![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
“Jangan diliatin mulu,“ goda Camilla. Ia lihat sedari tadi Rakha diam saja sambil mata tidak lepas untuk terus memandang Ares. Secinta dan sesayang itu Rakha kepada Ares. Hubungan mereka memang tidak dibenarkan oleh negara—ataupun agama. Namun, hanya diakui oleh adat istiadat saja. Lagi, bukankah setiap orang memiliki cara masing-masing untuk bahagia?
Bersama Rakha, Camilla melihat senyuman Ares yang tidak selebar biasanya. Bersama Rakha, Camilla melihat Ares jauh lebih bersemangat menjalani hidup. “Rakha, ibu mau keluar dulu sebentar, ya? Mau ke pasar biasa hehe,“ ucap Camilla. Rakha pun tersenyum sembari menganggukkan kepala pelan.
Sebentar lagi Rakha akan menggenggam tangan ini seumur hidup sampai tua dan hingga maut memisahkan. Rakha memainkan rambut Ares pelan. Hah, Rakha baru teringat akan satu hal, Rakha belum mengatakan hal ini pada Yudi sama sekali. Sepertinya Rakha harus segera bertemu dengan Yudi, ayah mertuanya dulu. Dan mencari waktu yang pas untuk itu.
“Mas,“ seru Ares dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Hm, adem sekali rasanya hati ini melihat yang terkasih tepat setelah membuka mata. Seulas senyum tipis terukir di bibir Ares. Tunggu dulu, kenapa Rakha ada disini? Ares pun langsung duduk dengan posisi tegap.
“Mas? Kok mas disini?“ tanya Ares heran sekaligus bingung. Bahkan, Rakha masih mengenakan kemeja kerja. “Coba kamu liat hp kamu, Ares.“ ucap Rakha. Ares pun melakukan seperti apa yang Rakha perintahkan. Kontan kedua mulut Ares langsung menganga lebar. Disini ada puluhan panggilan tak terjawab dari Rakha dari semua sosial media. “Udah ngerti? Kenapa mas ada disini?“ seru Rakha menohok.
“Maaf,“ ucap Ares meminta maaf. Uh, mengapa Ares terlihat imut sekali saat ia meminta maaf tepat setelah ia bangun tidur? Lihatlah rambut yang sedikit berantakan dan mata yang sedikit bengkak itu. Ares benar-benar menggemaskan, batin Rakha. “Mas cubit ya?“ ucap Rakha lalu mencubit kedua pipi Ares.
“Hmmm,“ Ares menggeram kesal karna kedua pipinya jadi sasaran cubitan Rakha. “Sakit mas,“ ucap Ares manja. “Eh? Lebih sakit yang waktu itu kan sayang???“ ucap Rakha. Kontan Ares pun langsung menutup mulut Rakha dengan kedua tangannya. Ares tidak ingin ibunya nanti mendengar ucapan Rakha yang ambigu ini.
“Ibu kamu ke pasar,“ ucap Rakha kemudian. Hah? Inak ke pasar?, batin Ares. Pantas saja Rakha berani berbicara seperti itu disini. Huh, dasar Rakha menyebabkan, batin Ares. “Cieee yang bentar lagi udah mau naik kelas 3? Tambah tua dong? Wkwkwk,“ Rakha mencibir. Ares mengerucutkan bibir kesal. Uh, apa-apaan Rakha ini?o
“Ya ampun, dek,“ seru Rakha. “Kenapa?“ tanya Ares. “Kakak laper,“ ucap Rakha merasa perutnya mulai demo besar-besaran. Cukup memalukan memang berkata lapar di hadapan calon istri sendiri. Tapi, mau bagaimana lagi? Rakha benar-benar lapar sekali. “Tunggu, aku rapiin meja dulu, baru abis itu kita makan bareng,“ ucap Ares. Rakha pun mengulum senyum.
Ares, Bayan, Icha, dan Rakha pun makan bersama-sama di meja ruang tamu. “Eh? Inak, Ares makan duluan, ya,“ seru Ares saat mereka hampir selesai makan siang. “Nggak papa Res, makan aja. Inak nunggu amak kamu dulu baru makan.“ sahut Camilla. Sambil merapikan piring-piring sehabis makan, Ares sesekali curi-curi pandang ke Rakha yang asyik memainkan ponselnya. Entah kenapa Rakha terlihat begitu sangat tampan dengan kemeja biru langit, dasi biru malam, dan celana hitam—juga tag name di saku dada sebelah kiri. Lihat lah rambut klimis Rakha yang sangat rapi itu. Semburat merah pun muncul di kedua pipi Ares.
“Kenapa sayang? Ada yang mau diomongin sama mas?“ seru Rakha menatap Ares yang pipinya sudah semerah udang rebus. “Ng-nggak ada kok,“ sahut Ares malu-malu. Lalu, ia pun ke dapur membawa piring-piring kotor itu. “Biar inak aja yang cuci, Res. Kamu temenin Rakha di depan. Eh? Kalo kamu mau kerumah Rakha nginep nggak papa juga hehe,“
“Ih inak kok gitu sih, bukannya larang Ares ato gimana.“
“Ya kamu bantu-bantu Rakha bersih-bersih gitu loh Res~ Kasian Rakha pulang kerja capek trus besok kerja lagi, mana nyuci, mana makan, nyapu pel semuanya. Inak juga nggak yakin Rakha kerjain itu semua kalo nggak ada kamu yang bantuin.“
Duh, perkataan Camilla benar-bebar tepat sasaran. Rakha tidak sengaja mendengar percakapan Ares dan Camilla dari ruang tamu. Tentu sangat jelas terdengar, karna kontrakan Ares ini tergolong kecil dan sempit. “Mas, aku boleh nginep di rumah kamu nggak?“ tanya Ares sesaat setelah dari dapur. Ia pun duduk di samping Rakha. Calon suami?, batin Ares tersipu malu.
“Bukan boleh lagi sayang, boleh banget malah hehe,“ sahut Rakha tertawa. Rakha pun minum air putih yang tersaji di atas meja. Tadi Ares mengambilkan gelas baru untuk Rakha. “Tunggu inak dulu ya mas,“ ucap Ares. Rakha menganggukkan kepala sambil membalas chat-chat di grup whatsapp.
“Lagi apa sih mas? Asyik banget?“ tanya Ares penasaran. “Hm? Ini mas lagi chattan sama atasan mas,“ sahut Rakha. “Chattan sama atasan ampe senyum-senyum gitu?“ seru Ares mulai cemberut. Uhm, lebih tepatnya cemburu. Ares sampai melemparkan pandangan matanya ke objek lain. “Ya ampun dek, coba deh baca chattannya,“ ucap Rakha. Ares masih tidak bergeming. “Ini mas lagi ngobrolin masalah kinerja mas ke depannya. Beliau bilang kalo kinerja mas bagus beberapa bulan ke depan, mas bakalan diangkat jadi manajer.“ ucap Rakha.
“Diangkat jadi manajer?“ gumam Ares. “Iya, otomatis gaji mas naik jua dua kali lipat.“ ucap Rakha. Uh, dasar, Ares tidak tau haruskah ia mengukir raut wajah bahagia atau tetap konsisten dengan rasa cemburunya, meskipun sebenarnya Ares sudah tidak cemburu lagi, karna Rakha sudah menjelaskan semuanya.
Camilla pun menyusul ke ruang tamu. “Loh? Masih disini?“ seru Camilla. Ares dan Rakha pun berdiri. “Iya inak, tadi nunggu inak dulu.“ sahut Ares. “Berangkat aja kenapa sih Res? Rakha kecapean tau dia mau istirahat tuh,“ ucap Camilla. “Nggak papa kok, bu. Oh iya saya titip salam sama bapak ya, bu. Ares nya saya balikin besok lagi hehe,“ ucap Rakha bercanda.
Darren pulang ke Indonesia bersama Jayden, sang putera. Diiringi oleh seorang pengawal pribadi bernama, Edgar. Jangan salah, meskipun Edgar itu seorang pengawal, dia juga memiliki pendidikan bagus bahkan sudah menyelesaikan S3 di usia muda. Dia juga ahli dalam ilmu bela diri. Dan sudah menjadi kepercayaan keluarga Scott semenjak Edgar duduk di bangku kuliah S2.
Kedua mata ayah dan anak itu sama-sama berwarna kebiru-biruan. Pesona seorang pria berketurunan bangsawan Inggris yang hidup di bumi Amerika. Semua mata pun tertuju pada mereka. Termasuk Edgar. Dia juga tidak kalah tampan dan gagah. “Tuan muda, ada apa?“ tanya Edgar saat Jayden seperti menggumamkan sesuatu. “Daddy, tunggu dulu, Jay mau es krim itu.“ ucap Jayden menunjuk pada salah satu food court di bandara yang menjual berbagai es krim aneka rasa. “Ed, tolong kamu bawa Jay kesana,“ ucap Darren. “Baik tuan,“ sahut Edgar.
Semua orang di rumah Irfan nampak sibuk bersih-bersih dan memasak ini dan itu. Ami perlahan-lahan mulai bisa beradaptasi sedikit demi sedikit. Hm, tidak apa-apa, batin Diomira. “Buncisnya tolong ditipisin lagi ya, nak?“ ucap Diomira ke Ami. Ami pun menganggukkan kepala pelan.
Ya, hari ini Darren dan Jayden pulang ke rumah. Setelah Eisha, adik Diomira meninggal dunia, Darren dan Jayden pindah domisili di Amerika. Meski begitu, Darren tidak pernah lupa akan keluarga sangat istri di Indonesia, sehingga ia pun rutin satu bulan sekali pulang kemari. Sampai kapanpun Diomira dan Budi adalah mertua sekaligus orang tua Darren dan kakek nenek Jayden.
Suara mobil pun terdengar dari luar rumah. Diomira langsung berhambur keluar. “Grandma!!!!“ seru Jayden langsung berhambur di pelukan Diomira. Oh tuhan, betapa Diomira sangat merindukan cucunya yang satu ini. Diomira pun menciumi wajah Jayden sampai Jayden kegelian. “Jayden udah pulang Grandma~ Grandma jangan nangis~ Nanti Jayden ikutan sedih.“ ucap Jayden mengusap sudut mata sang nenek pelan-pelan. Uh, pintar sekali Jayden ini, padahal dia masih sangat kecil.
“Assalamu'alaikum ma,“ ucap Darren. Lalu, Darren pun mencium tangan Diomira. “Papa belum pulang?“ tanya Darren tidak melihat penampakan Budi, sang ayah mertua disini. “Bentar lagi, barengan sama Irfan nanti, ayok masuk nak.“ ucap Diomira. “Ed, kamu jangan berdiri disitu aja dong, sini masuk nggak papa.“ seru Diomira saat ia melihat Edgar masih berdiri di samping mobil.
Semua orang pun berkumpul. Sungguh senang hati ini. Disini juga ada Caesar dan Serena, putera dan puteri dari kakak Diomira, Prima dengan sang istri, Thalia. Ya, Prima memang menikah di usia yang sudah cukup matang, ditambah sang istri yang baru dikaruniai seorang anak setelah 5 tahun pernikahan mereka. Itulah mengapa anak-anak Prima dan Thalia masih kecil-kecil sekali. “Mba Thalia mana mas?“ tanya Diomira. “Arisan dulu katanya dek. Barusan ngechat katanya bentar lagi kesini.“ sahut Prima.
Ami dan Darren tidak sengaja saling tatap menatap saat Darren menuruni anak tangga, dan Ami yang berada di pintu teras belakang. Tatapan Darren sangat dingin dan sinis, membuat Ami bergidik tapi tidak sampai mengalihkan tatapan matanya dari Darren. Ami seperti itu bukan karna ia terpana akan pesona Darren, melainkan ia heran mengapa sejak awal Darren menatapnya tidak suka dan terkesan sinis seperti itu.
Seluruh keluarga pun berkumpul di ruang keluarga setelah Budi dan Irfan tiba di rumah. Sambil satu keluarga berdiskusi, Irfan sambil menyuapi Ami buah-buahan segar. “Ini minumnya Ami,“ ucap Irfan. Sekarang Ami sedikit lebih baik dari sebelumnya. Ya, Irfan amat sangat bersyukur kepada Tuhan yang maha kuasa. Tiap salat Irfan selalu berdo'a untuk kesehatan Ami.
“Menurut kamu gimana Darren?“ tanya Diomira setelah Darren meletakkan gelas teh itu di atas meja. Sungguh raut muka Darren sulit dibaca. Darren menatap Ami sebentar dengan tatapan yang menghunus tajam. Hah, si Darren ini kenapa sih? Dari tadi liatin aku gitu banget?, batin Ami.
“Orang menikah karna mereka saling mencintai. Kalau mereka tidak saling mencintai, untuk apa mereka menikah? Sekuat-kuat hubungan pernikahan tanpa cinta suatu saat pasti akan hancur jua. Itu persis seperti sebuah kayu yang terlihat kuat tapi sebenarnya mudah lapuk. Tinggal diolesi oleh pelapis kayu saja membuat kayu yang mudah lapuk itu terlihat kuat dan kokoh. Sangat menipu, bukan?“
Semua orang pun terdiam mendengar kata-kata Darren barusan. Cukup tajam dan menusuk sekali. Ami saja geram dibuatnya. Darren tersenyum miring. Meskipun samar Ami tau Darren tersenyum miring pada dirinya. Heh, Ami mendengus dalam hati. Di keluarga ini, Darren adalah yang paling ditakuti setelah Budi. Darren memang bukan cenayang. Tapi, dia seorang pebisnis hebat dan bertemu ratusan hingga ribuan orang dengan karakter berbeda-beda. Hal itulah yang membuat ia tau kepribadian seseorang dan memperkirakan bagaimana orang tersebut di masa depan.
Irfan saja masih kalah dari Darren. Sekali Darren bicara tidak ada sesiapa pun yang berani menyela kecuali Budi. Itupun harus melalui debat panjang. Bagaimana tidak? Darren itu keturunan bangsawan, bisnisnya menyebar di seluruh penjuru dunia. Bahkan, ia memiliki puluhan cabang klinik rumah sakit. Itu belum terhitung dari cabang-cabang bisnis fashion, elektronik, dan makanan—serta perhotelan yang ia miliki. Tujuh turunan pun kekayaannya tidak akan berkehabisan.
“Darren, papa cuma minta pendapat kamu mengenai pernikahan Ami dan Irfan, bukan ocehan kamu.“ ucap Budi. Ya, cuma Budi saja yang berani berkata seperti itu kepada Darren. Istilahnya Darren adalah kepala keluarga kedua setelah Budi.
“Pendapat Darren udah jelas pa.. Darren menolak keras pernikahan Ami dan Irfan..“
Sungguh Ami sudah naik pitam dibuatnya. Tahan Ami tahan, batin Ami. Ia tidak ingin keluarga Irfan beranggapan kalau dirinya adalah seorang wanita yang arogan. Sedikit saja Ami menampakkan emosinya, hancur sudah harga dirinya saat itu jua.
“Irfan, mengenai aturan agama kamu boleh nikahin dia silahkan. Tapi, jangan berpikir untuk mendedikasikan hidup kamu untuk dia, mengorbankan hidup kamu untuk dia, atau mungkin nyawa kamu sendiri? Jangan bodoh Irfan. Kamu harus belajar dari Astrid.“ ucap Darren tegas dan penuh penekanan.
“Kita nggak bakalan kemiskinan cuman karna menghidupi satu anak. Ingat itu Irfan. Terserah kalian mau dengerin kata-kata saya atau tidak. Saya, Darren, tidak merestui pernikahan Ami dan Irfan. Titik.“
Darren pun berdiri. Ia beranjak dari duduknya menuju ruang kerja. “Ed, tolong kamu tidurin Jayden di kamar,“ ucap Darren. Oh tuhan, bagaimana ini?, batin Diomira menyentuh dadanya tidak kuasa mendengar kata-kata Darren hari ini. Sungguh tidak akan ada hal baik kalau sesuatu itu tanpa persetujuan Darren. Diomira cuma bisa berharap semua akan berjalan lancar dan baik-baik saja.
“Ed, jangan sampai kamu cinta buta kek Irfan Ed, terjerat dalam tanggung jawab. Tapi, sebenarnya dia berada di jurang kehancuran. Hah..“ ucap Darren di ruang kerja.
“Mohon maaf tuan kalau saya lancang,“ seru Edgar. Darren pun menoleh. “Ngomong aja,“ ucap Darren mempersilahkan. Sebagai seorang pengawal setia dan menghormati tuannya, tentu saat hendak menyampaikan sesuatu, Edgar akan meminta izin terlebih dahulu.
“Sebenarnya saya menyelidiki nona Ami diam-diam dan kehidupan pernikahan dia dengan suami terdahulu, Rakha.“ ucap Edgar. Darren menajamkan pendengarannya. Bahkan, ia duduk dengan tegap menunggu kata-kata yang akan diucapkan oleh Edgar selanjutnya.
“Dari hasil penyelidikan saya, dulu Ami dan Rakha memang sering cekcok, terutama masalah perekonomian. Ditambah ibu mertua Rakha, Zada, tidak pernah merestui Rakha sama sekali. Disini cuma ayah mertuanya saja yang merestui hubungan mereka.“
“Emangnya Rakha kenapa? Ampe ibunya nggak restuin?“
“Itu..“ Edgar memberi jeda sebentar pada kalimatnya. “Mohon maaf kalau saya lancang tuan. Tapi, Rakha cuma pegawai kantor biasa, dia menjabat sebagai wakil manajer. Dan Nyonya Zada, maunya menantu yang kaya raya seperti Irfan.“
Darren tersenyum sinis. Hah, anak ibu sama saja. Pantas saat pertemuan keluarga waktu itu, Zada terlihat sangat antusias, dan membangga-banggakan puterinya sendiri. Cih! Dasar penjilat!, batin Darren. “Jujur saya sedikit khawatir sama Irfan, Tuan.“ ucap Edgar. “Ed, mereka cuma mau pendapat aku, dan jarang mereka mau bener-bener ikutin apa kata aku. Dulu aku udah bilang kalo Astrid itu bukan cewek yang tepat buat Irfan. Tapi, apa? Mereka kekeh, kan? Biarin aja Ed.. Kita liat aja ke depannya kek gimana,“
Suara air mendidih di sup tahu ala korea yang Ares buat amat sangat menggugah selera. Rakha pasti suka, batin Ares. Bahkan, aroma bumbu kaldu dari kuah ini begitu terasa. “Sundubu jjigae!!!!“ seru Ares antusias sekali. Rakha datang dengan mengenakan celana training berwarna krim dan kaos polos army kecoklat-coklatan.
Oh tuhan, kenapa Rakha semakin hari semakin terlihat tampan saja di mata Ares? Bahkan, Ares sampai menahan nafas dan menelan ludah susah payah saat Rakha berjalan mendekat ke arahnya. “Sundubu jjigae? Bisa bikin emang? Yakin enak nih?“ cerca Rakha. “Biasanya kalo aku masak enak ato nggak?“ Ares malah bertanya balik. “Becanda sayang~ Ya ampun~ Kek cewek aja juga ngambekan,“ ucap Rakha terkekeh.
Dua mangkuk sup tahu korea pun telah tersusun rapi di atas meja. “Mari makan,“ ucap Ares. Sambil menyantap sup tahu, Rakha sesekali memandangi Ares yang terlihat makan dengan sangat lahap. “Ares..“ seru Rakha. “Hm?“ sahut Ares tanpa menoleh dan malah asyik menikmati sup tahu yang ia buat sendiri. “Malem ini mas mau makan kamu.“
“Hah?“ Ares langsung mendongakkan kepala ke depan. “Maksud mas?“ tanya Ares mencoba mencerna maksud Rakha. “Mas bilang mas mau makan kamu malem ini. Mas laper.“ ucap Rakha menatap Ares dengan tatapan nakal dan menggoda. Oh tuhan, mesum sekali Rakha ini? Apakah di otaknya hanya ada 'itu' saja?
“Nggak mau ah, sakit tau!“
“Dimana-mana juga sakit sayang~ Ya? Mas laper mau makan kamu~ Serius!“
“Mas~ Jangan ngobrolin begituan ah. Geli.“
Hah, terbuat dari batu apa sih, si Rakha ini? Mengapa dia begitu keras kepala? Oh, lihatlah mata itu, dia mencoba memelas kepada Ares seperti anak kucing meminta makan kepada tuannya. “Maaaas udah ah jangan gitu,“ ucap Ares mulai jengah. Rakha tidak ingin menyerah. Ia terus menggoda Ares sampai Ares mengatakan 'ya'.
“Iya iya puas? Abisin dulu makanannya,“ ucap Ares kemudian. Hah, Ares sudah jengah melihat Rakha yang memelas seperti itu tanpa henti. Uh, entahlah bagaimana jadinya Ares nanti berada dalam kungkungan Rakha. Kalau Ares ingat-ingat lagi rasa sakit itu, rasanya seperti panah besi menusuk jauh ke dalam. Sungguh menyakitkan. Ares geleng-geleng kepala.
Ares dan Rakha melakukan posisi enam sembilan. Rakha ingin lebih leluasa sehingga ia pun menggelar karpet bulu dan bermesraan dengan Ares disana. Ares mengulum milik Rakha—juga menjilati serta meremas kedua biji telur miliknya yang cukup besar itu.
Sedangkan Rakha membiarkan lidahnya menari-nari di dalam sana. Lalu, ia masukkan satu jarinya ke lubang itu dan mengorek-ngorek sesuatu di dalam sana. Ya, Rakha mencoba mencari titik kenikmatan Ares. “Akh!“ pekik Ares. Gotcha! Akhirnya Rakha menemukannya.
Rakha rojokkan satu jarinya terus-menerus di bagian itu, membuat mulut Ares melepaskan diri dari mengulum milik Rakha. Ares meremas sprain sambil menggigit bibir bagian bawah. Ini sungguh sungguh terlalu nikmat. Tubuh Ares mulai bergetar. “Aaaahhhhh,“ gumam Ares. Ia merasa seperti ingin keluar. Rakha tau itu. Namun, Rakha malah sengaja menghentikan aksinya itu dan membuat Ares kesal bukan main. Rakha tidak akan membiarkan Ares keluar secepat itu. He he he, Rakha tertawa jahat dalam hati.
.
.
.
Liat Darren itu serasa kek ngeliat Orlando Maxine Sanders wkwk itu bapak angkatnya si Kevin di CBH. Beliau punya mata tajem juga kalo liat orang kek cenayang wkwk jangan salah paham ya Darren sama Edgar murni hubungan tuan dan pengawal. Mereka bukan satu kapal. Edgar punya kapal lain ntar he he he