![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Seluruh sudut pintu dan jendela di rumah Adithama dikunci. Ia tidak ingin memberikan Adithama kesempatan keluar dari rumah barang selangkah saja. Bukan maksud Noah mengekang Adithama. Ia tau semua kenakalan ini tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh kesalahan Noah sendiri. Noah tidak ingin Adithama semakin berontak dan menyakiti orang lain.
Bagaimana ini bisa menjadi kesalahan Noah? Apa yang sudah Noah lakukan pada Adithama? Sampai-sampai Adithama yang dulu selalu bersikap baik kini menjadi seorang berandalan?
Kalau menengok kembali ke beberapa tahun silam. Hubungan percintaan terlarang sesama lelaki antara Adithama dan Noah diketahui oleh Tomo, almarhum ayah Adithama. Sebagai seorang pebisnis besar, tentu Tomo malu memiliki seorang anak cacat, penyuka sesama jenis. Sehingga Noah pun harus dinikahkan dengan seorang gadis yang sama sekali tidak ia cintai dan tinggal di luar negri.
Semenjak itulah Adithama berpikir, Noah tidak lagi mencintainya, bahkan Noah meninggalkannya dan menikah dengan wanita lain. Adithama tidak tau kalau semua drama itu adalah rencana sang ayah, yang ia tau hanyalah Noah meninggalkannya, itu saja.
”Ad.. Kakak masuk..” seru Noah dari luar sambil membawa kotak P3K. Kemarin sehabis dari kantor polisi, Adithama langsung masuk ke kamar, dan tidak keluar sama sekali sampai saat ini. Luka-luka Adithama belum diobati, Noah khawatir kalau nantinya akan menjadi infeksi.
Noah duduk di samping Adithama, sedangkan Adithama membelakangi Noah. Pertama Noah ingin membersihkan luka di bagian kaki. ”Kakak udah cere sama istri kakak Ad,” seru Noah. Hah, atas dasar apa Noah berkata seperti itu pada Adithama? Ingin kembali dengan Adithama lantas mengatakan dirinya sudah bercerai?
Adithama diam. Ia geram. Ia merasa seperti pengemis cinta saja. Padahal bukan itu maksud Noah. ”Hubungan kita dulu sebenernya papa udah tau,” ucap Noah sambil mengoleskan salep luka di kaki Adithama yang memerah, setelah sebelumnya ia bersihkan dengan antiseptik.
Adithama mulai menajamkan pendengarannya. Apa? Ayahnya mengetahui hubungan Adithama dan Noah dulu itu? Bagaimana bisa? ”Kakak juga nggak ngerti gimana papa bisa tau semua itu, yang jelas, kakak nikah bukan karena udah nggak sayang ato mau ninggalin kamu.”
Adithama menoleh sedikit. Lalu, ia kembali diam seperti semula. Noah sudah selesai mengobati di bagian kaki. Kini giliran di bagian wajah. ”Lu brengsek,” seru Adithama. Ia melemparkan pandangannya ke lain objek. Sedangkan Noah menatapnya lurus. Noah mengerti. Adithama butuh waktu untuk menerima semua ini salah ataupun benar.
”Hmm kakak emang brengsek,” sahut Noah membenarkan. Adithama mengernyitkan alis menahan perih di pipi dan sudut bibir. Beruntung Adithama ikut tawuran di saat libur sekolah. Sehingga pihak sekolah tidak tau menaungi tentang hal ini. Mungkin juga Noah sudah memberi sejumlah uang kepada pihak kepolisian supaya informasi Adithama yang sempat masuk ke kantor polisi itu dijaga kerahasiaannya.
”Percaya ato nggak.. Kakak nggak pernah sekali pun nyentuh mantan istri kakak..” ucap Noah lalu menatap Adithama. ”Liat kakak Ad,” seru Noah. Adithama tidak bergeming jua. Untuk apa Adithama menuruti perintah Noah? Memangnya Noah siapa?
Noah menghela nafas. Ia pun meletakkan kotak P3K itu di nakas. ”Kakak masak dulu, nanti kamu ke bawah ya?” ucap Noah lalu mengecup pucuk kepala Adithama. Noah pun keluar kamar. Meskipun bertahun-tahun telah berlalu, tetap saja rasa cinta dan sayang Noah pada Adithama tidak berubah. Sampai kapanpun tidak akan pernah berubah.
Keanu masuk ke dalam sebuah club malam. Ia bertos ria dengan siapa saja yang berselisihan dengan dirinya. Keanu juga tidak segan-segan memberikan kecupan manis di bibir pada beberapa wanita yang ada disana. Ini bukan berarti Keanu ada hubungan khusus, melainkan bentuk sapaan biasa saja.
Disini Keanu dikenal sebagai DJ. Ia memang baru berusia 16 tahun. Namun, ia digilai banyak wanita dari yang berusia sebaya sampai tante-tante. Pesona Keanu benar-benar membuat wanita mana saja terpesona. Bahkan ada beberapa yang rela menyerahkan mahkotanya untuk Keanu. Lalu, bagaimana tanggapan Keanu? Tentu Keanu menolak mentah-mentah. Keanu tidak sebrengsek itu. Ia hanya memberikan keperjak@annya pada seseorang yang ia sangat cintai saja. Kalau pun Keanu harus sampai ke hotel, ia tidak pernah memasukkan miliknya ke wanita manapun. Paling-paling ia menggunakan d1ldo berbentuk p3n1s untuk membuat wanita terus melengahkan namanya.
Tangan dan leher Keanu penuh tato. Ini bukanlah tato permanen, melainkan sebuah tato yang bisa hilang pabila digosok saat mandi. Seorang pria berstelan jas memberikannya satu kartu black card. Keanu tersenyum miring. Lalu, mengambil kartu tersebut.
Kalau sudah begini itu artinya Keanu harus melayani pria itu. Jangan salah paham. Disini Keanu tetap pada batasan. Ia menolak menusuk ataupun ditusuk. Setuju atau tidak itulah peraturannya. Meskipun Keanu terkenal di dunia malam, ia tetap harus menjaga diri. Jangan sampai ia terlihat semakin hina dan membuat malu kedua orang tua.
Sudut mata Keanu menyipit. Ia melihat seseorang yang ia kenal di antara para pengunjung club. Orang itu Barra. Ia datang bersama beberapa orang teman perempuan dan laki-laki. ”Bisa juga tuh anak maen kesini?” batin Keanu. Ini pertama kalinya bagi Keanu melihat Barra datang kemari.
Keanu tidak panik sama sekali. Ia seratus persen yakin tidak akan ada yang mengenali dirinya. Keanu turun sebentar dari panggung. Ia ingin menghampiri Barra. Jujur saja Keanu sedikit tertarik pada Barra. ”Hmm boleh juga,” batin Keanu.
Ia pun duduk di samping Barra. Ia memesan segelas minuman bersoda. Begini-begini Keanu tidak pernah meminum minuman beralkohol sekali pun. ”Hati-hati,” ucap Keanu melingkarkan tangannya di pinggul Barra, ketika Barra bersenggolan dengan seorang pengunjung dan hampir terjatuh.
”Makasih,” ucap Barra. Keanu tersenyum. Keanu sesekali curi-curi pandang. Ia melihat Barra tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya yang lain. Keanu tersenyum samar.
Rakha pulang malam sekali karena ia harus lembur hari ini. Hah, sedang apa Ares sekarang ini? ”Dek?” seru Rakha. Suasana rumah nampak sepi. ”Ares kemana ya?” gumam Rakha. Ia pun mencari-cari keberadaan Ares. ”Hah,” Rakha menghembuskan nafas lega. Rupanya Ares sudah tertidur pulas.
Rakha berganti pakaian, cuci muka, dan sikat gigi. Ia pun naik ke atas ranjang memeluk Ares dari belakang. ”Hmm,” gumam Ares. Tidurnya sedikit terusik ketika ia merasakan sesuatu melingkar di perutnya. ”Kak Rakha?”seru Ares sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.
”Kakak bangunin kamu ya?” tanya Rakha. Ares menggelengkan kepala. Rakha mengecup pucuk kepala Ares. ”Papa sama mama pulang kapan, dek?” tanya Rakha. ”Lusa,” sahut Ares dengan mata terpejam. ”Nanti jemput bareng ya?” ucap Rakha.
”Tapi kan kakak kerja?”
”Bisa cuti kok dek,”
”Hm,”
Ares mengantuk sekali, ia pun tertidur. Rakha pun juga sama. Ia pun tertidur dengan posisi memeluk Ares dari belakang dan menghirup dalam-dalam aroma Ares dari ceruk lehernya. ”Met malam sayang,” ucap Rakha.
Pagi hari Rakha terbangun. ”Ares?” seru Rakha. Ia tidak mendapati Ares di sampingnya. Kemana Ares? Rakha pun melihat jam di nakas. Ini masih jam setengah enam. Ia pun bangun berdiri keluar kamar mencari keberadaan Ares. Ugh, semenjak Rakha memutuskan untuk berkomitmen dengan Ares, Rakha paling tidak bisa kalau Ares tidak ada di sebelah.
”Dek? Sayang?” seru Rakha. Dari dapur Ares mendengar suara Rakha memanggilnya dengan sebutan 'sayang'. Lagi-lagi muka Ares terasa panas. Ugh, pasti raut muka Ares kini sudah semerah tomat. ”Di dapur kak~” sahut Ares setengah berteriak.
”Kamu lagi ngapain sih? Pagi-pagi banget udah di dapur? Bikin apaan coba?”
”Kan bisa makan di kantin kantor sayang,”
Oh tuhan, selamatkan Ares dari penyakit salah tingkah dan membuat hati ini makin meleleh. ”Inget cicilan kak masih numpuk,” ucap Ares menohok. ”Duh, kok nyelekit banget sih sindirannya???” ucap Rakha. Rakha sama sekali tidak sakit hati ataupun tersinggung meskipun apa yang dikatakan oleh Ares adalah fakta. Rakha tau Ares hanya bercanda.
Rakha mengecup pipi Ares. Ares mendelik tajam. ”Kok?” seru Rakha heran melihat raut muka Ares yang cemberut. ”Belum cuci muka?” tanya Ares. ”Belum,” jawab Rakha. ”Belum sikat gigi?” tanya Ares lagi. ”Belum,” jawab Rakha. ”Trus tadi kenapa cium aku?”
”Hah? Ya kakak cuma lagi pengen cium kamu Ares~ Masa nggak boleh?”
”Bukannya nggak boleh.. Tapi, kakak kan belum cuci muka belum gosok gigi. Ih geli tau.”
Dasar melankolis, batin Rakha. Begini rupanya sisi lain dari Ares. Saling mengenal setelah berkomitmen ternyata lebih indah dibandingkan saling mengenal terlebih dahulu baru berkomitmen. Hah, rasa-rasanya tiap detik tiap waktu ingin selalu bersama. Hmm, kalo Ares suka Rakha sejak kapan ya?, batin Rakha.
”Ya udah kakak mandi dulu~” ucap Rakha tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Ares sebentar. ”Bisa-bisanya nyium pipi tapi belum gosok gigi ckckck,” gumam Ares ketika Rakha sudah melesat ke kamar mandi.
Ares memasak untuk sarapan sekaligus bekal untuk Rakha nanti. Kalau dipikir-pikir selain bisa lebih hemat ini juga bisa menjadi jalan bagi Ares untuk menunjukkan rasa cinta dan kasih sayangnya pada Rakha. Ares tersenyum sambil menata piring-piring di meja.
Tidak lama kemudian Rakha pun muncul sambil mengusap kepalanya yang basah dengan handuk. ”Jangan duduk dulu kak,” seru Ares. ”Kenapa?” tanya Rakha. ”Itu rambutnya masih basah. Nanti malah kecipratan ke makanan lagi.” sahut Ares. Ugh, dasar Ares. Bisa juga dia semenyebalkan ini?
Sabar Rakha sabar. Hadapilah si melankolis ini dengan sabar, Batin Rakha. ”Pengering rambutnya ada?” tanya Ares. ”Ada.. Di kamar..” sahut Rakha. ”Ya udah kalo gitu kakak duduk dulu. Biar aku ambilin pengering rambutnya.”
”Iya sayang~”
”Duduknya di ruang tengah kak, jangan di meja makan.” teriak Ares dari dalam kamar. Rakha mengelus dada. Bagaimana pun melankolisnya Ares, tetap saja Rakha tidak bisa marah. Rakha menganggap itu adalah bentuk cinta dan kasih sayang Ares pada dirinya.
Ares pun datang dengan pengering rambut di tangannya. Ia membantu Rakha mengeringkan rambutnya yang basah. ”Kakak beneran mau cuti nanti lusa?” tanya Ares. ”Hmm,” sahut Rakha. ”Nggak papa emang?” tanya Ares lagi. ”Nggak papa.. Kantor kakak emang ngasih libur ke karyawannya satu hari dalam sebulan. Jadi, kali aja setahun. Kalo gak kepake jatah liburnya, ya misal kalo ada acara ato apa kan bisa libur lama dek.”
”Hmm gitu,” gumam Ares. ”Nah, kalo kering gini kan enak? Gak bakalan kecipratan ke makanan.” ucap Ares lagi. ”Iya sayang~” sahut Rakha. Mencintai seseorang bukanlah hanya mencintai kelebihannya saja. Namun, juga kekurangannya. Bukankah orang yang saling mencintai itu harus menerima kekurangan masing-masing?
”Sabar ya dek nungguin kakaknya? Hehe,”
”Hm? Kenapa? Nunggu apanya?” sahut Ares. Saat ini Ares dan Rakha tengah sarapan berdua.
”Kakak mau ngumpulin uang buat kita nikah nanti.”
”Uhuk,” Ares tersedak. Ia pun langsung meminum air putih yang ada di samping kiri. Menikah? Memangnya sesama lelaki bisa menikah?
”Hati-hati~”
”E—emangnya cowok sama cowok bisa nikah kak?”
”Bisa lah~ Kalo di indo kan masih belum legal. Cuman kalo kita nikah disini diakuinya secara adat aja. Bukan hukum atau agama. Kakak pengennya nikahnya di indo aja. Kemahalan biayanya dek kalo ke luar negri wkwkwk.”
”Trus?”
”Kalo masalah surat-surat nikahnya gitu baru deh nanti mintanya dari luar. Yah, kakak nanti coba tanya-tanya juga.”
”Oh gitu~”
”Mau kan nikah sama kakak? Hm?”
Wajah Ares mendadak memerah. Apa-apaan Rakha ini? Mendadak membicarakan pernikahan? Ugh, Ares kan jadi tersipu malu. ”Sayang???” seru Rakha lagi. ”Hmm,” sahut Ares mengiyakan. Ugh, betapa menggemaskannya Ares kalau mukanya memerah seperti itu? Ingin Rakha mencubit kedua pipi Ares, namun saat ini mereka tengah sarapan.
***
Apa alesan kalian betah dan selalu stay bareng ARES [BL]? Trus siapa tokoh favorit kalian??