ARES [BL]

ARES [BL]
ARES 24



Barra duduk di depan Ares sambil tersenyum sumringah. Ia meletakkan sebotol susu rasa pisang di hadapan Ares. Barra sudah kembali pada kebiasaan lama. ”Bar.. Nggak bosen lu beliin gue susu mulu tiap hari?” ucap Ares.


”Gue mo pdkt ama lu Res,” sahut Barra. Senyuman Ares mendadak meredup. Barra tidak pernah main-main dengan perkataannya. Jauh dalam hati Ares tidak ingin Barra sakit hati suatu saat nanti. Ares tidak ingin Barra dalam rasa yang hampa dan tak terbalas. Harus bagaimana Ares supaya bisa membuat Barra menyadari semua ini?


”Maen bola yuk Res! Kak Barbar!” seru Oemar. ”Gue Barra ya~ Bukan Barbar.” sahut Barra sebal. ”Kuy lah!” seru Ares merapikan buku di meja terlebih dahulu. Selain Ares merasa bosan karena di kelas melulu, ia juga ingin menghindari Barra dengan sejuta kata-kata manisnya ingin pdkt dengan Ares, katanya.


Kebetulan beberapa hari ke depan adalah masa orientasi siswa. Meski begitu dari kelas satu sampai Kelas tiga dihimbau untuk tetap berhadir. Padahal dari pagi sampai pulang jam belajar kosong semua. Itulah mengapa Ares memilih menyempatkan diri membaca buku di kelas atau di perpustakaan.


Dimana ada duo Ares dan Barra disitulah para gadis berteriak histeris. Para gadis pun langsung berkumpul di pinggir lapangan. Mereka tidak henti-hentinya berdecak kagum memuji ketampanan Ares dan Barra. Sesekali Ares mengangkat seragamnya untuk mengelap keringat dan menampakkan pahatan-pahatan di perutnya yang terukir sangat indah.


Laras tidak sengaja lewat dan melihat Ares bermain bola di lapangan. Laras diam. Dalam hati ia juga sangat dan amat sangat mengagumi Ares. Hanya saja Laras tidak ingin bersikap lebay dan norak, berteriak-teriak tidak jelas sampai suara serak.


”Lu serius mau deketin Ares?” seru Ulfa. Laras diam sebentar menatap Ares dari kejauhan. Teriakan Ares meminta bola di over menggema. Ini membuat teriakan para gadis juga semakin kencang. ”Hm,” sahut Laras mengiyakan.


”Serius? La, lu pikir-pikir lagi deh kalo mau deketin Ares. Dia tuh—”


”Kenapa? Emangnya Ares kenapa?” sahut Laras menatap Ulfa dingin. Ia tau kemana arah pembicaraan Ulfa. Sekarang apa lagi? Kasta? Tahta? Harta? Siapapun Ares, Laras tidak peduli. Laras tidak pernah memandang status sosial seseorang entah dalam dunia pertemanan ataupun percintaan. Karena ketulusanlah yang lebih berharga.


Ulfa jadi serba salah. Dalam hati ia menggerutu mengapa Laras mau-maunya berteman dengan Ares? Ah, lebih tepatnya ingin mendekati Ares dengan tujuan dijadikan pacar. Bisakah Laras sadar sedikit? Ares itu orang miskin berkasta rendah. Berbeda dengan Laras atau Ulfa yang memang dari kalangan berada.


”Dia emang bukan orang kaya Ul, tapi dia punya ketulusan yang kita sendiri nggak punya. Dan lu..” ucap Laras lalu menatap Ulfa lurus dan sedikit tajam. ”Lu nggak tau apa itu ketulusan.” ucap Laras menohok. Kalau saja Laras bukanlah teman bisnis sang ayah, Ulfa sudah pasti menampar mulut Laras yang pedas seperti cabai itu.


Keanu bergabung dengan tim sepak bola di lapangan. Tentu karena disini juga ada Barra. ”Hah? Lu bisa main bola juga emang?” cetus Ares tidak percaya. Kapan terakhir kali Ares melihat Keanu bermain bola di sekolah ini? Tidak pernah! ”Ngeremehin gue?” sahut Keanu. Ia pun tersenyum miring. ”Kita duel,” ucap Keanu. Lalu, melirik ke arah Barra sebentar.


Oemar berpindah tugas menjadi wasit. Ini adalah pertandingan sengit antar dua buaya. Hehe, buaya darat, batin Oemar. Skor antara tim Ares dan Keanu adalah seri. Ini sungguh di luar dugaan Ares kalau Keanu bisa bermain sepandai dan sebaik itu.


Di menit-menit terakhir Keanu tersenyum remeh. Ia pun berlari dengan kencang mencover bola sampai ke gawang. ”Yes!” seru Keanu. Pertandingan pun dimenangkan oleh Keanu. Namun, ada satu hal yang terjadi yang membuat Keanu panik bukan main. Entah bagaimana ceritanya kacamatanya terjatuh. Pun behelnya terlepas.


Keanu langsung menunduk dan menutup wajahnya. Ia ambil kacamata serta behelnya yang terlepas tadi. Ia langsung masuk ke dalam toilet. ”Tuh anak dasar ya,” seru Ares sebal. Ares bukan pengecut. Tapi, sikap Keanu barusan yang tiba-tiba pergi begitu saja dikarenakan kacamata serta behelnya terlepas itu membuat Ares seolah-olah seperti seorang pembuli saja. Oh tuhan, Ares bukanlah Adithama.


Keanu mencoba menangkan diri. Ia mencuci muka supaya terasa lebih segar lagi setelah berpanas-panasan dan berkeringat karena bermain bola dalam waktu yang cukup lama. Semoga Barra tidak mengenali Keanu, batin Keanu.


Keanu merapikan rambutnya yang berantakan. Lalu, ia pasang kembali kacamata serta behel miliknya. Tujuan Keanu sebenarnya apa? Sampai-sampai ia harus menyamar menjadi seorang remaja yang culun dan cupu. Hah, Keanu menghela nafas.


Keanu itu menyukai ketenangan. Cukup di masa SMP nya saja kehidupannya terusik sampai-sampai ada seseorang yang nekad meneror Keanu untuk memaksa Keanu menerima perasaan gadis tersebut. Setampan itukah Keanu?


Pernahkah kalian mendengar istilah seseorang yang memiliki karisma yang kuat? Meskipun wajahnya tidak tampan sekalipun? Ya, itulah Keanu. Keanu berkulit putih tapi tidak pucat. Terlihat segar dan sehat. Keanu memang memiliki wajah yang terkesan cantik. Tapi, Keanu tidak kemayu ataupun lemah. Badan Keanu juga tidak terlalu tinggi. Sekitar 165cm saja.


Badan Keanu juga berotot dengan pahatan-pahatan indah dan sempurna di bagian perut. Suara Keanu juga terdengar berat sekali. Ini berbanding terbalik dengan wajah cantiknya yang putih bersih. Ingat! Keanu itu tidak kemayu dan lemah seperti lelaki cantik pada umumnya! Melainkan sosok lelaki yang kuat dan penuh pesona! Berkarisma!


Sudut mata Adithama mulai menyipit ketika ia mendapat pesan di whatsapp. Ini mengenai informasi tentang seorang gadis yang sengaja mengaku-ngaku telah dihamili oleh dirinya. Berita ini pun langsung menyebar di sekolah. Tentu berita ini sudah mencemarkan nama baik Adithama dan Adithama pun menjadi bahan gunjingan dimana-mana.


Adithama tersenyum miring. Senyumannya sedikit mengerikan. Mungkin Adithama sudah menyiapkan siasat jahat di balik senyuman misteriusnya itu. ”Hmm,” gumam Adithama memikirkan sesuatu.


Pada sore hari Adithama mengenakan pakaian serba hitam. Pun topi serta masker berwarna hitam. Noah heran. Kemana Adithama ingin pergi dengan pakaian seperti itu? Noah pun menghubungi orang suruhannya dan meminta orang itu untuk mengikuti kemana pun Adithama pergi.


Setelah dirasa situasinya cukup aman. Ia pun mulai menampakkan diri. Gadis itu terkejut bukan melihat Adithama datang kemari. Tatapan Adithama menggelap. Tatapan menakutkan itu ia berikan pada gadis yang saat ini tengah ketakutan. Semengerikan itukah tatapan seorang Adithama?


Ingin gadis itu mundur. Namun, tidak ruang baginya untuk mundur. Gadis itu malah bergeser ke sudut dinding. Ia terpojok. Adithama tersenyum kemenangan. Ia senang melihat gadis itu nampak ketakutan. ”Bilang jujur ke gue.. Apa alesan lu nyebarin gosip yang nggak-nggak?” seru Adithama semakin mendekati gadis itu.


Jangan-jangan orang ini pembunuh, batin gadis itu. Gadis itu tidak mengenal Adithama sama sekali. Ia hanya dibayar untuk mengaku-ngaku kalau Adithama lah yang sudah menghamili dirinya. ”Hmm? Lu lagi hamil, kan? Ato.. Gue kirim anak lu ke surga sekarang?” ancam Adithama mencengkeram dagu gadis itu. Gadis itu pun meringis.


”Lep-lepasin,” pinta gadis itu. Adithama memang tidak sepenuhnya mengekek, melainkan hanya mencengkeram dagunya saja kuat-kuat. Namun, tetap saja itu terasa sakit dan menyesakkan. ”BILANG KE GUE SIAPA YANG UDAH BAYAR LO HAH! DASAR J4L4N9 B*NGSAT!!!” teriak Adithama berapi-api. Gadis itu semakin ketakutan.


”Sa-sa—” belum sempat gadis itu menjawab nama orang yang sudah membayar dirinya atas apa yang sudah ia perbuat. Adithama jatuh pingsan lantaran ada seseorang di belakangnya menusukkan jarum berisi obat bius di leher Adithama.


Pria itu berkacamata. Pria itu pun menahan tubuh Adithama supaya tidak ambruk ke lantai. ”Maaf, sudah mengganggu.” ucap pria itu. Terdengar tenang dan sedikit perasaan menyesal? Ketakutan gadis itu pun perlahan-lahan menghilang ketika pria itu memberikan kartu namanya.


”Nanti ada orang saya dateng kesini. Saya yang akan tanggung jawab atas semua kebutuhan bayi kamu nanti dan saya bakalan kasih dia tunjangan sampai lulus SMA. Tapi, tolong kamu jujur dan jelasin semua kebenaran yang Adithama pengen.”


Gadis itu mengangguk paham. Pria itu pun segera keluar dari rumah gadis itu. Setelah pria berkacamata itu pergi. Gadis itu pun langsng melihat kartu nama yang diberikan oleh pria tadi. CEO Noah Pangestu, begitulah namanya tertulis di kartu nama ini.


”Tumben masak banyak bu?” seru Badrun heran. Tidak ada angin tidak ada hujan. Camilla memasak beberapa menu tidak seperti biasanya yang hanya satu menu saja untuk sekali makan. ”Tadi, nak Rakha nelpon, katanya mau kesini ada yang diobrolin.”


”Hmm gitu~” sahut Badrun. Ia pun iseng mengambil satu bakwan jagung buatan sang istri. ”Bapak!” seru Camilla mencubit pinggul sang suami. ”Satu lagi ya bu~ Hehehe.” ucap Badrun mengambil satu bakwan jagung lagi dengan cepat sebelum Camilla benar-benar bertanduk.


”Bapak! Ya allah~” protes Camilla. Belum juga yang lain mencobanya, Badrun sudah memakannya terlebih dahulu. Camilla yang membuatnya saja belum mencicipinya sama sekali sedari tadi. ”Mau ngomongin apa ya nak Rakha itu? Perasaan nggak ada masalah deh,” gumam Camilla.


Rakha menunggu di depan pintu gerbang sekolah sambil memainkan ponselnya. Ia tengah menunggu Ares. ”Kak?” seru Ares. ”Lama nunggunya?” tanya Ares sembari mengambil helm yang diberikan oleh Rakha. ”Nggak kok, buat kamu apa sih yang nggak, dek. Hehehe..” ucap Rakha menggoda Ares. ”Huh dasar! Bisa-bisanya ngegombal.. Masih di sekolah ini..” sahut Ares lalu naik ke atas motor.


Kebetulan dari sekolah ke rumah Ares itu hanya berjarak 2KM saja sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa sampai ke rumah Ares. ”Uhm? Kok turun juga? Nggak pulang?” ucap Ares heran. ”Nggak boleh kakak mampir dulu?” Rakha bertanya balik. ”Nggak.. Bukan gitu maksud aku kak..”


”Iya iya sayang~” sahut Rakha sambil mengelus pucuk kepala Ares.


”Assalamu'alaikum,” ucap Ares dan Rakha berbarengan.


”Wa'alaikumussalam,” sahut Badrun dan Camilla pun bersamaan jua.


”Nak Rakha silahkan duduk disini.. Ares, kamu ganti baju dulu. Bau itu.” ucap Camilla.


”Inak~” sahut Ares. Ugh, suka sekali ibunya ini menggoda Ares. Mana ada seragam Ares bau tidak sedap. Di kamar, Ares mencium aroma seragam yang ia kenakan. Ah, benar saja, aromanya memang kurang sedap. Ah, ini pasti karena Ares habis bermain sepak bola di sekolah tadi.


”Tunggu tunggu.. Tadi Kak Rakha jangan-jangan keciuman bau seragam gue? Diiiiiihhhh nggak banget ampun deh.” gumam Ares menggerutu.


***


Jujur saja gue nggak dapet royalti apapun setelah nulis chapteran di novel toon. Dari data royalti yang masuk itu cuma 400 rupiah dan itu data hampir satu tahun lalu. Itu artinya nggak ada masuk lagi ampe sekarang 1 rupiah pun. Eh? Kenapa kok masih tetep nulis? Sekedar hobi aja~ Hehe