![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Pagi itu dan di saat orang-orang sudah mulai disibukkan dengan kegiatan di dapur, Barra, dia menuruni anak tangga sambil menggerutu tidak jelas, bibirnya komat-kamit. “Pa! Ma!“ seru Barra terlihat marah. Disana juga ada Keanu, persis di samping Barra. “Lain kali tolong jangan biarin makhluk kek Keanu ini nginep di rumah kita pa ma. Barra nggak suka.“ ucap Barra berapi-api.
“Ini masih pagi Barra~ Masa kamu dateng-dateng malah marah-marah kek gitu sih sama mama sama papa?“ seru sang ibu. Barra tidak mau tau. Keanu harus segera dimusnahkan. “Intinya Barra nggak mau ada Keanu di rumah ini ma pa.“ ucap Barra tetap teguh pada pendirian. “Ngomong itu yang sopan dong Bar~ Kamu lebih tua dari Keanu loh? Masa ngomongnya ketus gitu?“ seru Bahran menegur.
“Papa sama mama tau nggak? Tadi malem Keanu itu udah nusuk pantat Barra berkali-kali ma pa!“ ucap Barra. Kontan Keanu pun membelalakkan mata tidak percaya. Barra bodoh, untuk apa dia berkata seperti itu di hadapan ayah dan ibu sendiri? Keanu menepuk jidat sambil tersenyum dipaksakan.
Bahran dan Dahlia melongo setelah mendengar Barra berkata seperti itu. “Kamu lagi ngigo, Bar? Ato gimana?“ tanya Bahran. Barra ini memang dasar dia suka sekali mengada-ada, batin Bahran. “Heh,“ Barra mendengus. “Barra beneran pa. Barra nggak bohong. Keanu udah nusuk pantat Barra pake itu dia. Nih, liat leher Barra? Ini juga ulah Keanu pa. Ya, papa bayangin lah kalo Keanu nginep disini mulu. Nasib Barra gimana, pa ma?“
Bahran dan Dahlia pun saling bertatapan. Ini serius? Bukan bercandaan belaka? Keanu sudah membobol Barra? Jadi, ini maksudnya bagaimana?, batin Bahran seolah belum bisa mencerna situasi ini. “Bener itu Keanu?“ tanya Bahran pada akhirnya. Keanu menatap Barra sebentar. Lihat bagaimana Barra tersenyum licik merasa menang atas Keanu. Yah, meskipun cara yang dia gunakan bisa dibilang amat sangat ekstrim.
Keanu menggaruk lehernya yang tidak gatal. Ini sungguh di luar dugaan kalau Barra seberani itu mengakui semua ini sekaligus mempermalukan Keanu. Hah, dasar Barra bodoh, batin Keanu. “Uhm.. I-iya om tante..“ cicit Keanu pelan. Bahran dan Dahlia menelan ludah susah payah. Ini seperti Bahran dan Dahlia berada di suatu tempat yang tidak seharusnya. “Papa mau berangkat kerja dulu Barra,“ ucap Bahran. “Tunggu mama pa, mama sekalian mau ke butik juga,“ seru Dahlia.
“Loh loh? Mama sama papa mau kemana?“ tanya Barra saat melihat Bahran dan Dahlia ingin pergi begitu saja. “Kerja lah Barra, trus mau kemana lagi?“ sahut Bahran. “Mama mau kemana juga? Kok barengan gitu sih? Sarapan juga belom?“ cerca Barra. “Err.. Ini buat nanti makan siang aja Barra, nggak papa. Mama buru-buru maaf ya. Ayok pa cepetan,“ ucap Dahlia.
Situasi macam apa ini? Kenapa semua orang terlihat menghindar? Apakah Barra salah telah mengatakan itu semua? Bukankah disini Keanu lah yang salah? “Argh,“ gumam Barra mengacak-acak rambutnya gusar. Ia pun langsung memicingkan mata pada Keanu. Keanu? Dia acuh saja membuang muka seolah tidak tau apa-apa.
Deon dan Edgar tidur bersama hampir tanpa mengenakan apapun, karna tadi malam keduanya sama-sama basah kuyup gara-gara hujan deras yang mengguyur. Suara sering telepon milik Edgar terdengar. Edgar pun membuka mata perlahan dan melihat Deon masih tertidur pulas dengan lengannya yang dijadikan sebagai bantal.
Edgar tarik tangannya perlahan supaya tidak membangunkan Deon. Lalu, ia angkat telepon tersebut, dari Darren. “Maaf, tuan, saya baru angkat.“ ucap Edgar merasa bersalah karna lama sekali baru mengangkat telepon dari tuannya. “Kamu dimana?“ tanya Darren langsung tanpa berbasa-basi.
“Di hotel tuan,“ sahut Edgar. “Tolong kamu atur pertemuan saya hari ini dengan Rakha.“ ucap Darren. “Baik tuan,“ sahut Edgar. Sambungan telepon pun terputus. Edgar membersihkan diri sebentar. Tadi, dia sudah meminta kepada pihak hotel untuk membawakan stelan jas terbaik. Edgar pun berganti pakaian. Ya, Edgar nampak gagah sekali mengenakan stelan jas mahal itu. Terlihat pas dengan ukuran tubuhnya.
Kepala Deon sedikit pusing. Mungkin ini karna kemarin ia sudah hujan-hujanan. Samar-samar Deon melihat seorang pria berdiri di depan cermin besar itu sambil mengandung kemeja yang ia kenakan. Deon langsung bangun dan terduduk. “Kamu siapa?“ tanya Deon sedikit panik. Lagi ia juga tidak mengenakan pakaian atas, melainkan celana panjang saja.
“Kamu coba ingat-ingat lagi saya ini siapa,“ sahut Edgar dingin. Semua kalimat yang Edgar ucapkan itu terdengar sangat tegas, dan membuat lawan bicara seolah tidak mampu untuk berkata tidak. Deon pun mencoba mengingat-ingat kembali siapa pria ini. Oh tuhan, ini adalah pria yang menolong Deon dari Evan tadi malam. Lagi pria yang tidak sengaja Deon tabrak waktu itu.
“Sudah ingat?“ tegur Edgar. Deon diam saja. Pria ini sungguh sangat gagah. Sungguh mengingatkan Deon pada sosok Evan. Stelan jas abu tua itu terlihat pas sekali. Pin berbentuk daun dengan beberapa permata kecil di kerah kiri. Serta kacamata dengan aksen rantai yang berjuntai ke belakang. Pria ini sangat sempurna.
Deon mendadak sendu. Edgar ini mirip sekali dengan Evan dari postur tubuh meskipun wajahnya berbeda jauh. “Pria kek dia itu.. Nggak pantes kamu tangisin..“ ucap Edgar. Edgar sudah siap menjalankan tugas. “Hari ini saya sibuk, maaf, nggak bisa nganter kamu pulang. Saya akan hubungi kamu lagi nanti.“ ucap Edgar.
Edgar pun meninggalkan Deon sendiri di kamar itu. Tunggu dulu, Deon sama sekali belum berterima kasih kepada Edgar. Hah, ingin Deon mengejar Edgar keluar, namun kondisi Deon masih belum mengenakan apa-apa. “Kok gue bisa sebodoh ini sih?“ gumam Deon saat ia baru menyadari kalau dirinya lupa meminta nomor telepon Edgar.
Hati ini masih terasa amat perih sekali. Deon sampai memegangi dadanya yang terasa sangat menyesakkan. Evan, nama itu terus saja berputar-putar di kepalanya. Deon ambil hp miliknya di nakas. Deon buka aplikasi chat di whatsapp. Kedua alis Deon berkerut. chattan Evan berada di list teratas. Padahal kemarin seingat Deon, Deon sudah menghapus chattan dari Evan. Ia buka isi chattan tersebut.
Ini jelas-jelas bukan balasan chat dari Deon. Deon pun coba baca kembali balasan chat itu. Hah, mungkinkah ini ulah Edgar? “Sekali lagi kamu dekati Deon. Kamu berurusan sama saya, Evan.“ begitulah isi dari balasan chat tersebut. “Edgar,“ gumam Deon.
Hinaan dan cacian itu semakin keras terdengar. Namun, banyak juga di antara mereka yang mendukung Ares. Itu pilihan mereka, kata Ares. Kita hidup atas dasar usaha kita sendiri. Toh kita tidak meminta uang kepada mereka. Seseorang baik atau buruk sudah pasti selalu saja ada yang tidak suka.
Kehidupan terus berjalan seperti bumi yang berputar tanpa henti pada porosnya. Begitu pula kehidupan Ares dan yang lainnya. Meladeni ocehan-ocehan pedas dari bibir-bibir yang tidak terdidik itu buang-buang tenaga saja. Masih banyak hal yang lebih bermanfaat daripada meladeni ocehan mereka itu.
Telinga Keanu saja terasa panas mendengar ocehan itu. “Tumben lu ngantin?“ seru Keanu duduk di hadapan Ares. Lihat saat ini Ares membeli makanan tidak seperti biasa. Ini sungguh di luar dugaan Keanu. Setau Keanu, Ares itu paling anti dengan yang namanya kantin. Kalian tau kenapa? Karna Ares harus hidup berhemat. Tapi, kali ini sungguh berbeda. Ares memesan beberapa makanan seperti, batagor, piscok, dan jus buah.
“Nggak boleh emang?“ Ares bertanya balik. Keanu melihat kiri dan kanan. Sorot mata itu. Ingin Keanu mencongkel mata mereka satu per satu. “Ya boleh lah. Gue cuma heran aja gitu tumben? Lu biasanya ngirit tingkat tinggi, kan?“ ucap Keanu meminum jus buah Ares beberapa teguk. Dasar Keanu sialan, batin Ares.
“Dikasih sama doi ya udah gue gunain aja duitnya, sekali-sekali, trus sisanya ditabung deh.“ sahut Ares.
“Res,“ seru Keanu.
“Hm?“ sahut Ares tanpa menoleh. Ares sambil menyantap makanan yang ia ada di hadapannya.
“Gue suka sama Barra,“ ucap Keanu kemudian. Kontan membuat Ares langsung meletakkan sendok yang ia pegang di piring. Ares pun menatap Keanu yang juga tengah menatap dirinya. Sudah lama sekali Ares tidak mendengar nama mantan sahabatnya yang satu itu.
Keanu suka Barra? Ini sungguh mengejutkan. Bagaimana bisa hal itu terjadi? Ah, bukankah memang bisa saja? Tapi, setau Ares, Barra dan Keanu itu tidak terlalu dekat. Jadi, kapan mereka berkenalan, sampai-sampai membuat seorang Keanu jatuh hati kepada Barra?
“Gue juga udah tidur sama dia,“ ucap Keanu membuat Ares bertambah terkejut. Keanu tidak ada maksud apa-apa mengatakan hal ini kepada Ares. Entah mengapa Keanu merasa Ares perlu mengetahui hal ini, karna dia sahabat Barra mungkin? Keanu ingin Ares tidak terlalu khawatir kepada Barra, karna kini sudah ada Keanu di sampingnya, meskipun Barra belum sepenuhnya menerima Keanu. Itu juga menjadi salah satu alasan Keanu mengatakan hal ini.
“Gue udah maafin Barra, Kea,“ ucap Ares. Ares tau maksud Keanu berkata jujur seperti itu. “Tapi, buat bisa sedeket dulu lagi, mungkin udah nggak bisa lagi Kea. Itu sama aja kek lu ngelempar kaca ke dinding. Dan saat lu ambil lagi tuh kaca dan lu coba perbaikin pun nggak bakalan bisa sama lagi Kea.“ ucap Ares sambil menggelengkan kepala pelan. Ini sebuah kenyataan pahit memang. Kehilangan sahabat seperti kehilangan seperempat jiwa. Namun, jika dipaksa untuk disatukan lagi, itu akan terasa lebih menyakitkan. Seperti orang yang mendapat donor jantung, sudah sembuh pun, akan tetap terasa berbeda.
Pada saat jam makan siang, Rakha dijemput oleh seorang pria berstelan jas lengkap, yang Rakha sendiri belum ketahui namanya siapa. Hm, orang ini tidak mungkin adalah seorang CEO atau bahkan seorang direktur. Lihatlah bagaimana pria ini memanggil Rakha dengan sebutan tuan—pun membukakan pintu mobil untuk Rakha.
Pria itu jelas sekali bukan orang Indonesia. Mungkin dia keturunan Eropa, batin Rakha. Rakha dan pria itu pun tiba di sebuah restoran bintang lima. Pria itu membimbing Rakha menuju private room. Disana sudah ada seorang pria yang juga berwajah bule tengah menunggu kedatangan Rakha.
Pria itu pun berdiri. Dia tersenyum. Meskipun dia memiliki rahang yang tegas, sama sekali tidak membuat senyumannya itu terlihat dingin dan kaku, malah terkesan ramah sekali. “Perkenalkan, saya Darren Scott,“ ucap Darren mengulurkan tangan. Rakha pun menyambut uluran tangan itu. “Rakha,“ sahut Rakha.
“Kamu pasti belum tau saya siapa, kan? Saya Om Irfan, calon suami Ami, mantan istri kamu.“ ucap Darren. Rakha terkejut. Kenapa Darren meminta dirinya untuk bertemu secara pribadi? Ada masalah apa lagi ini? Bukankah disini Rakha sudah bukan siapa-siapa lagi? Mereka mau apa lagi? Sampai-sampai seorang Darren harus turun tangan?
“Maaf, maksud anda apa, ya?“ tanya Rakha masih belum mengerti arah pembicaraan ini.
“Ami.. Dia nggak mau menyusui Bella..“ ucap Darren. Seketika Rakha terkejut. Ami tidak ingin menyusui Bella? Kenapa?, batin Rakha. “Saya juga menentang pernikahan mereka. Tapi, Irfan tetap ingin menikah karna ingin bertanggung jawab atas bayi yang dikandung oleh Ami.“
“Rakha.. Satu hal lagi.. Tolong izinin saya asuh Bella minimal sampai dia selesai sekolah dasar.. Saya mau bawa dia ke Amerika..“
Darren ingin membawa Bella ke Amerika? Apakah Darren sedang membual perihal ingin membantu Rakha untuk mendapatkan hak asuh Bella? Jujur saja hati Rakha serasa hancur berkeping-keping. Sudahnya ia dengar akan fakta Ami yang dengan setega itu tidak mau menyusui Bella. Dan Darren yang ingin membawa Bella ke Amerika.
“Kenapa harus ke Amerika? Saya disini masih ada sebagai orang tua kandung Bella,“ ucap Rakha. Sungguh berat hati Rakha jika ia harus melepas Bella. Bella adalah belahan jiwa Rakha. Sudah beberapa bulan ini Rakha tidak pernah lagi menemui Bella, meskipun kerinduan dalam dada kian membara.
Sudah Darren duga. Rakha pasti tersinggung dengan kata-katanya barusan. “Dengar Rakha, saya sama sekali nggak bermaksud menyinggung perasaan kamu, apa lagi sampai meremehkan dan merendahkan kamu. Saya rasa untuk sementara Bella lebih baik sama saya dulu. Kamu dan calon istri kamu sudah cukup sibuk dengan urusan pekerjaan dan pendidikan. Calon mertua kamu? Beliau punya dua anak yang masih kecil-kecil, pasti kerepotan kalo ditambah harus urus Bella lagi. Mantan mertua kamu? Saya lebih nggak rela lagi Rakha.“
“Lihat? Kamu aja nggak dikasih izin ketemu sama Bella. Saya nggak bakalan rela Bella diurus Zada. Saya takut dia mewarisi sifat manja Ami. Saya mau Bella tumbuh jadi anak yang mandiri Rakha. Tolong pikirin ini baik-baik. Saya balik ke Amerika lusa nanti. Ini kartu nama saya.“
Di depan pintu gerbang sekolah Ares. Rakha menunggu Ares sambil termenung, memikirkan kata-kata Darren tadi siang. Ini sungguh adalah sebuah pilihan yang sangat berat sekali bagi Rakha. Tapi, Darren juga ada benarnya. Bella membutuhkan kasih sayang dari orang-orang terdekat. Dilihat dari situasi saat ini, Rakha juga belum bisa menyanggupi untuk mengurus Bella, karna kesibukan di kantor. Diurus oleh pengasuh? Rakha tidak memiliki kepercayaan sebesar itu untuk mempercayakan Bella kepada seorang pengasuh.
“Mas? Mas Rakha?“ seru Ares menepuk pundak Rakha. Rakha nampak sedang melamunkan sesuatu. Entah apa, batin Ares. Seulas senyum tipis pun terukir di bibir Rakha. Ares cium tangan Rakha seperti biasa. Entah mengapa hati Ares berkata kalau saat ini suasana hati Rakha sedang kurang baik. Mungkinkah Rakha sedang ada masalah di kantor? Ah, biar Ares tanyakan nanti di rumah.
“Tadi di sekolah jajan apa aja, dek?“ tanya Rakha saat sudah tiba di depan rumah Ares. “Hmm banyak hehe,“ sahut Ares sambil tersenyum. Rakha juga tersenyum. Hah, melihat senyuman Ares seperti ini, rasanya membuat suasana hati Rakha menjadi lebih baik. “Oh iya dek, mas balik ke kantor dulu, ya? Jangan lupa nginep di rumah mas kalo udah selese keliling jualan nanti.“ ucap Rakha. “Iya~“ sahut Ares melambaikan tangan.
“Ares?“ seru Camilla sumringah. Ini sungguh amat tidak biasa. Jelas sekali kebahagian terpancar di wajah cantik sang ibu. Ares juga ikut-ikutan tersenyum bahagia. “Iya inak?“ sahut Ares duduk di ruang tamu bersama sang ibu. “Alhamdulillaah inak dapet kontrakan baru deket kompleks Nak Rakha loh Res! Ehem, kalo kamu mau nginep di rumah Rakha, kan tinggal jalan kaki doang Res?“ ucap Camilla sambil menggenggam tangan Ares saking bahagianya.
Uh, kenapa Ares jadi deg-degan begini? Mendengarnya saja sudah membuat hati Ares berbunga-bunga. “Beneran inak?“ tanya Ares mencoba memastikannya sekali lagi. Uh, Ares terharu. Ini benar-benar sebuah keberkahan bagi Ares dan Rakha. Begini saja sudah membuat Ares bahagia apa lagi nanti setelah menikah ia hidup bersama Rakha. Tentu Ares akan lebih bahagia lagi.
“Beneran~ Trus kontrakannya juga lebih gede dikit Res. Uhm, agak mahalan dikit sih tapi ya lumayan. Mudah-mudahan rezeki kita lancar ya Res. Bisa bayar kontrakan trus sekolah Bayan sama Icha, trus kebutuhan sehari-hari, aamiin.“
“Aamiin inak,“
Sepulang dari berjualan Ares langsung menuju rumah Rakha. Seperti biasa Ares akan bersih-bersih terlebih dahulu. Baru memasak untuk makan malam nanti. “Uhm, enaknya bikin apa, ya?“ gumam Ares berpikir sambil mengepel lantai. “Ah iya!“ gumam Ares saat ia mendapatkan ide cemerlang ingin memasak apa. Uh, semoga Rakha suka, batin Ares.
Bunyi bel rumah dipencet pun terdengar. Itu pasti Rakha, batin Ares. Ares pun membuka pintu, dan benar saja itu adalah Rakha. Ia pun langsung berhambur ke pelukan Rakha sambil tersenyum sumringah. “Sayang? Mas baru dateng ini kok langsung dipeluk aja? Salaman dulu, cium tangan,“ ucap Rakha. Ah, iya, Ares lupa.
Ares pun mencium tangan Rakha lalu mengecup pipi dan bibirnya sekilas. “Maaf mas, saking senengnya aku ampe kelupaan, hehe.“ ucap Ares. “Seneng kenapa sih sayang? Cerita dong?“ seru Rakha melangkahkan kaki masuk ke dalam. Sambil berbicara ia pun duduk di sofa sambil melepas dasi yang melingkar di kerah kemejanya sedari tadi pagi. Hah, Rakha pun menghembuskan nafas lega.
“Mas,“
“Hm?“
“Aku udah dapet kontrakan baru loh!“
“Serius? Alhamdulillaah dong sayang,“ sahut Rakha sembari melepas kancing kemeja di bagian pergelangan tangan. Lalu, Rakha pun menatap lamat-lamat sang pujaan hati dengan satu tangan yang ia lingkaran di pinggul Ares dan satunya lagi bertumpu di badan sofa.
Rakha memainkan rambut Ares yang sebenarnya tidak berantakan sama sekali itu. Senyuman Ares yang sumringah ini benar-benar bisa menghilangkan kepenatan Rakha setelah seharian bekerja. Bagaimana kalau sudah jadi istri nanti?, batin Rakha. Sudah pasti Rakha akan sangat dan lebih bahagia dari ini.
“Tau nggak? Kontrakannya deket kompleks rumah kamu loh mas? Jadi, misal mau nginep di rumah kamu, aku tinggal jalan kaki doang 5 menit.“
“Hah? Serius?“
“Beneran~“
Beberapa saat Ares dan Rakha saling bertatapan, meresapi perasaan cinta satu sama lain, yang dimana Rakha tatap sang kekasih penuh cinta sambil tangan memainkan rambutnya yang licin dan lembut itu—juga harum semerbak khas Ares. “Masak apa sayang?“ tanya Rakha lemah lembut. Duh, Ares jadi deg-degan ditatap seperti itu oleh Rakha. “Uhm..“ gumam Ares mencoba mengontrol diri. “Aku masak ayam taliwang, beberuk terong, sama plecing kangkung.“ sahut Ares.
Rakha pun langsung duduk dengan posisi tegap—juga mata membolak sempurna. “Beberuk terong yang? Beneran? Serius?“ cerca Rakha antusias seperti telah mendapatkan harta karun saja. “Se-serius mas, kenapa emang?“ sahut Ares sekaligus bertanya. Ares heran, mengapa Rakha bisa seantusias itu saat mendengar Ares membuat beberuk terong?
“Itu makanan favorit mas sayang~ Mama mas di kampung suka banget bikinin mas beberuk terong.“ sahut Rakha. “Kenapa nggak dari dulu aja sih bikinnya??? Mas bisa abis satu mejikom loh Res kalo udah ada beberuk terong tuh,“ ucap Rakha lagi. “Dasar! Mana aku tau sih mas?? Hm?? Ya udah sana mandi dulu baru makan.“ ucap Ares. Rakha pun mengecup pipi Ares sekilas. Lalu, langsung melesat menuju kamar mandi.
.
.
.
Barang kali ada yang mau belajar bahasa Korea bisa langsung masuk gc author aja ya mulai hari senin malam jam 8