Adore You!

Adore You!
We're Getting Married : |10| Menuju The Engagement part 2



######


Weekend kali ini aku dan Adeeva berencana pergi ke toko kain, untuk membeli kain yang akan kami kenakan dalam acara pertunangan kami nanti. Pagi-pagi sekali, setelah selesai berolahraga, aku segera mandi dan bersiap-siap menjemput Adeeva.


"Mau ke mana? Kok pagi-pagi udah rapi," Mama memajukan tubuhnya dan mengendus tubuhku, "wangi lagi. Biasanya jam segini masih bau keringet," imbuhnya kemudian.


"Mau pergi."


"Ke mana?"


"Cari kain."


Mama ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. "Oh, buat acara lamaran?"


Aku mengangguk, membenarkan. "Hmm."


"Oh, ya udah, hati-hati!" kata Mama memperingatkan, "ohya, nanti kalau udah dapet langsung bawa ke tukang jahit aja, biar cepet jadi."


"Ke tukang jahit mana, Ma?"


"Tukang jahit langganan Mama aja, butiknya Tante Winda. Kamu tahu kan tempatnya? Mama pernah ajak kamu ke sana dulu. Tempat kita bikin seragam untuk acara keluarga itu lho."


Aku menggaruk-garuk kepalaku yang mendadak gatal. Mencoba mengingat tukang jahit yang menjadi langganan Mama, aku sebenarnya ingat orangnya meski samar-samar saja aku mengingatnya. Tapi kalau tempatnya jujur aku lupa, karena aku pernah mengantarkan Mama hanya sekali. Itu pun dulu, sewaktu aku masih kuliah. Astaga, itu sudah lama sekali. Mana mungkin aku masih mengingatnya.


"Yang dulu bikinin seragam buat acara nikahan Irin sama acara ngunduh mantu, kita juga jahit di sana lho, Ren. Masa kamu nggak inget, Mama ingat kok kalau kamu juga pernah anter Mama ke sana."


"Iya, Naren pernah nganter. Tapi masalahnya itu udah lama lho, Ma. Terus untuk masalah seragam, kan waktu itu Naren diukurnya pake ukuran kemeja yang pas, Naren enggak ikut lho, Ma. Jadi, mana mungkin Naren ingat coba."


"Ah, payah, dasar tua!" cibir Mama mengejekku.


Astagfirullah, kalau aku tua bagaimana dengan Mama sendiri?


"Ya udah, nanti tanya Eva kalau gitu."


"Emang Eva tahu?"


"Tahu lah, mantu Mama sih bisa diandelin, ya."


Aku tersenyum lalu mangguk-mangguk. "Oh, gitu ya. Ya udah, bagus deh."


"Iya lah, emangnya kalian."


Keningku mengernyit secara reflek. Kalian? Itu artinya aku, Bang Ferdi, dan juga Irin, yang Mama maksud?


Plak!


Aku tersentak kaget saat merasakan pukulan ringan pada pundakku.


"Buruan berangkat!" omel Mama sambil melotot tajam ke arahku, "jangan membuat menantu Mama menunggu. Paham?"


"Siap Ibu negara," balasku sambil mengangguk paham.


"Laksanakan!"


Aku tertawa kecil. "Iya, Naren berangkat, ya, Ma. Assalamualaikum!"


"Wa'allaikumussalam!"


######


Aku menghentikan mobilku saat sudah sampai di depan kostan Adeeva. Aku kemudian mengeluarkan ponselku dan menghubunginya.


"Aku udah di depan," ucapku saat sambungan terhubung, tidak ada sapaan mau pun basa-basi lain, karena itu bukanlah gayaku.


"Assalamualaikum!" Suara Adeeva terdengar menyindirku.


"Wa'allaikumussalam," balasku kemudian.


Di seberang Adeeva berdecak dan berkata, "Dasar nggak peka!"


"Aku udah di luar," ulangku mengabaikan tegurannya.


Sekali lagi Adeeva berdecak. "Masuk dulu, aku belum siap."


"Oke."


Aku langsung mematikan sambungan telfon dan turun dari mobil. Masuk ke dalam kostan Adeeva setelah tadi sempat menyapa satpam yang bertugas. Karena sudah lumayan sering kemari, penjaga satpam di sini sudah mulai hafal dengan wajahku, jadi Adeeva tidak perlu repot-repot keluar dari kamarnya untuk menjemputku. Aku sudah pernah bercerita belum kalau kost Adeeva itu jenis kost campur. Kalau belum, aku akan ceritakan sedikit. Jadi, kost Adeeva ini memang bisa dibilang tidak memiliki banyak aturan. Bisa membawa pacarnya keluar-masuk dengan mudah, selagi penghuni kost bayar uang sewa tepat waktu, kalau telat, katanya susah. Agak sedikit aneh menurutku. Tepat pukul sepuluh malam, selain penghuni kost harus meninggalkan area kost. Hanya itu peraturannya, tidak banyak bukan?


Aku terkejut saat Adeeva membukakan pintu kamar. Aku pikir kata-kata 'aku belum siap' tadi itu, Adeeva kurang merias diri atau semacamnya. Tapi ternyata aku salah, Adeeva bahkan belum mandi. Ia masih mengenakan atasan piyama dan celana pendeknya. Astaga!


"Udah sarapan?" tanya Adeeva saat aku masuk ke dalam kamarnya.


Keningku mengernyit sesaat, lalu melirik Adeeva curiga. "Kenapa?" tanyaku heran.


"Tanya doang, biasa aja matanya! Aku tadi pake dapur umum terus masak, kali aja kamu mau ngicip."


Aku ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk, kemudian menggeleng sebagai tanda penolakan.


"Nanti siang aja deh, sekarang masih kenyang," tolakku kemudian.


Adeeva hanya mangguk-mangguk paham dan masuk ke kamar mandi.


Tak lama setelahnya, Adeeva keluar dari kamar mandi. Ia sudah rapi dengan celana jeans panjang dan kemeja garis-garis sebagai atasannya. Rambutnya sedikit basah. Lalu dia duduk di depan meja rias dan mulai menyisir rambutnya. Aku hanya mengamatinya dari tempat tidur.


"Nanti kita sekalian cari kain buat seragam keluarga apa buat kita aja?"


"Buat kita aja," balasku singkat.


"Terus seragam untuk keluarga?"


"Biar cari sendiri. Nanti kalau kita yang cariin, takutnya mereka kurang suka. Jadi, mending biar mereka cari sesuai selera."


"Oke." Adeeva mengangguk setuju, lalu kembali fokus dengan aktivitasnya merias diri.


Aku mulai bosan menunggu.


"Masih lama nggak sih?"


"Enggak, bentar lagi kok."


Aku mengangguk, mencoba untuk memahami kebutuhan perempuan, jadi aku harus bersabar. Namun, hampir dua puluh menit berlalu, Adeeva masih belum menyelesaikan aktivitas berdandannya. Dan ini membuatku cukup membuatku kesal.


"Kalau udah selesai bangunin, ya," kataku menyindir Adeeva, lalu berbaring di atas ranjang.


"Aku bentar lagi selesai," balas Adeeva, masih sibuk mengoleskan, entah apa namanya, di bibir tipisnya, terlihat seperti lipstik tapi kata Irin yang seperti itu bukan lipstik namanya. Entahlah, aku lupa. Tidak ingin mengingatnya juga.


Aku mencari posisi ternyamanku lalu berkata, "Dua puluh menit yang lalu kamu juga bilang gitu, sayang."


"Ya, itu tadi. Sekarang beda, kali ini beneran bentar lagi kok."


"Oke. Lima menit lagi kita berangkat?Gimana?"


Adeeva menoleh ke arahku. "Sepuluh menit." ia kemudian menggeleng tidak setuju.


"Iya, pokoknya bangunin aja kalau udah selesai," kataku sambil menyilangkan kedua tanganku di depan dada.


Samar-samar aku mendengar Adeeva menggurutu. Tak lama setelahnya Adeeva membangunkanku.


"Ayo, aku udah siap."


Aku memicingkan kedua mataku menatapnya tak yakin. "Yakin udah?"


Dengan wajah penuh keyakinan, Adeeva mengangguk sambil mencangklong tas selempangnya.


"Sama aja," gumanku merasa aneh.


"Apanya?"


Aku memasang wajah datarku dan menunjuk wajahku sendiri membentuk lingkaran.


Adeeva menatapku tajam. "Maksudnya muka aku sama aja gitu?" serunya tak terima.


Aku mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Wah! Ben--"


"Sama-sama cantik maksudnya, sayang," kataku memotong ucapannya, tak lupa disertai kedipan genit setelahnya.


Adeeva mendengkus. "Halah, mentang-mentang udah berani ngegombal, kerjaannya ngegombal terus," cibirnya.


Aku tersenyum lalu merangkul pundak Adeeva. "Yuk, kita berangkat sekarang!"


"Hih, dasar!"


####


"Ar, menurutmu ini bagus nggak?"


Adeeva menyodorkan ponselnya mendekat ke arahku, menunjukkan sebuah foto perempuan mengenakan pakaian kebaya.


"Bagus," komentarku seadanya.


"Kalau yang ini?" Adeeva menggeser layar ponselnya.


"Yang ini?"


"Bagus."


Mendadak aku merasakan suasana tak mengenakkan. Dan benar saja, saat aku menoleh ke arah Adeeva, wajahnya terlihat sangat tidak bersahabat. Astaga, susah sekali sih jadi kaum pria di hadapan wanita.


"Aku serius, sayang. Semua bagus kok, cuma kalau ditanya yang mana yang paling bagus, jawabannya aku nggak tahu. Karena aku nggak paham dengan model pakaian perempuan. Tapi beneran kok, semuanya bagus, nggak bohong aku. Serius."


Adeeva hanya diam saja saat merespon penuturanku. Benar-benar membuatku kelabakan menghadapinya, untung saja tak lama setelahnya lampu merah, jadi aku bisa berhenti sejenak dan menghadapΒ  Adeeva.


"Marah?"


"Enggak." Adeeva menggelengkan kepalanya tanpa menoleh ke arahku.


Aku kembali menjalankan mobil karena lampu sudah berganti.


"Terus?"


"Nggak usah diterusin kalau yang ada nanti kita berantem."


Aku mengangguk pasrah dan berkata, "Oke. Udah hari H, ya?"


"Masih belum"


"Oh, oke."


Lalu kami sama-sama diam setelahnya, Adeeva sibuk dengan ponselnya dan aku mau tidak mau hanya memfokuskan diri pada jalanan di depan kami, hanya suara radio yang terdengar di dalam mobil.


"Ar, menurut kamu nanti lebih cocok pake warna apa? Biru apa merah?" Akhirnya, Adeeva kembali bersuara.


"Biru," jawabku cepat tanpa menoleh.


"Biru apa? Biru laut, biru dongker, navy, biru tosca, biru muda, biru tua, baby blue?"


Asataga, kenapa warna biru jadi sebanyak ini?


"Aku nggak ngerti yang kamu sebutin barusan. Setahu aku biru itu cuma ada dua, Adeeva. Biru muda sama biru tua, udah itu aja."


"Itu belum aku sebutin semua lho," balas Adeeva.


Aku melongo. Adeeva sedang bercanda kan sekarang ini, tidak serius?


"Ini bagus nggak?" Adeeva menyodorkan ponselnya kepadaku sekali lagi.


Aku menoleh sebentar karena sedang menyetir, lalu mengangguk. "Bagus," kataku kemudian.


"Nanti nyari yang kayak aja, ya?"


Aku mengangguk sekali lagi. "Iya, bagus tuh. Aku suka," komentarku kemudian.


"Oke." Adeeva tersenyum cerah lalu mengangguk setuju.


Tak lama setelahnya kami sampai di toko kain langganan Mama. Adeeva langsung menarik lengan kemejaku begitu kami masuk ke dalam toko, membuatku menghentikan langkah kakiku secara spontan dan menatapnya dengan tatapan bingung.


"Kenapa?"


"Ar, aku kayaknya jatuh cinta sama broklat warna abu itu deh."


Keningku mengernyit tanpa bisa dicegah. Bukankah tadi dia bilang dia inginnya warna biru, kenapa mendadak ingin warna abu-abu?


"Masuk dulu, yuk, kita tanya dulu, ada yang warna biru apa enggak." Lalu kami masuk ke dalam toko.


"Tapi aku suka yang ini. Netral."


"Cari apa, Mas, Mbak?" tanya si Ibu-ibu penjaga menyambut kami.


Aku ingin sekali memutar kedua bola mataku malas, saat mendengar sapaan si Ibu penjaga toko. Memangnya kalau mengunjungi toko kain mau ngapain sih, kalau tidak mencari kain? Masa iya cari sembako. Lucu sekali.


"Nyari kain batik sama brokat buat acara lamaran, Bu." Adeeva membalas, sedangkan gue sibuk memilih kain yang sesuai seleraku.


Eh, kenapa sampai dijelasin untuk acara apaan. Kan si Ibu-ibu penjaga tokonya enggak tanya. Aku menggeleng tak habis pikir, lalu kembali sibuk melihat-lihat.


"Ini menurut kamu gimana?"


Aku menoleh pada Adeeva, berniat meminta pendapatnya tentang kain batik yang kupilih, "bagus nggak?"


Adeeva mengamati kain batik yang kupilih. Beberapa detik kemudian, ia mengangguk. "Lumayan. Not bad."


"Kamu suka nggak?"


"Kamu suka?" Adeeva malah balik bertanya.


Aku berdecak. Jangan bilang sekarang dia ingin menurut dengan seleraku, sedang kemarin dia melarangku untuk menurut seleranya.


"Kenapa malah balik tanya?" tanyaku sedikit kesal.


"Kalau kamu suka, kita ambil yang ini aja. Aku ngikut kamu."


"Adeeva, kamu tidak lupa dengan kata-kata kamu kemarin?"


"Hehe, kapasitas otakku udah nggak sebagus kamu, Ar. Jadi gampang lupa. Kita ambil ini aja deh, aku juga suka sama warnanya, cocok dipadukan sama brokat abu-abu."


"Kok abu-abu sih? Tadi katanya biru," protesku sedikit kesal.


Adeeva ini tipekal perempuan sejati, kalau belanja suka aneh. Yang ingin dibeli apa, tapi yang dibeli apa, lalu kalau sudah sampai di kostan dia akan mengomel dan menyesal kenapa ia membelinya. Kalau sudah begitu biasanya aku ikut diomeli olehnya.


"Aduh, Ar, aku kan tadi mau cari baju, tapi kenapa malah beli sepatu sih. Kamu ini gimana sih, bukannya ngingetin, malah ngeiyain terus. Pokoknya lain kali kalau kamu nemenin belanja aku lagi, kamu nggak boleh langsung iyain. Debat aku dan ingetin biar kembali ke rencana awal. Paham?"


Kurang lebih begitu lah, kalau dia sedang mengomel. Aku biasanya hanya mengiyakan. Perempuan kalau sedang mengomel dan tidak diiyakan akan berbuntut panjang, tidak akan kelar-kelar.


"Tapi abu-abu yang ini bagus, Ar."


Aku menggeleng tegas. "Biru. Kamu tadi pengennya biru lho, sayang. Aku nggak mau, ya, nanti abis kita beli yang warna abu-abu, terus tiba-tiba kamu nyesel dan nyalahin aku gara-gara nggak ingetin." Aku kembali menggeleng sebagai penolakan, "pokoknya biru aja. Sesuai rencana."


"Tapi aku suka yang abu-abu sekarang, Ar," rengek Adeeva.


Astaga, aku bisa gila.


Karena sudah putus asa. Mau tidak mau, aku akhirnya mengangguk dan mengiyakan dengan pasrah.


"Ya udah, terserah kamu lah, kalau kamu sukanya abu-abu. Yang penting nanti kalau jadi beli yang abu-abu, nggak boleh nyesel, ya! Pokoknya aku nggak mau denger kamu ngomel-ngomel nggak jelas kayak sebelum-sebelumnya. Ngerti?"


Adeeva mengangguk yakin. "Heol. Janji nggak bakalan gitu."


"Ya udah. Kita ambil ini, Bu."


"Mau ambil berapa meter, Mas?"


"Secukupnya untuk atasan dia," jawabku sambil menunjuk Adeeva.


"Sekalian sama furingnya tidak, Mas?"


"Sekalian aja, Bu," jawab Adeeva.


"Mau yang SPTI atau Errow, Mas?"


Astaga, ribet amat sih.


"Bedanya?"


"Lebih bagus Errow, tapi lebih mahal ketimbang SPTI."


"Ya sudah, kita ambil yang Errow."


"Baik, tunggu sebentar, ya, Mas, Mbak."


Baik aku dan Adeeva mengangguk, mempersilahkan.


Tak lama setelahnya aku menoleh ke arah Adeeva. "Awas, ya, kalau nanti tiba-tiba berubah!"


"Enggak."


"Memang harusnya begitu. Pokoknya harus konsisten, ngerti. Nggak boleh ngeluh nyesel dan pake acara nyalahin aku. Paham?"


Adeeva tersenyum lalu merangkul lenganku. "Paham, sayangku. Mode bawelnya nggak usah lama-lama dong, nanti cepet tua."


"Ya, itu salah kamu."


"Iya in, kali ini aku ngalah buat kamu," kedip Adeeva genit.


Aku mendengkus samar. "Dasar!"


Tbc,


yuhuuuu, kumbek-kumbek 😘😘😘😘😘 Moga-moga review cepet lagi, hehe πŸ˜‚ see you next part πŸ€—πŸ™ƒπŸ˜šπŸ˜šπŸ˜šπŸ˜šπŸ˜š


eh, eh, betewe, kayaknya jeda buat ngelanjut ini kelamaan yak, udh banyak yang kabur dan lupa keknya πŸ˜†πŸ™ˆπŸ™ˆ ah, soalnya awalnya nggak ada rencana mau kirim kontrak ke sini, awalnya mau kujadiin ebook aja, tapi setelah dipikir-pikir kok kayaknya kalau dijadiin ebook belum tentu laku, ya udah deh, pindah haluan dan kirim kontrak ke sini πŸ˜† mon maap ya, atas ketidak nyamanannya. sempat di-phpin di platform sebelah juga pula. masih ada nggak sih yang dari platform sebelah terus ke mari? fufufu, maafkan daku gaes. udah gitu aja. semoga kuota hasil nyolong hotspot emak nggak bikin review lama. Aamiin. Mamakkuh tersayang, maaf kuota kucolong dikit, sekalian buat downlod Romantic Doctor 2. ups πŸ™ŠπŸ˜†πŸ˜πŸ˜šπŸ˜˜πŸ˜™πŸ˜—


ps:nyolong kuota emak gagal ke publish, alhasil kepublishnya siang. ini pun msh hasil ngemis hotspot 😝😝