ARES [BL]

ARES [BL]
ARES 38



Di antara baju-baju Ares yang tersusun rapi di lemari, terdapat sebuah paper bag. Ini adalah hadiah dari Laras waktu itu, batin Ares. Ia ambil paper bag itu, lalu ia pun duduk dan membuka paper bag itu perlahan. Kira-kira isinya apa, ya?, batin Ares. Kalau dari paper bag nya saja, ini kelihatan seperti barang mahal.


Indah sekali jam tangan ini, batin Ares. Coba kita lihat ini kira-kira merk apa. Setelah Ares mengetahui merk jam tangan itu, ia pun berselancar di dunia maya, mencari info mengenai harga jam tangan tersebut. “15jt?“ gumam Ares dengan mulut menganga lebar karna terkejut. Ini harga yang sungguh fantastis hanya untuk sebuah jam tangan.


Sebagai tanda terima kasih, Ares berniat ingin mengenakan jam tangan ini nanti ke sekolah. Setelah mencium tangan ayah dan ibu, Ares pun keluar rumah menyusul Rakha yang sudah menunggu di depan sana. “Mas,“ seru Ares dengan senyuman termanis. Ia pun memeluk Rakha sebentar. Lalu, memakai helm yang diberikan oleh Rakha.


Seperti pasangan pada umumnya saat berkendara, Ares melingkarkan tangannya di pinggul Rakha, dan meletakkan dagunya di pundak Rakha. Sambil mengendarai keduanya sambil bercakap-cakap kecil. Sesekali keduanya tertawa entah membicarakan apa.


“Ke rumah kan sayang hari ini?“ tanya Rakha saat keduanya turun dari motor. “Hm,“ sahut Ares mengiyakan sembari melepaskan helm. Ah, tunggu dulu, kedua mata Rakha tidak sengaja menangkap sesuatu. Ares pakai jam tangan?, batin Rakha. Jam tangan itu terlihat sangat mahal. Ah, itu seperti jam tangan brand tag heuer, batin Rakha. Dan yang Rakha tau jam tangan itu bisa mencapai belasan juta rupiah. Darimana Ares mendapatkannya?


Walau Rakha naik gaji sekali pun, ia tidak akan mampu membelikan Ares jam tangan semahal itu. Muka Rakha berubah pias. Orang itu pasti sangat kaya raya, batin Rakha. “Kenapa mas?“ seru Ares saat melihat perubahan raut muka Rakha tiba-tiba. Rakha mencoba menetralkan ekspresinya kembali. Rakha pun tersenyum. Jangan sampai ekspresi aneh Rakha membuat Ares bersedih. Meskipun jujur dalam hati, perasaan Rakha campur aduk. Ya, Rakha cemburu. Dan hal itu wajar saja, kan?


Ares mencium tangan Rakha lalu mengecup pipinya sekilas. “Aku masuk dulu ya mas,“ ucap Ares. “Hati-hati sayang, belajarnya yang rajin ya,“ sahut Rakha mengecup kening Ares sekilas. Keduanya pun saling melambaikan tangan. Rakha pun langsung melesat jauh menuju kantor.


Suara-suara cibiran, cacian, dan makian, sayup-sayup terdengar di telinga Ares. Ia langsung menyampaikan telinganya dengan earphone miliknya. “Ares,“ seru Laras. Dalam hati Laras teramat sangat senang melihat Ares mengenakan jam tangan yang ia berikan. Ares pun menoleh ke Laras dengan tatapan penuh tanya. “Errr.. Gue malem ini ulang tahun, gue ngundang lu Res, dateng ya?“ ucap Laras.


Ares diam sebentar. Sebenarnya Ares tidak menyukai menghadiri acara-acara seformal itu, apa lagi acara itu kebanyakan dihadiri oleh orang kaya raya saja seperti Laras. Tapi, kalau mengingat kembali hadiah yang Laras berikan, Ares pun jadi tidak tega dan tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima undangan Laras. Mungkin Ares akan meminta Rakha untuk menemaninya nanti.


“Bisa, tapi gue boleh bawa orang, kan?“ tanya Ares. “Uhm.. Bo-boleh kok,“ sahut Laras terpaksa mengiyakan hal itu. Laras tidak bodoh. Ares pasti akan mengajak kekasih prianya itu. Hah, Laras tidak ingin menyerah, Laras ingin mendapatkan Ares seutuhnya. Lupakan bagaimana pandangan orang lain terhadap Ares. Laras benar-benar tulus mencintai Ares. Hah, cinta? Ya, mungkin ini adalah cinta bertepuk sebelah tangan. Tapi, tidak apa-apa, selagi Laras mampu memperjuangkan Ares.


Tatapan Ares langsung berubah menjadi dingin saat ia tidak sengaja berselisih dengan Barra dan membuat langkah Ares sendiri tertenti seketika. Keduanya saling tatap menatap—juga sama-sama keras kepala. Bahkan, tidak ada di antara keduanya yang menyapa lebih dulu. Ares pun berjalan begitu saja tanpa menoleh sama sekali. Barra mengepalkan tangan geram. Hah, Barra mendengus kesal. “Lu udah kehilangan Ares. Jangan ampe lu kehilangan gue lagi.“ Kata-kata Keanu waktu itu kembali berputar-putar di benak Barra. Kedua mata Barra memerah. Marah, kesal, sedih, semuanya bercampur aduk menjadi satu.


“Minggir,“ ucap Barra saat ia mendapati Keanu berada di hadapan. Saat Barra hendak berlalu begitu saja. Keanu langsung menahan pergelangan tangan Barra. “Mau lu apaan sih, hah?“ seru Barra berapi-api. Keanu tau suasana hati Barra sedang tidak baik. Sebuah rasa kecewa dan penyesalan tergambar jelas dari sorot matanya itu.


“Ikutin gue,“ ucap Keanu. Keanu menarik paksa pergelangan tangan Barra. Oh tuhan, kenapa orang seperti Keanu ini sangat kuat seperti ini? Bagaimana mana bisa orang seatletis Barra sampai-sampai kalah kuat dari Keanu yang berbadan agak kurus itu? Yah, meskipun tidak terlalu kurus juga sih.


Setiap murid di kelas Ares diberikan kesempatan waktu lima menit untuk presentasi mengenai beberapa nama penyakit di dunia medis beserta cara penanganannya yang tepat. Hampir semua murid tidak mendengarkan Ares berbicara di depan sana. Ares? Dia sama sekali tidak terpengaruh akan hal itu. Baginya cukup sang guru saja yang menilai baik buruk hasil presentasinya di depan kelas. Dan bagi mereka yang acuh, itu adalah pilihan mereka sendiri yang tidak bisa diganggu gugat, dan Ares bukanlah orang yang suka memaksa orang lain untuk mendengarkan apa yang dia katakan.


“Kalian semua harus belajar dari Ares.“ ucap Bu Guru lalu beliau pun berdiri. “Setiap orang punya sisi gelap. Kalian semua saya tanya, sekolah dibiayain sama orang tua ato usaha sendiri? Salat lima waktu gimana? Dikerjain nggak? Pelajaran sekolah gimana? Udah juara? Belum, kan?“


Seluruh murid di kelas ini pun termasuk Ares diam seketika dengan kepala menunduk saat Bu Guru mulai bersuara, mengeluarkan sepatah dua patah kata, memberi peringatan kepada seluruh murid disini untuk tidak menghakimi siapapun. Kalian harus tau disini bisa dibilang sekolah yang dimana sebagian besar muridnya adalah orang kaya raya. Sekolah semua elit. Namun, Ares berhasil masuk dengan beasiswa. Sungguh mengagumkan, bukan?


“Put, dhuha Put,“ seru Ares menghampiri Putra di kelas lain sambil Ares mengenakan peci hitam yang biasa ia kenakan. Setelah jam pelajaran kedua berakhir, Ares memang biasa salat dhuha, tidak lupa ia juga mengajak Putra dan teman-temannya yang lain. Sehelai sajadah sudah tergantung indah di pundak Ares.


Semua mata pun seolah terhipnotis dengan pemandangan dua orang murid laki-laki berjalan beriringan mengenakan peci dan sajadah menggantung di pundak. “Idaman banget~“ ucap salah seorang murid perempuan. Pernahkah kalian mendengar air kopi bisa menjadi air susu? Kebencian akan hilang saat kita memercikkan kebaikan sedikit semi sedikit.


“Suami dunia akherat ini mah.“ ucap mereka lagi. Pujian-pujian itu tidak lantas membuat Ares terbang tinggi. Justru itu menjadi ujian hati bagi dirinya. Bukankah beribadah itu harus ikhlas tanpa ada rasa ingin pamer kepada siapa pun? Iya, kan?


Tiba di rumah Rakha, Ares pun disambut oleh sang pujaan hati dengan pelukan dan kecupan manis di kening. Rakha tersenyum namun entah mengapa Ares merasa kalau senyuman Rakha terlihat sedikit aneh. Rakha seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya.


“Mas?“ seru Ares saat mendapati Rakha termenung. “Mas kenapa? Ada masalah?“ tanya Ares. Rakha pun langsung menggelengkan kepala pelan. “Nggak ada sayang, mas lagi banyak kerjaan kantor aja hehe,“ sahut Rakha berbohong. Bukan itu, batin Ares. Pasti bukan itu. Jelas sekali kalau Rakha sebenarnya sedang berbohong.


“Mas, malem ini mas sibuk nggak?“


“Kenapa emang?“


“Temen aku ultah, aku mau minta kamu temenin aku mas,“


“Uhm, bisa nggak ya????“ sahut Rakha berlagak seolah-olah ia bingung lalu berpikir untuk menimang-nimang sesuatu. Ares menghela nafas. Ares sebal. Sampai-sampai Ares mengerucutkan bibir. Oh tuhan, lucu sekali kalau Ares sedang merajuk seperti ini? Rakha pun langsung mencubit kedua pipi Ares.


“Mwas~“ gumam Ares protes dengan kedua alis saling bertautan. Lihat? Dia semakin menggemaskan, bukan? Hahaha, Rakha pun tertawa. “Bisa sayang bisa~ Udah ah jangan cemberut-cemberut gitu. Sini cium mas dulu,“ sahut Rakha meraih pinggul Ares. “M-mas, na-nanti aja, ini kita mau berangkat, nanti le-leher aku ada bekasnya.“ ucap Ares sedikit gugup.


“Pft,“ Rakha menahan tawa. “Siapa bilang mas mau cium leher kamu sayang????“ seru Rakha mencubit hidung Ares gemas. “Cium bibir sayang bibir~ Tau bibir nggak? Hehe,“ goda Rakha. Uh, dasar Rakha menyebalkan, batin Ares. “Liat mata mas sayang~“ pinta Rakha. Mata keduanya pun bertemu dengan debaran jantung yang mulai menggila. Oh tuhan, sentuhan Rakha ini benar-benar amat sangat berbahaya, batin Ares.


Rakha kecup bibir itu pelan-pelan, lembut, dan penuh kasih sayang. Suara kece pak basah di ruangan ini pun mulai terdengar. Bibir ini membuat Rakha candu dan ingin terus mengecupnya dalam-dalam. “Akh,“ pekik Ares saat ia merasakan sudut bibirnya tergigit. Bukan, ini bukan karna tergigit oleh gigi sendiri, melainkan Rakha sengaja menggigit sudut bibir itu sedikit sehingga mengeluarkan darah meskipun tidak seberapa.


“Mas, ayok,“ seru Ares sudah bersiap-siap. Ares dan Rakha pun berangkat menuju tempat acara. Jujur saja Ares tidak membawa hadiah dalam bentuk apapun, karna ini amat sangat mendadak. Mungkin Laras berpikir untuk tidak merepotkan Ares untuk memberikannya hadiah ulang tahun meskipun itu adalah barang murah sekali pun.


Ares dan Rakha berdecak kagum melihat rumah Laras sebesar dan semegah ini. Di halaman rumah juga banyak mobil-mobil serta motor-motor besar ala lelaki terparkir dengan rapi. Bisa dibilang disini motor Rakha sajalah yang cuma biasa-biasa saja. Ares? Ia sama sekali tidak malu. Untuk apa malu? Toh kebahagian tidak bisa diukur dari banyaknya harta. Kita hanya perlu mensyukuri pemberian tuhan kepada kita.


Ares dan Rakha berjalan beriringan masuk ke dalam. Hah, ini benar-benar pesta ulang tahun yang amat sangat mewah, meski begitu sebagian orang disini berpakaian santai bukan formal seperti stelan jas. “Ares!“ seru Laras. Laras berjalan menghampiri Ares dengan cepat. Ares pun menoleh. Laras langsung meraih tangan Ares dan berterima kasih, karna Ares sudah mau datang.


Ares menoleh ke samping. Ares melihat Rakha berjalan menjauh darinya. Apakah Rakha cemburu?, batin Ares. Entahlah Ares belum sempat melihat ekspresi Rakha tadi. “Ares?“ seru Laras lagi. “Iya Ras?“ sahut Ares memutar kepalanya sehingga kini ia pun saling berhadap-hadapan dengan Laras.


“Kesana yuk,“ ucap Laras mengajak Ares berkumpul bersama teman-teman yang lain. Ares menoleh ke belakang sebentar mencari-cari keberadaan Rakha dengan sorot matanya. Disana, Rakha sedang meminum sesuatu. Teman-teman Laras langsung terdiam saat Laras membawa Ares kemari. Bahkan, salah satu di antara mereka memandangi Ares dari ujung kaki sampai ujung rambut. No, sama sekali tidak ada barang branded menempel di tubuh cowok ini, semuanya pakaian murahan, batin cewek itu. Sebut saja namanya Dhafitha.


“Kenalin, nama dia Ares,“ ucap Laras memperkenalkan Ares kepada teman-temannya yang lain. Laras memperkenalkan Ares dengan bangga. Laras sama sekali tidak memperdulikan status Ares, dan apapun yang Ares kenakan. Laras tidak masalah akan semua hal itu.


Mereka pun saling berjabat tangan meskipun dalam hati mereka menolak dan merasa geli. “Dih, tangannya aja kasar,“ batin Dhafitha. “Bisa-bisanya Laras naksir cowok beginian,“ batin Dhafitha lagi. “Ras, sorry gue nggak ngasih lu apa-apa kesini,“ ucap Rakha. Laras pun tersenyum sumringah. “Lu dateng aja gue udah seneng Res.“ sahut Laras.


“Ya iyalah, orang miskin mana bisa beli hadiah, ckckck,“ ucap Ulfa dalam hati. Ares tidak sebodoh itu untuk bisa membaca situasi termasuk raut wajah lawan bicaranya. Teman-teman Laras ini terlihat jelas sekali menatap Ares tidak suka diiringi tatapan merendahkan. Tidak apa-apa, itu hak mereka, batin Ares lalu tersenyum tipis.


“Gue.. Boleh nyanyi disana nggak Ras??“ tanya Ares saat ia melihat di atas podium sana ada mic berdiri dan seorang pianis yang tengah memainkan tuts-tuts piano. “Boleh kok Res, kesana aja nggak papa,“ sahut Laras tersenyum.


Ares pun naik ke atas podium sana. Ares mencari-cari sosok Rakha di antara para tamu undangan yang datang. Sekitar 15 langkah dari belakang Laras, Rakha berdiri. Ares tersenyum lalu ia pun mulai menyanyikan sebuah lagu cinta, yang berjudul Habitual. Semua mata tertuju pada Ares. Suara indah itu menggema di pesta ini.


Ini pesta ulang tahun orang lain. Tapi, jauh dalam hati, Ares mempersembahkan lagu ini untuk Rakha, bukan untuk Laras. Namun, mungkin Laras salah menangkap. Ia berpikir lagu ini untuk dirinya. Ya, Ares menggambarkan bagaimana perasaan dia yang sesungguhnya kepada Laras.


Rakha yang berdiri di belakang sana terbakar api cemburu. Hah, apa-apaan Ares ini? Menyanyikan lagu cinta seperti itu untuk si pemilik pesta ini? Atau jangan-jangan Ares memang menyukai seseorang selain Rakha? Ayolah, Ares dan Rakha itu sebentar lagi akan menikah. Sangat tidak mungkin sekali bukan? Kalau Ares menyukai perempuan atau lelaki lain?


“Gue suka sama lo Res,“ ucap Laras dari bawah podium tepat setelah Ares selesai bernyanyi. Suasana mendadak hening. Dada Rakha bergemuruh hebat. Bahkan, ia meremas gelas kaca di tangannya kuat-kuat. Beruntung gelas itu tidak pecah sama sekali. Sejurus kemudian suara teriakan para hadirin yang meminta Ares untuk menerima perasaan Laras pun kian terdengar nyaring.


Ares turun dari podium. Jadi, ini niatan Laras mengundang Ares kemari? Laras menatap Ares penuh harap saat Ares menatap Laras lurus hampir tanpa berkedip sama sekali. “Maaf, tapi gue udah mo nikah Ras. Lu liat cincin ini, kan?“ ucap Ares kemudian sembari memperlihatkan cincin emas putih yang melingkar di jari manisnya sambil tersenyum.


“Itu cuman gosip doang kan Res? Gue yakin itu nggak bener,“ ucap Laras dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Laras berusaha untuk tidak mempercayai desas-desus yang ada. Gosip itu pasti salah. Gosip hanyalah gosip. Sampai kapanpun tidak akan pernah menjadi fakta. Ares juga begitu, kan?


“Gue dateng sama calon suami gue Ras,“ ucap Ares tanpa ada rasa malu sedikit pun. Ares cukup bangga memiliki seorang kekasih sekaligus calon suami seperti Rakha. Jadi, untuk apa Ares harus malu? Terserah pandangan orang lain bagaimana. Ares tidak mau dan tidak akan peduli.


“Itu beneran, bukan gosip,“ ucap Ares lagi menegaskan. Kedua orang tua Laras yang berdiri disana pun sedikit geram melihat Ares yang jelas-jelas telah mempermalukan puteri tercintanya. Hah, lagi pula, mengapa juga Laras harus mengakui perasaannya di depan orang banyak?, batin sang ayah.


“Maafin gue Ras, gue nggak bisa nerima perasaan lu.“ ucap Ares kemudian ia pun pergi meninggalkan tempat acara. Ares tidak mempunyai alasan lagi untuk berada disini lebih lama lagi. Hah, semoga Laras bisa mengerti.


Tiba di rumah. Ares langsung memeluk Rakha dari belakang. “Maafin aku mas,“ ucap Ares. Ares tiba-tiba terisak. Ares takut kalau-kalau Rakha kecewa dan marah. Dari sebelum berangkat ke acara tadi pun, Rakha sudah terlihat sangat aneh. Sekarang? Rakha cuma diam saja. Bahkan, sepanjang perjalanan tadi pun dia cuma diam saja.


Ada apa gerangan?, batin Ares. Rakha pun memutar badan ke belakang. Rakha lihat kedua mata Ares sudah sembap karna air mata. Rakha mana tega melihat Ares menangis seperti ini? “Mas..“ seru Ares. “Mas cemburu,“ ucap Rakha kemudian. Lebih baik berterus terang saja daripada harus memperpanjang masalah. “Mas cemburu Ares,“ ucap Rakha lagi dengan sorot mata yang tajam dan sedikit memerah. “Mas mas cemburu, mas kecewa, mas marah, karna mas nggak bisa kasih kamu yang terbaik.“ ucap Rakha.


“Mas..“ seru Ares.


“Jam tangan itu.. Mas jujur aja nggak bisa beliin kamu barang semahal itu Ares.. Mas cuma karyawan biasa.. Mas—“


Sudah. Ares sudah tidak tahan lagi mendengar semua kata-kata Rakha yang terlalu menyalahkan diri sendiri sehingga membuat Rakha kehilangan kepercayaan diri di depan Ares. Hingga Ares pun mengunci bibir itu rapat-rapat dengan bibirnya. Setelah beberapa detik kemudian. Ares tatap kedua mata Rakha.


“Mas, aku pilih kamu karna kamu Rakha, karna kamu bisa buat aku bahagia mas, karna kamu bisa buat aku belajar apa itu cinta mas, apa itu setia, apa itu percaya. Aku nggak butuh barang-barang mahal itu mas atau hidup mewah kek temen-temen sekolah aku. Bukan itu mas. Aku cuman mau kamu mas. Aku cuman butuh kamu. Bukan yang lain.“


Bulir-bulir mutiara itu tak mampu lagi tertahan. Ares dan Rakha saling menitikkan air mata. Sungguh memiliki Ares adalah hal yang Rakha tidak bisa duga. Bersama Ares, Rakha merasa dirinya lebih hidup. Kehilangan Ami bersama dengan pengkhianatan yang dia bawa sungguh membuat Rakha sakit hati dan terluka hingga rasanya hati ini hancur berkeping-keping.


Namun, Ares hadir dan mengobati luka hati itu. Ares. Ya, Ares yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya. Rakha cium bibir itu dengan liar. Bibir Ares otomatis terbuka saat lidah Rakha mencoba melesak masuk. Hingga keduanya pun saling menyecap air liur masing-masing. Ares lingkaran kedua kakinya di pinggul Rakha. Ares kalungkan kedua tangannya di leher Rakha. Tanpa membuat ciuman keduanya terlepas, Rakha pun membimbing Ares menuju kamar dan membiarkan pintu itu terbuka lebar. Biarkan benda-benda di rumah ini menjadi saksi akan penyatuan Ares dan Rakha untuk yang kesekian kalinya.