![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Kota Mataram 04:00
Pagi-pagi sekali Ares sudah bangun dan bersiap untuk membuat olahan siomay yang akan dijualnya sepulang sekolah nanti. Ia sengaja bangun lebih pagi supaya semua pekerjaannya cepat selesai tanpa harus dibantu oleh ayah dan ibunya.
Ares tidak tega membiarkan ayah dan ibunya yang kelelahan karena bekerja pun harus ikut membantu dirinya. Kala kantuk menyerang ia pun berusaha kembali menyadarkan dirinya dengan mengerjapkan matanya beberapa kali.
”Semangat!” gumamnya menyemangati diri sendiri. Tidak terasa suara adzan pun berkumandang membuatnya menghentikan aktivitasnya sebentar. Syukurlah pekerjaannya hampir selesai dan kini tinggal membuat saus kacangnya saja.
Setelah membersihkan diri dan berwudhu ia pun melaksanakan salat subuh di balik kamarnya yang sangat kecil. Terkesan sumpek dan sesak. Namun, ia bersyukur masih diberikan tempat tinggal yang baik meskipun kecil, tentunya bisa melindungi keluarganya dari hujan dan terik matahari.
Setelah melipat sajadah dan meletakkannya kembali di atas lemari, ia pun segera menuju dapur. ”Inak?“ serunya ketika melihat ibunya di dapur tengah melanjutkan acara masaknya yang tertunda nanti.
”Biar Ares aja yang kerjain. Nanti Icha sama Bayan nangis kalo Inak nggak ada di sebelah.” ucap Ares.
”Nggak papa Ares, lagian adek-adek kamu masih pada tidur.” sahut ibunya.
Ares pun tidak bisa berbuat apa-apa ketika ibunya kekeh ingin membantunya di dapur seperti ini. Hidup di kota besar memang tidak mudah. Tapi, tidak lantas membuatnya menyerah. Sebagai tulang punggung keluarga setelah ayahnya, Ares ingin bekerja lebih keras lagi. Ia ingin memberikan kehidupan yang lebih baik untuk kedua orang tuanya juga adik-adiknya.
Tepat setelah semua bahan-bahan dagangannya selesai dibuat, suara tangis Icha dan Bayan pun terdengar dari kamar. Ya, dua anak itu memang tidak bisa tidak melihat sosok ibunya ketika pertama kali membuka mata setelah bangun tidur.
”Inak susul Icha sama Bayan dulu ya.” ucap ibunya.
”Iya Inak nggak papa, biar Ares yang beresin.” ucap Ares yang mulai merapikan dapur yang sedikit berantakan. Meskipun kontrakannya kecil sekali, ia tetap menjunjung tinggi kebersihan.
Lihat saja lantai-lantai kayu yang nampak bersih itu. Ares selalu rajin menyapu dan mengepelnya pagi dan sore. Baginya ini bukan cuma perkara hidup bersih, melainkan membangun kepercayaan pelanggan-pelanggan siomaynya, kalau siomay yang ia buat itu higenis.
Tidak terasa sudah pukul 6 pagi itu artinya ia harus segera sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Ayahnya pagi-pagi sekali sudah pergi karena harus bekerja sebagai juru parkir. Jadi, seperti biasa sarapan pun hanya berempat saja, ibunya, kedua adiknya, dan dirinya sendiri.
Ares, ibu, dan kedua adiknya pun keluar rumah berbarengan. Ares yang hendak berangkat ke sekolah dan ibunya yang juga hendak ke rumah majikannya tempat bekerja. Ya, ibu Ares bekerja menjadi pembantu rumah tangga, untungnya majikannya itu baik sekali dan mengizinkan ibunya membawa serta kedua adiknya.
Kalau ditinggal berdua di rumah siapa yang mau menjaga? Kalau pun adiknya yang paling besar, Bayan, dengan penuh keyakinan mampu menjaga adiknya sekalipun. Baik dirinya atau kedua orang tuanya juga harap-harap cemas kalau harus meninggalkannya di rumah.
”Ares duluan ya bu, assalamu'alaikum.” ucap Ares.
”Wa'alaikumussalam.” sahut ibunya.
Ares harus menempuh kurang lebih dua kilometer dengan berjalan kaki menuju sekolahnya. Alasannya karena ia tidak punya sepeda lebih untuk dipakai. Naik angkutan umum pun ia urungkan karena uang yang dimilikinya terbatas.
Sepanjang perjalanan matanya tak lepas memandangi anak-anak seusianya yang berlalu lalang berangkat ke sekolah dengan mengendarai motor pribadi. Ares tersenyum. Ia berharap suatu saat nanti bisa membeli sebuah motor meskipun rasanya mustahil sekali.
Di sekolah Ares masuk ke dalam jajaran cowok-cowok tertampan, meskipun begitu tidak ada satu pun cewek yang mau mendekatinya. Alasannya? Apa lagi kalau bukan latar belakang keluarganya yang bukan orang berada. Bagaimana cara Ares membayar biaya sekali kencan kalau ia mempunya seorang kekasih? Makan sehari-hari saja sulit.
”Morning nih susu buat lo.” ucap Barra yang tiba-tiba duduk di depan Ares.
”Berapa?“ tanya Ares. Ia tau kalau Barra tidak mau menerima bayaran dalam bentuk apa pun. Tetap saja Ares tidak enak hati karena Barra sudah begitu baik padanya.
”Kek lo yang siapa aja, buat lo keles gratis no bayar bayar.“
”Gue gak enak Bar.”
”Di enak enakin lah.”
”Thanks yah.”
”Yoi.”
Jam kedua olahraga pun dimulai. Olahraga adalah mata pelajaran favorit Ares yang dimana disini ia bisa membentuk badannya secara otomatis tanpa harus mengeluarkan biaya besar ke tempat ngegym.
Disini juga disediakan tempat gym khusus, meskipun hanya bisa digunakan untuk jam olahraga saja, itu pun cukup membuatnya senang dan bisa mencoba apa yang orang lain coba.
Seperti biasa ia dan Barra selalu bertanding mengangkat beban. Siapa yang menyerah lebih dulu dialah yang kalah. Dengar saja teriakan cewek-cewek disana, dua prince sekolah yang saling adu otot, membuat mereka terpana apalagi keringat yang mulai bercucuran dari pelipis hingga leher. Ugh! Seksi sekali!
”Gue nyerah.” ucap Barra ngos-ngosan dengan tubuh yang terkapar di matras.
”Lo kalo mau menang musti cari lawan yang sesuai. Gue? Udah pasti lah lo bakalan kalah wkwkwk.” ledek Ares duduk di samping Barra sambil meminum aqua botol.
”Tuh ada yang nyariin lo.” ucap Barra.
Semburat merah pun tergambar jelas di wajah cewek itu tanpa sebab. ”Lo Ares, kan?” ucap cewek itu sedikit berbasa-basi padahal ia pun sudah pasti tau kalau cowok yang ada di hadapannya adalah Ares.
”Gue suka sama lo.” cicit si cewek dengan suara pelan namun masih terdengar oleh Ares.
”Sorry, gue cuman cowok miskin. Gue gak punya duit buat biaya ngedate. Lo liat aqua yang gue minum, kan? Ini aja si Barra yang beliin.” sahut Ares datar namun cukup menusuk.
Si cewek tertunduk malu setelah mendengar kalimat sarkas dari Ares. Barra meringis melihat aksi Ares yang menolak perasaan si cewek dengan sadis. Kalau cewek secantik itu sudah pasti Barra tidak akan menolaknya. Tapi, Ares? Berpacaran sama saja dengan membuang-buang waktu dan uang.
Si cewek pun keluar dari ruangan gym ini diiringi sorak sorai cewek-cewek lain yang mengejeknya. “Wah tega bener lo Res Res,” ucap Barra geleng-geleng kepala.
”Kenyataan kok.” sahut Ares kembali menenggak aqua di tangannya.
***
Ketika bel istirahat berbunyi Ares lebih memilih berdiam diri di perpustakaan sambil mengerjakan tugas dan membaca beberapa buku yang sekiranya mampu menunjang kegiatan belajar mengajarnya.
Ia tidak ingin menghabiskan waktu di kelas karena berisik. Kantin? Tentu itu bukan pilihan yang tepat karena dirinya sama sekali hampir tidak pernah makan di kantin atau sekedar membeli sesuatu disana.
Semiskin itu kah Ares? Bayangkan saja ia mempunyai dua orang adik yang masih kecil. Setiap harinya ia harus berjualan, ayahnya menjadi juru parkir, dan ibunya yang menjadi pembantu rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari membayar kontrakan 500rb per bulan, listrik, air ledeng, dan kebutuhan lainnya.
Jadi, bagaimana bisa Ares tega membelanjakan sedikit uangnya hanya untuk makan di kantin? Keluarga masih menjadi prioritasnya meskipun ia harus menahan lapar dan belanja sekali pun.
”Hah,” ia pun menghela nafasnya, menutup buku yang dibacanya dan mulai menerawang ke depan. Usianya masih 15 tahun dan kini duduk di kelas 1 SMA. Ia memejamkan matanya sejenak meresapi hidupnya yang berbeda dengan orang lain. Jauh di dalam lubuk hatinya ia berdo'a supaya yang maha kuasa memberikannya kekuatan dan kesabaran sehingga ia tidak akan pernah bisa mengeluh apalagi berputus asa.
BRAK!
Sekelompok anak brutal yang mereka sebut geng itu pun duduk dengan tidak sopannya tepat di depan Ares. Decitan kursi dan meja yang saling bersahutan itu cukup menggambarkan bagaimana kasarnya mereka ketika mendudukkan pantatnya di kursi.
Salah satu di antara mereka yang bernama Adhitama adalah ketua gengnya. Ares malas jikalau dirinya harus berhadapan dengan si sok hebat Adhitama. Lihatlah beberapa tindikan dan anting di telinganya itu, apa maksudnya? Itu kah definisi cowok keren dan tampan?
”Bisa minggir nggak?” tanya Ares malas.
”Wow bisa ngomong juga lu? Hahahaha,” ucap Adhitama tertawa lepas.
”Gue mau belajar.”
”Gue juga mau belajar, tepatnya ngasih lo pelajaran.”
Tiba-tiba Adhitama meraih tengkuk Ares dan menempelkan bibirnya di bibir Ares. Kedua mata Ares membola ketika melihat aksi mengejutkan dari Adhitama. Sekelebat perasaan jijik menggerayangi hatinya, Ares berontak namun Adhitama dengan kuat menahannya.
Cekrek, rupanya Adhitama menjadikan kesempatan ini untuk mengambil beberapa gambar dirinya yang berciuman dengan Ares dengan ponsel pintarnya. ”Not bad,“ ucapnya tersenyum miring setelah melepaskan pagutannya dari bibir Ares.
“LO?!“ Ares geram dengan rona muka yang mulai merah padam. Kedua tangannya ia kepal kuat-kuat.
”Nurut ama gue ato gue sebarin nih foto. Ah lebih tepatnya nunjukin nih foto ama bonyok lo? Gimana? Lo mau pilih yang mana? Hm?” ancam Adhitama. Kali ini membuat Ares benar-benar tersudut.
”Apa mau lo?“ tanya Ares setelah memjamkan matanya sejenak dan menghembuskan nafasnya berat.
“Well gue mau lo jadi kacung gue 24 jam.” jawab Adhitama dengan seringaian penuh kemenangannya.
”Nggak bisa.“
”Lo nggak punya pilihan.”
”Gue musti kerja. Lo tau sendiri gue kek gimana.“
”Tenang aja gue nggak selicik itu buat maksa orang kerja rodi tanpa bayaran. Lo pasti gue bayar lebih banyak dari jualan siomay lo itu.”
Adhitama dan kawan-kawannya pun beranjak dari sana. Ia tersenyum miring puas dengan apa yang ia dapat hari ini. Sedangkan Ares diam termenung di tempat. Bukan perkara ia yang harus menjadi kacungnya Adhitama, melainkan foto-foto yang ada di ponselnya.
Ares tidak tau sampai kapan Adhitama akan memegang kata-katany sekalipun dirinya sudah mendapat cap sebagai kacungnya si ketua geng. Ares mengacak-acak rambutnya kasar. ”Maafin Ares inak,“ batinnya.
***
Silahkan search untuk cerita lain COME BACK HOME [BL] & GURU KU TERNYATA G