ARES [BL]

ARES [BL]
ARES 2



Hingga bel pulang berbunyi pun pikirannya masih kalut dipenuhi oleh kejadian beberapa waktu lalu di perpustakaan. Ares merapikan tasnya dan segera keluar kelas. Ia harus pulang cepat supaya bisa keliling jualan lebih awal.


”ARES!” seru seorang cewek dari belakang menepuk pundaknya. Ares pun menoleh dengan tidak bersemangat sama sekali.


“Kok muka lo ditekuk gitu sih?”


”Nggak papa lagi pengen aja.”


”Ada yang mo gue omongin nih penting.”


”Sini aja.”


”Gak bisa! Ini tuh rahasia! Nggak boleh ada yang tau!”


Ares memutar bola matanya malas dan mengikuti Desy yang membawanya ke sebuah bilik tembok. Desy melipat kedua tangannya di dada lalu menatap kedua mata Area sok serius. “Cepetan deh ah gue abis ini mau jualan.” protes Ares.


”Ehm, gini Res. Lu tau kan kalo inak gue maniak siomay lo?”


”Trus?”


”Jadi gini, inak kaka gue mau resepsi gitu kan. Nah, inak gue mau ntar lu nyediain siomay 500 porsi buat resepsi inak kaka gue ntar. Gimana? Bisa?”


Perasaan gusar dan kalutnya yang sedari tadi mendominasi pikirannya pun seketika teralihkan ketika mendengar Desy yang mengatakan ingin memesan siomaynya sebanyak 500 porsi untuk acara resepsi.


Satu porsi dijual seharga 10rb rupiah itu artinya ia bisa mendapatkan kurang lebih 5jt rupiah untuk 500 porsi. Dalam hati Ares bersyukur teramat sangat kepada yang maha kuasa yang telah membukakan pintu rezekinya lebar-lebar.


”Serius lo?“ tanya Ares tidak percaya dengan mata yang dibuat menyipit curiga.


”Kapan sih gue php? Nggak pernah, yang ada ono ono yang phpin gue. Cih.” jawab Desy tiba-tiba berdecih kesal setelahnya.


”Kapan emang?“


”Minggu depan.”


“Deal?”


”Deal.”


Keduanya pun bersalaman layaknya acara TV yang sedang booming saat ini yaitu super deal dua triliun. Ares harus cepat-cepat pulang dan mengatakan kabar gembira ini kepada ayah dan ibunya. Di pintu gerbang seseorang sudah bertengger duduk di atas motor ninjanya. Siapa lagi kalau bukan si Adhitama tukang pamer dan sok keren itu?


Ares berlalu begitu saja tanpa menghiraukan Adhitama yang sepertinya tengah menunggu seseorang. Ares tidak ingin tau, itu urusan Adhitama sendiri yang mau bertemu siapa pun, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.


Baru saja ia melangkah sekitar 500 meter. Namun, terdengar suara klakson motor di samping kanannya. ”Naik.” perintahnya yang terdengar mutlak dan tidak bisa dibantah. ”Gak.” sahut Ares ketus kemudian kembali melangkahkan kakinya.


Adhitama dengan sigap meraih pergelangan tangan Ares dan menariknya hingga membuat tubuh Ares tidak sengaja menubruk dada Adhitama. “Gue bilang naik ya naik.” kali ini suara Adhitama mulai meninggi.


”Gue gak butuh tumpangan lo. Sorry hari ini gue gak bisa jadi kacung lo.” ucap Ares membuat Adhitama geram. Adhitama pun memcengkeram lengan Ares kuat-kuat hingga membuat Ares meringis. ”Naik atau gue cium lo disini, hah?!” pintanya paksa dengan kilatan mata yang menyorot tajam.


”Jangan biarin gue ngulang kata-kata gue lagi ato lo tau akibatnya.” ancam Adhitama penuh penekanan di setiap katanya, dan mau tidak mau Ares pun menaiki motor ninja Adhitama yang menurutnya aneh dan kurang nyaman untuk diduduki.


”Pegangan.” ucap Adhitama namun tidak ada reaksi apapun dari Ares yang sejurus kemudian Adhitama pun melingkarkan paksa kedua tangan Ares di pinggangnya.


Sepanjang perjalanan keduanya saling diam, kadang Ares ingin melepaskan rengkuhannya itu di pinggang Adhitama karena risih. Namun, dengan sigap Adhitama akan kembali menarik kedua pergelangan tangannya supaya melingkar di pinggangnya. Terus saja seperti itu sampai akhirnya keduanya pun tiba di depan kontrakan Ares.


”Lo tinggal di tempat kek gini?” tanya Adhitama setelah menelisik semua area yang ada disana dengan mata yang menyipit.


”Kenapa? Kotor? Kumuh?” cerca Ares setelah turun dari motor.


”Nih.” ucap Adhitama melempar sebuah paper bag. Ares mengerutkan alisnya. ”Buat lo jaga baik-baik.“


Ares pun mencoba membuka isi dari paper bag yang ada di tangannya, ternyata sebuah handphone keluaran terbaru yaitu samsung galaxy 10. Berapa jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk membeli sebatang hp canggih ini? Kalau dihitung-hitung mungkin bisa menghidupi keluarganya beberapa bulan ke depan.


”Gue gak—”


”Itu buat lo dan gue gak bakal minta balik apa yang udah gue kasih.”


”Lo kacung gue jadi udah semestinya gue kasih lo hp. Kalo ada apa-apa gue bisa chat lo disana. Ah iya dan lo gak perlu khawatir ama kuota ato pulsa udah gue isi full.”


Motor Adhitama pun melaju begitu saja sebelum Ares sempat mengucapkan terima kasih. Jauh di dalam lubuk hatinya ia heran mengapa Adhitama memberikannya sebuah hp canggih begitu saja? Bukan Adhitama namanya kalau dirinya tidak mempunyai maksud terselubung di balik kebaikan yang ia lakukan.


Dari pada Ares pusing memikirkan keanehan Adhitama, ia pun memilih untuk segera bersiap-siap berkeliling kota Mataram untuk berjualan. Di lemari ia tidak mempunyai pakaian yang berarti, namun ia berusaha memilih pakaian yang menurutnya paling baik yaitu kaos polos berwarna coklat dan celana panjang berwarna hitam.


”Assalamu'alaikum,” ucap seseorang dari ambang pintu yang tidak lain adalah ayahnya sendiri.


“Wa'alaikumussalam,” sahut Ares kemudian segera keluar dari kamarnya.


”Mau siap jualan nak?” tanya Ayahnya yang duduk di kursi rotan. Guratan kelelahan yang terpahat di wajahnya terlihat jelas. Dalam hati Ares tidak kuasa menahan kesedihannya melihat itu. Ia berjanji akan mencari pekerjaan tambahan di malam hari supaya bisa membantu perekonomian keluarganya lebih baik lagi.


”Iya amak, ini Ares mau siap-siap berangkat dulu.”


”Ya udah hati-hati.”


Ares menyalami tangan ayahnya kemudian segera berpamitan setelah mengucapkan salam. Seperti biasa ia akan mengayuh sepedanya berkilo-kilo meter dan biasa mangkal di Taman Malomba.


Disini lokasinya cukup strategis karena banyak kendaraan yang berlalu lalang, pun para pejalan kaki yang menikmati indahnya sore di Kota Mataram dari sini. Sambil menunggu pembeli ia pun duduk di sisian jalan lalu mengeluarkan hp yang tadi dikasih oleh Adhitama.


Meskipun Ares tidak pernah mempunyai hp sebelumnya, bukan berarti ia gaptek. Biasanya Barra akan meminjamkan hp miliknya untuk sekedar browsing, youtube, atau bermain game.


Sebuah pesan dari whatsapp pun masuk. Ares membuka isi chat tersebut yang ternyata dari Adhitama. ”Lo dimana?” tanya Adhitama. Ares tidak sempat membalas isi chattan tersebut dan malah mereadnya saja, karena beberapa pembeli sudah berdatangan mengantri untuk membeli siomaynya.


***


Tepat pukul 4 sore akhirnya Rakha tiba di rumah kecilnya. Ia disambut oleh istri tercinta di ambang pintu bersama si kecil Dara yang baru berusia 5 bulan. Ia pun mengecup kening sang istri dan sejurus kemudian istrinya pun menyalami tangannya. Sungguh keluarga kecil yang sangat bahagia.


Seperti biasa setiap pulang kerja Rakha akan menyempatkan diri untuk sekedar jalan-jalan bersama keluarga kecilnya. Bukan apa-apa ini bermanfaat sekali untuk merefresh kembali otaknya yang panas karena seharian bekerja di depan komputer. Bayangkan saja ia harus berkutat dengan kode-kode aneh yang membuatnya pusing tujuh keliling.


”Mas?” seru istrinya ketika Rakha mulai menstarter motornya. Ia pun menoleh. ”Iya sayang?” sahutnya memanggil sang istri dengan panggilan sayang.


”Pake mobil aja kan kamu bisa nyetir. Kasian si kecil loh mas.” ucap istrinya yang entah kenapa perkataannya barusan sedikit mencambuk relung hatinya.


Bagaimana tidak? Rakha hanyalah karyawan kantor biasa yang bergaji pas-pasan, pas untuk membayar cicilan rumah, motor, dan untuk biaya hidup keluarga kecilnya selama satu bulan. Tabungan pribadi pun tidak seberapa. Mobil yang terparkir di halaman rumah ini pun bukan miliknya melainkan milik istrinya.


”Mas?” seru istrinya lagi seketika membuyarkan lamunannya. Ia pun tersenyum simpul berusaha menyimpan kegetiran di dalamnya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit akhirnya ia dan sekeluarga pun tiba di Taman Malomba. Sebuah taman yang cukup populer dan terkenal di Kota Mataram. Disini banyak sekali muda-mudi dan keluarga yang berkumpul menikmati sorenya Kota Mataram.


Rakha tidak sengaja melirik salah satu penjual siomay yang ramai dikerubungi pembeli. ”Pasti enak nih.” batinnya. ”Mau kemana mas?” tanya istrinya yang duduk di salah satu kursi di taman ketika melihatnya yang hendak beranjak dari sana.


”Mas mau beli siomay yang itu tuh, kamu mau juga nggak yang?” tanya Rakha. Istrinya mengernyitkan alisnya memandangi si penjual siomay dari kejauhan.


”Bersih nggak tuh?“ tanya istrinya dengan ekspresi geli bercampur jijik yang ketara. Dalam hati Rakha tertawa, ia maklum saja dengan sikap istrinya yang seperti ini. Mengapa? Karena istrinya terlahir dari keluarga berada yang kaya raya, tentunya ia terbiasa dengan makanan-makanan yang dibuat langsung oleh pembantu rumah tangga atau makanan-makanan mewah yang dijual di restoran atau mall.


”Bersih, coba deh liat gerobaknya aja bersih trus yang jualnya pake sarung tangan plastik.” jawab Rakha berusaha meyakinkan sang istri kalau itu memang bersih. Jadi, tidak perlu khawatir kalau-kalau setelah memakannya perut menjadi sakit.


Ia pun segera menghampiri si penjual. “Mas siomaynya dua yah.” ucap Rakha yang harus bersabar menunggu giliran antrian. Ares mengacungkan jempolnya. Kalau dilihat-lihat Ares cukup muda dan tampan untuk menjadi seorang penjual siomay keliling. ”Masih sekolah dek?” tanya Rakha berbasa-basi. Biasa interaksi antara penjual dan pembeli yang kadang suka berbasa-basi sedikit.


”Iya mas hehe,” jawab Ares terkekeh.


”SMA?”


”Iya mas baru kelas 1.”


Rakha menganggukkan kepalanya pelan dan beroh ria saja setelah nendengarkan jawaban Ares. Menurutnya sosok si penjual siomay yang ia tidak ketahui namanya itu adalah seorang pekerja keras. Andai ia orang yang mampu dan berada tentu ia tidak perlu susah payah berkeliling menjajakan siomaynya.


***


COME BACK HOME [BL] & BLUE SKY [BL] & GURU KU TERNYATA G