![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Di sebuah ruangan keluarga bernuansa krem—yang di mana area dinding terdapat ornamen kaca dengan pola garis-garis. Di sebelah kiri dan kanan sofa terdapat tanaman hias jenis monstera—pun di atas meja ada satu pot cantik Soleiroli. Dzafina berbicara empat mata dengan sang ibu, Diomira. Selama ini ia telah lama memendam rasa di dalam dada. Bagai sebuah tanaman—yang disiram siang dan sore hari. Ia terus tumbuh subur tanpa henti. Bahkan cahaya matahari nan terik itu pun tak mampu membuat tanaman itu layu.
Saat tanaman itu kian membesar dan tinggi menjulang. Sementara hati Dzafina tidaklah sebesar itu. Ia selalu saja hampir tidak mampu menahan gejolak dalam dada. Benar-benar sangat menyiksa. Hari ini lah Dzafina berencana ingin jujur terhadap apa yang ia rasa terhadap Darren kepada Diomira. “Dza? Kalau kamu ngerasa apa yang mau kamu ceritain ke mama itu malah bikin kamu berat hati. Jangan paksain, nak,“ ucap Diomira. Tapi, di sisi lain, Dzafina benar-benar tidak bisa menahannya lagi, minimal Diomira saja yang tau akan hal ini.
“Pertama maafin Dza, ma,“ ucap Dzafina meminta maaf. Kedua mata Dzafina mulai berkaca-kaca. Diomira terhenyak melihat pancaran kesedihan dan sesal dari kedua mata Dzafina. Seberat apa beban yang ia tanggung? Sehingga membuat ia menahan air mata seperti ini?, batin Diomira seraya mengusap sudut mata Dzafina—yang sedikit berair. “Sebenernya.. Dza, suka sama Darren, ma,“ ucap Dzafina kemudian. Diomira sempat terkejut. Namun, ia mencoba mengontrol ekspresi wajahnya sendiri, supaya Dzafina tidak merasa sakit hati.
“Maaf, Dza. Mama nggak bisa ngasih tanggepan apa-apa ke kamu sekarang. Kalo kamu mau kamu bisa tanya langsung ke papa. Tapi, satu hal yang harus kamu tau, Dza. Cinta Darren ke Eisha itu murni. Selama lima tahun ini, jangankan berniat nikah lagi, deket ke cewek mana pun aja nggak ada sama sekali,“ ucap Diomira. Benar. Darren tidak pernah goyah barang sedikit pun. Mau secantik dan sesempurna apapun perempuan di luar sana. Di mata Darren cuma ada Eisha seorang.
Di hamparan rerumputan hijau. Seorang perempuan berkulit sawo matang tersenyum manis sambil memegang bunga matahari. Dia memakai dress putih selutut. Sedangkan Darren mengenakan stelan jas berwarna keemasan. Dia adalah Eisha. Eisha merasa bebas dan sangat bahagia. “Darren,“ panggil Eisha. Darren pun tersenyum. Saat Darren ingin memeluk Eisha; Eisha pun menahan dirinya. “Maaf, kita udah nggak sama lagi, Darren,“ ucap Eisha. Kedua alis Darren saling bertautan.
“Eisha maksud kamu—“
“Kamu tau sendiri, aku udah nggak ada di dunia kamu, Darren,“
Eisha pun tersenyum lebar. Kini ia dan Darren sudah berbeda jalan. “Darren, tolong jaga mereka buat aku, ya? Jangan pernah sakitin mereka sedikit pun. Tolong bikin mereka bahagia seumur hidup mereka Darren,“ ucap Eisha menunjuk ke kanan. Di sana ada seorang pria dewasa tengah bermain layang-layang dengan anak kecil seusia Jayden. Tapi, Darren tidak tau siapa mereka. Tiba-tiba cahaya terang benderang nan menyilaukan pun muncul. “Eisha!“ teriak Darren saat melihat Eisha menghilang bersamaan dengan cahaya itu.
Darren pun terbangun. Ia telah bermimpi. Pramugari di pesawat ini berkata, bahwa pesawat akan segera landing. Kenapa aku mimpiin Eisha?, batin Darren. Lalu, ia pun menoleh ke samping. Irfan masih tertidur. “Irfan? Irfan?“ seru Darren. Irfan pun perlahan-lahan membuka mata. Irfan melihat keluar jendela. Ternyata pesawat sedang landing. Di San Francisco saat ini masih pagi, dan matahari belum terbit. Di sini sekitar pukul 4 pagi. Sedangkan di Indonesia sekitar pukul 5 sore, karna Indonesia lebih cepat 14 jam dari San Francisco.
Darren dan Irfan pun turun bersama-sama dari pesawat. “Daddy!“ seru seorang anak kecil berlari ke arah Darren. Itu Jayden. Darren pun langsung menggendong sang putera. “Daddy! Tadi grandma bikin fish tacos sama burrito, lho!“ ucap Jayden bersemangat. “Seriously?“ tanya Darren. Jayden menganggukkan kepala dengan cepat. “Does he Om Irfan?“ tanya Jayden. “Yup,“ sahut Darren. Mereka pun melangkahkan kaki keluar bandara, lalu masuk ke dalam mobil bersama-sama.
Jim dan Sarah berdiri di depan rumah berwarna biru tosca. Darren berkata bahwa Irfan juga akan ikut kemari, dan tinggal di sini selama beberapa bulan ke depan. Tentu saja Jim dan Sarah sangat gembira menyambut tamu terhormat, yaitu Irfan. Dia adalah adik bungsu almarhumah Eisha, istri Darren. Saat tiba di kediaman Darren. Irfan begitu kagum dengan lingkungan di sini. Tiap bangunan tertata rapi. Pepohonan juga begitu rimbun dan meninggalkan kesan asri. Bunga-bunga juga bermekaran dengan indah, karna memang saat ini di Amerika sedang musim semi.
“Welcome Irfan,“ ucap Sarah menyambut kedatangan Irfan. Sarah mencium pipi kiri dan kanan Irfan layaknya anak sendiri. “Mom, he isn't your son ok?“ ucap Darren berpura-pura sebal. “Trus kenapa?“ tanya Sarah. “Seharusnya aku yang duluan dipeluk, ma,“ ucap Darren. Irfan dan Jim saling berjabat tangan. Jim juga sempat bercanda dengan menyinggung Irfan yang baru saja menjadi seorang duda. Hahaha, beruntung reaksi Irfan biasa-biasa saja, karna ia tau Jim tidak benar-benar serius ingin mengatakan hal itu.
Sebelum makan makanan utama. Sarah menjamu Irfan dengan segelas Teh Longjing—yang dipercaya mampu melawan berbagai macam jenis penyakit. “Bisnis di Indonesia gimana, Irfan? Lancar?“ tanya Jim. “Lebih dari lancar, pak,“ sahut Irfan. Jim pun tertawa, lalu menyesap teh hangat itu beberapa teguk. Sarah pun datang sambil menggendong Bella. “Ini anak Ami sama Rakha?“ tanya Irfan. Ia benar-benar tidak menyangka; jikalau Bella, puteri Ami dan Rakha sudah sebesar ini. Ya, dia telah berusia 10 bulan.
“Om, aku boleh gendong Bella nggak?“ tanya Irfan. “Boleh,“ sahut Darren. “Irfan, kamu ngobrol aja di sini, om mau ke dalem dulu ganti baju,“ ucap Darren. Saat Darren hendak menuju kamar. Ia melihat ada mainan Jayden di lantai. “Jayden, ini ada mainan kamu di lantai. Kamu taro lagi di lemari, ya?“ ucap Darren, lalu masuk ke dalam kamar. Di rumah ini tidak ada seorang pembantu pun. Sarah berkata, semakin tua semakin butuh gerak, itulah mengapa Sarah memilih mengerjakan semua hal sendiri. Kecuali Bella—yang diurus oleh seorang babysitter. Itu pun cuma bekerja sampai jam 2 siang saja.
Irfan terlihat sangat senang saat menggendong Bella. Setidaknya mampu mengobati sedikit akan kerinduannya pada Defran. “Bella, kamu harus tumbuh jadi anak yang hebat, ya? Kamu itu satu-satunya ratu papa kamu, Rakha,“ ucap Irfan. Jim dan Sarah saling berpandangan, lalu tersenyum. Pria sebaik Irfan, bagaimana bisa dikhianati oleh Ami?, batin Sarah. Di jaman sekarang; susah mencari pria seperti Irfan, sukses, harta berlimpah, dan menyayangi keluarga. Pada akhirnya manusia hanya akan selalu merasa kurang. Sehingga ia akan melakukan segala cara untuk mencapai kepuasannya sendiri.
Beberapa hari kemudian. Seseorang mengikuti Deon dari belakang. Deon sempat berhenti secara berkala beberapa kali dengan sengaja. Jangan bilang kalau ada seorang pembunuh yang ingin mencelakai dirinya? Seperti yang Edgar katakan waktu itu?, batin Deon mulai panas dingin karna takut. Ia pun semakin mempercepat langkah kakinya. “Deon,“ seru orang itu. Hampir saja Deon terjatuh, karna ingin berlari. Tapi, orang itu dengan sigap menahan lengan Deon, hingga ia pun tidak jadi terjatuh.
“Edgar?“ seru Deon. Deon terlihat sangat panik. “Deon? Deon!“ panggil Edgar. Deon pun tersadar dari lamunannya. Jujur ia bingung; mengapa Edgar ada di sini? Uhm, bukannya dia lagi di Amerika, ya?, batin Deon. “Kamu nggak pulang ke Amerika?“ tanya Deon terheran-heran. Ia pun mulai berdiri dengan benar. Tunggu dulu. Hm, kenapa penampilan Edgar rada beda dikit, ya?, batin Deon. “Kita ngobrol di dalem aja,“ ucap Edgar mengajak Deon berbicara empat mata di dalam mobil.
Edgar pun mulai menjelaskan secara detail alasan, mengapa ia masih berada di sini dengan stelan jas lengkap? “Di sini aku handle perusahaan cabang dari California. Inget, aku cuma nge handle aja, bukan pemilik asli,“ ucap Edgar memberikan penekanan pada kata terakhir, bahwa ia bukanlah pemilik asli. Kok aku malah seneng, ya? Dia di sini?, batin Deon. Edgar pun iseng melajukan mobilnya. “Eh eh eh? Kok mobilnya jalan? Mau ke mana?“ tanya Deon terkejut. “Makan siang,“ sahut Edgar singkat.
Deon menoleh ke Edgar. “Ed? Kamu bilang mau makan siang? Tapi, kenapa malah ke taman?“ tanya Deon. Saat ia dan Edgar tiba di Taman Udayana. Deon menatap Edgar penuh tanya. “Kita makan siang di sini,“ sahut Edgar datar. Lalu, tiba-tiba ia pun langsung meraih leher Deon; memiringkan kepala sedikit; lalu mencium bibir Deon seperti orang yang kelaparan. Edgar pun menekan tombol power seat control; untuk mengatur posisi kursi sehingga memungkinkan orang yang duduk bisa rebahan jua.
Edgar berpindah posisi berada di atas Deon. “Ed, kita lagi di tempat umum,“ ucap Deon saat Edgar menciumi ceruk lehernya. “Biarin aja, kaca mobilnya gelap kok, sayang,“ ucap Edgar seduktif. “Eehh eungh,“ gumam Deon menekuk kaki kanannya, karna ia merasa geli. Edgar melepas dasi yang Deon kenakan; pun beberapa kancing bajunya. Deon pun juga melakukan hal yang sama. Saat bibir dan lidah keduanya saling beradu. Deon juga sambil membantu Edgar melepas jas—pun dasi serta kancing kemejanya.
Deon pun mengarahkan wajah Edgar ke area dada. Ia jambak rambut Edgar sedikit saat tangan Edgar dengan nakalnya meremas permukaan celananya. “Ummhhh Edhhh,“ gumam Deon. Jari-jemari kaki Deon juga ikut bereaksi dengan tertekuk ke dalam. Nafas Deon mulai terengah-engah. “Ed, aku masih kerja,“ gumam Deon menatap Edgar yang lapar itu sambil memegang kedua pipinya. “Kamu harus janji, kalo kamu bakalan ngasih aku hak aku yang itu,“ ucap Edgar.
Tentu saja Deon paham ke mana arah pembicaraan Edgar saat ini. Deon ragu antara ingin mengiyakan atau mengindahkan. “Deon, aku nggak bakalan lepasin kamu, kalo kamu nggak iyain sekarang,“ ucap Edgar terdengar sedikit memaksa. “Hm,“ sahut Deon sembari menganggukkan kepala mengiyakan. Edgar pun kembali ke kursi kemudi, dan membantu mengatur tempat duduk Deon lagi jadi seperti semula. Deon pun membetulkan kemejanya yang berantakan. Sebelum kembali ke kantor, ia cek dulu, apakah ada bekas ciuman di leher? Huh, tentu saja ada, batin Deon.
“Ed? Kamu ada hansaplast nggak?“ tanya Deon sambil melihat lehernya di kaca spion atas. “Di laci dashboard,“ sahut Edgar. Deon pun membuka laci dashboard. Di sana ada kotak P3K mini. Deon pun memotong hansaplast jadi lima bagian; untuk menutupi lima bekas ciuman oleh Edgar tadi. Edgar? Dia terlihat tidak berdosa sama sekali. Lalu, Edgar pun turun dari mobil. “Ed? Kok kamu turun?“ tanya Deon heran. “Kita makan di sini, tadi aku beli bento di jalan,“ sahut Edgar menutup pintu mobil. Deon dan Edgar pun makan siang bersama di Taman Udayana.
Ares membawa sepiring plecing kangkung dengan parutan kelapa dan sambal pedas; ditemani nasi hangat dan opak-opak (baca: kerupuk yang terbuat dari ubi batang) ke depan TV. Di sofa; Rakha rebahan dengan posisi miring menghadap ke TV; kaki kiri ditekuk sambil menggaruk-garuk perut. Namanya juga sedang di rumah saja; tidak ke mana-mana. Rakha cuma memakai kaos oblong abu-abu dan celana pendek hitam di atas lutut.
Saat Ares hendak menyuapi Rakha makan dengan tangan. Ia pun berhenti sebentar. “Duduk dulu mas,“ tegur Ares. Rakha pun duduk, lalu barulah Ares mulai menyuapi Rakha. Sebagian besar orang berpikir, bahwa menjadi seorang istri setelah menikah, berarti akan dijadikan ratu, dan dimanja-manja sepenuh hati dan jiwa oleh suami. Haha, Ares tertawa dalam hati. Lihatlah siapa yang lebih manja di sini? Ares atau Rakha? Asal kalian tau. Di sini Rakha lah yang amat sangat manja seperti anak kecil. Dia akan merengek-rengek dengan wajah memelas ke Ares di saat dia meminta sesuatu, namun Ares sendiri mengindahkan hal tersebut. Rakha? Dia akan membujuk Ares sampai titik darah penghabisan.
“Oh iya, mas. Keknya nanti aku mau ke optikal deh. Aku mau periksa mata. Soalnya kalo baca sesuatu gitu nggak bisa lama-lama. Kalo lama mata aku auto sakit plus pusing,“ ucap Ares sembari menyuapi si anak baru gede. Rakha diam saja. Dia malah asik memindahkan channel TV. Ini nih kalo udah mode nyebelin, pura-pura tuli dia, batin Ares. “Kamu cuekin aku sekali lagi. Aku nggak mau lagi nyuapin kamu makan, mas. Kamu makan sendiri aja,“ ucap Ares sebal, lalu menaruh piring di atas meja.
Rakha pun menoleh. “Jangan gitu dong, dek. Mas itu males cuci tangan. Kalo nggak kamu yang suapin mas, mas gimana mau makan coba?“ ucap Rakha protes. Ares mencebikkan bibir kesal, lalu mengambil piring itu kembali. “Cepetan abisin, tangan aku pegel,“ ucap Ares sebal. Dengan begitu sabarnya Ares menyuapi Rakha hingga makanan di piring pun habis tak tersisa. Setelah itu Ares kecup bibir Rakha beberapa kali. Ini adalah ritual tiap kali keduanya selesai makan, yaitu mengecup bibir. Kalian baru tau, kan? Hihihi, batin Ares malu-malu.
“Dek, gimana kalo mas buka usaha jualan apa gitu? Tapi, kamu yang handle di rumah, biar kamu ke depannya ada kesibukan di rumah trus nggak kerja di tempat orang juga. Gitu~ Gimana?“ ucap Rakha sekaligus bertanya. Saat ini Ares sedang mencuci piring, dan mengelap-elap dapur sampai bersih tanpa noda. “Sebelum mau buka usaha, mas reset dulu. Kira-kira usaha jenis apa yang emang paling dicari sama masyarakat,“ sahut Ares sambil menyemprot dapur dengan pembersih dapur. “Jangan asal-asalan, nanti ujung-ujungnya malah rugi,“ ucap Ares lagi.
Setelah selesai mengelap dapur. Lap itu pun langsung Ares cuci, lalu ia jemur di teras belakang sembari mengambil cucian yang sudah kering. Hm, beginilah derita seorang istri di rumah, masak, bersih-bersih, nyuci, dan lain-lain, batin Ares. Ares pun mengangkat cucian satu wadah besar ke depan TV. “Mas, bantuin aku lipet baju dong,“ ucap Ares. Bukannya membantu; Rakha malah nyengir. “Kamu aja~ Mas nggak jago lipet baju,“ sahut Rakha. Ares mendengus. “Bilang aja males,“ gumam Ares. “Nah, itu kamu tau?“ timpal Rakha.
“Mau ke mana?“ tanya Ares. Saat melihat Rakha beranjak dari sofa. “Mau bikin mie gelas,“ sahut Rakha. Lalu, ia pun langsung melesat ke dapur. “Kan tadi kamu udah makan mas? Masa mau bikin mie gelas lagi sih?“ ucap Ares. “Ya nggak papa, makan mah makan aja, Res,“ sahut Rakha dari dapur sambil merebus air di teko. “Dapurnya jangan ampe kotor ya, mas? Kalo ada kena cipratan bumbunya, langsung di lap, trus lapnya langsung dicuci,“ ucap Ares sambil melipat baju. Sujud syukur aku kalo Mas Rakha beneran dengerin omongan aku, paling-paling lap ditaro sembarangan, gumam Ares.
Beberapa saat kemudian; Rakha pun datang dengan segelas mie di tangan, lalu ia taruh di atas meja. “Kamu mau juga nggak yang? Biar mas bikinin,“ ucap Rakha sekaligus bertanya. “Nggak,“ sahut Ares singkat. “Langsung cuci kalo udah beres makan,“ ucap Ares memperingatkan. “Hm,“ sahut Rakha dengan deheman saja. Dan kalian tau apa yang terjadi selanjutnya? Di dapur; gelas bekas Rakha makan mie tadi cuma ditaruh di wastafel begitu saja tanpa dicuci—pun lap ditaruh sembarangan di atas kulkas. Ares menghembuskan nafas kesal. Sabar sabar ya ampun gini banget punya suami, batin Ares geleng-geleng kepala.
Hari ini perdana Barra ikut Keanu ke sebuah club malam, meski sebenarnya ini masih sore sih. Barra cuma penasaran dengan apa yang dilakukan Keanu di sana. Sebenarnya bukan cuma karna ingin sekedar ikut saja, tapi karna memang Barra ingin melihat, apakah Keanu nakal atau tidak. Beruntung Keanu mengiyakan permintaan Barra yang satu itu. “Lu duduk di sini aja. Ntar gue suruh orang buat nganterin makanan sama minuman ke sini,“ ucap Keanu. Barra pun menganggukkan kepala.
Di sana; Keanu sedang bertos ria dengan beberapa rekan sesama DJ serta staff di club malam ini. Keanu pun bersiap-siap memainkan jari-jemarinya untuk nge-DJ. Seperti biasa; Keanu berpakaian ala pria nakal dengan rambut gondrong, dan tato temporer di leher hingga lengan. Saat Keanu tengah bermain; beberapa orang perempuan menghampirinya, dan memberi uang saweran. Hahaha mirip kok orang saweran pas lagi dangdutan nggak, sih?, batin Barra.
Tiba-tiba ada seorang wanita berpakaian terbuka meraih leher Keanu dari samping, lalu mencium bibir Keanu begitu saja tanpa izin. Kontan Keanu pun langsung mendorong wanita itu hingga tersungkur ke lantai. Keanu terlihat sangat marah. “Siapa lu, hah?! Berani-beraninya lu nyium gue?! Bangsat!“ ucap Keanu emosi. Keanu pun turun dari podium, dan menghampiri wanita itu. Semua orang berkerumun, termasuk Barra. Barra terkejut melihat Keanu menampar wanita itu beberapa kali. Jujur ini pertama kalinya Barra melihat Keanu bisa seemosi itu.
“Bro sabar bro,“ ucap manager club tersebut mencoba menengahi Keanu. Keanu pun berdiri sambil membetulkan jaketnya. Barra pun menghampiri Keanu. “Ke? Lu nggak papa? Itu cewek lho, Ke,“ ucap Barra. “Dia udah nyium gue, Bar. Lu liat sendiri, kan?“ ucap Keanu. “Iya gue liat tapi—“ ucap Barra langsung dipotong oleh Keanu. “Gue udah ngeblock siapapun yang mau nyentuh gue, Bar. Karna cuma lu yang boleh nyentuh gue. Gue nggak sudi cewek dan cowok mana pun nyentuh gue, selain lu,“ ucap Keanu. Dia masih terlihat sangat marah dan emosi. “Ngab, lu blacklist dah nih cewek dari club lu. Jangan lu izinin nih cewek bangsat masuk ke sini lagi,“ ucap Keanu ketus. Barra tertegun. Keanu benar-benar sangat tulus. Lalu, ia pun langsung memeluk Keanu dengan erat.
.
.
.
UP KEMBALI KALO LIKES 40+ + SUGAR D UP BARENGAN JADI PANTENGIN AJA