ARES [BL]

ARES [BL]
ARES 68



Irfan bersantai di teras samping sambil memantau jalannya perusahaan dari beberapa laporan—yang dikirim oleh Prima. Tiba-tiba hp Irfan berdering, dan itu dari Prima. “Heh, adek bangsat lu! Cepetan pulang! Gue capek ngurusin kantor lu! Gue jadi nggak bisa liburan ama bini gue!“ ucap Prima protes dari seberang sana. Dia duduk di kursi kantor sambil memijit pelipis—yang sama sekali tidak berdenyut. Setelah menjauhkan hp dari telinga beberapa saat; Irfan pun kembali menempelkan nya di telinga. “Sabar bang~ Dua bulan lagi gue balik kok,“ sahut Irfan.


“BANGSAT!“ ucap Prima berteriak, dan sambungan telepon pun terputus secara sepihak. Huft, Irfan menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. Beberapa saat kemudian. Ia melihat mobil Darren tiba, dan parkir di halaman rumah. Sorot mata Irfan tidak lepas tuk memandangi mobil Darren dari kejauhan. Ia melihat Darren turun dari mobil sambil menenteng tas kerja—juga terlihat Jayden langsung berhambur di pelukan Darren. Setau Irfan; seorang istri akan menunggu dan menyambut suaminya di depan pintu tiap pulang kerja. Tapi, haruskan Irfan melakukan hal itu juga?


Irfan pun kembali membaca laporan di laptop sambil mendengarkan musik. Cup. Irfan pun langsung menoleh. Ia terkejut; saat seseorang tiba-tiba m e n c i u m pucuk kepalanya. Dan ternyata dia adalah Darren. “Mas?“ gumam Irfan. “Kamu nggak ganti baju dulu? Kenapa malah langsung ke sini?“ tanya Irfan. Darren pun menatap Irfan, lalu duduk di samping. “Kenapa? Nggak suka?“ ucap Darren sarkasme. “Uhm, bukan bukannya nggak suka—“ sahut Irfan langsung dipotong oleh Darren.


“Jadi, kamu suka?“ ucap Darren sambil menaikturunkan kedua alisnya. Irfan jadi salah tingkah. Ia memilih diam daripada salah bicara. “Wajar kalo suami pulang kerja, yang pertama dicari itu istri,“ ucap Darren kemudian; mendadak membuat Irfan jadi deg-degan. “Maaf,“ ucap Irfan meminta maaf. Ia berpikir, bahwa Darren sedang marah, karna dirinya tidak menyambut Darren di depan pintu. Darren terus menatap Irfan. Darren merasa bahwa Irfan seperti sedang menghindari tatapan matanya.


“Irfan, gimana rasanya malam p e r t a m a kemaren?“ tanya Darren. Irfan langsung mendelik tajam. Huh, apa-apaan, sih? Darren nanya begituan?, batin Irfan. Gara-gara Darren; Irfan jadi teringat akan malam itu. Ia ingat bagaimana dirinya membuka kedua kakinya lebar-lebar, lalu ditekuk. Saat itu lah si jagoan dengan mudah masuk ke dalam lubang ajaib. “Mas, bisa nggak? Jangan dibahas lagi?“ ucap Irtan terlihat sangat sebal. Lihatlah bagaimana dahi Irfan sampai berkerut seperti itu. “Hahahaha,“ Darren pun tertawa lepas.


Irfan heran, kenapa Darren malah tertawa. “Kamu lucu kalo lagi malu-malu gitu. Pipi kamu merah sayang. Hahahaha,“ ucap Darren kembali tertawa. Huft, sabar juga ada batas. Irfan pun berdiri sambil berkacak pinggang di hadapan Darren. Lah? Ngapain aku pose kek gini sih di depan Darren? Mau ngapain coba?, batin Irfan mendadak bingung. Sejurus kemudian. Darren pun meraih pergelangan tangan Irfan, hingga membuat Irfan jatuh dalam pelukan Darren. “Kamu bisa masak nggak? Hm?“ tanya Darren menatap Irfan dengan tatapan teduh sembari memainkan jari-jemarinya di rambut Irfan.


Irfan mampu melihat kedua mata Darren—yang kebiru-biruan itu dengan sangat jelas. Hidung dan bibir. Eh? Kok aku malah liatin hidung sama bibir dia, sih?, batin Irfan. “Nggak,“ sahut Irfan. “Bisa tolong masakin sesuatu buat mas?“ ucap Darren menahan pinggul Irfan. “Kan aku udah bilang, aku nggak bisa masak,“ sahut Irfan. “Kamu tinggal googling aja. Trus ikutin resepnya. Terserah kamu mau bikin apa,“ ucap Darren. Entah mengapa Darren tidak bisa lepas tuk menatap Irfan, tepat di kedua matanya. “Nanti malem siap-siap, ya?“ ucap Darren ambigu.


“Siap-siap apa?“


“Nanti kamu tau sendiri,“


Temaram lampu di ruangan kamar ini diiringi suara lenguhan tanpa henti; membuat suasana dingin terasa jadi sangat panas. Bahkan AC saja kalah saking panasnya. Lagi-lagi Irfan tidak bisa berontak; saat Darren begitu mendominasi. Tubuh Irfan seolah tidak lagi mampu untuk diajak berkompromi. “Nghh,“ gumam Irfan saat bagian kepala baru masuk sedikit. Darren pun mencoba mendorong lebih kuat lagi. Irfan cuma bisa meremas sprai demi menahan rasa perih.


Darren m e n g u l u m dua biji kacang itu bergantian. Irfan tidak karuan. Huh, lemes banget, batin Irfan. Dan malam ini adalah kedua kalinya Irfan melayani suami sendiri, dan menjalankan kewajiban sebagai seorang istri. Cinta? Sudahkan rasa cinta itu ada di hati? Entahlah, karna yang pasti aku juga pengen ngerasain lebih dari ini, batin Irfan. “Ugh ah ah ah ah ah aahhh nghhh ngghh ah ah ah ah mph,“ gumam Irfan. Saat Darren dengan kekuatan penuh; memajumundurkan p i n g g u l dengan tempo sangat cepat.


Irfan pasrah. Darren c i u m i pundak Irfan hingga meninggalkan banyak bekas kemerahan. Ciuman itu pun turun mulai dari lengan, dan pergelangan tangan. Setelah itu; Darren pun m e n g u l u m jari-jemari tangan Irfan hingga basah oleh air liur. “Irfan, jadilah milik mas sepenuhnya,“ batin Darren langsung menghentakkan p i n g g u l nya dengan keras. Itu karna Darren mengeluarkan benih-benih cinta di dalam sana. “Hmmph sssttt ahh,“ gumam Darren merasa lebih lega.


Giliran membuat Irfan puas. Demi mencapai kenikmatan bersama. Darren tidak ingin egois dan menang sendiri. Ia pun m e n g u l u m si Jagoan Irfan. Otomatis Irfan makin menjadi. Ia menjabat rambut Darren, lalu kembali meremas sprai, dan menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Irfan merasa si jagoan mulai berkedut. “Ugh, ah ah ah aaaahhh ahhh aahhh sstt aahhh ngghh,“ gumam Irfan. Ia mengeluarkan cairan itu di mulut Darren. Tanpa ada perasaan jijik sedikit pun. Darren menelannya begitu saja. Cup. Darren kecup kening itu sangat lama.


“Phom rak khun, Irfan,“ ucap Darren. Ia pun membiarkan Irfan tertidur sebentar, dan memutuskan untuk memasak menu sederhana. Biar bisa makan malam bersama sang istri, bilamana dia sudah bangun nanti. Darren mengenakan piyama seperti kimono pria. Dia sedang memasak di dapur, dan membuat dua porsi salmon panggang dengan saus barbeque dicampur wasabi. Citarasa manis, asam, dan pedas pasti mampu menambah stamina setelah letih melakukan hubungan itu selama beberapa jam.


Seulas senyum tipis pun terukir di bibir Darren. Beberapa saat kemudian, tepat setelah dua porsi salmon panggang selesai dibuat, terlihat Irfan berjalan ke arah dapur dengan langkah yang pelan dan hati-hati. Tentu saja karna menahan rasa perih dan panas di bagian bawah sana setelah berhubungan. Irfan haus, lalu ia pun mengambil segelas air putih, dan menenggak habis tanpa sisa. Huft, ia pun menghembuskan nafas lega. “Bikin apa?“ tanya Irfan. “Salmon panggang,“ sahut Darren.


Irfan pun duduk manis di dapur. Ia mengerutkan alis, dan berkali-kali menggerakkan p i n g g u l nya demi mendapatkan posisi duduk yang nyaman. “Kenapa? Masih sakit?“ tanya Darren sembari menghidangkan seporsi salmon panggang untuk Irfan. Irfan benaran tidak berani menatap Darren secara langsung. Dia merasa sangat malu sekali. Terlebih saat mengingat pose—yang di mana Irfan m e n u n g g i n g diiringi suara-suara aneh—pun meminta ingin lebih dipercepat lagi. “Nggak tau,“ sahut Irfan. Ia memilih untuk menikmati hidangan buatan Darren. Demi apapun Irfan sangat sangat lah malu.


“Nggak usah malu-malu. Itu tugas kamu layanin aku, dan tugas aku juga buat muasin kamu. Paling ntar pagi aku minta lagi,“ ucap Darren—pun langsung mendapat tatapan membunuh dari Irfan. “Kenapa? Kok liatin masnya gitu banget? Hm?“ tanya Darren berlagak polos dan tidak tau apa-apa. “Kalo ampe kamu minta lagi. Kamu jahat banget mas,“ sahut Irfan sebal. “Lho? Jahat dari mana? Pengantin baru emang gitu, kan? Beda cerita kalo udah lama. Kalo udah lama pasti bakalan jarang begituan. Tapi, kalo masih baru sering begituan itu wajar, Irfan,“ ucap Darren panjang lebar.


“Terserah,“ sahut Irfan sambil mengernyitkan alis karna kesal. Irfan berpikir, jikalau Darren cuma bercanda saja. Tapi, saat pagi hari tiba, ternyata dia benar-benar melakukan itu lagi. Irfan terus saja meminta ampun. Tapi, tidak berhasil. “Dah-rehn ah ah ah ah stohp ah ah ah ah udah stohp nghh uuhh mmph,“ gumam Irfan. Baru tadi malam melakukan itu, dan melakukannya lagi di pagi hari? Badan Irfan serasa remuk berkeping-keping. Darren terlihat sangat gagah dan kuat. Dari mana dia mendapatkan tenaga sebanyak itu?, batin Irfan. Irfan cuma bisa meminta ampun sambil meremas sprai. Sampai-sampai Irfan pun menangis, karna sudah tidak kuat lagi. Tapi, di sisi lain tubuh dan suara—yang ia keluarkan juga tidak bisa diajak kompromi.


Si Cut Meutia, perebut suami orang itu, rupanya dia masih belum menyerah jua. Pada hari minggu, dia bahkan secara khusus meminta Pares untuk bertatap muka dengan dirinya di sebuah kafe. Hm, Cut Meutia? Heh, ente pikir ane bakalan kemakan omongan ente ntar apa?, batin Pares begitu percaya diri. Pares secara khusus datang pergi dengan ootd terbaik. Paha juga sudah tau, bahwa dirinya akan bertemu mantan kekasih sang suami. Secantik apa, sih? Si mba mba pelakor ini?, batin Pares penasaran.


Pares mengenakan kaos putih, sweater biru malam—yang di mana pada bagian lengan kiri terdapat empat garis strip putih, dan di bagian pergelangan tangan dan pinggiran kancing terdapat tiga garis dengan warna yang berbeda, yaitu biru malam, putih, dan merah. Sedangkan untuk celana sendiri, dia mengenakan celana kain hitam yang tidak terlalu lebar alias slim—pun tidak lupa jam tangan besi silver di pergelangan tangan kiri, dan sunglasses. “Kamu mau ketemu pacar ato nyerang pelakor, sih?“ cetus Paha. Saat melihat penampilan Pares—yang begitu keren dan tampan.


“Biar dia kena mental,“ sahut Pares. Pares juga memakai cat rambut semprot berwarna platinum blue. Jujur dari dalam hati Paha. Dia amat sangat tidak rela; jikalau Pares keluar dengan penampilan seperti ini tanpa dirinya. Pares mengulum senyum. Ia tau bahwa Paha sedang cemburu. “Sini,“ ucap Pares. Ia pun mengalungkan tangannya di leher Paha, dan mencium b i b i r nya selama lima detik, lalu ia cium jua leher Paha hingga meninggalkan sedikit bekas kemerahan. “Jangan cemburu sayang~“ ucap Pares dengan suara menggoda. Saat ini Paha cuma mengenakan kaos oblong putih dan celana pendek selutut abu-abu saja.


Setelah mengendarai motor selama kurang lebih 13 menit. Ares pun tiba di Coffee Toffee—yang berlokasi di Jl. Palapa No. 1, Cilinaya, Kec. Cakranegara, Kota Mataram. Ares pun mendorong pintu kaca itu, lalu masuk ke dalam. Karna ini adalah akhir pekan, jadi di sini lumayan ramai juga. Ares pun mendadak menjadi pusat perhatian. Hampir semua orang berbisik-bisik, mereka mempertanyakan siapa gerangan pria—yang baru saja masuk dengan rambut platinum blue itu? Cut Meutia saja sampai terpesona melihat ketampanan Ares. Padahal dia belum melepas sunglassesnya sama sekali.


Saat ia melangkahkan kaki menuju meja—yang diduduki oleh Cut Meutia; Ares pun melepas sunglasses—yang ia kenakan. Diam-diam seluruh pengunjung di Cafe ini memuji ketampanan Ares; bulu mata lentik dan kulit bersih. Cut Meutia saja sampai melongo seperti itu. “Met pagi mba cantik?“ sapa Ares sembari tersenyum paksa. “Ehem, gimana kalo kita pesen dulu?“ ucap Cut Meutia. Ares pun menaikkan sebelah alisnya. “Hm? Boleh, sih~ Tapi, gue nggak bawa duit. Gimana dong?“ sahut Ares berbohong sambil bersedekap di d a d a.


“Hm, beneran nggak papa, nih?“


“Hm,“


Cut Meutia jadi salah tingkah saat berhadapan dengan Ares. Bahkan dia lebih tampan dari Paha, batin Cut Meutia. Cut Meutia pun memesan: cappucino coffee, iced kopi sumatera, chicken caesar salad, dan beef samosa. Ares dan Cut Meutia pun menghabiskan makanan terlebih dahulu. Sebelum membahas inti permasalahan. “Hp lu,“ ucap Ares dingin. “Hp?“ gumam Cut Meutia tidak mengerti maksud perkataan Ares. Ares pun mendengus pelan. “Gue tau lu ngerecord video gue ama suami gue waktu itu. Jangan lu kira gue nggak tau, ya?“ ucap Ares membuat Cut Meutia tertohok. Kedua alis Ares menukik tajam.


“Gue nggak ngerecord apa-apa. Jangan nuduh gue sembarangan,“ sahut Cut Meutia membela diri. “Kenapa? Lu mo gunain itu video sebagai senjata buat lu ngancem gue ninggalin suami gue sendiri gitu?“ ucap Ares menatap Cut Meutia dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat. “Siniin hp lu,“ pinta Ares. Sejurus kemudian; Cut Meutia pun menyiram Ares dengan segelas kopi. “Dasar nggak tau malu,“ ucap Cut Meutia berjalan keluar cafe. Jangan sampai dia pergi begitu saja. Ares pun langsung keluar kafe menyusul Cut Meutia. Tas di tangan dia pun langsung Pares rebut begitu saja. Setelah mengambil dua hp dari dalam tas itu. Ares ambil kartu memorinya, lalu ia lempar hp tersebut hingga pecah, dan mati total.


Cut Meutia membelalakkan mata tidak percaya. Itu adalah hp iPhone 12 Pro Max. “Lu?! Lu tau hp gue itu berapa, hah?! Ganti hp gue! Cepetan!“ ucap Cut Meutia berteriak. Ares pun tersenyum miring. “Lu ganti aja sendiri, dan inget satu hal. Ini cuman peringatan kecil dari gue. Kalo lu berani macem-macem, tunggu aja akibatnya,“ ucap Ares mengancam. Cih! Ganteng-ganteng tapi nggak ada attitude, batin Cut Meutia. Setelah Ares meninggalkan cafe itu. Cut Meutia pun memungut dua hp nya yang sudah pecah dan mati total itu. Dia serasa ingin menangis di tempat. IPhone ku, batinnya.


Deon dan Edgar tidak bertegur sapa sejak kemarin. Hal ini juga disadari oleh Alena dan Yudi. Hm, kira-kira mereka kenapa, ya?, batin Yudi. Baru pacaran saja dan bertengkar sedikit udah nggak tegur-teguran kek gitu? Gimana kalo nanti udah nikah?, batin Alena. “Om, dua minggu lagi Bella ulang tahun,“ seru Edgar. Yudi tertegun. Oh, Bella cucu ku, kakek kangen banget sama kamu sayang, batin Yudi. “Beneran? Trus gimana, Ed? Rakha udah dikasih tau?“ tanya Yudi. Kedua mata Yudi berkaca-kaca; mengingat Bella, sang cucu.


“Udah, om. Dan Darren minta om juga ke Amerika buat rayain ulang tahun Bella,“ sahut Edgar tersenyum. Hah, tak terasa Bella sudah berusia satu tahun saja. Dia pasti sangat cantik jelita seperti sang ibu, Ami, batin Yudi. Edgar pun mengerling ke samping. Deon masih diam; tidak mau berbicara sepatah kata pun. Gimana caranya bujuk calon istri, ya?, batin Edgar berpikir keras.


“De, nanti ke kamar kita ngobrol berdua, ya?“ ucap Edgar berbisik di telinga Deon. Deon tidak menghiraukan Edgar sama sekali. Setelah selesai sarapan. Edgar pun ke kamar terlebih dahulu; menunggu kedatangan Deon, dan tidak lama kemudian, Deon pun akhirnya datang jua. Edgar duduk di tepi ranjang. “Mau ngobrolin apa?“ tanya Deon. Dia terlihat masih menyimpan rasa marah di dalam hati. Terdengar jelas dari kalimat—yang ia ucapkan. “Duduk dulu,“ ucap Edgar meminta Deon untuk duduk di sebelah.


“Kamu ada uneg-uneg sama aku? Kalo ada bilang aja,“ ucap Edgar sekaligus bertanya. Huft, Deon pun menghela nafas berat. “Deon, kamu boleh kesel, marah sama aku, tapi tolong jangan diperjelas kalo kita lagi sama mama papa kamu,“ ucap Edgar lemah lembut. Benar. Edgar harus sesabar itu. “Maaf, aku nggak peka. Jadi, tolong cerita, ya? Kalo kamu nggak cerita, nggak ngomong, aku mana bisa tau salah aku di mana,“ ucap Edgar lagi sembari memegang tangan Deon.


“Ed, aku kesel karna kamu udah ngajakin aku ke hotel. Kan kita udah komitmen bakalan ngelakuin itu kalo kita udah nikah nanti? Tapi, apa? Kamu ngelanggar janji kamu sendiri,“ ucap Deon. “Jadi, kamu marah gara-gara itu?“ tanya Edgar memastikan. Genggaman tangan Edgar mulai melonggar. “Hm,“ sahut Deon dengan deheman saja. Edgar terdiam beberapa saat. Ia mencoba memikirkan kembali; semua hal yang telah terjadi. “De,“ seru Edgar—pun menoleh ke samping. Sorot mata Edgar terlihat berbeda. Dia memang bersikap tenang—atau mungkin berusaha untuk bersikap tenang? Jelas sekali terdapat secercah kekhawatiran di sana.


“Kamu sayang sama aku—atau kamu masih cinta sama mantan kamu, Evan?“


“Ed, aku udah bilang kalo aku—“


“Kalo kamu udah nggak ada perasaan apa-apa lagi sama dia. Kenapa kamu marah cuman gara-gara aku pengen kamu ngasih hak itu buat aku? Deon, aku bukan cowok brengsek kek dia, yang ninggalin kamu gitu aja,“


“Edgar, dengerin aku dulu,“


Edgar pun memalingkan wajahnya dari Deon. Dia jadi ikut-ikutan kesal, meski ia mampu menahan semua itu dengan mencoba untuk bersikap lebih tenang dan biasa-biasa saja. Deon jadi serba salah. Edgar pasti kecewa banget, batin Deon. “Ed? Edgar?“ gumam Deon. Duh, aku paling nggak suka didiemin kek gini, batin Deon. Lalu, ia pun meraih pipi Edgar, dan mengecup b i b i r nya. “Maaf, aku nggak ada maksud sama sekali. Uhm, aku cuman kaget. Hm? Kamu nggak bilang dulu sama aku, trus kamu maen ngelakuin itu ke aku gitu aja. Ed, maaf, aku salah, jangan marah, ya?“ ucap Deon membujuk Edgar.


Jujur Deon sangat takut kehilangan Edgar; melihat kemarahan kecil seperti saja; mampu membuat Deon senam jantung. Deon tidak ingin masa lalu kelam bersama Evan kembali terulang. Nggak nggak nggak aku nggak mau, batin Deon. Edgar pun menyentuh tangan Deon, lalu menatapnya lamat-lamat. “De,“ gumam Edgar, lalu m e n c i u m bibir Deon. Di luar mungkin ada Alena yang sengaja menguping. Tentu Edgar tau akan hal ini. Edgar adalah salah satu orang—yang memiliki insting yang sangat tinggi. Biar Edgar tunjukan, bahwa dirinya tulus mencintai Deon.


Edgar pun m e n c i u m i bibir, kuping, leher, dan pundak Deon hingga membuat Deon melenguh. Edgar lepas baju—yang Deon kenakan. “Ed, kita lagi di rumah, ada papa sama mama,“ ucap Deon mencoba menghentikan Edgar. Namun, ia tidak perduli. “Ngghh,“ gumam Deon saat lutut Edgar menekan si jagoan. Sudahlah, lebih baik Deon pasrah saja. Deon cuma malu, barangkali suara-suara aneh dari bibirnya terdengar sampai keluar. Karna kamar Deon bukanlah kamar kedap suara. Benar saja. Di luar Alena sedang menguping. Ia mendengar suara decitan per ranjang—pun suara Deon yang merasa begitu kenikmatan. Edgar melepas c e l a n a. Deon tertegun; melihat si jagoan sudah menegang sempurna, dengan bentuk melengkung ke atas.


.


.


.


UP KEMBALI KALO LIKES DI CHAP 67-68 UDAH 50++++


BACA JUGA SUGAR D [BL]!