Adore You!

Adore You!
We're Getting Married : |29| Kami Baik-baik Saja



********


"Kenapa Adeeva nggak keluar-keluar dari kamar mandi," gumanku sambil mengancingkan kemejaku.


Aku menoleh ke arah pintu kamar mandi. Belum ada tanda-tanda Adeeva akan keluar dari dalam sana. Karena sudah terbiasa dipakaikan dasi terus-terusan selama setahun terakhir ini, aku sekarang lupa bagaimana cara memakai dasi yang baik dan rapi. Alhasil, aku perlu mengetuk pintu kamar mandi dan menyuruhnya segera keluar.


"Yang, kamu masih lama di sana?" seruku sambil mengetuk pintu.


"Iya, bentar lagi," sahut Adeeva dari dalam.


Aku merasa ada yang berbeda dari suaranya. Aku mendengar suara Adeeva terdengar sedikit parau. Tanpa banyak berpikir, aku kemudian langsung membuka pintu kamar mandi dan menemukan Adeeva tengah duduk di closet dengan kedua mata sembabnya. Sebelah tangannya tengah menggenggam alat tes kehamilan. Ia tersenyum masam saat menatapku, bibirnya sedikit bergetar karena sedang menahan tangis.


"Maaf," lirihnya kemudian, "hasilnya masih sama kayak yang sebelum-sebelumnya. Masih segaris aja."


Aku menghela napas pendek dan langsung menghampirinya. Aku tidak mengatakan apapun setelahnya, hanya memberikan pelukan dan tepukan pelan di pundaknya.


"Maaf, Mas, setahun kita menikah, tapi aku belum bisa kasih kamu keturunan," isak tangis Adeeva kembali pecah, membuatku merasa bersalah pada posisi ini.


"Ssst, nggak papa, mungkin emang belum rejekinya. Kita masih bisa terus berusaha dan berdoa. Udah, jangan sedih! Nanti aku beliin permen deh." Aku merenggangkan pelukanku, lalu mengusap pipi Adeeva yang basah menggunakan ibu jari.


Adeeva cemberut. "Emangnya aku anak kecil."


Aku tertawa. "Kalau bukan anak kecil berarti nggak boleh nangis dong. Udah, ayo, bantuin pake dasi!"


"Pake sendiri dong sesekali."


"Hasilnya udah nggak sebagus dulu, gara-gara kamu terus yang pakein aku jadi lupa pake dasi yang rapi."


"Harusnya aku dulu nggak belajar pasang dasi, ya."


Aku berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Kayaknya sih gitu."


Adeeva mendengkus samar, lalu meraih dasi yang sudah ia siapkan. Baru kemudian memasangkannya pada kerah kemejaku.


"Inget, ya, nggak boleh dipikirin terlalu berlarut-larut sama hasil yang tadi. Silvi bilang kalau kamu stress, bikin kamu susah hamil. So, nggak boleh stress, ya! Nikmati aja, mungkin emang belum saatnya kita dapet momongan. Oke? Aku nggak akan pernah ninggalin kamu, apa pun yang terjadi. Ngerti?"


Aku mencerocos panjang lebar di sela kegiatan Adeeva memasangkan dasi untukku. Silvi bilang, Adeeva benar-benar tidak boleh stress apa lagi merasa tertekan karena belum hamil.


"Iya."


"Pokoknya nggak boleh stress!" ulangku menegaskan.


"Mas, plis deh, nggak usah diulang-ulang gitu. Yang ada kalau kamu justru bikin aku jadi stress loh," decak Adeeva kesal.


Aku terdiam sesaat.


"Udah, ah, aku mau siap-siap. Sana kamu sarapan duluan," lanjut Adeeva.


Meski merasa sedikit janggal. Pada akhirnya aku tetap keluar kamar dan berjalan menuju dapur. Mencoba untuk tidak terlalu memikirkan kata-kata Adeeva. Ya, mungkin saja itu bentuk protesnya karena kunasehati tentang hal itu terus-terusan. Ya, mungkin saja begitu.


######


"Ada-ada aja deh ini yang bikin isu," gumanku sambil geleng-geleng kepala saat membaca artikel berita.


Adeeva baru saja keluar dari dapur, kedua tangannya membawa piring berisi pisang nugget. Ia kemudian duduk di sebelahku, setelah meletakkan piring di atas meja. Di luar sedang hujan, cuaca yang sangat mendukung untuk bersantai ditemani segelas kopi dan cemilan. Apalagi ada sang terkasih yang duduk di sampingmu. Benar-benar perpaduan yang komplit.


"Nih, mumpung masih anget."


Adeeva menyodorkan sepotong pisang nugget yang dilapisi tisu terlebih dahulu. Selain karena pisang nuggetnya masih panas, ia sengaja melapisi pisang dengan tisu karena agar tanganku tidak berminyak. Betul sekali, Adeeva itu super peka dan pengertian. Pokoknya, dia benar-benar istri idaman semua suami.


"Makasih," ucapku tulus. Tak lupa kecupan kilat kudaratkan pada bibir tipisnya, yang akhir-akhir ini lumayan sering mengomel.


"Tadi, kamu abis baca apa? Kok kayaknya heran gitu? Ada gosip apaan lagi nih?"


Aku mengernyit tidak terima, saat mendengarnya bertanya demikian. Kesannya, aku jadi terlihat seperti seorang pria yang suka bergosip saja.


"Bukan gosip kok." Aku menggeleng sambil meniup pisang nuggetku, sebelum akhirnya mengigit dan mengunyahnya perlahan.


"Terus?" Adeeva bertanya dengan penasaran sambil meraih remote televisi dan menyalakannya.


"Semacam isu, mungkin." Aku mengangkat kedua bahuku secara bersamaan lalu membuang tisu bekas yang kugunakan tadi.


Mendadak Adeeva memprotes, "Kok tisunya dibuang?"


"Ya, iya lah, dibuang. Masa aku makan sih?" Aku bertanya dengan nada heran. "Kamu ini ada-ada aja sih."


"Ya, kan itu masih bisa dipake, Mas. Kamu katanya nggak suka pake garpu, makanya aku suruh pake tisu. Kalau sekali makan pisang nuggetnya kamu ganti tisu terus, berapa banyak tisu yang kamu abisin cuma buat makan pisang nuggetnya? Itu pemborosan, Mas."


Kan, kan, kan, mode mengomelnya kambuh lagi.


Ia kemudian berdiri dan berjalan menuju dapur. Tak lama setelahnya, ia kembali ke ruang tengah dan menyerahkan sendok garpu padaku.


"Nih, makannya pake garpu, aja! Nggak usah pake tisu, ngabisin tisu aja," gerutu Adeeva lalu kembali duduk.


Aku menerjap bingung. "Yang, tisu harganya berapa ribu sih?"


"Bukan masalah harga tisu yang murah, Mas. Tapi pemborosan yang kamu lakuin itu loh. Semakin banyak tisu yang kamu pake, semakin banyak sampah terbuang. Peduli lingkungan dikit kenapa sih?" omelnya kesal. "Percuma kamu punya gaya hidup sehat, rajin olahraga kalau kamu nggak peduli lingkungan," sambungnya kemudian.


Setelahnya, aku hanya mangguk-mangguk pasrah. Membantah perempuan bukan perkara mudah, jadi aku ikut saja apa katanya. Toh, apa yang diucapkan Adeeva ada benarnya juga.


"Jadi, isu apa yang kamu baca tadi?"


Aku tersenyum kecil saat mendengar nada bicaranya yang berubah drastis. Sudah tidak ada lagi bibir mencebik ataupun tatapan sinis, pun dengan nada bicara yang sudah kembali semula.


"Katanya ada kontroversi kalau wanita renang sama pria, si wanita bisa hamil. Ada-ada aja, ya."


"Hah?"


"IDI udah membantah kok, nggak membenarkan statment tersebut. Bahkan pihak KPAI juga udah minta maaf soal statment yang dibikin Sitti Hikmawatty, beliau pun juga udah meminta maaf," kataku menjelaskan.


Adeeva mangguk-mangguk paham. "Sayang banget, ya," celetuknya kemudian.


Aku mengernyit heran, merasa aneh dengan celetukannya barusan. "Sayang gimana?" tanyaku tak paham.


Aku menusuk sepotong pisang nugget menggunakan garpu, lalu menyodorkan le mulut Adeeva.


"Ya, sayang kalau itu ternyata nggak bener. Coba kalau bener, kita bisa ikutan nyoba?"


Aku melongo. Speechless rasanya.


Lain dengan Adeeva yang malah tertawa dan merebut garpu yang kupegang. "Biasa aja ekspresinya, Mas," komentarnya kemudian. Ia menyodorkan pisang nuggetnya tadi ke dalam mulutku.


Meski masih sedikit shock, aku tetap mengunyahnya.


"Apa tetep kita coba dulu, Mas, kali aja--"


"Adeeva!" panggilku dengan nada memperingatkan.


Adeeva mencengir. "Iya, iya, bercanda doang kok. Biasa aja itu matanya, udah kayak mau makan aku idup-idup aja," gumannya menggerutu, "namanya juga usaha. Siapa tahu emang beneran bisa."


Aku menatapnya serius. "Sayang, aku tahu kamu sangat ingin ha--"


"Hape kamu bunyi, Mas," potong Adeeva, ia langsung meraih ponselku yang tergeletak di atas meja, lalu mengeceknya. "Milla, Mas. Kamu angkat deh! Siapa tahu Aurine kangen kita."


Aku menghela napas panjang, Adeeva selalu saja punya cara untuk mengindar dari obrolan kami tentang hal ini.


"Mas, buruan diangkat!" rengek Adeeva sambil menggoyangkan lenganku.


"Iya," aku menjawab dengan sedikit ogah-ogahan, lalu menjawab panggilan video dari Milla.


"Ayah!!"


Begitu sambungan terhubung, aku bisa melihat dengan jelas wajah Aurine yang sedang heboh menyapaku.


"Ayah, i miss you so much! Hello, Tante Eva? How are you to day?"


"It's so great. How about you?"


"Sangat menyenangkan. Tante Eva tahu, aku dan Daisy tadi diajak Mama dan Daddy."


"Ohya? Diajak ke mana emang?"


"Lihat adek."


Tubuh Adeeva mendadak menegang. Aku tidak bisa menebak secara pasti, tapi dari sudut matanya dapat kutangkap raut wajah gugup di sana. Aku mengusap pundaknya sambil mengangguk. Adeeva langsung membalasku dengan senyum tipis dan ikut mengangguk, lalu kembali fokus pada Aurine yang ada di layar ponsel.


"Adek? Adeknya siapa? Aurine abis jengukin adeknya temen Daddy?"


"Adeknya Aurine yang ada di perut Mama. Kata Daddy, Aurine mau punya adek lagi selain Daisy."


Adeeva masih berusaha untuk menguasi emosinya. "Woah, berarti bentar lagi Aurine punya dua adek?"


Dengan wajah polosnya, Aurine mengangguk. "Dan akan jadi tiga dari dedeknya Tante Eva. Wah, Aurine jadi nggak sabar punya banyak adek. Kata Mama natal tahun ini adek Aurine pasti lahir. Kalau punya Tante Eva kapan? Aurine mau lihat perut Tante Eva dong, gendut juga kayak Mama enggak?"


"Sorry," bisikku pada Eva.


Aurine masih terlalu kecil dan polos. Bagaimana menjelaskan kalau Adeeva bahkan belum hamil?


"Sayang, Tante Eva--"


"Rahasia. Nanti kalau dedek bayinya Tante Eva udah lahir, baru Tante kasih tahu deh," sahut Adeeva cepat.


Hatiku mendadak ngilu. Ah, aku tidak suka situasi ini.


Pandanganku kembali beralih pada Aurine. Ekpresinya berubah kecewa. "Yah, Tante Eva gitu. Curang, masa Aurine nggak dikasih tahu kapan dedek bayinya lahir. Nanti aku gimana nyiapin kadonya kalau Tante Eva ngasihnya dadakan. Ah, Tante Eva nggak asik. Aurine kan udah kasih tahu kapan adek Aurine lahirnya, kenapa Tante Eva nggak mau ngasih tahu?"


"Biar nanti jadi kejutan buat Aurine dong," balas Adeeva sambil memainkan kedua alisnya naik-turun.


Hal ini cukup membuat ekspresi Aurine berubah cerah. "Kejutan? Wah, Aurine suka kejutan. Oke, Aurine nggak jadi marah deh sama Tante Eva. Pokoknya Aurine tunggu kejutannya. Oke?" Sudut kamera Aurine mendadak miring, dan terdengar suara berisiknya yang memanggil Milla.


"Mas, aku ke toilet bentar," bisik Adeeva lalu berdiri.


Aku menahan lengannya. "Mau ngapain? Nangis? Enggak! Duduk lagi!" ucapku memerintahnya.


"Mau pipis, Mas. Orang nggak abis nonton drama Korea juga, ngapain nangis? Udah, ah, lepasin tangannya! Ini beneran kebelet loh."


Aku masih memicingkan kedua mataku curiga. "Beneran kebelet pipis?"


"Bener. Nggak boleh nahan kencing, Mas, nanti kalau nahan kencing bisa kena ISK."


"Apaan tuh?"


"Infeksi saluran kemih. Udah, ah, kebelet juga malaj ditanya-tanya," gerutu Adeeva, ia kemudian berlari terbirit-birit masuk ke kamar mandi.


"Loh, Tante Eva mana?"


Aku kembali menatap layar. Di samping Aurine sudah ada Milla dengan perutnya yang sedikit membuncit. Wow, jadi Milla beneran hamil lagi?


"Toilet." Aku kemudian melambaikan tanganku. "Hai, Mill!" sapaku kemudian.


Ekspresi Aurine kembali kecewa. "Yah, padahal Aurine mau nunjukin perut Mama yang udah gendut."


"Iya, nanti Ayah kasih tahu sama Tante Eva," kataku kemudian.


Ekspresi Aurine masih cemberut beberapa saat, namun beberapa saat kemudian kembali cerah. Seperti baru saja teringat sesuatu yang menyenangkan.


"Ayah, Tante Eva masih di kamar mandi?"


Aku mengangguk. "Iya, masih di kamar mandi. Kenapa?"


"Ayah kasih tahu Aurine dong, Tante Eva udah gendut kayak Mama belum?"


"Belum," jawabku sekenanya.


"Kenapa belum?" tanya Aurine terlihat penasaran.


"Karena... karena belum waktunya gendut, sayang."


"Terus waktunya kapan?"


"Ayah juga nggak tahu."


"Kok bisa Ayah nggak tahu? Tante Eva ngerahasiain dari Ayah juga?"


"Eh, enggak gitu sayang. Maksudnya..."


Aduh, aku bingung sendiri mau menjelaskannya.


Ya, ampun anak gue kepoan amat sih.


"Belum, ya, Ren?" Kali ini Milla yang bertanya.


Di samping Milla, Aurine menatapnya kebingungan. "Belum apanya, Ma?"


Aku tidak terlalu jelas mendengar obrolan mereka, namun yang jelas setelah obrolan mereka selesai, Aurine berlari menjauh dari Milla.


"Mana istri kamu?" tanya Milla memulai basa-basinya.


"Toilet. Kebelet katanya. Nggak tahu deh, paling lagi main hape sih sekarang. By the way, congrats, ya! Udah isi lagi, hmm, tokcer juga si Will," gurauku saat memberinya ucapan selamat.


"Thanks, sebenarnya kehamilan ini belum kita rencanain sih. Emang dia pengen punya anak cowok, tapi seharusnya nunggu sampai Daisy umur empat tahun. Tapi, kita kebobolan. Ya, udah, Tuhan ngasihnya sekarang, aku sama Will bisa apa selain ucap syukur?"


Aku tersenyum iri dan mengangguk. Mereka yang sudah ada dua anak, dan belum menginginkan kembali hadirnya anak, eh, dikasih cepet. Sedangkan aku dan Adeeva yang sudah sangat mendambakan kehadiran bayi belum dikasih juga.


"Ren!"


"Eh? Ya, kenapa, Mil?"


"Kalian baik-baik saja kan?"


Aku menerjap bingung. "Maksudnya?"


"Meski kalian belum dikasih momongan secepatnya, jangan berkecil hati ya, ingat Tuhan nggak pernah tidur. Kalian bisa terus berusaha dan berdoa. Mungkin belum saatnya aja, semua hanya masalah waktu."


"Iya, thanks ya. Sekali lagi untuk kehamilannya. Kalau udah lahir, jangan lupa kabar-kabar, nanti aku sama Eva biar kirim kado buat adik Aurine."


"Iya, nanti aku lihat dulu deh barang apa yang kita perluin. Biar kalian kasih kado yang sesuai dengan apa yang kita butuhkan."


"Ada batas nominalnya tapi, ya."


"Astaga, kayak sama siapa aja sih, Ren. Masa dikasih batas nominal?"


"Iya lah, biar kamu nggak ngelunjak."


Di seberang, Milla tertawa. "Oke, nanti kabarin ya, batas nominalnya berapa. Aku tutup, itu kayaknya lagi pada rebutan mainan deh! See you! Salam buat Eva, ya!"


"Hmm, salam buat Will juga."


Tbc,


See you next part dan jangan lupa jaga kesehatan πŸ˜ͺπŸ˜·πŸ˜΄πŸ˜πŸ˜—πŸ˜™πŸ˜˜πŸ˜šπŸ˜‹πŸ˜πŸ˜œπŸ˜›


selamat, karena di part ini kalian gk nemuin cuap-cuap gaje πŸ˜‚