![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Senyuman Adithama merekah seketika tatkala ia berinteraksi dengan anak-anak di jalanan. Ia bahkan bertos ria dan mengusap kepala anak-anak tersebut. “Bisa juga tuh orang senyum? Gue kira bisanya ketus mulu.“ batin Ares.
Saat ini keduanya tengah membagikan siomay yang sudah dibungkus tadi kepada orang-orang yang membutuhkan. Begitu mulia hati Adithama, batin Ares. Meskipun dari luar ia terlihat sangar dan selalu saja bersikap kasar. Pepatah seburuk-buruknya orang pasti ada baiknya ternyata benar. Andai Adithama adalah seorang perempuan, mungkin Ares akan jatuh cinta padanya.
“Kenapa lu liat-liat?“ seru Adithama dengan raut muka datar seperti semula.
“Gak. Ngapain gue liatin elu. Kurang kerjaan banget.“ ucap Ares berkilah. Ia tidak ingin Adithama tau kalau sesungguhnya Ares sedikit kagum, dan terharu mungkin? Kalau tidak Adithama pasti akan lebih bangga diri dan semena-mena pada dirinya.
“Ngapain lu kesini?“ seru Ares ketika mobil Adithama singgah di salah satu toko mainan anak-anak.
“Gue mo beliin mainan buat adek lo.“ ucap Adithama tanpa menoleh. “Lo tunggu disini. Nggak usah kemana-kemana.“ ucap Adithama lagi penuh penekanan.
“Siapa juga yang mo turun ckckck.“ gerutu Ares.
Setelah membeli seabrek mainan dan boneka, Adithama pun masuk ke dalam mobil, lalu kembali menyetir menuju rumah sakit. Ares sempat tercengang karena Adithama membeli mainan begitu banyak. Ayolah adik Ares itu satu orang saja. Tapi, ini seperti mainan untuk lima orang.
Ares dan Adithama masuk ke dalam rumah sakit menuju ruangan adik Ares dirawat. Tebak siapa yang membawa mainan yang baru saja dibeli oleh Adithama? Yap, betul. Ares lah yang menenteng plastik-plastik besar berisi mainan. Adithama? Mana dia peduli. Bahkan Adithama malah tebar pesona kepada setiap suster yang lewat.
Dalam hati Ares mengutuk Adithama keras-keras. Dasar iblis wujud manusia, batin Ares kesal dengan bibir yang sengaja ia manyunkan. “Assalamu'alaikum.“ ucap Ares masuk ke dalam diikuti oleh Adithama.
“Duh Ares? Kamu ngapain bawa mainan kok banyak kek gini?“ seru Vera melongo.
“Ini Ad yang beliin Inak. Nih.“ sahut Ares malas sambil menunjuk pria jangkung di sebelahnya.
“Temen Ares?“
“Iya bu.. Saya Adithama.. Bisa dipanggil Ad aja.“
“Nggak usah repot repot nak Ad..“
“Nggak papa bu.. Rezeki buat Icha.“
Ares memberikan mainan yang dibelikan oleh Adithama tadi pada Icha. Icha sangat senang. Kedua matanya berbinar. Ini pertama kalinya bagi Icha mempunyai banyak mainan dan tentunya dengan harga yang tidak murah.
“Bilang makasih dulu sama om Ad nya.“ ucap Ares.
“Ma-a-tih om Et.“ ucap Icha masih belum fasih berbicara. Adithama tersenyum lalu mengacak-acak rambut Icha. Di luar dugaan Icha langsung cemberut dan menata rambutnya kembali dengan jari jemarinya yang masih kecil nan mungil.
Adithama sedikit terkejut melihat reaksi Icha. “Uhm.. Maafin Icha ya Ad? Dia itu paling nggak suka rambutnya diberantakin. Katanya nggak cantik lagi hehe.“ ucap Vera dan Adithama pun maklum saja.
“Kan om nya sayang sama Icha? Kok gitu sih?“ tanya Ares sengaja, karena ia ingin melihat reaksi aneh Icha pada Ares. Ares menatap Adithama sebentar sambil tersenyum jahat. Adithama? Datar sekali tanpa ekspresi. Dasar manusia batu, batin Ares.
“Om Et jahat.“ ucap Icha.
“Pfttt.“ Ares menahan tawa.
“Ares.. Kamu tuh ya ngajarin adeknya yang baik-baik dong..“ tegur Vera. Ares langsung diam.
“Minggir.“ ucap Adithama dingin.
“Paan?“ sahut Ares.
“Gue bilang minggir.“
Ares pun terpaksa menjauh dari Icha. Mengapa Adithama begitu ketus padanya? Sedangkan pada orang lain ia lebih ramah dan lemah lembut. Ares menyipitkan mata curiga. Kalau dipikir-pikir Ares tidak sepenuhnya menjadi babu Adithama. Hal ini bisa dilihat dari sisi lain yang dimiliki oleh Adithama, yaitu sifat penyayang dan mudah bergaulnya. Kalau Adithama penyayang dan mudah bergaul, bagaimana bisa ia seperti itu pada Ares? Mungkin Adithama memiliki kepribadian ganda, batin Ares.
Batin Rakha gelisah. Ini sudah pukul 7 malam. Namun, tidak ada tanda-tanda Ami akan pulang. Ia pun mengambil jaket dan kunci motor. Berniat menyusul Ami ke rumah mertuanya. Bagaimana pun nanti perlakuan ibu mertua Rakha, Rakha pasti terima. Tidak ada alasan baginya untuk takut, karena Ami adalah istri dan tanggung jawabnya.
Malam ini cuaca sedikit mendung. Gemuruh petir mulai sedikit terdengar. Rakha pun semakin melakukan motornya. Ia pun akhirnya tiba di depan pintu gerbang rumah mertuanya. Pintu gerbang putih tinggi dan amat besar. Maling pun mungkin tidak akan mampu untuk memanjat.
Seorang satpam menghampiri. “Pak.. Boleh saya masuk?“ tanya Rakha harap-harap cemas. “Maaf Pak Rakha.. Saya tidak bisa mempersilahkan bapak masuk ke dalam sesuai pesan Bu Zada.“ ucap si satpam. Rakha tau pasti akan begini jadinya.
“Pak.. Saya mohon.“
“Maaf Pak. Saya tidak bisa.“
“Buka.“ seru Yudi, ayah Ami. Si satpam terdiam sejenak. Ia bingung harus mengikuti perintah Bu Zada atau Pak Yudi. Berada di dua persimpangan jalan yang sama-sama memiliki bahaya membuat si satpam sanksi. “Jangan takut sama anceman istri saya. Saya pemimpin di rumah ini. Kamu nggak bakalan dipecat cuman gara-gara bukain pintu buat Rakha. Cepatan buka.“ kali ini suara Yudi sedikit tegas.
Nyali si satpam menciut. Ia pun menuruti perintah tuannya. Rakha bersyukur, Yudi, bapak mertuanya datang di saat yang tepat. “Ami di dalem.“ ucap Yudi ketika Rakha memasuki halaman rumah. “Makasih ya pak.“ ucap Rakha berterima kasih.
“Ami.. Ini suami kamu dateng..“ seru Yudi. Disana Ami tengah bermain dengan si kecil Bella bersama Zada, ibu mertua Rakha. Ami tertegun melihat keberanian Rakha kemari. Lihatlah sorot mata tidak suka Zada ketika Rakha mendekat.
Rakha duduk di samping Ami. Perasaan Ami bercampur aduk antara kesal dan tak enak hati. Sebegitu tulusnya hati Rakha mau menghampirinya kemari. “Sayang..“ seru Rakha mengusap tapak tangan bagian atas Ami.
Suara Rakha begitu membuat candu. Selalu terdengar lembut dan sabar. “Mas nggak larang kamu liburan pake uang bapak sama ibu.. Mas cuma minta kamu pulang ya sayang? Mas nggak bisa tanpa kamu sayang. Hm? Kasian Bella.“
Ami diam dengan kepala sedikit menunduk. Kasih sayang Rakha tidak terkira pada satu-satunya ratu di hatinya, yaitu Ami. “Aku nggak papa liburan sama temen? Pake uang papa mama?“ ucap Ami mendongakkan kepala sedikit, menatap kedua manik mata Rakha.
“Nggak papa.. Tapi mas mohon.. Lain kali tolong sabar yah? Mas bakalan berusaha nabung buat kamu, buat Bella.“ ucap Rakha tersenyum sambil mengusap rambut Ami lembut.
Sungguh luar biasa bahagia ketika seorang Ami luluh hatinya. Rakha benar-benar sangat bersyukur kepada tuhan karena telah mengabulkan do'anya. Rakha percaya perlahan tapi pasti Ami akan berubah menjadi seorang istri yang lebih penurut dan sabar. Tidak ada kata lelah untuk selalu membimbing istri ke jalan yang benar.
Ami dan Rakha salat isya bersama. Seperti biasa ia akan selalu membingbing Ami untuk belajar membaca al qur'an, meski Ami sendiri belum fasih dan terkesan masih terbata-bata. Tidak apa. Hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha.
Sesekali Rakha menyentil dahi sang istri, ketika sang istri mulai menyerah karena selalu saja salah dalam membaca huruf. Katanya “Enakan bahasa inggris.“. Apakah Rakha lantas marah atau menghina sang istri? Tidak. Rakha malah tertawa karena Ami terlihat lucu ketika menggerutu seperti itu. Menggemaskan seperti anak kecil.
“Maaaaaaaas.“ teriak Ami langsung memeluk Rakha yang sudah sampai di ambang pintu, yang hendak berangkat ke kantor. Ami memonyong-monyongkan bibir minta dicium. “Nggak.. Kamu belom sikat gigi.. Bau ah.. Mas nggak mau hehe.“ goda Rakha. Ami memberengut. Rakha yang gemas pun akhirnya langsung mencubit kedua pipi Ami.
“Iiih mwaas apaaan swiiiih nantwi uwaaaku tembweeem.“
“Biarin~ Kan mas puas gigitnya ntar hehehehehe.“ Rakha tertawa jahat di ujung kalimat.
“Mas mau berangkat dulu ya dek.. Takut telat. Muach.“ Rakha mencium kening sang istri.
“Mas-mas..“
“Hm?“
“Uhm.. Ntar beliin siomay yang kita makan di taman waktu itu yah? Yah yah yah?“
“Iya.. Ya udah mas berangkat dulu.. Assalamu'alaikum.“
Barra membeli sebotol susu rasa coklat untuk Ares. Ia berjalan menuju kelas Ares sambil senyum-senyum memandangi susu yang ia beli. Aneh bukan? Hanya dengan melihat sebotol susu saja mampu membuat seorang Barra tersenyum sumringah.
Ia melihat Ares tengah berbincang-bincang dengan teman sebangku. Ia pun masuk ke dalam dan langsung duduk di hadapan Ares. Lalu, memberikan sebotol susu yang ia beli tadi. Tiba-tiba seseorang juga meletakkan sebotol minuman rasa anggur. Hingga Barra pun saling tatap menatap tajam dengan orang tersebut.
“Gue udah duluan ya ngasih dia.“ seru Barra.
“Oh?“ Adithama mengangkat sebelah alis lalu tersenyum miring.
Dasar muka dua, batin Barra. Barra menatapnya sengit. Ini seperti peperangan antar lelaki yang akan dimulai sebentar lagi. Bahkan asap kemarahan itu kian membumbung tinggi. Ares yang duduk pun heran melihat tingkah absurd dua temannya ini. Seperti anak kecil saja, batin Ares.
“Lu ngasih dia ginian? Bosenin.“ hardik Adithama. “Minum. Kalo nggak.. Gue bakalan sebarin foto-foto lu.“ ancam Adithama. Entah sampai kapan Adithama selalu menjadikan foto-foto itu sebagai tameng supaya Ares selalu menuruti perintahnya.
“Foto-foto? Foto apaan Res?“ seru Barra penasaran. Muka Ares mendadak pias. Ares tidak ingin Barra mengetahui yang sebenarnya.
“Bukan urusan lu.“ timpal Adithama. Ia pun langsung menarik tangan Ares dengan kasar. “Ikut gue.“ perintahnya lagi dengan muka datar seperti biasanya. Hah, Ares menghela nafas. “Sorry ya Bar..“ ucap Ares tidak enak hati. Ares pun berdiri. Namun, Adithama langsung menariknya begitu saja hingga lutut Ares sempat menubruk kaki meja.
“Heh.“ Barra tidak habis pikir. Bagaimana bisa Adithama bertindak bar-bar seperti itu? Siapa dia? Sampai-sampai memperlakukan Ares seperti peliharaannya saja yang tidak boleh disentuh oleh siapapun.
“Lu mau bawa gue kemana sih Ad?“ protes Ares. Adithama tidak mau tau, yang ia tau ia hanya menarik tangan Ares begitu saja. Banyak pasang mata melihat mereka. Kini Ares seperti anak kecil yang dibawa pulang paksa oleh ibunya.
“Ad lepasin Ad.“ pinta Ares. Adithama menulis seolah-olah perkataan Ares seperti angin lalu saja.
Adithama membawa Ares ke tempat sepi di sekolah tersebut. Tepatnya di ruangan-ruangan yang tidak terpakai dan terbengkalai. Adithama mendorong Ares dengan kasar di tembok. Sorot mata Adithama menyala-nyala dan terlihat ngeri. Namun, tidak membuat Ares takut sama sekali.
Dadanya naik turun menandakan emosinya yang semakin berkobar di dalam sana. “Gue gak suka lu deket-deket sama Barra.“ ucap Adithama dingin dengan tatapan mata tajam yang menelanjangi.
“Lu nggak berhak larang gue buat deket sama siapapun.“ kali ini Ares tidak kalah tajam dan sengit. Kedua alisnya bahkan menukik tajam.
“Gue berhak Ares.“
“Atas dasar apa Ad? Lu bukan siapa-siapa gue.“
Adithama semakin geram. Ia pun langsung mengecup bibir Ares. Semula kecupan kecil itu berubah menjadi sebuah kecupan yang menuntut. Ares membelalakkan mata kaget. Ia tidak terima. “Heh heh heh.“ Ares ngos-ngosan. Ia mendorong paksa Adithama. “LU?!“ geram Ares.
“Mulai dari sekarang jangan deketin gue lagi. Mau lu sebarin foto-foto gue, terserah lu. Gue gak takut.“
Ares pergi meninggalkan Adithama sendiri. Ini adalah hal yang paling Adithama benci, yaitu ketika orang lain tidak lagi merasa takut pada dirinya bahkan dengan ancaman yang mampu menghancurkan hidup orang tersebut sekalipun.
Kemarahan Adithama menjadi-jadi. Ia bahkan sengaja memukulkan tangannya sendiri ke tembok hingga berdarah. “Liat aja Ares.“ gumamnya. Demi apapun Adithama akan menghancurkan Ares sampai ke akar. Ia ingin Ares berlutut minta ampun.