![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Kalian tau? Hal-hal pahit dalam hidup kadang membuat seseorang lebih baik tetap berada di alam mimpi. Daripada harus menghadapi pahitnya realita kehidupan saat terbangun nanti. Semua ini terlalu pahit untuk seseorang—yang begitu rapuh seperti Irfan. Darren begitu setia menggenggam tangan Irfan; sejak ia terbangun tengah malam, dan mendengar Irfan bergumam tidak jelas. Irfan berkeringat. Dia juga demam. Darren pun langsung menghubungi seorang dokter, dan menjelaskan gejala apa saja—yang dialami oleh Irfan.
Setelah diperiksa oleh dokter pribadi. Demam dan keringat dingin itu disebabkan oleh stress, ucap si dokter. “Penting bagi keluarga untuk selalu berada di samping Pak Irfan, dan memberikan dukungan penuh,“ ucap si dokter lagi, lalu permisi untuk pulang setelah memberikan resep obat. “Irfan? Diminum dulu obatnya,“ ucap Darren. Irfan pun membuka mata perlahan. Lalu, ia pun duduk, dan meminum obat. Irfan lagi-lagi termenung. “Om pasti nganggep aku lemah, kan? Heh,“ ucap Irfan tersenyum pahit.
“CEO SANGADJI GRUP!“ ucap Irfan dengan suara lantang menahan tangis. “Sakit cuman gara-gara satu masalah sepele,“ ucap Irfan lirih. “Darren!“ seru Irfan menatap Darren nanar. Tatapan hancur dan luka, batin Darren. Hah, kapan terakhir kali Darren melihat Irfan sehancur ini? Dia terlihat sangat rapuh. Darren pun mengulurkan tangan mendekap tubuh nan rapuh itu. Tiang-tiang kayu di rumah saja lebih kuat. “Defran Sangadji,“ gumam Darren. “Dia nama putera kamu, Irfan. Kamu belum liat dia, kan? Dia mirip kamu, Irfan. Mata, hidung, bibir, semuanya mirip kamu. Dia butuh kamu. Dia butuh seorang ayah yang kuat. Tanggung jawab kamu ke depannya bakalan lebih besar lagi, dan jalan yang kamu laluin? Belum ada apa-apa nya dengan apa yang terjadi sama kamu saat ini,“ ucap Darren.
Defran.., gumam Irfan. Dua hari kemudian. Darren dan Irfan berkunjung ke rumah sakit; sebelum mereka terbang ke Amerika. Di sana ada Diomira, Dzafina, dan Thalia, istri dari kakak tertua Irfan, Prima. “Irfan,“ seru Diomira berdiri. Betapa ia sangat mengkhawatirkan sangat putera beberapa hari ini. Terlebih saat Darren mengatakan; jikalau Irfan terserang demam. Irfan berusaha tersenyum dan kuat di depan sang ibu, dan keluarga. “Ma, aku mau liat Defran,“ ucap Irfan.
Irfan masuk ke ruangan khusus bersama Diomira; didampingi oleh dua orang dokter spesialis anak dan jantung. Defran; dia berada dalam inkubator—pun dipenuhi dengan alat-alat di seluruh tubuh—yang Irfan sendiri tidak tau itu apa. “Gimana kondisi anak saya sekarang, dok?“ tanya Irfan. “Sampai detik ini; kondisi anak bapak terbilang stabil. Tapi, untuk beberapa minggu ke depan; tetap harus dipantau; mengingat Defran memiliki kelainan jantung bawaan,“ sahut si dokter menjelaskan.
Maaf, papa telat dateng sayang, batin Irfan. Meskipun terlambat; Irfan ingin mengumandangkan adzan. Setelah itu Irfan pun menegakkan badannya. Tatapan Irfan tajam lurus ke depan. “Ma, aku minta tolong, cariin ibu-ibu menyusui, yang bersedia nyumbangin asinya buat Defran. Tapi, aku mau, mama selidiki dulu latar belakang dia. Pastiin dia orang baik-baik, karna aku nggak mau Defran mewarisi sifat buruk mereka, apalagi Ami,“ ucap Irfan.
Papa janji, nak. Papa bakalan jadi orang yang lebih kuat. Papa janji. Papa bakalan lindungin kamu dari apapun, batin Irfan bertekad kuat. Ia pun berpamitan kepada Diomira, Dzafina, dan Thalia. Saat berada di dalam pesawat. Irfan melemparkan pandangannya keluar jendela. Ia memikirkan banyak hal. Terutama masa depan Defran. “Tunggu papa tiga bulan lagi sayang,“ batin Irfan. Darren menatap Irfan tanpa ia sadari. Seulas senyum tipis pun terukir di bibirnya.
Tiga hari lagi Rakha akan kembali bekerja seperti biasa di kantor. Meskipun ia masih dalam masa harus beristirahat total, tetap saja ia tidak bisa berdiam diri. Bahkan Rakha mengerjakan semua pekerjaan kantor di rumah. Sedangkan di luar; Ares dan Fadhli nguli berdua; menata halaman rumah yang masih belum terlalu rapi dan bersih. “Pak, kalo ada taneman yang menjuntai gitu, ditaro di depan teras ngadep pintu bagus lho, pak?“ ucap Sarmini memberi usul. “Kan sing depan kae to? Ornamen kayu? Nah, di atas digantungin taneman rumbai, pokoknya yang menjuntai-juntai lah bagus banget pasti,“ ucap Sarmini lagi.
Ares pun memandangi teras rumah. Sip banget nih usul dari ibu mertua aku, batin Ares. “Pas naikan tangga yang ini kalo ditaro bebatuan gitu gimana, pak? Keknya bagus juga deh? Soalnya kan bagian depan ini udah dihias sama rumput sintetis,“ ucap Ares. “Sek sek sek tak toto toto disik,“ sahut Fadhli. Sebelum lanjut nguli; Ares pun masuk ke dalam sebentar; ingin meminum segelas air. Tiba-tiba Rakha bersuara, dan seketika membuat langkah kaki Ares terhenti seketika. “Dari tadi kamu nggak bajuan?“ cetus Rakha. Ares pun menganggukkan kepala. “Kan aku lagi nguli?“ ucap Ares.
Rakha menghela nafas. “Coba kamu itung, udah berapa banyak orang yang liat perut kamu itu? Hm?“ ucap Rakha posesif. Ares memutar bola mata malas. Huft, dikirain karna jatoh sakit sifat posesifnya bakalan berubah? Eh, tau-taunya makin parah, batin Ares. Ares pun langsung melesat ke dapur. Biarin aja lah gorila ngamuk hahaha, batin Ares masa bodoh. Setelah minum segelas air dingin; Ares merasa begitu segar dan kembali bertenaga. Entah kapan datangnya; Rakha tiba-tiba ada di samping Ares. “Kenapa lagi??“ tanya Ares.
Rakha pun menarik pergelangan tangan Ares, lalu menahan pinggulnya. “Mas, nanti ibu sama bapak liat,“ ucap Ares. “Mas~“ ucap Ares saat Rakha menciumi pundaknya. “Mas mas mas stop mas~ Duh ya ampun! Mas!“ ucap Ares sebal. Rakha pun semakin menjadi. Ia malah mengecup dan menghisap leher Ares. “Mas~ Udah~“ ucap Ares lagi. “Bentar, sekali lagi di bibir hehehe,“ ucap Rakha. Rakha pun mencium bibir Ares. Sarmini pun masuk ke dalam; berniat ingin membuat minuman dingin untuk Fadhli. Namun, apa yang ia lihat dari kejauhan? Ares dan Rakha sedang berciuman!
Hm, nggak bisa lama-lama di sini deh keknya, batin Sarmini tersenyum. “Eungh mas ahhh u-udah,“ gumam Ares. Rakha terus saja meliuk-liukan lidahnya di dalam sana. “Mhhh,“ gumam Ares. Sejurus kemudian; Rakha pun mengaduh kesakitan. Benar. Ares mencubit pinggulnya dengan kuat. “Bisa nggak sih kamu bantuin aku kerja di depan nguli? Bukannya langsung nyosor gitu aja?“ ucap Ares kesal. Rakha mengulum senyum. Dia tidak merasa bersalah sama sekali. “Males, capek, panas,“ sahut Rakha singkat, jelas, dan padat.
“Udah udah ah minggir minggir ganggu aja kamu mah,“ ucap Ares ingin segera ke teras. Namun, dengan usilnya, Rakha sempat-sempatnya meremas si jagoan Ares dengan kuat. “MAAAAASS!!!“ teriak Ares memberikan tatapan membunuh kepada Rakha. Liat aja ntar kamu mas. Tunggu pembalasan aku, batin Ares memberengut. Di luar; Ares membantu Fadhli membuat kerangka untuk tanaman. Ares menahan kayunya supaya tetap pas, dan tidak miring. Sedangkan Fadhli memasang paku dengan palu. Rakha? Dia cuma menonton saja dengan kedua tangan bersedekap di dada.
“Semangat, dek,“ ucap Rakha menyemangati. Ares tidak menghiraukan Rakha. Sarmini pun memukul pundak Rakha. “Bu, kok mukul aku, sih?“ ucap Rakha sambil mengusap pundaknya. “Kamu bisanya liatin aja. Bantuin nggak,“ ucap Sarmini menohok sembari geleng-geleng kepala. “Kalo aja ibu nggak ngusulin bapak buat ngerjain ini teras, aku pasti bakalan sewa tukang,“ ucap Rakha. Asal kalian tau. Rakha itu paling anti dengan yang namanya dunia kuli-kulian. Hm, katanya sih capek? Tapi, kalau pada dasarnya malas ya malas. Benar, kan?
Barra menahan pergelangan tangan Keanu. Saat Keanu telah bersiap-siap duduk di atas motor. “Kenapa?“ tanya Keanu datar. “Lu seriusan mau nge-DJ? Ini masih siang, lho? Kan biasanya lu nge-DJ malem?“ cerca Barra. “Barra ku sayang Barra ku malang hahahaha,“ ucap Keanu bercanda sambil mengusap pipi Barra. Barra pun menatap Keanu datar. “Paan sih lu ah!“ Barra protes. “Sabar, Bar~ Gue nyari nafkah buat masa depan kita. Lu bayangin aja dah. Gue nge-DJ 1,5 jam aja dibayar 2jt, lho? Ke mana coba nyari duit segitu? Misal sehari gue nge-DJ 6 jam bisa dapet 6jt, Bar. Dikali sebulan 180jt. Tuh? Banyak, kan?“ ucap Keanu.
Benar juga kata si Keanu. Susah banget gue berkompromi sama profesi nih anak, batin Barra. “Inget satu hal, Bar. Ngejalanin hubungan serius itu nggak cuma modal suka sama suka aja. Tapi, saling nerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Gue tau lu belum sepenuhnya bisa nerima profesi yang gue jalanin. Tapi, gue berkali-kali bilang sama lu, gue nggak seperti yang lu pikirin. Di hati gue cuma ada lu, paham?“ ucap Keanu lagi. Barra mendesis kesal. Barra terkadang juga suka kesal dengan diri sendiri. Semenjak ia dan Keanu memutuskan untuk menjalin hubungan serius. Barra mendadak menjadi makhluk super duper posesif.
“Ke~“ seru Barra. Jujur ia ingin dicium dan dipeluk. Tapi, ia malu untuk mengungkapkannya kepada Keanu. Beruntung Keanu itu lumayan peka. Jadi, ia pun langsung menarik pergelangan tangan Barra; memeluknya dan menciumnya. “Lu mau titip apa?“ tanya Keanu. “Hm, apa aja deh, yang penting bisa dimakan,“ sahut Barra. Keanu pun menganggukkan kepala. “Gue otw dulu. Kalo lu takut ada hantu di apartemen kita, lu suruh si Ares kek siapa kek buat nemenin lu,“ ucap Keanu menohok. Barra itu penakut. Hahaha, pasti dia nanti minta temenin sama curut-curutnya dia, batin Keanu.
Barra mencebikkan bibir kesal. Lalu, Keanu pun tancap gas. Setelah Keanu menghilang dari pandangan. Benar saja. Barra langsung menelepon Ares. “Hm?“ seru Ares dari seberang sana. “Lu ke apartemen gue dong, Res? Temenin gue. Bete gue sendirian,“ ucap Barra. “Waduh sorry aja nih ngab. Gue kagak bisa. Soalnya ada laki gue. Kasian lah gue tinggal sendirian sama mertua gue,“ sahut Ares. Setelah menikah; Ares memang tidak bisa sebebas seperti saat masih bujangan. Kalau pun Ares jalan bersama teman-teman satu sekolah, itu pun harus mencari momen yang pas. Entah itu saat Rakha masih di kantor atau sedang dinas. “Gini aja deh, lu ke sini bareng ama laki lu. Gue nelpon Adhitama juga buat ke sini. Gimana? Biar gue order makanan ntar,“ ucap Barra.
“Lu coba hubungin si Ad dulu dah. Kalo dia fix gue fix juga. Kabarin gue ntar,“ ucap Ares. Sambungan telepon pun terputus. Sejurus kemudian; Barra pun menelepon Adhitama; dan ternyata Adhitama juga tidak bisa datang kemari, karna ada urusan. Barra mendengus. Trus gue musti ngapain dong? Errr pulang ke rumah papa aja kali, ya?, batin Barra. Barra pun langsung memesan grab menuju rumah kedua orang tuanya. Gila kali gue sendirian di apartemen. Lebih horor dari apapun tau, batin Barra sambil berdiri di depan apartemen menunggu grab tiba.
Tring tring tring. Hp Adhitama berdering. “Uhm aahhhh ngghhhh aahhhh No-ah st-tohp duluh, a-aku mau ang-kaht telpon,“ gumam Adhitama meminta No-ah untuk berhenti menggerakkan pinggulnya sementara. “Halo?“ ucap Adhitama sambil menahan rasa geli saat No-ah mengurut si jagoan. “Temenin gue di apartemen dong, ajakin abang lu juga, gue lagi sendirian ngab,“ ucap Barra. “Sorry ngab, gue lagi ada urusan, ja-di nggak bisa,“ ucap Adhitama. Sambungan telepon pun terputus secara sepihak, karna Barra memutusnya lebih dulu. Adhitama pun menaruh hp nya di sebelah.
Noah meminta Adhitama untuk miring ke kanan. Saat Adhitama telah miring ke kanan; Noah pun mengangkat kaki kiri Adhitama dan meletakkannya di pundak. Di posisi seperti inilah; Noah kembali menggerakkan pinggulnya maju mundur. Adhitama membenamkan wajahnya di bantal. Posisi seperti; membuat si jagoan Noah benar-benar terasa begitu sangat dalam. “Eungh ngghh ngghh ahh ah ah ah ah eungh eunghh ah ah ah ahh uhhh heuhh haahh hmmm,“ gumam Adhitama. Noah juga mengulum jari-jemari kaki Adhitama. Sontak hal itu pun membuatnya merasa sangat kegelian.
Satu jam kemudian. Adhitama terengah-engah sesaat setelah ia dan Noah sama-sama menyemburkan ****** ***** itu. Noah? Huh, dia menyemburkannya di dalam. Setelah beristirahat beberapa saat. Adhitama pun bangun dari ranjang. Tiba-tiba ia merasa lapar setelah melakukan itu selama beberapa jam. Ia melihat Noah tertidur sangat pulas dengan posisi tengkurap. Di dapur; Adhitama makan sambil streaming seputar perguruan tinggi. Benar. Besok Adhitama akan mengikuti tes gelombang pertama. Dengan nilai hampir sempurna yang ia miliki. Aditama yakin seratus persen akan diterima di perguruan tinggi itu.
Tiba-tiba Adhitama berpikir tentang sesuatu. Bertemu dengan teman satu sekolah saja; Noah akan ikut serta. Lalu, bagaimana kalau dirinya kuliah nanti? Jangan bilang Noah juga akan ikut kuliah? “Kenapa nggak bangunin kakak, Ad?“ seru Noah dengan rambut yang masih acak-acakan. Adhitama mengulum senyum. Itu karna saat melakukan itu tadi; Adhitama menjambak rambut Noah sekuat tenaga. Hahahaha, batin Adhitama.
“Kan kamu bisa bangun sendiri? Nggak harus aku yang bangunin juga, kan?“ sahut Adhitama. “Oh iya, kak. Uhm, misal aku nanti kuliah, kamu bakalan ikut juga?“ tanya Adhitama penasaran. “Kalo iya kenapa?“ Noah malah balik bertanya sambil minum air putih langsung dari botol—pun mengeluarkan makanan instan dari kulkas, dan menghangatkannya di microwave. “Serius? Kakak nggak lagi becanda, kan?“ ucap Adhitama memastikan. “Kakak udah banyak kerjaan di kantor. Kalo kakak kuliah lagi jatohnya malah ribet,“ ucap Noah. Adhitama pun tersenyum. Ia benar-benar bersyukur, bahwa Noah tidak akan ikut kuliah juga.
“Tapi, kakak bakalan kirim mata-mata buat ngawasin kamu. Dia ntar kuliah satu kampus juga bareng kamu,“ ucap Noah kemudian. Cih! Itu sih sama aja kali, batin Adhitama mencebikkan bibir kesal. Ia pun menatap Noah dengan tatapan membunuh. Lalu, menenggak habis air putih di gelas miliknya, dan meletakkan gelas itu dengan kasar hingga menimbulkan suara decitan yang cukup nyaring antara gelas dan meja.
Seluruh keluarga pun berkumpul di depan TV setelah selesai makan malam. “Ares, kamu belajar masak di mana, sih? Kok kamu jago banget masaknya?“ tanya Sarmini penasaran. Tadi mereka makan malam dengan sate tanjung dan sambal terasi. Beuh, sate tanjung dan sambal terasi buatan Ares benar-benar tidak ada duanya, batin Sarmini. Bahkan Fadhli saja nambah beberapa kali. “Dulu biasa bantuin inak masak, bu,“ sahut Ares sambil melipat pakaian. “Bagi-bagi resep dong, Res? Ibu kurang tau makanan khas Mataram soalnya. Sering mah masak makanan khas Jawa aja,“ ucap Sarmini. “Boleh boleh hehe,“ sahut Ares tersenyum.
“Ares.. Rakha.. Ibu sama bapak besok mau pulang, ya?“ ucap Sarmini. Ares dan Rakha pun terkejut mendengar hal itu. Kenapa Sarmini tiba-tiba berkata ingin pulang? “Lho? Mending ibu di sini aja. Kalo Mas Rakha kerja kan aku sendirian di rumah, bu? Minimal tunggu libur sekolah aku selese dulu,“ ucap Ares. “Bener kata Ares, bu. Nanti aja pulang ke Tasik nya. Biar Ares ada temen di rumah,“ timpal Rakha. Sarmini pun menoleh ke Fadhli. Bukannya Sarmini tidak ingin berlama-lama di sini. Ia takut terlalu lama di sini malah mengganggu privasi anak dan menantu.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Ares pun berdiri, lalu berjalan ke depan, dan membuka pintu. “Eh? Bu Imai?“ seru Ares. Imai pun tersenyum. “Duh, maaf banget, Res. Ibu ngetik pintu malem-malem. Ibu tadi bikin kue soalnya suami sama anak ibu minta dibikinin. Ya udah ibu nganterin kamu juga. Daripada nanti malah sisa nggak kemakan,“ ucap Imai sembari memberikan sepiring kue brownies coklat. “Nggak papa, bu. Makasih banget lho ini udah dianterin,“ ucap Ares. “Sama-sama, oh ya udah ibu pulang dulu, ya,“ ucap Imai. Ares pun menutup pintu.
“Siapa, dek?“ tanya Rakha. “Itu tetangga sebelah nganterin brownies coklat,“ sahut Ares menaruh piring berisi brownies itu di lantai beralaskan karpet. “Tetangga yang mana?“ tanya Rakha lagi. “Bu Imai,“ sahut Ares. Rakha pun beroh ria saja. Semua orang pun saling bertukar cerita dan tertawa. Sungguh Ares benar-benar sangat bahagia. Banyak hal yang telah ia lalui selama ini. Hingga ia pun menemukan kebahagiaannya sendiri.
Seperti biasa. Sebelum tidur; Ares akan membersihkan kasur terlebih dahulu dengan sapu lidi. Lalu, ia semprotkan pengharum ruangan beraroma lemon. Jujur sebelum-sebelumnya tidak ada ritual seperti ini sebelum dan sesudah Rakha menikah dengan Ami dulu. Berbeda dengan Ares. Dia benar-benar memperhatikan sesuatu dengan sangat detail. “Sayang, main kuda-kudaan, yuk?“ ucap Rakha mengajak. “Nggak ah, udah malem mas, tidur aja,“ sahut Ares sembari menaikkan selimut hingga ke perut.
“Tapi, mas lagi pengen gimana? Tadi pagi padahal mas pengen ngajakin kamu begituan, tapi kamu kan lagi nguli?“
“Pas mau subuh aja biar enak. Kan dingin? Biasanya kan itu kita sering bangun kalo pas subuh pas lagi dingin-dinginnya gitu?“
“Sekarang aja~ Hm???“
Rakha mulai manja seperti anak kecil sambil memeluk Ares dari samping. Ia mencoba membujuk Ares dengan berbagai cara. “Kalo aku bilang nggak ya nggak mas,“ ucap Ares. “Ya udah, kamu pijitin jagoan mas aja ampe keluar sambil tiduran,“ ucap Rakha. Uh, sebelnya ditolak istri sendiri, padahal aku lagi pengen-pengennya ya ampun, batin Rakha. Ares pun menuruti permintaan Rakha tersebut. Ia mengurut dan meremas si jagoan Rakha sambil berselancar di media sosial. “Cepetin lagi yang,“ ucap Rakha. Si jagoan pun telah menegang sempurna. Jujur tangan Ares sudah sangat pegal sekali. “Kok belum keluar juga sih, mas?“ tanya Ares. “Cuman digituin doang mana bisa cepet sayang?“ sahut Rakha. Dua puluh menit kemudian. “Sssttt ummhhh cepetihn lagi sayangggg eungh sssttt,“ gumam Rakha—pun akhirnya menyemburkan cairan putih itu beberapa kali tembakan.
.
.
.
SUGAR D [BL] udah up juga, ya!