Adore You!

Adore You!
We're Getting Married : |21| Berbincang-bincang



"Aku sama Will mau cerai."


"APA?!"


########


Setelah Milla mengatakan kalimatnya, suasana mendadak canggung. Aku meneliti wajah Milla yang kini nampak kacau, ekspresinya menggambarkan perasaan sedih, kecewa, dan juga marah di saat yang bersamaan. Aku tidak berani menebak apa yang telah terjadi di dalam pernikahan mereka, sehingga Milla dengan nekatnya ingin berpisah dari pria yang dicintainya. Meski sorot matanya terlihat menyimpan kekecewaan dan kemarahan, aku masih bisa melihat dengan cukup jelas kalau ia masih sangat mencintai Will. Sebenarnya apa yang telah dilakukan oleh Will sampai Milla begitu kecewa begini.


"Apa yang terjadi, Mil? Dia nyakitin kamu?" tanyaku berhati-hati.


Kali ini aku benar-benar merasa cemas. Aku berharap yang melandasi perpisahan mereka bukan lah kekerasan dalam rumah tangga.


Milla masih diam menunduk dan tak mau menjawab. Aku mendapati tangannya beberapa kali mengusap pipinya, aku tidak terlalu yakin, tapi kurasa ia sedang menangis saat ini. Makanan yang kita pesan bahkan sudah mulai dingin karena belum kami sentuh sama sekali. Sebenarnya aku sudah sangat lapar saat ini, tapi jelas tidak mungkin aku melahap makananku sedang Milla dalam kondisi tidak baik begini.


"Milla," panggilku sudah kehilangan kesabaran.


Kali ini Milla langsung mengangkat wajahnya dan mengambil tisu dari dalam tasnya. "Sorry, aku jadi agak melow-melow gitu, Ren."


"It's okay, Mil. Ini pasti nggak mudah buat kamu. Aku paham. Jadi, kenapa kalian mau pisah? Mil, kamu nggak kasian sama Daisy, dia baru berumur 2 tahun."


Milla tersenyum masam. "Tiga bulan lagi dia udah 3 tahun," koreksinya kemudian.


Aku menghela napas pendek, menyilangkan kedua tangan dan menatapnya serius. "Jadi, ada apa? Apa yang sedang terjadi pada kalian? Kamu ngajak aku ketemuan, jelas kamu harus cerita."


Milla kembali menarik tisu, ia kembali menangis. Aku menghela napas panjang, merasa agak bersalah juga sekarang. Apakah aku terlalu memaksakan dia agar bicara?


"Sorry, Mil, aku cuma khawatir sama kalian. Lihat kamu nangis terus begini, bikin aku yakin kalau kamu masih mencintainya. Terus apa yang mendasari keputusanmu ini?"


"Menurutmu kamu masih bisa tinggal dan hidup dengan orang yang telah mengkhianati kamu, Ren? Kamu bisa menghabiskan sisa hidupmu bersama orang yang sudah berkhianat di belakangmu? Meski aku sangat mencintainya, aku nggak bisa, Ren, aku nggak sebaik itu. Aku mungkin dulu pernah berkhianat, tapi aku tidak suka dengan caranya membalasku setelah tujuh tahun pernikahan kita. Enggak begini caranya, Ren. Harusnya dia tidak menikahiku dulu, kalau pada akhirnya dia hanya melakukan ini padaku. Aku nggak terima. Aku mau cerai. Aku mau berpisah dengannya, aku nggak bisa melanjutkan pernikahan kita."


Kedua bola mataku melebar. Aku terkejut bukan main dengan fakta yang baru saja Milla ungkapkan. William berselingkuh? Apakah itu mungkin, aku tahu betul ia sangat mencintai Milla. Dulu, setelah tahu hamil anakku, Milla memutuskan untuk berpisah dengan William. Ia merasa akan jadi perempuan jahat kalau masih menjalin hubungan dengan orang yang sudah dikhianatinya. Tapi, dengan gigihnya William memperjuangkan Milla agar mau ia nikahi. Meski sebagian orang berkata kalau William itu bodoh, karena mau menikahi perempuan yang sudah mengkhianatinya, dan bahkan mengandung anak dari seling--sialan. Kalau hanya jadi selingkuhan, kenapa aku mendadak kesal, ya.


Bayangkan saja, aku tidak tahu apa-apa tapi dituduh telah berselingkuh dengan kekasih orang. Padahal aku juga korban di sini. Ditambah lagi, saat itu kami tidak sedang in relationship. Ah, sepertinya masa mudaku dulu, aku benar-benar gila.


Tapi inti dari permasalahan di atas adalah William sangat mencintai Milla. Rasanya tidak mungkin ia berani berselingkuh, kalau pun sudah tidak cinta, aku yakin dia akan lebih memilih untuk mengakhirinya daripada bermain di belakang begitu. Bagiku William ada pria ter-gentle nyaris bodoh yang pernah kutemui. Dia diselingkuhi tapi mau menikahi perempuan yang mengkhianatinya. Bukankah itu terdengar sedikit bodoh? Ah, entahlah.


"Kamu yakin ini perselingkuhan?" tanyaku untuk memastikan, entah kenapa aku rasanya masih tidak percaya.


"Kalau aku tidak yakin, aku jelas tidak akan ke Indonesia dan menemuimu."


"Tapi Will sangat mencintai kamu, Mill." Aku masih bersikukuh untuk tidak percaya.


Dari namanya saja, keduanya sudah terdengar cocok.


"Segala sesuatu itu, cepat atau lambat akan berubah, Ren. Pria memang begitu kan, mereka jelas akan memilih yang lebih cantik dan muda."


Aku tersinggung. Astaga, bagaimana bisa ia mengatakan hal begitu di hadapan pria.


Aku kemudian mengetuk meja. "Permisi, yang sedang duduk di hadapan anda sekarang ini pria lho, kalau anda lupa," sindirku kesal.


Milla langsung tertawa, menanggapi sindirinku. Mirip seperti Adeeva kalau sedang kusindir pasti langsung menertawakanku, beda kalau Adeeva setelah menertawakanku ia berlanjut akan menggodaku, tapi kalau Milla ia pasti hanya akan bilang 'sorry'.


"Sorry," cicit Milla.


Tuh, kan!


"Jadi, inti dari pertemuan ini adalah?" Aku kemudian meraih sendok dan juga garpuku. Makanan kami sekarang benar-benar sudah dingin, kalau semakin lama dianggurkan, sayang. Jadi, lebih baik aku makan. "ngobrolnya sambil makan, Mil. Makanannya udah beneran dingin nanti makin nggak enak," sambungku kemudian.


Setelah menguasai perasaannya, Milla ikut meraih sendok dan garpunya. Lalu kami makan dalam diam, ia belum menjawab pertanyaanku yang tadi.


"Mil, jadi inti dari pertemuan ini apa?" ulangku kemudian, karena tak kunjung mendapat jawaban, "Aku yakin pasti ada hal lain yang ingin kamu sampaikan, nggak mungkin juga kamu repot-repot ngajak aku ketemuan, kalau cuma mau beberin fakta kamu yang mau ceraiin suami kamu." Aku menggeleng yakin sambil menatapnya serius. "Itu jelas bukan gaya kamu."


Milla mengangguk, membenarkan. "Sebenarnya, niat awalnya mau ngajak kamu nikah sih, kalau seumpama kamu masih single. Eh, berhubung kamu udah sold out, ya udah nggak jadi."


Aku berdecak, sebal. Karena tahu ia sedang bercanda. "Waktunya nggak pas buat, bercanda, Mil. Durasi," kataku sambil melirik jam tanganku. "aku harus balik ngantor ini lho. Jam makan siang udah mau abis. Mana aku belum salat dzuhur lagi."


"Udah jadi imam rumah tangga yang baik nih, ceritanya. Keren juga istri kamu."


"Sebenarnya, Aurine yang bikin aku tobat."


Milla menerjap bingung. "Aurine ikut aku, Ren. Tiap minggu aku ajak dia ke gereja."


"Hadirnya Aurine di rahim kamu yang bikin aku semakin dekat dengan Tuhanku, yah, meski masih begini-begini aja sih."


Meski tidak terlalu paham, Milla mengangguk. "Ya, seenggaknya kamu nggak lagi ngelupain kewajiban beribadah dengan Tuhan-mu."


"Hmm. Balik ke topik awal, jadi kamu mau ngomong apa tadi?"


Milla terlihat ragu-ragu. Aku mengangguk, untuk meyakinkan dirinya.


"Ngomong aja!"


"Aku sih nggak masalah, justru karena aku sudah nikah itu lebih bagus. Seenggaknya ada yang jagain dia pas aku ngantor," potongku cepat.


"Tapi, Ren, emang istri kamu tahu soal... ?"


"Soal Aurine?" tebakku tepat sasaran.


Milla mengangguk tidak enak.


"Menurut kamu, aku bakalan berani gitu nikahin dia, sementara dia sendiri nggak tahu masa lalu-ku yang itu?"


"Bukannya terkadang kamu nekat?"


Kali ini aku tertawa lalu menyesap jus melonku. Dulu, kuakui aku cukup nekat memang, tapi lagi-lagi kehadian Aurine benar-benar merubah segala hidupku. Sisi negatifnya aku mengalami kehancuran, tapi sisi positifnya aku jadi dekat dengan Allah, tapi nyaris menarik diri dari lingkungan sosial.


"Bukankah kamu sendiri yang bilang segala sesuatu itu, cepat atau lambat pasti akan berubah?"


"Kamu pun demikian?"


Aku mengangguk. "Ya, aku berubah banyak, Mil."


"Dia tidak keberatan dengan keberadaan Aurine nanti? Kalian pasangan baru kan?"


"Semoga saja tidak, meski Aurine anak kandungku dan aku punya kewajiban untuk menjaganya, bukan? Tapi tetap saja, aku perlu bicara dulu dengan istriku."


Piring kami sama-sama sudah bersih. Milla mengusap ujung bibirnya menggunakan tisu lalu menopang dagunya, menatap serius.


"Kamu terlihat sangat mencintai istrimu, Ren?"


"Jelas. Kalau aku tidak mencintainya, aku jelas tidak akan menikahinya," kataku sedikit kesal.


"Kamu benar juga," ucap Milla sambil mengangguk setuju.


"Udah selesai kan obrolan kita? Aku harus balik nih, nanti kalau Aurine udah bisa tinggal sama aku, aku kabarin, ya." Aku kemudian mengangkat sebelah tanganku untuk memanggil pelayan dan meminta bill.


"Aku yang bayar," ucap Milla sambil mengaduk-aduk isi tasnya untuk mencari keberadaan dompet.


Aku berdecak. "Anggap aja ini sebagai permintaan maaf karena nggak undang kamu ke acara nikahan aku kemarin."


Milla tertawa di sela dengkusannya. "Iya, iya, nanti abis ini aku langsung beli kado buat kalian,"


Aku kemudian menyerahkan kartu debitku ke pada pelayan, lalu beralih pada Milla lagi. "Gitu juga bagus," ucapku bergurau. Lalu aku teringat sesuatu. "Tapi jangan lingerie, ya. Udah punya tiga, yang ngasih temen-temennya. Semua cuma dipake nggak sampai lima menit lagi, kan mubazir. Mending kalau mau kasih kado perabot aja. Ya, semacam vacum cleaner gitu lho. Tapi yang otomatis, ya, soalnya yang model lama udah ada. Lumayan biar kerjaan istriku agak berkurang dikit."


"Sialan! Udah tahu aku mau pisah sama Will, masih aja mau morotin," umpat Milla terlihat kesal.


"Tapi kan, belum pisah baru mau pisah kan? Uang dia masih uang kamu lah," balasku bergurau.


Milla mendengkus keras. "Cepat atau lambat semua pasti akan berubah apaan kalau begini. Masih sama aja perasaan, kalau bikin jokes pasti nggak pernah lucu tapi ngeselin."


Aku tertawa. "Ya, kamu belum tahu aja separah apa aku pas balik ke Indonesia enam tahun yang lalu."


"Emang kenapa sama kamu di enam tahun yang lalu?" tanya Milla penasaran, "sesulit itukah move on dariku?"


Aku tertawa sambil menerima kartu debitku yang baru saja disodorkan oleh si pelayan, tak lupa sambil mengucapkan terima kasih. Baru setelahnya, aku kembali menatap Milla dengan dengkusan samar. Pertanyaan yang diajukan oleh Milla sangat menarik, tapi tidak bisa kujawab dengan benar. Entahlah, aku sendiri bahkan tidak tahu.


"Bisa jadi iya, bisa juga enggak sih."


Milla mangguk-mangguk lalu membereskan barang-barangnya. "Oke, udah sampai di sini deh, kayaknya obrolan kita. Kamu perlu balik ke kantor, dan aku pasti udah dicariin Daisy."


Aku ikut mengangguk dan berdiri, menyalaminya dan kami pun berjalan beriringan keluar dari Cafe.


Setelah ini saatnya memikirkan bagaimana membicarakan semua ini pada Adeeva. Semoga semua berjalan dengan lancar, sesuai dengan harapanku.


**Tbc,


diketik dari sebelum adzan subuh sampai nyaris adzan luhur. #lebay πŸ˜†#perumpamaan


Aamiin. semoga semua lancar Mas Ar, ya, Moga-moga mbak Eva kaga ngamuk dah dititipin buntutmu πŸ˜†πŸ˜ mohon doanya men-temen. meski harusnya Eva gk boleh ngamuk sih, ya. ini kan emang secuil dari resiko karena dia nikah sama yg udh pny buntut. iya gk sihπŸ˜‚


betewe, ada yg nebak ini bakal jadi konflik rumah tangga Arkan-Eva?


enggak ada kan?


ku boleh minta bantu jawab? soalnya diriku kevo gitu deh. he he he he he he πŸ˜‚


oke, kali ini gk akan curcol aku. udh gtu aja, see you next part. jangan lupa jaga kesehatan! πŸ€—πŸ˜πŸ˜—πŸ˜™πŸ˜˜πŸ˜š


doakan semalam mau up lagi πŸ˜†πŸ˜†**