
****
"Gimana kabar Eva, akhir-akhir ini dia jarang main ke sini loh, Ren. Kalian masih bareng kan?"
Aku hanya mampu tersenyum kecut, saat mendengar pertanyaan Mama. Sudah hampir satu minggu penuh ini menanyakan Adeeva, sahabat baik adikku, yang hampir satu tahun ini berstatus sebagai pacarku. Jujur, aku sedikit malu untuk mengakuinya, tunggu sebentar! Kalian jangan su'udzon dulu, ya. Maksudku malu mengakui itu, bukan karena tingkah ajaib Adeeva, ya, tapi karena status yang harus kulabeli pada Adeeva. Maksudnya begini, sekarang umurku sudah 32tahun. Seriosly, 32 tahun dan masih pacaran, bukankah itu terdengar sedikit memalukan?
"Naren! Kamu ini dengerin Mama ngomong nggak sih?"
Aku tersenyum. "Denger, Ma, Adeeva baik kok. Lagi sibuk sama toko kuenya dia. Minggu lalu dia nggak ke sini karena ikut bazar. Kan lumayan, Ma, sering ikut bazar kan jadi banyak yang kenal," kataku menjelaskan.
Akhir-akhir ini Adeeva memang sibuk dengan toko kuenya yang baru dia buka bersama sehabatnya dan juga adikku, Irin. Setelah keluar dari tempat kerja dulu, ia memang memutuskan untuk membuka usaha bersama dengan teman-temannya. Baru enam bulanan kalau tidak salah mereka bukanya, Adeeva memang tidak terlalu pinter membuat kue, tapi dia lulusan S1 ekonomi, jadi ia lumayan bisa lah atur keuangan. Jujur, aku sedikit heran sih karena dia lulusan S1 tapi cuma kerja sebagai staff administrasi di sebuah tempat kursus, yang tidak terlalu besar. Padahal dengan ijazah dan pengalaman kerjanya dulu, harusnya sih dia bisa kerja kantoran. Tapi itu urusan dia juga sih, mau kerja di mana, aku kan cuma pacarnya belum jadi suami, lagian kan itu pekerjaan lamanya juga.
"Bilangin ke Eva, jangan ngoyo, kesehatan itu nomor satu," kata Mama, "terus kalau lagi lowong, suruh main ke sini. Mama kangen."
Aku mengangguk, lalu menegak air mineralku. "Iya, nanti Naren sampaiin." aku kemudian berdiri dan mencium kedua pipi beliau, setelah tadi sempat mencium punggung tangannya. "Naren berangkat duluan, bilangin Papa ya, Ma."
"Iya."
Papa sekarang memang lebih banyak di rumah karena masalah kesehatan. Meski sesekali beliau tetap melakukan kunjungan rutin ke kantor. Semenjak insiden kurang mengenakkan beberapa bulan yang lalu, aku dan Bang Ferdi melarang beliau aktif di kantor, selain karena khawatir kami juga sudah tidak tega.
Sambil menenteng tas kerjaku, aku berjalan keluar rumah lalu masuk ke dalam mobil. Sebelum berangkat ke kantor, aku memang memiliki tugas penting yang harus kulaksanakan.
Apa itu?
Menjemput dan mengantarkan Adeeva ke tempat kerjanya, tentu saja.
Ohya, aku sampai lupa kalau belum berkenalan. Oke, baiklah mari ku perkenalkan diriku sebentar. NamakuΒ Arkana Narendra, bisa dipanggil Arkan, Naren, dan juga Rendra, tapi jangan panggil sayang, ya. Soalnya takutnya nanti pacarku cemburu. Hehe. Status dan umur sudah kujelaskan, jadi tidak perlu kujelaskan lagi. Karena aku harus menjemput Adeeva sekarang. Takut telat, tahu sendiri kan gimana kalau cewek ngambek pas kita datengnya telat?
Iya bener, serem banget.
Butuh waktu sekitar dua puluh menit, aku akhirnya sampai di kostan Adeeva. Saat aku tiba di sana, ia sudah keluar dari kostan, dan saat aku memberhentikan mobil, Adeeva langsung masuk ke dalam mobilku.
"Pagi," sapaku, saat ia sudah duduk cantik di sebelahku.
Pagi ini ia tampak cantik dengan kemeja garis-garisnya yang ia padukan dengan celana jeans kesukaannya.
"Pagi juga," balasnya dengan suara sedikit bindeng.
Aku langsung menoleh ke arahnya lagi, dan meringis saat mendapati hidungnya yang terlihat memerah, yang tidak kusadari tadi.
"Sakit?"
Adeeva menggeleng. "Cuma mau flu kayaknya."
Aku langsung menempelkan telapak tanganku di dahinya. Dapat kurasakan panas tubuhnya yang lumayan menyengat, membuatku tak bisa menahan diri untuk memberikan pelototan mata tajam dariku.
"Demam, nih. Kalau sakit itu nggak usah kerja, ayo turun!" omelku sambil memerintahnya untuk segera melepas seat belt-nya, yang kebetulan sudah terpasang.
"Emang siapa juga yang mau kerja? Orang aku mau pergi ke rumah Mama," balas Adeeva sambil menggosok-gosok hidungnya yang makin memerah.
"Ngapain?" tanyaku heran. Seingatku hari ini masih hari rabu deh.
"Main. Kata Shirin, Mama nanyain aku terus. Makanya hari ini aku cuti, mumpung Salma bisa full time di toko."
"Harus banget sekarang? Nggak besok-besok aja?"
"Besok, aku harus di toko."
Aku menghembuskan napas pasrah. Adeeva dan sifat keras kepalanya yang tidak ingin dibantah. Aku tidak bisa berbuat apapun kecuali menuruti perintahnya. Terdengar seperti agak bucin, ya, cuma menurutku sah-sah saja sih selagi masih dalam batas wajar. Karena aku juga tidak ingin mendebat Adeeva, akhirnya aku langsung menyalakan mesin dan menjalankan mobilku menuju rumah.
Sial. Jarak kostan Adeeva dan rumah tidaklah dekat, masa iya aku harus telat ke kantor hanya untuk bolak-balik begini.
"Nanti turunin aku di halte depan aja. Aku nebengnya sampai situ aja, kamu bisa langsung ke kantor."
Aku langsung menoleh ke arah Adeeva dengan kerutan di dahi. Menerjap beberapa saat lalu bertanya, "Biar apa itu?" tanyaku sambil geleng-geleng kepala, kemudian kembali fokus lagi ke arah jalan.
"Ya, biar kamu nggak muter-muter percuma dong. Pake segala tanya lagi, peka dikit jadi cowok kenapa sih? Heran aku," gerutu Adeeva. "gitu aja harus dijelasin. Apa-apa harus dijelasin. Jangan-jangan nanti pas malam pertama kita, aku harus jelasin ke kamu juga nih."
Aku langsung tertawa mendengar gerutuannya. Serius, aku tuh kadang suja heran, dulu Ibunya ngidam apa gitu waktu ngandung dia. Mulutnya itu lho, ajaib. Suka nyeleneh dan tidak terduga sekali. Kadang aku juga sampai heran sama diri sendiri, kok bisa ya, aku naksir sama temen Irin yang hobinya modus ini. Ya, terlepas dari wajahnya yang cantik, Adeeva itu emang menarik banget sih, meski cantiknya dia kalau kita melihatnya harus pas dia lagi anteng dan duduk diem. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, seandainya Adeeva tidak begitu, statusku mungkin tidak akan pernah berubah sih, dan akan sama seperti tahun-tahun sebelumnya, yaitu sendiri. Karena mau bagaimana pun juga, hati ini luluh karena kelakuan ajaib Adeeva juga. Haha, kenapa aku jadi sok menye-menye begini, ya?
Ck. Wanita memang seluar biasa itu ya, dalam merubah pribadi seorang pria. Eh, salah, pribadi tidak bisa diubah, ya, yang bisa diubah itu sikap.
"Dih, malah ketawa."
"Ya, emang harusnya gimana? Orang lucu begitu," balasku tak mau kalah.
"Lucu bagian mananya Pak Arkana Narendra?"
"Apaan sih, nggak usah panggil pake nama lengkap gitu, ah. Nggak suka aku," protesku tak suka.
Aku memang tidak terlalu suka jika dipanggil dengan nama lengkap, bukan karena tidak suka sih dengan nama panjangku, hanya saja aku memang tidak suka saja kalau dipanggil menggunakan nama lengkap, apalagi hanya untuk menggodaku.
"Terus kalau nggak suka, nanti pas ijab qobul, Ayah gimana sebut nama kamu? Saudara Arkan aja nggak pake nama lengkap, gitu?"
Aku berdecak gemas. "Ya, enggak gitu-gitu amat, Adeeva."
"Terus gimana?" tanya Adeeva penasaran, "Arkan sayangnya Adeeva?"
"Iiih, kok kamu sekarang nggak seru sih, kalau aku godain?" rengek Adeeva sambil merengut.
"Udah biasa, jadi udah kebal," balasku sambil mengangkat kedua bahuku secara bersamaan, sementara Adeeva makin cemberut.
"Eh, eh, itu haltenya kelewat, Ar," seru Adeeva, saat menyadari kalau aku tidak memberhentikan mobilku di depan halte tadi.
"Emang siapa yang mau nurunin kamu di sana?"
"Hah?"
"Aku anterin," kataku pada akhirnya, mengabaikan wajah speechless Adeeva.
"Terus kamu ke kantornya?"
"Ya, abis anter kamu ke rumah lah," jawabku santai.
Adeeva melongo beberapa saat. Menerjapkan kedua matanya beberapa kali, sebelum akhirnya berujar, "Terserah kamu, Ar, aku sebagai calon makmum manut aja."
Aku hanya tersenyum senang saat mendengar gerutuannya barusan, yang entah kenapa terdengar seperti ada manis-manisnya begitu.
####
Aku menaiki anak tangga menuju kamar, dengan langkah sedikit terburu-buru. Dari tadi siang Adeeva susah dihubungi, dan itu membuatku sedikit khawatir, meningat tadi pagi Adeeva agak demam. Lalu saat aku tiba di rumah dan bertanya pada Mama, beliau bilang kalau Adeeva sedang istirahat di kamarku. Jadi, aku harus segera ke kamar dan memastikan kalau Adeeva baik-baik saja.
Saat aku masuk ke dalam kamar, aku menemukan Adeeva sedang tidur pulas di ranjangku dengan posisi meringkuk. Aku berjalan mendekat dengan langkah hati-hati, lalu memegang keningnya untuk memastikan apa demamnya bertambah parah atau sudah membaik. Aku langsung bernapas lega saat mendapati demam Adeeva sudah membaik, meski hidungnya masih terlihat sedikit memerah, tapi setidaknya tidak separah tadi pagi.
Adeeva mengeliat saat aku duduk di sampingnya, beberapa detik kemudian ia membuka matanya dan menatapku terkejut.
Secara spontan ia pun langsung mengubah posisinya menjadi duduk. "Kok kamu udah pulang? Jam berapa sekarang?" tanyanya dengan ekspresi lucunya.
"Setengah enam, udah mau maghrib."
"Berarti lumayan lama dong aku tidurnya."
Aku tersenyum lalu menyingkirkan anak rambutnya yang sedikit menutupi wajahnya. "Enggak papa, kata Mama kamu kelihatan capek. Tadi ngapain aja sama Mama?"
"Bantuin bikin rendang, katanya kamu lagi pengen makan rendang. Ngidam?"
"Enggak, lagi pengen aja. Kan kamu belum aku nikahin, belum aku hamilin juga, jadi mana bisa ngidam."
"Bisa aja," balas Adeeva dengan bibir cemberutnya.
Aku tersenyum gemas, melihat bibir cemberutnya membuatku ingin menciumnya. "Turun, yuk! Di sini banyak setannya, takutnya aku khilaf, udah mau maghrib juga," sambungku sambil menggenggam tangannya, dan mengajaknya turun.
"Bentar, aku rapihin rambut dulu," kata Adeeva sambil melepaskan tanganku yang menggenggam tangannya. Ia kemudian merapihkan rambut-rambutnya dan mengikatnya jadi satu, aku hanya tersenyum sambil memperhatikannya.
Aku langsung menahan lengannya secara reflek, saat mendapati sesuatu yang beda di antara jari manisnya.
"Kenapa?" tanya Adeeva heran.
"Coba lihat tangan kamu!"
Dengan gerakan ragu, Adeeva menyodorkan kedua tangannya setelah ia selesai mengikat rambutnya. Beberapa detik kemudian ia tersenyum, membuatku ikut tersenyum.
"I.itu, sejak kapan?" tanyaku tidak percaya, hampir satu tahun lamanya aku menunggu Adeeva kembali memakai cincin yang kubeli untuknya, kini akhirnya dia kembali memakainya.
Astaga, aku tidak bisa berkata-kata saking bahagianya.
"Udah tadi pagi kok, kamu baru nyadar?" Adeeva berdecak, pura-pura kesal lalu berujar, "ck, dasar nggak peka!" cibirnya kemudian.
Aku tidak perduli dengan cibirannya. Dan memilih untuk memeluknya dan menghujami kepalanya dengan ciuman. Sumpah! Aku bahagia sekali sekarang.
"Terima kasih," bisikku tulus.
"Sama-sama. Aku juga mau berterima kasih karena kamu sabar menunggu."
Aku menatapnya intens dan memegang kedua pipinya. "Maju selangkah, yuk!" ajakku kemudian, yang justru disambut gelak tawa renyah dari Adeeva.
"Maju selangkah banget?" goda Adeeva sambil terkekeh.
Aku mengangguk yakin.
Adeeva tersenyum dan mengangguk malu-malu, membuatku tak tahan untuk memeluknya sekali lagi. Sebelum akhirnya kami benar-benar turun ke bawah setelahnya.
Tbc,
**Yeay yeay yeay ππππ
up up up, repost pelan-pelan dulu, ya, yang udh pernah baca, baca ulang lagi aja dulu, kali aja lupa π. hehe, seperti yang pernah aku bilang sebelumnya, di sekuel ini aku pake sudut pandang orang pertama, Arkan, ya, dan di sekuel ini sifat asli Arkan terkuak π dia nggak sekanebo ....πππ udah itu aja cuap-cuapnya, semoga masih ada yang mau membaca ini cerita π ah, aku rindu nulis, rindu kalian. absen dong satu-satu! ππ€π
Part ini udah kuedit, semoga nggak ada typo yang kelewat. Kalau masih ada typo yang kelewat, tolong ingetin, ya! π€
See You Next Part πππππ**