
#####
Aku langsung meringis, antara menahan ngilu bekas tonjokan Bang Ferdi dan juga takut dengan tatapan tajam Adeeva. Adeeva kalau marah itu benar-benar menakutkan.
"Aku baik-baik saja, sayang," kataku berusaha untuk menenangkannya.
Namun, respon yang kudapat hanya berupa dengkusan tak percaya. Lalu ia berbelok menuju dapur, entah apa yang ia lakukan, aku tidak tahu. Tak lama setelahnya, ia membawa baskom berisi air dan handuk kecil, lalu menaruhnya di atas meja.
"Makasih, sayang," ucapku tulus.
Adeeva melirikku sekilas lalu pergi lagi, tak lama setelahnya ia membawa
kotak obat P3K lalu meletakkannya di samping baskom. Adeeva duduk di sambelahku setelahnya, meraih handuk dan mencelupkan ke dalam baskom.
"Hadiah dari Bang Ferdi?"
Aku mengangguk di sela ringisanku, sebagai tanda jawaban.
"Kenapa nggak menghindar, dan sampai bikin pipi kamu jadi biru begini?" omel Adeeva menahan jengkel.
"Aku nggak papa, sayang, aku cowok. Udah biasa. Ini memang seharusnya yang aku dapet."
Adeeva melotot tajam, lalu menekan ujung bibirku menggunakan handuk, cukup keras, membuatku mengaduh kesakitan.
"Akkh, sayang! Pelan-pelan dong!"
"Katanya nggak papa, katanya cowok. Kenapa protes?"
"Ya, tapi tetep aja sakit kalau kamu nekannya kenceng begitu," gumanku pelan, berhubung jarak kami berdekatan, jadi Adeeva mampu mendengarnya cukup jelas.
"Kalau tahu bakalan sakit, harusnya kamu itu menghindar, bukannya pasrah gitu aja. Kamu itu bikin kita tambah kesel tahu. Gemes aku sama kelakuan kamu."
Aku menghela napas pasrah sambil memejamkan kedua mataku. "Iya, iya, aku minta maaf bikin kamu kesel."
"Yang kesel itu bukan cuma aku, tapi semuanya."
"Iya, iya, aku minta maaf ke semuanya."
Adeeva menghela napas, lalu meletakkan handuk kecil tadi. Beralih ke kontak P3K dan membukanya, ia mengambil salep, lalu mengoleskannya pada pipiku. Entah salep apa yang ia ambil, aku pun tidak tahu, yang jelas tidak membuat perih.
"Aku tahu kamu ngerasa bersalah, Ar. Aku paham gimana perasaan kamu, tapi bukan berarti kamu harus pasrah aja kalau diperlakukan seperti itu. Kamu mungkin punya kesalahan fatal di masa lalu, tapi bukan berarti kamu harus menghukum diri kamu terus-terusan begini."
Aku tersenyum penuh haru dan mengenggam telapak tangan Adeeva yang menganggur.
"Makasih," ucapku tulus, "tapi aku beneran nggak papa, sayang," imbuhku kemudian.
Adeeva berdecak. "Nggak papa gimana kalau sampai bonyok begini?"
"Namanya laki, sayang. Lagian kalau aku belum bonyok, nanti Bang Ferdi belum puas."
"Perduli amat kamu sama kepuasan Bang Ferdi, kepuasan Bang Ferdi itu urusannya Mbak Anis, bukan urusan kamu."
Seketika aku melongo sambil menaikkan kedua alisku tinggi-tinggi, tak paham dengan maksud dari ucapan Adeeva. Kenapa bawa-bawa Mbak Anis coba?
"Udah selesai, ini yang lecet deket bibir perlu aku pakein plaster apa enggak?"
Aku menggeleng. "Nggak usah!" tolakku kemudian.
Adeeva mengangguk paham, lalu berdiri. "Ya udah, aku beresin ini dulu."
Aku mengangguk, lalu mempersilahkan Adeeva mengembalikan peralatannya untuk membersihkan dan mengobati lukaku tadi. Tak lama setelahnya Irin muncul dan langsung mengambil posisi duduk di sebelahku pas.
"Bang Ferdi kenapa sih, Kak? Kok sensi amat perasaan? Jujur sama aku deh, Kak, kalian lagi rebutan apa sih? Jabatan di kantor Papa atau warisan?"
Astaga, masih aja Irin berpikir begitu.
Aku memukul wajah Irin menggunakan bantal sofa, karena gemas. "Mana ponakanku?" tanyaku kemudian, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Di belakang. Main sama Grace sama Anne. Jadi, kenapa?"
"Kenapa apanya?" tanyaku pura-pura tak paham.
Irin langsung berdecak. "Bang Ferdi, Kak. Nggak usah pura-pura lupa deh, lupa beneran baru tahu rasa."
"Kamu penasaran?"
Irin langsung mengangguk yakin, sebagai tanda jawaban.
"Ya, udah tanya suamimu aja nanti."
"Kelamaan dong, Damian lagi ke luar kota, baliknya masih sekitar tiga harian lagi. Itu pun kalau nggak molor."
"Ya, udah, tunggu tiga hari kemudian."
"Iiih, nggak asik!" rajuk Irin langsung berdiri dan meninggalkan ruang tengah, karena kebetulan Adeeva sudah kembali dari dapur.
"Kenapa dia?" tanya Adeeva, lalu duduk di sebelahku.
"Ngambek. Biasanya ditinggal suaminya, ya begitu."
Adeeva mangguk-mangguk. "Aku nanti kalau kamu tinggal gitu juga nggak, ya?" tanyanya kemudian.
Kedua bola mata Adeeva menatapku, lalu terkekeh geli setelahnya.
"Gitu juga boleh, tapi ngambeknya jangan ke aku, ya. Tapi ke Irin aja."
"Dih! Kamu juga dong, nggak adil kalau cuma Shirin doang."
Aku langsung menertawakan Adeeva, lalu berniat membalas ucapannya, namun tidak jadi karena kemunculan Bang Ferdi secara tiba-tiba. Reflek, aku langsung menegakkan tubuhku. Bang Ferdi menatapku dan Adeeva secara bergantian, lalu duduk di sofa single.
"Gue mau ngomong sama kalian."
Baik aku maupun Adeeva, kami mengangguk dengan kompak. Mempersilahkan Bang Ferdi mengutarakan apa yang mengganggu pikirannya.
"Sebelumnya, gue mau tanya ke lo dulu, Va," ucap Bang Ferdi sambil menatap Adeeva.
"Silahkan, Bang!" jawab Adeeva kalem.
"Lo yakin mau lanjut?"
Tanpa keraguan sedikit pun, Adeeva mengangguk. Entah apa yang sedang ia angguki, aku juga kurang paham.
"Lo bego ya, Va?" sindir Bang Ferdi sambil terkekeh geli.
Sebelah tangan Bang Ferdi menggaruk pelipisnya, sedangkan aku, langsung melotot tajam ke arahnya karena tidak terima. Calon suami gila mana yang terima jika calon istrinya dikatain bego oleh Abangnya sendiri? Jelas tidak ada kan?
Namun, di luar dugaan. Saat aku hendak memprotesnya, Adeeva dengan wajah sumringahnya ikut terkekeh dan mengangguk, seolah membenarkan ucapan Bang Ferdi.
Aku menoleh ke arah Bang Ferdi. Ia menggeleng lalu berkata, "Apa sih bagusnya dia?"
Adeeva menoleh ke arahku. Kedua bola matanya menatapku intens, meneliti ujung kakiku hingga ujung rambut, lalu tiba-tiba berceletuk, "Kamu bagusnya di mana sih, Ar?" tanyanya dengan nada bercanda, namun tetap membuat bibirku manyun tanpa bisa dicegah.
Lalu saat aku hendak menjawab, Bang Ferdi tiba-tiba bersuara, "Lo serius kan, Ren?" Kali ini ekspresinya terlihat lebih tenang dan kalem, tidak ada tanda-tanda ingin membunuhku seperti beberapa menit yang lalu.
Tanpa keraguan, aku langsung mengangguk. "Gue belum pernah ngerasa seyakin ini sebelumnya, Bang."
Bang Ferdi ikut mengangguk. "Jangan kecewakan kita, terutama Eva. Ngerti lo?"
"Ngerti, Bang." Aku mengangguk mantap.
"Awas kalau lo ketahuan macem-macem, gue sate burung lo!"
"Terus entar mau lo apain, Bang? Kan lo nggak suka sate," gurau Adeeva.
"Lo lah yang makan," balas Bang Ferdi sambil berdiri, ia kemudian melirikku, "ohya! Buat wajah bonyok lo, sorry, gue nggak bisa minta maaf untuk itu," sambungnya kemudian, lalu meninggalkan ruang tengah.
"Abang kamu aneh," komentar Adeeva selepas Bang Ferdi pergi, sambil geleng-geleng kepala.
Aku tersenyum. "Abang aku itu calon ipar kamu lho."
"Hmm, iya."
Aku kemudian menggeser tubuhku agar menjadi lebih dekat dengan Adeeva, lalu menghela napas lega dan merangkul pundaknya. Tangan kananku kemudian mengambil telapak tangan Adeeva, lalu memainkannya. Aku tersenyum cerah, berniat menggodanya dengan mendekatkan wajahku ke wajahnya. Namun, belum niat itu harus sirna karena suara deheman yang mengejutkanku. Aku bahkan sampai tersentak dan menjauhkan diri dari Adeeva secara spontan.
"Eh, Papa."
Aku menyapa Papa dengan ekspresi salah tingkah, sedang di sampingku Adeeva terlihat sedang menahan diri untuk tidak tertawa. Padahal, kalau dipikir-pikir harusnya ia ikut salah tingkah. Ck, sesaat aku lupa kalau calon istriku itu terlalu ajaib.
"Papa ganggu, ya?"
"Eh? Ganggu? Ganggu gimana maksudnya, Pa? Enggak lah, duduk, Pa!" kataku kemudian, masih dengan ekspresi canggung yang tidak bisa kusembunyikan.
Papa mengangkat kedua bahunya secara bersamaan, sebelum mengambil posisi duduk di sofa single.
"Papa mau tanya betul-betul ke kalian berdua. Kalian yakin mau lanjut menikah? Terutama kamu, Nak Eva. Papa ingin kamu jawab jujur."
Aku terpana saat mendengarnya. Hatiku rasanya seperti bergetar, terharu, sedih dan juga bahagia di saat yang bersamaan.
"Kamu yakin bisa menerima masa lalu anak Papa?"
Ya Tuhan, mendengar nada bicara Papa yang terdengar seperti bergetar barusan, jantungku rasanya seperti diremas. Sakit sekali, ya Allah.
Masih dengan ekspresi yakinnya, Adeeva mengangguk. "Kita akan hidup di masa depan, Pa, bukan di masa lalu. Masa lalu hanya perlu dijadikan pembelajaran, bukan pedoman."
Ya Allah, betapa beruntungnya aku mencintai dan dicintai perempuan luar biasa ini. Aku jadi ingin memeluknya, tapi malu karena ada Papa.
Papa mengangguk dengan ekspresi berkaca-kaca, "Terima kasih, Nak. Papa tahu kamu gadis yang baik dan luar biasa, Naren beruntung memiliki kamu."
Aku mengangguk setuju dengan kalimat Papa barusan. Di luar dugaanku, Adeeva ikut mengangguk sambil tersenyum, seolah ikut membenarkan ucapan Papa. Membuatku tanpa sadar tersenyum dan teringat kalau pacarku itu memang unik.
"Iya, Pa, Arkan memang beruntung dapet Eva. Tapi Eva juga nggak kalah beruntungnya dapet Arkan dan juga Papa."
"Hah?"
Aku menatap Adeeva dengan dahi mengkerut tidak percaya.
"Maksudnya, dapet mertua seperti Papa, Ar. Kamu jangan cemburuan dong, masa cemburu sama Papa sendiri, nggak keren banget," kata Adeeva menjelaskan.
"Aku nggak cemburu, sayang."
"Terus?"
"Heran."
"Ngeles terus!"
"Papa ke atas aja deh, biar nggak ganggu kalian," kekeh Papa sambil berdiri tiba-tiba.
"Lho mau ke mana, Pa?"
"Nemuin Mamamu."
"Ikut!" seru Adeeva lalu bangkit berdiri, namun kutahan pergelangan lengannya, "kenapa?" tanyanya heran.
Aku menggeleng, lalu memggerakkan kepalaku, mengintruksinya agar duduk kembali.
"Apa sih? Punya mulut itu dipake buat ngomong, Ar, jangan buat pemanis doang," ketus Adeeva.
"Duduk!" kataku kemudian.
"Kenapa sih?"
"Mama sama Papa mau pacaran, kamu jangan ganggu dong."
"Aku cuma mau liat keadaan Mama, ya."
"Iya."
"Nggak usah dijawab!"
"Lho, katanya punya mulut buat ngomong bukan untuk pemanis doang. Kan kamu sendiri yang bilang, barusan lagi. Udah lupa?"
"Tahu, ah."
"Ngambek?"
"Iya. Puas?"
Aku terkekeh lalu mencubit pipi Adeeva karena gemas, membuatnya langsung menjerit dan memukul perutku yang terkena tonjokan Bang Ferdi tadi.
"Sakit!" seru kita bersamaan.
Adeeva menerjapkan kedua matanya bingung. "Emang kena apanya?" wajahnya berubah khawatir.
Aku langsung menunjuk perutku lalu berbisik, "Pas kena di bagian hadiah dari Bang Ferdi."
Kedua bola mata Adeeva langsung melotot terkejut, kedua tangannya membekap mulutnya sendiri. Ekspresinya terlihat jelas kalau ia merasa bersalah.
"Serius? Kena bagian yang itu?"
Aku mengangguk, mengiyakan.
"Maaf, aku nggak tahu. Sini coba liat, perlu dikopres atau dipakein saleb nggak? Coba buka dulu, aku mau lihat."
Aku menggelang tegas sebagai tanda penolakan.
"Cuma lihat doang, Ar. Takutnya nanti parah kan aku jadi ngerasa bersalah."
"Enggak usah, sayang. It's okay fine. Kamu nggak usah khawatir."
"Gimana nggak khawatir, orang tadi ekspresi kamu kayak orang kesakitan banget kok. Udah, ayo buka dulu! Aku mau lihat," kekeuh Adeeva, memaksaku untuk membuka kemejaku.
Aku pun masih sama kekeuhnya untuk menolak. Namun, Adeeva dengan segala tingkah ajaibnya, yang sering kali membuatku ngeri sendiri, jelas tidak akan diam pasrah. Ia masih ngotot untuk membuka kemejaku. Astaga, calon istriku begini banget, ya?
"Jangan!" tolakku sambil menggeleng tegas.
"Aku cuma mau lihat, Ar, nggak mau ngapa-ngapain kamu. Ekspresi kamu biasa aja dong! Aku bukan Tante girang yang mau perkosa brondongnya. Ayo, buruan buka!"
Astagfirullah! Perumpamaan harus itu banget, ya?
"Enggak usah, nanti aku--"
"ADEEVA FATYA!! MAU LO APAIN KAKAK GUE, HUH?" jerit Irin dengan suara kencangnya.
Adeeva jelas tidak terima, ia dengan emosinya langsung meraih bantal sofa yang ada di sampingnya dan melemparkannya ada Irin.
"Sembarangan! Gue cuma mau lihat kondisi Abang lo, nggak mau ngapa-ngapain."
"Oh, sorry!" ucap Irin dengan ekspresi datarnya, ia kemudian berjalan mendekat ke arah kami dan duduk di salah satu sofa, "gue pikir lo mau apa-apain Kak Arkan. Ya, abis ekspresi Kak Arkan gitu," imbuhnya kemudian.
Adeeva langsung menoleh ke arahku dengan tatapan mata tajamnya. "Gara-gara kamu nih," omelnya kesal.
"Kok aku sih?" protesku tidak terima.
"Iya, lah kamu, kalau bukan kamu siapa lagi?"
"Irin," kataku spontan sambil menunjuk Irin.
"Kok jadi aku?"
"Iya, emang lo salah juga. Ngapain pake teriak kenceng begitu? Heran gue, lo itu makannya tuh toa apa gimana sih? Suara kok kencengnya ngalahin toa masjid, makan itu tahu aja, bagus. Dari pada to--"
"Sialan lo!" umpat Irin sambil melempar bantal sofa ke wajah Adeeva, "lo pikir gue ini apaan, makannya toa. Sembarangan!"
"Ya, apa kalau gitu speakernya?"
"Wah, mulut lo itu lho, Va. Nggak gue restuin mampus!"
"Irin!" panggilku memberi peringatan pada Adik semata wayangku, "nggak boleh gitu. Dia tetep akan jadi Kakak ipar kamu lho."
"Tuh, dengerin!"
Aku menoleh ke arah Adeeva dengan ekspresi datarku. "Kamu juga dong, sayang. Nggak boleh gitu, ah."
"Lah, kenapa aku jadi kena juga," protes Adeeva tidak terima.
"Iya lah, biar adil."
"Ah, nggak asik lo berdua," rajuk Adeeva tiba-tiba langsung berdiri.
"Mau ke mana?" tanyaku sambil menahan lengannya.
"Toilet. Mau ikut?"
"Boleh?" godaku dengan sengaja.
"Boleh lah, ini kan toilet keluarga kamu. Masa nggak boleh. Ayo, buruan! Aku udah nggak tahan ini lho."
Seketika aku speechless. Di sampingku Irin langsung menertawakan aku dengan puasnya.
"Eva mau kamu godain, Kak, yang ada ditantanginkan?"
Aku cemberut sambil melirik Adeeva dan Irin sebal. "Ya udah, sana! Katanya mau ke toilet."
"Lho aku nungguin kamu lho, katanya mau ikut." Kini malah Adeeva yang menggodaku. Sialan!
Tbc,