
"Perasaan ragu itu ada bukan karena kita tidak cinta. Kalau pun sudah cinta bukan berarti kita tidak bisa meragu."
~Abimana Fahreza
{{{{}}}}}
Sepulang kerja tadi, Karin sudah menunggu gue di depan pintu gerbang kostan dan merengek-rengek minta ditemenin beli kado untuk pacarnya, yang entah kali ini bernama siapa. Gue awalnya sudah menolak, tapi, puppy eyes andalannya mampu meruntuhkan keengganan gue untuk menemaninya, plus traktiran makan mie ayam deket Indomaret. Emang sialan itu bocah. Tahu aja gue kalau lagi akhir bulan begini dikasih begituan suka lemah iman.
"Nanti enaknya beliin kemeja apa jam tangan ya, Mbak?" tanya Karin sambil menyodorkan helm ke gue.
Gue menerima helm itu sambil mengangkat kedua bahu gue secara bersamaan. "Terserah," kata gue sambil memakai helm.
Karin menghentikan niatannya untuk memakai helm, menoleh ke arah gue dengan wajah cemberut. "Jangan terserah dong, Mbak, kan aku ngajak Mbak Eva biar ada yang ngasih saran."
"Iya, tadi gue juga ngasih lo sarankan? Saran gue ya, terserah lo."
Gue kemudian menepuk pundaknya, mengintruksinya agar ia segera memakai helm dan naik motor.
"Mbak Eva nggak asik banget deh," rajuk Karin, yang kini malah memeluk helm dan bukannya memakainya.
Gue mendesah. "Jadi pergi atau enggak? Kalau enggak gue masuk lagi," ancam gue, bersiap melepas kaitan pada helm. Yang langsung membuat Karin cepat-cepat memakai helm miliknya dan naik ke atas motornya.
"Ck. Ancamannya norak," gerutu Karin sambil menstarter motornya.
"Biar lo nggak makin ngelunjak," balas gue lalu ikut naik ke motornya, "Mau beli kemeja atau jam nggak sama-sama bagus, yang penting duit lo cukup," kata gue kemudian. "Terus nggak pake duit biaya kuliah atau kebutuhan lainnya," sambung gue.
"Apa aku beliin jam tangan ya, Mbak, biar Kak Radit inget aku setiap waktu."
"Terserah, Karin!!"
"Iih, nggak asik."
"Bodo amat," balas gue cuek.
"Jahat."
"Emang."
Karin tiba-tiba menghentikan motornya dan menoleh ke arah gue.
"Kenapa?" tanya gue. "nggak jadi pergi?"
Karin hanya merengut lalu kembali menjalankan motornya.
"Lo sebenernya mau beli kado apa sih, Rin?" keluh gue mulai kesal.
Bagaimana tidak kesal kalau sudah sejam lebih kita mengelilingi toko-toko, Karin belum membeli apapun. Padahal kami sudah mengunjungi tiga toko pakaian, mengunjungi toko aksesoris pun ada kali lima toko yang kami masuki, tapi, Karin belum memutuskan untuk membeli apa pun. Kan gue jadinya kesel.
"Aduh, gimana ya, Mbak, aku bingung deh."
"Balik aja udah deh, capek gue. Laper pula."
"Bentar dong, Mbak, kita ke toko sepatu, yuk!" ajak Karin sambil merangkul lengan gue, mengedip dua kali dan langsung membuat gue luluh.
"Aku tiba-tiba kepikiran beli sneakers samaan deh, Mbak. Menurut Mbak Eva gimana?"
"Iyain deh, biar cepet. Ayo, buruan!"
"Kenapa sekarang Mbak Eva yang semangat," gerutu Karin, namun gue abaikan.
Setelah sampai toko sepatu gue langsung mencari tempat duduk, mengabaikan rengekan Karin yang meminta gue bantu nyariin model yang bagus. Tapi gue nggak peduli. Capek banget rasanya.
"Eva?"
Gue langsung menengok ke asal suara dan menemukan Mita, teman SMA gue dulu. Buru-buru gue berdiri dan memelukkya.
"Ya ampun, Mit, apa kabar?" tanya gue setelah melepas pelukan kami.
Mita tersenyum sambil mengangguk. "Seperti yang kamu lihat sekarang."
"Tambah cantik aja. Udah isi belum?"
Raut wajahnya berubah sendu, membuat gue tak enak.
"Aku baru aja kehilangan calon bayiku," lirih Mita membuat gue makin bersalah.
"Ya ampun, Mit, sorry, aku--"
"It's okay. Aku udah ikhlas kok."
Gue meringis tak enak lalu mengusap pundaknya. "Aku turut berduka cita, ya."
Mita mengangguk sambil memaksakan diri untuk tersenyum.
"Terus kamu ke sini sama siapa?"
"Naik Uber."
"Suami kamu?"
Mita menggeleng. "Aku mau cerai sama dia."
"Hah? Kok bisa? Duduk dulu!" intruksi gue untuk duduk di salah satu sofa yang memang disediakan oleh toko.
"Kamu tahu kan, Va, kalau suamiku dulunya duda?"
Gue mengangguk, mengiyakan.
"Dia cerai hidup. Dan udah punya anak, sementara aku, aku gagal jaga anak aku yang bahkan belum lahir."
"Mit, kamu nggak boleh ngomong gitu ah. Mun--"
"Ternyata aku salah, Va," ucap Mita tiba-tiba memotong kalimat gue. Kedua matanya menerawang, seperti sedang mengingat masa lalunya, "Aku pikir cinta aja cukup untuk kami membangun rumah tangga. Tapi ternyata tidak, aku ternyata belum bisa menerima masa lalu suami aku yang sudah punya buah hati dengan mantan istrinya dulu. Aku sering kali cemburu. Aku pikir, aku bisa, Va, ternyata aku nggak sekuat itu. Jadi, aku memutuskan untuk pisah daripada aku makin sakit nantinya."
Mendengar ceritanya seketika membuat gue teringat Arkan. Arkan mungkin bukan duda seperti suami Mita, tapi tetap saja di masa lalunya, ia punya seorang putri yang sewaktu-waktu mungkin akan menyita perhatian Arkan. Mendadak gue merasa takut.
"Ya ampun, kenapa aku malah curcol gini sih. Sorry ya, Va, aku jadi enggak enak."
Gue tersenyum maklum sambil mengangguk. "It's okay, kali aja bisa jadi pembelajaran buat aku. Kalau kamu butuh temen curhat lain waktu, bisa hubungi aku. Aku masih jadi pendengar yang baik kok."
Mita tersenyum lalu memeluk gue. "Thanks ya, udah mau denger curhatan aku. Kalau gitu aku duluan ya, kapan-kapan kita meet up ya?"
Gue mengangguk setuju lalu melepas pelukan kami.
"Oke. Tinggal diatur."
Mita mengangguk sambil mengacungkan jempolnya sebelum meninggalkan gue. Gue hanya menatap punggungnya yang semakin menjauh dengan perasaan mengganjal. Bagaimana nanti kalau gue nggak bisa benar-benar nerima masa lalu Arkan itu ya?
Gue memandangi cincin pemberian Arkan dengan perasaan mengganjal. Semenjak pertemuan gue dengan Mita kemarin, gue terus-terusan kepikiran. Bagaimana kalau gue kayak Mita, tidak bisa benar-benar menerima masa lalu Arkan yang sudah punya anak seumuran dengan anak sulung Salma.
"Ngelamun bae, ngopi ngapa, ngopi!"
Gue tersentak kaget karena suara Bang Bima yang tiba-tiba. "Apaan sih?" sewot gue kesal.
Bang Bima tertawa lalu duduk di hadapan gue seperti biasa, bedanya kali ini sembari menghisap rokoknya yang sudah pendek.
"Wih, cincinnya baru. Baru dilamar?"
Gue memaksakan senyum gue kemudian mengangguk.
"Yang kemarin itu?" tanya Bang Bima ragu.
"Iya, yang itu."
"Hah? Kok bisa? Gercep bener. Ini seriusan? Bukannya kemarin masih galau tingkat wahid, kenapa udah dilamar aja? Lo jangan bercanda deh, Va."
Gue meringis, benar kata Bang Bima. Sepertinya memang gue terlalu terburu-buru mengambil keputusan ini. Astaga, apa yang gue pikirin sih kemarin itu?
"Lo nggak tekdung duluankan, Va?"
Tanpa sungkan langsung gue pukul kepalanya menggunakan buku pendaftaran siswa baru.
"Sembarangan!"
Bang Bima mengaduh sesaat. "Gue cuma tanya, Va, kalau nggak bener ya sorry. Lagian lo aneh, kemarin galaunya udah kayak mau bunuh diri, eh, sekarang udah dilamar aja. Ya, wajar kalau gue curiga," balas Bang Bima tak terima sambil memegangi kepalanya. "*****, sakit banget lagi pukulan lo."
Gue menghela napas pendek. "Lagian salah lo sendiri, udah tahu gue kalau sensi bawaannya mau makan orang pake acara lo godain. Gue itu lagi bingung, Bang."
"Karena udah nerima lamaran dia?"
Gue langsung mengangguk, membenarkan.
"Lo gila?! Sebenernya apa sih yang ada di otak lo, Va? Lo belum bisa menerima masa lalu cowok itu sepenuhnya, tapi pas cowok itu ngelamar lo, langsung lo terima? Gila!"
Bang Bima berdecak sambil geleng-geleng kepala. Kemudian melirik jari jemari gue yang terpasang cincin pemberian Arkan.
"Gara-gara berliannya gede?" sindir Bang Bima sambil melirik gue.
"Mulutnya!" amuk gue tersinggung, "gue belum sematre itu."
"Belum? Berarti bentar lagi matre banget dong?" sindir Bang Bima.
"Nggak gitu juga."
"Terus?"
"Gue yang ngajak dia nikah," lirih gue pelan.
"Apa?!" seru Bang kaget. "Emang udah nggak waras lo!" sambungnya kemudian.
Gue menghela napas lalu mengangguk sekali lagi. Apa yang dikatakan Bang Bima memang benar, gue emang kayaknya udah kehilangan kewarasan gue.
"Gue gemes sama dia, Bang, godain dia itu udah kayak jadi hobi buat gue. Gue awalnya cuma bercanda ngajak dia nikah sekalian godain, eh, nggak tahunya dia malah ngeluarin kotak cincin buat gue."
"Emang beneran udah gila lo! Nikah itu sesuatu yang sakral bukan candaan, Va," sembur Bang Bima dengan muka galaknya.
"Gue tahu, Bang, mak--"
"Kalau tahu kenapa masih lo bercandain?"
"Bukan maksud gue buat bercandain, Bang, cuma--"
"Gue nggak butuh pembelaan lo," potong Bang Bima sambil mendengkus.
"Lo jangan bikin gue merasa bersalah gini dong, Bang," rengek gue kesal.
"Bagus. Harusnya emang gitu kan?"
"Kok lo sewot sih, Bang?" protes gue tidak terima.
Bang Bima mendesah lalu sedikit mencondongkan tubuhnya. "Gini deh, Va. Menurut lo, cowok kalau udah ngelamar ceweknya secara pribadi apa langkah selanjutnya yang cowok itu ambil?"
Gue hanya meliriknya dan memilih untuk tidak menjawab.
"Kalo diterima udah jelas pasti langsung pengen ketemu orang tua si cewek, terus ngelamar secara resmi. Abis ngelamar resmi udah pasti langsung ngerencanain pernikahan, ijab qobul dan resepsi dan segala ***** bengeknya. Apalagi cowok itu udah berumur 30 ke atas, Va, umur yang udah nggak mau main-main lagi. Udah jelas, pernikahan ada di depan mata lo. Tapi lo sendiri masih meragu begini. Menurut lo siapa nantinya yang bakalan tersiksa? Ya, lo sendirikan? Wajar kan kalo gue sewot?" Bang Bima kembali menghela napas, "gue peduli sama lo, Va. Lo nggak cuma temen gue di tempat kerja, tapi lo udah gue anggep adek sendiri. Lo pahamkan?" sambungnya kemudian.
Mendengar celotehan panjang lebar Bang Bima, mendadak membuat kepala gue pening seketika.
"Lo terbiasa dikejar sebelum ini, tapi kali ini lo memutuskan untuk mengejar. Iya, kalo seandainya lo beneran cinta, kalo beneran cuma penasaran gimana? Gimana kalo apa usaha yang lo lakuin cuma karena untuk menyembuhkan ego lo yang terluka? Lo ditolakkan di awal, jelas itu melukai harga diri lo."
"Lo bikin kepala gue pusing, Bang," keluh gue sambil memijit pelipis gue yang terasa berdenyut nyeri.
"Biarin, otak lo perlu ngerasain pusing sesekali."
Gue langsung meliriknya tajam sambil merengut. "Tapi gue cinta dia, Bang."
"Perasaan ragu itu ada bukan karena tidak cinta. Meskipun udah cinta bukan berarti kita tidak bisa meragu. Intinya mau lo cinta atau belum cinta sama dia, kalau lo ragu ya, ragu aja, Va. Lo belum siap itu intinya. Nikah itu nggak cuma beralaskan rasa cinta, Va. Rasa cinta bisa memudar seiringnya waktu."
"Terus gue musti gimana?"
"Jujur sama dia!"
"Kalau dia kecewa?"
"Ya, enggak papa. Kemarin juga lo dikecewainkan?"
Gue melirik Bang Bima tajam. "Lo nyaranin gue balas dendam, Bang?"
"Bukan balas dendam, cuma saling terbuka aja. Dia berani terbuka sama lo, jadi lo pun harus demikian."
"Nanti coba gue pikirin."
"Iya, pikirin baik-baik, jangan gegabah kayak kemarin-kemarin."
**Tbc,
Dasar labil ya si Eva itu. ckck, kira2 bakalan kayak gimana, ya hubungan mereka selanjutnya π€ Eva yg lemah iman gitu, mau gk ya jujur sama Arkan, kalau doi lagi ngegalauin dia?
ayo, ayo, silahkan ditebak dan tulis di kolom komentar ya, nanti aku up cepet ππ€πππππ**
Β