Adore You!

Adore You!
Adore You! : d u a p u l u h d e l a p a n



"Sehat itu enggak cuma mahal, tapi juga berharga. Kamu akan kehilangan harapan dan merasa putus asa di saat kamu sakit."


÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷


"Harus banget ya, sampai ke sini?" bisik gue tepat di telinga Arkan.


Saat ini kita sedang berada di ruang tunggu di salah satu rumah sakit yang kebetulan lumayan dekat dengan kostan gue. Kedua mata gue menjelajahi ruang tunggu yang kebanyakan diisi oleh ibu-ibu hamil.


"Aku malu loh, Ar. Pasiennya kebanyakan ibu-ibu hamil, sedangkan aku--"


"Kamu lagi ngekode buat aku hamilin?" potong Arkan setengah bercanda.


Kenapa gue bilang setengah bercanda. Karena sudut bibir Arkan terlihat berkedut, seperti sedang menahan diri untuk tidak tertawa.


Gue langsung melototinya tajam sambil memukul pahanya. "Sembarangan!"


"Bercanda. Biar kamu nggak tegang aja gitu."


Gue mendengkus tak percaya dengan kemampuannya berekspresi sekarang. Meningkat drastis, nyaris membuat gue tidak percaya kalau yang sedang duduk di samping gue ini Arkan, Abangnya Shirin yang pelit ekspresi itu.


"Mbak, Mas," sapa seorang Ibu-ibu dengan perut bucitnya, lalu duduk di sebelah gue. Dia datang bersama anaknya yang gue taksir baru berumur enam atau tujuh tahun. Seumuran sama anak Arkan sih kayaknya.


Ah, anak Arkan?


Kok tiba-tiba sedih ya, kalau inget fakta itu?


Gue dan Arkan membalasnya dengan tersenyum.


"Mau periksa kandungan juga ya, Mbak?" tanya Ibu-ibu itu memulai basa-basinya.


Gue tersenyum canggung sambil menggeleng lalu mencubit pinggang Arkan, mengkode pria itu agar membantu menjawab pertanyaan si Ibu-ibu tersebut.


"Kenapa?" tanyanya sambil berbisik, lalu menoleh ke arah Ibu-ibu tadi.


"Oh. Enggak, Bu, kebetulan belum dikasih," jawab Arkan, membuat gue melotot terkejut.


Belum dikasih? Ya, belumlah, dinikahin aja belum masa iya, udah mau dikasih aja.


Ibu-ibu yang kebetulan belum tahu status gue yang belum jelas ini hanya mangguk-mangguk, lalu tersenyum.


"Baru mau program hamil, ya? Udah nikah berapa tahun emang?"


Gue speechles. Bingung mau jawab apa. Nikah berapa tahun? Dilamar resmi aja belum, gimana mau nikah berapa tahun.


Sementara Arkan tersenyum dengan tenangnya. "Baru mau konsultasi sih, Bu. Kebet--"


"Ny. Adeeva Fatya!" seru sang perawat memanggil nama gue. Membuat gue langsung bisa bernafas lega.


"Maaf, Bu, sudah dipanggil. Kami duluan," ucap Arkan lalu berdiri dan menggenggam tangan gue.


"Untung dipanggil kalau belum, mau jawab apa kamu?" gerutu gue sambil menyamakan langkah kaki gue dengan langkah kaki Arkan.


"Jawab sesuai kenyataanlah. Kalau kita belum menikah. Emang mau jawab apa?"


Astaga. Gue lupa kalau Arkan ini tipekal orang yang cuek.


"Widiiih, cantik juga calon lo, Ren. Nggak sia-sia ya, sampai harus nunggu 31 tahun. Dapet dari mana nih?" sambut sepupu Arkan yang gue tahu bernama Silvi kalau enggak salah. "Silvi," imbuhnya langsung mengulurkan tangan kanannya, mengajak gue berjabat tangan.


"Adeeva, panggil aja Eva," balas gue sambil tersenyum.


"Oke. Mari silahkan duduk!"


Arkan memilih untuk mengabaikan candaan sepupunya. Dan langsung menarik kursi untuk gue duduk, baru setelahnya dia menarik kursi untuknya sendiri.


"Buset, punya cewek secakep ini masih segitu cueknya. Kayak nggak bisa bersyukur banget ini makhluk hidup," seloroh Silvi sambil berdecak dan geleng-geleng kepala. Membuat gue langsung tertawa.


"Gue ke sini mau konsultasi bukan mau lo introgasi," balas Arkan datar.


"Pede banget lo. Siapa juga yang mau ngintrogasi lo," balas Silvi ketus. Pandangannya kemudian beralih pada gue, "kok lo betah sih sama yang model beginian. Gue lima belas menit aja udah suka darah tinggi lho."


"Sil, kita mau konsultasi loh, di luar pasien lo masih banyak. Bisa kita persingkat acara tanya jawab lo yang tidak penting itu?" ketus Arkan menghentikan niatan gue untuk menjawab pertanyaan Silvi.


"Astaga, masih judes aja lo!" gerutu Silvi lalu memanggil seorang perawat yang bertugas dengannya. "Sus, tensi dulu!" ucapnya menyuruh sang perawat.


Sang perawat langsung mengambil alih dan mentensi darah gue. "90/70, Dok."


"Eh, rendah banget. Normalnya berapa?"


"100/110 sih biasanya."


"Berarti ini termasuk rendah, ya. Terus keluhannya apa aja?" Silvi melirik gue dan Arkan secara bergantian sebelum kembali menulis.


"Sebenernya nyeri haid normal sih, kayak biasanya, cuma kali ini jumlah darah yang keluar lumayan banyak ketimbang biasanya. Biasanya emang banyak juga sih, cuma kali ini lumayan agak berlebih dari biasanya. Sampai bikin tembus di kasur lumayan banyak, padahal aku baru ganti."


"Sampai ganggu aktivitas harian enggak?"


"Lumayan ganggu sih. Aku sampai enggak berangkat kerja. Itu normal enggak sih?"


Silvi mangguk-mangguk lalu berdiri. "Di-usg dulu aja, yuk, biar jelas."


Gue ikut berdiri lalu mengikuti Silvi mendekat ke arah brankar. "Baringan dulu!" intruksiya kemudian.


Gue mengangguk lalu berbaring.


"Di angkat bajunya, Mbak," kata si perawat.


Gue melirik tajam ke arah Arkan, mengintruksinya agar menghadap ke belakang. Namun, sepertinya enggak ditangkap baik olehnya. Maklum, orang enggak peka ya, gini. Susah dikode.


Silvi menarik salah tangannya yang tadi berada di antara saku snelli-nya lalu menepuk pundak Arkan. "Ngadep sana, Ren! Udah dipelototi juga, masa nggak paham-paham. Dasar nggak peka banget sih jadi manusia."


Arkan ber'oh'ria lalu berbalik membelakangi gue.


"Kita cek dulu, ya!" kata Silvi sebelum mulai mengarahkan alat usg ke perut gue.


Gue mengangguk, sedang Silvi langsung menggerakkan alat usg itu di atas perut gue.


"Itu apa?" tanya gue panik saat melirik ke layar monitor usg, yang berada di samping gue. Seperti ada sebuah titik di sana, terlihat seperti janin kecil tapi gue enggak hamil. Gimana mau hamil, gue belum pernah melakukan hubungan badan dengan siapapun selama ini. Jadi enggak mungkin gue hamil. Lalu itu apa?


Mendengar pertanyaan gue, Arkan berbalik dan menatap ke layar. Lalu menoleh ke arah sepupunya.


"Itu apa, Sil?" tanya Arkan.


Silvi tidak langsung menjawab. Ia menyerahkan alat usg-nya kepada sang perawat, lalu menatap gue dan Arkan secara bergantian.


"Kalian pernah denger miom?"


Gue menggeleng, karena memang belum pernah mendengar istilah apa itu. Sementara Arkan mengangguk.


"Apa itu?" tanya gue dengan suara bergetar.


Gue belum pernah merasa seketakutan ini.


"Benjolan ini yang menyebabkan siklus haidmu enggak normal dan juga kesakitan setiap bulan. Itu miom atau bisa disebut tumor jinak."


"Harus diangkat?" tanya Arkan.


"Ukurannya 6,7cm, Ren. Jadi harus diangkat."


"Operasi maksud kamu?" tanya gue shock.


Silvi mengangguk, membenarkan.


"Enggak mau!" tolak gue tegas. "Aku mau pulang." Lalu cepat-cepat langsung turun dari brankar. "Aku baik-baik saja. Aku enggak sakit, aku... aku cuma... hiks hiks... aku cuma dateng bulan, Ar. Aku enggak sakit."


Isak tangis gue seketika pecah. Dunia gue rasanya hancur di detik itu. Gue rasanya kayak enggak sanggup untuk sekedar berteriak. Dan dengan cekatan Arkan langsung memeluk tubuh gue erat. Ia tidak mengatakan apapun, hanya memeluk gue erat sambil terus menciumi pucuk kepala gue. Sepertinya Arkan sama terkejutnya dengan gue.


"Aku baik-baik aja kan, Ar," bisik gue masih menangis di pelukan Arkan.


Arkan mengangguk yakin lalu berbisik, "Iya, kamu akan baik-baik saja." Kemudian kembali mencium pucuk rambut gue sekali lagi. Lalu membantu gue berdiri dan duduk di kursi tadi.


Silvi menyodorkan selembar kertas ke Arkan. "Ini resep yang harus ditebus. Pereda nyeri, bisa diminum pas nyeri banget, kalau enggak, enggak usah diminum." Lalu kemudian menyerahkan amplop, "ini hasil usg-nya."


Arkan mengangguk sambil menerima kertas itu. "Thanks, ya. Kita pamit dulu. Untuk..." Arkan tiba-tiba menghentikan kalimatnya dan menoleh ke arah gue.


"Kabari dulu orang tuanya. Kedua orang tua Eva berhak tahu dan memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan dokter nantinya."


"Tapi kamu bilang... harus dio--"


"Aku enggak mau dioperasi," tegas gue memotong kalimat Arkan.


"Tapi mumpung ukurannya belum terlalu besar, Va, lebih cepat diangkat, akan lebih baik," kata Silvi mencoba memberi pengertian. Namun gue enggak perduli.


"Aku baik-baik aja."


"Tapi kalau tidak segera diangkat nantinya kamu bisa--"


"Aku enggak mau denger," lirih gue kembali menangis.


Dapat gue denger helaan nafas pendek dari Silvi. Lalu gue merasakan elusan ringan di bahu gue.


"Kita pamit dulu, Sil," ucap Arkan lalu membimbing gue untuk keluar dari ruangannya. Sementara gue hanya bisa pasrah. Gue ngerasa seperti kehilangan separuh nyawa gue.


********


Sepanjang perjalanan gue hanya diam, pikiran gue kacau. Dunia gue rasanya hancur setelah mendengar diagnosis Silvi. Enggak pernah kebayang ternyata nyeri haid yang gue alami setiap bulan merupakan salah satu gejala dari miom. Gue belum pernah denger penyakit itu sebelumnya, dan pertama kalinya gue tahu penyakit ternyata bersarang di dalam tubuh gue. Gue enggak tahu harus bagaimana sekarang.


Tanpa sadar air mata gue kembali jatuh. Bayangan Ibu dan Ayah tiba-tiba terlintas di pikiran gue. Bagaimana memberitahu mereka tentang kondisi gue? Kalau gue enggak kasih tahu siapa yang bakalan ngurusin gue?


"Adeeva, kita sudah sampai," ucap Arkan sambil membuka seatbelt miliknya. Tubuhnya kemudian menghadap ke gue. Tangannya terulur menggapai wajah gue, lalu mengusap pipi gue, bermaksud untuk menghapus air mata gue. "Nyerinya muncul lagi, ya?"


Gue menggeleng, lalu menarik tubuhnya agar dapat gue peluk dengan mudah.


"Aku sayang sama kamu, Ar," bisik gue kembali terisak.


"Iya, aku tahu. Aku juga sayang sama kamu. Aku enggak akan ninggalin kamu, mau gimana pun kondisi kamu. Aku akan tetap nikahin kamu, setelah kita dapat restu. Yang penting sekarang kamu sehat dulu," ucap Arkan sebelum menjauhkan tubuhnya dari tubuh gue dan kembali duduk di kursinya. "Sekarang turun dulu, yuk! Kamu perlu istirahat."


Gue langsung menahan lengannya yang hendak membuka pintu.


"Aku mau ngomong."


"Kenapa enggak nanti di dalam aja?"


Gue menggeleng sambil berusaha menahan diri agar tidak menangis lagi.


"Aku maunya sekarang."


"Ya udah, kalau gitu."


Gue mengangkat tangan gue yang memakai cincin pemberian Arkan. "Kamu udah pernah denger belum kalau aku suka banget sama cincin yang kamu kasih?"


"Va, aku enggak mau ya, kamu ngomong yang aneh-aneh abis ini. Sekarang mending kita turun!"


Tanpa bisa gue bendung lagi, air mata gue kembali jatuh. Gue sedih dan juga terharu akan kepekaannya yang tidak biasa ini.


"Va, aku bilang aku sayang sama kamu. Aku serius akan ucapan aku. Kamu itu adalah alasan aku beli cincin itu, kamu juga alasan aku untuk berani memikirkan sebuah pernikahan. Lalu sekarang apa? Kamu mau minta aku ninggalin kamu gitu karena kamu sedang sakit? Kamu enggak boleh gitu, itu namanya kamu egois."


Tangis gue semakin menjadi karena kalimat Arkan. Gue emang kepikiran supaya Arkan ninggalin gue dan cari perempuan lain saja. Astaga, otak gue sinetron banget, ya?


"Maaf," sesal gue dengan kepala tertunduk menahan malu.


Arkan itu bukan tipekal orang yang cuek dan enggak peka. Eh, sekalinya peka kok bermanfaat banget gini, ya. Kurang beruntung apalagi coba gue? Yang beginian masih gue raguin? Emang sakit kayaknya gue deh.


"Jadi, kamu beneran kepikiran begitu?" tanya Arkan tak percaya.


"Aku stress, Ar. Aku bingung... aku--"


"Kalau kamu bingung, kamu bisa tenangin diri kamu dulu. Jangan ngambil keputusan secara gegabah, nanti takutnya berefek enggak baik."


"Maaf."


"Karena nerima cincin ini?"


"Hah? Maksudnya?"


"Kamu juga bingungkan pas nerima lamaran aku kemarin, makanya kamu menghindar setelahnya?"


Hah? Kok dia tahu? Bentar, jangan bilang dia selama ini cuma pura-pura enggak peka gitu?


"Aku bener, ya?" kekeh Arkan sambil menarik beberapa lembar tisu untuk menghapus air mata gue.


"Kok kamu jahat sih?" rajuk gue sambil merebut tisu yang ada di tangannya.


"Kamu juga jahat punya pikiran buat ninggalin aku," balas Arkan tak mau kalah.


Gue mendengkus tak percaya. Kok nyebelinnya balik sih, nyenenginnya kok cuma sepuluh detik.


"Kamu enggak jijik, Ar?" tanya gue setelah membersihkan ingus gue menggunakan tisu yang gue gunakan untuk mengelap air mata.


Dengan wajah datarnya, Arkan mengangguk tanpa keraguan.


"Itu maksudnya ngangguk apa?"


"Iya, jijik kok."


Kedua bola mata gue membulat sempurna. "Jijik kok ekspresinya biasa aja?"


"Emang harusnya gimana?" tanya Arkan dengan wajah polosnya. Membuat gue gemas dan ingin sekali mencekik lehernya.


Dia mulai kumat pemirsa!


"Bodo amat, Ar!" ketus gue lalu memilih keluar dari mobilnya.


"Loh, salah lagi?"


**Tbc,


Hmm, laki-laki selalu salah dan perempuan selalu benar.


Betul?😂😂**