banyak kemari. Bahkan bisa dibilang bule-bule dari luar negri lebih mendominasi.
Ia dan teman-teman akan berada disini sampai sore hari. Mungkin malam hari, karena Ami juga ingin melihat sunset disini. “Wooooowwww.“ gumam Ami. Ia begitu mengagumi keindahan pantai kuta. Bersama Rakha mungkin ia tidak akan bisa pergi. Ami juga tidak ingin peduli kalau semua ini dibiayai oleh orang tuanya sendiri.
“Serasa udah seabad gak keluar kandang ya Mi? Hehe“ ledek Chessy bercanda.
“Ya gitu deh~“ sahut Ami sambil mengedikkan bahu. “Lu tau sendiri lah keadaan gue kek gimana~“
“Kok lu mau-maunya sih sama si Rakha?“
“Hmm..“ Ami menghela nafas. Lalu, ia menatap Chessy. “Gue bisa dapetin apa yang gak bisa gue dapetin dari siapapun kecuali sama dia.“
“Maksud lu?“
“Dia itu tulus banget.. Kerja keras.. Ya emang sih gue gak bisa hura-hura kek dulu.. Tapi, serius deh dia orangnya paling bisa manjain gue, ngertiin gue, kek gitu-gitu.“
“Itunya gede yah?“ seru Belinda.
“Uhm lumayan sih~“ jawab Ami sedikit malu-malu. Ugh, mengapa teman-temannya ini suka sekali membahas hal-hal seperti itu? Ami kan jadi malu.
“Widiiiiih pantesan lu betah.“ timpal Dewi. Ami semakin malu. Bahkan wajahnya kini bersemu merah. Dewi dan teman-teman yang lain pun tertawa terbahak-bahak. Setelah Belinda, mungkin giliran Ami yang akan menjadi bulan-bulanan mereka. Ugh, menyebalkan, batin Ami.
Mereka pun berdua foto. Tidak ada satu pun momen tertinggal. Bahkan mereka mengajak bule-bule disana untuk berfoto bersama. Sungguh mengasyikkan. Ami serasa mendapat spirit baru. Ia merasa lebih happy. Lupakan Rakha untuk sesaat. Ami ingin bersenang-senang dahulu disini.
“Cheeeerrrrrs.“ ucap mereka serempak meminum minuman beralkohol. Ami, Belinda, Chessy, dan Dewi pun saling bercengkerama. Tidak jarang mereka akan tertawa terbahak-bahak. Tidak salah memang mereka mempertahankan persahabatan ini sejak jaman sekolah. Sampai sudah berkeluarga pun dan sampai kapan pun tetap akan menjadi sahabat.
“Misi? Boleh duduk?“ seru seorang pria dengan celana krim selutut, kaos polos hitam, jam tangan di tangan sebelah kiri, dan dengan gaya rambut klimis kekinian. Ugh, sungguh tampan sekali.
Pria itu pun duduk setelah ia dipersilahkan oleh Ami dan teman-teman. Senyuman pria yang belum diketahui namanya itu sungguh menawan. “Lama nggak ketemu ya? Dah pada cantik aja? Wkwkwk“ ucap pria itu membuat Ami dan teman-teman kebingungan. Siapa pria ini?
“Sadis lu lu pada. Masa tega sih lupain gue?“ protes pria itu. Ami dan teman-teman pun berpikir keras. Mereka menelisik wajah pria itu lamat-lamat. Tetap saja mereka tidak mampu mengenalinya. “Gue Irfan.“ seru pria itu gemas melihat teman-teman masa sekolahnya itu nampak lupa padanya.
“Irfan Irfan Irfan..“ gumam Chessy. “Lu Irfan? Lu beneran Irfan!?“ seru Chessy ketika ingatakannya akan seorang siswa SMA bernama Irfan kembali berputar di kepalanya. Siapa yang tidak mengenal Irfan? Dulu Irfan sering dibully. Setiap kali Irfan dibully, selalu saja ada Chessy dan teman-teman untuk menolong Irfan. Bahkan Irfan dimasukkan ke dalam geng persahabatan mereka, dan tentu saja Irfan satu-satunya lelaki di antara mereka.
Ami, Belinda, dan Dewi pun ikut-ikutan kaget. Dewi menepuk pergelangan tangan Irfan dengan keras, karena gemas. “Duh Dewi ular beraksi.“ ucap Irfan. Dari dulu pukulan Dewi memang tidak pernah berubah. Irfan selalu saja jadi korban kecemasan Dewi tiap kali berkumpul lalu bercerita.
“Lu kalo ngomong sembarangan banget deh ah. Mentang-mentang udah glow up.“ protes Dewi setelah dikatai dewi ular oleh Irfan. Irfan cuma bisa tertawa tanpa dosa. Sungguh Irfan merindukan suasana seperti ini. Berkumpul kembali dengan teman-temannya yang dulu selalu menjadi pahlawan untuknya di saat ia dibully. Tidak akan pernah Irfan lupa akan kebaikan mereka. Irfan juga bersyukur bisa bertemu dengan mereka kembali secara kebetulan disini. Sungguh takdir tuhan itu indah sekali.
Akhirnya mereka pun makan dan minum-minum bersama sampai mabuk. Berbeda dengan Irfan yang masih berada pada batas kesadarannya. Ini bukan apa-apa. Irfan berpikir kalau ia ikut-ikutan mabuk, siapa yang akan menjaga mereka nanti? Irfan tidak ingin mereka berada di tangan-tangan nakal yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Irfan menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk membawa Belinda, Chessy, dan Dewi ke penginapan terdekat. Sedangkan Ami biar sama Irfan saja. Irfan pun menyetir dengan kecepatan tinggi, mengantar Ami ke penginapan yang sama dengan teman-temannya nanti.
Ami meracau tidak jelas. “Uhm..“ gumam Ami tidak jelas. Ia merasa kepanasan lalu membuka satu kancing di bagian atas bajunya. Ugh, Irfan panas dingin melihat putihnya dan montoknya semangka milik Ami. Irfan semakin melakukan mobilnya. Ia tidak ingin berpikir macam-macam saat ini.
“Berat juga nih anak. Makan apaan si?“ gumam Irfan geleng-geleng kepala. Ia pun membuka pintu kamar di penginapan itu. Lalu, masuk ke dalam dan menutup pintunya kembali. Saat Irfan hendak merebahkan Ami ke kasur. Tiba-tiba kedua tangan Ami meraih tengkuk lehernya hingga membuat tubuh Irfan berada di atas Ami.
Ami membuka mata perlahan. Ia pun tersenyum melihat sosok pria di hadapannya kini. Ami berpikir itu Rakha. Ia pun mengecup bibir Irfan dengan ganas. Irfan sempat membelalakkan mata kaget. Namun, akhirnya ia terpaksa mengikuti permainan Ami. Pria mana yang tidak tergoda ketika ada seorang wanita yang mau menyerahkan diri dengan pasrah? Ugh, iman Irfan saja goyang.
Malam itu pun mereka lalui layaknya sepasang suami istri. Irfan berkali-kali menyemburkan cairan putih itu di dalam lubang hitam Ami. Ami tidak berdaya lagi. Tubuhnya sangat lemas. Permainan malam ini sungguh luar biasa. Ami berpikir permainan Rakha malam ini berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Ugh, Ami makin jatuh cinta saja.