ARES [BL]

ARES [BL]
ARES 42



EDGAR:


“Jam 9 pagi di Bandara, saya pulang ke Amerika.“


Sebelum matahari terbit Edgar mengirimi Deon sms singkat. Terserah mau Deon ingin menyusul Edgar atau tidak, Edgar hanya ingin mengabari saja tanpa ada maksud apapun. Edgar pun segera bersiap-siap. Jangan sampai tuannya sendiri kesusahan karna ia terlambat bangun dan mempersiapkan kepulangan kembali ke tanah air sendiri. Terlebih hari ini akan bertambah satu orang lagi yang akan pulang bersama mereka, yaitu Bella, Puteri Rakha.


Suara alarm hp telah berbunyi. Itu pertanda sudah jam 6 pagi. Deon meregangkan badan sambil menguap lebar. Ia raih hp di atas nakas. Hm?, gumam Deon. Ia lihat ada sms masuk dari seseorang. Itu Edgar, batin Deon. Disana tertulis, “Jam 9 pagi di Bandara, saya pulang ke Amerika.“ cukup singkat tapi membuat Deon bimbang bukan main. Ia lirik jam dinding sudah menunjukkan pukul 6:10.


Deon berpikir sebentar. Hah, Deon malah menghela nafas. Haruskah dirinya juga ikut ke Bandara? Setidaknya untuk mengucapkan terima kasih? Deon pun langsung bersiap-siap. Ia sudah meminta izin kepada atasan kalau hari ini ia ingin libur bekerja, karna ada beberapa urusan keluarga. Hm, sangat tidak mungkin sekali jika Deon berkata ingin ke Bandara untuk menemui seseorang. Bisa-bisa Deon ditegur sekaligus mendapat siraman rohani.


Setelah melalui perjalanan dengan mobil selama kurang lebih 40 menit. Deon pun tiba di Bandara. Bodoh. Kenapa Deon tidak mengabari Edgar terlebih dahulu? Kalau dirinya berniat ingin kemari? Deon pandangi layar hp yang menampilkan nomor telepon Edgar. Haruskah Deon menelepon Edgar untuk bertanya dimana persisnya dia berada? Uh, Deon malu.


Deon pun melemparkan pandangannya ke seluruh area bandara. Oh tuhan, disini semua orang terlihat seperti semut, banyak sekali. Bagaimana Deon bisa menemukan Edgar? “Coba jalan dulu deh,“ gumam Deon lalu berjalan pelan mencari-cari keberadaan Edgar. Uh, kepala Deon jadi pusing. Hah, Deon pun menghela nafas.


“Uhm?“ gumam Deon saat ia merasa seperti ada seseorang menepuk pundaknya. Ia pun memutar badan. “Mr. Edgar?“ seru Deon. Edgar menatap Deon lurus dengan raut muka datar sedatar jalanan aspal. Dalam hati Edgar senang, Deon datang kemari tanpa diminta. “Kamu hampir aja telat Deon.“ ucap Edgar. Ini sudah hampir jam 9 dan sebentar lagi Edgar akan take off.


Deon tertegun beberapa saat. “Maaf,“ ucap Deon meminta maaf. “Kamu nggak ada yang mau disampein ke saya?“ seru Edgar. Dari bibir serta tatapan Deon, Edgar merasa seperti Deon ingin mengatakan sesuatu pada dirinya. “Terima kasih banyak Mr, udah nolongin saya waktu itu, maaf udah repotin dan—“ ucap Deon langsung dipotong oleh Edgar. “Bulan depan saya kesini lagi. Jadi, tolong kamu ganti rugi bulan depan nanti,“ ucap Edgar tersenyum samar. Bahkan, Deon saja tidak tau kalau Edgar sedang tersenyum.


“Kalau begitu saya berangkat dulu,“ ucap Edgar. Edgar sempat menyentuh pundak Deon beberapa detik. Punggung Edgar itu kokoh sekali, batin Deon. “Mr. Ed..“ gumam Deon mengurungkan niatnya untuk memanggil Edgar. Saat Edgar ingin memasuki area check-in, ia sempat melirik ke samping. Tentu dengan insting kuat yang Edgar miliki, ia merasa Deon menatap dirinya dari belakang.


Bu Guru meminta Ares untuk membantu beliau membawakan buku-buku dari dalam mobil ini ke ruang kantor. Ini adalah buku-buku untuk murid kelas 3 menghadapi ujian akhir semester nanti. Tentu Ares mau membantu dengan senang hati. Ares juga dikenal suka membantu, disuruh apapun dia pasti mau.


“Ibu denger kamu mau nikah, Res?“ seru Bu Guru. “Uhm itu..“ gumam Ares tersipu malu. Duh, kenapa Bu Guru ini harus menyinggung masalah Ares yang ingin menikah? Jujur Ares sama sekali tidak tersinggung, melainkan ia tersipu malu. “Haha,“ Bu Guru tertawa melihat wajah Ares yang sedikit merona.


“Duh, ibu jadi inget waktu masih muda dulu, Res. Hehe,“ ucap Bu Guru. “Calon suami kamu kerja apa, Res? Bukan bos batu bara kan, ya? Hehe,“ tanya Bu Guru sekaligus bercanda. Bukan maksud Bu Guru ingin menyinggung Ares perihal harta, melainkan Bu Guru tidak setuju kalau orang itu benaran adalah bos batu bara. Dengar-dengar bos batu bara itu memiliki banyak istri dan mungkin simpanan? Sebagai guru tentu beliau tidak Ares mendapatkan suami dengan latar belakang seperti itu.


Ares malah tersenyum. Ternyata gurunya yang satu ini bisa bercanda juga, ya? Haha, Ares jadi sedikit terhibur. “Orang kantoran biasa, Bu.“ sahut Ares merasa sangat bangga dalam hati saat ia mencoba memperkenalkan Rakha ke orang lain secara tidak langsung. “Untung deh Res bukan bos batu bara. Kalo beneran bos batu bara, ibu larang kamu nikah, Res. Haha,“ ucap Bu Guru tertawa jenaka.


Tiba di ruang kantor Bu Guru, Ares pun meletakkan buku-buku itu di atas meja. Sebelum Ares meninggalkan ruangan ini, ia mendapat siraman rohani terlebih dahulu dari sang guru. “Res, mau kamu nikah sama cowok ato cewek, yang namanya nikah ya nikah, Res.“ ucap Bu Guru. Ares diam dan mencoba mendengarkan nasihat beliau lebih lanjut. “Inget pesen ibu, yang namanya rumah tangga pasti ada aja ujiannya, Res. Kalo kalian lagi berantem, usahain jangan terlalu ngegas, suami itu maunya istri jelasin sejelas-jelasnya. Kamu tau sendiri Res, 99% suami itu nggak pekaan. Jadi, ya pinter-pinter kita aja jangan bikin ribet suami.“


“Hehe iya Bu, makasih banget nasihatnya, Ares pasti inget selalu. Hehe,“ ucap Ares tersenyum. “Kalo gitu saya permisi dulu ya, Bu? Assalamu'alaikum,“ ucap Ares. “Wa'alaikumussalam,“ sahut Bu Guru. Huh, tiba-tiba Ares merasa dirinya agak sedikit mengantuk. Siang hari begini memang adalah saat-saat dimana para murid diuji dengan rasa kantuk yang amat sangat. Uh, cepat-cepatlah jam pulang sekolah tiba, batin Ares merapalkan kalimat yang sama berulang kali dalam hati.


Saat Ares duduk bersantai di kantin ditemani secangkir kopi hangat. Ah, ini sedang panas-panasnya, tapi Ares malah meminum kopi hangat? Demi mengusir rasa kantuk, kopi hangat pun rela Ares minum. Namun, tiba-tiba semua orang yang ada di kantin pun menganga lebar, saat mereka melihat Ulfa datang ke meja Ares, lalu menyiramnya dengan segelas minuman berwarna.


“Lu jadi cowok sok kegantengan banget, ya?“ seru Ulfa marah-marah. Disana juga ada Adhisti dan Bela. Ares pun berdiri. Ares masih berbelas kasih karna ia tau Ulfa itu seorang perempuan dan amat sangat tidak pantas sekali jika Ares pun berbuat hal yang sama. Andai Ulfa itu laki-laki mungkin Ares akan bersikap sebagaimana seorang laki-laki yang sesungguhnya.


“Lu ngomong apa Ul? Gue nggak ngerti,“ sahut Ares dengan suara yang amat sangat tenang sekali tanpa merasa terintimidasi. “Laras sakit dan itu gara-gara lu,“ ucap Ulfa menunjuk-nunjuk wajah Ares dengan jari telunjuk. “Gue nggak ngerti kenapa itu bisa gara-gara gue Ul, gue nggak ada urusan apa-apa sama Laras. Kontekan ama dia aja gue nggak. Jadi, atas dasar apa lu nuduh gue kek gitu?“


“Lu udah nolak Laras. Dan Laras nggak terima. Heh, lu jangan sok deh Res pake nolak Laras segala. Secara dia kan kaya raya? Dan lu miskin? Ya kenapa lu nggak terima aja trus manfaatin dia? Peluang lu banyak loh Res? Heh, munafik.“


“Udah?“ seru Ares mulai tersulut emosi. Ia juga geram jika Ulfa terus-menerus mengoceh seperti ini di depan umum. Hah, bagaimana bisa orang seperti Ulfa ini bersikap amat sangat tidak tau malu? Hah, Ares pun menghela nafas. “Kalo lu nuntut gue buat minta maaf, sorry, gue nggak bisa, karna gue emang nggak salah.“


“Lu—“


“Stop Ul! Nggak semua hal bisa diukur sama uang. Dan satu hal lagi, ampe kapan pun lu nggak bakalan pernah bisa bahagia selama pandangan lu ke semua hal itu cuma uang doang,“


Suara Ares kali ini mulai meninggi. Dari kejauhan Barra tidak sengaja melihat Ares dan Ulfa saling adu mulut. Ares?, batin Barra saat ia melihat seragam Ares basah dan kotor. Kalau dilihat-lihat sepertinya Ares baru saja disiram. Hampir saja Barra ingin melangkahkan kaki ke depan sana. Namun, langsung ia urungkan. Barra sungguh tidak kuasa melihat Ares ditindas seperti itu. Ulfa? Cih! Memangnya siapa dia?


Kedua mata Ares setengah melotot dengan kedua alis hampir saling bertautan. “Heh, gue yakin lu juga nggak ngerasa bahagia sama keadaan lu sekarang. Kalo lu nggak percaya, tanya sama diri lu sendiri,“ ucap Ares sarkasme sambil tersenyum miring lalu segera meninggalkan kantin. Ulfa mendengus. Ia menggertakkan gigi sambil mengepalkan tangan. Bisa-bisanya Ares ngomong kek gitu ke gue, batin Ulfa.


Ares pun pergi ke ruang OSIS meminta izin untuk meminjam sepasang baju olahraga. “Lu kok bisa-bisanya sih temenan ama si cewek-cewek cabe gitu? Gue sih ogah,“ ucap si pengurus OSIS. Ares mengedikkan bahu. “Gue nggak temenan ama mereka, mereka yang nyerang gue duluan,“ sahut Ares sambil berganti pakaian disana. “Waah lu nggak malu apa ganti baju disitu?“ ucapnya lagi. “Lagian lu cowok, kan? Trus lu sendirian juga? Gue males ke toilet, bau,“ sahut Ares. “Pantesan banyak cowok kesemsem ama lu ya Res?“ serunya. Ares menaikkan sebelah alisnya. “Lu se sixpack itu gue juga ngiler hehehe,“ ucapnya lagi. Ares pun memutar bola mata malas.


“Gue udah sold out bangsat,“ ucap Ares melempari si pengurus OSIS itu dengan spidol. Lalu, Ares pun meninggalkan ruangan tersebut. “Woy! Jangan ngegas juga kali!“ teriaknya dari dalam. Di luar Ares geleng-geleng kepala saja. Ares pun kembali menuju kelas setelah selesai berganti pakaian.


Hari ini Keanu sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya meskipun terkadang Barra tidak sengaja berselisihan atau melihatnya dari kejauhan. Keanu terlihat bahagia. Entahlah.. Barra mendadak ingat kejadian malam itu. Keanu bermesraan dengan seorang gadis cantik. Tanpa Barra sadari hal itu membuat suasana hatinya menjadi buruk. Hah, Barra menghela nafas.


Barra pun memutar badan ke belakang. Disana ia melihat Keanu sedang berkumpul dengan teman-temannya. Dia tertawa lepas seolah tanpa beban sama sekali. Kedua alis Barra berkerut. Barra menelan ludah susah payah. Hah, sudahlah, lebih baik Barra kembali ke kelas saja. Di kelas pun Barra terlihat sedang kesal, lihatlah bagaimana cara dia menggerakkan pulpen itu sedikit kasar di permukaan kertas.


“Bar, kertas buku lu robek,“ seru teman sebangku Barra. “Hah?“ gumam Barra seolah baru tersadar dari lamunannya. “Eh? I-iya nih? Hehe,“ sahut Barra tersenyum kikuk. Hah, kenapa bisa sampai robek begini sih?, batin Barra. Uh, suasana hati Barra menjadi sangat buruk tanpa sebab. Bahkan, Barra saja tidak tau mengapa.


Di depan cermin Barra bersiap-siap ingin pergi ke suatu tempat. Malam ini Barra mengenakan kaos hitam serta celana pendek hitam selutut. Tiba-tiba malam ini Barra ingin pergi ke club setelah menghubungi beberapa temannya dan berkumpul disana. Disana juga ada Keanu, kan?, batin Barra.


“Barra~ Kalo kamu macem-macem disitu awas lo ya? Papa ada mata-mata disitu~ Kalo kamu ketahuan sama papa minum-minum ato gangguin cewek, awas aja kamu papa cekek nanti,“ ucap Bahran mengancam. Oh tuhan, seram sekali ancaman Bahran ini? Dahlia mencubit sang suami sambil mata fokus ke layar TV dan makan cemilan.


“Bar!“ seru Putra. Barra pun berjalan ke arah Putra dan teman-teman berkumpul. Barra langsung bertos ria dengan temannya satu per satu. Saat Barra sedang asyik bercakap-cakap, tiba-tiba sorot matanya berpindah kepada satu objek. Dia mengenakan kemeja putih over size dengan dua kancing bagian atas sengaja dilepas, plus celana broken white. Tatapan dan senyumannya terlihat penuh arti sekali. Barra juga melihat kalau dia seperti menerima sesuatu dari seseorang. Itu terlihat seperti sebuah kartu. Tapi, kartu apa?, batin Barra.


Dia pun turun dari podium dan berjalan entah kemana diikuti oleh seorang perempuan dari belakang. “Gue ke toilet bentar,“ ucap Barra. Ia pun segera mengikuti kemana arah dia berjalan. Barra sempat kehilangan jejak. Namun, sejurus kemudian ia pun menemukan dia yang tengah berciuman dengan mesra dengan seorang gadis di balik tembok parkiran.


“Keanu?“ seru Barra. Keanu masih menciumi bibir gadis itu dengan mata terbuka sambil memandangi Barra yang berdiri di belakang sana. Barra pun melangkahkan kaki dengan cepat lalu meraih pundak gadis itu dengan kasar hingga ciuman keduanya terlepas. Keanu mengusap bibirnya yang sedikit perih. Ah, rupanya karna tergigit oleh gigi gadis itu saat Barra menarik pundaknya tiba-tiba?


“Ngapain lu ganggu gue?“ seru Keanu dingin menatap nyalang ke Barra. “Lu siapa sih, hah? Ganggu aja!“ hardik gadis itu dengan kedua alis yang menukik tajam. Barra menggelengkan kepala pelan. Keanu tidak boleh melanjutkan hal gila ini. “Dasar cewek murahan! Pergi lu sana! Gue ada urusan sama nih cowok!“ ucap Barra tidak kalah ketus.


Keanu menghampiri Barra lalu memegang pundaknya dengan ditekan sedikit. “Lu nggak berhak hina dia, Barra Bhalendra.“ ucap Keanu tajam dengan sudut mata yang sedikit menyipit. Keanu terlihat marah. Barra sudah berani mencampuri urusannya. Cih! Untuk apa dia kemari?, batin Keanu. Barra terdiam sangat lama. “Pergi sebelum gue bertindak kasar ke lu, Bar.“ ucap Keanu penuh penekanan.


Cup. Barra mengecup bibir itu sambil memejamkan mata dengan kedua tangan mencengkeram kerah kemeja yang Keanu kenakan. Satu tiga lima detik kemudian baru Barra melepaskan ciuman itu. Gadis itu menutup mulutnya karna terkejut. Pemandangan apa ini?, batin gadis itu terlihat amat sangat terkejut.


Pun Keanu juga terkejut bukan main. Barra baru saja mencium bibirnya? “Lu nggak boleh cium cewek mana pun selain gue, Kea,“ ucap Barra. “Pergi!!“ seru Barra dingin kepada gadis itu. Keanu juga diam saja tanpa mencegah Barra yang sedang mencoba mengusir gadis itu dari sini. Keanu menatap Barra lurus saat Barra menatap ke arah gadis itu dengan tatapan yang tajam. Gadis itu pun langsung pergi begitu saja. “Heh,“ dengue gadis itu.


Barra pun menatap Keanu. Barra diam tidak tau harus berkata apa lagi setelah tadi. “Lu jelasin Bar, apa maksud lu barusan cium gue trus ngusir tuh cewek?“ tanya Keanu membuat Barra dilanda kebingungan. Hm, entahlah, Barra juga tidak tau. Itu seperti sesuatu yang terjadi secara alami tanpa Barra ingin ataupun direncanakan.


“Gu-gue..“ gumam Barra. Lidah Barra terasa kelu. Barra mencoba menghindari tatapan Keanu. “Jawab gue Bar,“ ucap Keanu lagi. Hah, Barra benar-benar tidak tau. Keanu tolong jangan teken gue kek gini, batin Barra. Keanu memejamkan mata sebentar lalu ia buka kembali diiringi suara helaan nafas. “BARRA! JAWAB GUE!“ kali ini suara Keanu mulai meninggi. Dia berteriak. Barra sampai-sampai terperanjat mendengar suara Keanu barusan.


“Gu-gua nggak tau Kea,“ sahut Barra dengan mata sedikit berkaca-kaca. “Gue nggak tau, entah kenapa gue, gue, gue nggak suka liat lu cium cewek itu, Kea. Gue kesel." ucap Barra lagi menundukkan kepala. “Gue kesel Kea, gue kesel ampe rasanya gue pengen cekik tuh cewek, gue—“ ucap Barra terpotong saat Keanu tiba-tiba memeluk dirinya.


“Maaf,“ gumam Keanu. “Maafin gue udah bikin lu nangis,“ ucap Keanu. “Maafin gue Bar. Gue udah keterlaluan.“ ucap Keanu lagi sambil mengelus punggung Barra. Barra perlahan membalas pelukan Keanu dan ia pun bahkan semakin mempereratnya.


“Ahhh Keaaahhh nggh,“ gumam Barra saat Keanu menciuminya dengan liar tepat di dalam pintu kamar Barra. Tangan Keanu meraba area paha Barra dengan menelusupkan tangannya di balik celana itu dari bawah. Barra memegang kedua pundak Keanu dengan kepala meliuk ke kanan saat lidah Keanu mengulum telinga bagian kiri. “Mmhhh,“ gumam Barra.


Ares duduk di lantai sambil bermain-main di laptop milik Rakha. Ares sedang membuka salah satu aplikasi belanja online, chopee. Disana ia mencoba melihat-lihat berbagai produk mengenai pot gantung cantik. Rakha pun duduk di sebelah Ares dengan tangan yang ia lingkarkan di pinggul Ares. Rakha ikut melihat apa yang Ares lihat.


“Gimana kalo depan rumah mas dikasih taneman gantung gitu mas? Coba liat deh, keknya bagus nih,“ seru Ares. Rakha pun semakin mendekat, mencoba melihat-lihat pot gantung di laman itu. “Mas~ Tangannya jangan nakal,“ tegur Ares saat Rakha dengan usilnya mengelus-elus milik Ares dari luar dan sesekali meremasnya.


“Kamu pilih aja terserah. Tapi, mas mau pilih yang ini~ Hehe,“ ucap Rakha. Rakha pun menurunkan kepalanya ke bawah. Hah, dasar Mas Rakha, batin Ares. Ares pun diam saja dan membiarkan Rakha berbuat semaunya. Hm, aromanya sedap sekali, batin Rakha. Rakha pun mengeluarkan milik Ares dari sana. Rakha manjakan milik Ares itu dengan mengulumnya dan menurutnya bergantian.


“Mmmhhh,“ gumam Ares mulai tidak fokus. Malam ini Rakha ingin bermain seperti ini saja. Rakha mengulum dan menghisapnya kuat-kuat. Ares sudah merem melek dibuatnya. Rakha pun duduk seperti biasa. Ia kecup leher Ares sambil mengurut milik Ares itu. “Mahhhsss aaahhhhh ah ahhhh ah ah uuuuhhhh ssstttt,“ gumam Ares menyemburkan cairan putih itu setelah Rakha mengurutnya selama lebih dari 10 menit.


“Kita jalan-jalan besok gimana? Kamu nggak jualan kan sayang? Hm?“ tanya Rakha memeluk Ares dari samping sambil satu tangannya kembali memegang benda panjang itu. Uh, milik Ares masih terasa ngilu dan sensitif, tapi Rakha malah memegangnya kembali. Rakha letakkan dagunya di pundak Ares sambil menatap sang kekasih lamat-lamat.


“Mau kemana?“ tanya Ares. “Hm..“ gumam Rakha lalu mengecup hidung Ares sekilas diiringi senyuman tipis. “Kemana aja yang penting jalan-jalan. Mas mau refreshing sayang~ Sekalian foto pre wedding,“ sahut Rakha. “Hm? Foto pre wedding?“ gumam Ares. Rakha pun menganggukkan kepala sambil tersenyum. Oh tuhan, Ares selalu saja sensitif jika dirinya harus membicarakan mengenai pernikahan, ini membuat semburat merah di kedua pipi Ares terlihat sangat jelas.


.


.


.


Judul baru LION HEART [BL] silahkan cari di pencarian jangan lupa like dan subscribe 🤩 dan komentar sebanyak-banyaknya 😘