![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Hari libur di hari minggu memang saatnya bagi Ares untuk berlibur jua bersama keluarga. Kedua orang tua Ares melarang Ares bekerja di hari minggu, karena mereka selalu berpesan, supaya Ares membawa kedua adiknya Bayan dan Icha liburan di destinasi wisata terdekat.
Sementara Badrun dan Camilla bekerja. Saat ini Ares dan kedua adiknya tengah berada di Pantai Penghulu Agung. Ingin Ares bisa berlibur satu keluarga penuh. Namun, Badrun dan Camilla selalu saja lebih mengutamakan kebahagiaan anak sendiri dibandingkan diri mereka sendiri.
Bayan dan Icha berlarian tidak tentu arah. “Hati-hati..“ tegur Ares. Ia pun mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Ares hanyalah orang biasa, yang juga ingin bisa berselfie ria layaknya anak muda jaman sekarang. Ia pun mulai menyalakan kamera depan ponselnya. Namun, kedua alisnya seketika mengkerut.
Di dalam kamera sana nampak seorang lelaki tengah berdiri dengan kaos oblong serta kemeja lengan pendek yang sengaja tidak dikancing. Pun celana putih selutut sambil kedua tangan ia masukkan ke dalam saku. Ares memutar badan. Ia menatap lelaki itu tidak suka.
“Cih.“ cibir Ares. Untuk apa Adithama datang kemari? Raut muka sok ganteng dan sok pahlawan? Ugh, ingin Ares balas memukul Adithama sampai babak belur. Tapi, Ares juga tidak ingin berurusan dengan polisi. Hah, andai hukum di Indonesia membolehkan memukuli orang yang dibenci, Ares sudah pasti akan memukuli Adithama sedari tadi.
“Ngeliatinnya jangan gitu amat.. Nanti malah suka lagi..“ ucap Adithama. Ares mendengus. Percaya diri sekali Adithama ini. Memangnya dari mana dia bisa mendapatkan kepercayaan diri seperti itu? Sudah begitu ia juga berandal sekolah yang ditakuti. Lalu, apa yang patut dibanggakan dari seorang Adithama? Wajah? Wajah tampan saja apa gunanya kalau tidak dibarengi dengan perilaku yang baik.
Adithama mendekati Ares perlahan lalu meraih ponsel Ares dari tangan Ares sendiri. Adithama malah berselfie ria sendirian dengan ponsel pemberiannya sendiri. Terlihat raut muka Ares yang amat sangat tidak bersahabat.
“Lu ngapain kesini?“ tanya Ares. Adithama pun melempar ponsel di tangannya pada Ares. Beruntung Ares mampu menangkapnya dengan cepat dan tepat. Salah sedikit saja mungkin ponsel ini akan tercebur ke air.
“Terserah gue lah kaki-kaki gue. Masalah buat lu?“
“Lu bisa nggak sih nggak berulah Ad? Lu udah nyakitin banyak orang tau.“
“Gue gak perlu jadi orang baik supaya orang lain suka sama gue. Buat apa? Biar apa?“
Ares diam. “Gue cuman mau refreshing kesini dan lu masih protes? Lu liat sekarang gue lagi ngapain.. Lagi ngeroyok orang, hah?“
Ares jadi serba salah. “Terserah lu. Gue gak peduli.“ sahut Ares tidak ingin ambil pusing. Ia pun lebih memilih menghampiri adik-adiknya yang tengah bermain pasir dan kerang. Ares tidak ingin memperdulikan kehadiran Adithama. Anggap saja dia tidak ada disini. Beres, kan?
Saat Ares tengah asyik bermain pasir bersama Bayan dan Icha. Sejenak ia merasa heran, mengapa Adithama tidak bersuara sama sekali? Ares pun menoleh ke belakang. Ia melihat Adithama berdiri menghadap pantai. Dari sorot matanya seperti Adithama tengah menyimpan beban berat. Sorot mata yang menggambarkan sebuah kehampaan tanpa rasa. Mikir apa sih gue?, batin Ares. Ia pun berusaha untuk tidak peduli.
Setelah mengunjungi Pantai Penghulu Agung. Selanjutnya Ares menuju Pantai Loang Baloq. Selain bisa menikmati keindahan pantai disini, Ares dan kedua adiknya juga bisa sekalian berziarah ke makam salah seorang imam besar.
Ugh, Ares tidak menyangka kalau di Mataram banyak sekali tempat-tempat indah seperti ini. Meskipun ia tidak bisa banyak berbelanja seperti pengunjung lainnya. Setidaknya dengan membawa kedua adiknya ke beberapa tempat wisata mampu membuat hati mereka senang. “Bosen di rumah mulu~“ begitulah protes Icha, adik Ares yang paling kecil.
“Kakak kakak ituuuuuuu.“ seru Bayan menarik-narik ujung kaos Ares sambil menunjuk ke salah satu pedagang yang menjual arumanis. “Mau?“ tanya Ares. Bayan mengangguk dengan cepat. “Icha mau juga nggak?“ tanya Ares. Berbeda dengan Bayan yang terlihat sangat antusias. Icha malah menggelengkan kepalanya. Icha berkata, “Nanti giginya lusak.“ ucap Icha.
Ares tersenyum melihat sang adik yang terlihat sangat cerdas, mengetahui mana baik dan buruk di usia yang masih kecil. Ares pun menggandeng kedua adiknya menuju ke salah satu pedagang arumanis. “Icha mau apa?“ tanya Ares. Icha pun melirik kiri dan kanan. Ia meneliti seluruh pedagang yang berjejer di pinggir jalan. Icha mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di depan bibir. Icha bingung.
“Hmm..“ gumam Icha dengan kedua alis saling bertautan. Ares terkekeh pelan. Lucu sekali Icha ini di saat ia kebingungan seperti ini. “Es krim gimana? Mau?“ tanya Ares. Kedua mata Icha berbinar seketika. Ia mendongak menatap Ares sambil menunjukkan puppy eyes-nya dengan bibir yang sengaja ia monyong-monyongkan. Saking gemasnya Ares pun mengacak-acak pucuk kepala Icha.
Bayan melihat-lihat ke seluruh penjuru tempat ia berdiri. Tiba-tiba kedua matanya menangkap sosok anak kecil laki-laki yang duduk sendirian dengan raut muka cemberut. Bayan pun melepaskan genggaman tangannya dari Ares dan berlari menuju anak kecil tersebut. “Bayan!“ seru Ares. Ares kaget karena Bayan berlari begitu saja. Ares pun menghembuskan nafas lega karena Bayan menyusul seorang anak kecil laki-laki tidak jauh dari dirinya.
Bayan ikut-ikutan duduk di sebelah anak kecil itu. Anak kecil yang belum ia ketahui namanya itu menunduk sedih. Ugh, Bayan tidak suka melihat orang lain sedih. “Kamu kenapa?“ tanya Bayan. Kalau dilihat-lihat anak kecil di samping Bayan ini tidak jauh beda usianya dengan Bayan.
Anak kecil itu pun menoleh. Kedua matanya sembap. Ugh, Bayan tidak suka melihat orang lain menangis. Ia pun mengusap sudut mata anak kecil itu. “Nama aku Bayan. Kalo kamu siapa?“ tanya Bayan. “Huaaaaa matanya biru!“ seru Bayan ketika ia melihat dia bola mata anak itu yang jernih kebiru-biruan. Baru pertama kali dalam hidup Bayan melihat anak kecil dengan bola mata berwarna kebiru-biruan.
Lagi-lagi Bayan tersenyum lebar. Jayden ini sangat keren dan tampan, batin Bayan. “Ma-ma-ka-sih.“ ucap Jayden sedikit terbata-bata. Ia belum terlalu fasih berbahasa indonesia, lantaran ia baru beberapa bulan tinggal di indonesia setelah seluruh keluarganya memutuskan untuk pundah kesini dari Amerika.
“Kata inak.. Anak kecil itu harus sering-sering senyum loh! Ayok senyum!“ seru Bayan bersemangat. Jayden menatap Bayan lamat-lamat. Ia masih mencerna perkataan Bayan barusan. Oh! Ternyata Bayan meminta Jayden untuk tersenyum. Jayden pun tersenyum dan menunjukkan gigi-giginya yang rapi dan putih bersih.
“Bayan.. Kamu lagi ngobrol sama siapa?“ tanya Ares menghampiri Bayan setelah menemani Icha membeli es krim. Dengan bangganya Bayan pun menjawab, “Dia temen baru Bayan! Namanya Jayden!“
“Jayden?“ gumam Ares melirik anak kecil bernama Jayden itu. Ugh, tampan sekali anak kecil ini. Kalau dilihat dari wajah tidak salah lagi. Pasti anak kecil ini keturunan bule. Hmm mana ya orang tuanya? Kenapa anak kecil seperti Jayden ini ditinggal sendirian?
“Maaf tuan muda.. Saya lama..“ seru seseorang berteman jas lengkap. Tuan muda? Siapa gerangan anak kecil ini sampai-sampai harus dipanggil anak muda? Pria itu menganggukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat pada Ares untuk menyapa.
“Ayo tuan muda kita pulang.“ ucap pria itu. Jayden pun turun dari tempat ia duduk dengan raut muka cemberut. Sebelum ia benar-benar pergi. Ia pun menghampiri Bayan. Jayden memberikan sebuah kalung dengan permata berwarna merah menyala. Terlihat sangat cantik dan berkilauan. Pria dengan tubuh yang sangat tinggi itu terlihat menyipitkan mata dengan kedua alis yang sedikit mengkerut. Dalam hati, pria itu sungguh heran mengapa tuan mudanya memberikan kalung yang amat sangat berharga kepada anak kecil yang baru saja ia kenal? Tentu ia tidak mempermasalahkan hal itu, karena keluarga Jayden cukup kaya raya untuk membeli puluhan atau bahkan ratusan baru permata sekalipun.
Ares sempat tertegun. Kalau dilihat-lihat anak kecil ini adalah orang berada. Stelan jas pengawalnya saja terlihat sangat mahal. Apalagi pakaian yang dikenakan oleh anak kecil itu. Lihatlah mobil hitam mentereng yang terparkir di jalan sana. Cukup jelas menggambarkan seberapa kaya rayanya seorang Jayden.
Saat Jayden sampai di ambang pintu mobil. Ia pun menoleh ke belakang. Menatap Bayan dari kejauhan. Ares, Bayan, dan Icha juga ikut menoleh. Senyuman tipis terukir di bibir Jayden. Karena jarak yang terlalu jauh, mereka tidak mungkin melihat senyuman itu. Tidak lama kemudian mobil Jayden pun melesat.
“Jaga baik-baik ya hadiahnya~“ ucap Ares memberikan kalung itu pada Bayan. Ia penasaran dengan kalung yang diberikan oleh anak kecil bernama Jayden barusan. Permata merahnya sangat indah. Sedangkan di kerangkanya terdapat tulisan 'Jayden. S'. Mungkin huruf S disini adalah marga dari keluarga Jayden sendiri.
Ami menggeliat. Tubuhnya terasa lengket dan pegal. Ugh, kenapa kepalanya pusing sekali. Ami pun membuka mata perlahan. Tempat ini nampak asing. Tunggu dulu. Ini bukan penginapan Ami dan teman-teman. Lalu, saat ini Ami dimana?, batinnya.
Ami melihat tubuhnya ditutupi selimut panjang. Oh tuhan. Ada apa ini? Apa yang telah terjadi pada Ami? Ami panik. Tidak ada sehelai kainpun menempel. Ami juga merasakan sesuatu yang lain di bawah sana. Terasa lengket dan basah.
Ia pun meraba-raba ke bawah sana. Ia tarik tangannya dari balik selimut. Betapa kagetnya Ami kalau itu merupakan cairan sp*rma laki-laki. Ia pun menoleh ke samping dan melihat ada seorang pria tidur dengan posisi tengkurap. Apa lagi ini?
“Rakha?" gumam Ami. Tidak. Tidak mungkin. Saat ini Rakha sedang dinas di luar kota. Rakha tidak mungkin ada di Bali. Ami pun membangunkan pria itu. Dan ia malah terkejut kalau pria yang ada di sampingnya kini adalah Irfan.
“Fan.. Lu apain gue?“ tanya Ami menatap nyalang. Irfan duduk dari tidurnya. Irfan diam dan menatap Ami yang juga tengah menatapnya nyalang. Ami pasti marah sekali. “JAWAB FAN! LU APAIN GUE!“ teriak Ami dengan mata menyala-nyala. “Lu mabuk.“ ucap Irfan.
Ami pun memukuli Irfan sekeras yang ia bisa. Ami menangis sejadi-jadinya sambil tidak henti-hentinya memukuli Irfan. Irfan tidak berontak. Ia menerima semua perlakuan Ami padanya saat ini. “Gue bakalan tanggung jawab.“
“Gue udah punya suami.. Punya anak Faaaan.. Kenapa lu tega banget sama gue hiiiiksss.“ Ami sesenggukan sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ini sungguh memalukan. Sangat memalukan. Bagaimana nasib rumah tangga dan keluarganya nanti? Ami tidak bisa membayangkannya.
Irfan memeluk Ami. Irfan sadar kalau ia sendiri juga salah. Tapi, Irfan juga tidak sebrengsek itu. Habis manis sampah dibuang. Irfan bukan orang seperti itu. Ia bersedia bertanggung jawab atas Ami apapun yang terjadi. Ini juga kesalahan Irfan. “Gue bakalan tanggung jawab. Apapun yang terjadi. Gue bakalan tanggung jawab.“
Tangis Ami semakin kencang. Sungguh Ami tidak tau harus bercerita bagaimana dengan keluarga Ami. Ami juga tidak bisa benar-benar menutupi apa yang telah terjadi. Ujian apa lagi ini? Mengapa ini harus terjadi dalam hidup Ami?
Di lain tempat Rakha tersenyum bahagia sambil memandangi kalung emas putih yang ia beli. Saat ini ia tengah berada di dalam pesawat. Ya, hari ini adalah hari kepulangan Rakha ke kota Mataram. Ia sungguh tidak sabar untuk segera bertemu dengan anak istrinya. Semoga mereka baik-baik saja disana, batin Rakha.
***
Spoiler untuk ARES S2 nanti itu Jayden X Bayan ya 😍🥰😘 masih lama sih wkwkwk