ARES [BL]

ARES [BL]
ARES 53



Suasana rumah nampak sepi; saat Rakha pertama kali menginjakkan kaki di rumah; ruang tamu dengan nuansa putih bersih, sofa berwarna light slate gray, serta tanaman lidah mertua di sisi kiri dan kanan sofa—pun tanaman hias gantung Dischidia Geri—yang tergantung dengan indah di dinding. Suasana rumah sekarang ini terlihat lebih segar; semenjak ada Ares yang mengurusnya. “Ares?“ seru Rakha, lalu duduk di atas sofa.


Tiba-tiba Rakha melihat paper bag di atas meja—yang sengaja ditaruh oleh Ares di sana sebelumnya. Ares lupa menyimpan paper bag itu di kamar. Di luar, Ares melihat pintu terbuka, sepertinya Mas Rakha sudah pulang, batin Ares. “Assalamu'alaikum,“ Ares mengucapkan salam, sementara di tangan kanan dan kirinya dipenuhi oleh barang belanjaan dari pasar. Kebetulan keperluan di dapur sudah pada habis.


“Udah pulang mas?“ tanya Ares menaruh belanjaan itu di lantai. Ares pun duduk sebentar sembari menikmati dinginnya AC di ruangan ini. Uh, cuaca di luar sungguh menggila. Panas minta ampun, batin Ares. “Ini apa?“ tanya Rakha. Ares pun mengerling. “Hm? Oh, itu hadiah ultah dari temen,“ sahut Ares. Kedua mata Rakha menyipit curiga. “Temen?“ gumam Rakha terdengar tidak percaya. “Jadi, alesan kamu nolak mas jemput kamu gara-gara kamu ngerayain ultah bareng temen cowok kamu? Gitu?“ ucap Rakha posesif.


Dari posisi senderan; Ares pun merubah posisi duduknya dengan benar, lalu ia tatap Rakha tepat di kedua matanya. Sedari tadi Rakha terlihat sangat sensitif, batin Ares. Kenapa? “Mas, kamu hari ini kenapa, sih? Kok curigaan mulu sama aku?“ tanya Ares serius. Rakha pun menghela nafas berat. “Gimana mas nggak curiga? Kamu aja nolak mas jemput kamu, Res. Dan sekarang? Pulang-pulang kamu malah dapet hadiah kek gini? Mas juga bisa beliin kamu hadiah kek gini kali, Res,“ ucap Rakha emosi.


Huft, Ares pun menghela nafas berat untuk ke sekian kalinya. “Tunggu dulu,“ ucap Ares membuat panggilan video call dengan Keanu. “Paan?“ tanya Keanu datar di layar hp. Ares pun pindah duduk di sebelah Rakha. “Ke, tolong lu jelasin sama Mas Rakha dong, kalo ini tuh beneran hadiah ultah yang elu kasih ke gue,“ ucap Ares sambil menunjukkan paper bag. “Coba lu arahin kameranya ke laki lu,“ ucap Keanu. Kamera pun berhasil menangkap wajah Ares dan Rakha berdua. Entah mengapa Ares malah mau tertawa. Rakha terlihat sangat lucu sekali saat cemburu. Lihatlah wajah cemberutnya itu. Hahaha kek anak kecil nggak dikasih permen aja, batin Ares.


“Bar? Barra? Sayang? Cepetan ke sini! Lu ngapain aja sih,“


“Gue lagi ganti baju, bentar,“


Barra dan Keanu terlihat sedang bercakap-cakap. Sebelum pada akhirnya nampaklah sepasang kekasih itu di layar hp. Barra terlihat canggung melihat Ares di sana. Begitu pun Ares, dia juga canggung, dan tidak tau harus bicara apa. “Gini Om Rakha,“ ucap Keanu mulai membuka percakapan. Ares pun mengerling. Rakha terlihat sangat sebal saat Keanu memanggilnya dengan sebutan om. Hihihi dasar tukang ngambekan, batin Ares.


“Kemarin gue jalan-jalan sama calon istri gue, si Barra,“ ucap Keanu—yang kontan langsung mendapat cubitan mesra dari Barra di pinggul. “Trus si Barra ini inget kalo kemaren itu ultahnya si Ares. Nah, sekalian deh beli hadiah buat Ares. Lagian om nggak perlu cemburu ato marah sama Ares. Gue ama Barra udah pacaran kok, mau nikah malah, so jangan terlalu diambil hati, ya?“ ucap Keanu panjang lebar.


Ares melihat ekspresi Rakha—yang terlihat semakin aneh. “Ke, Bar, udahan dulu, ya? Bye,“ ucap Ares tiba-tiba langsung mematikan sambungan video call secara sepihak. Dalam hati Rakha amat sangat kesal dan marah. Baru kali ini dia diceramahi oleh seorang remaja SMA seperti tadi? Uh, malu banget, batin Rakha serasa kehilangan muka. “Mas? Masih kesel juga?“ tanya Ares. Rakha terdiam. “Temen kamu itu lancang banget sih, Res? Nasehatin mas kek gitu?“ ucap Rakha kesal.


Oh tuhan~ Jadi, Mas Rakha kesel gara-gara Keanu nasehatin dia? Ya ampun, batin Ares tidak habis pikir. “Udah ah mas, jangan ngambek-ngambekan lagi~“ ucap Ares. Hm, sepertinya Ares harus menggoda Rakha sedikit. Tangan Ares pun mulai bergerak liar di permukaan celana Rakha. Ia remas pelan-pelan gundukan itu hingga membuat Rakha mendesis kenikmatan. “Eumh Rehs,“ gumam Rakha. “Aku keluarin yah?“ ucap Ares mengeluarkan milik Rakha setelah menarik resleting celananya.


“Enak nggak?“ tanya Ares. “Ssshhh ahhhh Res, kencengin lagih,“ gumam Rakha meminta Ares untuk mempercepat urutan pada miliknya itu. “Hm, cairan pre ej*k*l*si nya udah keluar nih mas,“ goda Ares dengan suara—yang sengaja ia buat seperti orang yang tengah melenguh. “Sshhhh ahhhh mmhhh uuuhhh,“ gumam Rakha. Uh, servis dari istri memang yang terbaik dibandingkan melakukannya sendiri di kamar mandi. Sejak kapan Ares bisa menggoda Rakha seperti ini?, batin Rakha.


Suara dering telepon berbunyi berkali-kali. Dzafina heran. Hp siapa sih itu?, batin Dzafina. Ia pun berdiri, dan berjalan ke arah dapur. Benar saja, ada sebuah telepon genggam di atas konter dapur. Telepon itu masih saja berdering tanpa henti. “Mr. X?“ gumam Dzafina dengan kedua alis berkerut heran sekaligus penasaran. Ini adalah hp milik Ami, batin Dzafina. Dzafina pun melangkahkan kaki menuju pekarangan rumah. Di sana ditumbuhi berbagai macam jenis tanaman buah-buahan seperti: jeruk, anggur, dan melon. Selain dikonsumsi sendiri sekeluarga—juga diberikan kepada tetangga sebelah rumah atau satu kompleks.


Di sana Ami dan Irfan tengah berbincang-bincang berdua dengan mesra. Ami tertawa lepas. Dzafina pun tersenyum tipis. Irfan itu memang moodboster dalam keluarga. Irfan pun mengambil beberapa biji buah rambutan—yang matang dan menjuntai itu. “Nah, coba kamu cicipin, Ami,“ ucap Irfan tersenyum sumringah sembari memberika buah rambutan—yang telah ia kupas itu kepada Ami. Dia terlihat sangat bahagia, batin Dzafina. “Ami,“ seru Dzafina. Ami dan Irfan pun menoleh. “Ini hp kamu, Ami. Dari tadi bunyi mulu,“ ucap Dzafina. Tiba-tiba air muka Ami menjadi pias. Dia terlihat sedikit gugup. “Uhm, makasih banyak ya, mba?“ ucap Ami berterima kasih.


“Sama-sama Ami,“ sahut Dzafina berusaha tersenyum semanis mungkin. Demi menutupi rasa curiga di hati. “Fan, kamu jagain Ami baik-baik, jangan ampe dia kenapa-napa,“ ucap Dzafina, lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Mr. X? Siapa dia? Kalau sebutannya adalah Mr, berarti dia adalah seorang laki-laki?, batin Dzafina menduga-duga. Ini tidak bisa dibiarkan. Dzafina harus mengatakan hal ini kepada Darren.


Sungguh Dzafina tidak rela jikalau orang baru seperti Ami akan melukai dan menyakiti Irfan suatu saat nanti. Kalau itu benaran terjadi; seumur hidup; Dzafina tidak akan pernah memaafkan Ami. Dzafina yang mengenakan stelan blazer dan celana berwarna ash—serta kaos putih di dalamnya—pun turun dari mobil. Lalu, masuk ke dalam kantor menuju ruangan Darren. Seseorang menoleh ke belakang saat ia sampai di ambang pintu. Pria itu. Dia terpesona akan seorang Dzafina. Jatuh cinta pada pandangan pertama mungkin? Ingin pria itu menghampiri Dzafina masuk ke dalam. Tapi, ia harus buru-buru, karna ada urusan lain.


“Ed, tolong kasih tau Mas Darren, kalo aku mau bicarain sesuatu, penting.“ ucap Dzafina. “Tunggu sebentar, nona,“ ucap Edgar meminta Dzafina menunggu sebentar di luar. Edgar pun masuk ke dalam, dan berkata, bahwa Dzafina ada diluar—ingin bertemu dengan Darren. “Suruh dia masuk,“ ucap Darren. Saat ini Dzafina pun telah berada di ruangan Darren. Dzafina bukanlah tipikal orang—yang bisa tiba-tiba datang ke kantor seperti ini. Hampir tidak pernah malah. Pasti ada sesuatu yang serius telah terjadi, batin Darren.


Dari ekspresi Dzafina saja sudah jelas. Dia terlihat sangat cemas dan khawatir. “Mas,“ seru Dzafina. “Ngomong aja, Dza,“ ucap Darren mempersilahkan. “Tadi.. Aku nggak sengaja nemuin hp Ami di konter dapur, mas. Soalnya hp dia bunyi mulu. Jadi, aku yang ambil trus ngasih ke dia,“ ucap Dzafina. Darren masih belum menemukan maksud Dzafina datang kemari dari kata-katanya. “Trus?“ ucap Darren. Dzafina diak sebentar. Cuma Darren satu-satunya orang yang bisa membuat keluarga ini tetap utuh, dan terhindar dari orang-orang—yang berusaha ingin menjatuhkan keluarga Sangadji.


“Aku liat kalo yang nelpon Ami tadi itu tulisannya Mr. X,“ ucap Dzafina. Suasana di ruangan ini pun hening sesaat. Darren tau maksud dari perkataan Dzafina barusan, meski ia tidak menjelaskannya lebih rinci. “Kamu nggak usah khawatir, Dza. Mas bakalan awasin Ami 24 jam. Mas nggak bakalan biarin dia ngelakuin hal yang aneh-aneh.“ ucap Darren kemudian seolah mengerti kekhawatiran Dzafina. Hah, rasanya lega dan plong sekali, setelah menceritakan semuanya kepada Darren. “Makasih mas,“ ucap Dzafina berterima kasih.


Barra dan Keanu bersantai di ruang TV. Keanu sedang belajar untuk ulangan semester. Sedangkan Barra malah sibuk memindah-mindah satu channel ke channel lain sambil menggaruk kakinya yang gatal—yang di mana ia duduk dengan posisi satu kaki ditekuk hingga setara dengan dada. “Lu mau ngerusak entu TV, Bar? Dari tadi mindah-mindahin channel kagak jelas,“ cetus Keanu sebal. “Lagi bosen gue. Perasaan dari tadi nggak ada acara yang berfaedah, deh? Ckckckck percuma orang-orang TV nyiarin acara kek gitu, nggak guna banget,“ cerutu Barra.


“Tinggal lu matiin beres,“


“Tapi, sepi, Ke. Gue nggak suka sunyi senyap. Minimal ada suara TV, jadi nggak serem-serem amat,“


“Kan ada gue gimana, sih?“


Terlintas di pikiran Barra untuk memutar film Jepang romantis berjudul LDK. “Kento Kento,“ gumam Barra telihat sangat gembira. Dia adalah salah satu aktor favorit Barra—yang di mana dia juga berperan sebagai L di live action berjudul Death Note. “Ke! Coba lu liat! Sebelas duabelas ama gue!“ seru Barra bersemangat menantikan film itu diputar dari hp—yang disambungkan ke TV. Barra pun menonton film itu dengan serius. Ia sudah sampai pada menit ke 32:50—yang di mana tokoh utama laki-laki dan perempuan saling berpegangan tangan, saat si tokoh perempuannya tidak bisa tidur pada malam hari.


“Mana gue tau, kan gue nggak sadar? Gimana, sih?“ ucap Barra masa bodoh. Dia cuma ingin fokus menonton film itu saja sampai selesai. Keanu pun mendengus. Hm, tunggu dulu deh, gue punya cara jitu nih he he he he, batin Keanu menyeringai. Keanu pun beranjak dari sana menuju kamar. Lalu, ia ambil kamera canon miliknya—yang ia taruh di atas nakas. “Untung kamera gue kamera mahal. Plus body bagus bening begini. Kualitas HD pula, apalagi bikin video basah bareng Barra he he he he,“ gumam Keanu.


Tiba-tiba Keanu menghalangi layar televisi. Barra menegur. “Minggir, Ke. Nggak ada kerjaan banget ngalang-ngalangin TV,“ ucap Barra sebal. “Udah,“ ucap Keanu tersenyum lebar saat ia sudah menata posisi kamera sedemikian rupa di atas meja TV. “Kenapa malah lu matiin, sih? Itu kamera buat apaan coba? Rese deh ah,“ ucap Barra kesal. “Gue mo bikin video basah ama elu. Buat koleksi kita ntar. Kameranya udah on, Bar,“ ucap Keanu biasa-biasa saja. Ia terlihat masa bodoh terhadap apa yang ia ucapkan barusan. “Lu maen aja sendiri, nggak usah pake acara ngajak-ngajak gue segala,“ ucap Barra ketus. Ia pun berdiri—berniat meninggalkan ruang TV ke kamar tidur.


Sejurus kemudian Keanu meraih pergelangan tangan Barra; hingga Barra pun berada di atas Keanu; mata keduanya pun saling bertemu, dan bertatapan diiringi irama jantung yang mulai menggila. Keanu serius mau bikin video basah?, batin Barra gugup. “Ke.. Kan udah kemaren? Gu-gue masih nggak enak, Ke,“ gumam Barra berusaha menghentikan aksi gila Keanu. Tentu saja kata-kata Barra itu cuma angin lalu saja bagi Keanu. Mana mau dengar dia?


Keanu memainkan jari-jemarinya di rambut Barra. Ia usap surai rambut itu penuh perasaan. Tatapan Keanu juga terlihat sangat teduh diiringi seulas senyum tipis di bibir. Bibir Keanu itu merah muda. Padahal dia nggak pake liptint sama sekali, batin Barra menelan ludah. Barra tidak bisa berbohong. Dia terpesona. Terlebih tiap kali mendengar Keanu bersuara. Suara berat itu terdengar sangat seksi dan penuh gairah di telinga Barra. Uh, nyebelin banget, gerutu Barra dalam hati. Bisa-bisa Barra akan masuk ke dalam perangkap untuk yang ke sekian kalinya.


Cup. Keanu pun mulai mengecup bibir Barra dan memberi pergerakan lembut di sana. Uh, tubuh Barra memanaa, kedua pipi Barra juga memanas. “Ngh Kehhh mmhhh,“ gumam Barra, dan Keanu pun langsung membalik tubuhnya, hingga kini Barra lah yang ada di bawah Keanu. Barra mendongakkan kepala sambil mengelus punggung Keanu. Saat bibir dan lidah Keanu bergerilya di leher, pundak, dan telinga. “Eungghhh Keaahhhh,“ Barra melenguh tanpa henti. Suara-suara indah itu menggema di seluruh ruangan. Keanu tidak tinggal diam. Ia pun melepaskan ciumannya itu, dan melepas baju yang ia kenakan.


“Hmph!“ gumam Barra saat Keanu kembali mencium bibirnya dengan liar. Barra serasa hendak kehabisan nafas. Tiap Barra membuka mulut—ingin mengambil oksigen sebanyak mungkin—saat itu lah Keanu terus membombardir bibirnya dengan ciuman tergilanya itu. Kini baik Barra ataupun Keanu tidak mengenakan apapun. “Ke..,“ gumam Barra menatap Keanu. Pandangan Barra sedikit memburam. Lalu, ia raih leher Keanu, dan mengarahkannya ke dada. “Eungghhh ahhhh eummnhh aahh Keaah ngghhh sssttt aahhh,“ gumam Barra saat lidah Keanu menjilati seluruh area perut hingga pusar—sambil tiga jari telunjuk, tengah, dan manis ia masukkan ke lubang itu. Otomatis kedua kaki Barra pun terangkat—menikmati sensasi sengatan-sengatan cinta ini. “Hmph aarrggghhhhh saaakiiiihhhhttt aahhhhh,“ Barra berteriak dengan keras sampai kepala mendongak ke atas, dan pinggang terangkat, saat Keanu tiba-tiba menghentakkan pinggulnya dengan sekali hentakan.


Pagi ini Alena, Deon, dan Yudi berkumpul di ruang keluarga. Tentu saja Alena dan Yudi ingin menginterogasi Deon tentang dua orang pria—yang ia temui malam lusa kemarin. Deon tegang. “Deon?“ seru Alena. Seperti biasa; sang ibu selalu berbicara lemah lembut; marah pun tidak terlihat seperti sedang marah. Jujur Deon tidak berani menatap Alena ataupun Yudi. Deon takut. “Kemaren papa ketemu sama Edgar,“ cetus Yudi. Deon pun kontan mengangkat kepalanya. Papa ketemuan sama Edgar?, batin Deon tidak percaya. Bahkan Yudi sampai harus menemui Edgar diam-diam. Jangan bilang kalau masalah ini menjadi semakin serius?


“I-itu..,“ gumam Deon gugup. “Jujur sama mama, De~“ ucap Alena. Kejujuran memang terasa begitu pahit. Bahkanebih pahit dari obat-obatan di rumah sakit. “Dari kapan, De? Hm? Kamu sembunyiin semua ini dari mama sama papa? Kamu nggak anggep mama sama papa lagi?“ ucap Alena. “Nggak ma, sama sekali nggak,“ tukasnya. “Kalo gitu kamu jujur, De. Kamu diem nggak ngomong apa-apa kek gini malah bikin mama sama papa sakit hati tau nggak?“ ucap Alena lagi. Sudah Deon duga; sang ibu sedang marah; dari nada bicaranya saja; Deon bisa mengetahui akan hal itu.


“Dari aku kuliah ma pa,“ sahut Deon berat hati. Deon pun menangis. “Ma-maafin aku ma pa,“ ucap Deon lirih. Alena menatap Yudi sebentar. Alena yakin ini juga tidak mudah bagi Deon. Tapi, dia juga tidak bisa memungkiri rasa yang tumbuh di hati. “Mama sama sekali nggak marah, De. Cuman mama mohon, kamu ada masalah apa aja, cerita sama mama. Jangan kamu pendem sendiri.“ ucap Alena. Deon pun menatap Alena dengan mata berkaca-kaca. “Dari kecil kamu selalu ngelakuin apapun kata mama sama papa kamu dulu, ampe sekarang pun kamu masih selalu nurut apa kata-kata mama. Sekalipun kamu nggak pernah nolak, De. Maafin mama juga yang nggak pernah nyoba dengerin apa mau kamu selama ini. Maafin mama juga kalo mama cuman tau urusan mama sendiri.“ ucap Alena panjang lebar. Alena dan Deon pun berpelukan.


Tring tring tring. Hp Deon berdering. Dari Edgar. “Saya otw bandara,“ tulis Edgar. Deon pun terdiam. Haruskah Deon pergi ke Bandara juga seperti kemarin-kemarin? Deon bingung. Saat ini suasana di ruang keluarga masih sangat sensitif. Deon tidak mungkin bisa pergi. “Edgar lagi di jalan menuju Bandara, De. Kamu kalo mau ke sana ke sana aja,“ cetus Yudi. Uh, bagaimana Yudi bisa mengetahui jalan pikiran Deon? Jangan-jangan Yudi memiliki kemampuan indera ke-enam atau semisalnya?


Deon masih ragu. Lalu, sejurus kemudian, Alena pun meyakinkan Deon, bahwa dirinya tidak apa-apa. Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit. Deon pun sampai di Bandara. Deon telah mengirimkan lokasi—di mana ia tengah menunggu kedatangan Deon di Boarding Area. “Edgar,“ seru Deon. “Errr kamu mau pulang sekarang?“ tanya Deon. Edgar pun tersenyum samar. “Kenapa?“ Edgar malah bertanya balik. “Hah? Kenapa apanya?“ tanya Deon lagi.


“Kamu tadi nanya ke saya, apa saya mau pulang hari ini ato nggak,“


“Uhm, maaf,“


“Kenapa musti maaf? Kamu salah apa emangnya?“


“Intinya maaf,“


“Nggak peluk dulu?“


“Hah?“


Uhm, memeluk Edgar? Tapi, tidakkah itu kelihatan sangat aneh? Lalu, atas dasar apa Deon memeluk Edgar? Pertemanan—atau errr argh, batin Deon gusar. Tanpa babibu ia pun langsung memeluk Edgar dengan erat. Eh? Kok malah jadi erat banget sih?, batin Deon meringis. Edgar pun membalas pelukan Deon. Uh, kenapa pelukan Edgar terasa sangat hangat sekali? Hm? Jantung Edgar berdegup kencang?, batin Deon heran. Ia pun mendongak sedikit dengan kedua alis hampir saling bertautan. “Tunggu saya setengah bulanan lagi,“ ucap Edgar. Deon pun langsung mendorong tubuh Edgar pelan hingga pelukan keduanya terlepas. “Bukan urusan aku,“ sahut Deon ketus. Uhm, berpura-pura ketus mungkin?


.


.


.


DUKUNG ARES RAIH 500 FAVORIT!!!