![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Rakha mondar-mandir di depan pintu. Ia berkali-kali menelepon Ares namun tidak diangkat sama sekali. Kekhawatiran Rakha pun semakin menjadi-jadi ketika ia mengetahui bahwa ada tawuran di tempat Ares biasa berjualan. Semoga Ares tidak apa-apa, batin Rakha.
"Nih anak kemana sih,” gumam Rakha.
”Assalamu'alaikum,” ucap Ares. Rakha pun langsung membukakan pintu. Ia langsung memeluk Ares. ” Wa'alaikumussalam.. Kamu nggak kenapa-napa, kan?” tanya Rakha cemas. ”Nggak kenapa-napa kok kak.. Emangnya kenapa?” ucap Ares bertanya balik. Ia mampu melihat kegusaran dari raut muka Rakha.
”Tadi kakak liat di fb ada tawuran di tempat kamu biasa jualan. Kamu juga nggak bisa kakak telpon, kenapa coba?”
”Oh itu.. Batere hp aku low kakak~”
”Kamu mandi dulu, abis itu kita solat bareng, baru makan.”
”Hmm,” sahut Ares. Rakha pun tersenyum lalu mengecup kening Ares sekilas. Sambil menunggu Ares selesai mandi untuk salat bersama, Rakha berkutat dengan laptopnya, mempersiapkan bahan untuk rapat besok pagi.
Di meja makan Ares dan Rakha makan dengan tenang. Mereka juga bercakap-cakap ringan. Saling berkenalan satu sama lain. Satu hal yang membuat Ares penasaran. Berapa umur Rakha sekarang? Ugh, bohong sekali kalau Ares hanya ingin tau umur saja. Namun, Ares juga tidak ingin dicap terlalu mengorek-ngorek informasi. Jadi, biarkan saja ia dan Rakha saling mengenal sedikit demi sedikit dan mengalir apa adanya.
”Uhm.. Umur kakak sekarang berapa?”
”Menurut kamu umur kakak berapa?” sahut Rakha sambil menyuap makanan sekaligus menatap Ares bersamaan.
”25?”
”Salah.. 29 Ares~”
”Oh~”
”Udah tua yah? Jauh banget dong selisihnya sama kamu? Hehehe masih mau sama yang tua kayak kakak???”
”Apaan sih kak~ Trus masalah gitu kalo kakak udah tua 29? Nggak, kan? Pernah nggak denger pepatah cinta nggak memandang usia? Nah, itu dia!”
”Kita beda 13 tahun loh dek~” goda Rakha. Ia sengaja ingin memancing-mancing Ares. Ia gemas sekali tiap kali melihat kedua alis Ares berkerut dan hampir saling bertautan.
”Tau ah rese,” sahut Ares sebal. Rakha pun tertawa. Lihat? Menggemaskan, bukan?
Ares dan Rakha mencuci piring bersama. Raut muka Ares mendadak memerah tatkala ia mengingat kembali kejadian waktu itu di dapur, yang dimana Rakha mengecup bibirnya dengan sensual. ”Kok mukanya merah?” seru Rakha. Oh tuhan, mengapa Rakha bisa sepeka itu?
”Mau kakak cium lagi?” ucap Rakha mendekatkan wajahnya sambil tersenyum penuh arti. Ares menarik wajahnya ke belakang. Rakha benar-benar menyebalkan. Bagaimana bisa ia menggoda Ares seperti itu? Tolong jangan membuat wajah Ares semakin memerah. Ares tidak sepandai itu mengontrol perasaannya sendiri.
”Apaan sih~” sahut Ares sambil meletakkan piring-piring di rak untuk menitiskan sebelum nanti diletakkan di lemari. ”Kita tidur berdua loh dek~ Nggak takut kamu? Kakak bisa makan orang loh~” ucap Rakha seduktif tepat di telinga Ares. Ares bergidik. Pikirannya jadi kemana-mana. Maksud Rakha berkata seperti itu apa? Memangnya apa yang akan Rakha lakukan pada Ares?
Jujur saja Ares agak panas dingin rebahan persis di sebelah Rakha. Ares meneliti seluruh sudut kamar Rakha. Ia baru menyadari kalau tidak ada lagi satu pun foto mantan istri Rakha menempel di dinding atau bertengger di nakas.
”Jangan tegang, dek. Kakak nggak ngapa-ngapain kok.” ucap Rakha. Jelas sekali kalau Ares terlihat kaku. Ini pertama kali bagi mereka tidur di kasur yang sama setelah mereka menyatakan perasaan masing-masing.
Setelah merebahkan diri, Rakha tidak pantas langsung terlelap begitu saja. Berkomunikasi dengan pasangan terlebih dahulu sebelum tidur adalah keharusan, karena itulah salah satu bentuk perhatian dan kasih sayang. Ketahuilah bahwa uang triliunan itu akan kalah dengan satu perhatian atau lebih dari orang-orang yang kita sayang. Simpel bukan?
”Sini dek,” seru Rakha menepuk-nepuk lengan kirinya supaya Ares rebahan disitu. Ares sempat ragu meskipun pada akhirnya ia menurut jua. Oh tuhan, jangan sampai Rakha mendengar suara detak jantung Ares yang semakin berpacu. Pertama Rakha mengecup kening Ares. Lalu, memulai obrolan ringan seperti pasangan lain pada umumnya.
”Libur sekolahnya berapa lama dek?”
”Setengah bulan,”
”Trus kamu ngapain aja?”
”Kerja,”
”Kerja? Kerja dimana?”
”Oh.. Gimana? Kerasan nggak?”
Ares mengedipkan mata beberapa kali saat jari-jemari Rakha mengusap bibir Ares dengan lembut. Ares jadi salah tingkah. Rakha memang paling bisa. ”Uhm,” gumam Ares mengiyakan. ”Kakak cium yah?” seru Rakha. Sejak kapan Ares berubah menjadi heroin?
Ares mendadak kikuk. Pertanyaan macam apa itu? Rakha ingin mencium Ares? ”Kan tadi udah?” ucap Ares. Jangan sampai Rakha mencium Ares lagi. Bukannya Ares tidak suka atau tidak mau, hanya saja jantungnya selalu saja bersenam ria saat bibir keduanya menyatu. Ugh.
”Belum cukup Ares~” ucap Rakha. Ares diam. Berciuman di atas tempat tidur? Kalau di film-film yang biasa Ares tonton, kalau sudah berciuman di atas tempat tidur, itu artinya bukan hanya sekedar ciuman saja. Tapi.. Ah, Ares tidak ingin berpikiran macam-macam. Ciuman saja. Ya, hanya ciuman saja, batin Ares meyakinkan diri.
Pertama-tama Rakha mengecup kening Ares lama sekali. Lalu, ia kecup kedua mata Ares. Astaga, bukankah ini urutan berciuman untuk melakukan 'itu'?, batin Ares. Jangan jangan jangan. Jangan sampai apa yang Ares bayangkan benar-benar terjadi.
Sambil mengecup kedua belah pipi Ares tangan Rakha juga tidak tinggal diam. Ia telusupkan di balik kaos Ares. Ugh, astaga, kenapa sentuhan-sentuhan kecil ini saja membuat Ares kegelian. Tubuh Ares sedikit bereaksi. Ia menggelinjang sedikit karena sentuhan-sentuhan tangan Rakha yang terasa sangat menggelikan sekaligus nikmat?
Rakha tatap mata Ares sebentar. Lalu, ia pun mengecup bibi Ares. Kini Rakha berada di atas. Ia mengecup bibir Ares dengan sensual. Ciuman itu pun turun ke belakang daun telinga, dagu, lalu kembali ke bibir. Ares merem melek dibuatnya. Ares memegang kedua pundak Rakha. Kaki Ares naik turun merasakan sensasi ketika lidah Rakha mulai menyapu ceruk lehernya.
Kaos yang Ares kenakan semakin naik ke atas. Jari-jemari Rakha menyentil biji kacang Ares sebelah kanan, sedangkan di sebelah kiri Rakha kecup dan isap. ”Eumh!” Ares tidak tahan. Ia sampai meremas bantal yang ada di sampingnya. Kepala Ares sedikit pusing. Ini terlalu nikmat.
Rakha kembali mencium bibir Ares. Rakha pun melepas kaos yang ia kenakan. Ares semakin gugup. Rakha tau itu. Ares itu masih 16 tahun. Rakha tidak akan sekalap itu. Dia pasti tau batasan. Rakha pun membalikkan tubuh Ares hingga kini posisi Ares berasa di atas. Keduanya saling berciuman mengecap air liur masing-masing.
”Aaaaakkkkh,” pekiknya. Apa ini? Mengapa Ares merasakan seperti ada sesuatu menusuk di area bawah sana? ”Kak-kakak ngap-ahiin..?” tanya Ares dengan mata terpejam. Kepalanya sedikit berliuk-liuk kesana kemari saat Rakha menciumi lehernya sana sini.
”Tunggu dulu dek, kamu pasti bakalan suka.” ucap Rakha. Rakha mencoba mencari spot yang dimaksud di artikel yang ia baca tadi. Ugh, dasar, rupanya Rakha sudah mempersiapkan semua ini? Sampai-sampai ia harus membaca artikel terlebih dahulu? Jelas, karena ini pertama kalinya bagi Rakha berhubungan dengan sesama lelaki.
”AH!” kedua mata Ares membola. Ia menggigit bibir bagian bawah. Itu, apa itu? Di bagian itu terasa membuat Ares melayang-layang. ”Euuummmh lagih kak ahhhhh eunggh,”
Ternyata benar apa yang ditulis di artikel itu. Itulah spot ternikmat untuk para lelaki. Rakha memasukkan jari-jemarinya lebih dalam lagi. Ares melolong kenikmatan. Cairan putih itu pun menyembur keluar. Sedikit mengenai wajah Rakha. Ares merasa lega. ”Pegang punya kakak dek,” seru Rakha. Rakha pun mengarahkan tangan Ares untuk memegang miliknya.
”Gerakin naik turun dek,” ucap Rakha. Ares melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh Rakha. Supaya Rakha lebih cepat berada di puncak kenikmatan, ia mengecup bibir Ares lebih liar lagi. Bahkan ia menggigit sudut bibir Ares sampai sedikit berdarah. ”Dikit lagi dek.. Cepehhtiihn lagih.. Eumh,”
”Heuummm argghh euunghhh ah..” Rakha pun akhirnya sampai. Setelah lebih dari 10 menit Ares memainkan tangannya disitu. Sudah cukup permainan Area dan Rakha malam ini. Rakha tidak ingin terlalu terburu-buru. Tunggu Ares lulus sekolah dulu, baru ia melakukan lebih dari itu.
Baru begini saja Ares sudah lemas sekali. Kedua mata Ares terasa berat. ”Tadi.. Ituh apa kak..?” tanya Ares pelan dengan suara sedikit lemah. ”Jari tangan kakak,”
”Hah?” Ares langsung membuka mata menatap Rakha. ”Kok bisa?” ucap Ares sedikit meringis menahan perih. ”Bisa lah dek~ Punya kakak masuk kesana juga bisa.” sahut Rakha membuat Ares langsung membelalakkan mata. Apa? Punya Rakha juga bisa masuk kesana? Jari-jemari Rakha saja sudah cukup membuat area bawah sana terasa perih dan panas. Apalagi kalau punya Rakha yang sebesar itu masuk ke dalam sana? Ares tidak bisa membayangkan kalau itu benar-benar terjadi.
”Jangan takut.. Kakak nggak bakalan seegois itu Ares.. Tunggu kamu lulus sekolah dulu..” ucap Rakha dengan mata terpejam. Ah, rasanya sangat mengantuk sekali. Ares memberengut kesal. Bagaimana bisa Rakha langsung tertidur seperti itu? Ah, sudahlah. Lebih baik Ares ikut tidur juga. Ini sudah malam sekali. Saatnya terlelap dan mengais rezeki nanti di esok hari.
Pagi hari sekali Ares dan Rakha terbangun. Baik Ares ataupun Rakha sama-sama harus bangun pagi-pagi, lantaran keduanya harus berangkat kerja. ”Bareng kakak ya dek,” ucap Rakha. Ares mengangguk. Ia pun naik motor berboncengan dengan Rakha. Tentu Rakha lah yang menyetir.
”Jangan nakal ya dek,” goda Rakha ketika Ares turun dari motor dan memberikan helmnya. ”Cium pipi dulu dek,” pinta Rakha. ”Ah, kakak mah malu-maluin aja. Tempat umum tau.”
”Trus kenapa? Lagian banyak kok yang kek gini. Cium pipi doang adek sayang~”
Ares cemberut. Bisa-bisanya Rakha meminta dicium di tempat umum seperti ini. Kalau ada yang lihat bagaimana? Ugh, mau tidak mau Ares pun menurut. Masa bodoh. Kalaupun ada yang melihat, mereka pasti mengira kalau ini hanyalah dua kakak adik yang saling menebar kasih sayang. Cup. Ares mengecup pipi Rakha sekilas. Ugh, Rakha jadi tambah semangat bekerja.
”Do'ain rezeki kakak lancar trus bisa nikahin kamu nanti dek,”
”Ih apaan sih sana nanti telat lagi,”
”Haha iya iya ini otw.. Assalamu'alaikum.”
”Wa'alaikumussalam.”
***
Pilih ARES [BL] atau COME BACK HOME [BL]? Alasannya?