![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Setiap manusia sudah pasti memiliki aib dan rahasia. Tinggal bagaimana orang tersebut mampu mengendalikan itu semua, supaya saat aib dan rahasia itu terbongkar, tidak akan melukai dan menyakiti siapapun. Satu unit mobil Hyundai Palisade pun terparkir di sebuah pekarangan rumah minimalis dan sederhana.
Pria itu turun dari mobil. Sebelumnya ia telah mengabari sang istri, kalau sebentar lagi ia akan tiba kemari, dan menginap satu sampai dua hari di rumah. Sang istri mencium tangan sang suami. Ia tatap mesra sang suami. Terlihat jelas kerinduan mendalam pada sorot matanya itu.
“Mas mau dibikinin kopi atau teh?“ tanya sang istri, Alena. Yudi pun tersenyum. “Terserah kamu aja, Alena. Mas minum apapun yang kamu bikinin buat mas.“ ucap Yudi lalu mengecup kening Alena sekilas. Alena dan Yudi pun masuk ke dalam.
Kurang lebih sudah tiga tahun usia pernikahan Alena dan Yudi berjalan. Ya, Yudi menikahi Alena secara diam-diam tanpa sepengetahuan Zada, istri pertama. Ini bukan tanpa alasan. Yudi ingin memiliki seorang putera untuk ia jadikan penerus perusahaannya nanti. Dan beruntung Alena adalah seorang janda yang mempunyai seorang putera berusia 22 tahun, yang dimana saat ini dia bekerja di dunia perbankan.
Namanya Deon. Dulu Deon menolak dengan keras, Alena yang ingin menikah dengan Yudi. Sebelumnya Yudi memberikan penjelasan kepada Alena dan Deon mengapa Yudi ingin menikahi Alena dan menjadikannya istri kedua. Sekali lagi Alena bukanlah perebut suami orang. Bahkan sebelum keduanya menikah, Alena juga sempat berkali-kali menolak Yudi meskipun pada akhirnya Alena terima jua. Namun, Yudi kekeh untuk tetap ingin menikahi Alena.
Selain itu Alena juga memiliki latar belakang pendidikan yang baik. Alena memang bukan orang berada dengan harta berlimpah. Tapi, dia adalah seorang sarjana S2 jurusan matematika. Ya, Alena bekerja menjadi seorang guru di sekolah dasar. Sungguh mulia, bukan?
Terlalu banyak kelebihan yang Alena miliki hingga Yudi pun tidak mampu melukiskannya dengan kata-kata. Juga Alena adalah seorang wanita dengan pemikiran terbuka. Berbeda dengan Zada yang memandang orang lain hanya berdasarkan pangkat dan jabatan. Ini juga bukan berarti Yudi sudah tidak mencintai Zada lagi. Bagaimanapun, Zada adalah istrinya yang sudah menemaninya berjuang dari nol. Sampai kapanpun Yudi tidak ingin dan tidak akan melepas Zada, apapun yang terjadi.
“Assalamu'alaikum,“ ucap Deon dari depan. Nah, Deon sudah tiba rupanya, batin Yudi. Deon pun mencium tangan ayah dan ibunya. “Papa kapan datengnya, pa?“ tanya Deon ikut duduk bersama di sofa. “Tadi siang Yon,“ sahut Yudi sambil minum teh. “Keadaan Kak Ami gimana, pa? Udah baikan?“ tanya Deon. Ya, perihal Ami, Alena dan Deon juga mengetahuinya. Yudi beranggapan bahwa mereka juga harus tau. Dan di dalam hubungan keluarga, apalagi hubungan antara suami dan istri, tidak boleh ada yang ditutup-tutupi.
“Keadaan Ami baik-baik aja Yon, alhamdulillaah. Cuman kamu tau sendiri, papa masih belum bisa terima Irfan.“ ucap Yudi. Tatapan mata Yudi menjadi sendu. Sorot mata sedih itu terlihat sangat jelas. Ini memang tidaklah mudah, batin Deon. Ami dan Rakha harus berpisah, karna Ami ternyata hamil dengan pria lain. Sudah pasti hal ini membuat Yudi pusing tujuh keliling. Benar, memang tidak mudah menerima orang baru, seperti dulu, Deon saat itu juga belum bisa menerima Yudi sepenuhnya.
Namun, seiring berjalannya waktu, Deon pun mulai mengenal Yudi sebagai ayah dan suami sang ibu, Alena. Sehingga lambat laun ia pun menerima kehadiran Yudi di tengah-tengah keluarganya. Ya, Deon akui, Yudi adalah sosok kepala rumah tangga yang baik dan bijaksana.
Deon pun tersenyum tipis. Dalam hati ia berdo'a semoga semua masalah apapun yang sedang menimpa sang ayah, akan dimudahkan oleh yang maha kuasa. “Deon, mandi dulu sana. Biar kita makan sore bareng.“ ucap Alena. “Iya ma,“ sahut Deon. “Pa, Deon ke kamar dulu, ya.“ ucap Deon permisi.
Alena, Deon, dan Yudi pun makan sore bersama. Sepulang dari bekerja tentu saja dia pria ini pasti sudah kelaparan. Alena mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk suami dan puteranya. “Makasih ma,“ ucap Deon berterima kasih. Saat mereka mulai makan di sore hari. Yudi sedikit penasaran, apakah Deon sudah memiliki seorang pacar? “Deon..“ seru Yudi. “Iya, pa?“ sahut Deon sambil melahap nasi.
“Kamu.. Udah punya pacar??“ tanya Yudi. Deon langsung tersedak karna terkejut. Deon gelagapan. “Pa-pacar?“ seru Deon memastikan. “Iya pacar, masa kamu belum punya sih, Yon? Secara udah tinggi, ganteng, kerjaan bagus. Siapa yang nggak mau coba?“ ucap Yudi.
Deon menelan ludah dengan kasar. “Be-belum, pa.“ sahut Deon berbohong. Jujur Deon masih belum siap untuk jujur. Biarkan saja Deon berbohong untuk sementara waktu, sampai Deon siap untuk berkata jujur kepada ayah dan ibunya. “Kok bisa sih Yon??? Tau nggak? Temen kerja papa banyak yang nanyain kamu,“ ucap Yudi.
“Gitu ya, pa? Deon sih masih mau fokus kerja dulu. Nabung buat nikah nanti. Kalo punya pacar Deon musti biayain dia juga kan, pa? Sedangkan gaji Deon masih belum gede-gede banget. Hehe,“ ucap Deon beralasan. Semoga Yudi tidak curiga atau bertanya lebih lebih lanjut. Argh, bagaimana ini?, gerutu Deon dalam hati.
Di dalam kamar Deon dan sang pacar pun saling menghidupkan video call masing-masing. Deon meminta sang pacar untuk berbicara pelan-pelan. Takut ayah atau ibunya di luar sana mendengar. “Kamu lagi apa sayang?“ ucap orang itu. “Lagi biasa aja. Baru beres makan jadi mau duduk-duduk dulu bentar.“ sahut Deon.
“Besok libur, kan? Mau ke rumah nggak?“ tanya orang itu. Deon pun langsung membeku. Errrr, Deon bingung harus menjawab apa. Kalau sepasang kekasih ada di rumah yang sama. Kalian tau kan apa yang akan terjadi? Seperti di film-film? “Deon? Gimana? Mau nggak?“ seru orang itu lagi. “I-i-iya boleh,“ sahut Deon sedikit ragu. Deon tiba-tiba deg-degan menunggu hari esok, yang dimana ia akan berkunjung ke rumah sang pacar. Huh, Deon menghembuskan nafas.
Hari ini adalah hari libur di hari minggu. Bertemu pacar tentu saja penampilan pun harus bersih dan rapi. Jangan lupa kalau Ares itu adalah seorang melankolis. Mungkin terpercik noda sedikit saja, Ares akan berceramah panjang lebar. Hm, meski begitu tetap saja Rakha mencintai Ares dengan tulus dan sepenuh hati.
Rakha membongkar isi lemari. Hm, gumam Rakha. Hampir sepuluh menit ia berdiri di depan lemari sambil menatap deretan baju dan celana di dalam sana. “Kok baju aku lecek semua, ya?“ batin Rakha. Hah, begini kah pabila ingin tampil sempurna di depan pasangan? Semua baju pun dibilang lusuh? Ckckckck, batin Rakha.
Pilihan Rakha pun jatuh pada kaos tipis berwarna coklat, serta jaket rajut tipis berwarna abu-abu, dan celana hitam panjang serta separuh berwarna senada pula. “Sip.“ gumam Rakha. Setelah berganti pakaian. Ia pun bergegas mengambil kunci motor di nakas dan berangkat menuju rumah Ares.
Di jalan Rakha membeli beberapa buah tangan, amat sangat tidak sopan sekali, bukan? Seandainya bertamu ke rumah pacar tapi tidak membawa apa-apa? Selain itu Rakha juga ingin mengajak Ares jalan-jalan berdua. Sekalian ada yang ingin Rakha bicarakan empat mata dengan Ares.
Seperti biasa Rakha selalu disambut dengan hangat oleh Camilla, sang calon mertua. Hehehe, Rakha tertawa dalam hati. “Masuk nak Rakha,“ ucap Camilla. “Ares lagi masak di dapur,“ ucap Camilla lagi. Sungguh Ares benar-benar istri idaman. Sudah pintar, juga pintar memasak, batin Rakha.
“Ares, Rakha nak, udah dateng.“ ucap Camilla berteriak dari ruang tamu. “Tunggu dulu inak,“ sahut Ares dari dapur. Ares mengecilkan api kompor sebentar. Lalu, ia pun mencuci tangan terlebih dahulu sebelum menyusul sang ibu di depan sana. Hm, melankolis itu memang terkadang merepotkan dan menyebabkan ya? Tapi, kenapa Rakha bisa kebal?
Oh tuhan, ujian apa lagi ini? Mengapa dada Ares bergemuruh hebat saat melihat senyuman Rakha yang terlihat sangat manis dan tulus itu? Ares pun malah duduk di samping Camilla, bukan di samping Rakha. “Loh? Kok duduk disini sih Ares?“ tanya Camilla. Jujur saja Ares sudah panas dingin saking deg-degannya. “Nggak papa inak. Ares disini aja,“ sahut Ares.
Rakha terkekeh melihat Ares yang sedikit salah tingkah. Pun semburat merah di kedua pipinya. “Jangan bilang kamu deg-degan, Res?“ ucap Camilla menohok. Ares pun langsung melambai-lambaikan tangan berkata tidak. “Nggak kok inak,“ sahut Ares. “Trus?“ ucap Camilla lagi. Huh, mau tidak mau Ares pun pindah tempat duduk.
Oh tuhan, jantung Ares serasa semakin ingin maraton saja. Jujur hari ini Rakha terlihat lebih fresh, dan ganteng? Uh, Ares semakin gugup untuk menoleh pada Rakha barang sebentar. “Sabar sabar sabar,“ batin Ares. Setelah puas bercakap-cakap bersama. Rakha pun mengajak Ares jalan-jalan keluar.
“Kita mau kemana mas?“ tanya Ares sambil memasang helm. “Ke hati kamu lah sayang,“ goda Rakha. Ares geleng-geleng kepala saat mendengar Rakha gombal di hari yang masih pagi begini. Oh tuhan, ada apa dengan Rakha?
Ares menatap Rakha lamat-lamat menunggu Rakha bicara. Hm, Rakha mau ngomong apa, ya?, batin Ares. Semoga bukan hal-hal buruk. “Besok mas mau pulang kampung,“ ucap Rakha membuka percakapan. “Pulang kampung? Ngapain? Kenapa?“ tanya Ares penasaran. “Mas mau ketemu sama orang tua mas. Mas mau jujur tentang hubungan kita Ares.“ sahut Rakha tersenyum sumringah.
Ares diam beberapa saat, membuat Rakha heran sekaligus bingung. Mengapa?, batin Rakha. Ares terlihat seperti tidak bahagia. “Mas.. Mau jujur soal hubungan kita??“ tanya Ares mencoba memastikan kalau niat Rakha yang ingin pulang kampung dan membicarakan perihal hubungan keduanya untuk ke depannya itu benar. Rakha pun menganggukkan kepala pelan.
“Apa nggak terlalu cepet mas?“ ucap Ares. Hubungan Ares dan Rakha itu baru seumur jagung. Ares merasa semua ini terlalu cepat. Rakha pasti kecewa dan marah, batin Ares. Sungguh Ares tidak ada maksud hati ingin menyakiti perasaan Rakha. Ares pun menundukkan kepala. Ya, Ares merasa sedikit bersalah telah berkata seperti itu pada Rakha. Tapi, di sisi lain Ares juga benar, kan?
“Sayang,“ seru Rakha tersenyum sambil menggenggam tangan Ares. Suara Rakha sungguh amat sangat lembut sekali. Rakha tidak marah?, batin Ares. Lihatlah senyuman Rakha yang seolah tanpa beban itu. “Kenapa? Kok cemberut?“ tanya Rakha menatap Ares lamat-lamat. Yah, Rakha juga merasa mungkin ini terlalu cepat. Ares juga baru duduk di bangku kelas 2 SMA. Hah, biarkan saja semua ini berjalan sebagaimana mestinya, tanpa membuat Ares terbebani apalagi terpaksa.
“Mas nggak marah sama aku?“ tanya Ares menatap Rakha. Ares khawatir kalau-kalau Rakha marah atau sakit hati. Di luar dugaan. Rakha malah mengusap pipi Ares sambil tersenyum. Lalu, Rakha pun memeluk Ares. Tidak terlalu erat namun cukup hangat. Pelukan Rakha benar-benar mampu membuat Ares tenang.
“Mas nggak marah sayang.. Kamu bener ini tuh terlalu cepet buat mas diskusiin masalah hubungan kita ke ortu mas sendiri..“ ucap Rakha lalu melonggarkan pelukannya. “Mas bakalan tunggu sampai kamu siap, Ares.“ ucap Rakha lagi. Rakha itu memang pria biasa. Dia juga bukan orang kaya raya dengan harta berlimpah. Namun, ia memiliki apa yang orang lain tidak miliki, yaitu hati yang pemurah. Ares saja sampai berkaca-kaca. Bagaimana Rakha bisa sesabar itu?, batin Ares. “Udah.. Jangan nangis.. Mas nggak papa..“ ucap Rakha mengusap sudut mata Ares yang sedikit berair.
Sesaat setelah pintu depan ditutup. Rakha langsung memeluk Ares dari belakang. “Mas,“ seru Ares. Huh, dasar, manja sekali Rakha ini, batin Ares. “Tau nggak?“ seru Rakha. “Kenapa?“ sahut Ares. “Mas mau banget kamu sering-sering nginep, Ares~“ ucap Rakha. Ares pun tersenyum saat pelukan Rakha semakin erat.
Ares pun membalikkan badan hingga ia pun kini saling berhadapan dengan Rakha, yang dimana Rakha melingkarkan tangannya di pinggul Ares dan Ares yang menahan kedua tangannya di dada Rakha. “Kalo keseringan nanti kamu bosen loh mas,“ ucap Ares. “Nggak~ Serius!“ sahut Rakha mantap.
Rakha pun menciumi leher Ares. “Mas mas geli mas ha ha ha,“ ucap Ares tertawa saat Rakha dengan usulnya menciumi leher Ares sana sini. Rakha tidak peduli hingga ia pun mendorong tubuh Ares sampai Ares terbaring di sofa. Sedangkan Rakha berada di atas Ares.
Rakha tatap mata Ares lamat-lamat dan pelan-pelan Rakha naikan kaos Ares ke atas hingga menampakkan pahatan perut Ares yang sempurna. Ares pun memegang wajah Rakha. Keduanya saling bertatapan beberapa saat hingga lidah Rakha pun mulai menjilati pusar Ares.
“Haaaahhhhhhh,“ Ares mendongakkan kepala ke atas dengan mata terpejam. Juga mulut sedikit terbuka sambil ia jambak sedikit rambut Rakha. Ciuman Rakha semakin naik ke atas dan dua biji kacang Ares pun menjadi sasarannya. Dan bibir keduanya pun saling bertemu. Rakha kecup bibir itu hingga menimbulkan suara kecepak basah.
Laras berdiri di depan kelas. Ia menunggu-nunggu kedatangan Ares. Laras tersenyum manis saat ia membayangkan akan melihat wajah tampan Ares di pagi hari. Uh, Laras sudah tidak sabar. Itu dia, batin Laras saat melihat Ares mulai memasuki koridor sekolah sambil menenteng tas di pundak sebelah kiri.
“Ares!“ seru Laras. Langkah Ares pun terhenti. Ia menatap Laras herang, mengapa Laras memanggil dirinya? Ares bahkan harus mengangkat sebelah alisnya, sebagai pertanda ia heran, sekaligus penasaran. “Gue pengen kasih sesuatu sama lo,“ ucap Laras memberikan sebuah paper bagian cantik. Ares pun menerima paper bagian tersebut, lalu melihat isi yang ada di dalamnya dengan kedua alis hampir saling bertautan.
“Ngapain lo kasih ginian ke gue?“ ucap Ares terdengar tidak suka. “Uhm..“ gumam Laras sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Jujur saja Laras salah tingkah ditatap Ares seperti itu. “Gue denger hari ini ultah lo, makanya gue niat mo ngasih hadiah ke lo, Ares. Diterima yah?“ ucap Laras memohon. Jangan sampai Ares menolak pemberian yang Laras berikan. Laras pun harap-harap cemas saat melihat keterdiaman Ares.
“Hadiah lo gue terima.“ ucap Ares secara mengejutkan. Laras berbinar. Laras sungguh tidak menyangka jika Ares tidak menolak pemberiannya. Laras berusaha menyembunyikan perasaan senangnya. Laras juga tidak ingin dicap perempuan murahan. Uh, menyebalkan, batin Laras.
“Tapi, next lo jangan kasih gue apa-apa lagi. Cukup sekali ini aja, ok?“ ucap Ares sarkasme. Laras terdiam beberapa saat setelah ia mendengar kata-kata Ares yang penuh penekanan itu. Bahkan raut muka Ares datar sekali. Tersenyum sedikit saja tidak. “I-iya Res,“ sahut Laras. “Kalo gitu gue ke kelas dulu. Thanks hadiahnya.“ ucap Ares. Ia pun pergi menuju kelasnya setelah mengucapkan terima kasih kepada Laras.
“Gue bilang juga apa Laras~“ seru Ulfa muncul di samping Laras. “Gue udah kasih peringatan ke elo ya, Laras. Buat jangan deket-deket ama Ares. Udah miskin belagu lagi.“ ucap Ulfa menghardik. Laras pun diam. Ia sudah cukup emosi saat Ares bersikap dingin pada dirinya. Kini harus ditambah lagi dengan si Ulfa mulut cabai? Cih!
“Tutup mulut lo Ulfa.“ ucap Laras ketus lalu pergi entah kemana. “Tuh anak ya kalo dibilangin susah banget,“ ucap Ulfa menggerutu diiringi helaan nafas kasar. Sudut mata Ulfa menyipit. Ini tidak bisa dibiarkan, batin Ulfa. Ulfa tidak ingin Laras mendapat dampak buruk saat Laras mencoba untuk semakin dekat dengan Ares. Memangnya siapa Ares itu? Pedagang siomay jalanan? Hah, dasar kampungan, batin Ulfa.
“Ups, sorry.“ seru Keanu saat ia tidak sengaja menumpahkan minuman di seragam Barra. “Gue nggak liat lo tadi soalnya lo bisa liat sendiri. Gue lagi ngegame sambil jalan kaki.“ ucap Keanu dengan raut muka menyebalkan sambil menenteng-nenteng gadgetnya.
Barra memutar bola mata malas. Lihalah ekspresi muka Keanu yang amat sangat menyebalkan itu. Rasa-rasanya ingin Barra mencakar wajah tanpa dosanya itu. “Minggir,“ ucap Barra ketus. Saat Barra hendak berlalu, Keanu pun berkata, “Di loker gue ada baju seragam cadangan. Lo pake aja.“ ucap Keanu. Heh, Barra sama sekali tidak sudi mengenakan seragam milik Keanu. Cuih, batin Barra.
Barra pun pergi meninggalkan Keanu begitu saja. Keanu tersenyum miring melihat Barra berjalan sambil menghentakkan kaki dengan keras. “Marah banget pasti tuh orang,“ gumam Keanu. Tentu saja Keanu sengaja menumpahkan minuman miliknya ke seragam yang Barra kenakan. Kalian tau kan kalau Keanu itu tertarik dengan Barra? Keanu akan melakukan apa saja untuk mendekati Barra.
.
.
.
Yuk, dukung ARES supaya bisa masuk 500 besar cukup dengan 10 poin pernah chapter 😍😍😍 terima kasih 🙏🙏🙏