ARES [BL]

ARES [BL]
ARES 25



Hubungan Ares dan Rakha memang masih seumur jagung. Tapi, bukan berarti Rakha hanya ingin sekedar mempermainkan perasaan Ares. Bukan jua perkara usia tua. Bagi Rakha waktu itu terlalu berharga kalau hanya untuk sekedar main-main. Itulah mengapa hari ini Rakha memutuskan untuk menemui kedua orang tua Ares untuk membahas mengenai hubungan keduanya.


”Diminum nak Rakha,” ucap Badrun mempersilahkan Rakha meminum kopi khas mataram.


”Iya pak,” sahut Rakha meminum kopi tersebut beberapa tegukan.


”Buat Ares mana?” seru Ares duduk di sebelah Rakha.


”Anak kecil nggak boleh minum kopi,” sahut Badrun bercanda.


”Iiih amak~” sahut Ares sebal.


”Begini pak bu..” Rakha mulai membuka pembicaraan. Kenapa Rakha terlihat serius sekali?, batin Ares. ”Mohon maaf sebelumnya kalau kata-kata saya mungkin menyinggung atau kurang mengenakkan. Saya cuma mau bilang kalo saat ini saya sama Ares lagi ngejalin hubungan serius.”


Badrun dan Camilla saling bertatapan. Tunggu dulu, mungkinkah Badrun dan Camilla salah dengar? Ares juga terkejut karena Rakha berkata jujur tentang hubungan keduanya pada ayah dan ibu Ares. Dalam hati Ares sempat kesal karena Rakha tidak mengatakan apapun tentang pertemuan hari ini. Ah, mungkin Rakha punya alasan pribadi, batin Ares berusaha berpikir positif.


”Nak.. Kamu bercanda apa gimana?” tanya Camilla yang terlihat masih belum terlalu percaya.


”Iya nak Rakha.. Kamu ini mau main-main apa gimana?” timpal Badrun. Setelah mengetahui kalau Ares adalah seorang penyuka sesama jenis dari foto yang Badrun dan Camilla lihat waktu itu, mereka juga tidak mempermasalahkan hal itu.


Masalahnya adalah Rakha itu baru saja bercerai dengan sang istri, dan itu belum terlalu lama. Sehingga kepercayaan Badrun dan Camilla akan niat baik Rakha ini cukup tipis. ”Saya serius pak bu,” ucap Rakha mantap. Sorot mata Rakha memanglah memancarkan keseriusan dan ketulusan. Benarkah itu?


Ares diam saja. Ia tidak ingin ikut campur dulu dalam pembicaraan ini. Biar Rakha dulu yang menyelesaikan semuanya. Ah, kenapa Ares merasa seperti sedang mau dilamar? Ugh, pemikiran Ares yang berkelana ini mampu membuat kedua pipi Ares merona.


”Rakha.. Tolong kamu pikir lagi baik-baik nak..” ucap Camilla. Ia tidak ingin Rakha salah dalam mengambil keputusan. Ia ingin Rakha siap atas segala konsekuensi yang ada. Mengerti bukan apa maksud Camilla? Ketika mereke memutuskan untuk menjalin hubungan serius, itu artinya mereka juga harus siap menerima penolakan dari beberapa kalangan masyarakat.


”Insyaa allah saya mantap bu.” ucap Rakha. Ia pun menggenggam satu tangan Ares mencoba memberi keyakinan disana. Ia ingin Ares tenang dan tidak berpikiran macam-macam. Serahkan saja semuanya pada Rakha.


Kalau sudah begini Badrun dan Camilla bisa apa? Selama Camilla bekerja di rumah mantan mertua Rakha, Rakha memang dikenal sabar dan tabah. Terlebih lagi menghadapi kejudesan ibu mertuanya. Pun sifat manja sang mantan istri, Ami. Semoga Rakha mampu menjaga kata-katanya.


”Kalo kamu gimana Res? Mau nggak sama Rakha? Serius nggak kamu?” cerca Badrun. Sedari tadi ia melihat Ares diam saja. Ugh, Ares gugup sekali. Ia pun menelan ludah susah payah. Badrun hanya ingin menguji Ares. Lihatlah raut muka gugup Ares. Lucu sekali.


”Uhm.. Insyaa allah Ares juga mantap inak amak..” ucap Ares sedikit tersipu malu.


”Rakha.. Inget.. Hubungan kalian itu udah menyalahi norma masyarakat dan agama, kan? Ibu cuma pengen kamu harus siap hati mental dan semuanya. Jangan cuma di bibir aja.”


”Iya ibu insyaa allah,”


”Kamu juga Res,”


”Eh? I-iya inak,”


”Minta do'anya ya pak bu supaya rezeki saya selalu lancar. Saya mau nabung buat nikah sama Ares nanti.” ucap Rakha.


”Uhuk,” Ares tersedak.


”Hah?” seru Badrun terkejut. ”Emang cowok sama cowok bisa nikah nak Rakha?” tanya Badrun. Rakha tersenyum. Ia pun mengangguk. ”Bisa pak~ Sebenernya di luar negri itu legal, jadi bagi sesama jenis biasanya nikah di luar negri. Berhubung saya nggak menyanggupi biaya buat bawa keluarga kesana, jadi nanti nikahnya di indo aja. Kalo masalah surat nikah biar minta bantuan temen ngurusnya di luar nanti.”


”Oh~ Bisa ya?” ucap Badrun lagi memastikan dengan nada sedikit bercanda. Rakha maklum saja sambil tersenyum.


Badrun menyenggol lengan Camilla sedikit. Badrun memberikan Camilla sebuah kode. Bukan Camilla namanya kalau ia tidak mengerti kode dari sang suami. ”Ehm,” Camilla berdehem. ”Kalian ngobrol dulu berdua. Ibu sama bapak mau jalan-jalan keluar pedahan.” ucap Camilla.


”Loh? Inak amak mau kemana? Trus Bayan sama Icha gimana?” ucap Ares protes. Ugh, Ares bisa senam jantung kalau ditinggal sendirian begini bersama Rakha disini. Tolong inak amak jangan ke mana-mana, batin Ares penuh harap.


”Inak sama amak mau nostalgia dulu kek jaman pacaran dulu boncengan. Bayan sama Icha kamu aja yang urus nanti kalo mereka bangun. Kan ada nak Rakha? Hehe,” ucap Camilla.


Ares mengelus dada. Siap-siap bersenam jantung. Badrun dan Camilla pun pergi bersama keluar. Umur boleh tua dan sudah punya anak tiga. Tapi, jiwa harus tetap selalu muda. Ber jalan-jalan bersama naik sepeda mengelilingi kota. Hmm romantis sekali. ”Pak, ngaruhnya yang cepet pak,” seru Camilla di belakang. ”Berat bu~ Hah hah hah,” sahut Badrun sedikit ngos-ngosan mengayuh sepeda.


Ares mencoba mengusir kegugupannya dengan bersosial media. Ia tidak ingin menoleh ke samping. Bisa-bisanya jantung Ares melompat keluar. ”Dek?” seru Rakha. ”Kok maen hp mulu? Hm? Liat kakak dong,” ucap Rakha. ”Hm?” sahut Ares masih belum bergeming jua. ”Liat kakak sini~” ucap Rakha lagi.


Oh tuhan, Ares serasa mau melayang ke angkasa. Tolonglah Ares saat ini juga yang sudah mulai meleleh. Ugh, dalam hati Ares merutuki dirinya yang ingin sentuhan lebih dari Rakha. Tidak tidak tidak. Ares tidak ingin menjadi semurahan itu.


Rakha itu sudah dewasa dan juga memiliki pengalaman hidup lebih banyak dibandingkan Ares. Itulah mengapa di usia seperti Rakha ini tingkat kepekaan pun juga harus ditingkatkan. Jangan heran kalau Rakha mampu membaca ekspresi Ares saat ini, yang mungkin saja ingin sesuatu lebih dari dirinya?


Rakha meraih pinggul Ares hingga kini dada keduanya saling berhimpitan. Wajah Ares memerah dengan jantung yang terus saja berpacu. ”Kak..” seru Ares pelan. Rakha menatap Ares lurus tanpa berkedip. ”Eumh,” gumam Ares otomatis memejamkan mata ketika lidah Rakha berkelana di daun telinganya.


Lidah Rakha menyapu habis dagu Ares lalu berpindah ke bibir. Rakha ingin membahagiakan Ares dalam bentuk apapun. Termasuk Sentuhan-sentuhan cinta darinya. ”Euungh,” suara mengurangi Ares kembali terdengar. Satu tangan Ares memegang pundak Rakha dari depan dan satunya lagi ke belakang seperti posisi memeluk.


Tangan Rakha semakin turun ke bawah saat ciuman itu juga mulai semakin panas. Ares melemas. Ini baru ciuman saja. Tapi, bagaimana bisa tubuh Ares malah kian melemas? Rasa-rasanya ia hanya bisa pasrah. Rakha telusupkan tangannya di balik c3lan4 yang Ares kenakan dan meremas p@nt@tnya hingga membuat suara lenguhan Ares terdengar semakin keras.


”Hah.. Euuumhh..” Ares menggelinjang ketika Rakha menggigit pundak dan memasukkan satu jarinya ke dalam sana. Ini sungguh terlalu nikmat untuk Ares meminta Rakha berhenti sekarang. ”Kak kak kak ahkuuu maahuuu pihpis.” ucap Ares ketika ia merasa miliknya berdenyut-denyut saat satu jari Rakha semakin merojok sesuatu yang ada di dalam sana. Pun bibir Rakha yang terus saja mengulum bibir Ares tanpa henti.


”Aahhhhhhhh,” lolongan panjang itu pun terdengar. C3lan4 yang Ares kenakan terasa basah. Ugh, sudah pasti ini adalah cairan sp3rma Ares yang muncrat berkat stimulasi yang diberikan oleh Rakha. Ares ngos-ngosan. Ia malu sekali. Ia pun membenamkan wajahnya di ceruk leher Rakha. Ia tidak tau sudah jadi apa wajahnya sendiri saat ini.


Rakha tersenyum. Ia memeluk Ares yang sudah lemas sekali sambil mengelus punggungnya. Ah, kenapa Rakha tidak bisa menahan diri? Ares tidak mungkin berpikiran yang tidak-tidak, kan? ”Mau mainin punya kakak juga nggak?” ucap Rakha. Ares pun menarik wajahnya sedikit. Ia menatap Rakha lamat-lamat. Tatapannya terlihat lemah sekali memang, karena baru saja Ares mengeluarkan cairan kenikmatan, sehingga membuat tubuhnya sedikit melemas.


Di kamar Ares, Rakha merem melek ketika Ares dengan lihai memanjakan miliknya. Mulai dari meremas, mengurut, menaikturunkan, sampai mengulum bagian ujung kepalanya sedikit. Rakha dalam posisi duduk. Ini sudah 10 menit lebih Ares memanjakan milik Rakha. Namun, Rakha urung jua ada tanda-tanda ingin keluar.


”Dicepetin lagih dehkkk,” gumam Rakha. Ares pun semakin mempercepat gerakan tangannya. Ia juga sesekali meremas dan mengulum dua buah telur yang menggelantung itu. Lagi-lagi milik Ares serasa mengembang di bawah sana. Dasar!, batin Ares.


”UHHHHHH AAAAAHHHHH,” Rakha pun akhirnya mencapai kenikmatan yang sesungguhnya. Cairan putih itu muncrat mengenai wajah Ares. Ugh, dasar, Ares kembali bergairah. Miliknya di bawah sana semakin menyesakkan saja. Permainan pun kembali berlanjut dengan Rakha yang juga mengulum milik Ares yang sudah menegang sempurna. Ares pun menyemburkan cairan putihnya di dalam mulut Rakha. Tanpa perasaan jijik sedikit pun, Rakha telan cairan milik Ares. Ini adalah cinta, batin Rakha.


”Wassup brooooooo,” sapa Barra ketika Ares menampakkan diri di pintu gerbang. Barra pun menghampiri dan melingkarkan tangannya di pundak Ares. Barra selalu saja sumringah tiap kali bertemu Ares. Namun, seketika senyuman itu memudar ketika matanya tidak sengaja menangkap sesuatu yang tidak ingin ia lihat.


Di leher Ares terlihat beberapa bekas kebiru-biruan. Barra tidaklah bodoh untuk mengatahui itu apa. Dengan siapa Ares bermesraan semalam? Perempuan mana yang sedang ia kencang? Semua pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala Barra.


”Bar?” seru Ares.


”Hah?” sahut Barra.


”Lu kok ngelamun? Kesambet tau rasa lu,”


”Ng-nggak kok.. Cuman lagi mikirin sesuatu aja hehe,”


”Apaan emang?”


”Rahasia~”


Barra pun berusaha untuk tersenyum meskipun sebenarnya sedikit dipaksakan. Dada Barra bergemuruh melihat secara langsung fakta bahwa kini mungkin Ares sudah memiliki orang yang dia cintai. Tapi, siapa? Dari sekolah mana? Bahkan Barra tidak pernah melihat Ares dekat dengan perempuan manapun.


Barra juga tau Ares itu sesibuk apa. Jadi, tidak mungkin juga ia membuang-buang waktu untuk berkencan apalagi malmingan seperti halnya anak muda jalan sekarang. Lalu, siapa perempuan itu? Ah, Barra jadi penasaran.


Adithama mengerjapkan mata beberapa kali. Kepalanya terasa berat sekali. ”Gue lagi dimana?” batin Adithama. Ia melihat kiri kanan depan penuh dengan kursi-kursi berjejer. Kenapa Adithama merasa dirinya kini seperti tengah berada di dalam pesawat?


Adithama pun menoleh ke samping. Ia melihat Noah duduk sambil membaca koran. Kolot sekali. Melihat kursi yang Noah duduki, benar saja, ini di pesawat. ”Ini dimana?” tanya Adithama. Sorot matanya menajam meminta penjelasan. Noah pun melipat koran yang ia baca lalu menoleh ke samping. ”Kita lagi di pesawat Ad. Kita mau ke london.” sahut Noah. Adithama menggerakkan gigi geram. Bagaimana ceritanya ia bisa berakhir di pesawat?


”Kakak bius kamu,” ucap Noah to the poin. Adithama membelalakkan mata terkejut. Ia langsung mencengkeram kedua sisi kerah baju Noah. Ingin Adithama memaki dan memukuli Noah habis-habisan. Namun, saat ini ia tengah berada di dalam pesawat.


Sakit hati? Itu jelas. Bahkan sudut mata Adithama kini sudah sangat memerah. ”Lu menang,” ucap Adithama. Ia pun melepaskan cengkeramannya dari Noah. Adithama melemparkan pandangannya ke luar jendela pesawat. Hah, Adithama lelah. Ia memejamkan mata sejenak. Tanpa ia sadari air matanya pun menetes. Perasaan sakit dan terluka yang Noah berikan padanya dulu masih terasa sampai sekarang. Apapun alasannya Adithama masih belum bisa menerima kehadiran Noah di sisinya.


Noah tau Adithama terluka. Tapi, Noah juga tidak mempunyai cara lain untuk menghentikan semua hal-hal gila yang Adithama lakukan sampai-sampai harus menyakiti orang lain. Noah tidak ingin masa depan Adithama hancur. Biar saja kebencian Adithama padanya semakin membesar. Itu lebih baik daripada ia harus membiarkan Adithama semakin tenggelam dalam kegelapan.


***


Kasian Adithama~ Pasti dia sakit hati banget~