
#######
Aku memasuki kamar yang sempat kami tiduri bertiga dengan perasaan sedih. Hatiku terasa kosong, seperti ada sesuatu yang hilang, rasanya begitu berat membiarkan Aurine kembali ke California.
Cklek!
Aku menoleh ke arah pintu, dan menemukan Adeeva tengah berdiri di depan pintu dengan ekspresi ibanya. Ia menghela napas panjang, sebelum akhirnya masuk dan duduk di tepi ranjang, tepat di sebelahku.
"Mas, are you okay?"
Aku mengangguk. Meski sedih, aku jelas tidak punya hak untuk menangisinya. Aurine hanya kembali ke rumahnya, dia akan bahagia menjalani kehidupan bersama keluarganya.
"Kamu yakin? Tapi kamu terlihat nggak cukup baik."
Kali ini aku tidak menjawabnya. Aku memilih untuk diam dan menyandarkan kepalaku pada pundaknya. Seperti biasa, dengan gerakan sigap Adeeva langsung merangkul pundakku, dan memberikan tepukan ringan di sana. Sejenak, aku tidak ingin memikirkan apapun. Aku hanya ingin menikmati kenyamanan ini saja, tidak mau terlalu pusing dengan urusan yang lain. Semakin aku memikirkan Aurine, semakin membuatku merasa bersalah akan semuanya.
"Gabut nih, pacaran, yuk!"
Setelah merasa lebih tenang. Aku membuka kedua kelopak mataku dan mengangkat wajahku. Aku sedikit memiringkan kepalaku, menatap Adeeva yang kini tengah mengernyit heran.
"Jalan-jalan gitu lho, yang, makan-makan di luar kek. Ngapain gitu, nonton, atau apalah, yang penting kita keluar. Gimana?" usulku kemudian.
"Nonton? Kamu aja nggak suka nonton, malah ngajakin nonton. Paling juga kamu nanti tidur di bioskop, ngapain coba ngeluarin duit kalau cuma mau tidur di bangku penonton? Ngehabis-habisin duit aja. Enggak! Jangan nonton," tolak Adeeva sambil menggeleng tegas.
Benar juga sih, dari awal kami berpacaran, kami jarang nonton. Kalau tidak salah ingat, sepertinya baru terhitung dua kali kami pergi menonton. Sebenarnya aku tidak terlalu suka nonton film, lain dengan Adeeva yang hobinya memang nonton film, entah film Indonesia mau pun film luar, semuanya ia suka. Selama dua kali kami pergi menonton, dua-duanya aku tertidur karena bosan dan tidak suka dengan filmnya. Adeeva jelas kesal bukan main, alhasil kami tidak pernah pergi setelah kejadian itu. Sebenarnya, kalau seandainya dia memilih film yang bergenre thirller, mystery, atau action mungkin aku tidak akan tertidur. Berhubung saat itu yang sedang tayang film yang ia tunggu-tunggu dua-duanya bergenre romance, alhasil aku tertidur.
"Ya, udah jalan-jalan keluar. Wisata kuliner gitu, yuk!"
"Kita baru selesai makan lho, Mas, kalau kamu lupa. Dan ini udah malam, nggak takut buncit itu perut?"
Benar, aku tidak biasanya ngemil malam-malam.
"Jalan-jalan ke mall?" tawarku mengusulkan.
"Males. Bikin capek. Pegel. Nggak lagi butuh apa-apa juga." Adeeva menggeleng tidak setuju, sebagai tanda penolakannya.
"Bikin Adek buat Aurine," tawarku menggodanya.
Di luar dugaan, Adeeva tiba-tiba berdiri. Aku sampai kaget dengan pergerakannya yang tiba-tiba barusan. Aku menerjap bingung. Tumben-tumbenan dia mendadak semangat begitu.
"Yuk, sesekali wisata kuliner di jalanan. Biar tahu rasanya punya suami yang perutnya buncit."
Aku Menerjap bingung, tapi Adeeva malah tersenyum, lalu keluar kamar. "Aku ganti baju dulu, deh. Kamu nyari referensi di google, gih!" ujarnya sebelum menghilang dari balik pintu.
Aku mendengkus kesal. Namun, meski demikian, aku tetap menuruti perintahnya. Mencari keberadaan ponselku dan membuka aplikasi browser.
"Dapet?"
Aku mengangkat wajahku, mengalihkan pandanganku dari layar ponsel. Adeeva sudah berganti pakaian, ia tidak lagi memakai kaos dan celana pendeknya tadi. Dan kini sudah berganti dengan celana jeans panjang dan blus berwarna coklat muda.
"Apanya?"
"Tempat jual jajanan yang lagi kekinian."
"Ke warung tenda di Pujasera Blok S aja gimana? Kan di sana ada macem-macem jajanan tuh, banyak pilihannya. Mendadak aku pengen pempek yang di sana deh. Sama es podeng, ah, seger kayaknya, yang."
"Emang masih ada jam segini es podengnya?"
Aku mengangkat kedua bahuku secara bersamaan. "Nggak tahu sih, kadang masih ada, kadang udah abis sih. Cuma kita coba aja dulu yuk. Kali aja masih ada," ajakku mendadak antusias.
Adeeva berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk dan mengiyakan. "Kamu mau ganti baju dulu enggak?"
Aku menggeleng. "Enggak usah, tapi aku ambil jaket dulu di kamar."
"Pake yang kemarin sekalian. Yang kemarin belum aku cuci soalnya."
Aku menghentikan langkahku dan berbalik. "Masa enggak ganti sih, bau dong?" protesku cemberut.
"Pake parfum yang banyak. Lagian kan yang kemarin baru kamu pake sebentar, lumayan, Mas ngirit. Ngirit sabun, air, dan juga tenaga. Paket komplit tahu."
Aku berdecak sambil mangguk-mangguk. "Ya, ya, ya."
#######
"Ah, perutku kayaknya buncitan deh, yang," keluhku saat kami pulang.
Aku menghempaskan tubuhku pada sofa, sebelah tanganku mengusap perutku yang terasa sedikit membuncit. Malam ini aku kalap. Ini semua salah Adeeva yang terlalu banyak membeli jenis jajanan, mulai dari dim sum, somay, es teler, es podeng, dan pempek. Semua masuk ke dalam perutku. Astaga, berapa banyak yang harus kubakar kaloriku esok hari?
"Nggak mau tahu, besok kamu harus nemenin aku lari pagi. Nggak boleh nolak, nggak usah masak kalau perlu."
Adeeva duduk di sebelahku sambil menyalakan televisi. "Kamu ini pria kok ribut amat kalau sama urusan bentuk perut, Mas. Bucit didikit nggak akan bikin kamu langsung kena serangan jantung, Mas," gerutunya kesal.
"Hussh, kamu ini lho kalau ngomong. Sembarangan!"
"Abis kamu tuh kalau urusan beginian riweh-nya ngalahin anak gadis, Mas. Lebay!"
Aku tidak terima. "Lebay gimana sih? Perutku kalau bucitan nanti kemeja-kemeja yang ada di lemari jadi nggak muat, terus kalau udah nggak muat kamu harus beliin aku yang baru lho. Lebay dari mananya?" protesku kesal.
"Ya, ya, ya, terserah kamu, Mas."
"Ya udah, oke. Kamu harus ikut!" ujarku tak ingin dibantah.
Adeeva berdecak sambil menoleh ke arahku dengan tatapan datarnya. "Ngapain aku ngikut? Biasanya juga jogging sendiri. Kenapa mendadak aku harus ikut?"
"Biar jagain aku. Aku mau joggingnya di Senayan, di Gelora Bung Karno. Nanti kamu juga bisa ikut senam."
Adeeva menggeleng tegas. "Udah setua ini juga, ngapain dijagain. Enggak. Males. Kamu pergi sendiri, atau ajak Damian aja. Dia kan juga suka olahraga."
"Zaman sekarang pelakor di mana-mana, suami potensial kayak aku perlu dijagain, sayang, biar nggak dibawa kabur orang," aku menjeda kalimatku, sebelum akhirnya kembali melanjutkan, "lagian ngapain aku ngajak suami orang kalau kenyataannya aku punya istri sendiri?"
"Hah?" Adeeva menatapku bingung.
Aku mencengir. "Mau ya?" rengekku manja
"Lihat besok!"
"Oke."
Keesokan harinya
Selepas menunaikan ibadah salat subuh, Adeeva hendak pergi ke dapur, namun kutahan.
"Ganti baju!" ujarku memerintah.
"Aku mau bikin sarapan, Mas."
"Enggak usah, nanti kita sarapan di luar aja." Aku menggeleng tegas, lalu menyuruh Adeeva segera berganti pakaian.
"Mas, aku nggak ngeiyain mau ikut, ya."
"Nggak ada penolakan," kataku tak ingin dibantah.
Adeeva mulai meradang. "Mas, serius kamu ngajakin aku?"
"Emang keliatannya aku lagi bercanda? Enggak kan? Udah, kamu nggak usah banyak alesan. Langsung ganti baju, aku tunggu di luar." Aku menepuk pundak Adeeva pelan, lalu keluar kamar setelahnya.
Saat aku hendak membuka pintu, Adeeva tiba-tiba menjerit, "Tapi aku nggak mau, Mas," rengeknya kesal.
Aku menoleh. "Nanti uang bulanan aku tambah. Lagian sesekali kamu perlu olahraga, biar sehat."
Adeeva berdecih. "Aku cukup sehat, Mas, aku juga nggak gemuk."
"Hei, hei, hei, siapa bilang olahraga itu cuma buat orang gemuk? Olahraga itu--"
"Bodo amat, sana keluar!" usir Adeeva sambil meraih bantal, bersiap melemparkannya padaku.
Aku mengangguk paham sambil terkekeh geli, lalu keluar kamar. Adeeva kalau lagi mode ngambek pengen ngamuk gini lucu, ngegemesin. Berasa pengen...
"Heh? Cepet amat?" Aku berbalik ke arah pintu kamar kami, dan menemukan Adeeva sudah berganti pakaian.
Mataku melebar secara spontan saat mendapati pakaian yang dipakainya. Bukan arasan longgar dan celana training yang ia kenakan, melainkan kaos tipis dan hotpant. Wah, sengaja sekali dia mau memancing emosiku.
"Adeeva, kenapa pake begituan?" teriakku emosi.
Lalu dengan wajah santainya, ia menjawab, "Adanya cuma ini, Mas, aku nyari celana trainingku tapi nggak nemu-nemu. Ya udah, aku pake ini."
Aku menggeleng tegas, lalu menyeratnya agar kembali masuk ke dalam kamar. "Jangan bohong kamu, cari yang betul-betul dulu."
"Mas, kelamaan, nanti keburu siang."
"Enggak masalah."
"Ya udah deh, mending aku nggak usah ikut."
Aku berbalik. "Jadi, kamu sengaja pake itu biar nggak usah ikut?"
"Bu... bukan gitu," kilah Adeeva sambil mengibaskan kedua tangannya panik.
Aku mendengkus. " Sekarang, kamu ganti celana training panjang yang biasanya itu. Aku tunggu di luar."
"Mas, kok kamu maksa sih?" protesnya kesal.
"Astaga, sayang, aku cuma ngajak kamu olahraga, bukan maksa yang gimana-gimana lho. Olahraga itu bagus buat kesehatan."
Kali ini wajah Adeeva benar-benar kesal. Aku tersenyum lalu mendekatinya. "Hei--"
"Enggak usah ngerayu!" Adeeva menjauhiku dan membuka lemari, mencari celana trainingnya dan dan langsung memakainya begitu saja. Ia melirikku sinis dan berkata, "Tunggu apa lagi? Ayo berangkat, sebelum aku berubah pikiran."
"Oke, sayang. Berangkat!" seruku senang.
Aku langsung mendekatinya dan memberikan kecupan ringan di pipinya, lalu merangkulnya dan kami pun langsung berangkat setelahnya.
#######
"Mas, aku capek," keluh Adeeva.
Aku menghentikan langkahku dan menghampiri Adeeva. Ia membungkuk dengan wajah kelelahannya, napasnya terdengar ngos-ngosan. Aku tersenyum meledeknya sambil membantu mengelap keringatnya.
"Baru dua puteran masa udah capek sih?"
Adeeva melototiku tajam. "Mana ada dua puteran, kita udah muter lima kali ya," serunya tak terima.
Aku kembali tersenyum, lalu mengajaknya untuk mencari tempat yang lebih teduh. "Duduk dulu," kataku mengintruksi.
Adeeva menurut, ia langsung menselonjorkan kedua kakinya begitu saja, setelah kami mendapatkan tempat yang agak teduh. Adeeva benar-benar terlihat kelelahan. Aku kemudian menyodorkan sebotol air mineral yanh sudah kubuka tutupnya.
"Nih, minum dulu!"
Adeeva langsung merebut air mineral yang kusodorkan, dan menegaknya hingga setengah. "Kamu mau?" tawarnya kemudian.
Aku menggeleng. "Kalau kamu masih haus, abisin aja. Nanti aku beli lagi."
"Oke." Adeeva mangguk-mangguk, lalu menegak air mineralnya hingga tandas.
Aku mengernyit sesaat. "Kamu haus banget, ya? Perlu aku beliin air mineral lagi?"
"Enggak usah, di mobil masih ada. Nanti aku minum di mobil aja."
"Ya udah."
"Habis ini pulang, ya. Capek banget aku, Mas. Pokoknya lain kali aku nggak mau ikut lari kamu. Kamu dulu atlet lari apa gimana sih, cepet amat larinya?"
"Masa sih? Padahal aku udah ngusahain buat ngimbangin kamu loh, aku larinya nggak kayak kalau lari sendiri."
"Iya, sampai hampir semamput aku rasanya."
"Lebay kamu!" Aku mencubit hidungnya gemas. "itu gara-gara kamu yang nggak biasa olahraga, makanya gampang capek. Makanya, kalau aku ajakin olahraga pagi, kamu tuh mau, biar terbiasa."
"Aku nggak suka olahraga," ujar Adeeva dengan wajah cemberutnya.
"Kenapa?"
"Capek. Bikin keringetan."
"Tapi sehat."
"Iya, iya, terserah, apa pun itu. Ayo, kita pulang!" ajak Adeeva bersiap untuk berdiri.
Aku menahannya. "Eh, bentar dong. Aku belum selesai. Kamu tunggu di sini dulu, aku selesaiin putaranku dulu oke. Atau kamu mau nunggu di mobil aja?"
"Hah? Belum selesai? Kamu nggak capek?"
"Bentar, lima putaran lagi. Oke?"
Ekspresi Adeeva berubah tidak percaya. "Gila kamu, Mas."
"Heh, sembarangan! Masa suami sendiri dikatain gila."
"Ya, terus apaan? Nyerempet nggak waras begitu?"
"Astagfirullah!" Aku mengusap dadaku prihatin. Masa aku dikatain nggak waras sih. Kan aku cuma mau olahraga."
"Ya udah, sana, buruan! Nggak usah pake lama," usir Adeeva sambil mendorong tubuhku.
Aku mengangguk lalu berdiri dan menepuk-nepuk bokongku yang kotor, baru setelahnya aku kembali melanjutkan aktivitas lariku. Tepat pada putaran ke tiga, Adeeva mencegatku, dan mengajakku untuk segera pulang.
"Kita pulang sekarang!"
"Sekali lagi, sayang," rengekku membujuknya.
Adeeva menggeleng tegas. Lalu menyeretku menuju tempat parkir, alhasil aku hanya bisa pasrah mengikutinya.
"Mau sarapan di mana?" tanyaku setelah deru napasku terdengar normal, aku sudah hampir mengabiskan satu botol air mineral.
"Terserah. Asal bukan bubur ayam."
Aku berpikir sejenak lalu mangguk-mangguk. Baru kemudian, aku menyalakan mobilku dan mengemudikannya menuju rumah Mama. Sarapan yang enak selain masakan istri jelas di rumah Mama, sudah enak gratis pula.
"Mas, kok kita malah masuk komplek sih? Eh, tunggu ini kan komplek perumahan Mama?"
Sedari tadi, Adeeva memang fokus dengan ponselnya, entah apa yang sedang ia lakukan. Makanya ia baru sadar kalau mobilku malah masuk komplek perumahan Mama.
"Mas!" Adeeva memukul pundakku kesal, "kenapa kita malah masuk komplek perumahan Mama? Katanya mau ngajak sarapan?"
"Sarapan yang enak selain masakan kamu, ya, masakan Mama. Sudah enak, terjamin kebersihannya, gratis pula. Paket komplit kan?"
Adeeva menatapku kesal. "Kamu bercanda, Mas?"
Dengan wajah polosku, aku menggeleng tegas. "Serius kok."
"Mas! Kalau kita sarapan di rumah Mama, Mama bisa mikir kalau aku nggak bisa ngurusin kamu, sampai makan aja minta beliau."
"Hussshhh, nggak boleh su'udzon! Mama justru seneng kok nanti. Percaya sama aku! Just trust me, sayang!"
"Tahu lah, kamu suka seenaknya sendiri."
Lah, salah nih gue?
Tbc,
yuhuuuuuu, kumbek, kumbek!!!
mon maap, akhir-akhir ini lagi kurang semangat up ππ jadi telat terus up nya. ππππ mon maap. see you next part. jangan lupa jaga kesehatan!!! π€πππππππ