![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Barra meremas sprai kasur. Kepala Barra meliuk ke kanan dan ke kiri. Barra telentang dengan kedua kaki mengangkang lebar. Tangan kanan Barra gemetaran sambil memegang lengan kanan Keanu. Keanu terus saja menjamah leher dan area dada serta kuping. Sungguh sensasi ini tidak mampu tertahankan lagi. Seluruh tubuh Barra bergetar dan lemas.
Suara kecepak basah di ruang kamar ini terdengar nyaring. “Uuhhh Keahlian ngghhh hah hah mmhh,“ gumam Barra saat lidah Keanu menjilati dua kacang itu. Barra sampai-sampai harus membenamkan wajahnya di bantal. Sungguh Barra sudah tidak kuat lagi. “Barra~ Mukanya jangan ditutup, sini liatin gue,“ ucap Keanu lembut selembut kapas.
Barra pun memutar kepalanya menatap Keanu. Kepala Barra terasa berputar-putar. Wajahnya juga sudah merah sekali seperti udah rebus. Sorot mata satu nan penuh gairah itu. Keanu begitu memujanya. Keanu kecup kening Barra. Keduanya pun saling bertatapan beberapa saat hingga di saat Barra mulai terbuai, Keanu mendorong pinggulnya perlahan. “Ngghh keuuukkhh stohp,“ gumam Barra menahan pinggul Keanu supaya diam sebentar.
Keanu genggam tangan Barra yang gemetaran itu. Lalu, ia kecup jari-jemarinya satu per satu. “Kalo sakit bilang ya sayang? Hm?“ ucap Keanu mengusap-usap pucuk kepala Barra. “Hm,“ sahut Barra dengan suara deheman yang terdengar lirih. Saat Keanu mencoba mendorong lebih dalam lagi. Barra otomatis memegang lengan Keanu dengan kedua alis yang saling bertautan menahan perih.
“Tungguh tung-tungguh hah hah sa-sakihht Keah,“ gumam Barra dengan suara yang bergetar. Keanu kecup bibir itu sampai Barra mulai merasa lebih rileks. Lalu, Keanu dorong pinggulnya sampai miliknya pun melesak masuk sepenuhnya. “Aaaakkkkhhh aaaahh aaaahhhhhhh,“ gumam Barra mendongakkan kepala ke atas.
“Keah pehlahn peh-lahn Keah nggh nggh,“ gumam Barra meremas sprai kuat-kuat. Suara isak tangis Barra pun terdengar saat Keanu menghentakkan pinggulnya dengan kuat dan dengan tempo yang sangat cepat. “Uh uh nggh sstttt Kea-Keahh aaahhh jangan jang-ahn nggh hiks hiks hiks,“ gumam Barra lagi dan kali ini Barra benar-benar menangis sampai sesenggukan.
“Bentar lagi sayang,“ ucap Keanu sambil mengulum bibir Barra—pun sambil menajumundurkan pinggulnya. “Mhh mhh mhh aaahhh hah hah aaaaaahhhhh,“ gumam Barra dan ciuman itu pun terlepas. “Gueh ke-kelu-ahr sayngh aahhhh,“ ucap Keanu lirih diiringi lenguhan panjang. Keanu menyemburkan cairan putih itu di dalam sana, dan setelah dirasa sudah ia semburkan seluruhnya, barulah Keanu tarik miliknya hingga keluar sepenuhnya.
Kini giliran Barra yang harus ia puaskan. “Mmmhhh,“ gumam Barra saat Keanu mengulum bibirnya sambil mengurut milik Barra sampai akhirnya Barra pun menyemburkan cairan putih itu di atas perutnya sendiri. “Ahhhhh,“ gumam Barra merasa lega dan nikmat secara bersamaan. Keanu bangkit sebentar mengambil tisu di nakas. Keanu usap cairan putih di atas perut Barra itu dengan tisu sampai bersih. Barra tertidur di samping Keanu dengan posisi memeluk pinggul Keanu. Berbeda dengan Keanu yang malah duduk bersender sambil main hp. Keanu kecup pucuk kepala Barra sembari tersenyum tipis.
Hari bahagia yang amat sangat dinanti-nantikan pun tiba. Ares dan Rakha hari ini akan mengucap janji suci pernikahan tepat pada tanggal 17 Februari. Ares mengenakan stelan jas berwarna broken white. Sedangkan Rakha mengenakan stelan jas berwarna hitam. Satu hal yang amat sangat unik, yaitu Ares mengenakan veil di kepala dan itu membuat Ares terlihat sangat menggemaskan.
“Kenapa?“ tanya Rakha duduk di hadapan Ares sambil menggenggam satu tangan Ares. Ares masih di make up di bagian bibir. Tangan Ares dingin sekali—juga sedikit berkeringat. “Gugup mas,“ sahut Ares. Rakha tersenyum tipis sambil mengusap permukaan tangan Ares. “Udah selese mba?“ tanya Rakha kepada si perias. Perias itu pun menganggukkan kepala.
“Huuhh,“ Ares menarik nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan dan ia lakukan berulang kali demi mengusir rasa gugup di dalam dada. Jujur saja kedua mata Ares sudah mulai berkaca-kaca saat ia melingkarkan tangan di lengan Rakha dan berjalan di hamparan karpet merah berdua. Semua mata terpana melihat dia pria berjalan beriringan dengan mesra. Lihatlah Ares terlihat sangat tampan meskipun ia mengenakan veil seperti pengantin wanita.
Sampai di atas altar, Ares dan Rakha pun saling berpegangan tangan dan berhadap-hadapan. Bibir Ares sudah sedikit bergetar menahan gejolak dalam dada. Saat bibir itu mengucapkan janji suci pernikahan, sungguh Ares tidak sanggup lagi menahan bendungan air mata ini. Setelah selesai mengucap janji suci, Ares dan Rakha pun bertukar cincin.
Rakha buka veil yang menutupi wajah Ares yang kini sudah resmi berstatus sebagai istri. Kedua mata Ares memerah karna menangis. Rakha kecup kening Ares lama sekali untuk memberikan kesempatan bagi sang fotografer mengambil gambar. Dan Ares pun memejamkan mata meresapi akan rasa cinta di dalam dada. Sungguh tangan inilah yang nantinya akan Ares genggam seumur hidup. Seluruh para hadirin bersorak sorai, termasuk Yudi, mantan mertua Rakha dulu.
Semua orang berbahagia dan bahkan Ares tidak sungkan-sungkan lagi membagikan hari bahagia ini di sosial media instagram, yang dimana ia dan Rakha saling berhadap-hadapan dan berpegangan tangan di balik siluet Pantai Senggigi. Postingan itu pun dibanjiri komentar ucapan selamat, meskipun ada beberapa komentar jahat dan kurang mengenakan yang Ares sendiri tidak bisa hindari.
Kalau kalian berpikir Ares dan Rakha akan pergi berbulan madu, maka kalian salah besar. Hm, yah, kalian benar. Ares dan Rakha berbulan madu di rumah saja, lantaran baik Ares ataupun Rakha sama-sama ada kesibukan masing-masing. Ares yang sibuk belajar di sekolah dan Rakha yang sibuk bekerja di kantor.
“Mas, ini tasnya udah dicek belum? Cas HP, cas laptop, power bank, udah?“ seru Ares meletakkan tas Rakha di sofa. Rakha berdiri sambil mengancing kemeja di pergelangan tangan. “Dasinya siniin mas, biar aku pasangin,“ ucap Ares membantu Rakha memasang dasi. Cup. Rakha mencuri satu kecupan di pipi Ares sebelah kiri. Cup. Rakha cium lagi pipi Ares sebelah kanan. “Mas~“ tegur Ares sebal dengan kedua pipi merona indah.
Rakha pun tersenyum. “Coba cek ulang sayang, tadi perasaan udah mas masukin semua sih,“ ucap Rakha. Ares pun mengambil tas kerja Rakha. Lalu, mengecek semua barang-barang di dalam sana. Ares pun menganggukkan kepala pelan. “Gimana? Mas ada yang kelupaan nggak?“ tanya Rakha. “Nggak. Udah lengkap semua kok,“ sahut Ares.
Ares dan Rakha pun berangkat bersama. Tentu Rakha mengantar Ares ke sekolah lebih dulu. Ares pun turun dari motor. Lalu, ia cium tangan Rakha sembari tersenyum manis. Rakha terus saja menggenggam tangan Ares. Uh, ingin Rakha memandangi sepanjang hari, membelainya penuh kasih sayang. Tapi, Rakha juga tidak ingin menganggur. Hm, bukankah tugas seorang suami itu mencari nafkah untuk istrinya?
“Mas~ Udah~ Nanti kamu telat,“ ucap Ares. Keduanya pun sama-sama tersenyum manis. Pengantin baru itu nuansanya memang sedikit berbeda, ya? Maunya nempel mulu, batin Rakha. “Cium pipi mas dulu sayang,“ ucap Rakha masih menggenggam tangan Ares. “Ih mas~ Banyak oreng, malu ah,“ ucap Ares. “Cepetan~ Nanti mas telat ini, ayok,“ pinta Rakha. Hah, mau tidak mau Ares pun mengecup pipi Rakha sekilas. “Udah sana, aku mau ke dalem dulu. Daah assalamu'alaikum,“ ucap Ares dengan hati yang berbunga-bunga.
“Ciiieeee pengantin baru cihuy,“ seru Putra langsung mengalungkan tangannya di leher Ares. Orang-orang pun mendadak mengerumuni Ares mengucapkan selamat. Beberapa teman sekelas Ares pun memeluk Ares bergantian. Hal ini memang tidak bisa diterima oleh semua orang. Tapi, bukan berarti kita menghakimi atau menghujat kebahagiaan orang lain.
Dari ekspresi Ares saja jelas terlihat kalau dirinya amat sangat bahagia. Namun, senyuman Ares mendadak padam saat ia berhadapan dengan Barra. “Selamet ya Res,“ ucap Barra. Suara riuh tadi itu pun mereda saat mereka melihat Ares dan Barra saling berhadap-hadapan. Akankah terjadi perang dunia ketiga disini?
“Dan maafin gue juga Res. Maafin gue karna gue—“
“Gue udah maafin lu Bar. Jadi, lu jangan ngerasa bersalah lagi,“
Ares tersenyum sambil menepuk pundak Barra. Entah mengapa dada Barra terasa amat sangat menyesakkan. Cara Ares bicara dan menatap dirinya pun, seolah-olah inilah akhir dari semuanya. Sebuah piramida yang telah runtuh dan tidak bisa dibangun kembali. Bahkan, jika piramida itu kembali dibangun, tidak akan sama lagi seperti dulu. Persahabatan telah usai. Kini mereka hanya teman biasa seperti yang lainnya, tanpa ada ikatan persahabatan. Ya, mungkin ini adalah jalan terbaik, saling mendo'akan dalam diam. Barra berharap bisa kembali menjalin hubungan persahabatan dengan Ares seperti dulu, meskipun ia sendiri tidak tau kapan saat itu akan tiba.
“Bar?“ seru Keanu. Keanu melihat Ares dari kejauhan. Mungkinkah Ares dan Barra baru saja saling berpapasan satu sama lain? “Gue lagi nggak mood Kea,“ ucap Barra terlihat sendu. Keanu tau. Barra ingin waktu sendiri tanpa ada siapapun yang mengganggu. “Ok,“ sahut Keanu melangkahkan kaki entah kemana. Keanu meninggalkan Barra sendiri. Biarkan Barra sendiri untuk sementara waktu. Mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan diri, batin Keanu.
Irfan termenung. Irfan mencoba melonggarkan dasinya yang mulai terasa mencekik. Tiba-tiba ia teringat akan percakapan pribadinya dengan Darren beberapa waktu lalu. Kala itu Darren mempertanyakan keseriusan Irfan untuk menikahi Ami. Irfan geram karna Darren terlihat meremehkan Irfan.
“Kamu..“ ucap Darren. “Udah bikin om kecewa, Irfan.“ ucap Darren lagi. Irfan juga merasa bersalah, karna tadi dirinya tidak sengaja telah berani menyela Darren. Irfan lupa posisi Darren di keluarga ini. Dia seorang tetua setelah Budi, sang ayah. Irfan itu masih muda tapi sudah berani. Hah, Irfan pun menghela nafas.
“Irfan minta maaf om,“ ucap Irfan meminta maaf. Jujur saja Irfan bimbang. Hah, rasa cinta, ya? Benih-benih cinta di hati Irfan untuk Ami memang telah tumbuh meskipun tidak belum terlalu mekar. Namun, terkadang akan ada saat dimana Irfan bertanya kepada diri sendiri, apakah keputusan yang ia ambil saat ini sudah tepat?
Ini sudah pukul 8 malam. Mengapa Irfan belum jua tiba?, batin Ami. “Coba telpon Irfan nya, nak.“ ucap Diomira. “Udah ma, tapi hp Irfan nggak aktif,“ sahut Ami. “Tunggu aja mungkin Irfan lagi ada urusan,“ ucap Diomira lagi. Ami menunggu di dekat pintu, berharap Irfan segera muncul dari ambang pintu.
“Assalamu'alaikum,“ ucap Irfan. Ami pun menghembuskan nafas lega saat ia melihat Irfan tiba di rumah. “Ami? Kamu belum tidur?“ seru Irfan sedikit terkejut. Ia pun berjongkok sembari memegang kedua tangan Ami. Jelas sekali raut muka khawatir terlukis di wajah Irfan.
Uh, aroma apa ini?, batin Ami. Ini seperti aroma alkohol. Mungkinkah Irfan baru saja minum-minum? Tapi, kenapa? Selama Ami tinggal disini tidak pernah sekalipun Ami melihat Irfan dalam suasana hati yang buruk. Namun, kali ini senyuman Irfan terasa berbeda. Entahlah, ataukah ini hanya perasaan Ami saja?
“Aku nungguin kamu, Irfan.“ ucap Ami. Irfan pun langsung mengecup kening Ami dan mengusap pucuk kepalanya. “Maafin aku Ami udah bikin kamu nungguin aku. Maafin aku, maaf,“ ucap Irfan tulus. Irfan sungguh tidak tau menaungi jika dirinya telah membuat Ami menunggu seperti ini. Padahal jam segini Ami seharusnya sudah tidur dan istirahat.
“Kamu kemana aja sih Fan?“ tanya Dzafina. “Tadi minum-minum bentar, nggak banyak kok,“ sahut Irfan jujur. Dzafina menghela nafas. “Plis lah Fan, jangan minum-minum napa? Lu tau kan Fan kita nggak boleh minum begituan?“ tegur Dzafina. “Iya mba maaf,“ ucap Irfan. “Udah sana kamu mandi trus istirahat. Jangan ampe papa kamu tau kalo kamu minum-minum.“ timpal Diomira. Irfan dan Ami pun permisi dengan Irfan yang membantu mendorong kursi roda Ami.
Dua hari lagi ujian akhir semester tiba. Itu artinya Adithama akan segera pulang ke Indonesia. “Hahahahaha,“ Adithama pun tertawa dengan suara lantang. “Ngapain kamu ketawa ampe gitu banget?“ seru Noah sambil mengenakan jas—juga kacamata. Hah, Adithama menghela nafas, “Bentar lagi gue ujian trus balik ke Indo deh~ Dasar ogeb gitu aja nggak ngerti, ckckck,“ sahut Adithama.
“Mulut kamu itu loh Ad tolong dijaga. Jangan kebiasaan. Kakak nggak suka.“ tegur Noah benar-benar tidak suka. Lihat, kedua alis Noah sampai berkerut seperti itu. “Maaf,“ ucap Adithama jadi serba salah. “Lain kali jangan gitu lagi. Awas kalo kakak ampe denger kamu ngomong kek gitu lagi. Kakak hukum kamu Ad.“ ucap Noah serius. Bahkan, Noah berjalan lebih dulu keluar rumah. “Ya ampun tuh orang? Salah dikit marah salah dikit marah paan coba, rese deh,“ ucap Adithama menggerutu kesal.
Adithama dan Noah saling diam di dalam mobil. Biasanya keduanya akan saling berbincang-bincang dengan topik ringan, misal membahas makanan atau destinasi wisata. Tapi, kali ini suasananya benar-benar hening. Heh, jangan harap gue bakalan ngomong duluan, ya? Cih!, batin Adithama menggerutu.
Tiba di sekolah, Adithama ingin langsung turun dari mobil begitu saja. Namun, lagi-lagi suara Noah membuat telinga Adithama panas. “Nah? Sekarang apa lagi? Cium tangan nggak? Ngucapin salam nggak? Masa kamu nyelonong gitu aja Ad?“ seru Noah yang sungguh membuat kesabaran Adhitama diuji.
Adithama mencium tangan Noah sambil misuh-misuh tidak jelas. “Assalamu'alaikum,“ ucap Adithama ketus. Noah tersenyum tipis sambil memandangi Adithama di luar sana. Hah, bisa juga si Adithama ini sebegitu kesalnya kepada Noah setelah dinasihati? Terdengar posesif dan sangat keras sekali memang. Tapi, semua ini Noah lakukan juga demi Adithama seorang. Hm, sebentar lagi Adithama lulus, ya?, batin Noah. Sepertinya Noah tau hadiah apa yang harus ia berikan di hari kelulusan Adithama nanti.
Saat ini Ares berdiri membukukan menatap dua orang pria di hadapannya kini. “Errr..“ gumam Ares heran sampai garuk-garuk kepala. “Jadi, kakak ini istrinya bapak?“ tanya Ares mencoba memastikan kalau pria di samping Pak Budi itu benar-benar istrinya. Jadi, selama ini Pak Budi itu seorang penyuka sesama jenis?, batin Ares ragu-ragu.
“Beneran. Kamu sering kan, Res? Liat dia beli siomay di kamu? Ya itu, dia beliin siomay buat bapak,“ sahut Pak Budi. Kalau dilihat-lihat. Dimas ini sepertinya adalah seorang mahasiswa. Jauh lebih muda dari Pak Budi. “Bapak umurnya berapa?“ tanya Ares. “Udah mau 40,“ sahut Pak Budi. “Kakak umurnya berapa?“ tanya Ares lagi. “Gue ehem aku 22 tahun,“ sahut Dimas. “Kok kakak mau sih sama Pak Budi? Kan beliau udah.. Empat.. Puluh.. Tahun?“ tanya Ares sambil menatap sang guru. Dimas pun mengerling ke Pak Budi sebentar sebelum menjawab pertanyaan Ares. “Udah jodohnya dek,“ sahut Dimas misterius. Uh, dasar, batin Ares. “Cepetan bungkusin buat bapak, Res. Bapak buru-buru. Malem jum'at ini. Kamu nggak mau malem jum'atan sama suami kamu sendiri apa?“ ucap Pak Budi sarkasme membuat Ares melongo dengan mulut setengah menganga. Malam jum'at?, batin Ares.
“Assalamu'alaikum,“ ucap Ares mengucapkan salam. Kenapa tidak ada sahutan sama sekali? Hm, Mas Rakha kemana, ya? Tapi, di luar motor matic Mas Rakha ada kok?, batin Ares. “Mas?“ seru Ares mencari-cari keberadaan Rakha. Di ruang tamu tidak ada. Di dapur juga tidak ada. Hm, di kamar kali, ya?, gumam Ares.
“Yes! Menang!“ seru Rakha kegirangan saat ia memenangkan game level sekian. Ya, saat ini Rakha tengah asyik bermain game di atas kasur. “Mas?“ seru Ares berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan bersedekap di dada. “Eh? Sayang? Udah pulang?“ seru Rakha terkejut saat ia melihat Ares tiba-tiba muncul dari ambang pintu.
“Mas lupa? Aku udah bilang berapa kali coba? Kalo abis kerja itu langsung mandi. Minimal ganti baju lah supaya kulit kamu nggak iritasi mas. Masa baju bekas keringetan kamu masih pake sih? Ampe dibawa ke atas kasur segala?“
Duh, Rakha lupa bahwa Ares itu adalah orang yang sangat melankolis sekali. Bagaimana Rakha bisa melupakan hal ini? Sebentar lagi pasti perang dunia dimulai, batin Rakha. “Kok masih disitu? Cepetan mandi sana, aku juga mau mandi mas.“ ucap Ares mengerutkan alis. Oh tuhan, Ares ku, cinta ku, sayang ku, jangan marah-marah lagi, ya?, batin Rakha.
“Mandi bareng aja gimana?“
“Nggak.“
“Pliisss ya??? Ya ya ya ya?“
“Nggak.“
Rakha memeluk Ares dengan melingkarkan tangannya di pinggul Ares. Rakha usil dan malah menciumi wajah Ares sampai-sampai membuat Ares kegelian. “Mas~ Udah~ Mandi sana, cepetan,“ ucap Ares salah tingkah. Uh, kedua pipi Ares juga sudah memerah. “Muach,“ Rakha mengecup pipi Ares. “Mas mandi dulu ya sayang,“ ucap Rakha langsung melesat menuju kamar mandi.
Saat Rakha sudah masuk ke dalam kamar mandi, Ares senyum-senyum sendiri. Uh, begini rasanya kalau sudah menikah? Selain tanggung jawab semakin bertambah besar, rasa bahagia yang didapat juga berkali-kali lipat. “Mas? Baju kamu udah aku taruh di atas kasur. Ini handuknya aku sangkutin di gagang pintu, aku mau masak dulu di dapur.“ ucap Ares dari luar kamar mandi. “Hm,“ sahut Rakha dengan deheman saja.
.
.
.
Jangan lupa baca juga LION HEART [BL] ya!