Adore You!

Adore You!
We're Getting Married : |35| The Last Part



######


Setelah tahu Adeeva hamil, aku menjadi sangat overprotectif, aku tidak membiarkan dia melakukan pekerjaan berat maupun ringan. Entah lah, rasanya tidak rela saja kalau gara-gara kelalaianku Adeeva harus kenapa-kenapa. Jadi, satu-satunya hal yang membuatku tenang, ya tidak membiarkan Adeeva melakukan banyak kegiatan untuk sementara waktu.


"Mas, plis, dong! Aku tahu kamu sayang dan khawatir sama aku mau pun bayi kita. Tapi, bukan berarti kamu harus melarangku melakukan ini-itu dong. Aku bisa mati bosan," keluh Adeeva saat kularang ini dan itu.


"Sementara doang, sayang. Nggak selamanya kok, ya minimal biar kandungan kamu kuat dulu lah. Aku beneran khawatir, yang. Bukannya mau ngekang kamu," bujukku kemudian.


Adeeva mendengkus samar. "Tapi aku bosen loh, Mas."


"Aku telfonin Bang Ferdi, ya? Suruh anter Grace sama Anne ke sini?" tawarku kemudian. Aku buru-buru meraih ponselku dan hendak menghubungi Bang Ferdi, namun ditahan Adeeva.


"Mereka lagi nggak di rumah, Mas. Lagi ke Bogor, main ke rumah Nenek mereka."


"Rafka? Ah, jangan, nanti kamu kecapekan lagi."


Aku menggeleng tegas. Mengundang Rafka ke sini jelas ide yang tidak bagus, itu anak kalau sudah main sama Adeeva sering kali lupa waktu. Jelas itu bukan ide yang bagus.


"Terserah kamu, Mas. Aku mau tidur."


Adeeva berdecak kesal lalu berdiri dan masuk ke dalam kamar. Aku menghela napas pendek lalu berlari kecil, untuk menyusulnya.


"Kamu marah?"


Adeeva berdecak samar. "Enggak, aku tuh cuma gemes sama kamu, Mas. Masa kamu nyuruh aku cuma duduk diem aja, nggak boleh ngapa-ngapain. Kan, kamu tahu sendiri, Mas, aku biasanya sibuk ngurusin kamu, sibuk ini, sibuk itu. Masa sekarang cuma disuruh duduk diem aja. Kan, rasanya enggak enak, Mas."


"Iya, aku tahu, tapi mau gimana lagi. Aku juga nggak punya pilihan. Dokter bilang kandungan kamu masih muda, jadi masih rentan, terus kemarin kamu juga sempet pendarahan. Ya, wajar dong kalau aku harus jagain kamu lebih extra?"


Adeeva melirikku sekilas lalu menghela napas.


"Sayang, aku ngelakuin ini juga buat kamu. Buat kita, buat bayi kita."


"Ya udah, iya."


"Nah, gitu dong. Itu baru istri pinter."


"Tahu lah."


#######


Adeeva sudah mulai melakukan kegiatan seperti biasa. Aku tidak lagi melarangnya melakukan ini dan itu lagi, karena dokter sudah mengizinkan Adeeva melakukan kegiatan seperti biasa. Aku hanya mewanti-wantinya agar lebih hati-hati, sambil sesekali aku membantu meringankan pekerjaan rumahnya. Meski ala kadarnya, setidaknya ia tidak melakukan semua hal sendirian. Aku baru sadar, ternyata pekerjaan seorang istri itu seakan tidak ada habisnya. Mereka semua benar-benar sesosok yang tangguh dan luar biasa.


"Yang, ini udah selesai aku potong-potong sayurnya terus diapain?"


"Cuciin sekalian, terus abis itu siapin piring dan lainnya di meja makan," jawab Adeeva sambil menumis bumbu.


Aku mengangguk paham. Menyuci sayur sesuai perintah, lalu menyerahkan pada Adeeva. Baru setelah itu aku menyiapkan meja makan.


"Sudah selesai nih, sekarang ngapain lagi?"


"Mandi sana!"


"Nanti aja mandinya, masih jam segini."


"Ya udah, terserah kamu. Nonton tv juga boleh."


"Udah nggak ada yang perlu aku bantu?"


"Nggak, ini bentar lagi selesai kok."


Aku mengangguk paham, lalu keluar dari area dapur menuju ruang tengah dan menyalakan televisi. Saat sedang sibuk mencari saluran televisi yang sesuai keinginanku, tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku mengintip siapa si penelfon, yang ternyata Damian. Ngapain dia nelfon pagi-pagi begini, tumben.


"Ya, hallo. Kenapa, Ian?" sapaku saat sambungan terhubung.


"Halo, Ren. Ini gue Damian."


Aku terkekeh geli. "Iya, tahu, ada namanya kok. Gue save nomor lo kok."


"Mau nanya nih gue."


"Nanya apaan?"


"Jam segini udah ada yang jualan es duren belum, ya?"


Aku sontak tertawa saat mendengar pertanyaan yang Damian ajukan. "Jam berapa sih ini?" tanyaku sambil menengok ke arah jam dinding. Waktu baru menunjukkan pukul setengah delapan kurang lima menit. "Masih jam segini, Ian. Gue nggak tahu sih udah ada yang jualan apa belum. Tapi gue rasa belum sih, biasanya ya kalau nggak jam delapan, ya, jam sembilan sih. Ini masih kepagian buat jualan es, Ian. Kenapa sih, pagi-pagi nanyain beginian? Ngidam lo?"


"Hmm, Irin ngidam es duren, abis bangun tidur tadi. Katanya dia abis ngimpi mau minum es duren, tapi nggak jadi gara-gara aku bangunin. Marah-marah dia dari tadi pagi, Rafka aja sampai takut."


"Buset, gitu amat sih bini lo? Ngidam mulu kerjaannya, perasaan dia kemarin abis ngidam dodol Garut, asli dari Garut, juga malah Eva yang ngehabisin. Sekarang minta apa? Es duren? Eh, tunggu, Ian! Katanya ibu hamil nggak boleh makan duren, ya?"


"Boleh kok, gue tadi udah sempet searching."


Aku ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. "Oh, boleh, ya? Gue pikir nggak boleh, soalnya kemarin aku pernah ditegur ibu-ibu gitu pas mau beli durian."


"Mungkin takut panas kali."


"Bisa jadi sih."


"Tapi ini gue harus nyari di mana?"


"Enggak tahu, cari aja di pinggir jalan kali aja udah ada yang jualan. Kalau semisal ketemunya orang jualan durennya, mending beli itu, terus suruh bikinin Mama, es durennya," usulku memberi saran.


"Gitu juga boleh, thanks, ya. Gue tutup. Assalamualaikum!"


"Wa'allaikumussalam."


"Siapa?" tanya Adeeva tiba-tiba muncul di hadapanku.


"Damian," jawabku singkat. "Udah mateng sarapan kita?" sambungku bertanya.


Adeeva mengangguk. "Udah. Ngapain dia nelfon pagi-pagi? Tumben?"


Aku berdiri lalu mengajaknya kembali ke dapur. "Nanya yang jualan es duren di mana."


"Buat apaan?"


"Ya, diminum dong, sayang."


"Pagi-pagi begini?"


"Irin ngidam."


Adeeva mangguk-mangguk paham, sambil ber'oh'ria. Sebelum duduk di kursinya.


"Yang," panggilku.


"Kenapa?"


"Kamu kenapa nggak ngidam kayak Irin?"


Adeeva mengernyit sesaat, lalu tertawa tiba-tiba. "Pertanyaan kamu aneh banget sih, Mas."


"Yang, coba deh kamu inget-inget, selama ini kamu belum pernah ngidam sekalipun loh. Padahal, Irin sering banget lho ngidam ini itu."


"Bukannya malah bagus, ya, Mas. Kan kamu jadi nggak perlu pusing-pusing nurutin ngidamnya aku."


Aku menghela napas pendek. "Tapi kayaknya seru juga kalau kamu sesekali ngidam. Coba deh, kamu pikirin kira-kira pengen apa?"


"Ya, gimana, ya, aku emang nggak pengen sesuatu sih."


"Masa enggak pengen? Pengen makan apa gitu."


"Emang nggak ada, Mas. Ya, udah nanti aku pikirin. Sekarang kamu makan dulu."


"Oke. Cepetan dipikirin ya. Aku udah nggak sabar soalnya."


"Aneh kamu, Mas," decak Adeeva sambil geleng-geleng kepala.


#############


Beberapa bulan kemudian


"Astagfirullah, Mas!"


Aku langsung terlonjak kaget dan bangun dari tidurku saat mendengar suara pekikan Adeeva.


"Kenapa? Kenapa?" tanyaku kebingungan.


Aku celingukan ke arah sekitar dan menemukan Adeeva dengan wajah lelahnya tengah berkecak pinggang kesal. Aku kemudian menoleh ke samping. Zaidan Kalandra, putra kami yang lahir sebulan yang lalu itu masih tertidur pulas di sampingku. Lantas, kenapa Adeeva terlihat sekesal itu?


"Itu si Zaidannya ngompol, kenapa kamunya malah ikutan tidur pules?" omelnya kemudian.


Dengan gerakan sigap, ia kemudian mengambil popok bayi dan mengganti popok basah milik Zaidan.


Aku meringis malu, karena terlalu lelap tertidur jadi tidak menyadari kalau putra kami mengompol. Adeeva memang tidak pernah memakaikan pempers ketika di rumah dan lebih memilih memakaikan popok bayi. Padahal menurutku itu sangat lah tidak efisien, karena bayi kan cenderung sering mengompol sehingga cucian Adeeva jadi semakin banyak. Alhasil, waktu istirahatnya berkurang banyak. Aku pernah menyarankan untuk memakai pempers saja, karena kulit Zaidan bisa dibilang tidak terlalu sensitif, jadi masih memungkinkan untuk memakai pempers sesekali kalau di rumah. Tapi, Adeeva menolaknya, katanya kasian.


"Maaf, yang, Zaidan tidurnya anteng, ya aku nggak tahu kalau dia ternyata ngompol."


"Makanya jangan tidur terus, bangun sana! Cuci muka terus ngapain gitu kek. Jogging juga boleh. Kenapa sekarang kamu pemalas banget sih, Mas?" omelnya snewen.


"Kalau aku jogging, siapa yang jagain Zaidan? Enggak ada kan? Jadi, ya udah, aku mending nggak usah jogging."


"Kamu tidur gitu kok, jagain gimana?"


"Kamu sih, ngomel terus, nih, Zaidan-nya jadi kebangun kan?"


"Biarin. Udah saatnya bangun, Mas. Sana kamu sarapan dulu, aku udah siapin di meja," ucap Adeeva sambil mengangkat tubuh gembul Zaidan agar ia dapat dengan mudah menyusui putra kami.


"Aku mandi aja dulu deh, biar nanti kita makan bareng-bareng."


"Enggak bisa dong, Mas. Makannya gantian, Zaidan udah tidur dari tadi, pasti nanti minta ditemenin main. Nggak bisa kita tinggal, kamu makan dulu aja sana!"


"Ya udah," kataku pasrah. Aku kemudian turun dari kasur dan berjalan keluar kamar.


Namun, tepat saat aku menyentuh handle pintu, Adeeva tiba-tiba berkata, "Eh, Mas, kamu siapin air buat mandi Zaidan dulu deh. Nanti aja makannya."


Aku hanya mengangguk pasrah, melakukan sesuai perintah Adeeva. Menyiapkan air hangat untuk mandi Zaidan dan pergi sarapan setelahnya.


Setelah selesai sarapan dan mencuci piringku, aku kembali ke kamar untuk melihat Zaidan. Ia sudah selesai mandi dan berganti pakaian, aroma minyak telon langsung menguar saat aku masuk ke dalam. Aku langsung berlari menghampirinya dan mencium kedua pipinya secara bergantian.


"Hmm, wanginya anak Papa. Yuk, sama Papa, biar Mama makan dulu."


"Kamu nggak mau mandi sekalian aja, Mas?"


"Enggak, nanti aja. Takut diompolin Zaidan, kalau mandi sekarang."


"Ya udah, aku mandi dulu."


"Sarapan aja dulu," kataku lalu menggendong Zaidan. Aku mengayunkannya pelan.


"Jangan diayun, Mas. Katanya nanti bikin ketagihan, terus pengen diayun terus."


"Kata siapa?"


"Bu Lek Ningsih."


Aku ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. "Oke." Lalu mengajak Zaidan keluar kamar.


Adeeva sendiri kemudian masuk kamar mandi untuk mandi.


Aku kemudian duduk di sofa, mengajak Zaidan mengobrol. Belum genap lima menit aku duduk di sana, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang hangat di antara kedua pahaku.


Aku menatap Zaidan.


"Sayang, kamu nggak ngompol kan?" Aku kemudian sedikit mengangkat bongkongnya dan merabanya. Astaga, basah, itu artinya Zaidan baru saja mengompol. Untung saja aku tadi belum mandi. Aku kemudian buru-buru berdiri dan masuk ke kamar.


"Sayang, anak kamu ngompol!" teriakku saat masuk ke dalam kamar.


"Hah? Masa sih, Mas? Tadi sebelum mandi udah pipis loh padahal," balas Adeeva sedikit berteriak, karena ia masih berada di dalam kamar mandi.


Aku kemudian meletakkannya di atas kasur, lalu mencari popok gantinya.


"Ya, ini buktinya aku diompolin, untung aja tadi aku belum mandi."


"Ya, udah sih, ompolnya anak sendiri ini. Aku tiap nyusuin juga diompolin kok."


"Makanya pake pempers dong, yang. Biar kita nggak diompolin kalau pas lagi gendong. Ini kamu belum selesai? Aku nggak bisa gantiin, yang. Soalnya basah semua."


"Belajar, Mas!" seru Adeeva dari dalam kamar mandi.


"Enggak mau, nggak berani. Kamu buruan keluar! Nggak usah lama-lama mandinya. Kasian Zaidan-nya keburu dingin entar."


Adeeva berdecak lalu keluar dari kamar mandi. Ia masih memakai handuknya, belum berganti pakaian. "Kamu bisanya apa sih, Mas? Semua nggak berani," keluhnya sedikit kesal.


Aku meringis. "Hehe, bisa bikinnya."


**The End


jangan timpuk saya, ya, karena ini part mengecewakan πŸ˜‚πŸ˜‚


Bissmilahhirohmanirohim, mari kita akhiri sampai di sini aja, ya, kisah mereka. yang penting Eva dan Arkan udah jadi Ayah dan Ibu. jadi ikhlasin aja! saya tahu betul ini alur kacau parah, saya sadar betul. hehe, tapi ya udah. pokoknya mau aku akhiri sampai di sini. tenang nanti bakalan direvisi kok, ini dibiarin gini dulu, ya, soalnya aku masih agk gk enak badan. yg penting hari ini ini part selesai. saya mau ngucapin banyak terima kasih buat yang mau baca dan nungguin, maaf banget kalau hasilnya mengecewakan. haha, jujur saya juga kecewa sih. cuma ya, udah sih udah terlanjur jg cuy. bisa apa saya selain pasrah. terus untuk sekuel Anggi-Aro belum bisa aku lanjut deh. soalnya aku mau istirahat dulu, hehe, maaf ya, aku ingkar janji. padahal rencananya emang abis yg ini selesai langsung lanjut yg itu. tapi gimana lagi, semua tidak berjalan sesuai rencana. part-part akhir ini aja, aku paksain banget. maaf, ya, aku beneran gk enak sebenarnya. tapi ya udah lah. pokoknya intinya terima kasih dan maaf. sampai jumpa di cerita saya selanjutnya, yang entah kapan bakalan ada cerita selanjutnya itu.


see you bye-bye!!!


lope lope buat kalian yang mau dan rela buat nungguin cerita gaje saya. muachhhhhhhhhh πŸ˜πŸ˜πŸ˜—πŸ˜˜πŸ˜š**