
######
Alhamdulillah, kondisi Mama berangsur pulih, beliau sudah bisa beraktivitas seperti biasa, meski kami tetap saja masih membatasinya agar Mama tidak terlalu capek dulu. Bang Ferdi dan keluarganya sudah kembali ke rumah mereka, sedang Irin dan Rafka masih di sini, karena Damian belum pulang dari luar kota.
Sikap Mama kepadaku masih sedikit dingin, aku tahu beliau kecewa tapi tetap saja aku sedih melihatnya. Mama seperti belum memaafkan aku, ya, aku cukup paham dengan keadaan ini, kesalahanku memang cukup fatal dan sulit untuk dimaafkan.
"Gimana, Ren, sudah ada tanggal untuk acara lamarannya?" tanya Papa.
Aku menggeleng. "Belum, Pa."
"Jadi lamaran tidak memangnya?"
Aku tahu betul, dari nada bicara Papa barusan terdapat makna sindiran halus untukku.
Tanpa keraguan, aku mengangguk yakin. "Jadi, Pa. Tapi kita belum obrolin ini lebih lanjut."
"Ya, buruan diobrolin dong, Kak. Baik Kakak mau pun Eva udah sama-sama nggak muda lagi, sama sekali nggak cocok untuk pacar-pacaran," sahut Irin ikut-ikutan.
Aku kemudian melirik Mama, berharap beliau akan ikut berkomentar atau semacamnya, namun sayang, Mama tetap diam dan tak bersuara.
Aku menghela napas pendek. "Iya, nanti aku obrolin lebih lanjut sama Eva."
"Harus itu," sahut Irin sekali lagi.
Aku mengangguk sekali lagi. "Iya. Kalau begitu, Naren langsung berangkat." pandangan mata gue beralih pada Irin, "mau bareng sekalian enggak?" tawarku kemudian.
Irin menggeleng. "Enggak usah, aku nunggu dijemput Papanya Rafka aja."
Aku mengangguk paham, lalu bangkit berdiri dan berpamitan pada Mama dan Papa. Kemudian meninggalkan meja makan, naik ke lantai atas untuk mengambil tas kerjaku. Saat aku keluar kamar, aku menemukan Mama berdiri di depan pintu kamarku.
"Buru-buru?" tanya Mama mulai berbasa-basi.
Aku menggeleng. "Tidak terlalu terburu-buru, Ma. Mama butuh sesuatu?"
"Enggak, Mama cuma mau ngomong sama kamu."
Aku mengangguk paham, lalu mengajak beliau masuk ke dalam kamarku.
"Duduk dulu, Ma!"
"Kamu dan Eva serius mau lanjut? Dengan masa lalu yang kamu miliki itu, Eva yakin mau menerima kamu? Mama bukannya mau ngeremehin kamu, Ren, Mama cuma khawatir. Mama khawatir kalau salah satu di antara kalian nantinya akan terluka, bagaimana pun..." Mama menjeda kalimatnya sambil menggeleng, "Mama hanya khawatir. Mama sayang kalian, Mama nggak mau di antara kalian ada yang terluka, Ren. Itu saja," imbuhnya kemudian.
Sekali lagi aku mengangguk. Aku paham betul kekhawatiran Mama saat ini, kekhawatiran Mama sangatlah wajar, karena kalau boleh jujur terkadang pun aku masih khawatir. Tapi setiap kekhawatiran itu menyambangiku, Adeeva dengan tingkah polah ajaibnya mampu meyakinkanku. Aku merasa sangat beruntung.
"Makasih, Ma, sudah ngekhawatirin Naren. Tapi insha Allah, kekhawatiran Mama tidak akan terjadi. Baik aku mau pun Eva, kami sama-sama sudah yakin untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Memang tidak mudah bagi Naren mau pun Eva, Ma, tapi insha Allah kami bisa."
Mama mengangguk sambil menepuk punggung tanganku. "Mama lega dengernya. Jangan kecewain Eva ya, Ren. Dia perempuan baik, jangan sakiti dia."
"Pasti, Ma. Naren akan berusaha untuk tidak mengecewakan mau pun membuatnya sedih. Insha Allah."
"Ya sudah, sana, kamu berangkat perlu menjemput Eva juga kan?"
"Hmm."
"Ya udah, sana berangkat!"
Aku tersenyum sembari mengangguk, lalu memeluk Mama. "Makasih sudah tidak marah, Ma. Naren sayang Mama, maaf karena sempat ngecewain dan juga bikin Mama sedih." Aku mengurai pelukanku dan berdiri, "Naren jemput Mantu Mama dulu, ya."
"Calon," koreksi Mama sambil berdecak.
Aku tersenyum dan berkata, "Sama aja."
"Dasar!"
#####
"Lama banget sih?" decak Adeeva saat memasuki mobilku.
Aku meringis canggung, sambil menggaruk kepala bagian belakangku. "Macet," ucapku ragu-ragu.
Adeeva mendengkus tidak percaya. "Klise," cibirnya sambil memasang seatbelt-nya.
Aku langsung menjalankan mobilku meninggalkan kostan Adeeva. "Tadi diajak ngobrol dulu sama Mama."
"Udah baikan?" tanya Adeeva tidak yakin.
"Hmm, lumayan lah."
"Kok lumayan sih? Tadi kamu diomelin, ya?"
"Enggak."
"Terus?" desak Adeeva penasaran.
"Cuma dikasih wajengan."
"Itu sih sama aja dong, Ar."
"Beda dong, sayang. Wajengan kan dikasih tahu baik-baik, kalau diomelin, ya diomelin, nada bicaranya biasanya nggak baik-baik."
"Kasih wajengan apaan emang?"
"Kepo, ya?"
"Iya lah, pake segala tanya. Kalau nggak pengen tahu kenapa aku tanya?"
"Iya, iya, biasa aja, nggak usah ngegas," kataku kemudian.
"Jadi, dikasih wajengan apa?"
"Nggak boleh ngecewain atau bikin kamu sedih."
"Hah?" Adeeva melongo secara spontan.
"Ya, emang begitu Mama bilangnya. Mama khawatir sama kamu."
"Mama sayang banget ya, sama aku?"
"Kayaknya sih gitu."
"Alhamdulillah, seneng aku dengernya. Seenggaknya Mama mertua aku baik." Adeeva bernapas lega, sembari menyandarkan punggungnya di kursi penumpang.
Di sampingnya, aku tersenyum sambil mengangguk. Aku juga senang, perempuan yang aku pilih sesuai dengan Mama, bahkan Mama terlihat sangat menyayangi Adeeva. Apa lagi setelah tahu masa laluku, aku merasa Mama jauh lebih sayang dengan Adeeva dari pada denganku. Terdengar agak menyedihkan sih, tapiΒ ya, diterima saja. Toh, ini memang resiko dari perbuatanku di masa lampau.
"Ohya, Papa udah nanyain terus nih. Kira-kira kapan aku sama keluarga ke Semarang buat lamar kamu?"
Adeeva menoleh ke arahku. Wajahnya terlihat ragu-ragu, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak yakin akan responku. Mendadak aku jadi takut, Adeeva tidak ingin membatalkan acara lamarannya kan?
"Ada apa sih?" tanyaku penasaran.
Adeeva masih bergeming, ia malah mengigit bibir bawahnya dan bukannya langsung menjawab pertanyaanku. Membuat semakin penasaran saja.
"Bibirnya jangan digigit begitu, Adeeva! Nanti berdarah," kataku memperingatkan.
Adeeva sontak langsung berdecih, lalu mencibirku, "Lebay kamu, ah."
Aku tidak peduli.Β
"Aku mau ngomong," ucap Adeeva setelahnya.
Ck, dia mulai lagi.
"Aku dengerin," balasku sambil mengangguk yakin.
"Kalau aku kepengen acara lamaran kita pake Engagement Party kayak calon pengantin yang lain, kamu ada masalah?"
Astaga, aku nyaris terkena serangan jantung, dan yang membuat Adeeva ragu-ragu hanya masalah begini?
"Kamu nyaris bikin aku kena serangan jantung, Adeeva," gerutuku kesal.
"Dasar tua!" Adeeva malah mencibirku.
"Hei! Tidak ada urusannya dengan umur, ya," protesku tidak terima.
Sambil mengangguk setuju, Adeeva berkata, "Memang tidak ada hubungannya."
"Lalu kenapa kamu mengolok umurku?"
"Aku nggak mengolok, Ar, cuma mengungkapkan fakta."
Kali ini aku mendengkus. "Aku tua juga gara-gara nungguin ketemu kamu."
"Yee, kamu tua gara-gara salah kamu sendiri, ya. Yang susah move on dari Ibunya anak kamu."
Sial. Aku kalah.
"Dih, baperan," cibir Adeeva setelahnya, "kayak begini kok ngebet mau ngelamar aku."
"Aku nggak baperan, ya," balasku mengelak.
Adeeva mangguk-mangguk. "Iya, kamu nggak baperan cuma laperan. Untuk bahas detail soal Engagement Party, mending nanti aja, ya. Pas pulang kerja, di apartement kamu. Gimana?"
"Dih, dasar tukang modus."
"Biarin, modusin calon suami sendiri ini," balas Adeeva sambil memainkan alisnya naik-turun.
Aku mendengkus samar. Kalau urusan goda-menggoda Adeeva memang terlalu ahli, dan memang tidak seharusnya aku menantangnya.
####
"Ar, aku mendadak pengen ayam geprek deh," celetuk Adeeva tiba-tiba.
Kami baru saja masuk ke dalam lift, pintu baru saja tertutup sekitar lima detik yang lalu dan tiba-tiba Adeeva berceletuk ingin makan ayam geprek. Padahal saat kami masih di jalan tadi, aku sudah menawarinya ingin makan apa. Tapi Adeeva menolaknya.
"Kenapa nggak bilang dari tadi, sayang. Kita udah naik lift loh ini."
Dengan wajah cemberutnya, Adeeva menunjukkan layar ponselnya. "Irin abis pamer ayam geprek di story WA, aku mendadak jadi pengen."
Adeeva langsung mengangguk antusias. "Kamu yang bayar?"
"Iya lah, biasanya juga gitu kan?"
"Iya lah, kamu kan sensinya ampun-ampunan kalau masalah bayar membayar. Gengsinya setinggi langit, mana mungkin kasih aku kesempatan buat bayar makanan yang kita makan."
Aku tersenyum mendengar pengakuan Adeeva yang memang benar adanya. Aku memang tipekal pria yang anti dibayarin pacarnya. Entahlah, mungkin benar kata Adeeva kalau gengsiku memang setinggi langit.
"Harga diri, sayang."
"Halah, kebanyakan gaya!" ejek Adeeva mencibir.
Aku hanya tersenyum, sebagai respon. Lalu merangkul pundaknya saat kami hendak keluar dari lift.
"Mau nginep?" celetukku iseng.
"Di mana? Di apartement kamu?" tanya Adeeva.
Aku terkekeh. "Mau?"
"Enggak," tolak Adeeva sambil menggeleng tegas dan menghempaskan tubuhnya di sofa panjang.
"Kenapa?" Aku kemudian menyusulnya, dan duduk di sebelahnya.
"Takut khilaf," cengir Adeeva. Ia kemudian berdiri, "aku haus deh, kamu mau minum?"
"Boleh."
"Apa?"
"Lihat dulu isi kulkas adanya apa, baru nawarin," kataku sambil membaringkan tubuhku di atas sofa. Tanganku kemudian meraih remote televisi dan menyalakannya, mencari-cari saluran televisi yang menarik.
Tak lama setelahnya, Adeeva kembali sambil membawa dua botol air mineral. "Adanya ini ternyata."
"Kan emang belum diisi lagi," balasku sambil mengampit kedua telapak tanganku di antara paha, "yang, aku ngantuk deh. Tiduran bentar boleh?"
Adeeva berdecak. "Tidur itu tinggal merem, Ar, nggak usah pake izin segala."
"Hmm."
"Tv-nya aku matiin aja, ya?"
"Biarin nyala, biar nggak sepi."
"Mubazir dong, nggak baik. Lagian kita perlu hemat listrik, yang nggak digunain mending dimatiin."
Mode cerewet khas perempuannya kambuh.
"Ya udah, terserah kamu," kataku pasrah.
"Nah, gitu dong. Kita itu sebagai makhluk hidup yang diciptakan memiliki pikiran--"
"Iya, iya, sayang. Iya, ini aku mau tidur bentaran doang lho, nggak bisa ngomelnya ditunda nanti?" negoku dengan ekspresi memelas.
Adeeva justru malah menimpukku. "Aku nggak ngomel, ya," elaknya tidak terima.
"Iya."
"Ya udah tidur sana!"
"Hmm," responku seadanya, karena sudah bersiap memasuki alam mimpi.
Saat aku membuka kedua kelopak mata, aku menemukan Adeeva sedang membereskan meja. Spontan aku langsung menegakkan tubuhku dan menatap Adeeva tajam.
"Kamu udah makan duluan?" tanyaku sedikit kesal.
Sambil mengelap meja menggunakan tisu, Adeeva mengangguk. "Laper," cengirnya kemudian.
"Terus kenapa nggak bangunin aku?"
"Tadi udah coba aku bangunin, tapi kamunya aja yang tidur udah kayak dibius. Ya, udah aku biarin. Niat awalnya sih tadi mau aku tungguin kamu bangun, tapi kamunya nggak bangun-bangun. Ya udah, aku makan duluan, soalnya aku udah laper banget."
"Terus aku makan sendiri?"
Adeeva menatapku datar, sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Emang harus aku suapin?"
"Emangnya aku Rafka," gerutuku kesal lalu berdiri.
"Mau ke mana?" tanya Adeeva heran.
"Ke kamar mandi. Kenapa mau ikut?"
Dengan wajah santainya, Adeeva langsung mengangguk kemudian berdiri. Dia benar-benar ikut ke kamar mandi setelahnya. Aku pikir dia hanya ingin menggodaku.
"Ar, lihat deh acara lamarannya Isyana. Bagus banget deh konsepnya, kebaya yang dipake, suasananya. Aku suka deh, jadi pengen," celetuk Adeeva sambil berpindah ke sebelahku.
Ia kemudian menyodorkan ponselnya, mendekat ke arahku. Aku memperhatikan video yang sedang diputarkannya sambil mengunyah.
"Gimana menurut kamu?" tanya Adeeva.
Aku mengangguk. "Bagus kok."
"Itu aja?" protes Adeeva terlihat kesal.
Keningku mengernyit heran. "Loh, emang harus sambil ngapain?"
"Ya, ungkapin pendapat kamu lah."
Loh, loh, memangnya aku tadi barusan habis ngapain, kalau tidak mengungkapkan pendapatku?
"Kan aku tadi bilang bagus, Adeeva. Itu bukan pendapat?"
"Tapi kurang spesifik."
"Spesifik yang gimana?" tanyaku tak paham.
"Ya, komentar apa gitu?"
Astaga, nasi yang sempat kukunyah tadi, rasanya seperti mendadak menyangkut di tenggorokanku. Aku kemudian meraih botol mineralku yang kini sudah tidak dingin, lalu menegaknya hingga setengah, agar nasiku sampai ke lambung.
"Ya, apa? Kasih contoh!" kataku tak mau kalah.
"Tahu, ah, makan aja kamu sana!" rajuk Adeeva lalu berpindah tempat duduk, menjauhiku.
"Ngambek?"
"Iya."
"Oke. Kalau udahan ngambeknya, kasih tahu."
Adeeva langsung melirikku sinis lalu menjawab seadanya. "Hmm."
Aku hanya terkekeh geli melihat tingkah ajaibnya sambil geleng-geleng kepala. Menghabiskan makananku lalu membereskan sisanya, baru setelah itu aku kembali duduk di sofa panjang dan menyuruh Adeeva berpindah di sebelahku.
"Aku masih ngambek, ya."
"Iya, makanya pindah sini. Biar gampang bujuknya."
Dengan wajah ditekuk, Adeeva berdiri dan berpindah di sebelahku. "Harus langsung manjur ya, nggak mau tahu pokoknya."
Aku kembali terkekeh, lalu merangkul pundaknya.
Membuat Adeeva berdecak dan langsung memprotes, "Ah, curang mainnya skinship."
"Kan yang paling manjur ini," balasku sambil menyandarkan kepalanya di pundakku.
"Tapi curang dong, kan aku lemah iman kalau urusan beginian."
"Enggak papa. Jadi, mau pake Wedding planner yang sama kayak Isyana?" tanyaku kembali ke topik awal.
Sambil mengutak-atik ponselnya, Adeeva langsung mencibir, "Kayak mampu aja."
"Mampu dong, kan bagi dua bayarnya," candaku sambil mencengir.
"Curang, kalau jajan nggak sudi bayarnya bagi dua. Eh, giliran urusan beginian maunya bagi dua. Waw, pintar sekali, ya, calon suami sekaligus bapak dari anak-anakku ini," gerutu Adeeva menyindirku secara terang-terangan.
Membuatku tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. "Bercanda doang, sensi amat sih."
"Jelas," balas Adeeva tak mau kalah.
"Bocor, ya?" celetukku spontan.
"Jelang. Masih H- kok."
Keningku mengernyit bingung. "Hah? H-? Maksudnya?"
"H- sebelum bocor," kata Adeeva sambil berdecak.
Aku masih kebingungan.
Adeeva tertawa. "Udah hampir masuk tanggalnya dapet, Ar. Kamu siap-siap, ya, kadang aku sensinya sebelum dapet ketimbang pas dapetnya. Kadang dua-duanya sensi."
Astaga, kok kedengerannya ngeri amat kenaikan hormon perempuan.
Tbc,
Bissmilahhirohmanirohim, semoga lolosnya nggak lama π
aku sekarang agak, worry deh, kalau up lama review-nya, padahal gk pake gambar π semoga kali ini cepet. Aamiin.
See you next part π€πππππ
kalau ada typo yang kelewat, tolong diingetin, ya π
ohya, mau absen yang dlu prnh baca di platform oren dong ππ